
Setelah menaruh barang belanjaan nya di kamar, Panji kembali lagi jalan jalan menelusuri trotoar. Tak jauh dari losmen... Panji akhirnya menemukan keberadaan Cafe SAS, lalu Panji masuk dan duduk di kursi paling pojok yang terletak di teras cafe.
"Selamat Sore Mas... Mau pesan apa? Silahkan, ini buku panduan menu," kata pelayan laki - laki sambil menyodorkan buku menu.
"Mas, Devi nya kerja apa libur," tanya Panji.
"Devi masuk kerja Mas, dia masuk sif 2, jam 3 tadi Devi baru datang," jawab pelayanan.
"Aku pesan kopi spesial saja ya? Tetapi suruh Devi yang antar kesini," kata Panji.
Melihat seorang pemuda dengan jas di badannya lagi berdiri di samping pintu... Panji berdiri lalu mendekat,
"Selamat Sore Mas... Apakah Mas ini menejer cafe SAS?"
"Selamat Sore juga," ujar pemuda itu,
"Iya benar, apa ada yang bisa saya bantu Mas?"
Saya mau minta izin ngobrol dengan Devi pegawai cafe ini, saya ingin ngobrol 1 atau 2 jam saja," kata Panji,
"Masalah denda Devi... Saya akan bayar."
"Baiklah Mas, silahkan," kata Manejer cafe.
Tak lama kemudian Devi muncul lalu berkata,
"Hai, Mas Panji... Sendirian aja. Ini kopinya. Mana Wilda?!!"
"Duduklah Devi," ujar Panji.
"Iya Mas, tadi Manejer ku sudah kasih izin," kata Devi, kemudian duduk menghadap Panji.
"Kamu gak minum? Aku pesankan ya," ujar Panji.
"Gak usah Mas," kata Devi,
"Mas Panji kok sendirian saja, kok gak sama Wilda?"
"Aku ingin jalan - jalan sendirian Dev. Lagian... Aku dan Wilda hanya sekedar teman saja, tidak ada hubungan spesial," ujar Panji,
"Devi... Apa kamu gak tau tempat kos yang agak bagus, dan nyaman tempatnya?"
"Hemmm, sebentar!!
Di belakang pas Hotel Atlanta depan sana ada kayaknya. Dari sini jalan kaki kira - kira 5 menitan-lah. Coba kamu cek kesana, ada kamar kosong apa tidak," jawab Devi,
"Tetapi yaa itu... Yang kos kebanyakan purel, wanita penghibur dan pegawai Hotel kayaknya. Dulu temen aku pernah kos di sana."
"Baiklah, habis ini aku akan kesana, barangkali ada yang masih kosong," ujar Panji.
"Mas Panji, aku terimakasih banget yaa, kemaren telah di belikan baju dan celana," kata Devi.
"Iya sama - sama Dev. Apakah kamu itu berteman dekat dengan Wilda," tanya Panji.
"Dekat sekali sih enggak, hanya sebatas teman kos saja.
Wilda kamar 9, kalau aku tinggal di kamar 12. Ada apa Mas," kata Devi.
"Bisakah Devi bercerita sedikit tentang pribadi Wilda," tanya Panji.
"Kalau Wilda itu... Orangnya baik sih, menurutku," ujar Devi,
"Dia... Orangnya jujur bicara apa adanya dan asal nyeplos saja kalau ngomong.
Semenjak orang tuanya bercerai... Wilda tidak terurus dan frustasi, lalu agak sensitif dan tidak suka di ataur. Dia anak pertama dari 3 bersaudara, yang semuanya cewek.
Kadang... Wilda curhat sama aku sih mas. Curhatnya masalah ekonomi. Sejak ibunya bercerai... Ibunya harus menanggung sendiri kebutuhan hidup adik - adiknya, lalu ibunya kerja sebagai tukang cuci dan bersih - bersih rumah di kampungnya. Karena Wilda malu... Akhirnya dia putus sekolah, lalu merantau ke Jakarta, dan kerja di sebuah Bar.
Biasanya Wilda itu pulang ke Sukabumi sebulan sekali Mas. Dia pulang untuk memberi uang ibunya dan menjenguk adik - adiknya.
Wilda pernah cari kerja yang lebih baik, tetapi... Bayarannya tidak cukup untuk membantu meringankan beban ibunya. Akhirnya, yaaa terpaksa Wilda kerja di sebuah Bar dan kadang Wilda menemanin tamu tidur di sebuah kamar Hotel."
"Oh... Gitu ya," ucap Panji,
"Baiklah Dev, aku mau ke kos - kossan yang ada di belakang Hotel Atlanta, mau tanya barangkali ada kamar yang kosong."
"Iya Mas Panji, hati - hati di jalan ya," ucap Devi,
"Kalau ada yang kosong... Kabari aku, entar aku main kesana, ok!!"
"Siap!!" ujar Panji,
"Dev, kalau kamu libur, jalan - jalan yaa sama aku," ujar Panji,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Tak seberapa lama menelusuri trotoar... Panji melihat Hotel Atlanta di seberang jalan, lalu Panji masuk ke sebuah gang dan berhenti di sebuah kos - kossan yang berjejer - jejer.
"Permisi Mas," tanya Panji kepada seseorang yang berada di kos - kossan,
"Apakah ada kamar kos - kossan yang kosong di sini?"
"Kayaknya ada Mas, soalnya... Kemarin ada yang pindah, tetapi di ujung sana tuh, coba tanya Mbak - Mbak yang lagi ngumpul itu," jawab seorang cowok.
"Baiklah, terimakasih Mas," kata Panji.
Setelah berjalan beberapa meter... Panji bertanya,
"Mbak... Mau tanya, apa ada kamar kos yang kosong?"
"Ada, Abang ganteng... Tuh paling pojok kosong,"Kata si Mbak purel,
"Kemarin orangnya pindahan... Tetapi hati - hati loh Bang, itu kamar keramat, paling lama juga dua bulan, terus pindah."
__ADS_1
"Bisa di tempati sekarang Mbak," tanya Panji.
"Bisa Mas Ganteng, nanti tiap bulan Bapak kos datang kemari, narik uang kos. Sebulan 7500 rupiah," jawab Mbak purel,
"Itu kuncinya tergantung di paku, di atas pintu."
"Makasih yaa Mbak, saya permisi dulu," kata Panji kemudian menuju kamar kos barunya.
Setelah masuk ke dalam kamar kos, Panji melihat - lihat.
"Lumayan besar," kata Panji dalam hati,
"Kamar mandi ada di dalam, ada dapur, ada teras kamar.
Repot juga kalau kos di sini, harus beli tikar buat alas tidur.
Harus beli bak, buat cuci baju dll. Lebih baik aku balik ke losmen dulu, mengambil baju dan pindah sini saja."
Setelah menelusuri trotoar, dan berada di kamar losmen, Panji melunasi administrasi, lalu menjumpai Adi, dan berkata,
"Adi, aku titip amplop ini untuk Wilda yaa... Aku sudah tidak tinggal di losmen lagi. Assalamualaikum."
"Iya Mas Panji, nanti akan aku sampaikan," jawab Adi,
"Waalaikumsalam."
Malam itu... Panji berada di kamar kos barunya.
setelah menaruh beberapa stel baju dan tas, Panji merebahkan badan di atas lantai keramik berbantal lengan.
Kehadiran Panji yang kos menempati kamar pojok, menjadi perhatian beberapa penghuni lama, karena, kamar pojok yang di tempati Panji itu terkenal dengan kamar keramat atau kamar yang angker, kamar itu sering kosong. Kalau pun ada yang menempatinya... Itu pun bertahan 1 sampai 2 bulan.
Perutku lapar sekali, ternyata aku baru ingat kalau seharian ini aku belum makan. Lebih baik makan di cafe SAS saja dekat sini, mumpung Devi belum pulang," gumam Panji kemudian beranjak pergi.
Setelah menelusuri trotoar beberapa menit, Panji pun menyeberang jalan dan masuk halaman cafe.
"Hai Mas Panji..! Mau ke cafe," seru Devi.
"Iya Devi, kepingin makan nieh, lapar," jawab Panji,
"Ayoo temani aku. Kamu sudah pulang kerja kan?"
"Iya Mas, jam kerja habis, sekarang ganti sif 3, sif Malam," kata Devi,
"Baiklah, aku temenin kamu, aku juga tidak ada acara kok."
"Baiklah, mari," ajak Panji lalu melangkah.
Tak lama kemudian... Sambil menikmati nasi goreng spesial, Panji ngobrol santai dengan Devi.
"Aku sekarang tinggal di kos - kossan gang buntu, di belakang Hotel Atlanta," ujar Panji.
"Loh, kok cepat Mas," tanya Devi.
"Iya tadi kan aku ke sana, pas ada kamar kosong, langsung aku tempati," kata Panji,
"Baiklah Mas Panji, besok kan aku masuk malam, agak siang dikit, entar aku main ke tempat kos mu," ujar Devi.
"Di cafe SAS ini enak yaa, untuk nongkrong santai, apalagi di teras samping atau depan, nyaman sekali," kata Panji.
"Iya Mas Panji, kalau malam banyak kalangan pengusaha juga anak - anak orang kaya yang suka nongkrong di sini hingga menjelang subuh," kata Devi.
Tiba - tiba terdengar kelakson mobil mewah yang hendak parkir.
Panji dan Devi pun terkejut mendengar suara klakson, lalu melihat halaman parkir.
Tak lama kemudian... Seorang gadis remaja berparas cantik bermata agak sipit berjalan menuju teras cafe, kemudian duduk tak jauh dari meja Panji.
"Cantik amat itu gadis," kata Panji pelan.
"Gadis itu adalah pelanggan sini Mas Panji, biasanya suka datang malam hari antara jam 7 jam 10 an," ujar Devi,
"Gadis itu biasanya di kawal oleh beberapa pengawal."
"Hemmmm, gitu yaa," ucap Panji.
"Kabar kabarnya... Menurut pegawai sini, dia adalah putri tunggal pengusaha kaya raya di Jakarta," kata Devi,
"Kayaknya dia orang Cina kalau gak orang Korea. Aku juga dua kali pernah ketemu dia di Diskotik Rolex pada hari sabtu malam minggu."
"Oh iya! Edi itu pacar kamu ya dev," tanya Panji.
"Enggaaaak, dia temen nongkrong aja, tidak ada hubungan spesial sama Edi," kata Devi,
"Edi dulu sering nongkrong ngopi di cafe sini, lalu kenal sama aku, dan akhirnya jadi teman main. Dari Edi lah aku mengenal dunia malam hahaha, jadi hancur deh hidup ku.
Dari gadis baik - baik... Akhirnya diriku terjerumus narkoba hingga sampai ketagihan. Alhamdulillah sekarang sudah berkurang jauuuuh. Hanya kadang - kadang aja kalau lagi galau. Yaa, dugem sambil menikmati narkoba.
Beginilah Mas Panji, hidup di Jakarta, yang notabenya sebagai ibu kota. Segalanya ada, pergaulan bebas, uang yang di Tuhankan.
Hemmmm, Mas Panji kayaknya sudah terbiasa dugem yaa? Anak Surabaya gak kaget, hahaha."
"Iya dulu waktu sekolah SMP," ujar Panji,
"Di surabaya ada diskotik yang buka siang hari.
Nanti Malam minggu, kalau kamu libur kerja kita nongkrong ke diskotik Rolex."
"Boleeeh, pokok nya Mas Panji yang traktir semuanya," kata Devi.
Sambil menikmati minum bersama dua temannya... Aini memperhatikan Panji dari tempat agak jauh.
"Bukan kah yang ngobrol bersama seorang gadis itu Panji..? Pemuda yang waktu ngeflay berat di diskotik Rolex? Mengapa dua kali aku kebetulan ketemu dia ya?!!
Dan Mmngapa sejak bertemu Panji, aku tertarik kepadanya? Aneh diriku ini, ada apa?
Lebih baik aku samperin ajah," ujar Aini lirih, kemudian melangkah mendekati meja Panji.
__ADS_1
"Selamat Malam," ucap Aini.
"Malam juga Mbak," jawab Devi dan Panji.
"Kalau boleh tau... Apakah kamu bernama Panji," tanya Aini.
"Iya benar, aku Ahmad Panji Hening.
Ada apa ya Non?"
"Apa Mas Panji masih ingat sama aku," tanya Aini.
"Hemmm, gak ingat, siapa kamu?!" jawab Panji.
"Apa Mas Panji masih ingat menerima susu beruang yang aku beri di dalam diskotik Rolex," tanya Aini.
"Silahkan duduk Mbak," seru Devi sambil menarik kursi.
"Terimakasih Mbak," kata Aini kemudian duduk.
"Iya iya... Aku ingat. Aku kemarin malam minum susu beruang di dalam diskotik. Tetapi... Aku tidak ingat siapa yang memberinya," kata Panji.
"Yang memberi mu susu itu aku Mas Panji, yang membawah mu masuk kamar mandi juga aku," kata Aini.
"Ooh... Gitu ya," ucap Panji,
"Kalau begitu aku mengucapkan terimakasih atas perhatiannya. Kalau boleh tau, siapa nama Non ini?"
"Namaku Aini.
Mas panji di mana rumahnya?"
"Rumah ku Surabaya, di sini aku kos di gang buntu belakang Hotel Atlanta," jawab Panji.
"Mas Panji, aku balik ke kos dulu yaa? Mau istirahat," ujar Devi,
"Besok pagi aku ke tempat kos mu Mas, jam - jam 9 lah.
Da dah..."
"Ok dev, terimakasih yaa, di temani makan malam," kata Panji.
"Itu pacar Mas Panji," tanya Aini.
"Bukan, dia Devi temen aku," kata Panji kemudian menyulut rokok,
"Aini, pengawal mu mengawasi kamu terus, kayaknya mereka takut kalau kamu di culik, hahaha."
"Yaaa, begitulah mereka, selalu mengawasi ku. Emang udah kerjanya sih Mas. Mereka itu orang - orang suruhan Papa ku," kata Aini.
"Kamu masih sekolah apa kuliah," tanya Panji.
"Aku masih sekolah SMA kelas 2," jawab Aini,
"Kalau kamu... Masih sekolah apa gimana?"
"Aku gak sekolah, lulus SMP langsung ke Jakarta," kata Panji.
"Mas Panji kerja apa di Jakarta ini," tanya Aini.
"Gak kerja, nganggur," jawab Panji.
"Terus... Dapat duit dari mana," tanya Aini heran.
Dari di kasih orang," jawab Panji,
"Alhamdulillah masih ada uang nya. Kalau buat makan saja dan kebutuhan sehari - hari, ada lah, cukup pokoknya."
"Kalau Mas Panji ingin kerja... Telpon aku saja yaa? Ini kartu nama ku," ujar Aini sambil menyodorkan kartu nama.
"Kerja apa Non," tanya Panji.
"Terserah Mas Panji mau kerja apa," kata Aini,
"Papa ku punya Mall, punya beberapa pabrik, juga proyek pengembang dan banyak lagi."
"Iya Non, nanti kalau aku butuh kerjaan, nanti aku telpon," ujar Panji,
"Mengapa kamu malam - malam begini keluyuran, main di cafe, kok tidak belajar di rumah. Kan besok sekolah?"
"Di rumah gak beta ajah Mas," kata Aini,
"Papa Mama ku orang super sibuk dengan bisnisnya. Mereka jarang di rumah. Jadi... Aku tinggal di rumah besar dan mewah sandirian saja.
Dari pada kesepian... Mending aku jalan - jalan nongkrong di cafe kadang diskotik, Mall. Teman ku hanya pengawal dan kesedihan."
"Berarti... Kamu kurang kasih sayang," kata Panji,
"Mengapa kamu mau mendekati ku dan ngobrol dengan ku? Apa gak takut sama aku?"
"Yaaa, ingin saja ngobrol dengan mu," kata Aini,
"Waktu pertama kali bertemu dengan mu di Diskotik Rolex... Ada perasaan senang di hatiku. Aku lihat, dirimu sangat bahagia sekali dan menikmati dentuman Hous Musik.
Mas Panji, boleh gak aku main ke tempat kos mu?"
"Boleeeh, silahkan kapan saja, bebas," kata Panji,
"Tetapi... Kalau bisa jangan bawah pengawal ya? Bisa kacau nanti, hahaha.
Kayaknya gak ada tempat buat parkir mobil."
"Iya gampang itu Mas, bisa di atur," kata Aini.
"Aini, aku mau balik dulu yaa, mau istirahat," ujar Panji.
"Ok Mas, hati - hati di jalan yaa? Eeh, apa mau aku antar pakai mobil," ujar Aini.
__ADS_1
"Gak usah, kan dekat sini," kata Panji kemudian melangkah.