
"Gus... Nekek pulang dulu ya? Sebentar lagi Kakek Jabat pulang," kata Nyai Sa'adah,
"Oh iya... Seminggu lagi bulan Romadhon, pondok pesantren libur dan anak anak santri semuanya pulang.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Nek," jawab Panji,
"Bulan Romadhon...? Selama hidup, belum pernah aku puasa bulan Romadhon, coba Romadhon tahun ini, aku usahakan puasa. Lebih baik aku kembali ke Losmen saja!
Tetapi... Adakah ojek di tengah malam? Kalau gak ada aku jalan kaki saja."
Perlahan - lahan Panji melangkahkan kaki. Ketika sampai di pinggir jalan raya depan pondok Arrohman... Ayah Bela yang hendak ke pasar melihat Panji berdiri di pinggir jalan, lalu menghentikan motornya dan menyapanya,
"Assalamualaikum kang Panji... Mau kemana tengah malam begini di pinggir jalan?"
"Waalaikumsalam Pak," jawab Panji,
"Mau kembali ke Losmen, mau istirahat."
"Losmen...? Losmen mana kang," tanya Ayahnya Bela.
"Losmen Batu Hiu Kramatwatu Pak," ujar Panji.
"Kalau begitu... Ayo bareng Bapak? Bapak mau ke pasar jadi satu arah," ajak Ayahnya Bela,
"Tengah malam gini gak ada ojek, kalau ada harus jalan 1 kiloan."
"Baiklah Pak," kata Panji kemudian naik motor.
Tak lama kemudian motor berhenti di perempatan Kramatwatu.
"Kang Panji... Ayo kita makan dulu," ajak Ayahnya Bela,
"Kita makan nasi goreng di depot itu."
"Baiklah Pak," ucap Panji.
Sambil menikmati nasi goreng... Ayah Bela berkata,
"Kang Panji emangnya tidak tinggal di pondok...? Kok menginap di Losmen?"
"Panji sudah pamit berhenti mondok Pak, karena masih ada urusan di makam Kyai Jabat... Jadi saya menginap di Losmen kurang lebih 100 harian. Setelah itu saya balik ke Surabaya. Hemmm... Bapak kok tengah malam ke pasar?"
"Iya Kang, setiap jam 2 Dini hari... Bapak pergi ke pasar, karena subuh Bapak harus kirim sayur mayur ke Jakarta.
Alhamdulillah... Bapak sekarang sudah banyak order permintaan dari Tangerang, Jakarta, Bogor dan Bandung.
Ini semua... Berkat bantuan kang Panji.
Sejak kang Panji memberi uang untuk modal usaha Bapak, lambat laun meningkat dan Bapak bisa jadi pengepul. Bapak sekeluarga mengucapkan beribu - ribu terimakasih."
"Sama - sama Pak, Panji juga mengucapkan terimakasih, karena Panji sering di kasih makan sama Istri Bapak."
"Oh iya kang Panji... Bapak mau ke pasar dulu, karena di tunggu pelanggan," ucap Ayahnya Bela,
"Ini ada sedikit uang untuk bayar sewa kamar di Losmen."
"Terimakasih Pak, uangnya untuk Bapak usaha saja," kata Panji sambil berdiri.
"Tidak kang Panji... Bapak benar - benar ikhlas," ucap Ayahnya Bela sambil memaksa Panji untuk menerima uang,
"Alhamdulillah... Bapak sekarang sudah banyak uang, tidak susah seperti dulu. Maka... Bapak harap kang Panji mau menerima uang ini."
"Baiklah kalau Bapak memaksa," kata Panji kemudian menerima segebok uang,
"Pak... Salam sama Neng Bela ya?"
"Iya kang Panji, nanti saya sampaikan salamnya," kata Ayahnya Bela kemudian pergi dengan motornya.
"Sudah jam 03:00, lebih baik aku istirahat di kamar losmen, badanku rasanya capaik sekali," ujar Panji dalam hati.
Ketika Panji sudah berada di depan losmen... Panji melihat seorang cewek cantik yang sexi mengenakan rok mini.
"Mas... Gak butuh hangat - hangat," kata cewek yang berdiri di tepi trotoar,
"Atau mas mau di pijit... Pijit plus - plus?"
Mendengar kata - kata cewek cantik... Panji yang sudah terbiasa dan tau kehidupan malam di kota Surabaya. Kemudian Panji berhenti lalu berkata,
"Mbak sudah makan...?
"Sudah Mas, tadi sore," jawab cewek sexi.
"Sekarang lapar gak," tanya Panji
"Yaa lapar lah Mas, juga haus," jawab cewek sexi.
"Ikutlah dengan ku," kata Panji kemudian berjalan menuju rumah makan Losmen.
"Duduk sini Mbak," kata Panji.
Setelah duduk berhadap - hadapan... Seorang pelayan mendekat lalu menyodorkan selembar kertas menu,
"Silahkan..."
"Pesan udang saos, dan rendang daging sapi 1 porsi ya Mas, sama air jeruk hangat 2," ujar Panji.
"Masnya gak makan?" tanya cewek sexi.
"Aku barusan makan nasi goreng. Oh iya... Siapa nama mu?" tanya Panji.
"Namaku Ruli, kamu siapa?"
"Aku Panji."
Tak lama kemudian... Makanan tersajikan di meja.
Panji melihat Ruli makan dengan lahap dan agak cepat.
"Makannya pelan - pelan, di nikmati," kata Panji tersenyum.
"Iya panji, jarang jarang makan kayak gini, jadi aku sangat lahap sekali makannya," kata Ruli.
"Habis makan ini Ruli mau kemana?" tanya Panji.
"Hemmm... Mau pulang Panji, sudah hampir subuh," ucap Ruli,
"Lagian sepi, gak ada yang boking."
"Emang berapa uang boking kamu semalam?" goda Panji.
"10 ribu, kalau perjam 5 ribu saja," kata Ruli,
__ADS_1
"Full servis."
"Murah amat 10 ribu?!!" ujar Panji.
"Emang berapa Mas Panji...? Inikan kecamatan kecil, jadi kalau mahal - mahal gak ada yang boking, lalu anak ku mau makan apa kalau gak ada order," kata Ruli.
"Oh... Gitu ya," kata Panji lirih,
"Bagaimana kalau aku boking sekarang? Mau gak?"
"Mau, tapi kalau boking siang hari... Tarifnya 2x lipat, jadi 20 ribu hingga jam 12 siang," ujar Ruli.
"Gimana bos?"
"Ok gak apa - apa," kata Panji kemudian berjalan menuju kasir, lalu berjalan bersama Ruli menuju kamar Losmen no 10.
***
Ketika berada di pintu... Adzan Subuh terdengar mengema dari masjid sebrang jalan.
"Ayo masuk," ujar Panji sambil membuka pintu,
"Kalau mau tidur, tidur saja, kalau mau santai ya duduk saja, itu ada dua kursi di depan cendela. Kalau kamu merokok, buka saja cendelanya, kalau tidak merokok aku nyalain Ac nya. Aku mandi dulu ya?"
Setelah mandi... Panji memakai sarung dan kaos, lalu keluar kamar mandi. Begitu keluar kamar mandi... Panji terkejut melihat Ruli telanjang tanpa sehelai kain, tidur tiduran di atas ranjang.
"Ruli... Pakai bajumu, aku mau solat Subuh," ujar Panji,
"Kalau kamu mau ikut solat berjamaah, mandi dulu, aku tunggu."
"Baiklah, aku akan pakai bajuku, tapi aku tidak mau ikut solat Subuh," kata Ruli kemudian kembali mengenakan baju.
"Kalau kamu mau menemani ku solat berjamaah 5 waktu... Akan aku tambahi uang boking mu 30 ribu, jadi totalnya 50 rb. Bagaimana?" ujar Panji.
"Bener nieh?" kata Ruli ragu.
"Bener," kata Panji sambil meletakkan amplop pemberian Nyai Sa'adah dan uang pemberian Ayahnya Bela.
Melihat banyak uang di atas meja... Ruli bergegas mandi.
Tak lama kemudian Ruli mengenakan ruko dan mukena yang di sediakan pihak losmen di setiap kamar.
Sambil solat berjamaah... Dalam hati Ruli berkata,
"Pemuda ini Aneh? Tidak mau menyentuh tubuh ku walau aku sudah telanjang! Justru di ajak solat Subuh? Tidak kayak lelaki lainnya, langsung main tabrak! Mau boking senang - senang bercinta apa mau boking untuk di ajak solat...? Hemmm... Baru kali ini aku punya tamu aneh! Gak apa - apa, yang penting aku dapat uang buat makan anakku."
Setelah selesai solat, wirid dan berdoa... Panji melihat Ruli lalu berkata,
"Gak salaman sama aku?" goda Panji tersenyum,
"Ruli... Kalau pakai mukena kamu terlihat sangat cantik sekali."
'Panji... Jangan merayu ya?" kata Ruli,
"Ayoo buruan kita bercinta, aku sudah mulai ngantuk!"
Panji berdiri lalu membuka cendela, kemudian duduk dan menyulut rokok marlboro,
"Ruli... Ini uang 50 ribu seperti janjiku," ucap Panji,
"Pakailah bajumu kembali... Kalau kamu ngantuk, pulang lah, tidurlah di rumah. Kalau kamu ingin tidur sini, tidurlah d ranjang ku."
"Benar nieh aku boleh pulang...? Gak mau bercinta dengan ku?"
"Iya Ruli, pulanglah, gak apa - apa," ucap Panji tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu," kata Ruli kemudian membuka pintu dan keluar kamar.
Setelah Ruli pergi... Panji berkata lirih,
"Alhamdulillah... Dengan uang 50 ribu, semoga Ruli bisa memenuhi kebutuhan anaknya... Semoga dirimu di beri hidayah oleh Gusti Allah, dan semoga suatu saat kamu menjadi perempuan baik - baik."
"Tok tok tok...! Selamat pagi Pak."
"Selamat Pagi juga," jawab Panji terkejut.
"Maaf Pak kalau di ijinkan... Saya akan membersihkan kamar Bapak," ujar pelayan Losmen.
"Silahkan Mbak silahkan," kata Panji kemudian duduk kembali.
Setelah membersihkan kamar... Pelayan itu pamit keluar.
Tak lama kemudian Panji tertidur lelap.
Ketika tidur... Panji bermimpi bertemu dengan Mbah Wali Jabat. Dalam mimpi itu Panji di ajak jalan - jalan ke tengah laut, juga di ajak solat dan wirid.
Waktu terus berlalu, Panji pun bangun tepat jam 12 siang.
Setelah mandi, Panji pun keluar losmen menuju pangkalan ojek perempatan.
"Kang Mumun," panggil Panji.
"Siap bos Panji... Mau diantar kemana nieh?"
"Mau jalan - jalan kang, enaknya kemana ya kang? Yang ada pemandangan bagus," kata Panji.
"Bagaimana kalau ke pantai Anyer," jawab kang Mumun.
"Emang ada pantai di sini?" tanya Panji.
"Ada bos, 1 jam perjalanan dari sini. Enak bos di sana, bos bisa minum bir di kedai minum. Di kedai minum juga ada purel - purel yang cantik - cantik. Bos bisa karaoke sama purel di sana," kata kang Mumun.
"Baiklah kang, kita main kesana," kata Panji.
Motor pun melaju dengan kecepatan sedang menuju pantai Anyer ujung kulon Pulau Jawa. Setelah berada di tepi pantai... Panji berjalan - jalan sendiri.
Sementara kang Mumun menunggu di warung sambil menikmati secangkir kopi.
Senja pun mulai tiba, Panji kembali menjumpai kang Mumun di kedai minum.
"Mbak, minta 2 es batu sama Angker Bir 2, dan rokok 2," kata Panji.
Bersama kang Mumun tukang ojek... Panji menikmati Angker Bir dan kepulan asap rokok, sambil memandang pantai yang mulai gelap.
"Kang Mumun, umur berapa sekarang?" tanya Panji.
"Umur 30 bos."
"Sudah punya istri belum," tanya Panji.
"Sudah punya anak 3 bos," jawab kang Mumun.
__ADS_1
"Kang Mumun kerja ojek kok hingga larut malam di perempatan?" tanya Panji.
"Iya bos, kadang sehari dapat penumpang 2x, 3x. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anak istri," ucap kang Mumun,
"Jadi... Kadang habis solat Isak kang mumun ngojek lagi hingga subuh. Apalagi anak saya sudah sekolah SD, banyak biayanya bos... Anak pertama barusan masuk SMP, tambah banyak biayanya. Pusing bos kalau di pikir! Hutang juga belum kebayar."
Setelah menghabiskan 1 botol Angker Bir... Panji dan kang Mumun melucur balik ke Losmen Batu Hiu.
Setelah berada di kamar, Panji menyalahkan Ac kemudian tidur karena kecapaian.
***
Panji terperanjat dari ranjang tempat tidurnya, lalu berkata lirih,
"Sudah jam 5, waktu Subuh hampir habis. Ternyata aku tidur pulas sekali, hingga aku tidak pergi ke makam semalam. Lebih baik mandi air hangat lalu solat."
Setelah solat... Panji membuka cendela, kemudian duduk sambil menyulut sebatang rokok.
"Udaranya sangat segar sekali," gumam Panji lirih.
Tok, tok, tok..!
Setelah pintu terbuka... Seorang pelayan wanita berkata,
"Selamat pagi Pak..."
"Selamat pagi juga," jawab Panji.
"Kalau di perkenankan... Saya akan membersihkan kamar Bapak," kata pelayan.
"Oh iya, silahkan Mbak," ujar Panji kemudian duduk kembali di sebelah cendela.
Setelah selesai, pelayan itu pergi.
Tak lama kemudian...
Pintu terketuk lagi, dan Panji bergegas membuka pintu.
"Selamat pagi Pak," ucap pelayan sambil membawah talam.
"Selamat pagi juga Mbak," kata Panji.
"Ini sarapan untuk bapak dengan menu nasi goreng dan teh manis," kata sang pelayan.
"Silahkan masuk, taruh di atas menja saja," kata Panji.
"Mbak... Bisa saya minta secangkir kopi panas?" tanya Panji.
"Bisa Pak, bapak tinggal telpon saja, di situ ada nomer dapur," kata sang pelayan,
"Nanti... Tagiannya di kasir resepsionis ya Pak."
"Iya Mbak terimakasih," ucap Panji,
"Ini untuk Mbak nya."
"Terimakasih ya Pak... Semoga Napak bertambah banyak rejekinya," kata sang pelayan kemudian berlalu.
"Aamiin," kata Panji lirih.
Tak lama kemudian seorang pelayan mengantar secangkir kopi.
Sambil menikmati kopi dan kepulan asap rokok... Panji tersenyum sambil berfikir, lalu berkata,
"Kadang aku juga heran dengan doa seseorang itu?
Seperti seorang pengemis yang meminta uang di rumah - rumah! Setelah di beri uang receh... Dia mendoakan orang yang memberinya uang. Mendokan semoga banyak rejekinya, semoga sukses dll.
Kalau saya pikir... Mendoakan dirinya sendiri saja tidak terkabulkan, kok mendoakan orang lain?
Seperti pelayan tadi, bukannya aku meremehkan pekerjaan pelayan, tapi aku heran saja? Dia saja masih susah mencari uang, hingga bekerja sebagai pelayan... Tetapi dia mendoakan aku banyak rejekinya? Yang benarkan cukup mengatakan terimakasih saja dan doa supaya banyak rejekinya kan untuk dirinya sendiri...?
Sungguh membingungkan?
Tok tok tok...!
Mendengar pintu terketuk... Panji bergegas membuka pintu. Ketika pintu terbuka... Panji kaget sekali.
"Assalamualaikum Panji," ucap Bela
"Waalaikumsalam Bela," ucap panji.
"Gak boleh masuk?" tanya Bela.
"Oh iya... Ayo masuk," ucap Panji kemudian menutup pintu. Setelah pintu tertutup... Bela tiba - tiba memeluk Panji erat - erat, kemudian melepaskan pelukannya.
"Tak kira kamu sudah pulang ke Surabaya? Beberapa hari aku selalu memikirkan dirimu," kata Bela kemudian duduk di kursi.
"Kok tau aku disini?" tanya Panji.
"Ayah bilang kamu titip salam, dan Ayah bilang kamu tinggal di losmen ini. Aku di kasih tau keberadaan kamar mu sama penjaga Losmen tadi," kata Bela.
"Kamu gak sekolah hari ini, bolos?" kata Panji.
"Ini hari minggu bos," kata Bela terkejut ketika melihat tumpukan yang di meja,
"Uang kamu banyak sekali?"
"Itu di beri oleh Ayah mu kemarin malam," kata Panji.
"Iya... Ayahku sekarang banyak uangnya, bisnis sayur mayur sukses dan lancar," kata Bela tertunduk.
"Mengapa kamu sedih?" tanya Panji.
Setelah sukses dan banyak uang... Ayahku jarang di rumah, bahkan... Kadang gak pulang dua hingga tiga hari," ucap Bela,
"Konon, katanya... Ayah punya wanita simpanan di desa lain. Kalau ada di rumah... Ayah dan ibu sering bertengkar.
Kakak laki - lakiku juga jarang pulang setelah punya motor baru.
Enakkan hidup miskin seperti dulu! Walaupun makan nasi sama kerupuk kecap, tempe dan ikan asin... Hidup kami bahagia! Ayah dan Ibu rukun, kami sekeluarga berkumpul setiap malam, bisa solat berjamaah. Setelah kaya punya uang banyak... Keluarga ku tidak bahagia! Di rumah aku tidak betah, karena ibu selalu uring - uringan."
Melihat Bela menanggis... Panji menyodorkan selembar tisu yang di ambil di atas meja.
"Panji... Bolehkah aku menaggis di bahu mu?" kata Bela terisak isak, kemudian menundukkan kepalanya di bahu Panji.
Sama seperti keluarga ku, keluarga ku Broklenhom.
Papaku sibuk kerja, mamaku juga sibuk kerja," kata Panji lirih,
"Anak - anaknya tidak terurus jadi liar! Ya... Untungnya aku tinggal di pondok walau 9 bulan. Alhamdulillah, aku jadi mengerti arti sebuah kehidupan walau sedikit."
__ADS_1