SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PANJI DI BAIAT TOREKOT


__ADS_3

"Orang tua mu itu memiliki jalan surganya sendiri.


Seorang Ibu, kelak kalau sudah tua... Dia akan ikut suaminya.


Seorang Ayah... Kalau sudah tua dia akan selalu bersama istrinya.


Mereka memiliki jalan hidup sendiri," ujar Mbah Dirjo,


"Begitu juga dengan diri mu Maya, kalau kamu sudah mempunyai suami... Kamu harus ikut suami mu, setia dalam suka dan duka. Mengabdi dengan penuh kesabaran. Mencintai juga menyayangi suami mu dengan tulus.


Suami mu adalah ladang amal ibadah mu, dialah jalan surga mu.


Kamu dan suami mu. itu memiliki jalan hidup sendiri.


Begitu pun orang tua mu juga memiliki jalan hidupnya sendiri.


Orang tua tidak boleh ikut campur atas urusan rumah tangga anaknya, begitu pun anak tidak boleh ikut campur urusan orang tua.


Kelak... Kamu mempunyai anak. Ketika anak - anak mu dewasa dan menikah... Mereka akan berpisah dari mu.


Kamu harus ikhlas di tinggal anak - anak mu, karena anak - anak mu juga memiliki jalan hidupnya sendiri.


Jadi... Kamu itu harus memilih suami mu dari pada memilih orang tua mu atau anak - anak mu.


Karena... Jalan surga mu adalah suami mu."


"Tetapi Mbah..!


Mas Panji telah menyakiti hati kedua orang tuaku, akhirnya aku emosi hingga begini akhirnya," kata Maya.


"Kan sejak awal aku mengajari mu sabar, ikhlas, berserah diri welas asih dan rendah diri.


Makanya kamu aku suruh menyapu halaman rumah itu... Itu aku ajari kamu sabar dan ikhlas.


Walau aku ini bukan gurunya Gus Panji... Aku tau benar siapa Gus Panji itu," ujar Mbah Dirjo,


"Dia itu pemuda aneh, yang tidak bisa di tebak pola pikirnya.


Gus Panji itu sangat cerdas dan pemberani.


Beruntung kamu punya suami seperti Gus panji. Orang model Gus Panji itu langka.


Terus terang... Aku sendiri, kalau berurusan sama Gus Panji... Sebenarnya sungkan juga segan, aku ini ibarat binatang itu kucing, sedangkan Gus Panji itu singa jantan.


Makanya aku tolak Gus Panji ketika ingin jadi murid ku.


Sebenarnya... Gus Panji itu ingin menyadarkan orang tua mu yang sombong dan sok kaya. Gus Panji ingin membuat keluarga mu bangkrut dan hidup miskin itu sementara saja.


Biar orang tua mu merasakan hidup susah menjadi orang miskin dan di hina.


Kamu saja tidak tau maksudnya, keburu emosi."


"Lalu... Bagaimana ini Mbah..?


Apakah aku bisa kembali lagi hidup bersama Mas Panji," tanya Maya.


"Salah satu sifat Gus Panji itu... Kalau hatinya sudah pernah di lukai oleh seseorang... Selamanya Gus Panji tidak akan menyukai orang itu, tetapi Gus Panji tetap mau berteman," ujar Mbah Dirjo,


"Temuilah Gus Panji, dan kamu minta maaf.


Kalau sudah... Kamu temui aku lagi."


"Dimana mbah aku menemui nya..? Hp nya tidak aktiv dari siang tadi," kata Maya.


"Pergilah ke restoran hotel Atlanta ini, di situ ada 3 istrinya Gus Panji sedang makan malam," ujar Mbah Dirjo,


"Bertanyalah pada mereka, dia pasti tau keberadaan Gus Panji."


"3 istrinya Gus Panji..?"


"Iya, Gus Panji kelemahan nya ada pada wanita cantik dan ****. Makanya dia mempunyai banyak istri.


Kalau kamu gak mau di madu... Ya menikah lagi saja, cari suami yang cocok dengan selera mu. Toh kamu juga masih perawan," ujar Mbah Dirjo.


"Hehehehe, tau saja Mbah Dirjo ini.


Mas Panji dulu tidak mau aku hamil dan punya anak. Karena aku harus sekolah dulu hingga lulus.


Kalau gitu... Maya permisi dulu Mbah


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


*


Begitu Maya memasuki restoran... Maya melihat 3 perempuan muda yang cantik - cantik dan Anggun,


"Selamat malam.."


"Selamat malam juga," jawab Aini.


"Apakah kalian ini istrinya Mas Panji..?"


"Iya benar," kata Wilda.


"Kenalkan, aku Maya."


"Oh... Non Maya," ujar Wilda kemudian berdiri lalu memeluk Maya,


"Silahkan duduk Maya...


Aini...


Ruli... Ini Maya juga istrinya Mas Panji. Kalian kenalan biar akrab sama madunya."


Mendengar kata - kata Wilda... Aini dan Ruli tertawa terbahak - bahak.


"Banyak banget istrinya Mas Panji, tak kira cuma kita bertiga," sahut Aini.


"Ini yang sedang ngumpul, jangan - jangan... Ada lagi hahaha," sahut Ruli.


"Gak apa - apa, namanya juga lelaki, apalagi masih muda, ganteng dan banyak uang.


Yang penting bertanggung jawab," ujar Aini.


"Kalau boleh tau... Mas Panji sekarang di mana ya," tanya Maya.


"Mas Panji lagi di pesantren Al Jabbari, desa Mantan Kecamatan Malimping Lebak banten. Di pesisir pantai Bagedur," jawab Wilda.


"Kalau begitu... Aku permisi dulu ya."


"Maya... Makan malam dulu, mau kemana kok tergesah - gesah," tanya Aini.


"Aku mau menemui Mas Panji malam ini."


"Besok saja Maya... Ini sudah jam 10 malam," sahut Ruli,


"Kamu tidur di hotel sini saja, hotel ini juga milik kamu."


"Iya Maya, istirahat di sini saja, hotel ini milik Ruli kok," sahut Wilda.


"Terimakasih, kapan - kapan saja ya..? Aku ada urusan yang sangat penting sekali."


"Baiklah kalau begitu," ujar Wilda.


Setelah saling berpelukan... Maya meninggalkan restoran sambil meneteskan air mata.


"Pak... Kita ke pantai Bagedur Lebak Banten sekarang," kata Maya.


"Baiklah Nyonya."


"Nanti berhenti di rumah makan dulu, kita makan malam."


"Baiklah Nyonya."


***


Setelah makan malam... Mobil BMW kembali meluncur ke arah ujung Kulon pulau jawa.

__ADS_1


"Pak Wawan... Tolong kemudikan mobil dengan kencang, aku ingin 1 jam bisa sampai ke pesisir pantai Bagedur," perintah Maya.


"Baiklah Nyonya," jawab Pak Wawan langsung menancap gas, walau permintaan Maya sulit untuk di penuhi.


Malam yang gelap dan jalan yang sepi... Membuat Pak Wawan melajukan mobil dengan sangat kencang sekali dan hati - hati.


(Di era tahun 1990, Wilayah jalan raya ke ujung kulon pulau jawa memang sepi dan gelap, di tambah dengan kondisi jalan yang sempit)


Sementara...


Panji sedang ngopi dan ngobrol dengan beberapa santri Syeh Abdul Jalil yang berasal dari jawa Timur.


Ketika Panji sedang menerawang keberadaan Syeh Abdul Jalil... Tiba - tiba Panji terkejut melihat Maya di dalam mobil BMW yang melaju pelan di desa Mantan.


"Gus Hudi, aku ke pantai dulu, sepertinya ada orang mencari ku," kata Panji.


"Iya kang Panji, kalau begitu aku mau solat dulu, ini sudah jam 12 malam," jawab Gus Hudi yang terkejut, karena Panji bisa mengetahui kalau akan ada tamu mencarinya.


Di tepi pantai... Sambil duduk di atas pasir yang di teranggi cahaya bulan separuh... Panji menikmati kepulan asap rokok.


Setelah bertanya pada beberapa orang di pos ronda... Tak lama kemudian Mobil BMW pun sampai di tepi pantai, lalu parkir di samping masjid,


"Pak Wawan... Bapak istirahat tidur ya, biar gak ngantuk, nanti kita langsung ke Jakarta.


Aku mau menemui seseorang dulu."


"Baiklah Nyonya."


"Sepi sekali... Gelap lagi, hanya ada lampu tempel di samping masjid.


Itu ada orang merokok di tepi pantai, coba aku tanya sama orang itu," kata Maya lalu berjalan mendekat.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Maya."


Mendengar suara Panji... Maya terkejut lalu memeluk Panji erat - erat.


Tiba - tiba Maya duduk dan mencium lutut Panji,


"Kakak... Mafkan Maya ya..?"


"Berdirilah Maya," kata Panji kemudian mengangkat pundaknya,


"Aku sudah memaafkan mu."


"Sekali lagi... Maya minta maaf kak, Maya terlalu terbawa emosi."


"Sudahlah, jangan menangis lagi," ujar Panji kemudian menggandeng tangan Maya, lalu mengajaknya berjalan di tepi pantai,


"Bagaimana kabar Papa mu, apa sudah sembuh..?"


"


Alhamdulillah kak, sudah sembuh.


Terimakasih ya kak... Atas segala kebaikan, ketulusan dan hadiah nya."


"Sama - sama Maya."


"Kak... Apa kamu marah kepada ku..?


Aku telah ceroboh menceraikan mu..?"


"Tidak Maya, aku belajar menerima takdir keputusan Tuhan.


Lagian... Apa untungnya aku marah kepada mu.


Walau aku kecewa... Aku tetap masih sangat mencintai mu. Kaulah wanita yang paling aku cintai."


"Kak... Jangan jalan menuju laut, di tepi saja."


"Percayalah kepada ku, aku tidak akan menyakiti mu, peganglah tangan ku dengan ketulusan cinta mu.


Bismillahirrohmanirrohim," ucap Panji kemudian kakinya terus melangkah menuju deburan ombak laut Bagedur.


Melihat dirinya dan Panji berjalan di atas air laut... Maya terkejut sekali, hatinya berdebar - debar juga takut.


"Benar yang di katakan mbah Wali Dirjo, kak Panji ini orang aneh. Ternyata Mas Panji ini sangat sakti sekali," ujar Maya dalam hati.


"Kak... Mau kah kamu rujuk kembali dengan ku..?"


Mendapat pertanyaan Maya... Panji diam sejenak, sambil berjalan pelan di atas air laut... Panji berkata,


"Kadang... Tuhan mempertemukan dua anak manusia untuk saling mencintai, tetapi tidak saling memiliki.


Maya... Dengan selembar surat cerai,


Perbuatan mu itu telah melukai hati ibu ku, juga telah melukai hati guru - guru spiritual ku.


Temuilah Mama dan Papa ku, mintalah maaf pada mereka.


Kedua... Pergilah ke makam Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah di Desa pelamun, serang Banten.


Mintalah maaf pada mereka.


Setelah itu... Temuilah aku lagi."


"Baiklah kak," jawab Maya.


"Sekarang... Kembalilah ke Jakarta, bulan depan ujian sekolah. Rajin - rajinlah belajar.


Setelah lulus... Kamu bisa kuliah."


"Baiklah kak, kalau begitu... Maya pamit dulu."


"Aku antar ke mobil mu," kata Panji kemudian berjalan menuju pantai.


"Aku pamit dulu ya kak...


Sekali lagi maafkan Maya," kata Maya sambil memeluk erat tubuh Panji,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, hati - hati di jalan, jaga kesehatan."


"Dada..." Maya melambaikan tangannya sambil meneteskan air mata.


Setelah itu, mobil BMW perlahan + lahan hilang dari pandangan.


"Gus Hudi dan Gus Rofiq yang duduk di samping masjid... Sangat terkejut melihat Panji yang berjalan di atas air laut bersama seorang wanita.


"Hudi..! Pemuda itu sangat hebat sekali," ujar Rofiq,


"Dia bisa berjalan di atas air laut.


Kita yang tirakat setiap hari saja tidak bisa."


"Dia bernama Panji, tamunya kanjeng Syeh.


Dia ingin nyantri di sini katanya tadi."


"Habis ini... Kita tanya, apa wiridnya hingga bisa berjalan Di atas air..?"


***


Setelah Maya pergi... Panji membalikkan badan hendak ke masjid, tetapi... Tiba - tiba Panji melihat cahaya terang dari dalam laut.


Seketika Panji menerawang cahaya itu.


Begitu mata batinya melihat Syeh Abdul Jalil yang sedang duduk berdzikir di dasar Laut... Panji langsung menuju laut.


"Kelawan Barokah e Begawan Resi Dharmala... Gusti Allah paringgi Ridho


Bismillahirrohmanirrohim," ucap Panji kemudian masuk ke dalam air laut.


"Bismillahirrohmanirrohim


Kelawan Barokah e Kyai Jabat, mugio dasar laut iki padang,"

__ADS_1


seketika jalan yang di lalui Panji menjadi terang.


Setelah berjalan hingga di tengah dasar laut... Panji menjumpai Syeh Abdul Jalil yang duduk bersila, dan tubuhnya memancarkan cahaya.


"Assalamualaikum Syeh..."


"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Abdul Jalil,


"Ada apa kamu mencari ku..?"


"Saya ingin berguru kepada Syeh, saya ingin ngaji torekot sama Syeh."


"Aku tidak menerima murid lebih dari 40 orang, apalagi


Murid seperti mu," jawab Syeh Abdul Jalil,


"Pergilah..!"


"Syeh... Terimalah saya sebagai murid Syeh, apapun syaratnya... Akan saya penuhi."


"Pergilah, atau aku akan menghukum mu.


aku sudah tidak menerima murid lagi."


"Baiklah Syeh, saya akan pergi.


Saya sudah berusaha menjadi orang baik, dengan menolak ku... Syeh berusaha membuat ku menjadi orang jahat.


Semoga Allah membebankan segala dosa - dosa yang aku perbuat kelak... Dalam tanggungan Syeh selamanya.


Assalamualaikum..."


Mendengar kata - kata Panji... Syeh sangat terkejut sekali, hingga membuat hatinya takut sekali akan Murka Allah,


"Berhentilah...!!!


Apa maksud mu berkata demikian..?"


Panji kembali duduk di depan Syeh Abdul Jalil, lalu berkata.


"Syeh... Niat saya kesini adalah baik dan demi kebaikan, tetapi Syeh menolak kebaikan ku.


Jika saya pergi dan berbuat dosa... Apa Syeh sanggup menanggung dosa - dosa ku..?


Sedangkan menanggung dosa sendiri saja sudah berat, apalagi menanggung dosa orang lain..?"


Mendengar kata - kata Panji... Syeh Abdul Jalil meneteskan air mata, lalu Syeh Abdul Jalil mengucapkan istiqfar.


"Baru kali ini ada orang yang berani mengingat kan ku, kamulah orang nya," ujar Syeh Abdul Jalil.


"Syeh banyak di sungkemi dan di hormati oleh para ulama, karena Syeh seorang Wali khos, ulama sepuh.


Para ulama menghormati Syeh bukan karena Allah, karena Drajat kewalian Syeh," ujar Panji,


"Seandainya Syeh bukanlah seorang wali khos... Maka, para ulama itu tidak akan menghormati Syeh, begitu pun masyarakat umum, tidak akan pernah menghormati Syeh.


Menurut saya...


Itu penghormatan palsu Syeh. Sungkem yang palsu.


Pada kenyataannya... Banyak orang alim hidup dalam kepura - puraan, juga kemunafikan.


Saya hormat dan sungkem terhadap syeh... Itu karena Allah.


Saya ingin bertemu Syeh dan ingin menjadi murid Syeh bukan karena saya ingin alim dan menjadi Ahli ilmu Makrifat atau ingin menjadi wali, atau ingin menjadi ahli ibadah, tetapi... Saya ingin menjadi orang yang baik dan benar, hidup berkah dan bermanfaat.


Itu saja Syeh.


Makanya... Saya berani berbicara tidak sopan terhadap Syeh."


"Baiklah Gus, baiklah. Jangan membuat ku sedih.


Aku akan menerima mu sebagai murid ku."


"Syeh... Jika Syeh terpaksa menerima saya sebagai murid Syeh... Saya tidak mau, dan akan pergi.


Karena... Keterpaksaan adalah bentuk ketidak ikhlasan."


"Aku ikhlas menerima mu sebagai murid ku, tetapi ada syaratnya.


Karena kamu murid yang ke 41,aka kamu menjadi murid pamungkas."


"Maksudnya gimana Syeh..?"


"Kamu aku terima menjadi murid ku, tetapi kamu tidak bisa tinggal di pesantren Al Jabbari.


Kamu harus berkeliling Negri ini.


Khusus untuk pulau jawa... Kamu harus sering berjalan kaki."


"Baiklah Syeh," jawab Panji.


"Mendekat lah, julurkan telapak tangan kanan mu," ujar Syeh Abdul Jalil kemudian membaiat Panji.



Begitu Syeh Abdul Jalil membaca Mantra doa - doa... Sukma Syeh Abdul Jalil dan sukmanya Panji terbang melesat bagai kilat menuju sumber air zam - zam di Mekkah.


Setelah memandikan sukma Panji dengan air zam - zam... Sukma Syeh Abdul Jalil membawah sukma Panji terbang ke danau Al kautsar yang berada di langit sof 4.


Setelah memandikan sukma Panji... Sukma Syeh Abdul Jalil turun ke bumi dan berputar putar pelan di atas laut.


Setelah mendapat restu dan doa dari para sanat Torekot Al Jabbari... Syeh Abdul Jalil memasukkan sukma Panji ke dalam wadah jasadnya.


"Bukalah kedua mata mu Gus.


Sekarang kamu resmi menjadi muridku, salik Torekot Al Jabbari.


Kamu harus mematuhi segala ajaran dari Torekot Al Jabbari.


Sebagai murid pamungkas... Kamu harus belajar lewat jalur Goib selama 20 tahun, dan jalur nyata 5 tahun.


Setelah aku mati... Kamu bebas mencari guru Mursid lagi, dan kamu boleh berhenti lelaku lang - lang jagad.


"Baiklah Syeh."


"Pesanku... Dalam perjalanan lang - lang jagad... Sering - seringlah bersedekah membantu sesama.


Amalan khusus mu adalah Menyenangkan orang, atau sedekah.


Baik sedekah uang, tenaga juga pikiran."


"Baiklah Syeh."


"Hari sudah menjelang Subuh, pergilah keliling pulau jawa dulu.


Assalamualaikum," ujar Syeh Abdul Jalil kemudian menghilang.


"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian berdiri lalu berjalan.


Setelah berjalan cukup lama... Panji akhirnya keluar dari dalam laut,


"Hemmmm, daerah mana ini..? Kok sepi sekali.


Itu ada nelayan, coba aku tanya."


"Assalamualaikum Pak..."


"Waalaikumsalam Mas."


"Ini daerah mana ya Pak..?"


#Ini pulau Gili probolinggo Mas. Apa Mas baru pertama kali kesini..?"


"Iya Pak."


"Kalau Mas mau ke Gua kucing... Mas jalan lurus saja, pas ada musollah itulah tempatnya.


Di sana banyak orang tirakat."

__ADS_1


"Iya Pak terimakasih."


__ADS_2