
Sementara... Kyai Dimyati masih wirid di dalam kamar khusus sambil menerawang tentang kehidupan Panji.
Tiba - tiba ada cahaya yang terang menghiasi kamar, lalu terdengar suara uluk salam.
"Assalamualaikum kyai," sapa Syeh Abdul Jalil kemudian duduk di depan kyai Dimyati.
"Waalaikumsalam Syeh," jawab kyai Dimyati lalu saling berpelukan.
"Bagaimana kabar Syeh selama ini..?
Lama sekali kita tidak bertemu."
"Alhamdulillah kyai...
Aku dalam keadaan baik dan bahagia.
Bagaimana dengan diri mu kyai..?"
"Alhamdulillah Syeh... Aku baik - baik saja dan juga bahagia.
Syeh...
Gus Panji murid Syeh ada di sini. Dia telah mengalami kejadian yang memilukan di kota Bandung."
"Iya kyai, aku juga tau kalau Gus Panji ada bersama mu. Makanya aku menemui mu.
Sebentar lagi aku akan pergi menghadap gusti Allah.
Untuk sementara... Aku titipkan Gus Panji kepada mu kyai."
"Alhamdulillah...
Syeh berangkat duluan sebagai pengantin.
Insallah aku akan segera menyusul Syeh untuk menghadapi gusti Allah," ujar kyai Dimyati,
"Baiklah Syeh...
Aku akan merawat Gus Panji disini untuk sementara.
"Kyai...
Gus Panji hanya sakit Amnesia sementara saja. Itu disebabkan oleh benturan keras pada kepalanya, ketika mengalami kecelakaan.
Hingga limbik tempat menyimpan memori ingatan nya tidak sinkron.
Tidak ada kerusakan serius pada otak Gus Panji.
Cukup di pijat oleh orang yang ahli syaraf, Gus Panji akan sembuh."
"Baiklah Syeh, aku akan mencari orang yang ahli memijat saraf."
"Kalau begitu....Aku permisi dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Syeh."
***
Rumah kediaman mbah Wali Dirjo.
Jam 7 malam... Mobil Maya memasuki halaman rumah Mbah Wali Dirjo.
Setelah turun dari mobil, Maya melihat halaman rumah dan musholla yang berada di samping rumah.
Sambil menatap musholla... Maya tersenyum mengingat masa lalu. Ketika masih sekolah SMA, Maya setiap sore menyapu halaman dan membersihkan musholla.
"Hemmm...
Terlalu banyak kenangan di tempat ini," ujar Maya kemudian berjalan menuju pintu rumah Mbah Wali Dirjo.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab beberapa orang yang ada di ruang keluarga.
"Mbah Dirjo ada Pak..?"
"Ada Non.
Tetapi... Mbah Dirjo sedang terbaring sakit, sudah 3 hari.
Silahkan masuk..."
"Baiklah Pak," ujar Maya kemudian mendekati Mbah Wali Dirjo yang terbaring.
"Assalamualaikum Mbah..."
"Waalaikumsalam," jawab Mbah Dirjo pelan.
Melihat Maya... Mbah Dirjo berkata,
"Maya... Kamu pijitin semua badan ku, aku tengkurap dulu."
"Baiklah Mbah," jawab Maya.
Setelah Mbah Wali Dirjo tengkurap, Maya memijit kaki Mbah Dirjo pelan - pelan dengan minyak kayu putih.
Tak terasa... Sudah jam 12 malam, namun, Maya masih tetap memijit tubuh Mbah Wali Dirjo pelan - pelan.
Para murid Mbah Dirjo yang berada di ruang keluarga, satu persatu istirahat di teras.
Tanpa terasa... Maya meneteskan air mata, dan jatuh di atas punggung Mbah Dirjo
__ADS_1
"Maya..." panggil Mbah Dirjo.
"Iya Mbah..."
"Salah satu amalan yang paling besar nilainya bagi seorang istri adalah, memijat suaminya hingga suaminya itu tertidur."
"Iya Mbah," jawab Maya kemudian berkata dalam hati,
"Pantesan suamiku sering minta pijat kepada ku sejak masih pacaran dulu."
"Kunci hidup ini adalah bersyukur," kata Mbah Wali Dirjo,
"Perjalanan ilmu syukur adalah, pertama jujur.
Setelah orang itu bisa berbuat jujur pada dirinya sendiri... Maka dia akan tawakal, berserah diri.
Setelah dia bisa berserah diri... Orang itu akan menjadi sabar.
Setelah orang itu bisa sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan... Dia akan menjadi orang yang kona'ah, menerima takdir keputusan Allah atas dirinya.
Orang jawa mengatakan... Nriman ing pandum.
Setelah orang itu kona'ah, dia akan menjadi orang yang sadar.
Sadar siapa dirinya, sadar siapa tuhan nya, dan sadar atas apa saja.
Dari kesadaran diri inilah... Orang itu akan menjadi orang yang ikhlas.
Buah dari iklas ini adalah syukur.
Maka... Tingkatan ilmu tertinggi adalah bersyukur."
"Iya Mbah..."
"Maya...
Kamu jangan bersedih hati. Semua kejadian di alam semesta ini atas izin Allah.
Allah lah yang mengatur kehidupan ini.
Jadi... Tugas mu hanya menjalani takdir yang berjalan atas diri mu.
Sebentar lagi suami mu akan menemui mu.
Suami mu saat ini baik - baik saja.
Kamu sedih itu, karena mata hati mu buta, dan jiwa terpenjara oleh ***** mu."
"Di mana mbah suami ku saat ini..?"
"Suami mu masih menjalani takdirnya.
Jika sudah selesai... Suami pasti akan menemui mu.
Maya...
Aku pamit mau pergi dulu ya...
Pesan ku... Belajar lah ngaji sama suami mu saja, jangan mencari guru lagi.
Jadikan suami mu sebagai guru mu. Jadikan suami mu sebagai ladang amal ibadah mu, jadikan suami mu sebagai jalan surga mu."
"Iya Mbah," jawab Maya sambil melihat sesosok orang yang tubuhnya bercahaya.
"Mbah... Siapa orang yang berdiri di pojok itu..? Tubuhnya bercahaya?"
"Itu tamu ku Maya.
Dia adalah malaikat pencabut nyawa, dia sedang menjemput ku," kata Mbah Wali Dirjo kemudian membalikkan badan.
Setelah membaca dua kalimat syahadat, kedua mata Mbah wtali Dirjo terpejam.
Sambil metesakan air mata... Maya melihat ruh Mbah Dirjo keluar dari dalam jasadnya.
"Maya... Aku pergi dulu.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab Maya kemudian menangis.
"Non Maya...
Ada apa kamu menangis," tanya kerabat Mbah Dirjo.
"Mbah Dirjo telah pergi Nyai..."
Mendengar jawaban Maya... Sontak keluarga Mbah Wali jadi riuh.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Jam 9 pagi... Banyak tamu berdatangan untuk melayat dan melakukan solat jenazah.
setelah di mandikan, jasad Mbah Wali Dirjo di Kebumikan di sebelah musholla.
Waktu terus berlalu, tak terasa adzan Dzhuhur berkumandang. Para tamu dan santri Mbah Dirjo berdatangan silih berganti tanpa henti.
"Altar Mila...
Aku ingin istirahat di hotel Atlanta.
Badanku capek semua, mataku ngantuk."
"Baiklah Nyonya Maya, akan saya pesankan kamar."
__ADS_1
***
Pondok pesantren Shinobi Cianjur.
"Tamara..."
"Iya Abah."
"Kakak mu mana..?"
"Kakak Sazuke lagi ke sawah katanya, cari belut."
"Ada saja yang di lakukan Sazuke itu. Tidak mau ngaji, maaaain saja kerajaan nya!
Kalau begitu....Kamu ikut Abah."
"Mau kemana Bah..?"
"Memijatkan Gus Panji, ke desa sebelah.
Gus Panji biar sembuh."
"Baiklah Bah."
Tak lama kemudian,
Siang itu Kang Nur memarkir kan mobil Taff ke halaman rumah Mbah Suep.
Setelah turun dari mobil, kyai Dimyati uluk salam.
"Assalamualaikum Mbah Suep."
"Waalaikumsalam kyai," jawab Mbah Suep kemudian mencium tangan kyai Dimyati.
"Tumben kyai,
Apa kyai mau pijat..?"
"Iya mbah, tetapi bukan saya.
Ini Gus Panji menantu saya," canda kyai Dimyati.
"Abah...
Jangan bercanda," sahut Tamara, "Nanti kalau ucapan Abah di ijabahi gimana..?"
"Baiklah kyai, silahkan masuk kedalam saja.
Gus Panji... Mari mari duduk sini."
"Gus Panji ini habis kecelakaan Mbah. Kepalanya terbentur batu, dan dia Amnesia hilang ingatan."
"Oh... Begitu kyai.
Insallah habis di pijit akan sembuh.
Itu hanya uratnya tidak tepat di jalurnya kyai.
Kalau begitu... Akan saya pijit dulu."
Setelah membaca mantra pijat... Mbah Suep pelan - pelan memijit urat kepala Panji.
Selama di pijat, Panji sering berteriak kesakitan.
Setelah satu jam berlalu, Mbah Suep berkata,
"Kyai... Saya mohon maaf yang sebesar besarnya.
Gus Panji hanya bisa sembuh 50% saja.
30 tahun saya memijat urat, baru kali ini menemukan kasus aneh.
Setelah saya kembalikan urat daya ingatannya, dan sudah tepat di posisinya... Tiba - tiba urat itu kembali lagi.
Begitu seterusnya.
Tetapi... Ada beberapa urat yang kembali pada posisinya."
"Begitu ya Mbah Suep," ujar kyai Dimyati lesu.
"Iya kyai.
Mungkin doa pijat saya kurang ampuh.
Atau bisa juga ilmu pijat urat saya kurang tinggi."
"Lalu... Bagaimana ini Mbah?"
"Kyai cari tukang pijit urat lainnya saja, barang kali sembuh."
"Baiklah kalau begitu Mbah, aku permisi dulu.
Ini buat beli rokok."
"Tidak usah kyai...
Saya ikhlas."
"Baiklah Mbah, kalau begitu aku pamit dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Kyai."
__ADS_1