SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PITUTUR PANJI


__ADS_3

Setelah ngobrol dan berbagi kebahagian... Panji pun pamit,


"Kyai... Saya mau pamit ke pondok dulu untuk bertemu dengan kang Subur.


Ini ada uang 200 juta.


Yang 100 juta untuk pembangunan pesantren, yang 100 juta untuk kyai. Barangkali kyai mau beli mobil untuk bepergian."


Mendengar kata - kata Panji... Sang kyai sangat terkejut sekali, lalu berkata,


"Dari mana kang Panji mempunyai uang sebanyak ini..?"


"Saya mempunyai perusahaan kyai, jadi ini uang dari hasil kerja saya. Semua ini adalah varokah doa dari kyai, makanya saya tidak akan pernah melupakan kyai sekeluarga.


Nanti...


Peresmian yayasan, saya harap kyai hadir untuk memberi sambutan dan doa.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, baiklah kang Panji," jawab Kyai Nuruddin.


***


Adzan Magrib terdengar berkumandang di musolla, para santri pondok pesantren Meteor Garden satu persatu berkumpul di musolla.


Panji pun bergegas mengambil air wudhu lalu ikut solat berjamaah.


Pada rokaat pertama berjalan lancar.


Tiba - tiba, "Hahahaha..!"


Pada rokaat kedua... Panji yang berada di sof belakang tertawa terbahak - bahak melihat isi otak kang Soleh yang menjadi imam solat Magrib.


Suara tertawa Panji yang ranying membuat para jamaah solat Magrib terganggu.


Setelah solat Magrib... Para santri yang berjamaah saling tengok ingin tau siapa yang tertawa ranying saat solat.


Setelah selesai dzikir dan berdoa... Para santri membubarkan diri lalu pergi ke rumah kyai Asbak rutinan membaca surat yasin setiap malam jumat.


"Panji..! Kapan datang, kok tiba - tiba tertawa di saat solat Magrib.


Bikin kacau saja kamu ini hahaha," ujar kang Subur sahabatnya.


Sambil berjalan keluar musolla, kang Soleh melihat beberapa santri nakal di teras musolla, lalu berhenti dan bertanya,


"Siapa yang tadi pas waktu solat tertawa terbahak - bahak..?"


"Ini ustadz orangnya, kang Panji alumni pondok yang tertawa," jawab kang Ujang sambil tersenyum.


Sambil duduk di depan Panji... Ustad Soleh berkata,


"Panji..! Kamu itu, dari dulu sering buat kacau di pesantren.


Mengapa kamu tertawa terbahak - bahak di saat solat berjamaah..?


Itu sama saja kamu melecehkan ibadah solat!


Kamu tau..? Solat itu menyembah Allah, berarti kamu juga telah melecehkan Allah."


"Karena lucu ustadz, jadi aku tidak bisa menahan tawa," jawab Panji.


"Apanya yang lucu, orang solat kok lucu," tanya Kang Soleh.


"Bener ustad pingin tau," ujar Panji,


"Gak menyesal kalau aku beri tau..?"


"Apanya menyesal, ayo katakan apanya yang lucu dalam solat barusan," seru kang Soleh.


"Baiklah.


Sebenarnya, yang melecehkan solat itu ustadz Soleh sendiri.


Bukan aku yang tertawa," ujar Panji.


"Kok bisa, coba jelaskan..!"


"Waktu solat pada rokaat pertama... Aku melihat otak kang Soleh berangan - angan, berpikir ingin menjadi kyai dan mempunyai pesantren juga ingin mempunyai banyak santri.


Aku diam saja," ujar Panji,


"Pada rokaat kedua...


Ustadz soleh berangan - angan memikirkan tidur di kamar bersama calon istri ustadz.


Pas ustadz berangan - angan mencium perempuan itu... Aku jadi tertawa terbahak - bahak.


Kira - kira betul gak ustadz apa yang aku katakan..?"


Mendengar ucapan Panji... Ustad Soleh langsung terbelalak kaget, hatinya langsung terkejut, dan diam saja.


"Bagaimana bisa seorang Panji yang masih remaja mengetahui dan bisa membaca isi pikiranku" ujar ustadz Soleh dalam hati.


"Ya sudahlah, kalau malu... Ustadz slSoleh gak usah men jawab," ujar Panji,


"Karena di sini ada kang ***** kang Ujang dan kang Salim.


Kalau ustad soleh kepingin punya pondok pesantren... Ustad bisa menemui saya, Insallah saya bisa bantu mewujudkan cita - cita ustadz Soleh.


Aku permisi dulu ustadz, aku mau ngopi barsama teman karib ku dulu.x


"Baiklah Panji, nanti aku susul. Sekarang malam jumat aku mau rutinan dulu di rumah kyai Asbak."


*


Di warung belakang Pesantren.


Sambil menikmati secangkir kopi hitam dan kepulan asap rokok... Panji berbagi cerita bersama sahabat nya.


"Kang Subur, kang Salim, kang Ujang... Tadi aku sudah bilang sama kyai Nuruddin, dan kyai telah menyetujui nya.


Insallah, kalian akan aku bawa ke Jakarta, untuk mengurus Masjid dan mengajar ngaji Al qur'an, juga meramaikan masjid dengan kegiatan seperti istiqosah, semak an qur'an dll.


Nanti kalian akan mendapat gaji bulanan. Aku juga akan membelikan rumah untuk kalian bertiga.


Agar kalian bisa istirahat dan fokus dalam mengurus Masjid," ujar Panji.


"Panji... Jangan lupa aku di belikan motor ya, untuk transformasi, hahaha," ujar kang Ujang.


"Iya...


Semua kebutuhan kalian akan aku penuhi.


Motor, mobil rumah dan perabotan aku belikan.


Pokoknya kalian bantu yayasan, dan tugas utama kalian ngurus masjid.


Masalah imam solat kalian atur sendiri, yang penting masjid jangan sampai sepi dan mati," ujar Panji.


"Kamu ini beneran apa bercanda iseng," tanya kang Salim.


"Beneran.

__ADS_1


Insallah dalam bulan ini akan ada yang menjemput kalian.


Oh iya, sudah jam 9 malam, aku mau balik dulu ya," kata Panji.


"Mau balik kemana kamu, gak tidur pondok saja," tanya Kang Salim.


"Mau balik ke losmen.


Oh iya, berikan nomer telpon ini kepada Irmala.


Bilang suruh menelpon ku, penting," ujar Panji.


Setelah saling berpelukan... Panji berjalan menuju arah makam kyai Jabat Al Fattah.


Setelah Panji pergi... Kang Soleh datang dan bertanya,


"Kang ujang, Panji di mana..?"


"Panji barusan pergi ustadz, dia berjalan lewat jalan makam kyai Jabat," jawab Kang Ujang.


"Baiklah, terimakasih," ujar ustadz Soleh kemudian buru - buru menyusul Panji.


Baru saja Panji duduk di samping makam, tiba - tiba terdengar uluk salam,


"Assalamualaikum kang Panji..."


"Waalaikumsalam.


Eeee... Ustadz soleh, silahkan duduk."


Setelah berdiri di depan Panji, ustad Soleh menyalami tangan Panji, lalu dengan cepat ustadz soleh mencium tangan Panji.


Dengan rasa kaget... Panji membiarkan tangannya di cium oleh ustadz Soleh.


"Gus... Saya minta maaf atas kejadian solat Magrib tadi, yang mana tadi saya memarahi kamu," ujar kang Soleh,


"Apa yang gus bilang tadi benar dan saya mengakuinya.


Saya mengakui kalau Gus Panji seorang waskito.


Kalau boleh dan tidak keberatan... Saya ingin menjadi murid Gus Panji. Semoga Gus Panji mau menjadi guru pembimbing saya."


"Sudahlah ustadz Soleh, lupakan kejadian tadi.


Duduklah sini, kita ngobrol dan saling bertukar pendapat.


Bukankah ustadz Soleh ini ahli kitab, istiqomah dalam berdzikir juga istiqomah solat malam.


Tidaklah pantas menjadikan aku anak remaja yang tidak bisa baca kitab kuning menjadi guru pembimbing ustadz.


Aku juga jarang solat malam, jarang berdzikir juga jarang solat 5 waktu," ujar Panji,


"Jadi... Carilah guru pembimbing yang ahli ibadah juga seorang Wali."


"Gus... Ada orang tua yang ilmunya masih anak - anak.


Ada anak - anak yang ilmunya sangat tua," kata Kang Soleh,


"Dulu...


Sejak pertama kali saya ngobrol dengan Gus Panji, hati saya berkata bahwa Gus Panji adalah anak remaja yang mempunyai ilmu yang tua.


Banyak kekeramatan Gus Panji yang saya lihat. Hanya saja ego saya terlalu tinggi, hingga memandang Gus Panji santri bodoh dan nakal.


Sekali lagi... Saya minta maaf sepenuh hati."


"Kekeramatan apa yang ustadz soleh lihat dari ku...?


Perasaan ku....Aku hanya Santri Mbeling saja, santri nakal."


"Waalaikumsalam," jawab Panji kaget,


"Ah nenek ini bikin kaget saja."


"Ini Gus, kopi dan sukun goreng kesukaan mu," ujar Nenek Sa'adah kemudian meletakkan talam berisi teko dan dua piring gorengan.


"Gus... Aku permisi dulu ya," ujar Nenek Sa'adah,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Nek...


Terimakasih Nek," kata Panji,


"Ustadz... Silahkan di minum kopinya, ini juga ada sukun dan pisang goreng."


"Siapa itu Gus, yang mengantar kopi ini," tanya kang Soleh.


"Beliau adalah Nenek Sa'adah, rumah nya di depan sana ustadz," jawab Panji berbohong.


"Gus... Bagaimana Gus bisa mengetahui apa yang saya pikirkan saat saya solat Magrib tadi," tanya kang Soleh.


"Sebenarnya aku tidak tau ustadz, hanya saja... Gusti Allah yang memberi tau, akhirnya aku mengetahui nya," ujar Panji.


"Bagaimana caranya agar Allah itu selalu memberi tau kita tentang hal hal Goib..? Hal - hal yang samar," tanya kang Soleh.


"Ridho Allah itu ada 3




Ridho umum.


Ridho umum ini di berikan kepada semua makhluk ciptaan-Nya.


Baik itu mahluk berupa bernama manusia jahat atau baik.


Walaupun orang itu suka berbuat maksiat dan dosa... Allah tetap meridhoi-Nya.


Tanpa Ridho Allah... Alam semesta ini tidak ada," jawab Panji,


"2. Ridho Khusus.


Ridho yang di berikan kepada orang - orang yang beriman, orang yang taat beribadah dan berbuat kebaikan di alam Jagad ini.




Ridho Agung.


Ridho Agung ini adalah di berikan kepada orang - orang pilihan, atau orang terpilih.


Juga di berikan pada seorang Hamba.




Jika ustadz ingin mengetahui hal - hal yang goib... Atau ingin mengetahui perkara yang samar, Ustadz harus mendapatkan Ridho Agung ini."


"Subhanallah...

__ADS_1


Baru tau saya kalau ridho Allah itu ada 3," kata kang Soleh,


"Gus... Apa yang di maksud dengan orang - orang pilihan dan orang - orang terpilih.


Lalu...


Bukan kah kita semua ini Hamba Allah..?"


"Orang - orang pilihan itu adalah,


orang yang di tarik oleh Allah untuk menjadi kekasih Nya, atau pemaksaan Allah, orang + orang yang di paksa oleh Allah untuk menjadi kekasih Nya.


Tidak perduli dia orang bejat, orang pendosa orang ahli Maksiat, orang beragama apa saja.


Kalau Allah berkehendak... Maka orang itu akan di pilih," jawab Panji,


"Orang - orang terpilih adalah...


Dialah orang yang ahli tirakat, ahli dzikir ahli ibadah juga ahli kitab atau ahli ilmu.


Dia juga orang yang selalu berbuat kebaikan.


Orang ini juga bisa orang ahli Torekot juga ahli ilmu Makrifat.


Tetapi... Orang di antara orang model ini, dia yang amal ibadahnya paling baik, itulah yang terpilih."


"Berarti... Orang yang ahli torekot dan makrifat, juga orang ahli ibadah bukan jaminan dekat dengan Allah ya Gus..?"


"Iya ustadz.


Karena... ***** itu samar.


Jadi... Kebanyakan ibadah manusia itu ada sebab dan permohonan, itulah yang menjadi penghalang bagi orang ahli ibadah dengan Tuhannya.


Kadang... Orang ahli ibadah itu Merasa.


Merasa inilah yang menutup hijab di hatinya.


Apalagi, ketika berdoa... Banyak ahli ibadah itu mengatur Allah Tuhan sesembahan-nya.


Mereka juga memaksa Allah.


Padahal... Mengatur ulama itu perbuatan dosa, apalagi mengatur Allah."


"Bagaimana bisa orang berdoa itu di katakan mengatur Allah, dan memaksa Allah, Gus..?"


"Allah adalah Dzat yang Maha memberi tanpa di minta. Allah juga Maha Tau, mengetahui kebutuhan hamba - hambanya.


Setiap detik... Allah itu memberikan rejeki berupa apa saja.


Tetapi, banyak orang ahli ibadah, ahli torekot, ahli kitab juga ahli tirakat dan makrifat Su'udzon dan meragukan sifat welas asihNya Allah.


Sampai mereka memaksa dengan doa - doanya.


Ya Allah....Limpahkan rejeki atas kami sekeluarga.


Ya Allah... Kabulkan lah semua hajat kami.


Ya Allah... Berikanlah kemudahan dalam segala urusan kami.


Doa model begini lah yang tidak di sadari oleh ahli ibadah, bahwa ucapannya itu mengatur Allah, memaksa Allah.


Inilah sebabnya mereka yang terbaik... Dia akan di pilih oleh Allah untuk menjadi kekasih Nya.x


"Berarti... Manusia tidak boleh berdoa memohon rejeki Gus.


Sedangkan Nabi sendiri berdoa..?"


"Bagi orang awan, boleh berdoa minta apa saja, bahkan Nabi pun mengajarkannya.


Tetapi... Bagi orang yang ahli ibadah yang makomnya di atas orang awam, dan ingin menjadi kekasih Nya... Lain cara berdoanya.


Kalau kanjeng Nabi itu adalah milik umat, Beliau berdoa itu memberi contoh bagi semua umat."


"Kalau Hamba itu apa maksudnya Gus..?"


"Kalau umat itu sifatnya umum.


Kalau Hamba itu sifatnya khusus.


Kalau umat pelit ya gak apa - apa, kalau hamba pelit itu bukan hamba.


Hamba itu orang yang mengabdikan hidup dan mati nya kepada Allah.


Hamba itu menjauhi larangan Allah dan mematuhi semua perintah Allah.


Hamba itu ya Waliyullah.


Jangan bilang hamba Allah kalau solat saja jarang.


Jangan bilang hamba Allah kalau makan gak enak saja mengeluh.


Gak ngopi gak merokok sehari..


Saja bingung kok bilang hamba Allah...?


Apa ustadz siap menjadi seorang Hamba Allah..?


Kalau siap... Ustadz harus siap hidup miskin, hidup susah dan menderita.


Ustadz harus berani menjalani hidup terhina siap lapar dan siap segalanya."


"Alhamdulillah...


Setelah mendengarkan keterangan dari Gus Panji... Saya baru sadar Gus.


Ternyata selama ini saya keliru dalam menjalankan ibadah kepada Allah.


Saya selalu mengatur dan memaksa Allah.


Saya solat sunnah malam itupun ada sebabnya ada permintaan alias ada pamrihnya sama Allah.


Lalu... Bagaimana Gus caranya, supaya saya bisa beribadah dengan baik dan benar. Agar saya bisa mendapatkan Ridho yang Agung..?x


"Gampang itu ustadz.


Caranya ustad harus istiqomah dan ikhlas.


Jangan lupa, sering - sering tawasul ke saya," ujar Panji bercanda.


"Baiklah Gus mulai malam ini akan saya ingat dan saya jalani pesan Gus Panji."


"Ingat ustadz, kalau ngimami solat... Jangan membayangkan tidur dengan perempuan calon istri hahaha!


Masak raganya solat menyembah gusti Allah, hati dan pikirannya ingat sama selain Allah..?


Apa yang ustadz bayangkan ketika solat... Itulah Tuhan nya ustadz yang ustadz sembah."


"Iya Gus, saya kepikiran terus sama calon istri saya.


Bagaimana caranya agar solat itu bisa khusuk..?"


"Untuk sementara...

__ADS_1


Ingatlah makna arti bacaan solat, nanti ustadz bisa khusuk."


__ADS_2