SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
WEJANGAN NYAI SA'ADAH DAN KEADAAN KELUARGA IRMALA


__ADS_3

"Baiklah Nek, Panji akan sowan kepada Syeh Hamdan di kabupaten Pandeglang," ujar Panji,


"Nek, mengapa banyak wali - wali yang berkelakuan aneh..? Seperti Syeh Hamdan yang menjadi orang gila dan seperti Mbah wali Hasan Salak yang menjadi pengemis?"


"Tidak semua wali itu berkelakuan aneh Gus," jawab Nyai Sa'adah,


"Ada beberapa wali yang mempunyai tugas khusus yang berat, hingga wali itu menutupi identitasnya, agar tidak di ketahui banyak orang. Semua itu di lakukan supaya wali itu berhasil dalam menjalankan tugasnya.


Ada wali itu yang menampakkan kewaliannya di muka umum, agar masyarakat tahu kalau dirinya itu seorang wali. Itu di lakukan, agar masyarakat mau datang kepadanya untuk mencari Ridho Allah lewat sang wali itu, dan itu memamg tugasnya Gus. Ada lagi, wali yang mendidik murid - muridnya menjadi seorang wali."


"Itu wali apa Nek," tanya Panji.


"Itu adalah Wali Mursid Gus," jawab Nyai Sa'adah,


"Wali Mursid itu mempunyai organisasi bernama torekot, atau lebih di kenal dengan guru torekot."


"Jadi... Mursid itu guru torekot ya Nek," tanya Panji.


"Iya Gus, benar sekali. Nama santri atau jama'ah torekot itu adalah salik. Kalau anak yang ngaji di pesantren, itu namanya santri," jawab Nyai Sa'adah.


"Salik itu apa Nek artinya," tanya Panji.


"Salik adalah orang yang menjalani disiplin spiritual untuk membersihkan dan mensucikan jiwa," kata Nyai Sa'adah,


"Juga memurnikan ruhania dan jasmanianya."


"Lalu... Rujuannya apa Nek," tanya Panji.


"Tujuannya untuk bisa menjadi hamba - hamba terpilih atau hamba kekasih-Nya," jawab Nyai Sa'adah,


"Bukan untuk menjadi umat, tetapi untuk menjadi hamba."


"Berarti ummat dan hamba itu berbeda ya Nek," ujar Panji.


"Iya Gus, berbeda," jawab Nyai Sa'adah,


"Ummat itu sifatnya umum, baik dia orang yang durjana atau yang soleh soleha. Baik dia yang ahli ibadah atau ahli maksiat, semua itu di maknai atau di sebut Ummat.


Umat itu mengenal Allah hanya dari ucapan ulama atau dari keterangan kitab. Kata orang jawa bilang... "JARENE"


katanya kitab ini katanya kitab itu, katanya kyai ini katanya kyai itu.


Kalau Hamba... Dia betul - betul mengenal Allah dengan keseluruhan. Seorang Hamba itu mengenal Allah baik secara lahir maupun batin. Seorang Hamba itu mengerti apa kesenangan Allah dan apa yang tidak di sukai Allah.


Hamba juga selalu patuh kepada Allah, dia rela meninggalkan apa saja demi Tuan-Nya yaitu Allah Ajjah wa jallah. Seorang Hamba berani meninggalkan kesenangan duniawi bahkan keluarganya demi Allah."


"Apakah seorang Hamba itu bisa melihat wujud Gusti Allah, Nek? Melihat dengan kedua mata Dohirnya," ujar Panji.


"Bisa Gus," kata Nyai Sa'adah,


"Seorang Hamba... Dia bisa melihat Allah dengan kedua mata dohirnya, juga mata batinnya."


"Bagaimana caranya agar bisa melihat wujud rupa Gusti Allah, Nek," tanya Panji berharap.


"Caranya... Gus Panji harus menanamkan rasa cinta yang dalam kepada Allah Dzat yang menguasai setiap jiwa.


Gus Panji harus taat dan patuh terhadap semua perintah-Nya dan menjahui semua larangan-Nya. Kalau Gus Panji menurut yang Nenek katakan... Lmbat laun Allah akan menampakkan wujud rupa-Nya di hadapan Gus Panji," jawab Nyai Sa'adah.


"Lalu... Bagaimana caranya mencintai Gusti Allah itu Nek," ujar Panji.


"Caranya... Gus Panji harus berbuat kebaikan kepada mahluk lainnya, berbuat kebaikan kepada sesama. Gus Panji harus istiqomah dalam beribadah," kata Nyai Sa'adah,


"Dan Gus Panji harus mempunyai seorang guru wali.


Karena, hanya guru wali-lah yang dapat menjadikan seseorang itu menjadi wali Allah. Gus Panji harus belajar menjadi orang yang sabar, jujur, welas asih, kona'ah dan berserah diri."


"Baiklah Nek, Panji akan menuruti semua nasehat Nenek, agar Panji bisa melihat Tuhan yang aku sembah," kata Panji penuh semangat,


"Nek, di manakah aku harus menemukan guru mursid itu? Aku ingin belajar kepadanya."


"Pergilah ke arah sana," jawab Nyai Sa'adah sambil menunjuk ke arah utara.


"Sana mana Nek? Kan banyak nama daerah di utara sana," ujar Panji.


"Pokoknya Gus pergi ke utara, Gus akan bertemu," jawab Nyai Sa'adah.


"Baiklah Nek," jawab Panji.


Adzan Magrib terdengar berkumandang, Panji pun melangkah untuk bersuci dan menunaikan solat Magrib.


Ketika Panji sedang melaksanakan solat Magrib... Tiba - tiba ada cahaya putih kebiru - biruan masuk rumah Nyai Sa'adah, lalu cahaya itu berubah menjadi wujud Mbah Wali Suro kakek leluhur Panji,


Assalamualaikum Nyai."


"Waalaikumsalam Syeh, salam hormat salam sejahtera dan bahagia," jawab Nyai Sa'adah membungkukkan badan.


"Salam sejahtera kembali Nyai," ujar Mbah Wali Suro,


"Aku ucapkan terimakasih telah membimbing dan mengawasi Panji cicitku."


"Sudah kewajiban saya Syeh, untuk hormat dan mengabdi kepada Syeh dan semua anak keturunan Syeh," jawab Nyai Sa'adah membungkukkan badan,


"Semua yang kami berikan pada Gus Panji... Tidaklah sebanding dengan apa yang Syeh berikan kepada kami sekeluarga. Apabila kurang berkenan... Atas nama keluarga besar Kyai Jabat dan dan anak keturunan kami, saya minta maaf yang sebesar - besarnya."


"Baiklah Nyai, aku permisi mohon pamit dulu, aku meridhoi mu juga semua anak keturunan mu," kata Mbah Wali Suro,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Syeh," jawab Nyai Sa'adah sambil membungkukkan badan.


***


Selesai solat Magrib, Panji pamit untuk kembali ke losmen. Setelah naik angkutan umum, tak lama kemudian sampailah di depan losmen, setelah turun dari angkot Panji pun langsung bergegas menuju kamarnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Panji sambi membuka pintu kamar.


"Waalaikumsalam," jawab Ruli yang duduk bersandar di kursi,


"Dari mana Mas?"


"Dari main," jawab Panji,


"Hemm... Kamu sudah lama di sini?"


"Barusan, habis Magrib," kata Ruli.


"Hehehe, kamu tumben pakai jilbab dan baju muslimah!! Biasanya juga pake rok mini sama kaos ketat," kata Panji tersenyum,


"Eh, tapi lebih cantik loh kalau kamu pakai jilbab."


"Jangan merayu Mas!! Dari kecil aku memang cantik.


Apa kamu baru sadar? Ini jilbab sama baju muslimah yang kamu belikan di kota Serang kemarin lusa. Kan katamu kita mau solat Tarawih!! Jadi, aku pakai baju ini," ujar Ruli.


"Aku mandi dulu, habis Isak kita solat ke masjid sebrang jalan," kata Panji kemudian bergegas masuk kamar mandi.


Adzan Isak terdengar berkumandang, setelah mengenakan sarung dan baju, Panji pun bergegas menuju masjid. Tak lama setelah selesai solat Isak dan solat Tarawih, Panji masih duduk di sof belakang hingga orang - orang meninggalkan masjid satu persatu. Tak lama kemudian terdengar suara anak - anak muda membaca Al - qur'an.


"Ada acara apa di masjid ini? Kok banyak anak pemuda yang bacan Al- qur'an," gumam Panji,


"Enak sekali baca Al- qur'an-nya, aku jadi kepinggin bisa bacaan Al- qur'an."


"Mas Panji, ayoo balik," ajak Ruli yang berdiri di pintu masjid.


"Baiklah," kata Panji kemudian berdiri, kemudian melangkah, lalu menyebrang jalan raya.


"Selamat Malam Pak Panji...


Selamat Malam Non," sapa pak satpam.


"Selamat Malam juga Pak," jawab Ruli dan Panji.


"Oh iya, Pak Panji di tunggu tamunya di rumah makan, di meja 10," ujar pak satpam.


"Iya Pak, terimakasih atas pemberitahuan nya," kata Panji,


"Ruli, kamu ke kamar dulu ya, aku mau menemui tamu."


"Siap Bos," kata Ruli kemudian ke kamar.


"Assalamualaikum," ujar Panji.


"Waalaikumsalam kang Panji," jawab sang tamu.


"Loh, kamu Irmala!!! Kok tau aku tinggal disini?!!" tanya Panji heran.


"Abah ku yang kasih tau, kalau kamu tinggal di losmen ini," jawab Irmala,


"Makanya aku kesini tanpa sepengetahuan Abah ku."


"Kebetulan aku belum makan Malam. Irmala kepingin makan apa?"


"Terimakasih kang Panji, kamu makan sendiri ajah deh," ujar Irmala.


"Ayoo jangan malu - malu," bujuk Panji.


"Bukannya malu kang, irmala gak ada uang buat bayar," kata Irmala malu.


"Aku yang traktir," kata Panji kemudian memanggil pelayan.


Setelah memesan beberapa menu... Panji berkata,


"Irmala, kelihatannya kamu sedih banget!! Coba kamu cerita ke aku, barangkali aku bisa membantu meringankan beban pikiran mu. Jangan malu - malu, kita kan teman satu pesantren."


"Baiklah kang," kata Irmala,


"Aku kesini menemui mu, hanya ingin minta doa untuk kesembuhan Umi ku."


"Umi mu sakit apa," tanya Panji.


"Sakit komplikasi kang. Sejak Abah ku bangkrut... Kondisi Umi ku langsung ngedrop hingga sekarang. Rumah ku di sita Bank, mobil Abah ku juga di sita. Kini, aku dan kedua orang tuaku tinggal di rumah Nenek ku di kampung."


"Permisi Pak Panji, ini pesanannya," ujar pelayan kemudian meletakkan beberapa piring di meja makan.


"Terimakasih Mas," ujar Panji,


"Ayoo Irmala kita makan sambil ngobrol."


"Baiklah kang, sebelumnya, aku ucapkan trimakasih ya, telah di traktir," kata Irmala.


Sambil makan... Dalam hati Irmala berkata,


"Sudah lama aku gak pernah makan seperti ini.


Makanan di meja ini... Dulu sering aku makan ketika di rumah, setelah Abah ku bangkrut dan jatuh miskin, aku tidak pernah lagi makan seperti ini. Makanan ini lumayan mahal, ternyata kang Panji selera makannya seperti orang kalangan atas, gaya hidupnya seperti orang - orang kaya. Dari mana dia memiliki banyak uang? Padahal di pesantren, kang Panji adalah abdinya sang kyai, bisa di bilang pembantu? Setiap hari nyapu ngepel, cuci piring dan membersihkan halaman pondok. Bisa di bilang kelompok santri miskin. Kang Panji sering di buly oleh santri putri, dan akupun dulu sering membuly nya.


Terakhir yang aku dengar... Kang panji di usir sang kyai.


Kang Panji juga tinggal di losmen yang notabene lumayan mahal sewa kamarnya."


"Mas Panji, aku mau pamit pulang sebentar ya," ujar Ruli,


"Nanti kalau waktu saur aku kembali ke losmen, kalau gak ketiduran loh hehehe."


"Iya Ruli, gak apa - apa, besok ke sini lagi juga gak apa - apa," kata Panji.


"Ya udah Mas, aku balik dulu, salim dulu mas sama cium tangan," ujar Ruli,

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Panji.


"Sejak kapan Abah mu bangkrut," tanya Panji.


"Sudah seminggu yang lalu kang Panji," jawab Irmala,


"Aku pun berhenti mondok sudah seminggu, karena tidak ada uang buat membiayai ku sekolah dan mondok."


"Sekarang, Abah mu kerja apa," tanya Panji.


"Abah nganggur kang, gak ada kerjaan. Minta bantuan teman - teman nya juga gak ada yang bisa membantu," kata Irmala,


"Aku jadi kasihan sama Abah dan Umi ku, mereka seperti malu dan bingung. Uang tidak ada, barang - barang ke sita, gak ada lagi yang di jual. Yang lebih malu lagi... Aku dan kedua orang tuaku, makan di kasih sama Nenek."


"Sudahlah, jangan menanggis," kata Panji pelan,


"Aku akan membantu kesulitan mu juga kedua orang tua mu. Tetapi ada syaratnya."


"Apa itu kang syaratnya," tanya Irmala.


"Syaratnya... Kamu harus kembali ke pesantren dan melanjutkan sekolah," kata Panji,


"Setelah 3 tahun,?kamu boleh berhenti. Kan kamu sekarang kelas 1 SMA, tiga tahun lagi kamu lulus. Setelah lulus, terserah kamu mau berhenti mondok atau tidak."


"Lalu siapa yang membiayai ku sekolah dan mesantren," tanya Irmala.


"Aku yang membiayai semuanya," jawab Panji,


"Kalau kamu mau... Aku bantu kesulitan keluarga mu.


Kalau tidak, aku gak akan membantu mu."


"Baiklah, baiklah, demi kebahagian kedua orang tuaku, aku bersedia," jawab Irmala.


***


Setelah membayar semua makanan... Panji mengambil amplop pemberian Mbah Wali Hasan di kamar, lalu


mendatangi resepsionis losmen untuk menyewa mobil, karena di malam hari tidak ada angkutan umum.


Setelah mobil berada di halaman losmen, Panji berkata,


"Irmala, ayo kerumah Nenek mu, aku ingin bertemu dengan Abah mu."


"Baiklah kang," ujar Irmala.


Mobil melaju di kegelapan malam menuju ke arah kota Serang. Tak lama keudian mobil memasuki jalan desa yang tak beraspal.


Berhenti di depan rumah itu Pak," ujar Irmala kepada sopir.


Setelah mobil terparkir, Panji dan Irmala masuk di rumah yang sangat sederhana.


"Assalamualaikum," ujar Panji dan Irmala.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Haji.


"Eeh, Nak Panji, silahkan masuk," ujar Pak Haji Ayahnya Irmala,


"Kok bisa bersama Irmala?"


"Iya Pak Haji, kebetulan saja kami gak sengaja bertemu di jalan, setelah ngobrol, saya ingin menjenguk Bu Haji," jawab Panji,


"Katanya Umi nya Irmala sakit?"


"Iya Nak Panji, Umi nya Irmala sedang sakit," kata Pak Haji dengan raut wajah yang penuh kesedihan,


"Sakit kepikiran Nak Panji. Jadi, kondisinya ngedrop."


"Pak Haji... Saya kesini ingin membawah Umi nya Irmala ke rumah sakit, untuk berobat," ujar Panji,


"Masala biaya, Panji yang tanggung semuanya. Mari Pak Haji, kita bawah Umi ke rumah sakit, saya tadi kebetulan sewa mobil."


Mendengar kata - kata Panji... Pak Haji heran juga terkejut, lalu menjawab,


"Baiklah Nak Panji."


Tak lama kemudian, Panji beserta keluarga Irmala berobat ke rumah sakit yang tak jauh letaknya. Setelah tim dokter memeriksa kondisi Umi nya Irmala dengan teliti... Dokter memutuskan Umi nya Irmala untuk rawat inap, karena kondisinya mengalami gangguan saraf tulang belakang akibat sering berfikir dan kurang tudur.


Irmala duduk di samping ranjang menjaga Umi nya yang tergolek dengan infus di lengannya, sementara Pak Haji dan Panji ngobrol di teras kamar rumah sakit.


"Nak Panji... Pak Haji mengucapkan beribu - ribu terimakasih, atas bantuannya, telah menanggung biaya pengobatan Umi nya Irmala," ujar Pak Haji.


"Sama - sama Pak Haji. saya juga berterimakasih kepada Pak Haji sekeluarga, karena, dengan kejadian ini, saya bisa mengerti apa arti sebuah keluarga dan apa arti sebuah cinta dan kasih sayang," kata Panji,


"Oh iya Pak haji... Pak haji jangan bersedih ya? Yang semangat dalam menjalani cobaan hidup, yang iklas.


Pak Haji... Ini ada hadiah dari Panji, untuk usaha. Saya harap, Pak Haji bangkit lagi dari keterpurukan."


Mendengar ucapan Panji... Pak Haji meneteskan air mata, lalu berkata,


"Nak Panji... Pak Haji sangat berterimakasih sekali, hanya Nak Panji lah orang yang datang membantu Pak Haji ketika tertimpa kesusahan, bangkrut jatuh miskin. Bagaimana Pak Haji harus membayar semua kebaikan Nak Panji?"


"Pak Haji... Sebenarnya uang ini adalah tabungan Pak Haji sendiri. Buah dari amal sedekah Pak Haji di masa lalu. Panji hanya sebagai pelantara saja, dan saat ini, Gusti Allah telah membalas semua amal sedekah Pak Haji lewat tangan Panji," ujar Panji,


"Saya permisi dulu ya Pak Haji, mau pamit pulang, saya akan pamit Irmala dulu."


"Irmala... Terimalah amplop ini untuk biaya rumah sakit dan biaya kamu selama di pesantren dan untuk biaya kamu sekolah," ujar Panji,


"Aku pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, terimakasih kang Panji," jawab Irmala yang tercengang melihat Panji sambil memegang amplop tebal.

__ADS_1


"Pak Haji, Assalamualaikum," ujar Panji.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Haji.


__ADS_2