
Selesai makan malam... Panji merebahkan badannya diatas karpet sambil menikmati rokok dan melihat Tv,
"Linda..."
"Iya Mas, sebentar.
Pasti minta pijitin..?"
"Iya."
"Direkrut kok di suruh mijitin Hahahaha!
Baru kali ini ada direktur di suruh mijitin.
Jangan - jangan... Nanti, si cantik direktur Sherly dan direktur Kaila di suruh mijitin juga?"
"Jangan bawel, yang enak mijitnya."
"Mas... Kenapa kamu kok selalu sering minta di pijitin, padahal ya gak capek loh..?"
"Aku capek pikiran dan hati, imbasnya ke tubuh ku, jadi capek."
"Kalau boleh tau... Pijitan siapa yang paling enak Mas..?"
"Pijitannya Aini....
Karena dia kursus memijat.
Linda... Apa kamu gak ingin punya perusahaan sendiri?"
"Ya kepengin sih Mas, tetapi uang dari mana..?
Bayaran ku hanya cukup untuk bayar kuliah, dan kebutuhan sehari - hari. Juga untuk membantu orang tua di desa, juga untuk biaya sekolah adik - adikku."
"Besok pagi aku kasih cek. Kalau kurang, kamu pinjam di Bank saja, nanti kamu angsur pake uang PT Hening. Kalau aku mati, kan kamu sudah punya usaha sendiri."
"Baiklah Mas.
Aku ingin buka usaha pakan ternak di daerah ku sendiri, Kabupaten Wonogiri."
"Apa kamu sudah punya pacar..?"
"Sudah Mas, kakak kelas ku.
Dia orang Wonogiri juga."
"Lah... Kamu dekat sama aku, sering mijitin aku apa gak cemburu nanti pacar mu..?"
"Kalau cemburu yaa aku buang saja ke tong sampah Hahahaha!
Cemburu boleh, asal sudah jadi suami istri.
Selama aku masih bujang... Hidup sendiri, aku ingin bebas.
Gak mau di kekang atau diatur sama siapa saja, kecuali kamu yang ngatur gak apa - apa.
Karena Mas Panji kan yang merawat ku sejak remaja, yang menolong ku, yang menyayangi dan mengasihi ku, dan yang melindungi ku.
Yang memberi apa saja kepada ku.
Ibarat anjing... Aku harus setia dan patuh sama majikannya."
"Malam minggu kamu gak ada acara kencan sama pacar mu..?"
"Ada Mas, biasanya jalan - jalan sambil cari makan malam di pinggir jalan."
"Yaa sana kamu pergi kencan sama pacar mu, kasihan dia. Aku tak dugem ke diskotik."
"Besok saja Mas, kan masih banyak waktu untuk bertemu.
Kalau Mas Panji kan jarang - jarang bertemu."
"Ini rumah kamu sendiri apa ngontrak..?"
"Rumah ku sendiri Mas, hadiah dari sekretaris Dafa.
Setelah aku mengundurkan diri dari ketua organisasi The Bluss, aku di beri hadiah rumah ini dan mobil BMW juta uang sebesar 1 Milyar."
"Yaa syukurlah kalau begitu.
Eeeh... Apa toko Elektronik 77 Bandung itu, ambil barang dari perusahaan PT Hening Elektronik..?"
"Iya Mas, benar.
PT Hening Elektronik, sudah lama menjalin kerjasama dengan Toko Elektronik 77 sebagai grosir terbesar di kota Bandung.
Kan di Bandung ada pabrik PT Hening Elektronik, itu pabrik anak cabang perusahaan Hening Elektronik."
"Kamu kirim SMS alamat pabrik anak cabang Bandung. Aku ingin tau."
"Kamu keterlaluan Mas, bertahun - tahun punya pabrik di mana - mana, tidak pernah melihat nya, tidak pernah menengok sama sekali.
Sekali - kali di tengok, di cek!
Paling - paling telpon tanya kondisi keuangan."
"Hahahaha," Panji tertawa terbahak - bahak mendengar kata - kata Linda.
Kring..!
Hp Panji berdering, setelah terhubung,
"Mas, kamu di mana..?"
"Ada di Jakarta di rumah direktur Linda.
Ada apa say..?"
"Gak apa - apa.
Besok aku terbang ke Bandung, karena Mas berada di Jakarta... Ya aku batalkan saja, ganti rute Jakarta.
Besok jam 9 Mas jemput di bandara ya?
Mas telpon Mang sopir saja, nanti biar kamu di jemput."
"Baiklah," jawab Panji kemudian menutup telponnya.
"Wilda ya Mas," tanya Linda.
"Iya, dia lagi di Samarinda, lagi mendirikan pabrik pengolahan kayu.
Linda... Aku mau istirahat tidur dulu, sudah jam 11."
"Baiklah Mas, aku temani."
***
Jam 9 pagi...
Panji di temani Mila sedang duduk di bangku ruang tunggu bandara.
Sambil menunggu Wilda... Panji berkata,
"Mila... Apa kamu senang kerja jadi Asisten ku?"
"Alhamdulillah senang Tuan.
Banyak pengalaman baru yang saya jumpai.
Banyak ilmu yang saya dapat dari Tuan."
"Itu Wilda istri ku sudah keluar, ada di samping pintu," kata Panji,
"Kamu samperin."
"Baiklah Tuan."
"Selamat datang presiden Direktur Jialing Group.
saya Asisten ke dua Tuan Panji. Silahkan ikuti saya."
"Baiklah," jawab Wilda kemudian mengikuti Mila.
Setelah berada di dalam mobil, Wilda berkata,
"Mang... Kita langsung ke Sukabumi ya."
"Baiklah Non."
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 4 jam, mobil Wilda sudah memasuki halaman parkir rumah Wilda di Sukabumi.
Setelah istirahat tidur, jam 7 malam setelah solat Isak dan makan malam, Panji dan Wilda pamit pergi ke kota Bandung.
Setelah melakukan perjalanan 4 jam, mobil BMW milik Wilda memasuki kota Bandung.
"Mang... Kita berhenti di kedai Bajigur depan itu ya, kita istirahat sambil makan combro."
"Baiklah Tuan Panji."
Sambil menikmati gorengan dan bajigur, Panji berkata,
"Wilda... Berapa jauh kah dari Bandung ke kecamatan jampang Surade Sukabumi..?"
"5 jam Mas.
Apa mas mau pergi ke sana..?"
"Rencananya minggu ini kesana, ada perlu sebentar."
"Mobil gak bisa masuk Mas. dari terminal Bayangan terakhir di bukit Jampang, Mas harus jalan kaki selama 5 jam, atau naik ojek selama 2 jamman lah, karena jalan nya setapak."
"Apa kamu pernah ke Jampang Surade, kok tau medannya?"
"Dulu sih pernah sekali kesana. Nganterin teman ke rumah seorang dukun."
"Mamang... Mamang kan asli orang Sukabumi.
__ADS_1
Coba ceritain sedikit tentang mistis di Jampang Surade."
"Baiklah Tuan.
Menurut cerita yang beredar di masyarakat...
Jampang Surade selain terkenal dengan pertanian, Jampang juga di kenal dangan santetnya, teluh, pesugihan, pelet, guna - guna dan banyak lagi Tuan.
Orang sana rata - rata mempunyai ilmu harimau, bisa merubah dirinya menjadi wujud harimau."
"Gitu ya Mang..."
"Dulu... Sebelum saya menjadi sopir Non Wilda, saya sering nganterin orang ke Jampang Tuan."
"Mari kita pulang istirahat, sudah jam 12, capek."
"Mas mau pulang kemana," tanya Wilda istrinya.
"Ke Apartemen Intan."
"Tidur di rumah Wilda saja ya, di perumahan Pondok Bambu."
"Emang kamu ada rumah disini..?"
"Ada Mas. Aku punya rumah di Jakarta, Sukabumi dan Bandung.
Karena aku kerja nya kan di Jakarta dan Bandung."
"Baiklah, tidur di rumah kamu saja."
***
Rumah Kediaman Wilda.
Sesampainya di rumah, Panji langsung merebahkan badannya di tempat tidur. Tak lama kemudian tertidur lelap.
Sementara, Wilda masih melaksanakan solat Isak.
Jam 03 dini hari, Panji terbangun karena terganggu suara tawa seseorang.
Sambil membuka kedua matanya... Panji mendengar suara orang bercanda di belakang rumah.
"Mau kemana Mas," tanya Wilda yang masih menutup kedua matanya.
"Mau renang sebentar."
"Apa..!" sahut Wilda kemudian membuka kedua matanya,
"Tengah malam gini mau renang?"
"Iya...
Apa gak boleh?"
"Gak apa - apa sih, Aneh saja.
Apa gak dingin..?"
"Yaa kamu temani, biar hangat."
"Enggak ah, Wilda masih ngantuk."
"Ya tidur saja."
Setelah menyeruput kopi dingin di meja makan dan menyulut rokok marlboro... Panji menuju suara orang tertawa di kolam renang.
Begitu berada di area kolam renang, Panji melihat 2 gadis cantik dari bangsa jin, lalu Panji menyapanya,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Tuan.
Tuan bisa melihat kami..?"
"Iya bisa.
Kalian siapa..?"
"Aku Sela dan ini Zaitun.
Apa Tuan ini suami Nona Wilda pemilik rumah ini..?"
"Iya benar.
Kamu mengapa renang di sini?"
"Karena tempat tinggal ku di sini," jawab Sela,
"Kalau Zaitun... Tempat tinggalnya di rumah sebelah."
"Jadi... Kamu Sela, jin penunggu rumah nya Wilda istri ku..?"
"Iya Tuan."
"Ada berapa jin yang menghuni rumah ini..?"
"Hanya saya Tuan."
Aku terganggu kalau tidur."
"Baiklah Tuan."
"Kamu Sela..!
kalau aku tidur sama istri ku, jangan sekali - kali masuk kamar ku.
Ingat itu!"
"Baiklah Tuan."
"Nama jin saja Sela, kayak orang Malaysia.
Cantik juga kamu itu, sini mendekat, duduk di kursi di samping ku.
Biar aku bisa lihat wajah dan body mu. Berapa umur mu..?"
"Umur ku 460 tahun Tuan."
"Sexy juga kamu ternyata."
"Di perumahan pondok Bambu ini... Sela terkenal jin cantik dan sexy Tuan," sahut Zaitun.
"Hahahahaha!
Kayak artis saja."
"Kalian boleh tinggal disini, asal, jangan menganggu Wilda istri ku, dan para pembantu ya?"
"Iya Tuan."
"Kamu jaga rumah ini, kamu bantu usaha Non Wilda."
"Iya Tuan."
"Apa agama mu..?"
"Islam kejawen Tuan."
"Solat ya..! Kalau gak solat 5 waktu, aku usir kamu dari sini."
"Baiklah Tuan."
"Bisa ngaji baca qur'an kan..?"
"Bisa Tuan."
"Mengapa kamu tinggal sendirian di rumah yang megah dan besar ini..?"
"Dulu... Sebelum di bangun rumah ini, saya sering main kesini Tuan. Kadang tidur di pohon jambu.
Keluarga ku ada, mereka tinggal di rumah kosong paling ujung.
Setelah di bangun rumah, yaa aku tinggal di sini saja."
"Apa kamu tidak punya suami..?'
"Masih bujang Tuan, masih menjalin hubungan asmara dengan cowok kampung sebelah."
"Hahahahaha!
Ternyata jin juga pacaran ya?"
"Iya Tuan, sama kayak manusia.
Karena kami adalah jin Al jan, yang hidup berdampingan dengan manusia."
"Mas," panggil Wilda.
"Iya...
Sana pergi, isteri ku memanggil, aku mau renang dulu."
"Baiklah Tuan."
Sambil pergi... Jin Sela berkata lirih,
"Galak banget suaminya Non Wilda.
Hatinya selalu menyebut nama Allah. Kalau saja tidak tidak berilmu...
Sudah aku lempar ke comberan.
Tetapi benar juga sih yang di omongin barusan.
Yang bikin gak tahan... Ganteng nya itu loh."
"Sudah renangnya," tanya Wilda.
"Belum, ini masih merokok."
__ADS_1
Setelah renang sebentar... Panji melaksanakan solat subuh berjamaah bersama Wilda.
***
Jam 8 pagi... Setelah sarapan, Panji pergi kerja dengan menumpang mobil Wilda.
Sesampainya di toko Elektronik 77, Panji menuju warung, karena masih belum jam kerja.
"Panji," sapa pak Aan,
"mau kemana?"
"Ngopi dulu Pak Aan, sambil nunggu toko buka, ayoo."
"Baiklah."
"Kopi dua Buk, rokok inter 1 sama marlboro 1."
"Iya Mas Bonex."
"Hahahahaha, Mas Bonex?
Panji Buk nama saya."
"Kan Surabaya terkenal Bonex nya! Aku panggil bonex saja.
Ini kopinya ini rokok nya."
"Makasih ya Bu Bonex...
Ini Pak rokok buat Pak Aan."
"Aduh, jadi gak enak nieh.
Makasih loh Mas Panji."
"Sama - sama Pak Aan."
"Kalau sopir santai saja Mas panji, kerjanya kalau ada panggilan dari bos. Hanya stanbay di warung saja."
"Gitu ya Pak...
Enak ya Pak, jadi bos kayak yang punya toko Elektronik 77 ini."
"Iya Mas Panji, kaya raya, bisa beli apa saja dan bisa makan enak sekeluarga.
Bisa menyekolahkan anak - anak nya ke luar negeri.
Teyapi... Ada salah satu anaknya Bos yang cacat mental. Dia sering kesini.
Kasihan anak nya, idiot.
Gosip nya karyawan sih, anak ke tiga itu di buat tumbal pesugihan."
"Gitu ya Pak..."
"Panji... Kirim kulkas sama lemari ke alamat ini," kata teman kerjanya.
"Baiklah Mas," jawab Panji kemudian beranjak,
"Pak Aan... Aku tinggal dulu."
"Baiklah Mas Panji."
Sambil nyetir mobil cold disel... Botax berkata,
"Panji, nanti sepulang kerja ikut gak?"
*Ikut kemana Mas Botax?"
"Ke rumah Pak Aan, menjenguk anaknya yang lagi sakit."
"Sakit apa Tax..?"
"Katanya sih, sakit kena santet. Sudah hampir setahun sakitnya, tidak sembuh - sembuh. Katanya sudah berobat ke dokter berkali - kali tetap saja tidak sembuh.
Berobat minta doa kyai, kyai katanya juga tidak sembuh. Ke dukun juga gak ada hasilnya. Malah kata dukunnya, kena santet orang Banten."
"Umur berapa anaknya Pak Aan..?"
"Kelas 3 SMA."
"Laki apa cewek?"
"Cowok.
Katanya Pak Aan sih, sebelum sakit, Pak Aan terlibat cek cok sama saudaranya, masalah warisan tanah dari kekek nya.
Jadi, Pak Aan mau mengambil hak waris tanah milik ibuk nya, tetapi di persulit sama saudaranya. Akhirnya cekcok.
Sejak itulah anak Pak Aan sakit aneh. Tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Teman - teman kerja... Rencananya mau menjenguk sambil patungan mengasih bantuan keuangan."
"Iya Mas Botax, nanti aku ikut.
Aku juga mau bayar patungan uang sumbangan.
Nieh sudah sampai...
Ayoo tekan tombol bel di pintu pagar."
"Baiklah," jawab Botax kemudian memencet tombol bel.
Tak lama kemudian, Panji dan Botax memasukkan barang pesanan pelanggan.
***
Rumah pak Aan.
Jam pulang kerja, Panji dan 11 teman kerjanya naik angkutan umum ke rumah Pak Aan.
Setiba di rumah Pak Aan... Panji menikmati secangkir kopi bersama teman kerjanya sambil melihat keadaan Ahmad putra Pak Aan yang sakit.
Sambil menikmati kopi dan kepulan asap rokok... Diam - diam Panji menerawang keadaan penyakit Ahmad.
Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata lirih,
"Ternyata anak Pak Aan itu terkena guna - guna Lepas, dari seorang dukun yang berada di pesisir Banten. Dukun itu di bayar mahal oleh saudaranya Pak Aan.
Benar, semua ini karena pertikaian hak waris tanah."
"Mas Panji, mari kita pulang, sudah hampir Magrib."
"Saya belakangan saja, mau solat Magrib di rumah Pak Aan."
"Kalau begitu... Kami duluan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam salam."
Setelah solat Magrib... Sambil wirid, Panji memanggil pengikutnya, Aryo Jagad Raja jin penguasa Alas Blandong Banten.
"Aryo Jagad..! Hadirlah."
"Assalamualaikum
Sendiko dawuh Gus."
"Waalaikumsalam.
Putra teman ku ini sedang sakit, terkena guna - guna santet Lepas.
Pelakunya adalah seorang dukun yang tinggal di pesisir pantai Banten.
Dukun ini bersekutu dengan jin ifrit.
Aku tugaskan kamu, untuk mengambil semua ilmu dukun itu, buang semua ilmunya, dan kamu bunuh jin ifrit yang menjadi sekutunya."
"Sendiko dawuh Gus.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Pak Aan... Saya minta air putih satu gelas."
"Baiklah Mas Panji,
"Ini..."
Setelah bertawasul ke ruhaniah wa jasmania Ahmad,
Panji membaca Al fatiha 100x, Bismillahirrohmanirrohim 1000x dan sholawat 7 kali.
Lalu di tiupkan ke dalam gelas berisi air.
Lalu Panji berkata,
"Dengan keberkahan dan kewalian Syeh Abdul Jalil... Semoga Ahmad bin Aan sembuh, Aamiin.
Tomboh teko loroh lunggo!
"Ini Pak Aan, kasih minum sama anak Bapak.
Siapa tau, dengan mantra saya... Ahmad sembuh.
Nanti kalau sudah bisa duduk, Bapak kasih makan yang enak dan kasih minum susu, karena tubuh anak Pak Aan kekurangan nutrisi."
"Baiklah Mas Panji.
Terimakasih banyak atas kehadiran dan perhatian nya."
"Saya pulang dulu ya Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***
Kediaman Rumah Wilda.
__ADS_1
Setelah berada di rumah Wilda, Panji langsung renang.
Setelah itu, Panji melaksanakan solat Isak berjamaah dengan Wilda istrinya.