
Malam bertasbih dengan dengan kegelapan nya, angin semilir bertakbir dengan kelembutannya, dan bulan berdzikir dengan cahaya nya.
Malam berjalan merambat semakin pekat, semakin larut Panji menikmati perjalanannya, satu dua mobil melesat menyisakan suara deruan.
Sambil menikmati kepulan asap rokok marlboro... Panji melantunkan dzikir istiqfar dalam hati.
Setelah berjalan beberapa jam tanpa henti... Sampailah Panji di perbatasan kota Cilacap.
"Capek sekali rasanya, ada warung, kepinggin ngopi tetapi gak bisa beli," gumam Panji,
"Lebih baik aku istirahat tidur di emperan toko saja."
Di kedai sebuah warung pinggir jalan di perbatasan kota, seorang tua bernama Mbah Hadi duduk sendirian menikmati secangkir kopi dengan sebatang rokok jie sam sue.
Sambil melihat Panji yang duduk di teras tokok bersandar tembok... Mbah Hadi diam - diam berkata dalam hati,
"Ternyata pemuda itu bukan orang gila, dia sedang menjalani suluk lelaku Topo Gendeng.
Cahya aura yang keluar dari tubuhnya sangat terang dan dingin hawanya. Anak ini calon cikal bakal wali akhir jaman. Siapa Gurumu?"
Setelah menerawang dengan seksama... Mbah Hadi berkata lirih,
"Ternyata dia tidak mempunyai guru, dia pernah belajar di pesantren Meteor Garden Banten, tetapi dia di usir akibat salah faham, dan gurunya tidak mengakui kalau pemuda itu santrinya.
Lalu... Siapa yang menyuruhnya menjalani lelaku Topo Gendeng?
Bikin penasaran saja, coba aku telusuri sebentar."
Setelah menerawang agak lama... Mbah Hadi sangat terkejut lalu berkata,
"Subhanallah... Astaqfirullah...
Kenapa mataku kok buta!!
Mbak Yu..! Tolong buatkan secangkir kopi hitam, dan teh hangat.
Dan buatkan nasi campur, kasih ikan daging yang banyak ya!
Tolong buatkan kopinya dulu, lalu kasih ke pemuda yang duduk di teras toko itu."
"Iya pak Kyai," jawab Mbak Yu.
"Ternyata... Pemuda itu adalah keturunan ke 5 dari seorang wali besar di kabupaten Nganjuk Jawa Timur," ujar Mbah Wali Hadi,
"Dia juga di bawah pengawasan Syeh Hamdani Al Bantany, wali paku buminya Tanah Sunda.
Walau dia bukan muridnya... Tetapi Syeh Hamdani sangat segan dan menghormati pemuda itu.
Dia juga di lindungi oleh Kyai Jabat salah satu wali sepuh Banten.
__ADS_1
Bahkan dia mempunyai hubungan baik dengan Syeh Dirjo wali gila asal Jakarta.
Dia juga mempunyai khodam Aryo Jagad Raja jin Alas Blandong yang terkenal kejam.
Kalau Aryo JAGAD saja bisa di tundukkan... Berarti semua bangsa jin di Alas Blandong berada dalam kekuasaan pemuda ini.
Coba aku hubungi Syeh Hamdani,
Assalamualaikum Syeh."
"Waalaikumsalam Kyai Hadi," jawab, Syeh Hamdani,
"Bagaimana kabar kyai, lama sekali kita tidak ngopi bersama di alam nyata."
$Alhamdulillah Syeh... Kabar ku baik baik saja.
Insallah, kalau ada waktu senggang... Kita bisa ngopi bersama," ujar Mbah Wali Hadi,
"Beberapa tahun ini... Aku sangat sibuk mengurus pesantren.
Ini kebetulan aku sedang mampir di sebuah kedai warung kopi dan melihat pemuda gila, ternyata masih ada hubungannya dengan Syeh. Makanya aku menghubungi Syeh."
"Kyai... Dia bernama Ahmad Panji Hening, dia calon cikal bakal wali akhir jaman," kata Syeh Hamdani,
"Saya hanya di tugaskan oleh Kyai Jabat untuk membimbing nya saja.
Aku bersedia... Karena Gus Panji adalah anak keturunan ke 5 dari sanad guru ku.
"Pantas saja Syeh sangat segan dan menghormati Gus Panji," ujar Mbah Wali Hadi,
"Kalau Syeh mengijinkan... Boleh kah aku mengajak nya untuk tinggal beberapa hari di pesantren ku?
Aku ingin memberi beberapa kaweruhan untuk Gus Panji.
Aku juga ingin andil dalam membentuk wadah untuk Gus Panji."
"Silahkan kyai, kalau Gus Panji mau.
Jika Gus Panji mau tinggal di pesantren milik kyai, syaratnya... Gus Panji jangan di istimewakan," kata Syeh Hamdani,
"Samakan dia dengan santri biasa.
Karena itu pesan dari Mbah Wali Suro."
"Baiklah Syeh, terimakasih telah sudi ngobrol dengan ku," ujar Mbah, Wali Hadi,
"Assalamualaikum
Salam sejahtera selalu."
__ADS_1
"Waalaikumsalam kyai, salam sejahtera kembali untuk kyai," jawab Syeh Hamdani,
"Salam Hormat."
Ketika selesai makan dan lagi menikmati kepulan asap rokok... Mbah Wali Hadi mendekati Panji,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji.
"Kang... Ini rokok surya," kata Mbah Wali Hadi sambil duduk di depan Panji,
"Sebentar lagi adzan Subuh, mari ikut ke tempat ku.
Kamu bisa mandi ganti baju dan solat lalu istirahat tidur."
"Terimakasih kyai, telah di kasih makan minum dan rokok," ujar Panji,
"Kalau boleh tau... Mbah ini siapa namanya?"
"Orang - orang memanggil ku Mbah Hadi, ada yang memanggil kyai Hadi.
Akang ini siapa namanya,"
"Nama saya Ahmad Panji Hening kyai, biasa di panggil Panji."
"Kang Panji... Apa kang Panji berkenan ikut dengan ku untuk istirahat di rumah," ujar Mbah Wali Hadi,
"Dari pada di sini sendirian, ikut saja di rumah ku, disana banyak temannya."
"Tetapi... Keadaan saya kotor kyai, pakean juga tidak punya," kata, Panji.
"Tidak apa - apa kang, di rumah banyak sarung dan baju," ujar Mbah Wali Hadi,
"Mari."
"Baiklah Kyai," ujar Panji kemudian berdiri.
Tak lama kemudian, Kyai Hadi berjalan di ikuti Panji dari belakang.
Sambil berjalan... Kyai Hadi berkata,
"Kang... Sudah bisa baca Al qur'an..? Apa sudah hafal doa - doa?"
"Bisa kyai, tetapi bacanya tidak lancar, doa - doa juga tidak banyak yang hafal," jawab, Panji.
"Kang Panji tinggal di rumah beberapa hari ya..? Nanti aku ajari membaca al quran dan doa - doa," bujuk Mbah Wali Hadi.
"Baiklah kyai," jawab Panji.
__ADS_1
"Nanti aku ajari supaya kamu bisa berjalan cepat seperti angin," ujar Mbah Wali Hadi.
"Iya kyai," kata Panji.