
Kring..!
Hp Ruli berdering. Setelah tersambung,
"Selamat pagi Nyonya," sapa manajer Batu Hiu.
"Pagi juga Mbak. Ada apa..?"
"Ada Tuan Panji sedang istirahat di Losmen Nyonya."
"Layani lah Tuan Panji dengan baik."
"Baiklah Nyonya," jawab manajer Losmen kemudian menutup telponnya.
"Tumben Mas Panji nginap di Losmen Batu Hiu..?
Sejak perceraian ku dengan Mas Panji, bisnis Hotel Atlanta dan Losmen Batu Hiu berangsur - angsur sepi," ujar Ruli pelan,
"Hutang bertambah banyak untuk menutupi kebutuhan hotel.
Setelah aku menikah lagi... Suamiku tidak mau tau dengan semua permasalahan ku. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Suamiku mau menikahi ku hanya karena harta dan kecantikan ku saja.
Hemmm...
Suamiku tidak seperti Mas Panji. Walau jarang bertemu, Mas Panji orangnya romantis dan penuh kasih sayang. Mas Panji juga orang yang bertanggung jawab. Mas Panji selalu mempertahatikan ku, dan tau kesedihan hatiku.
Sebenarnya aku menyesal minta cerai dari Mas Panji.
Akhir akhir ini... Aku sering ribut masalah kecil dengan suami ku.
Hutang di Bank semakin menumpuk, sementara bisnis hotel sepi. Lama - lama hotel Atlanta ini bisa di sita pihak Bank. Mau minta bantuan Mas Panji... Tetapi malu rasanya. Lebih baik aku temui Mas Panji di Losmen batu hiu. Aku ingin curhat. Siapa tau Mas Panji bisa membantu masalah ku. Hanya Mas Panji yang mengerti perasaan ku."
"Kring..!
Hp Panji berdering. Sambil tidur Panji mengangkat Hp nya,
"Iya... Siapa?"
"Selamat pagi Godfather," sapa sekretaris Novi.
"Pagi juga Novi. Ada apa pagi - pagi kamu telpon aku..?"
"Ada berita duka Tuan. Kalau Godfather tidak keberatan, saya ingin bertemu Tuan."
"Temui aku di Losmen Batu Hiu di Kramat Watu Serang Banten."
"Baiklah Tuan, saya tau tempat itu," ujar Novi kemudian mematikan teleponnya.
2 jam kemudian.
Mobil BMW memasuki halaman parkir losmen Batu Hiu. Setelah menanyakan kamar Panji ke resepsionis, sekretaris Novi menuju kamar no 7.
Tok tok tok..!
Mendengar ketukan pintu, Panji bangun lalu membuka pintu.
"Selamat pagi Godfather," sapa sekretaris Novi.
"Pagi juga Novi, ayo masuk," ujar Panji kemudian merebahkan badannya ke tempat tidur lagi,
"Kamu telpon kantin, pesankan kopi hitam."
"Baiklah Godfather," jawab Novi kemudian menghubungi kantin.
Tak lama kemudian.
Tok tok tok!
Setelah membuka pintu, Novi menerima secangkir kopi hitam dan secangkir teh manis.
"Ini kopi nya Tuan."
Setelah menyeruput kopi panas, Panji menyulut rokok marlboro kemudian tengkurap di tempat tidur.
"Novi... Pijitin kaki ku."
"Baiklah," kemudian Novi duduk di sebelah Panji dan mulai memijit kaki Panji.
"Ada berita apa hingga pagi - pagi kamu ingin bertemu dengan ku..?"
"Dua anggota inti malam tadi telah tewas dalam baku tembak di kota Bangkok Negara Thailand. Mereka sedang mengawal pengusaha asal Makasar."
"Siapa pelakunya..?"
"Kelompok gangster motor lokal Tuan. Namanya geng Young Boys.
Masalahnya motor mereka tersenggol mobil yang di kendarai pengusaha Makasar. Lalu saling baku tembak di jalan tanpa hambatan.
Kini mayat kedua anggota kita sedang dalam perjalanan ke Makassar."
"Siapa yang memegang wilayah Makassar dan Sulawesi..?"
"Naga Utara Tuan."
Dalam rapat semalam... Rencananya akan saya kirim Jhosep dan beberapa anggota inti untuk melakukan balasan ke Thailand. Tetapi, saya harus izin dulu sama ketua."
"Tidak usah melakukan serangan balasan. Biar aku urus sendiri saja. Karena... Suasana sedikit keruh.
Kamu hubungi direktur Lim shauw, nanti malam aku ingin bertemu di Hotel Hening. Suruh menginap di hotel."
"Baiklah Tuan."
Setelah solat Dzuhur, kita ke Jakarta," kata Panji kemudian bergegas mandi.
Setelah solat Dzuhur, Panji melantunkan Dzikir Diatas Tirai di tujukan untuk alam semesta sekabupaten Banten.
Jam satu siang, Panji dan Novi meluncur ke kota Jakarta.
Baru saja Panji meninggalkan losmen, mobil Ruli memasuki halaman parkir losmen. Setelah keluar dari mobil, Ruli langsung menuju resepsionis.
"Mbak, Tuan Panji di kamar mana," tanya Ruli.
"Tuan Panji sudah pergi Nyonya. Baru saja sekitar 2 tiga menitan."
"Tau kemana arah laju mobilnya..?"
"Tadi menyebrang jalan Nyonya, ke arah kota Serang dan arah Jakarta."
Mendengar jawaban resepsionis... Tubuh Ruli langsung lemas.
"Baiklah Terimakasih," jawab Ruli kemudian masuk mobil langsung mengejar mobil yang di kendarai Panji.
*
Jakarta.
Kring...!
Hp direktur Sherly berdering. Setelah terhubung,
"Sherly, lagi di mana..?"
"Lagi metting di perusahaan Mas."
"Aku sekarang ke perusahaan, kepinggin makan siang bersama mu."
"Yang bener Mas..?"
"Tunggu 10 menit lagi aku sampai."
"Baiklah Mas, aku tunggu ya," jawab Sherly kemudian mematikan teleponnya.
"Novi, aku turun sini saja, depan pabrik."
"Baiklah Godfather."
Setelah salim dan cium tangan, Panji keluar dari dalam mobil.
"Assalamualaikum Novi."
"Waalaikumsalam Godfather."
Panji berjalan ke arah pintu gerbang PT Garment JKT.
"Selamat siang Pak... Mau ketemu sama Direktur Sherly," kata Panji.
"Apa sudah membuat janji," tanya salah satu satpam.
"Sudah Pak."
"Dengan siapa ini..?"
"Dengan Kang Panji paranormal Surabaya."
"Baiklah tunggu sebentar, saya telpon dulu."
Setelah di beritahu kalau Panji pemilik perusahaan... Begitu menutup telpon, Pak satpam itu terdiam sambil menatap Panji yang duduk di kursi.
"Selamat siang Tuan panji," sapa pak satpam sambil membungkukkan badannya,
"Mari saya antar.
Saya mohon maaf bila tadi kurang sopan."
"Mari," kata Panji kemudian berjalan menuju ruang Direktur.
Begitu masuk ruangan... Sherly langsung memeluk Panji erat - erat. Setelah melepaskan pelukannya, Sherly berkata,
"Duduklah Mas. Lama sekali gak ketemu, sampai kangen aku."
"Kan baru ketemu, beberapa hari yang lalu."
"Ketemu kan di acara pernikahan Mas Panji. Gak bisa makan ngopi bareng. Ada Nona Maya, hehehe."
Ada apa kok tumben sekali Mas ke perusahaan..?"
"Aneh ya..?"
"Ya aneh lah, selama perusahaan ini berdiri, Mas Panji hanya sekali menjenguk perusahaan ini. Dan ini untuk yang ke dua kalinya."
"Tiba - tiba aku kangen sama kamu. Aku kepinggin jalan - jalan sama kamu, ingin makan bareng kamu."
"Udah itu saja. Gak kepinggin minta pijit sama aku, dan gak ngajak aku tidur bareng..?"
__ADS_1
"Hahahahaha..!
Kalau itu gak usah di tanya."
"Ayok Mas, katanya mau makan siang..?"
"Baiklah," kata Panji kemudian berdiri, kemudian naik mobil mewah
"Pak, ke moll ya..?"
"Baiklah Tuan."
Setelah membeli sarung warna hijau dan baju putih, Panji dan Sherly menikmati makan siang di Restoran Hotel Atalanta.
"Mas, mengapa kok kita tidak makan di restoran Hotel Hening saja," tanya Sherly.
"Ada wanita mencari ku, dia lagi kesusahan dan mau minta bantuan ku," jawab Panji sambil menikmati sop iga sapi.
"Siapa wanita itu..?"
"Dia pemilik Hotel Atlanta ini."
Setelah melakukan perjalanan dua jam lebih dari kota Serang, mobil Ruli memasuki halaman parkir Hotel Atlanta.
Setelah keluar dari dalam mobil, Ruli berjalan menuju restoran hendak makan siang.
Begitu masuk restoran, Ruli diam terpaku sejenak melihat Panji mantan suaminya makan bersama seorang wanita cantik.
"Assalamualaikum Mas," sapa Ruli.
"Waalaikumsalam Ruli," jawab Panji.
Setelah salim dan mencium tangan, Ruli duduk di depan Panji.
"Tumben Mas, makan disini..?"
"Ya aku pingin saja makan disini," jawab Panji yang sudah mengetahui kalau Ruli mencari nya.
"Kebetulan sekali...
Aku barusan dari losmen Batu Hiu mencari mu, begitu kamu pergi, aku datang."
"Ada apa kamu mencari ku..?"
"Aku ingin minta maaf Mas, atas perceraian kita."
"Aku sudah memaafkan mu, sejak pertama aku kenal dengan mu."
"Iya Mas, makasih ya..?"
"Katakan saja, masalah mu, jangan malu - malu. Bagaimana pun, kita pernah mempunyai hubungan dekat."
"Aku bingung untuk memulai bicara.
Tetapi baiklah.
Dalam beberapa bulan sejak kita bercerai, bisnis hotel ini sepi sekali Mas. Akhirnya aku terpaksa pinjam uang untuk menalangi agar hotel ini tidak bangkrut.
Kalau boleh... Aku mau pinjam uang untuk membayar hutang di bank. Kalau tidak bisa membayar hutang, aku khawatir Hotel ini akan di sita pihak Bank."
"Mengapa kamu tidak minta uang sama suami mu..?"
"Suamiku tidak bertanggung jawab. Dia tidak mau tau dengan masalah yang aku hadapi. Jangankan untuk bayar hutang, makan rokok saja minta sama aku."
"Makanya cari suami itu jangan pilih gantengnya saja. Cari suami yang bertanggung jawab dunia akhirat.
Berapa semua hutang mu di bank..?"
"430 milyar. Bank Asia."
"Aku mau bantu bayar semua hutang mu, syaratnya... Kamu ceraikan suami mu. Kamu cari suami yang lagi yang bertanggung jawab."
"Baiklah Mas. Aku juga sudah lelah dengan masalah ini," sahut Ruli.
"Setelah aku bayar semua hutang mu... Aku sarankan, setiap bulan pergilah ziarah di makam kyai Jabat. Berdoalah di sana, agar masalah bisnis mu sukses."
"Baiklah Mas."
"Sherly... Kasih Nyonya Ruli cek sebesar 430 milyar."
"Baiklah Mas," ujar Sherly kemudian mengeluarkan cek dari dalam tas, lalu menulis jumlah uang.
"Ini Nyonya, cek 430 milyar."
"Baiklah, terimakasih ya Mas. Kalau aku sudah punya uang, akan aku kembalikan."
"Tidak usah di kembalikan. Kalau bisnis mu kepingin lancar dan sukses, jangan pernah lupa solat malam, wirid Hasbunallah wanikmal Waqil. Dan pergilah Riyadhoh ke makam kyai Jabat."
"Baiklah Mas. Terimakasih banyak.
Suatu saat... Kalau aku punya uang, akan aku kembalikan uang mu."
"Ruli... Aku pergi dulu ya, masih ada urusan."
"Baiklah Mas.
Mas... Boleh aku memeluk mu..?"
Tanpa banyak bicara, Panji memeluk Ruli sambil berkata lirih,
Jangan lupa berdoa."
"Baiklah Mas, akan aku ingat pesan mu."
"Assalamualaikum," ucap Panji kemudian melepaskan pelukannya.
"Waalaikumsalam Mas..."
Setelah Panji pergi dengan mengandeng tangan Sherly, Ruli duduk di kursi sambil meneteskan air mata penyesalan.
😠Sakit tak berdarah ðŸ˜
***
"Ke Hotel Hening ya Pak," kata Panji.
"Baiklah Tuan."
Setelah berada di kamar pribadi presidential suit, Panji langsung renang bersama Sherly.
"Kring..!
Hp Panji berdering. Setelah terhubung,
"Iya Mama ku yang cantik..?"
"Panji, kamu dimana..?"
"Ada di Jakarta Ma...
Ada apa Ma..?"
"Kamu sudah menjenguk Hanan adik mu di Nganjuk..?"
"Sudah Ma."
"Bagaimana kabarnya adik mu..?"
"Kasihan Hanan Ma...
Badannya kurus kering, otaknya kurang waras. Dia tidak mau pakai baju dan sarung. Sepertinya dia kerasukan jin deh. Coba Mama carikan obat ke dukun atau ke kyai."
"Mengapa kamu tinggal ke Jakarta..? Kalau adik mu sakit..!
Kamu itu gimana sih, gak kasihan sama Adik nya..!"
"Sudah aku bawah ke dokter Ma. Aku kan juga harus kerja cari uang.
Apalagi Maya Hamil 2 bulan lebih.
Coba Mama sama Papa jenguk Hanan. Jangan lupa bawain makanan yang enak - enak. Belikan buah, roti dan susu. Kasihan Ma, badannya kurus."
"Iya, besok pagi - pagi Mama sama Papa akan jenguk Hanan di pesantren.
Maya istri mu mana, sini Mama pingin ngobrol sebentar."
"Maya lagi renang Ma, olahraga, biar bayinya sehat."
"Baiklah, jaga istri mu. Kalau hamil, jangan di tinggal pergi jauh - jauh. Kasihan."
"Iya Ma, siaaap," jawab Panji kemudian menutup telponnya.
Selesai renang, Panji melaksanakan solat Asar. Kemudian Panji istirahat tidur bersama Sherly.
*
Jam 6 sore, Direktur Lim Shauw sudah berada di Restoran hotel Hening Jakarta.
Kring..!
Hp Panji berdering. Setelah tersambung,
"Selamat sore Tuan, saya sudah berada di restoran Hotel Hening Jakarta."
"Baiklah, tunggu sebentar, aku mau solat dulu," jawab Panji buru - buru mandi dan wudhu karena terlambat solat Magrib.
Selesai solat, Panji dan Sherly pergi ke restoran untuk menemui direktur Lim.
*****
"Selamat malam Godfather," sapa Direktur Lim.
"Malam juga Lim," sapa Panji kemudian duduk,
"Lim... Aku tugaskan kamu melakukan operasi senyap di beberapa kota di Negara Asia. Di dalam amplop coklat ini ada foto dan nama pasien.
Besok pergilah ke Vietnam, kamu temui orang bernama Tuan Matrik di hotel The King. Hotel itu Milik Aini mantan istri ku."
"Baiklah Godfather," jawab direktur Lim Shauw mantan sekretaris pribadi Panji.
"Besok siang berangkat lah. Habis ini sekretaris Dafa akan mentransfer uang operasional ke rekening mu."
"Baiklah Godfather."
"Malam ini kamu tidur di kamar pribadi ku saja, lantai atas no 9. Disitu ada 3 kamar, sekalian kamu pesan makan malam.
__ADS_1
Ini kuncinya."
"Baiklah Godfather."
"Kalau begitu... Aku pergi dulu. Jangan sampai bocor operasi ini."
"Baiklah Godfather," jawab direktur Lim Shauw kemudian salim cium tangan.
Di dalam mobil, Panji menelpon Kim. Setelah tersambung,
"Kim... Dimana kamu..?"
"Saya lagi ngopi di cafe Dodo Tuan."
"Aku kesana sekarang juga," kata Panji.
"Baiklah Tuan, akan saya SMS alamatnya," jawab Kim Saiin kemudian menutup telponnya.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman parkir cafe Dodo.
"Sherly... Aku ada urusan sebentar, kamu pulang istirahat ya."
"Baiklah Mas," jawab Sherly kemudian memeluk dan mencium pipi Panji,
"Assalamualaikum Mas..."
"Waalaikumsalam."
"Selamat malam Kim," sapa Panji sambil berjalan kemudian duduk.
"Selamat malam juga Godfather."
"Mbak, minta es batu sama bir 2 botol ya," kata Kim Saiin. Sekalian rokok marlboro dan jie sam soe."
"Baiklah Tuan."
"Mbak," panggil Panji.
"Iya Tuan..?"
"Apa Bos Devi ada di sini..?"
"Bos Devi ada di cafe Dodo di Hotel Hening Tuan."
"Ya sudah kalau begitu. Tolong putarkan lagu Stiil Got The Blues 3x putaran ya?"
"Baiklah Tuan."
Tak lama kemudian...
Sambil menikmati musik Stiil Got The Blues, Panji menikmati bir bintang dan kepulan asap rokok.
"Kim... Aku tugaskan kamu untuk melakukan operasi senyap di kota Bangkok Thailand dan di Singapura juga di Kuala lumpur Malaysia. Aku percaya sama kamu, karena kamu adalah seorang penembak jitu, dan memiliki taktik yang baik, juga bisa bahasa inggris dan bahasa mandarin yang mumpuni."
"Baiklah Godfather."
"Di dalam amplop ini ada beberapa foto dan daftar nama pasiennya," kata Panji sambil menaruh amplop coklat di meja.
"Baiklah Godfather."
"Operasi ini jangan sampai bocor, petinggi organisasi jangan sampai tahu.
Habis ini sekretaris Dafa akan mentransfer uang operasional ke rekening mu.
Aku sudah menghubungi orang kita di sana."
"Baiklah Godfather."
"Aku mau pergi dulu, masih ada urusan."
"Baiklah Godfather," jawab Kim kemudian salim cium tangan.
"Apa perlu saya antar Tuan..?"
"Tidak perlu, aku naik taxi saja.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Panji berjalan menelusuri trotoar pinggir jalan. Setelah membaca mantra ajian ilmu lipat bumi, sekali jangka Panji sudah berada di pinggir jalan yang sepi tak jauh dari yayasan kasih ibu.
Setelah berada di depan pintu masuk yayasan, Panji uluk salam,
"Assalamualaikum Kang Sarip..."
"Waalaikumsalam Gus..."
"Lagi jaga malam ya Kang Sarip?"
"Iya Gus."
"Kalau begitu aku masuk dulu ya Kang..."
"Iya Gus, silahkan silahkan."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," sahut Maya kemudian bergegas keluar menuju pintu, ketika mendengar suara Panji suaminya.
"Alhamdulillah... Suami ku pulang beneran," kata Maya kemudian salim cium tangan lalu memeluk Panji.
"Aku siapkan makan malam dulu ya Kak, sama bikin kopi."
"Iya Maya," jawab Panji kemudian masuk kamar dan mandi.
Sambil membuat kopi, Maya berkata lirih,
"Kaos suami ku bau minyak wangi cap mahal, minyak wangi cewek. Kak Panji pasti habis tidur sama perempuan lain. Apa aku ini kurang cantik ya..?
Bener kata Mbah Wali Dirjo, aku harus sabar mempunyai suami seperti Kak Panji.
*
"Kak, ayo makan malam dulu," ajak Maya.
"Baiklah."
Selesai makam malam, Panji dan Maya duduk di teras rumah samping musholla sambil menikmati secangkir kopi dan teh manis.
"Kak.. Kapan ke kota Mekah lihat Ka'bah dan makan masakan arab," tanya Maya,
"Aku juga ingin solat di Masjidil Haram."
"Besok saja, kita naik pesawat pribadi milik mu."
"Kelamaan Kak naik pesawat. Kan Kakak bisa berjalan di atas air dan punya ilmu menghilang..?
Bagaimana kalau kita menghilang cling, langsung berada di depan Ka'bah..?"
"Kamu itu mintanya aneh - aneh saja Maya," kata Panji lirih.
"Ayoo dong Kak...
Aku kepinggin sekali lihat Ka'bah dan ziarah ke makam Kanjeng Nabi juga solat di Masjidil Haram."
"Kenapa kamu kok kepingin lihat Ka'bah di kota Mekkah..?"
"Lusa kemarin aku lihat Tv, pas acaranya orang umroh di Mekkah. Jadi aku kepinggin kesana. Hehehehe.
Kalau naik pesawat kan 18 jam hingga 20 jam."
"Baiklah.
Setelah solat di depan ka'bah dan ziarah ke makam kanjeng Nabi, kita pulang ya?"
"Asiiik," kata Maya kemudian mencium pipi suaminya.
"Di Surabaya sekarang jam 11 malam, nanti di kota Mekkah sekitar jam 7 malam.
Nanti subuh kita harus pulang."
"Iya Kak."
"Sekarang kamu ganti baju, pakai jubah putih, jilbab putih. Kerudung Kinasih itu kamu pakai ya?"
"Iya Kak," jawab Maya kemudian bergegas masuk kamar ganti baju.
Setelah mengenakan sarung warna hijau dan baju taqwa, Panji mengikatkan sorban Kumala di kepalanya dan mengantongi tasbih kayu Setigi Laut.
"Ayoo ikut Kakak ke kebun belakang rumah," ajak Panji kemudian mengandeng tangan Maya istrinya,
"Ingat..! Jangan sampai melepaskan tangan ya, gandeng Kakak erat - erat."
"Iya Kak."
"Pejamkan kedua mata mu. Jangan sekali - kali membuka mata ya..?Kalau membuka mata, nanti kamu bisa terjatuh di tengah laut dan bisa di makan ikan hiu. jadi duda aku nanti.
Bojo gari siji e."
"Iya iya..."
Setelah membaca mantra ajian ilmu Lipat Bumi, tubuh Panji dan Maya di selimuti cahaya putih.
Panji melangkahkan kakinya ke arah kota Mekkah.
Maya yang terpejam merasakan tubuhnya dingin terkena angin. Telinganya mendengar deru suara angin.
Tiga kali jangka, Panji sudah berada di kota Mekkah. Panji dan Maya berdiri di tempat sepi tak jauh dari Masjidil Haram.
"Maya, sudah sampai. Buka kedua mata mu."
"Baiklah Kak, kata Maya kemudian membuka kedua matanya,
"Alhamdulillah...
Kesampaian juga melihat ka'bah secara langsung di kota Mekkah.x
"Mari kita solat Isak dulu, setelah itu solat sunnah malam. Perbanyak solat sunah di Masjidil Haram ini. Sebab, solat di Masjidil Haram lebih utama dari pada solat di masjid lainnya. Satu rokaat solat di masjidil haram sama dengan 100 ribu solat sunnah di masjid lainnya. 1 rokaat banding 100 ribu rokaat.
Jangan lupa berdoa untuk anak dalam kandungan mu."
"Baiklah Kak."
Setelah melakukan solat Isak, Panji dan Maya melaksanakan solat sunnah hingga 50 rokaat. Setelah menutup dengan doa, Panji dan Maya menikmati makan dan minum khas arab di sebuah restoran sekitar Masjidil Haram.
__ADS_1