
"Seminggu yang lalu, aku terluka akibat benturan yang di sebabkan kecelakaan mobil. Lalu aku di bawah oleh kyai Abdul Latif Tuban ke rumah Nyai Farah Indramayu. Lalu kepala ku di pijit sama minyak sambung, dan dalam beberapa menit aku sembuh total," ujar Panji,
"Setelah sembuh, minyak itu di kasihkan ke aku. Nyai Farah bilang, sudah tua dan tidak membutuhkan minyak sambung itu lagi."
"Enak sekali kamu, cuma di kasih," kata Nyai Roro,
"Sulit loh mendapatkan minyak sambung itu, harus bersemedi 100 hari an."
"Ya... Aku dikasih sama Nyai Farah, sebab Nyai Farah itu Bibi guru ku.
Kyai Abdul Jalil mempunyai adik seperguruan bernama Nyai Farah. Jadi, aku ini murid keponakan Nyai Farah."
"Waduh..! Kalau berurusan sama kamu jadi repot juga kalau gitu," kata Nyai Roro,
"Banyak wali khos di bela tanah sunda."
Setelah ngobrol dan bercanda, Nyai Roro pamit pulang.
"Ini hadiah kado pernikahan mu," kata Nyai Roro sambil berdiri.
"Kado apa ini isinya," tanya Panji tersenyum.
"Di dalamnya adalah cincin Selo Karang," sahut Nyai Roro,
"Aku pamit dulu, kalau kalian masih betah disini, silahkan, aku duluan.
Rahayu."
"Rahayu ugi Nyai, terimakasih kado nya."
"Aku juga pulang kalau begitu," sahut Dewi Anjani dan Dewi Sambi, juga Dewi Sekar.
"Gus... Ini hadiah kado dariku untuk istri mu," sahut Dewi Sekar.
"Terimakasih Dewi Sekar," jawab Panji.
"Kalau kamu lewat pesisir laut utara... Mampirlah ke istana ku."
"Baiklah Dewi Sekar, Insallah aku akan mampir."
"Rahayu," kata ketiga Ratu jin.
"Rahayu ugi."
Adzan Subuh menggema, dan kesenian Gandrung pun menghentikan musik, untuk bersiap - siap membubarkan diri.
Setelah memanggil sukmanya masuk kedalam jasadnya, Panji kemudian masuk ke rumah dan menuju ke kamar.
"Maya... Kok tidur di atas sajadah, ayoo bangun. Solat Subuh dulu, lalu tidur."
"Iya Kak," jawab Maya kemudian terjaga.
Selesai solat Subuh, Panji istirahat dalam pelukan Maya istrinya.
*****
Jam 12 siang Maya sedang mempersiapkan makan. Setelah itu,
"Kak... Bangun, sudah jam 12. Solat dulu terus makan malam.
Apa Kakak gak pingin pulang ke Surabaya..?"
"Iya sebentar, sayang dulu Kakak."
Setelah solat berjamaah. Panji menikmati makan siang bersama Maya.
"Maya... Kita jalan - jalan dulu ke pantai kuta Bali ya, setelah itu kita balik ke Surabaya."
"Asiiik..!
Jalan - jalan ke pantai kuta Bali. Lama sekali gak ke pantai Kuta. Kalau gitu, aku berkemas dulu," kata Maya sambil menyelesaikan makan siangnya.
"Kring..!
Hp Naga Barat berdering. Setelah terhubung,
"Naga Barat, kamu antar aku ke pulau Bali ya?"
"Baiklah Godfather, 10 menit lagi saya sampai di desa Siman."
"Baiklah," kata Panji kemudian menutup telponnya.
Tak lama kemudian dua mobil BMW memasuki halaman rumah Kakek Kirman.
"Mbah... Saya dan Maya mau pamit dulu ke Surabaya. Tetapi, saya mau ke pulau Bali dulu sama Maya."
"Baiklah Gus.
Itu sapi masih ada 10 ekor dan ikan juga beras masih banyak," kata Mbah Kirman.
"Mbah... Yang satu jodoh untuk Mbah pelihara sendiri saja. Yang delapan sapi, Mbah berikan kepada orang fakir miskin yang gak punya sapi. Biar di pelihara buat tabungan mereka. Di bagi satu - satu pada setiap orang fakir miskin di desa ini," kata Panji,
"Terus... Beras dan ikan yang di es itu, bagi ke para tetangga. Khususnya mereka yang rewang (membantu acara hajatan)."
"Baiklah Gus."
Setelah salim dan sungkem, Panji dan Maya masuk kedalam mobil, lalu pergi meninggal desa Siman kecamatan Purwoharjo kabupaten Banyuwangi.
"Mau telpon siapa Kak," tanya Maya yang melihat Panji mengambil Hp dari dalam tas.
"Mau telpon manajer Fani," jawab Panji
Setelah terhubung,
"Manajer Fani, aku mau istirahat di Hotel Hening Kuta. Tolong siapkan makan malam ya."
"Baiklah presiden Direktur."
"Tolong air kolam renang di kamar ku, di ganti dengan air yang baru."
"Baiklah persiden Direktur."
Setelah melakukan perjalanan 6 jam, jam 7 malam mobil memasuki halaman parkir Hotel Hening Kuta Bali.
Setelah turun dari Mobil, Panji dan Maya berjalan memasuki lobi hotel.
"Selamat malam presiden Direktur," sapa manajer Fani sambil membungkukkan bandan,
"Silahkan Tuan, langsung saja ke restoran."
"Baiklah," kata Panji kemudian berjalan menuju restoran Hotel.
"Naga Barat... Jangan duduk disitu," kata Panji,
"Duduk sini satu meja dengan ku. Ajak kelima anggota inti duduk disini juga."
"Baiklah Godfather."
"Ayoo duduk dan makan bersama, jangan sungkan - sungkan. Kita semua saudara seperjuangan. Susah senang kita bersama."
__ADS_1
"Selamat Malam Godfather," sapa Jesi si Naga Timur.
"Malam juga Jessi," sapa Panji,
"Ayoo duduk sini, kita makan bersama."
"Baiklah Godfather," kata Jessi kemudian duduk disebelah Panji.
"Kamu tambah cantik saja," sahut Panji,
"Sudah nikah belum..?"
"Hehehe, bisa saja Godfather ini. Belum nikah Godfather."
"Kok tau aku disini..?"
"Tadi Anton si Naga Barat telpon saya."
"Bagaimana kabar anak mu..?"
"Sehat Tuan, sekarang sudah masuk sekolah kelas 1 SDN."
"Buruan menikah, biar kalau tidur ada temannya," kata Panji sambil meraih secangkir kopi.
"Hahahahaha.! Naga Barat dan anggota inti tertawa terbahak - bahak.
"Kakak ini sukanya godain orang saja," sahut Maya.
"Biasa begini Nyonya. Godfather kalau ketemu saya di pulau Bali selalu godain saya."
"Permisi," sapa beberapa pelayanan restoran, kemudian meletakkan beberapa menu makan di meja.
"Silahkan menikmati makan malam Tuan, Nyonya," kata Manajer Fani.
"Fani...
Ayoo duduk di sebelah Nyonya Maya istri ku. Kamu juga ikut makan malam bersama.
Kalau tidak mau, aku ganti manajernya."
"Baiklah Tuan," kata Fani kemudian duduk di samping Maya.
Sambil makan, Panji berkata,
"Manajer Fani... Ramai pengunjung apa sepi hotelnya..?"
"Sejak di akuisisi oleh PT Hening Group, Hotel ini sangat ramai sekali Tuan. Itu karena pergantian Nama, dari Hotel Star menjadi nama Hotel Hening.
Kedua...
Direktur Kaila telah melakukan promosi besar - besaran di beberapa Negara asal para turis."
"Yaa syukurlah kalau begitu."
"Fani asli mana," tanya Maya.
"Asli Denpasar Bali Nyonya."
"Hebat kamu, masih muda sudah jadi manajer Hotel sebesar ini."
"Itu semua berkat kebaikan Tuan Panji,x jawab Fani,
"Waktu itu... Saya kerja di sebuah club malam sebagai Waatress, untuk biaya kuliah. Lalu Tuan Panji menawarkan pekerjaan yang layak untuk saya, yaitu menjadi manajer hotel ini."
"Kok bisa kenal sama Tuan Panji," Tanya Maya iseng - iseng.
Tuan Panji suka minum segelas jhony wolker sambil mendengar musik Blues."
"Apa kamu tau judul lagu kesukaan Tuan Panji..?"
"Tau Nyonya, judulnya Still Got The Blues. karena setiap ke bar, Tuan Panji riques lagu ini hingga 5 sampai 7x," jawab Fani sambil menikmati makan malam.
"Kamu tau siapa pencipta lagu stiil got teh blues..? Dan siapa pengarangnya..?"
"Tau Nyonya, pengarangnya bernama Gery More berasal dari Negara Irlandia. Lagu ini di ciptakan pada tahun 1990."
"Huuu, hafal ya, berarti kamu pecinta musik," kata Maya sambil menyelesaikan makan malam nya.
"Fani..."
"Iya Tuan," sahut Fani.
"Apa kamu masih kuliah..?"
"Iya Tuan, saya kuliah ambil jam malam."
"Baguslah.
Aku permisi dulu ya, mau istirahat tidur sama istri," kata Panji,
"Biasa pengantin baru bawaannya ngantuk terus, pinggin tidur saja."
"Hahahahaha..!"
Suara tawa terdengar riuh.
"Naga Barat, kamu istirahat saja, besok langsung kembali ke Surabaya gak apa - apa. Kalau mau jalan - jalan dulu di sini gak apa - apa juga.
Tugas mu di gantikan Jessi si Naga Timur."
"Baiklah Godfather."
Setelah berada di kamar presidential suit lantai atas, sambil menikmati rokok, Panji duduk di teras kamar yang menghadap kolam renang.
"Kak... Ini banyak kado amplop dari relasi Bisnis kakak," kata Maya kemudian duduk di samping Panji.
"Apa isi amplop - amplop itu..?"
"Biasanya sih uang isinya," sahut Maya kemudian membuka salah satu amplop,
"Ini cek 10 juta, hemm yang ini cek 5 juta."
"Simpan saja. Besok di Surabaya kamu cairkan, lalu masukkan ke rekening yayasan," kata Panji,
"Kan yayasan butuh uang banyak untuk pembangunan."
"Masak semua di masukkan yayasan," sahut Maya,
"Ini ada 700 cek lebih loh kak."
"Kamu buat apa ambil uang hadiah pemberian tamu undangan," tanya Panji santai,
"Kita itukan mengadakan pesta pernikahan, kan hanya untuk meriahkan sajam
Jadi, biar uang para tamu itu berkah dan manfaat, ya kita sumbangkan saja ke yayasan mu.
Uang pemberian para tamu bisa kita berikan pada anggota yayasan yang fakir miskin, dan untuk pembangunan yayasan."
"Kalau boleh... Aku mau beli mobil untuk keperluan anak - anak yayasan ya kak, pakai uang hadiah ini..?"
__ADS_1
"Kalau untuk keperluan yayasan ya beli saja, gak apa - apa."
"Ini ada amplop coklat dari Tuan Cahyadi, Kakeknya Aini. Coba aku buka, berapa nilainya. Kak...! 250 Milyar..!"
"Sini kasih ke Kakak cek itu."
"Katanya mau di kasih ke yayasan..?"
"Cek yang dari Tuan Cahyadi untuk bangun pesantren," kata Panji.
"Emang Kakak mau mendirikan pondok pesantren," tanya Maya.
"Bukan aku, tetapi Hanan."
"250 Milyar itu banyak sekali loh Kak, Hanan kan masih SMA kelas 3. Masak sudah di percaya pengang uang segitu banyak nya?"
"Sebentar lagi dia juga lulus. Walau Hanan masih SMA, dia sudah bisa di percaya," ujar Panji
"Uang yang kamu beri 100 juta ke Hanan, dia pake untuk membangun makam leluhur di kabupaten Nganjuk. Sekarang, makam itu sangat bagus sekali dan terang ada listriknya.
Aku capek sekali Maya, sudah jam 10 malam. Ayoo istirahat tidur."
"Siaaap bos!"
***
Kring..!
Hp panji berdering. Dengan menahan rasa kantuk, Maya mengambil Hp di meja samping tempat tidur,
"Halo... Iya..?"
"Maya... Ini Mama Rita."
"Iya Ma," kata Maya kemudian duduk.
"Suami mu mana?"
"Tidur ini Ma?"
"Bangunkan sebentar ya, penting sekali."
"Iya Ma.
Kak, kakak..."
"Ada apa..?"
"Bangun, Mama telpon katanya penting sekali. Ini Hp nya."
"Ada apa Ma, tengah malam gini kok telfon?"
"Barusan Pakdhe mu kyai Danwari telpon. Katanya Hanan gila sekarang. Akibat tirakat di makam leluhur.x
"Biarin saja...
Hanan gak apa - apa.
Paling - paling dia akting saja, agar berhenti mondok."
"Diam kamu. Biasa kalau diajak ngobrol Mama selalu gitu.
Besok kamu pergi ke kabupaten Nganjuk. Jenguk Hanan adik mu itu."
"Iya iya... Ma, besok malam aku ke Kabupaten Nganjuk.
Mama dan Papa kenapa gak menjenguk Hanan di Nganjuk..?"
"Papa mu kurang sehat, besok Siska adik mu sekolah. Jadi rmama tidak bisa pergi. Paling hari minggu Mama bisa menjenguk Hanan."
"Ternyata Papa juga bisa sakit ya," sahut Panji tersenyum.
"Emang malaikat gak sakit. Sudah Mama ngantuk mau istirahat."
"Iya Ma," kata Panji kemudian menutup telponnya.
““Jam 02 dini hari,“ gumam Panji,
"Jadi gak bisa tidur nieh. Enaknya renang saja sambil nunggu adzan Subuh."
Ketika berdiri di samping tempat tidur... Panji melihat cahaya biru keputih - putihan memancar dari dalam tasnya Maya.
"Cahaya apaan itu ya, kok mencorong sekali. Coba aku ambil," gumam Panji kemudian mengambil bingkisan kotak.
"Oh.... Iya iya, ini kado hadiah pernikahan, pemberian dari Nyai Ratu Roro kidul. Cincin Selo Karang," kata Panji sambil membuka bingkisan,
"Lebih baik aku bawa ke meja dekat kolam renang saja."
Setelah menyulut rokok, Panji membaca mantra telepati, kemudian menghubungi Nyai Roro kidul.
"Salam Rahayu Nyai..."
"Salam Rahayu kembali Gus," jawab Nyai Ratu.
"Nyai... Apa fungsi dari cincin Selo Karang ini..?"
"Kamu itu kurang kerjaan ya Gus, kamu kan bisa lihat sendiri kekuatan cincin itu. Mengganggu orang istirahat saja."
"Hehehehe, aku akan pinggin tau dari orang yang memberinya."
"Cincin itu untuk melindungi diri dari segala macam marah bahaya. Untuk tolak balak. Dan cincin itu mengandung kekuatan goib yang luar biasa. Di dalam cincin itu, ada segel stempel istana kerajaan laut selatan.
Kekuatan cincin Selo Karang itu sama kayak kekuatan cincin Taji Kubro yang kamu pakai."
"Terimakasih Nyai, Rahayu."
"Rahayu ugi Gus."
"Ini ada kerudung hadiah pemberian Nyai sekar Ratu penguasa Laut Barat. Coba aku tanyakan pada Nyai Dekar.
Salam Rahayu Nyai Sekar..."
"Salam Rahayu kembali Gus."
"Nyai... Apa fungsi kekuatan kerudung ini..?"
"Kerudung itu bernama kerudung Kinasih. Kerudung itu mempunyai kekuatan goib yang luar biasa. Kerudung itu juga untuk melindungi diri dari segala macam marah bahaya. Untuk tolak balak Gus.
Jika di pakai, maka orang yang memakainya sangat berwibawa, anggun dan sangat terlihat cantik, karena pengaruh aura dari kekuatan kerudung itu."
"Baiklah Nyai, aku sangat terimakasih atas pemberian hadiah ini.
Salam Rahayu."
"Sama - sama Gus. Salam Rahayu kembali."
"Ini ada hadiah sorban dan tasbih hadiah dari Nyai Dewi Sambi. Sepertinya... Aku mengenal getaran tasbih dan kain sorban ini,
Lebih baik aku tanyakan pada Nyai Dewi Sambi."
__ADS_1