SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
KESEMBUHAN EKA DAN KYAI SUNDUL LANGIT


__ADS_3

Begitu memasuki kamar Eka... Panji melihat Eka yang masih terjaga.


"Assalamualaikum," sapa Panji kemudian duduk di ranjang di samping tubuh Eka.


"Waalaikumsalam. Mas Panji," jawab Eka lemas kemudian menangis pilu sambil memeganggi lengan Panji.


"Wilda meninggal dunia Mas...


Maafkan aku ya, semua ini salah ku."


"Iya Eka, gak apa - apa. Sudah takdirnya. Tidak ada yang perlu di salahkan. Kamu kok belum tidur, ini sudah jam 11 malam lebih?"


"Gak bisa tidur Mas, panas hawanya. Tidak ada Ac, hanya kipas kecil.


Bagaimana kabar mu..?


Kabarnya kamu di culik dan di bunuh."


"Aku baik - baik saja. Di culik itu hanya gosib saja."


"Aku sekarang cacat Mas, gak bisa jalan, gak bisa cari uang untuk keluarga. Kata dokter di Singapura... Tulang punggung ku patah. Aku harus minum obat terus.


Untuk sementara... Persediaan obat masih ada. Kalau obat habis, dari mana aku dapat uang untuk membelinya?"


"Aku yang belikan.


Apa tunangan mu masih setia menjenguk mu..?"


"Begitu tau aku di vonis cacat seumur hidup... Mas Pram tunangan ku membatalkan pernikahan dengan ku.


Dia tidak pernah menjenguk ku di rumah ini. Dia hanya sekali menjenguk di rumah sakit Harapan Bandung."


"Pram kerja dimana dia," tanya Panji.


"Dia Direktur PT Ayu kosmetik."


"Tunggu sebentar ya," kata Panji mengeluarkan Hp. Kemudian menghubungi Sekretaris Leni. Setelah terhubung,


"Halo... Siapa ini," tanya Leni sambil tidur.


"Aku Godfather."


"Iya Mas, iya Mas..!"


"Lagi tidur kamu?"


"Iya Mas, tadi pulang kerja jam 10 malam. Capek dan ngantuk sekali aku."


"Emang Wilda punya pabrik berapa kok sampai kamu pulang jam kerja 10 malam?"


"Punya 14 pabrik Mas."


"Banyak sekali pabriknya..?


Wilda gak pernah cerita ke aku.


Leni... Kamu tau siapa Direktur PT Ayu Kosmetik Bandung..?"


"Tau Mas, dia bawahan ku. Namanya Direktur Pramono orang Garut."


"Sekarang juga kamu pecat dia. Kamu telpon sekarang juga."


"Tetapi... Masalahnya apa Mas..? Salahnya dia apa..?"


"Dia telah menghina ku, suami pemilik perusahaan."


"Baiklah Mas, akan aku telpon sekarang juga. Dan aku tarik semua fasilitas perusahaan."


"Kerja yang bagus. Besok lusa, Nona Eka sekretaris PT Ayu Kosmetik kamu angkat menjadi direktur nya. besok kamu aku angkat menjadi presiden Direktur Jialing Group."


"Baiklah Mas."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam...


Bukankah sekretaris Eka itu di vonis cacat seumur hidup..?


Aneh Mas Panji ini."


"Masalah Pram sudah beres. Besok tinggal membuangnya ke tempat sampah.


Sekarang kamu aku obati biar kamu sembuh, dan besok kamu menjabat jadi direktur PT Ayu Kosmetik."


Setelah membuka baju Eka, dan membuat posisi Eka tengkurap... Panji mengoleskan minyak sambung ke punggung Eka. Setelah membaca Bismillahirrohmanirrohim, pelan - pelan Panji mengurutnya.


Selesai mengurut punggung Eka dengan minyak sambung... Panji mengurut kedua kaki Eka hingga ke pangkal paha.


Setelah itu... Panji mengurut kepala Eka yang botak.


Selesai mengurut semua tubuh Eka, Panji duduk di kursi, lalu menyulut rokok marlboro.


Tiba - tiba... Tubuh Eka terbalut cahaya putih beberapa menit. Setelah itu cahaya putih itu menghilangkan.


"Eka... Duduklah," perintah Panji.


Dengan ragu... Eka berusaha bangun dan kemudian duduk di atas ranjang. Melihat ke Keajaiban yang dialami nya... Eka langsung melompat dan mencium lutut Panji.


"Mas... Makasih ya."


"Eka... Pakai baju dulu."


"Iya Mas," sahut Eka kemudian mengenakan bajunya kembali.


"Mas... terrimakasih ya, kamu lelaki penuh keajaiban dari dulu."


"Iya sama - sama Eka.


Kamu jelek banget kepala mu botak, gak ada rambutnya..?" ☺🤭


"Itu ada wig, rambut palsu di lemari.


Sebentar aku ambil dulu."


Ting tung..!


Bel rumah Eka berbunyi.


"Selamat malam Buk...


Tuan Panji nya ada," tanya sekretaris Novi dan Naga Barat.


"Ada Non, silahkan masuk, pintunya tidak di kunci," ujar Mama nya Eka.


"Permisi Ya Buk," kata Novi kemudian duduk di atas keramik ruang tamu.


"Tuan Panji nya mana Buk..?


"Masih melihat Non Eka di kamar."


"Mama..!" kata Eka kemudian berjalan mendekati Mama nya kemudian memeluk Mama nya erat - erat.


Sambil menangis Mama nya Eka berdiri lalu memeluk Panji.


"Terimakasih ya Nak Panji..."


"Iya Buk sama - sama."


"Selamat malam Godfather. Ini pesanan Tuan Panji," ujar Novi kemudian mengeluarkan bingkisan dari kantong plastik.


Melihat Eka sembuh... Naga Barat dan sekretaris Novi keheranan.


"Eka... Mari kita makan malam bersama. Ini Novi beli makanan enak di restoran."


"Aku masak air dulu buat kopi."


"Bapak mana Buk," tanya Panji.


"Bapak lagi kerja Nak Panji."


"Emang kerja apa an Buk..?"


"Kerja jadi satpam di rumah seorang pengusaha. Jam 12 gini biasanya pulang Nak Panji."


"Emangnya sudah lama kerja jadi satpam..?"


"Sejak Eka sakit Nak Panji, Papa nya Eka kerja. Untuk menyambung hidup."


"Ini Mas Panji, kopinya, Mas Dany ini untuk kamu."


Sambil menikmati makan malam... Panji berkata,


"Naga Barat... Kamu umur berapa?"


"Umur 27 tahun Godfather."


__ADS_1


"Apa kamu sudah punya istri..?"


"Belum Tuan."


"Kamu aku nikahkan sama Non Eka mau gak..?"


"Saya terserah sama Tuan saja. Dulu saya hidup susah di jalanan...


Sekarang saya hidup enak berkecukupan, semua itu berkat pertolongan Tuan.


Jadi... Saya nurut sama Tuan, apa kata Tuan Panji saja."


"Baiklah, kamu dan Eka, aku nikahkan sirih malam ini juga. Bulan depan... Kalian bisa memeriahkan pesta pernikahan kalian."


"Baiklah Godfather."


"Assalamualaikum,",sapa apapa nya Eka,


"Kok ramai banyak tamu..?"


Melihat Eka berdiri... Papa nya langsung memeluk Eka sambil meneteskan air matanya.


"Alhamdulillah... Kamu telah sembuh."


"Ayoo Pak, kita makan bersama," ajak Panji.


"Terimakasih Mas, saya barusan makan."


Setelah makan bersama. Atas persetujuan kedua orang tua Eka... Malam itu Panji menikahkan Dany si Naga Barat dengan Eka.


Selesai akad nikah, Panji berkata,


"Naga Barat... Aku pesan, kamu jaga Eka dengan baik.


Eka kamu juga, kamu jaga suami mu dengan baik.


Hiduplah yang rukun, susah senang di tanggung bersama. saling jujur dan terbuka.


Muliakan dan bahagiakan kedua orang tua kalian.


Salah satu orang tua itu adalah mertua dan guru pembimbing kita."


"Baiklah Godfather."


"Eka... Sementara, perbanyak minum susu dan air putih, juga makan buah buahan. Biar tubuh mu segar kembali."


"Baiklah Mas Panji."


"Kalau begitu... Aku pamit pergi dulu ya.


Naga Barat... Kamu sementara tidur sini temani Eka istrimu. Rawatlah dulu hingga segar tubuhnya."


"Baiklah Godfather."


"Apa Godfather saya antar," tanya sekretaris Novi.


"Tidak usah Novi. Aku hendak ke Cirebon," kata Panji.


"Eka... Ini ada cek untuk mu. Besok kamu pasang Ac dan belikan perabotan rumah mu."


"Terimakasih ya Mas Panji...


Kamu sembuhkan aku, kamu kasih aku suami ganteng 😅 dan kamu kasih aku uang."


"Sama - sama Eka."


Setelah salim dan cium tangan, Panji mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


***


Setelah setelah berada di jalan perumahan, Panji membaca mantra ajian Lipat Bumi.


Setelah membaca mantra, sekali jangka, Panji sudah berada sebuah jalan setapak menuju Makam Syeh Abu Satin, di sebuah desa di kaki bukit Gunung Kromong, kecamatan Gempol kabupaten Cirebon.


Setelah berada di area makam... Panji memesan secangkir kopi lalu duduk di kursi agak lebar (amben) di bawah pohon belimbing yang agak gelap, karena belum ada penerangan lampu listrik.


Melihat Panji yang mengenakan celana levis pendek dan kaos oblong, seorang musafir berambut gondrong mendekati Panji, lalu menyapa,


"Monggo kang, ngopi," kemudian duduk di samping Panji.


"Silahkan kang, ini kopi saya."


"Saya Panji, dari Surabaya."


"Kang Panji baru datang ya..?"


"Iya Kang.


Ini barusan datang, langsung pesan kopi ini.


Kalau kang Musa sudah lama tirakat di Makam Syeh Abu Satin ini..?"


"Alhamdulillah sudah 2 bulan. Rencananya 100 hari disini.


Kalau kang Panji rencananya berapa lama di makam kyai Sundul Langit ini..?"


"Gak tau berapa lama di sini."


"Di makam Syeh Abu Satin alias Kyai Sundul Langit ini enak kang."


"Enaknya gimana kang Musa..?"


"Yaa Enak tempatnya, air nya melimpah dan segar. Makan ngopi murah. Ramai orang ziarah, banyak orang tirakat. Dan cepat di kabulkan hajatnya kalau riyadhoh disini."


"Apa kang Musa sudah bertemu sama kyai Sundul Langit," tanya Panji iseng, kemudian melepas kaosnya.


"Belum pernah bertemu sama kyai Sundul Langit. Hanya kadang melihat jin saja."


"Berapa lama kang Musa musafir, tirakat dari makam wali ke makam wali lainnya..?"


"Sudah ada kalau 7 tahunan kang."


"Apa yang di dapat kang Musa selama 7 tahun tirakat keliling makam para wali..?"


"Ya banyak kang. Pengalaman dan pelajaran kehidupan."


"Ketika kang Musa di makam wali, apa pernah di temui oleh wali tersebut..?"


"Tidak pernah kang Panji.


Untuk bertemu wali yang sudah wafat itu sangat sulit sekali. Hanya orang orang pilihan saja yang di temui."


"Apa kang Panji kalau ziarah di makam para wali... Apa wali tersebut menemui kang Panji," tanya Musa mulai kesal.


"Yaa pasti di temui kang.


Buat apa kita ziarah ke makam wali kalau tidak bertemu dengan wali tersebut. Itu sama saja kita di makam hanya melihat kuburan dan batu nisan.


Kalau hanya melihat kuburan dan batu nisan... Mending di kuburan umum desa kita sendiri, gak usah jauh - jauh."


Mendengar kata - kata Panji, Musa tersinggung dan menganggap Panji sombong.


"Yang tau wali itu ya wali. Berarti kamu secara tidak langsung menyatakan diri mu wali kang," sahut Musa.


"Tidak semua orang yang tau wali itu, seorang wali juga.


Coba jawab pertanyaan ku. Apakah Mbah Sunan Ampel dan Sunan Kalijogo itu Wali..?"


"Iya jelas Sunan Ampel dan Sunan Kalijogo itu wali," sahut Kang Musa.


"Kalau kang Musa mengetahui sunan Ampel dan Sunan Kalijogo itu wali... Apa kang Musa seorang wali..?


Banyak preman pemabuk pelacur mengetahui kalau sunan Ampel itu wali. Tetapi bukan berarti mereka wali.


Jadi... Yang tau wali itu tidak harus wali. Orang awam pun bahkan anak kecil pun bisa mengetahui keberadaan seorang wali."


Dengan rasa kesal, kang Musa manggut - manggut kemudian diam.


"Kang Panji... Gak dingin kok gak pake baju dan jaket. Kok malah telanjang hanya memakai celana pendek."


"Tidak kang. Kalau orang tirakat masih merasakan kedinginan... Itu tandanya belum sempurna tirakatnya," jawab panji sengaja mengoda kang Musa.


"Waduh..! Panji ini orang setres kayaknya," kata Musa dalam hati.


Sementara... Setelah dari masjid, jam 01 dini hari, Gus Sazuke berjalan menuju warung. Setelah memesan secangkir kopi, Gus Sazuke duduk di kursi amben depan warung.


"Assalamualaikum Gus," sapa beberapa orang yang hendak ke warung kemudian salim mencium tangan Gus sazuke.


Panji melihat Gus Sazuke yang duduk sambil menikmati secangkir kopi. Dan Panji melihat beberapa orang menghormati Gus Sazuke.


"Kang Panji... Kamu tau gak sama Gus yang duduk di depan warung itu," tanya kang Musa.


"Tau, dia pemuda yang bingung," jawab Panji enteng.

__ADS_1


"Bingung gimana maksudnya..?


Dia itu Gus Sasuke, putranya mbah wali Dimyati Cianjur. Kamu jangan asal ngomong. Semua orang yang tirakat di makam sini pada hormat dan sungkem.


Gus Sasuke itu mempunyai pondok pesantren yang besar. Santrinya ribuan. Kamu bilang pemuda bingung..!!! Ngawur saja!"


"Biar anaknya wali, biar punya pondok pesantren, biar punya santri ribuan. Semua itu tidak menjamin seseorang menjadi orang yang baik, yang berakhlak bagus. Tidak menjamin orang itu alim, dan tidak menjamin orang itu ahli ibadah bahkan ahli surga," ujar Panji santai.


"Kamu itu kang, belum tentu baik dari Gus Sazuke. Jangan berlagak seperti wali dirimu kang," ujar kang Musa.


"Ini Gus kopinya,x ujar penjual kopi kemudian meletakkan gelas di kursi banyang.


"Terimakasih Pak," sahut Gus Sazuke.


"Gus Sazuke..!" Panggil Panji.


Mendengar suara Panji... Gus Sazuke buru - buru mendekat.


"Assalamualaikum Gus," sapa Gus Sazuke kemudian salim dan mencium tangan Panji. Setelah itu Gus Sazuke berdiri sambil menundukkan kepala.


Melihat Gus Sazuke sungkem kepada Panji... Kang Musa sangat terkejut dan diam seribu basaha.


"Kamu bawah kesini kopi mu," kata Panji


"Baiklah Gus," jawab Gus Sazuke kemudian bergegas mengambil kopi lalu meletakkan di kursi amben.


"Gus Sasuke...


Kamu pijitin aku, badan ku rasanya capek semua," kata Panji kemudian tengkurap.


"Baiklah Gus," jawab Gus Sazuke kemudian duduk di samping Panji, lalu memulai memijit.


"Kang Musa... Minta minyak urut ke warung ya," kata Gus Sazuke.


"Sendiko dawuh Gus," jawab kang Musa.


"Sudah berapa lama kamu disini," tanya Panji.


"Sudah sebulan lebih Gus."


Diam - diam... Panji mengeluarkan sukmanya. Lalu sukma itu berjalan menuju makam Syeh Abu Satin dan duduk di depan makam,


"Assalamualaikum Syeh..."


Tiba - tiba, dari dalam makam bercahaya, lalu Syeh Abu Satin berjalan mendekati Panji.


Setelah salim dan sungkem cium tangan, sukma Panji duduk kembali.


"Gus... Aku beri tugas awal untuk mu. Lakukan dzikir Diatas Tirai di setiap kota di tanah Jawa, Bali dan Madura, untuk alam sekitarnya."


"Sendiko dawuh Syeh."


"Gus Sazuke sudah cukup dia tirakat disini. Surulah dia pergi ke makam Kyai Jabat selama 40 hari, dan ke makam Syeh Abdul Jalil Lebak Banten. Kemudian suruh dia berguru kepada Syeh Wasik al Blambangani selama setahun."


"Sendiko dawuh Syeh."


"Pergilah, mulailah dari kota ujung kulon pulau jawa."


"Sendiko dawuh Syeh," jawab sukma Panji kemudian salim cium tangan lalu sukma itu pergi dan masuk kembali ke jasad Panji yang sedang pijat.


Jam 03 dini hari, Panji berkata,


"Gus Sazuke... Mari ikut aku, ambil tas mu."


"Baiklah Gus."


Setelah mengambil tas, Gus Sazuke mengikuti Panji berjalan di jalan setapak, kemudian tubuh Panji terbungkus cahaya dan menghilang. Begitu pun Gus Sasuke dengan cepat mengejar Gus Panji yang berjalan mengunakan ilmu Lipat Bumi.


Dalam hitungan detik, Panji dan Sazuke sudah berada di makam kyai Jabat.


"Gus Sazuke... Tirakat lah di makam kyai Jabat ini selama 40 hari. Setelah selesai, kamu tirakat di makam syeh Abdul jalil Al Qurtubi Lebak Banten, selama 40 hari. Setelah itu, temui Syeh Wasik di dasar laut Berlambang kabupaten Banyuwangi."


"Baiklah Gus."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Baiklah Gus," jawab Gus Sazuke kemudian salim dan mencium tangan Panji.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab Gus Sazuke.


***


Setelah meninggalkan makam kyai Jabat, Panji berjalan dengan cepat menuju Losmen Batu Hiu.


Setiba di halaman losmen, seorang satpam menyapa,


"Selamat pagi Tuan..."


“Pagi juga Pak," jawab Panji kemudian memasuki restoran, lalu memesan nasi goreng daging sapi, dan secangkir kopi juga air putih.


Sambil menunggu pesanan, Panji menelpon sekretaris Dafa. Setelah tersambung.


"Selamat pagi Tuan Godfather," sapa Dafa mendahului bicara.


"Pagi juga sekretaris Dafa.


Sekretaris Dafa, aku baru ingat. Dulu Wilda istri ku telah membangun yayasan di jakarta. Apa pembangunan yayasan itu sudah selesai..?"


"Sudah Godfather. Baru selesai 3 bulan yang lalu. Tiga rumah di samping yayasan juga sudah selesai."


"Nanti kamu pasang plakat tulisan yayasan kyai Jabat."


"Baiklah Godfather."


"Besok sore kamu resmikan."


"Baiklah Godfather.


Apakah harus mengundang kyai Nuruddin dan ke empat sahabat Tuan, seperti pesan Tuan dulu..?"


"Iya Tuan Dafa.


Tolong ketiga rumah itu kamu isi perabotan. Juga belikan mobil dan motor. Lalu kamu buatkan nomer rekening, dan beri uang untuk ke 4 sahabat ku. Karena ke 4 orang itu yang akan menjadi pengurus yayasan kyai Jabat."


"Baiklah Godfather.


Nanti siang saya akan ke pondok pesantren Meteor Garden, menjemput kyai Nuruddin, dan sahabat Tuan.


Masalah di Jakarta biar sekretaris Novi yang mengurusnya."


"Baiklah kalau begitu.


Jika di tanya kyai Nuruddin, bilang aku lagi sibuk."


"Baiklah Tuan."


"Premisi Tuan Panji. Ini pesanan Tuan," kata pelayan sambil meletakkan nasi goreng di meja.


"Mas... Tolong pesankan kamar untuk ku ya..? Bawa sini kunci kamarnya."


"Baiklah Tuan."


Kring..!


Hp Panji berdering. Setelah terhubung,


"Assalamualaikum say..."


"Waalaikumsalam," jawab Maya, "Kakak kok belum tidur..?"


"Ini lagi sarapan sambil menunggu adzan Subuh. Kamu kok sudah bangun..?"


"Iya, tidurnya tadi jam 9 malam. Jadi jam 04 aku terbangun.


Kakak dimana..?"


"Lagi di Kabupaten Banten, ada tugas dari guruku."


"Kakak kapan pulang..? Aku kangen sekali."


"Besok Kakak pulang ya?"


"Iya Kak.


Kak... Aku kepingin jalan - jalan ke kota Mekkah. Aku ingin sekali lihat ka'bah."


"Beli saja poster gambar ka'bah. Lalu kamu lihatin."


"Ah Kakak ini, aku pinggin lihat yang aslinya."


"Iya, iya, besok kita pergi ke kota Mekkah. Kakak makan dulu ya?"


"Iya Kak," jawab Maya kemudian menutup telponnya.


"Repot kalau punya istri ngidam nya aneh - aneh. Masak ngidam pinggin lihat ka'bah di Mekah..?"

__ADS_1


Adzan Subuh terdengar dari masjid seberang jalan. Setelah membayar di kasir, Panji bergegas ke kamar losmen dan melaksanakan solat Subuh.


__ADS_2