
Setelah mandi air hangat dan solat subuh Panji duduk bersandar di kursi. Sambil membuka cendela Panji berkata,
"Ruli... Kalau mau istirahat tidur... Tidurlah di ranjang, aku ingin santai menikmati udara pagi."
"Aku belum ngantuk Mas Panji," ucap Ruli kemudian duduk di kursi sebelah meja kecil.
"Di atas meja ada uang, ambillah 1,5 juta sebagai bayaran mu," ucap Panji kemudian menyulut rokok,
"Ambillah sendiri uangnya."
"Aku ambil 500 ribu saja, untuk tranportasi juga untuk kebutuhan keluarga ku," kata Ruli,
"Sisanya aku ambil setelah kontrak boking ku selesai."
"Berapa umur mu, kok sudah mempunyai anak," tanya Panji
"Umur ku 18 tahun Mas," kata Ruli,
"Aku hamil di luar nikah ketika aku kelas 1 SMA.
Pacarku tidak mau bertanggung jawab. Karena aku membutuhkan biaya untuk anakku... Terpaksa aku kerja sebagai wanita penghibur."
"Begitu ya," gumam Panji kemudian menelpon dapur lalu memesan kopi Hitam dan susu hangat.
"Berarti aku adikmu, umurku sekarang 16 tahun," kata Panji
"Umur mu 16 tahun, tapi pikiran mu sudah dewasa," ucap Ruli,
"Kelihatannya kamu dari keluarga terpandang, juga dari keluarga baik - baik. Kamu tau gak...? Nama mu sering di perbincangkan di sekitar area Losmen ini. Itu karena kamu sering bagi - bagi uang sama orang fakir miskin, sering membantu orang susah. Itu tandanya fikiran mu dewasa."
Tok tok tok...!
Setelah pintu terbuka,
"Selamat pagi Non, ini pesanan mas Panji."
"Termakasih Mbak... Oh iya, Mas Panji bilang kamarnya tidak usah di bersihkan, Mas Panji juga bilang tidak usah mengantar sarapan pagi," ujar Ruli.
"Baiklah Non, selamat pagi," ucap sang pelayan.
"Ini mas kopinya," kata Ruli sambil menaruh talam kecil di Atas meja,
"Uangnya tidak di simpan di lemari saja Mas."
"Jangan panggil aku Mas, panggil aja Panji, kamu kan lebih tua."
"Gak apa - apa, aku panggil Mas saja... Biar kelihatan mesrah," ujar Ruli yang mulai akrab dengan Panji,
"Habis minum susu ini... Aku pulang ya Mas."
"Iya Ruli," ujar Panji,
"Kamu ambil uangnya sendiri."
"Baiklah," kata Ruli kemudian menghitung uang yang ada di atas meja.
"Hemm... Banyak sekali uang bos Panji ini, 1,8 juta. Yang di amplop coklat sangat tebal sekali, belum di buka, barapa isinya ya," gumam Ruli dalam hati,
"Dari mana bos Panji ini punya uang banyak?"
"Mas... Ruli pamit pulang dulu, nanti siang Ruli balik lagi ke Losmen."
"Iya Ruli silahkan," kata Panji.
Setelah Ruli pergi... Panji merebahkan badannya di atas ranjang, lalu tertidur pulas.
Jam 1 siang Panji terbangun. Setelah mandi dan ganti baju... Panji keluar kamar lalu berjalan ke pangkalan ojek perempatan.
"Bos Panji, mau cari kang Mumun?" tanya tukang ojek lainnya
"Iya kang," kata Panji.
"Itu kang Mumun lagi di warung, ngopi sambil main catur."
"Terimakasih kang," ujar Panji kemudian mendatangi kang Mumun.
"Kang Mumun," seru Panji.
__ADS_1
"Eeh... Bos Panji," ujar kang Mumun kemudian berdiri menghentikan main caturnya.
"Kang... Kopi satu ya," pinta kang Mumun ke penjaga warung,
"Bos Panji mau di antar kemana siang ini?"
"Panji pingin ngobrol saja sama kang Mumun.
Mari duduk di pojok sana Kang, agak sepi."
Setelah pindah tempat duduk, Panji bertanya,
"Kang... Kamu keenal gak sama Ruli...? Cewek yang suka mangkal di samping losmen malam hari?"
"Ooh... iya, iya bos! Tau sih, tapi gak kenal sama dia," ucap kang Mumun,
"Ada apa bos...? Bos panji mau boking dia sekarang...?"
"Gak kang, aku mau tanya - tanya saja. Kang Mumun tau gak riwayat hidupnya," tanya Panji.
"Gak tau persis sih, hanya tau sedikit saja," kata kang Mumun kemudian menyeruput kopi.
"Coba ceritakan kang," ujar Panji
"Setau saya... Rumahnya 5 kilo dari sini, dia dua bersaudara, kakak laki - lakinya kerja di jakarta. Ruli hidup bersama Ibu dan Neneknya, dia juga punya anak satu bos, masih bayi, kira - kira umur 10 bulanan," cerita Kang Mumun,
"Ayahnya katanya sudah meninggal dunia. Saya pernah lewat depan rumahnya bos, waktu itu saya ngantar penumpang yang kebetulan satu kampung dengan Ruli.
Maaf yaa bos... Rumah Ruli sangat kecil, rumah nya bilik bambu. Kata penumpang ku waktu itu... Dia bilang, Ruli itu keluarga fakir miskin dan Status Ruli di kampungnya sangat jelek, karna dia kerja sebagai pelacur. Sepertinya dia di kucilkan warga sana bos... Hanya itu bos yang aku tau."
"Ini ada uang 20 ribu, kang Mumun pastikan bagaimana keadaan Ruli, kang Mumun pergi ke kampungnya cari informasi yang akurat," kata Panji.
"Baiklah bos, sekarang juga kang Mumun berangkat."
Setelah kang Mumun pergi... Panji kembali ke Losmen.
Ketika baru sampai halaman Losmen... Panji mendengar suara Ruli,
"Mas Panji... Darimana saja? Aku menunggu mu hampir 1 jam."
"Iya, maaf, tadi aku bawah kuncinya," ujar Panji,
Setelah makan siang di rumah makan losmen... Panji berkata,
"Ruli... Ayoo kita main ke kota Serang, kamu kan hafal jalan - jalannya."
"Baiklah Mas."
***
Setelah turun dari angkutan umum, Ruli mengandeng lengan Panji lalu mengajak jalan ke arah pertokoan.
Ketika berada di trotoar depan pertokoan... Panji menghentikan langkah kakinya di balik pohon yang ada di trotoar.
"Bukankah itu ustadzah Aisah...? Sedang apa dia duduk sendiri di sebuah cafe?!! Sepertinya... Ustadzah Aisah menunggu seseorang? Coba aku tunggu beberapa saat," gumam Panji kemudian menyulut rokok marlboro.
"Mas Panji... Ayoo... Ngapain sih berhenti di sini?" ujar Ruli.
"Diam bawel, tungguh sebentar," ujar Panji sambil mengawasi Ustadzah Aisah.
Tak lama kemudian datang seorang lelaki muda dengan topi agak di lesakkan. Panji melihat Ustadzah mencium tangan lelaki tersebut.
"Hemmm... Bukankah itu Ustadz Bakri lurah pondok pesantren Meteor Garden?!! Ooh iya, iya, ngerti aku sekarang, ternyata Ustadz Bakrie dan Ustadzah Aisah itu menjalin hubungan asmara... Mereka berpacaran.
Dasar munafik! Mereka menuduhku pacaran sama Bela, dan melaporkan ke Pak kyai, hingga aku di usir secara halus. Padahal... Hingga kini aku tidak pacaran sama Bela, hanya sebatas teman
Kadang... Seorang Bajingan itu lebih mulia dari pada seorang Ustadz yang ahli Agama
Dan kadang... Seorang pelacur itu lebih mulia dari pada orang yang berpakaian muslimah dengan jilbab di kepala yang ahli ibadah.
Hemmm... Semua adalah rahasia-Nya."
"Ruli..." seru Panji pelan.
"Ada apa Mas," jawab Ruli.
__ADS_1
"Coba kamu lihat, cewek yang memakai jilbab putih dan seorang cowok yang memakai topi hitam di meja pinggir cafe itu?" ujar Panji.
"Iya lihat, emang kenapa?" sahut Ruli.
"Kamu dekati lelaki itu, kemudian kamu peluk dari belakang dan kamu cium pipinya," kata Panji sambil tersenyum,
"Kamu bilang ke cewek itu kalau kamu tunagannya cowok itu.... Lalu marahi cewek yang berjilbab itu, katakan dia perebut tunangan orang lain."
"Kamu sudah gila ya Mas," ujar Ruli,
"Ngapain ngurusin urusan orang pacaran...? Gak ada kerajaan lain apa!!"
"Kan perjanjian boking kita, kamu harus menurut sama perintah ku," kata Panji.
"Baiklah, baiklah," kata Ruli kesal tapi tak berdaya karna terikat kontrak perjanjian boking.
Ruli pun menyebrang jalan menuju cafe, lalu mendekati meja yang terletak di pinggir.
Dengan santai... Ruli langsung memeluk Ustadz Bakri lalu mencium pipinya.
Ada cewek cantik yang memeluk dan menciumnya dari belakang... Ustadz Bakri sangat keget sekali, begitupun dengan Ustadzah Aisah lebih terkejut.
Ustadz Bakri dan Ustadzah Aisah belum sempat ngomong... Tiba - tiba Ruli membentak.
"Dasar wanita murahan! Perebut tunangan orang.
Gak tau malu ya...? Pakai jilbab baju muslimah tapi murahan! Aku tunangannya saja belum pernah di ajak ke cafe... Dasar pelacur!
Kamu juga begitu!! Lelaki gak tau di untung! Sudah punya tunangan calon istri cantik kayak aku masih saja cari wanita lain? Kita putus saja," ujar Ruli kemudian pergi meninggalkan cafe, lalu pergi menyeberang jalan.
"Sudah bos Panji, ayoo kita jalan," kata Ruli kemudian mengandeng lengan Panji.
Panji sempat melihat Ustadzah Aisah dan Ustadz Bakri bertengkar di cafe, lalu Ustadzah Aisah pergi berlalu sambil menangis meninggalkan Ustadz Bakri sendirian.
Sambil tersenyum Panji berjalan menelusuri trotoar di depan pertokoan kota Serang.
Siapa Mas mereka itu!! Dan mengapa Mas Panji berbuat jahat pada mereka dengan cara menyuruhku merusak kesenangan mereka?" tanya Ruli.
"Dia orang orang jahat Ruli... Sebab mereka berdua aku secara tidak langsung di usir dari pondok pesantren tempat aku belajar," jawab Panji,
"Merekalah yang memfitnah ku... Pantas lah mereka mendapat hukuman dari mu."
"Kalau tau begitu ceritanya... Tadi sekalian aku gampar muka mereka berdua," ujar Ruli.
"Oh iya... Ternyata kamu pemberani sekali ya? Bagus juga akting mu," kata Panji.
"Aku sudah terbiasa hidup di jalanan Mas, hanya demi sesuap nasi aku jadi pemberani," kata Ruli,
"Kalau takut... Ya gak makan Mas! Oh iya... Mas Panji mau lihat bioskop atau mau karaoke atau mau apa?"
"Aku ingin ke Mall, mau membelikan baju untuk anak mu," ujar Panji.
"Apa...! Beliin baju anakku?!!" kata Ruli terkejut.
"Iya... Emang kenapa, gak boleh!!" ucap Panji.
"Boleh, boleh," ujar Ruli heran,
"Itu ada pertokoan baju dan perlengkapan anak - anak."
Setelah membeli baju dan perlengkapan bayi... Panji dan Ruli beranjak pergi. Tak lama kemudian mereka masuk ke Depstor Ramayana. Setelah membeli beberapa stel baju dan perlengkapan wanita... Panji dan Ruli pun berjalan menelusuri trotoar menuju halte untuk mencari angkutan umum.
"Duduklah Mas, capaik ya bawah barang belanjaan," ucap Ruli.
"Iya capaik, tapi gak apa - apa Ruli, habis ini istirahat di losmen," ujar Panji kemudian duduk di bangku halte sambil melihat pengemis setengah tua.
"Mas... Beri uang Mas, buat makan," pinta seorang pengemis sambil menengadahkan tangan kanannya.
"Bapak duduklah dulu," ujar Ruli kemudian memegang lengan pengemis tua itu, lalu menuntun duduk di sebelah Panji,
"Sebentar ya Pak, saya belikan teh botol dan sebungkus nasi di warung sebelah."
"Ini uangnya," kata Panji sambil menyodorkan uang pecahan 10 ribu,
"Belikan nasi padang, itu warungnya.
lauk pauknya di tambahi ya... Sekalian air aqua dan teh botol."
__ADS_1
"Siap Bos...!"