
"Ini Mas es jus orenge, jangan minum kopi terus, biar sehat," kata Wilda sambil meletakkan gelas di meja teras rumah.
Kring..!
Hp Panji berdering.
"Ini Hp nya bunyi," ujar Wilda memberikan Hp ke suaminya.
Setelah tersambung,
"Assalamualaikum Mas Panji..."
"Waalaikumsalam."
"Saya Pak Herman.
Mas Panji berada di mana sekarang..?"
"Ada di rumah istri, di perumahan pondok Bambu Pak, jalan Nanas no 9."
"Baiklah Mas, saya akan ke sana."
Tak lama kemudian,
Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah.
Setelah duduk di teras rumah, Pak Herman berkata,
"Alhamdulillah Mas Panji.
Mantan pacar isteri saya telah memaafkan istri saya.
Kemarin malam, setelah bertemu Mas Panji... Saya dan istri langsung terbang ke Medan.
Ini tadi siang baru sampai Bandung.
Terus... Bagaimana kelanjutannya?"
"Sebentar ya Pak... Saya lihat dulu."
Setelah menerawang keadaan rumah Pak Herman....Panji berkata lirih,
"Pengaruh dukun pedalaman Sumatera itu masih kuat di rumah Pak Herman, dan belum di cabut sama dukun nya.
Baiklah, bapak tunggu sebentar," kata Panji kemudian masuk ke dalam rumah.
Setelah mengambil sebotol air aqua... Panji melantunkan Dzikir Diatas Tirai, di tujukan kepada kedua putri Pak Herman, sekeluarga.
Permisi Pak... Buk.
Silahkan di minum," kata Wilda sambil menaruh secangkir teh dan 2 cangkir kopi.
"Terimakasih Buk," jawab ibuk Kulsum,
"Apa ibuk ini istrinya Mas Panji..?"
"Iya Buk, benar.
Saya permisi ke dalam dulu ya."
"Silahkan Buk.
Pa... Mas Panji kerja jadi paranormal, kaya nya kayak gini ya..?
Padahal paranormal ini kerja sampingan loh. Dia kerjanya sopir pengantar barang di toko grosir Elektronik 77,
punya Apartemen mewah, punya rumah mewah di perumahan elit Pondok Bambu."
"Huus..! Diam kamu.
Jangan bicara yang tidak + tidak kalau belum tau kenyataan yang sebenarnya. Gak baik.
Biasa kamu itu."
"Pak Herman... Ini 4 buntalan kertas, tolong di pendam di pojok tanah rumah ya. Air ini tolong di minum kan ke dua putri bapak.
Dan garam ini, di taburkan di pojok pojok dalam rumah.
Nanti, dalam waktu 2 jam, kedua putri Pak Herman pasti sembuh."
"Pasti sembuh..?"
"Iya ibuk, saya pastikan sembuh. Bukan Insallah Allah. Tetapi pasti.
Silahkan di minum dulu, pas jam 9 malam Pak Herman dan ibuk boleh pulang. Kalau kurang dari jam 9, saya jamin gak akan sembuh putri bapak dan ibuk."
"Baiklah Mas Panji, setengah jam lagi sudah jam 9."
"Silahkan diminum sambil ngobrol + ngobrol."
Setelah minum kopi dan menyulut rokok... 0anji berkata,
"Oh iya...
Pak Herman ini kerja dimana?"
"Saya kerja di pabrik pengolahan Emas dan permata Mas Panji.
Kalau istri saya, usaha buka toko emas dan permata di Bandung dan Jakarta."
"Apakah Pak Herman yang memiliki pabrik pengolahan emas dan permata itu?"
"Iya Mas Panji, saya lah pemilik perusahaan itu."
"Iya, iya, iya."
"Apa Mas Panji minat..?"
"Apa bisa pesan kalung berlian..?
__ADS_1
Tetapi, liontinnya kalau di buka bertuliskan huruf G?"
"Bisa Mas Panji."
"Berapa Pak Herman harganya..?"
"Tidak usah bayar Mas pranji.
Untuk Mas Panji gratis."
"Jangan gratis Pak Herman.
Saya mau pesan 9 kalung berlian yang paling bagus.
9 cincin berlian dan 9 gelang berlian dan begel kaki berlian 9 biji.
Buatkan 2 yang khusus untuk istri saya, yang lainnya untuk saya pakai sebagai hadiah."
"1 kalung berlian itu harganya 600 juta Mas Panji x 9.
Satu Gelang berlian itu 300 juta dan satu cincin berlian itu harga nya 100 juta.
Satu anting - anting berlian harganya 200 juta.
Semua totalnya, kurang lebih 10 Milyar."
"Baiklah Pak Herman, sebentar.
Wilda... Ambilkan cek milik ku."
"Iya Mas.
Ini."
Setelah menulis cek sebesar 10 Milyar... Panji berkata,
"Ini Pak, cek pembayaran pesanan ku. Bank Asia.
Kira - kira kapan selesai..?"
"Besok sore sudah selesai Mas, karena malam ini akan saya suruh orang saya untuk mengerjakan nya.
Kalau begitu saya permisi dulu, sudah jam 9 lebih.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Di dalam mobil... Ibuk Kulsum berkata,
"Pa, mengapa kamu terima cek pembayaran berlian itu..?
Gak di kasih gratis saja."
"Ma, seorang lelaki seperti Mas Panji itu, ingin membelikan istrinya, dari hasil uang kerjanya.
Bukan di kasih.
Apalagi Mas Panji itu banyak uangnya.
Lagian... Kalau puteri kita sembuh benar seperti yang di katakan Mas Panji...
Papa ingin memberi hadiah uang sebesar 100 Milyar, itung - itung mengembalikan uang pembelian berlian tadi."
***
Pagi jam 9, Panji masih tidur dalam pelukan Wilda istrinya,
"Mas..."
"Hemmmm."
"Aku mau keluar sebentar, ada janjian."
"Jam berapa ini..?"
"Jam 9 pagi."
"Apa..! Jam 9?"
Aduh, gak di bagunin tadi pagi
Jadi gak kerja aku."
"Sudah di bagunin, tetapi gak mau bagun.
Kalau tidur sama istri bawaannya gak mau bagun."
"Mau kemana kamu..?"
"Ada janjian sama Mbak Eka dan Mbak Dewi."
"Kalau begitu aku ikut.
Bilang sama Dewi, ketemuan di Net Plaza saja, di cafe Dodo."
"Baiklah aku telpon dulu, kamu mandi sana."
***
Net Plaza cafe Dodo.
Setelah berada Net Plaza... Panji dan Wilda masuk ke cafe Dodo.
"Mas Panji," sapa Dewi dan Eka.
Setelah memeluk Panji... Eka dan Dewi duduk kembali, lalu berkata,
"Tambah besar tambah ganteng saja nieh Mas Panji.
__ADS_1
Lama gak ketemu, ketemu ketemu tambah cakep saja."
"Gimana kabarnya kalian..?
Tambah tua saja tambah sexy saja! Hahahaha."
"Mulai mulai...
Alhamdulillah kabar baik Mas...
Terimakasih ya Mas Panji, atas bantuannya.
Berkat bantuan Mas Panji... Kami menjadi wanita karir yang sukes.
"Sama - sama Mbak."
"Mas Panji masih suka pijat," tanya Eka sambil tersenyum.
"Tiap hari minta pijat," sahut Wilda.
"Tuan Godfather dan presiden Direktur Jialing Group... Selamat datang di cafe Dodo."
"Heeee Devi..! Lagak mu, pakai Tuan segala," sahut Wilda kemudian memeluk Devi,
"Ayoo duduk dulu sini.
Lama gak ketemu, tambah cantik tambah sukses.x
"Hehehehe.
Ini berkat kebaikan Godfather suami mu Wilda."
"Kamu juga buka cafe di Net Plaza ini..?
Mulai kapan..?"
"Mulai tadi malam bukanya.
Ini cafe baru ku."
"Kok bisa kamu buka di sini..?
Tau saja tempat strategis."
"Yaaa, di kasih tempat sama pemilik Net Plaza ini."
"Memang siapa pemilik Net Plaza ini..? Kok kamu kenal," tanya Wilda.
"Pemilik nya ini orangnya, Tuan Godfather."
"Hahahahaha!
Bisa saja kamu. Suami ku itu gak pernah ngurusin bisnis. Sejak kapan dia menjadi Bos Net Plaza?"
"Gak tau sejak kapan. Tetapi aku dapat tempat ini, dapat rekomendasi dari Godfather.
Biasa... Ketua Mafia itu bisa dengan muda mendapatkan apa saja."
"Kalian perempuan... Kalau bertemu, selalu ngegosip.
Mana kopi nya ini..!"
"Sini Mbak," panggil Devi.
"Iya bos."
"Buatkan kopi satu ya, yang lainnya kamu tanya minum apa."
"Baiklah bos."
"Mas... Dewi ini menjadi menajer ku di PT Garmen Raya. Dan Mbak Eka ini, menjadi manajer PT Ayu kosmetik milik ku juga."
"Alhamdulillah... Kalian menjadi orang hebat.
Apa kalian sudah punya suami," tanya Panji.
"Mbak Eka rencananya 2 bulan lagi menikah.
Mbak Dewi rencana 4 bulan lagi menikah," kata Wilda.
Setelah berbincang - bincang cukup lama... Panji dan Wilda kembali pulang ke perumahan Pondok Bambu.
***
Kediaman Wilda.
Ting Tung..!
Pak Herman memencet tombol bel
"Tuan Panji ada Mbak...?"
"Ada Tuan, silahkan masuk, silahkan duduk di teras
Saya panggilkan sebentar," kata salah satu pembantu Wilda.
"Eeeh, ibuk Kulsum dan Pak Herman," sapa Panji.
Tiba - tiba... Ibuk Kulsum duduk bersimpuh sambil memeganggi lutut Panji dan menciumnya, sambil menangis ibuk Kulsum berkata,
"Terimakasih Mas Panji...
Kedua putri saya sudah sembuh total.
Alhamdulillah..!"
"Sudahlah Buk, ayoo berdiri," kata Panji sambil memegang pundak ibuk Kulsum,
"Duduklah Buk."
__ADS_1
"Mas Panji... Saya ucapkan terimakasih sebanyak banyaknya, atas bantuan dan kebaikan Mas Panji," kata Pak Herman sambil menitihkan air mata.