
Malam itu... Aryo Jagad raja jin yang menemani Panji sangat kasihan melihat Panji yang berjalan dengan lemas dan melamun.
Dalam penerawangan nya... Aryo Jagad mengerti kalau Panji memikirkan Wilda gadis yang pernah di tolong nya.
Lalu... Diam - diam Aryo Jagad memasukkan energi kekuatan ke dalam tubuh Panji. Hingga... Tanpa di Sadari nya, malam itu Panji berjalan sangat cepat sekali tanpa merasakan lelah.
"Tuan Panji... Sebentar lagi kita akan memasuki kabupaten Tasikmalaya. Tuan mau lewat kota..? Apa mau lewat pesisir Pantai Batu Hiu," ujar Aryo Jagad.
"Aku ingin lewat pesisir Pantai saja Aryo Jagad," jawab Panji.
"Kalau begitu... Di depan ada jalan pertigaan, Tuan belok ke kanan. Itu jalan menuju pesisir pantai," ujar Aryo Jagad,
"Kalau Tuan ingin cepat sampai ke Pulau Bali... Tuan bisa memotong jalan lewat laut, Tuan berjalan di atas air laut. Nanti bisa tembus menuju Alas Purwo Banyuwangi atau Tuan bisa langsung ke Pulau Bali."
Mendengar perkataan Aryo Jagad... Panji diam sambil berfikir,
"Apakah manusia kayak aku bisa berjalan di atas air laut..? Itu suatu hal yang mustahil."
"Kalau tuan berkenan... Saya bisa membantu Tuan, agar Tuan bisa berjalan di atas air laut," ujar Aryo Jagad.
"Sebentar Aryo... Aku tanya dulu kepada Syeh Hamdani," kata Panji,
"Assalamualaikum Syeh."
"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Hamdani,
"Kamu harus lewat jalan darat Gus, belum saatnya kamu melakukan perjalanan di atas air laut.
Jika kamu memaksa... Kamu akan lebih lama sampai di pulau Bali, karena kamu akan mengalami banyak masalah di alam lain.
Jika kamu sudah berada di level 3, kamu boleh lewat mana saja.
Ingatlah..! Level 2 adalah jalan darat, dan jalan darat adalah penentuan untuk melanjutkan ke level yang lebih tinggi."
"Baiklah Syeh... Terimakasih atas petunjuk dan sarannya," ucap Panji,
"Assalamualaikum."
"Aryo Jagad... Aku tidak boleh lewat laut, harus lewat darat," ujar Aryo Jagad.
"Tuan... Kita sudah berada di pesisir pantai, kemungkinan... Jam 3 Pagi kita akan sampai di pesisir pantai Batu Hiu, kemudian kita akan melewati pesisir pantai pangandaran," kata Aryo Jagad.
"Baiklah Aryo Jagad," Ujar Panji,
"Sekarang kamu pulang lah, kembalilah ke Alas Blandong."
"Baiklah Tuan, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji sambil berjalan.
Setelah berada di pesisir pantai Batu Hiu... Malam itu Panji istirahat di bawah pohon yang tak jauh dari pantai.
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Panji menatap deburan ombak air laut yang di terangi cahaya bulan yang mendekati purnama.
"Apa yang di maksud Syeh Hamdani dengan alam lain," ujar Panji lirih,
"Apakah di laut itu ada alam lain..? Coba aku lihat," kemudian Panji mengusap kedua matanya dengan telapak tangannya.
Setelah mengusap kedua matanya... Tiba - tiba Panji melihat banyak bangsa jin yang lalu lalang di atas air laut.
"Jin apa itu..? Pakaian nya seperti orang kerajaan saja, lebih baik aku dekati dan bertanya," ucap Panji kemudian berdiri lalu berjalan ke arah air laut.
Begitu Panji sudah berada di tepi laut... Tiba - tiba ombak besar menghantam tubuh Panji. Panji pun terlempar ke pasir di bawah pohon yang semula dia duduk.
Sementara...
Di tengah laut, Dewi Anjani duduk di atas kereta kencana dalam perjalanan menuju laut Barat,
"Paman Bayu..!
Cahaya apa itu, di tepi pantai..? Cahayanya sangat terang sekali."
Dengan kesaktian matanya sebagai seorang kusir... Ki Bayu berkata,
"Cahaya itu keluar dari tubuh seorang pemuda bangsa manusia Nyai. Pemuda itu sedang istirahat di tepi pantai Batu Hiu.
Sebenarnya... Cahaya seperti itu hanya di miliki oleh para kyai sepuh Tanah Jawa. Jika dia seorang pemuda... Pasti dia bukan pemuda sembarangan."
"Murid siapa dia..? Aku jadi penasaran," ujar Dewi Anjani, "Paman... Arahkan kereta kencang ke arah pesisir Laut Batu Hiu, aku ingin tau siapa pemuda dari bangsa manusia itu."
"Sendikoh dawuh Nyai Ratu."
Sementara Panji duduk di tepi pantai dengan badan basah kuyub.
Dengan badan kedinginan dan hati setengah kesal... Panji melemparkan pasir berkerikil yang di genggam nya ke arah laut.
Begitu pasir berkerikil jatuh di tepi pantai... Suara ledakan terdengar sangat keras, ombak semakin besar dan banyak bangsa jin berhamburan.
Kereta kencana Milik Nyai Dewi Ratu penguasa Laut Barat hampir terguling.
Melihat kejadian itu... Panji sangat heran, lalu berkata lirih,
"Apakah ledakan dan ombak besar itu akibat lemparan pasir yang barusan aku lempar...?
Coba aku lempar lagi, kalau ada ledakan dan ombak air laut besar berarti benar."
Setelah melempar pasir untuk kedua kalinya... Suara ledakan terdengar sangat dahsyat, ombak laut pun membesar tak beraturan. Para bangsa jin bersiap siaga.
"Wah..! Benar ternyata dugaan ku, pasir yang ku lempar ke arah pantai menimbulkan suara kayak mercon hahaha, asik juga mainan ini," ujar Panji.
__ADS_1
Setelah melempar pasir beberapa kali... Tiba - tiba Dewi Anjani turun dari kereta kencana langsung melesat ke arah Panji sambil berteriak,
"Hentikan!"
Mendengar suara seorang perempuan... Panji berhenti bermain lempar pasir.
"Duh Gusti Allah... Sangat cantik sekali jin ini," kata Panji dalam hati.
Tiba - tiba ratusan prajurit dari bangsa jin mengepung Panji,
"Hai manusia..! Mengapa kamu membuat onar di wilayah kerajaan kami,,,, tanya Sijin panglima perang,
"Mengapa kamu menyerang kerajaan kami..! Apa yang kamu inginkan?"
Mendapatkan pertanyaan Sijin panglima perang... Oanji kebingungan menjawab, karena Panji tidak melakukan apa - apa kecuali melempar pasir ke arah laut.
Bagitu Panji bergerak mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sakunya... Panglima sijin langsung mundur dua langkah sambil ancang - ancang mengengam sebilah keris.
"Kalian semua bubar, ayo pergi," bentak Nyai Dewi Anjani.
"Sendikoh Dawuh Nyai Dewi," ujar Sijin panglima perang kemudian pergi.
Sekali perintah... Ratusan jin itu langsung pergi semua.
"Kalau gak pergi bisa - bisa aku di keroyok ratusan jin.
Siapakah wanita cantik ini," kata Panji dalam hati.
"Tuan... Siapakah nama Tuan," tanya Dewi Anjani.
"Panji, kamu siapa."
"Aku Dewi Anjani.
Sedang apa Tuan Panji berada di sini?"
"Aku sedang istirahat.
Dimana rumah mu," ujar Panji.
"Rumah ku di pesisir laut barat ujung kulon pulau jawa," kata Dewi Anjani,
"Kalau boleh tau... Siapa guru mu?"
"Aku tidak punya guru," ujar Panji,
"Kalau begitu... Aku mau melanjutkan perjalanan."
"Tunggu... Kalau Tuan Panji berada di Laut Barat... Silahkan singgah di tempat ku," kata Dewi Anjani.
"Baiklah Dewi, insa Allah kalau aku ke Banten, aku akan mampir," jawab Panji kemudian pergi meninggalkan Dewi Anjani.
Setelah berjalan agak lama... Panji istirahat tidur di bangku teras warung.
Siang yang terik di pesisir pantai Pangandaran... Suara gemuruh deburan ombak terdengar riuh. Kicauan burung terdengar bersahutan.
Jam 11 Siang pemilik warung melihat Panji yang masih tertidur lelap,
"Hemmm, tumben ada orang gila tidur di teras warung ku, kasihan, biarlah dia tidur, siapa tau dia membawa rejeki untuk ku, lebih baik aku kasih makan dan minum."
Setelah membuka warung... Pemilik warung merebus indomie dan membuat es teh.
Tak lama kemudian,
"Mas... Bangun, makan dulu."
Mendengar suara seseorang... Panji membuka kedua matanya, lalu duduk.
"Mas... Makan dulu, ini ada indomie telur sama es teh," ujar pemilik warung ke dua kalinya.
"Terimakasih Pak," jawab Panji kemudian menikmati makanan pemberian pemilik warung.
Setelah makan dan minum es teh, Panji menyulut rokok sambil melihat ombak air laut.
Tiba - tiba dari permukaan air laut... Panji melihat seorang perempuan berjalan mendekatinya.
"Bukankah itu Dewi Anjani," gumam Panji,
"Jin yang sangat cantik."
"Rahayu," ucap Dewi Anjani kepada Panji,
"Rahayu Gus."
"Namaku Panji, bukan Rahayu...
Ada apa Dewi kesini menemuiku?"
"Dalam bahasa jawa... Rahayu itu artinya uluk salam. Kalau bahasa arabnya Assalamualaikum," kata Dewi Anjani,
"Aku menemui mu hanya ingin mengenal mu lebih dekat. Kalau Gus berkenan... Aku akan menemani Gus beberapa saat, kalau Gus Panji tidak berkenan... Sekarang juga aku akan pergi."
"Baiklah, kalau ingin berteman dengan ku aku terima, mau jadi pacar ku juga aku terima," ucap Panji santai,
"Duduklah sini."
"Terimakasih Gus," ucap Dewi Anjani kemudian duduk di dekat Panji.
$Mengapa Dewi mau berteman dengan ku," tanya Panji.
__ADS_1
"Gak tau kenapa, yaa ingin saja, karena kamu manusia aneh," jawab Dewi Anjani.
"Dewi Anjani... Semalam itu kamu dari mana, kok tiba - tiba kamu muncul menolong ku," tanya Panji.
"Aku habis dari istana nya Nyai Roro Kidul di Kerajaan bawah laut Pantai Selatan," ujar Dewi Anjani,
"Ketika dalam perjalanan, aku melihat cahaya yang sangat terang, setelah ku dekati ternyata kamu Gus."
"Lalu... Siapakah para prajurit Jin itu, yang hendak menangkap ku," tanya Panji.
"Itu panglima Sijin dan pasukan kerajaan jin di laut pangandaran," jawab Dewi Anjani.
"Memangnya ada berapa kerajaan jin di laut jawa ini," tanya Panji.
"Di semenanjung pesisir laut selatan saja... Ada 7 kerajaan jin. Tetapi yang paling tersohor adalah kerajaan Nyai Roro Kidul," ujar Dewi Anjani,
"Laut selatan itu, dari laut pantai Pangandaran Sukabumi Jawa Barat hingga ke pantai Pancur Alas Purwo Banyuwangi Jawa Timur, itu ada 7 kerajaan jin."
"Apakah ada jin penguasa laut timur dan laut utara," tanya Panji.
"Ada Gus... Nyai Roro Kidul itu Ratu penguasa Laut selatan," ujar Dewi Anjani,
"Laut Timur di kuasai oleh Nyai Dewi Sambi, laut Utara di kuasai oleh Dewi Lanjari dan Laut Barat akulah penguasanya."
"Apakah kalian saling mengenal," tanya Panji.
"Iya Gus... Kami semua berteman baik," ujar Dewi Anjani,
"Itu demi kesetabilan di alam jin yang berada di semenanjung laut jawa."
"Kapan - kapan... Kalau ada waktu, ajaklah aku main jalan - jalan di istana nya Nyai Roro Kidul, dan istananya Dewi Sambi juga Dewi Lanjari," kata Panji,
"Aku ingin tau kerajaan jin di bawah laut jawa."
"Baiklah Gus... Dengan senang hati aku akan menemani kamu, tetapi... Kamu harus singgah dan main di istana ku terlebih dahulu," kata Dewi Anjani.
"Siap," ujar Panji,
"Oh iya... Adakah wali - wali pergi jalan - jalan di kerajaan jin bawah Laut pantai jawa ini?"
"Banyak Gus... Sejak jaman wali songo sudah ada wali yang keluar masuk di kerjaan jin bawah laut jawa ini, khususnya di kerajaan laut pantai selatan," jawab Dewi Anjani,
"Bahkan ada seorang wali yang meninggal dunia di wilayah kerajaan bawah Laut pantai selatan. Dan makamnya pun ada di alam jin di wilayah kerajaan laut selatan."
"Begitu ya," ujar Panji,
"Ternyata ada juga makam wali di wilayah kerajaan jin bawah laut pantai selatan.
Lalu... Siapakah yang menguburkan nya..? Siapa yang mengafaninya dan siapa yang solat mayit untuk sang wali tersebut?
Aneh!?"
Dewi... Kalau untuk jaman sekarang, adakah wali yang sering keluar masuk kerajaan jin bawah laut pantai selatan?"
"Ada Gus... Namanya Kyai Sahal dari Pamekasan Madura dan Syeh Abdul Jalil Banten. Kalau lainnya... Aku tidak tau," jawab, Dewi Anjani,
"Bahkan, dulu... Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi itu sering bertamu ke istana ku."
Waktu terus berlalu senja pun mulai uluk salam.
Pemilik warung dan para pengunjung pantai Pangandaran yang sedang istirahat menikmati sajian di warung pada tersenyum melihat Panji yang berbicara sendirian.
Melihat rokok Panji habis... Dewi Anjani berkata,
"Gus... Ini uang, belilah rokok dan minuman."
"Aku tidak boleh membeli apapun Dewi," ujar Panji,
"Aku hanya bisa makan minum dan merokok kalau aku di kasih atau menemukan sisa orang yang di buang. Karena aku lagi menjalani Tirakat Gendeng."
"Kalau begitu baiklah, ambillah ini," kata Dewi Anjani menyodorkan 3 bungkus rokok marlboro.
"Terimakasih Dewi.
Dewi... Aku mau melanjutkan perjalanan dulu, kalau kamu mau menemaniku... Ayo," ujar Panji kemudian berdiri lalu menyodorkan tangannya.
Melihat Panji menyodorkan tangannya...Dewi Anjani berdiri lalu mengandeng lengan Panji.
Senja itu... Panji dan Dewi Anjani bergandengan tangan menelusuri pantai Pangandaran menuju arah Timur.
"Ternyata kamu pintar juga merayu wanita," ujar Dewi Anjani,
"Baru kali ini aku mau mengandeng tangan bangsa manusia."
"Mungkin keahlian merayu ku turunan dari kakek ku, karena kakek - kakek ku memiliki istri lebih dari satu," kata Panji.
"Gus... Di pesisir pantai ini mulai sepi dan gelap, lebih baik Gus berjalan lewat jalan raya saja," ujar Dewi Anjani,
"Di depan itu ada jalan raya, kamu lewat situ saja."
"Baiklah Dewi... Terimakasih banyak telah mau menjadi teman ku, dan mau berbagi cerita," kata Panji,
"Sekarang... Kamu pulanglah."
"Baiklah Gus, kalau kamu butuh bantuan ku... Kamu sebut saja namaku," ujar Dewi Anjani,
"Rahayu."
"Rahayu ugi Dewi," jawab Panji kemudian berjalan menuju jalan beraspal.
__ADS_1
Malam itu... Panji berjalan menuju kabupaten Cilacap.