
Dalam beberapa hari... Pihak kepolisian lintas Negara kesulitan melacak pelaku pembunuhan para Mafia Lintas Negara.
Pihak berwenang menyimpulkan, bahwa tewasnya para Mafia itu di sebabkan perang terbuka perebutan wilayah kekuasaan bisnis narkoba.
Karena yang tewas adalah kelompok Mafia... Maka pihak berwenang tidak melanjutkan proses penyelidikan.
Tetapi... Di lingkungan lingkaran pelaku bisnis kartel narkoba, menyakini, bahwa pelakunya adalah orang - orang terlatih dari organisasi The Blus.
***
Kota Bandung.
"Selamat pagi Tuan Cahyadi," sapa Asisten Matrik.
"Pagi juga Matrik, silahkan duduk. Silahkan ngopi."
"Baiklah Tuan.
Sambil menikmati secangkir kopi, Tuan Matrik berkata,
"Tuan... Operasi di London Inggris dan di Kamboja telah sukses.
Untuk operasi di Negara Lainnya... Sepertinya ada orang lain yang melakukan nya. Mereka bukan kelompok saya."
"Lalu, kelompok siapa..?"
"Dugaan saya, itu dari kelompok organisasi The Blus. Dugaan saya, Tuan Panji lah yang memerintahkan secara langsung, melakukan operasi senyap ke beberapa Negara.
Itu hanya dugaan saya Tuan.
Karena, saya tau, Tuan Panji memiliki orang - orang hebat di beberapa negara di Asia."
"Baiklah.
Ini cek 100 milyar untuk mu juga anggota mu.
Terimakasih atas kerja kerasnya."
"Sama - sama Tuan. Saya juga ucapkan Terimakasih.
Kalau begitu, saya permisi dulu."
*****
Kota Surabaya.
Kring..!
Hp Altar Mila berdering,
"Selamat pagi Tuan Panji."
"Pagi juga Mila.
Kamu di mana..?"
"Di kota Batam Tuan. Lagi ngurus pembangunan Hotel Hening."
"Ya sudah kalau begitu," kata Panji kemudian menutup telponnya.
Kring..!
Hp Desi berdering. Setelah terhubung,
"Iya Mas..."
"Kamu dimana..?"
"Di Tanggerang Mas, lagi ngurusi proyek PT Java."
"Nanti siang habis dzhuhur aku ingin ketemu kamu di Hotel Hening Surabaya," kata Panji,
"Hubungi Leni, ajak sekalian."
"Baiklah Mas, nanti jam 11 aku akan terbang ke Surabaya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kring..!
Hp Nasir wakil sekretaris berdering. Setelah tersambung,
"Nasir..."
"Iya Bos..."
"Kim Sai'in ada di mana..?"
"Ada di Jakarta."
"Kamu hubungi Kim, Jhosep dan Youri ya, jam 12 aku kepinggin ketemu di restoran Hotel Hening Surabaya.
Kamu dan Novi ikut sekalian."
"Baiklah Bos."
Mendengar Panji suaminya berbicara melalui saluran telpon, Maya yang lagi masak di dapur berkata,
"Ada apa Kak, kok para petinggi organisasi di suruh ke Surabaya..?"
"Ada kerjaan, masalah proyek," sahut Panji,
"Kamu itu pinggin tau saja urusan lelaki."
"Namanya istri Kak, pasti pinggin tau urusan suaminya. Apalagi berita manca negara akhir - akhir ini. Dalam waktu dua minggu, puluhan anggota kelompok mafia tewas di beberapa Negara.
Aku sebagai istri kan juga khawatir.
Karena Kakak kan ketua organisasi The Blus, yang berhubungan dengan dunia kekerasan.
Kalau Kakak ada masalah apa - apa, imbasnya ya ke aku istri mu, juga anak - anak mu.
Jadi...
Keinginan tau seorang istri itu bentuk dari rasa sayang terhadap suaminya. Bukan suka ngurusi masalah laki - laki."
"Gitu ya By Nyai..?"
"Biasa, diajak ngomong serius mesti bercanda," sahut Maya.
"Misal kalau Kakak sakit, yang repot aku juga. Kalau Kakak di tangkap polisi ya, aku juga yang susah mondar - mandir. Kalau Kakak senang, aku kan juga ikut senang."
"Mulai cerewet.
Sudah mateng apa belum..?"
"Belum..!!!"
"Gak boleh marah - marah, nanti anaknya jadi pemarah."
"Gak marah, cuma sebel saja dengarnya," sahut Maya.
"Ya sudah, kalau gitu kakak mandi dulu, mau pergi ke Jakarta saja," goda Panji.
"Jangan Kak... Di sini saja. Kan aku lagi hamil, butuh suami untuk mendampingi."
"Iya gak jadi kalau gitu."
"Hemmmm..."
*****
Jam 12 siang, setelah solat dzhuhur, Panji dan petinggi organisasi The Blus berkumpul makan siang di restoran Hotel Hening.
Sambil menikmati makan malam, Panji berkata,
"Aku ingin mengundurkan diri dari ketua organisasi The Blus. Aku juga tidak akan berkecimpung lagi dalam organisasi. Aku ingin konsentrasi mengurus yayasan sosial keagamaan bersama Maya istri ku. Jadi... Ketua organisasi aku serahkan kepada direktur Youri salah satu pendiri organisasi."
Mendengar kata - kata Panji... Petinggi organisasi diam dan terkejut.
"Baiklah Godfather," kata direktur Youri,
"Tetapi aku ingin Godfather menjadi penasehat organisasi. Karena, Godfather adalah pencetus pertama berdirinya organisasi."
"Baiklah," jawab Panji.
"Kim... Kamu aku angkat menjadi direktur PT Java kontraktor. Sekretaris Desi... Umumkan jabatan untuk Tuan Kim Sai'in besok.
__ADS_1
Tuan Kim... Bekerjasama lah dengan Desi selaku sekretaris PT Java."
"Baiklah Godfather."
"Jhosep... Kamu aku angkat menjadi direktur Jialing Group. Kerjasama lah dengan Nona Leni selaku sekretaris PT Jialing Group."
"Baiklah Tuan."
"Besok kalau aku ke kabupaten Sukabumi... Aku akan bicara pada keluarga Wilda. Karena, adik - adik Wilda sebagai pewaris Jialing Group masih remaja."
"Baiklah Godfather."
"Sekarang lanjutkan kerja kalian. Aku masih ada perlu," kata Panji,
"Sekretaris Novi... Nanti malam resmikan lah pergantian ketua organisasi baru."
"Baiklah Godfather."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab petinggi organisasi.
*****
Yayasan kasih ibu.
"Assalamualaikum Pak Jajang..."
"Waalaikumsalam Gus," jawab kang Jajang security yayasan.
"Masuk siang Kang...?"
"Iya Gus, oper sip jam 3 ini."
"Oh iya iya, kalau begitu aku permisi dulu ya Kang, mau lihat - lihat bangunan yayasan."
"Iya Gus, silahkan."
***
"Premisi Pak," sapa seorang sopir.
"Iya Mas," sahut kang Jajang.
"Mau kirim buku ke yayasan kasih ibu, atas nama Bapak Ahmad Panji Hening."
"Oh iya, iya. Silahkan mobilnya di masukkan saja. Akan saya panggilkan Gus nya."
Setelah dua mobil box parkir di halaman yayasan, Panji berkata,
"Mas... Turunkan teras perpustakaan saja ya."
"Iya Pak Panji."
"Alhamdulillah... Ada suami di rumah, perlahan - lahan yayasan kasih ibu menjadi baik dan terurus.
Sekarang sudah ada perpustakaan yang lengkap. Bangunan hampir selesai semua," ujar Maya bahagia,
"Semoga suami ku betah di rumah, tidak sibuk dengan urusan organisasi The Blus dan bisnisnya."
*****
Kabupaten Nganjuk.
Sudah 7 hari 7 malam, Gus Hanan tidak makan tidak tidur, Selama 7 hari 7 malam. Gus Hanan duduk diam di dalam makam Mbah Wali Kukun yang berdinding kayu jati ukir yang di tutup dengan kain korden warna putih terawang.
Selama 7 hari 7 malam... Mbah Wali Kukun mentransfer ilmu nahwu sorof juga alfiah. Mbah Wali Kukun juga mentransfer pemahaman ilmu ribuan kitab - kitab syariat juga ilmu kitab tasawuf.
Mbah Wali Kukun juga mentransfer ilmu - ilmu kekeramatan dan ilmu tahuid juga ilmu kewalian.
Siang itu... Gus Hanan keluar dari dalam makam Kakek buyut nya. Dengan wajah pucat, dan hanya mengenakan celana pendek, Gus Hanan berjalan menuju pondok pesantren Spombob.
Para santri yang habis berjamah solat dzuhur... Melihat Gus Hanan berjalan melintas, banyak yang menyapa dan mencium tangan Gus Hanan.
Setelah itu, Gus Hanan melihat para tukang dan kuli yang sedang mengerjakan pembangunan rumah dan pendopo.
"Assalamualaikum Gus," sapa Pak Toni tukang kepercayaan Gus Hanan.
"Waalaikumsalam Pak Toni."
"Alhamdulillah, pendopo nya sudah selesai Gus. Tinggal rumah nya yang belum."
Aku ingin mengadakan hiburan pergelaran wayang kulit."
"Ada Gus. Namanya dalang Muji. Rumahnya tetangga desa ini Gumuk sini. Dari sini 4 desa Gus."
"Pak Toni sekarang ikut saya ya? tunjukkan rumah dalang Muji."
"Baiklah Gus."
"Tunggu sini, aku ambil mobil dulu."
Tak lama kemudian Mobil BMW dengan knalpot brong melaju ke desa Sampun.
"Depan itu Gus rumahnya dalang Muji, yang halamannya luas," kata Pak Toni.
Setelah memarkir mobil nya, Gus Hanan dan Pak Toni menuju pendopo, yang lagi ramai.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab salah satu orang.
"Pak dalang Muji nya ada," tanya Pak Toni.
"Ada Pak, itu orangnya lagi latihan bersama para sinden. Sebentar ya?"
"Pak Muji, ada tamu. Itu orangnya berdiri di luar pendopo."
"Baiklah," jawab dalang Muji kemudian menghentikan latihannya lalu bergegas ke samping pendopo.
"Silahkan duduk di teras Pak, monggo silahkan.
Ada keperluan apa," tanya dalang Muji sambil duduk di kursi teras.
"Saya mau mengadakan pagelaran wayang kulit," kata Gus Hanan, "Berapa Pak, biayanya..?"
"5 juta Mas.
Mas ini dari mana..?"
"Ini Gus Hanan Pak Muji. Keluarga ndalem pondok pesantren Spombob desa Gumuk," sahut Pak Toni.
"Oh, iya iya, masih tetangga desa berarti.
Mengadakan pagelaran wayang kulit untuk kapan Gus..?"
"Untuk malam ini Pak Muji," jawab Gus Hanan.
"Malam ini..!" seru dalang Muji terkejut,
"Mendadak sekali..?"
"Iya Pak. Aku ingin pertunjukan wayang kulit selama 7 malam. Saya ingin syukuran atas selesainya pembangunan pendopo. Ini saya bayar cas 35 juta," kata Gus Hanan sambil menyodorkan tas plastik warna hitam berisikan uang.
"Di dalam kantong plastik itu ada uang 50 juta. Yang 15 juta adalah bonus untuk pak dalang dan anggota nya.
Bagaimana pak..?"
Melihat uang 50 juta di atas meja... Dalang Muji sangat senang walau acaranya mendadak. Apalagi di tambah bonus 15 juta.
"Baiklah Gus, malam nanti akan saya adakan pagelaran wayang kulit jam 9 malam hingga menjelang subuh.
Kalau begitu, akan saya perintahkan anak buah saya untuk mengangkut alat - alat ke desa Gumuk, untuk mempersiapkan semuanya.
"Baiklah pak Muji, saya permisi dulu," kata Gus Hanan,
"Untuk nanti malam, saya ingin lakon petruk dadi ratu.
Assalamualaikum."
"Baiklah Gus.
Waalaikumsalam."
Sesampainya di pondok pesantren, Gus Hanan duduk di pendopo sambil melihat para tukang yang mengerjakan pembangunan rumah Siska adiknya.
"Pak Toni..."
"Iya Gus."
__ADS_1
"Tolong cari tukang pasang terop ya. Suruh pasang sekarang, ini uangnya. Berapa pun ongkosnya, jangan di tawar, bayar saja."
"Baiklah Gus."
"Pasang terop yang besar - besar. pergi Pakai sepedd motor ku saja Pak."
"Baiklah Gus," jawab Pak Toni kemudian bergegas.
Sambil mengendarai motor, Pak Toni berkata lirih,
"Gus Hanan ini aneh sekali. Masak syukuran pendopo saja merayakan pagelaran wayang kulit 7 hari 7 malam. Padahal sekarang musim hujan.
Baru kali ini keluarga ndalem pondok pesantren Spombob mempunyai keturunan Gus yang aneh.
Selama ini yang saya ketahui, tidak ada keturunan keluarga pondok pesantren Spombob yang aneh seperti Gus Hanan.
***
Mobil BMW memasuki halaman restoran Mojopahit milik Pak Dadang, di kota Nganjuk.
Setelah turun dari dalam mobil, juru parkir dan dua orang satpam uluk salam lalu mencium tangan Gus Hanan yang berjalan menuju restoran.
"Assalamualaikum Gus,x sapa Bos Dadang,
"Gus mau makan apa..?"
"Waalaikumsalam bos.
Mau minum kopi saja ya bos."
"Baiklah Gus," ujar bos Dadang kemudian memerintahkan seorang pelayan.
"Ini bos kopinya," ujar seorang pelayan.
"Silahkan Gus, di minum kopinya."
Setelah menyeruput kopi dan menyalahkan rokok danhil, Gus Hanan berkata,
"Bos..!
Tutuplah restoran mu sekarang juga!x
"Iya Gus," jawab bos Dadang sambil ketakutan,
"Tetapi... Hari ini saya masak banyak sekali Gus. Baru matang masakannya."
"Bos... Aku ingin beli semua masakan di restoran ini. Aku butuh nasi 1000 piring, untuk malam nanti. Bos juga sediakan kue yang banyak."
"Iya Gus iya Gus," sahut bos Dadang senang.
"Aku kasih uang 5 juta dulu,"ujar Gus Hanan sambil menyodorkan uang di meja,
"Sekarang... Bos bawa semua karyawan nya dan makanan ke pondok pesantren Spombob. Temui Pak Toni, biar Pak Toni yang atur.
Aku punya hajat selama 7 malam. Jadi, bos Dadang sediakan makanan yang enak dan minuman yang cukup selama 7 malam ya?"
"Baik Gus, siap di laksanakan,x sahut bos Dadang yang masih bingung.
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku tunggu di samping pondok bos.
Assalamualaikum."
*****
Siang itu... Beberapa mobil terpakir di halaman rumah Gus Hanan. Beberapa orang sibuk menurunkan meja kursi juga alat - alat terop, kemudian ada yang memasang terop, juga memasang sond sitem. Sementara, Gus Hanan duduk dengan santai di pendopo sambil melihat pemasangan terop.
Melihat kesibukan orang - orang memasang terop dan beberapa orang menurunkan alat - alat gending juga kotak wayang... Kyai Danwari juga kyai lainnya yang notabene sebagai Pakdhe nya Gus Hanan sangat terkejut sekali.
"Kyai Danwari... Bagaimana Gus Hanan ini. Semakin lama semakin ngawur dan ngelunjak saja di pondok pesantren Spombob ini."
"Ada apa kyai Jalal..?"
"Aku dengar Gus Hanan mau mengadakan pertunjukan wayang kulit. Inikan pondok pesantren kang, bagaimana nanti pandangan masyarakat awam..?
Dan pertunjukan pagelaran wayang itu sangat menganggu belajar mengajar anak - anak santri yang tinggal di pesantren."
"Iya benar kata mu. Tetapi... Bagaimana pun juga, Gus Hanan adalah keponakan kita," sahut kyai Danwari,
"Sejak Gus Hanan tinggal di pesantren ini, aneh - aneh saja tingkah lakunya.
Aku juga kurang senang. Tetapi, bagaimana pun juga, dia keponakan kita."
"Kalau begitu... Kita datangi saja Gus Hanan. Suruh menghentikan acara pagelaran wayang kulit di pondok pesantren ini. Kalau dia tidak mau, biar aku yang akan mengusirnya..!"
"Baiklah, biar Gus Hanan sadar, bahwa apa yang dilakukan selama ini salah."
****
"Pak Toni... Habis ini ada orang dari rumah makan mengantar makanan. Tolong Pak Toni bilang sama tetangga, pinjam dapur nya untuk masak dan tempat makanan.
Tolong kasih uang ya, yang punya rumah, biar gak di rugikan."
"Baiklah Gus.
Di desa ini, kalau ada tetangga punya hajat, semua tetangga dengan senang hati membantu Gus. Bahkan sangat senang jika rumah nya di pakai untuk keperluan masak."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Pakdhe Danwari, Pakdhe Jalal, silahkan duduk," kata Gus Hanan yang sudah mengetahui tujuan kedatangan kedua Pakdhe nya yang notabene sebagai kyai sepuh.
"Ada apa Pakdhe, kok tumben datang kesini berdua..?
Apa Pakdhe mau mengusir saya dari pondok pesantren Spombob ini..?
Gara - gara saya mengadakan pagelaran wayang kulit..?"
Mendengar kata - kata Gus Hanan keponakannya, Kyai jalal dan kyai Danwari sangat terkejut sekali, kalau Gus Hanan mengetahui tujuan nya.
"Kalau bisa... Hentikan pagelaran wayang kulit ini Gus," ujar kyai Jalal,
"Disini adalah pondok pesantren, banyak anak santri ngaji. keluarga kita ini adalah keluarga kyai. Jadi tidak pantas jika Gus Hanan mengadakan pagelaran wayang kulit."
"Pakdhe... Mulai saat ini, aku keluar dari pondok pesantren Spombob. Dan mulai saat ini, aku bukan lagi santri pondok pesantren Spombob.
Jadi... Pakdhe gak usah mengusir ku, aku tau diri.
Pakdhe juga tidak bisa seenaknya mengusir ku dari rumah ku sendiri.
Masalah pagelaran wayang kulit ini... Pakdhe gak bisa melarang ku. Karena yang aku gunakan adalah uang ku sendiri, tidak minta sama keluarga besar pondok pesantren Spombob. Aku juga sudah izin kepada kepala desa juga kepolisian.
Pakdhe punya cara dakwah sendiri, aku juga punya cara dakwah sendiri. Jadi... Pakdhe gak usah mengusik ku lagi, dan jangan mencampuri urusan ku lagi. Karena aku makan tidur tidak ikut sama Pakdhe.
Aku juga tinggal di rumah ku sendiri, bukan di pesantren.
Kalau Pakdhe masih saja mengusik dan menganggu ku, aku tidak segan - segan akan mengusik dan menganggu kehidupan Pakdhe. Dan aku tidak akan segan melakukan nya."
Mendengar kata - kata Gus Hanan yang tegas, kyai Jalal dan kyai Danwari diam membisu, karena mengetahui kebenaran yang di katakan Gus Hanan keponakannya.
"Sekarang silahkan Pakdhe kembali ke pesantren untuk mengajar ngaji.
Kalau Pakdhe mengajar ngaji masih terganggu dengan hal - hal duniawi... Berarti Pakdhe adalah kyai amatiran. Ilmunya masih anak - anak."
"Jaga ucapan mu pada orang tua," sahut kyai Jalal.
"Kalau Pakdhe bisa menjaga ucapan Pakdhe sendiri... Maka orang lain akan menjaga ucapannya di depan Pakdhe.
Kadang kebenaran sulit di terima oleh hati yang kotor berisi nafsu duniawi.
Pakaian seperti kyai, tidak menjamin dia orang alim Al Alamah dan ahli ibadah.
Seorang kyai belum tentu bisa dia melakukan kebenaran yang di sampaikan oleh isi kitab.
Padanggono jadag mu disek sak durongge madanggi jagad liyane."
Setelah menasehati kedua Pakdhe nya... Gus Hanan pergi meninggal Pakdhe nya ke warung kopi yang dekat pesantren.
*****
Sore itu... Sekretaris Novi mengumumkan ketua baru organisasi The Blus.
Panji dan Maya hidup bahagia mengurus yayasan kasih ibu di perbatasan kota Surabaya dengan kabupaten Sidoarjo.
Sementara...
Gus Hanan, setelah mengadakan pagelaran wayang kulit selama 7 malam. Gus Hanan pergi ke beberapa daerah untuk berguru pada beberapa kyai sepuh yang bergelar wali.
Hingga akhirnya Gus Hanan menjadi pemimpin pondok pesantren di kabupaten Sidoarjo sesuai petunjuk dari leluhurnya.
*Tamat*
__ADS_1