
"Salam Rahayu Nyai Dewi sambi," sapa panji
"Salam Rahayu kembali Gus."
"Nyai... Sepertinya aku mengenal getaran kekuatan hadiah yang kamu berikan ini kepada ku. Kalau boleh tau, apa kekuatan dari kedua benda ini..?"
"Hadiah sorban dan tasbih itu adalah milik mu Gus," kata Nyai Dewi Sambi.
"Maksudnya gimana Nyai..?"
"Kira - kira sebulan yang lalu...
Aku bersemedi selama 40 hari di gua Cakra di dasar Laut kabupaten Blambangan. Ketika semedi ku selesai, datanglah seorang wali bernama kyai Wasik.
Kyai Wasik adalah seorang wali yang istiqomah solat dan wirid di bawah dasar laut Blambangan.
Entah darimana... Tiba - tiba kyai Wasik menemui ku, lalu berkata,
Aku titip dua benda ini pada mu. Berikan pada seorang pemuda bangsa manusia yang berjalan di atas air laut. Dia berjalan dari ujung kolon pulau jawa menuju ke ujung Timur Pulau Jawa.
Lalu kyai Wasik meletakkan kedua benda itu di atas batu yang berada di sebelah ku semedi. Kemudian kyai Wasik menghilang.
Ketika aku hendak kembali ke istana, aku ambil kedua benda titipan itu. Tetapi... Aku tidak kuat mengangkatnya. Walau aku mengunakan semua kesaktian ku, aku tetap tidak mampu.
Yaa akhirnya aku biarkan benda itu tergeletak di gua Cakra."
"Nyai kok bisa mengangkat kedua benda ini dan membawanya kemari..?"
"Setelah kamu menyembuhkan ku, aku ingat kata - kata kyai Wasik. Lalu aku pergi ke gua Cakra dan benda itu bisa aku angkat. Aku ingat, hanya kamu bangsa manusia yang berjalan di atas permukaan air laut dari ujung kulon pulau jawa menuju timur pulau jawa."
"Darimana Nyai tau kalau kyai itu bernama kyai Wasik..?"
"Di kasih tau sama Nyai Ratu Roro Kidul."
"Baiklah Nyai, terimakasih banyak atas petunjuknya. Salam Rahayu."
"Salam Rahayu kembali Gus."
Setelah solat Subuh berjamaah, Panji tertidur lelap dalam pelukan Maya istrinya.
*****
"Kak... Bangun, sudah jam 12 siang. Katanya mau jalan - jalan ke pantai Kuta..?"
"Iya," jawab Panji kemudian bangun lalu mandi.
Setelah solat dzuhur, Panji keluar kamar hotel.
Setelah berada di lobi hotel, Naga Timur menyapa,
"Selamat siang Gordfather..."
"Selamat siang juga Jessi. Naga Barat kemana..?"
"Barusan saja kembali ke Surabaya Tuan."
"Baiklah kalau begitu, mari kita jalan - jalan ke jalan Legian Pantai Kuta."
"Baiklah Tuan."
"Kita jalan kaki saja ya," kata Panji
"Baiklah Tuan," kata Jessi kemudian mengikuti Panji dari belakang bersama beberapa anggota inti.
Setelah berada di pantai Kuta... Panji dan Maya duduk berteduh di sebuah kedai dan minum es kelapa muda.
"Jessi, hubungi orang mu. Pesankan tiket pesawat ke Surabaya untuk dua orang. Atas nama ku dan Nona Maya."
"Baiklah Godfather," jawab Naga Timur kemudian menelfon seorang agen penjualan tiket.
Setelah menelfon, Naga Timur berkata,
"Mengapa Godfather tergesa - gesa pergi, biasanya Godfather betah berhari - hari di pulau Bali..?"
"Gak enak jalan - jalan sama istri, gak bisa bebas. Apalagi hamil muda, ribet Jessy. Manjanya minta ampun. Aku mau minta pijat sama kamu saja sampai gak bisa."
"Hehehehe, bisa saja Godfather.
Ya gitulah Tuan kalau punya istri. Saya juga akan begitu bila punya suami. Apalagi hamil, tambah manja."
"Terlalu muda aku ini menikah. Terlalu dini. Sebenarnya usia 25 baru mempunyai istri."
"Enak nikah muda Tuan, kalau punya anak, jika anaknya sudah pada besar, Tuan masih muda, tidak terlalu tua. Kalau anak pertama Tuan umur 20 tahun, Tuan berumur 40 tahun.
Bisa menikmati melihat anak - anak dewasa."
"Iya sih, benar juga."
"Kak... Aku beli kaos Bali, buat kenang - kenangan," ujar Maya sambil berjalan mendekat,
"Kakak aku belikan dua."
"Iya, makasih ya..."
"Selamat siang Nona Jessi," sapa orang agen tiket,
"Ini tiket pesanan Nona."
"Terimakasih ya Mas, uangnya nanti aku mampir ke tempat mu," sahut Naga Timur.
"Baiklah Nona Jessi, saya permisi dulu."
"Tuan, ini tiketnya. Berangkat jam 7 malam."
"Terimakasih Jessi."
"Kita mau pulang ke Surabaya malam ini," tanya Maya.
"Iya, semalam Mama telpon, Katanya Hanan kesurupan di pesantren," kata Panji asal jawab.
"Kalau begitu, kita kembali ke hotel saja, berkemas. Ini sudah jam 5 sore," kata Maya.
"Baiklah," kata Panji kemudian berdiri. Lalu berjalan menelusuri trotoar.
*****
Setelah terbang selama kurang lebih satu jam, pesawat lending di Bandara Juanda Surabaya.
Dengan mengendarai taxi, Panji langsung menuju ke yayasan kasih ibu.
Setelah turun dari taxi,
"Assalamualaikum Kang..."
"Waalaikumsalam Gus," jawab pak satpam.
"Sudah selesai ya musholla nya," ujar Panji.
"Sudah Gus, dalam waktu 2 bulan Alhamdulillah selesai. Di kebut kerjanya lembur terus Gus."
"Kang Ilham... Sini duduk di teras sama aku," ajak Panji kemudian berjalan menuju teras yayasan.
"Iya Gus, ada apa, bikin deg + deg kan saja," sahut kang Ilham.
"Maya... Bikinkan kopi dua ya," kata Panji.
"Iya kak."
"Kang Ilham... Sudah berapa lama kerja jadi satpam di yayasan ini..?"
"Sudah setahun Gus."
"Ada berapa satpam yang jaga..?"
"Ada 4 orang Gus. Pagi jam 7 sampai jam 3 sore. Lalu jam 3 sore sampai jam 10 malam. Jam 10 malam sampai jam 7 pagi. Yang satu orang untuk rolling libur
Gus."
"Setiap bulan di bayar berapa sama yayasan..?"
"Perbulan 30 ribu Gus."
"Apa kalian sudah pada keluarga..?"
__ADS_1
"Sudah Gus. Saya sudah punya anak dua. Yang lainnya juga sudah pada punya anak."
"Apa anak anak kalian sekolah di biayai oleh yayasan ini," tanya Panji.
"Iya Gus, semua anak - anak para pekerja disini di biayai oleh yayasan. Kata bu Nyai Maya... Di biayai sekolah hingga sampai sarjana."
"Rumah para satpam apa jauh kang..?"
"Tidak Gus. Kami semua asli penduduk desa ini."
"Kalau begitu... Kang Ilham panggil semua satpam suruh kesini sekarang juga. Aku mau kasih hadiah."
"Baiklah Gus," jawab kang Ilham kemudian bergegas pergi.
***
"Loh, mana kang Ilham," kata Maya sambil menaruh dua cangkir kopi di meja.
"Aku suruh panggil para satpam. Kamu buatkan kopi 3 cangkir lagi ya?"
"Iya Kak. Sayang dulu kalau begitu."
"Kamu itu di luar rumah masih saja nyosor," sahut Panji,
"Tuh, di lihat orang."
"Hehehe."
"Assalamualaikum," sapa beberapa satpam
"Waalaikumsalam," jawab Panji, "Duduk di lantai saja ya, biar enak."
"Iya Gus."
"Apa kalian senang kerja jadi satpam di yayasan..?"
"Alhamdulillah senang sekali Gus. Karena, kehidupan keluarga kami terjamin. Anak - anak sekolahnya juga di biayai oleh yayasan hingga sarjana. Jadi, kami gak bingung untuk mencari biaya sekolah untuk anak - anak. Kesehatan juga di jamin oleh yayasan."
"Loh, kok pada ngumpul disini, tumben," kata Maya kemudian meletakkan talam,
"Ini kopinya, silahkan di minum."
"Maya ikut nimbrung ya Kak..?"
"Iya, gak apa - apa, tetapi ambilkan cek hadiah kado pernikahan."
"Baiklah Kak," jawab Maya kemudian bergegas masuk kamar.
*****
"Ini Kak," kata Maya kemudian duduk di samping suaminya.
Setelah mengambil 4 cek senilai 10 jutaan, sambil menyodorkan tangan, Panji berkata,
"Ini ada cek 10 jutaan. Untuk kalian berempat. Ambillah, besok kalian cairkan di bank Asia."
"Alhamdulillah... Terimakasih Gus," ujar keempat pekerja.
"Pakailah beli motor ya, buat jalan jalan sama anak istri. Sisanya terserah kalian."
"Iya Gus, terimakasih."
"Kang Ilham, mau buat apa uangnya," tanya Maya tersenyum.
"Buat beli motor bu Nyai sama renovasi dapur. Saya tidak punya motor."
"Jangan lupa, istri dan anaknya di ajak makan yang enak di depot ya? Hehehehe."
"Siap Bu Nyai."
"Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat dulu sama Bu Nyai," kata Panji,
"Kalau kalian mau ngobrol - ngobrol dulu ya, silahkan."
"Baiklah, saya ucapkan terimakasih banyak. Semoga kebaikan Gus dan Bu Nyai di balas dengan kebahagian yang tinggi sama Allah."
"Aamin..."
"Assalamualaikum Gus."
*****
Setelah para satpam pulang, Panji mandi dan bersuci,
"Maya... Ayoo solat Isak dulu, setelah itu tidur."
"Iya Kak," jawab Maya,
"Aduuuh..! Ganteng sekali kepalanya di ikat sorban. Kayak kyai saja!"
"Hehehehe, ini mencoba sorban baru hadiah kado pernikahan kemarin. Biar mirip kayak Syeh Abdul Jalil guru ku."
Selesai solat... Panji berkata,
"Maya, aku mau pergi sebentar ya, kamu istirahat tidur."
"Baiklah Kak, hati - hati."
Setelah mengantongi cek hadiah pemberian Tuan Cahyadi, Panji berjalan ke kebun belakang rumah. Setelah membaca mantra ajian ilmu lipat bumi, sekali jangka Panji sudah berada di makam Mbah Wali Kukun.
"Assalamualaikum," sapa Panji
"Waalaikumsalam. Loh Kak Panji," ujar Hanan kemudian salim lalu sungkem mencium tangan Panji kakaknya.
Sambil duduk Panji berkata,
"Katanya Mama kamu sakit gangguan jiwa..?"
"Hahahaha..!
Mama itu dapat kabar dari mana..?
Wong saya sehat gini kok di katakan sakit gangguan jiwa."
"Mengapa kamu gak pakai sarung gak pakai baju, kok hanya pakai celana pendek saja di pesantren..?"
"Mbah Wali Kukun menyuruh ku tirakak telanjang ( gak pakai pakaian) hanya mengenakan celana pendek saja dalam beberapa tahun ke depan."
"Ya sudah kalau gitu," ujar Panji kemudian menyulut rokok.
"Kakak tumben pakai sorban di ikat di kepala, biasanya pakai topi. Sarungan lagi dan pakai baju takwa. Kaya Pak Dhe Danwari saja..?"
Ya... Sekali - kali pakai sorban biar kayak kyai Hahahaha.
Ini aku beri hadiah cincin Selo Karang. Jangan pernah di lepas dan jangan sampai di kasih orang."
"Iya Kak," jawab Hanan sambil menerima cincin Selo Karang berwarna biru dongker.
"Untuk apa Kak cincin ini..?"
"Jangan banyak tanya, pakai saja. Lama - lama kamu juga tau sendiri," jawab Panji,
"Cincin itu sangat penting dan sangat berguna untuk perjalanan spiritual mu."
"Iya, iya," sahut Hanan.
"Ini ada cek, 250 Milyar untuk mu. Sebagian uang itu bisa kamu gunakan untuk membangun rumah di tanah warisan Papa.
Besok kamu bisa cairkan cek itu di Bank mana saja. Tetapi kalau bisa di bank Asia."
"Beneran ini cek 250 milyar..?
Kakak gak bercanda kan..?"
"Kamu di bilangin 250 Milyar kok gak percaya, coba kamu baca angkanya di cek itu," sahut Panji.
Setelah membaca jumlah nominalnya... Hanan sangat kaget sekali.
"250 Milyar ini banyak sekali loh Kak, di buat makan 7 turunan gak bakal habis," kata Hanan.
"Iya gak habis kalau makan nasi sambel tahu tempe," kata Panji,
"Besok mobil BMW mu akan aku suruh ngirim ke sini, tetapi plat nya L. Atas nama ku."
__ADS_1
"Kamu punya banyak uang dari mana Kak..? Gak kerja banyak uangnya..!"
"Biasa... Rejeki anak soleh. Hahahaha."
"Kata Mbah Wali Kukun... Aku gak boleh tinggal di pesantren ini Kak. Katanya saya di suruh tinggal di wilayah kabupaten Sidoarjo atau Surabaya."
"Ya sudah, tinggal saja di kabupaten Sidoarjo saja. Beli tanah di sana dan bangun pondok pesantren," kata Panji.
"Hahahahaha..!
Bangun pesantren, enteng kali kamu kalau ngomong. Aku baca kitab kuning saja belum bisa, kok mau buka pesantren."
"Terserah kamu.
Sudah jam 11 malam, Kakak mau ke Kabupaten Banyuwangi dulu. Salim dulu."
"Naik apa malam malam gini ke kabupaten Banyuwangi," sahut Hanan kemudian salim dan cium tangan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Kak..! Kak, jalannya sebelah sini," teriak Hanan,
"Dulu lewat situ, sekarang lewat situ lagi. Padahal itu jalan ke sawah loh.
Punya ilmu apa Kak Panji itu..?
Besok aku pagar tembok keliling saja area makam ini!"
Sekali jangkah... Panji sudah berada di permukaan air laut Blambangan Banyuwangi ujung timur pulau jawa.
Setelah menerawang keberadaan kyai Wasik di dasar laut, Panji berjalan menuju dasar laut. Namun Panji menghentikan langkahnya ketika melihat kyai Wasik sudah pindah duduk di atas permukaan air laut.
Setelah berada di dekat kyai Wasik, Panji uluk salam.
"Assalamualaikum kyai..."
"Waalaikumsalam Gus," jawab kyai Wasik,
"Duduklah..."
"Baiklah kyai," ujar Panji kemudian salim dan sungkem cium tangan.
"Akhirnya kamu mencari ku," kata kyai Wasik.
"Iya kyai, semua ini karena hadiah pemberian kyai. Kyai... Sepertinya saya mengenal kekuatan dari sorban dan tasbih pemberian kyai. Setelah saya coba untuk menyingkap rahasia dua benda ini, ternyata saya tidak mampu untuk menyingkap rahasianya.
Kalau boleh tau, apa rahasia di balik kekuatan benda pusaka ini..?"
"Sorban itu bernama Sorban Kumala. Dan tasbih itu bernama Setigi Laut. Kedua benda itu milik Syeh Abu Satin Cirebon bergelar kyai Sundul Langit.
Kedua benda itu, di miliki oleh Syeh Abu Satin, setelah Syeh Abu Satin melakukan Suluk Agung Kidung Pamuji selama 40 hari, di dasar Laut ujung kulon pulau jawa.
20 tahun yang lalu, sehari sebelum Syeh Abu Satin wafat, beliau memberikan kedua benda pusaka itu kepada Syeh Abdul Jalil guru mu.
Sebulan yang lalu... Aku mendengar Syeh Abdul Jalil sakit keras. Dan malam itu juga aku pergi menjenguk guru mu. Ketika aku hendak pulang, guru mu memberikan kedua benda pusaka ini kepada ku.
Guru mu berpesan untuk memberikan kepada murid terakhir nya, yaitu diri mu Gus.
Karena kamu lagi menjalani lintasan yang sulit, dan aku sangat sibuk sekali, maka aku titipkan kedua benda itu pada ratu jin penguasa laut timur ini. Karena, aku tau kamu akan berhubungan dengan Ratu Dewi Sambi."
"Kyai...
Mengapa aku harus mengalami kecelakaan yang fatal, hingga membuatku hilang ingatan," tanya Panji.
"Itu karena dosa - dosa mu Gus."
"Kyai... Untuk apa Syeh Abdul Jalil guruku memberikan kedua benda pusaka ini kepada ku..?"
"20 tahun yang akan datang... Kamu akan mempunyai tugas untuk mengayomi wilayah jrawa Timur, khususnya wilayah kamu tinggal," jawab kyai Wasik.
"Kalau 20 tahun yang akan datang..? Mengapa kedua pusaka ini di berikan kepada ku sekarang kyai..?"
"Karena... Dengan kedua benda pusaka itu, kamu akan berproses menuju kesempurnaan ilmu mu hingga 20 tahun yang akan datang.
Kedua benda pusaka itu akan membantu mu menuju drajat yang tinggi dan luhur."
"Terimakasih kyai atas petunjuknya.
Kalau boleh tau, apa hubungan kyai dengan guru saya..?"
"Aku dan guru mu hanyalah sahabat baik."
"Apakah saya boleh berguru kepada kyai..? Menjadi murid kyai..?"
"Aku tidak di gariskan untuk menjadi guru mu Gus. Tetapi, akan aku akui kamu sebagai anak angkat ku.
Guru mu selanjutnya adalah Mbah Wali Rekso. Beliau hidup di alam Ruhaniah. Makamnya ada di kabupaten Sidoarjo.
Dalam beberapa tahun yang akan datang, kamu akan bertemu dengan Mbah Wali Rekso.
Tetapi, sebelum kamu bertemu, kamu akan mempunyai beberapa guru wali lintasan."
"Baiklah kyai, Terimakasih banyak atas petunjuknya. Saya mau pamit dulu."
"Sama - sama Gus."
Setelah salim dan cium tangan, Panji uluk salam
"Assalamualaikum kyai..."
"Waalaikumsalam Gus..."
*****
Setelah menyulut rokok marlboro, Panji berjalan pelann- pelan di permukaan air laut menuju arah utara.
Sambil berjalan Panji memikirkan setiap kalimat wejangan kyai Wasik. Panji juga memikirkan wejangan - wejangan yang pernah di berikan pada Syeh Abdul jalil gurunya.
"Assalamualaikum Gus...
Rahayu," sapa Ratu Dewi Sambi.
"Waalaikumsalam Nyai...
Dari mana kamu..?"
"Dari istana."
"Kok tau aku lewat sini..?"
"Paman Tirto yang memberi tahu ku. Katanya kamu sedang menemui kyai Wasik. Makanya aku tunggu kamu pulang kembali ke Surabaya."
"Maaf Nyai, aku tidak bisa mampir ke istana mu malam ini."
"Iya Gus, tidak apa - apa. Kalau begitu... Aku antar kamu pulang ke rumah istri mu ya?"
"Baiklah kalau kamu tidak keberatan," jawab Panji agar tidak menyakiti perasaan Dewi Sambi.
Setelah naik kereta kencana... Panji dan Dewi Sambi melesat ke arah laut utara.
Tak lama kemudian, kereta kencana turun di perkebunan belakang rumah.
"Terimakasih Nyai," kata Panji sambil turun dari kereta kencana.
"Sama - sama Gus.
Gus... Bolehkah aku memeluk mu..?"
"Untuk malam ini tidak boleh Nyai, karena aku sedang mengenakan Sorban Kumala pemberian guruku. Aku harus menghormati benda pusaka ini."
"Baiklah Gus, aku mengerti.
Kalau begitu aku pamit dulu.
Assalamualaikum.
Rahayu..."
"Waalaikumsalam Nyai.
Rahayu kembali."
__ADS_1
******
Setelah berada di dalam kamar, Panji melihat Maya istrinya tertidur pulas. Panji pun langsung merebahkan badan di samping Maya.