SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PERJALANAN PANJI SAMPAI DI GARUT


__ADS_3

Tak lama kemudian beberapa preman datang mendekati preman yang berambut panjang,


"Bang Asep..! Kamu gak apa - apa? Katanya ada yang melihat kamu di tebas golok!"


"Gak apa - apa, aku di selamatkan oleh pemuda gila ini. Besok saja kita balas mereka di markasnya, kamu kumpulin semua teman - teman kita," ujar Bang Asep,


"Sekarang... Kita berjaga - jaga saja di sekitar terminal."


"Baiklah Bang."


"Kalian pergilah, aku ingin duduk sebentar di teras toko ini bersama pemuda gila ini," ujar Bang Asep,


"Bil... Belikan nasi padang 1 bungkus dan es teh ya."


"Siap Bang."


lKopi panas, teh manis, jahe. rokok rokok," teriak penjual kopi keliling.


"Mang... Sini mang, beli kopi 2 gelas, sama rokok marlboro 2," seru Bang Asep.


Setelah di sajikan... Bang Asep berkata,


"Mas... Di minum kopinya, ini rokoknya, aku lihat Mas nya rokok'an Mlmarlboro, jadi aku belikan marlboro."


"Bang Asep... Ini nasinya dan es teh," kata Bily.


"Ok Bil," Ujar Bang Asep,


"Mas makan dulu, ini ada nasi padang dan es teh."


"Terimakasih," kata Panji kemudian menerima nasi bungkus lalu memakannya dengan lahap.


"Kelaparan bener nih orang gila ini, lahap baget makannya," ujar Bang Asep dalam hati,


"Tetapi... Dia hebat juga, berkali - kali di bacok dengan golok tidak mempan, sampai kelompok preman sebelah lari tungang - langang.


Sebagai rasa terimakasih ku... Aku hanya bisa membelikan makan minum dan rokok saja.


Tetapi...


Kalau pemuda ini gila... Mengapa dia bisa menyelamatkan ku ya? Apa dia sedang menjalankan Tirakat seperti orang perguruan silat?"


Setelah makan dan minum es teh, Panji menyulut rokok, lalu berkata,


"Terimakasih makanannya dan minumannya. Siapa nama mu, dan mengapa kamu mau di bunuh oleh orang orang itu tadi?"


"Nama ku Asep Mas.


Biasa mas, keributan antar preman. Masalah lahan saja."


"Apakah kamu ketua preman terminal Bayangan ini, kok banyak orang menghormati mu," tanya Panji.


"Iya benar, aku ketua preman wilayah terminal Cibadak," ujar Bang Asep,


"Mas siapa nama nya, dan mengapa menyelamatkan aku tadi?"


"Lupa aku, siapa nama ku. Aku menyelamatkan mu itu karena aku ingin menyelamatkan mu saja. Tidak ada maksud lain.


Oh iya...


Kalau kamu jadi preman... Jangan tanggung - tanggung, sekalian jadi preman kelas kakap.


Kalau kamu mau jadi orang baik - baik... Juga jangan tanggung - tanggung, jadilah orang baik seperti ulama yang suka bersedekah dan ahli ibadah," kata Panji kemudian pergi sambil membawah sebungkus kopi dan dua bungkus rokok.


Mendengar ucapan Panji... Bang Asep ketua preman itu merasa kecil hatinya, lalu berdiri mengejar Panji,


"Mas, tunggu Mas..!


Kamu bukanlah orang gila, tetapi kamu adalah orang yang sedang Tirakat.


Berilah aku saran agar aku bisa menjadi orang baik."


Sambil berjalan, Panji berkata,


"Apakah kamu punya anak istri?"


"Punya Mas, anak saya 2," jawab Bang Asep.


"Berhentilah memberi makan anak istri mu dari uang haram. Jangan kamu beri makan anak istri mu kotoran.


Bekerjalah, carilah uang yang halal, biar hidup mu juga anak istri mu berkah dan manfaat," ujar Panji,


"Jadikan istri dan anak - anak mu sebagai ladang ibadah.


Belajarlah ilmu agama kepada kyai, agar hidup mu tidak tersesat."


"Baiklah Mas, aku janji akan menjadi orang baik - baik," kata Bang Asep.


"Lihatlah anak istri mu, jangan melihat kesenangan diri sendiri. Kamu dan aku semakin lama semakin tua," ujar Panji,


"Saat kita di lahirkan... Semua orang dan keluarga tertawa riang.


Usahakan...


Di saat kita mati... Semua orang menangis meneteskan air mata, sebab merasa kehilangan.


Kalau kamu tetap berbuat jahat... Di saat dirimu mati... Semua orang akan senang dan tertawa riang.


Pulang lah, cium anak - anak mu, sapalah istri mu dengan pelukan mesrah mu. Mintalah maaf pada istri dan anak - anak mu."


"Baiklah Mas, terimakasih atas nasehatnya," kata Bang Asep.


Panji terus berjalan. Setelah berada di pasar. Di saat pinggir jalan... Panji merebahkan bandannya di emperan toko, lalu tertidur lelap.


Malam terus merambat, dan Pagi pun datang. Seorang setengah tua membuka tokonya perlahan - lahan. Melihat Panji tidur... Orang tua itu membiarkan nya, hingga Panji terbangun dengan sendirinya.


Melihat Panji bangun... Pemilik toko itu mendekati Panji sambil membawah secangkir kopi hitam,


"Mas... Minumlah kopi dulu, sebentar aku pesankan bubur ayam."


Tak lama kemudian,


"Pak haji, ini bubur ayamnya dan teh nya."


"Terimakasih ya Mang," kata Pak Haji,


"Mas... Sarapan dulu, ini silahkan."

__ADS_1


"Terimakasih Pak Haji," kata Panji kemudian menikmati sarapan bubur ayam.


Sambil sarapan bubur di teras toko, Panji berkata lirih,


"Baru kali ini ada pemilik toko yang sangat baik, memberi sarapan dan kopi. Biasanya di usir dengan kasar."


Setelah menikmati sarapan dan minum teh hangat... Panji duduk bersandar tembok samping toko. Setelah duduk kurang lebih 1 jam, Panji berkata lirih,


"Toko Pak Haji ini kok sepi ya..? Tidak ada pembeli sama sekali, padahal aku duduk di sini perasaan lama sekali.


Sementara...


Pak Haji diam - diam megamati Panji yang duduk sambil menikmati kepulan asap rokok, lalu Pak Haji berkata lirih,


"Orang gila itu hidupnya merdeka, tidak memikirkan apa - apa, tidak takut apa - apa, juga tidak mempunyai kewajiban beribadah kepada Allah.


Tidak seperti diriku sebagai manusia yang normal. Selalu kurang, takut dan khawatir. Selalu memikirkan apa saja.


Takut ini takut itu. Khawatir tidak punya uang, khawatir tidak makan, bingung bayar sekolah anak - anak, bingung ini, itu dll.


Sudah beberapa bulan toko sepi, tidak ada keuntungan, hutang banyak."


Sambil menikmati rokok, Panji menyebut nama Aryo Jagad kemudian mengehentakkan kaki kanannya ke tanah 3x.


Tak lama kemudian... Terdengar suara untuk salam,


"Assalamualaikum Tuan.""


Waalaikumsalam Aryo Jagad," ujar Panji,


"Duduklah sini, sebelah ku.


Aryo Jagad... Aku ingin bertanya sesuatu.


"Silahkan Tuan."


"Mengapa toko Pak Haji ini sepi, tidak ada pembeli sama sekali," ujar Panji,


"Aku tadi pagi di kasih kopi dan sarapan, jadi aku ingin balas budi kepada Pak Haji."


"Sebentar Tuan," jawab Aryo Jagad Raja jin alas Blandong kemudian melihat keadaan Toko,


"Halaman toko ini telah di tebarin tanah kuburan. Tanah itu di ambil pada hari kamis kliwon di kuburan umum.


Kemudian di depan toko itu di tanami wisik Raja Buta. Ini karena persaingan dagang Tuan."


"Apa itu wisik Raja Buta... Dan siapa pelakunya," tanya Panji.


"Wisik Raja Buta itu adalah jimat, jika di pendam di depan toko... Maka orang yang mau membeli, melihatnya toko ini tutup," ujar Aryo Jagad,


"Pelakunya adalah pemilik toko sebelah."


"Bagaimana caranya toko Pak Haji ini bisa normal kembali, dan banyak yang beli," tanya Panji.


"Caranya jimat itu di ambil dulu Tuan, kemudian rendamlah garam kasar ke dalam timbah berisi air, lalu air itu di siramkan ke halaman toko. Nanti toko ini akan normal kembali," kata Aryo Jagad.


"Bagaimana caranya toko ini supaya tidak bisa di jahati lagi sama dukun," tanya Panji.


"Caranya setiap hari pemilik toko ini harus membaca surat yasin 1x, di tujukan untuk toko dan usahanya, agar selamat dari gangguan jin dan manusia jahat," kata Aryo Jagad.


"Mengapa kamu bisa tau tentang kehebatan surat yasin..? Padahal kamu baru saja memeluk agama islam," ujar Panji.


"Baiklah, sekarang kamu boleh pulang ke Alas Blandong," perintah Panji.


"Baiklah Tuan,


Assalamualaikum," kata Aryo Jagad.


"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian berjalan mendekati Pak haji.


Setelah memberi petunjuk... Dan melihat Pak Haji mengambil Jimat yang di pendam di depan halaman toko... Panji pun pergi berlalu tanpa pamit.


Panji terus berjalan perlahan - lahan sambil menikmati kepulan asap rokok. Tak terasa Panji telah memasuki kota Sukabumi Jawa Barat. Panji terus berjalan hingga senja pun tiba. Setelah berada di kota Cianjur, Panji terus berjalan tanpa henti menelusuri jalan raya menuju kota kembang Bandung.


Menjelang Isak... Cuaca sangat dingin dan gerimis pun perlahan - lahan membasahi jalan, dan Panji pun berteduh di gubuk di sebuah warung penjual peyem atau tape dan ubi matang.


"Aduh hujan, perut lapar sekali. Ada orang jualan tape sama ubi open, kayaknya enak hujan gini makan ubi minumnya kopi. Sayang aku tidak boleh beli," ujar Panji rilih.


Tiba - tiba ada sebuah mobil berhenti dekat gubuk tempat Panji berteduh. Kemudian seorang lelaki setengah tua dan istrinya turun dari mobil kemudian berjalan menuju warung untuk membeli oleh - oleh.


Setelah membeli beberapa bungkus, sepasang suami istri itu pun kembali dalam mobil.


"Pa... Itu ada pengemis atau orang gila, kasihan Pa, kasih dia ubi ini Pa, sama minumnya sekalian," ujar anaknya,


"Papa belikan saja ya, ini buat yang di rumah," kemudian orang setengah tua itu keluar mobil menuju warung lagi.


Setelah pesan dan memberi uang... Bapak tadi masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian pemilik warung mendekati gubuk sambil membawa seikat ubi open dan secangkir kopi juga sebotol aqua,


"Ini Mas, ada yang mengasih tadi."


"Terimakasih Pak," kata Panji kemudian menikmati ubi open dan secangkir kopi.


Setelah kenyang dan minum kopi... Hujan pun rendah, dan Panji melanjutkan perjalanan lagi.


Waktu terus berlalu, adzan Subuh, Panji memasuki pinggiran kota Bandung.


Karena merasa lelah... Panji istirahat duduk di bangku di bawah pohon di sebuah taman.


Waktu terus berlalu, tak terasa Siang terasa terik, namun Panji masih tertidur lelap.


Adzan Dzuhur terdengar mengema, Panji pun bangun, lalu pergi melangkahkan kaki lagi. Ketika Panji memasuki kota Bandung... Lanji berkata lirih,


"Ini kah kota Bandung... Rame sekali. Banyak bangunan megah. Kalau aku sudah selesai melakukan Tirakat ini... Aku ingin main di kota Bandung beberapa hari."


Langit mendung, Panji masih melangkahkan kaki menuju kabupaten Garut.


Tengah Malam... Panji memasuki kecamatan Majalaya. Dengan keadaan perut lapar... Panji masuk ke pom bensin untuk mengisi botol aqua dengan air wudhu.


Ketika masuk ke tempat wudhu... Panji berkata lirih,


"Ada dompet jatuh, aku ambil saja barangkali yang punya mencarinya ke sini lagi."


Setelah mengisi botol dengan air wudhu, Panji istirahat duduk di teras samping musolla di pom bensin.


Tak seberapa lama... Sebuah mobil berhenti di samping musolla. Seorang pemuda berbaju muslim keluar dari mobil. Sambil berjalan menundukkan kepala... Pemuda itu melihat setiap sudut lantai.

__ADS_1


"Mas," panggil Panji,


"Mencari apa..?"


"Mencari dompet kang, barangkali jatuh disini, soalnya tadi aku wudhu di sini," jawab pemuda.


"Apa ini dompetnya," ujar Panji.


"Iya kang benar," kata pemuda,


"Alhamdulillah... Terimakasih ya kang!


Ini buat akang, buat beli makan."


"Terimakasih Mas," jawab Panji sambil mengerakkan tangan tanda memolak.


"Ayoo terima saja, ini tanda trimakasih ku," kata pemuda


"Tidak Mas, terimakasih," jawab Panji.


"Ya sudah kalau gitu, aku jalan dulu ya," ujar pemuda.


Setelah pemuda itu melajukan mobilnya... Panji pun berdiri lalu melangkah kan kaki meninggalkan pom bensin.


Setelah keluar dari pom bensin, Panji berjalan perlahan - lahan sambil menahan lapar.


Malam itu... Seorang pemuda yang tadi kehilangan dompet kembali ke musolla pom bensin. Setelah keluar dari mobil, pemuda itu menenteng sebuah kantong plastik sambil mencari keberadaan Panji. Setelah tidak menemukan Panji... Pemuda itu masuk kedalam mobil lalu mengemudikan pelan - pelan. Setelah setengah jam... Pemuda itu melihat Panji yang berjalan pelan di pinggir jalan raya,


"Cepat sekali pemuda gila itu jalannya, gak masuk akal."


Di saat Panji berjalan sambil berdzikir... Tiba ' tiba seorang pemuda menyapanya dari dalam mobil. Setelah mobil menepi... Pemuda itu keluar lalu mendekati Panji,


"Kang... Cepet banget jalannya, ini ada nasi bungkus sama kopi dan air aqua juga roti. Saya berterimakasih sekali, karena akang telah menemukan dan mengembalikan dompet ku. Dompet itu ada beberapa surat yang sangat penting."


"Terimakasih Mas,l kata Panji sambil menerima bingkisan.


Setelah pemuda itu pergi dengan mobilnya... Panji melanjutkan perjalanan ke kota Garut. Setelah melewati perempatan yang agak ramai... Panji berhenti istirahat di emper toko.


Sambil menikmati nasi bungkus menu daging sapi... Panji teringat dengan Maya gadis yang di cintainya.


"Hemmmm, kangen banget sama Maya. Jadi teringat makan nasi bungkus berdua di kota Malang. Bagaimana yaaa kabarnya..? Ingin sekali aku memeluknya."


Setelah makan dan minum kopi bungkus... Panji menikmati kepulan asap rokok sambil merebahkan badannya.


Karena tidak bisa tidur... Panji melanjutkan perjalanan ke arah kota Garut. Adzan Subuh terdengar berkumandang, Panji masih asik berdzikir sambil melangkahkan kakinya.


Tak terasa Panji telah berada di pinggiran kota Garut. Melihat ada Musolla kecil di pinggir jalan... Panji melangkah mendekati musolla lalu duduk di teras samping.


Setelah menyedot air kopi yang terbukus plastik... Panji menyulut sebatang rokok surya 16 pemberian pemuda yang kehilangan dompet.


Di dalam Musolla... Seorang kyai yang berusia sekitar 50 tahunan sedang membaca wirid setelah mengimami solat Subuh.


Sambil membaca dzikir ismudzat... Sang kyai melihat ada cahaya yang sangat terang, lalu sang kyai berkata dalam hati sambil berdzikir,


"Cahaya apa ini..? Hingga meneranggi seluruh musolla ini. Bertahun - tahun aku mengimami di musolla ini, baru kali ini aku melihat cahaya membungkus seluruh musolla. Lebih baik aku cari asal usul cahaya ini."


Setelah melihat dengan mata batinnya... Sang Kyai tersebut langsung kaget dan berkata,


"Astaqfirullah Hal Adhim...


Subhanallah...


Ada orang gila tidur di samping musolla, di jaga oleh harimau yang sangat besar.


Ternyata cahaya itu keluar dari dalam tubuh Harimau. Pasti itu bukan orang gila sembarangan. Lebih baik aku dekati."


Setelah mendekati harimau yang duduk di samping Panji... Sang Kyai uluk salam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam kyai," jawab kyai Jabat.


"Siapakah gerangan ini," tanya sang Kyai.


"Aku Kyai Jabat, dan yang tidur ini adalah Gus Panji."


"Apakah Kyai Jabat Mursid pendiri Torekot Al Malikiyah Serang Banten," tanya sang Kyai.


"Benar kyai," ujar Kyai Jabat,


"Bukankah Kyai bernama Abdul Hadi. Alumni pondok pesantren Meteor Garden..?


Dulu sewaktu di pesantren sering berziarah ke makam ku."


"Salam hormat saya Syeh... Saya mohon maaf tidak mengenal Syeh dalam perwujudan harimau.


Iya benar Syeh, saya Abdul Hadi alumni pondok pesantren Meteor Garden. Dan telah berbaiat kepada Syeh di wadah Torekot Al Malikyah."


"Kyai Abdul Hadi... Jagalah Gus Panji hingga bangun," ujar Kyai Jabat,


"Berilah baju dan celana baru untuk Gus Panji. Berilah makan yang enak kepadanya."


"Baiklah Syeh, semua amanah Syeh akan saya kerjakan dengan baik," kata sang Kyai,


"Kalau boleh tau... Dan mohon maaf bila saya lancang, siapakah Gus Panji ini..?"


"Dia adalah calon wali yang akan mengayomi Tanah Jawa kelak," ujar Kyai Jabat,


"Sekarang Gus Panji masih dalam proses. Aku permisi dulu kyai, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Syeh."


Setelah Kyai Jabat pergi... Kyai Abdul Hadi memanggil beberapa santrinya, lalu memerintahkan untuk menjaga Panji hingga bangun, kemudian Kyai Abdul Hadi menghidupkan mesin mobil, lalu pergi ke sebuah toko untuk membelikan baju dan celana baru untuk Panji.


Siang itu... Istri Kyai Abdul Hadi sibuk memasak dan menyiapkan sarapan yang enak dan lezat.


Waktu Adzan Dzuhur telah tiba. Salah satu santri menabuh bedhuk pertanda waktu Dzuhur telah tiba. Mendengar suara bedhuk yang keras... Panji pun membuka kedua matanya karena kaget.


Begitu Panji duduk hendak melanjutkan perjalanan... Ada uluk salam dari seorang kyai.


"Assalamualaikum Gus," ujar Kyai Abdul Hadi kemudian mencium tangan Panji.


"Waalaikumsalam kyai," jawab Panji heran karena tangannya tiba - tiba di cium oleh kyai.


"Gus... Silahkan ikut saya," ucap Kyai Abdul Hadi,


"Gus mandi dulu, dan ganti baju baru. Setelah itu Gus makan siang dulu.

__ADS_1


Saya mohon Gus Panji mau berkenan."


__ADS_2