SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PANJI KEMBALI


__ADS_3

Malam itu... Panji tertidur lelap di lantai ruang keluarga kerajaan. Sementara... Aryo Jagad menunggu kedatangan istri dan keluarga lainnya.


Sambil menunggu... Aryo JAGAD berkata lirih,


"Tuan Panji ini masih anak - anak, kemungkinan umurnya masih 17 tahunan. Tubuhnya di lindungi oleh kekuatan goib yang keluar dari cincin Taji Kubro. Cincin itu asli, sepengetahuan ku... Cincin itu milik seorang wali dari kabupaten Banten, tetapi aku lupa siapa nama pemilik cincin itu. Bagaimana bisa Tuan Panji yang masih bocah ini memiliki hubungan dengan seorang wali..? Bahkan... Dia bisa mengetahui kelemahan ku, padahal, hanya aku dan guruku yang mengetahuinya. Dia juga kenal baik dengan Kyai Jabat sesepuh para wali Banten. Dia juga kenal baik dengan Syeh Hamdani paku buminya jawa Barat.


Walau Tuan Panji ini tidak mempunyai kesaktian... Tetapi dia di lindungi dan di sayang oleh beberapa wali.


Yang lebih lucu... Tuan Panji ingin bertemu dengan Nyai Roro kidul dan mau menyuruh ku bertarung dengannya."


"Selamat Malam Paduka," ujar Panglima perang kerajaan Blandong,


"Permaisuri dan rombongan keluarga besar kerajaan Blandong telah tiba."


"Terimakasih Panglima, telah menjaga keluarga ku," ucap Aryo Jagad.


"Paduka... Sejak Paduka di hukum oleh Kyai Dirjo... Banyak bangsa jin sakti telah menyerang keluarga kerajaan.


Salah satu korbannya adalah Permaisuri, istri Paduka. Betis kaki kanannya tertancap senjata paku Emas Lanang, hingga membuat Permaisuri hilang ingatan. Kulitnya perlahan - lahan mengelupas dan tubuhnya sangat kurus.


Kami dan para tabib sakti tidak bisa mencabut paku itu hingga sekarang.


Menurut tabib kerajaan pantai selatan... Umur Permaisuri tidak akan lama lagi."


Mendengar penuturan Panglima perangnya... Aryo Jagad terdiam dalam kesedihan, tak lama kemudian Aryo Jagad berkata lirih,


"Apakah Tuan Panji bisa mengobati luka istri ku yaa?


Hari mulai Pagi, isteri ku hanya menunggu waktu untuk kematiannya. lebih baik aku bangun kan saja.


Tuan Panji... Tuan Panji..."


"Iya Aryo Jagad, ada apa," tanya Panji.


"Tuan... Saya ingin bertanya sesuatu hal yang sangat penting," ujar Aryo Jagad.


"Katakan saja, apa itu," kata Panji.


"Istri saya sedang menderita sakit parah, akibat senjata mustika. Sudah beberapa tabib sakti mengobatinya... Tetapi tak kunjung sembuh," ujar Aryo Jagad,


"Apakah Tuan Panji bisa mengobati istri saya?"


"Senjata mustika apa itu..? Dan bagaimana penyakitnya," tanya Panji yang masih memejamkan kedua matanya.


"Mustika paku Emas Lanang," jawab Aryo Jagad,


"Penyakitnya lupa ingatan, kulitnya mengelupas dan badannya sangat kurus."


"Buatkan aku secangkir kopi dan pisang goreng dulu, habis ini aku carikan obatnya," ujar Panji.


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad, kemudian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan secangkir kopi dan pisang goreng.


Setelah bertawasul... Sambil tidur tengkurap, Panji uluk salam dalam hati,


"Assalamualaikum Nek."


Waalaikumsalam Gus," jawab Nyai Sa'adah,


"Paku Emas Lanang itu adalah senjata mustika yang sangat berbahaya, yang di miliki oleh kelompok jin dari pesisir Laut Barat. Jika paku Emas Lanang itu menancap di anggota badan... Maka orang itu akan mati seketika. Jika orang itu tidak mati... Orang itu mempunyai ilmu pelindung yang hebat. Namun... Lambat laun orang itu akan mati perlahan - lahan akibat kekuatan paku Emas yang menyerang organ dalam."


"Bagaimana cara mengobati nya Nek," tanya Panji.


"Caranya...


Pertama kamu cabut paku nya dulu, setelah kamu cabut... Oleskan bubuk kopi untuk menyumbat lubang yang ada di tubuh orang tersebut, kemudian kamu ikat dengan kain. Setelah itu, berikan minum air kelapa hijau hingga 99 butir kelapa," jawab Nyai Sa'adah,


"Lalu... Berikan makan hati kelelawar dan hati ikan selama belum sembuh.


Setelah menghabiskan 99 butir air kelapa hijau... Orang itu akan sembuh dan kembali sehat seperti semula.


Gus... Cabutlah paku Emas itu dengan dengan memakai gunting Badar Besi."


"Dari mana cara mendapatkan gunting Badar Besi itu Nek," ujar Panji.


"Bukankah Gus, di beri gunting oleh Mbah wali Dirjo..? Itu adalah gunting badar besi," kata Nyai Sa'adah.


"Baiklah Nek, Panji trimakasih banget di kasih petunjuk.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Gus."


Tak lama kemudian, Panji bangun lalu menyeruput kopi lalu memakan pisang goreng. Setelah menyulut rokok... Panji berkata,


"Aryo Jahad... Perintahkan bebera paprajurit mu untuk menangkap kelelawar sebanyak mungkin, dan mencari kelapa hijau muda 99 butir."


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad.


"Aryo Jagad... Cabutlah paku Emas Lanang itu dengan gunting ini, gapitlah lalu angkat perlahan - lahan," ujar Panji,


"Setelah tercabut... Oleskan bubuk kopi ini di lubang bekas paku, lalu ikatlah dengan kain."


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad kemudian menerima gunting dan bubuk kopi.


Begitu Aryo Jagad mencabut paku Emas Lanang... Teriakan istrinya melengking menyayat hati, kemudian pingsan.


Dalam keadaan pingsan... Aryo Jagad memasukkan air kelapa hijau ke dalam mulut istrinya secara perlahan - lahan.


"Aryo Jagad... Ketika air kelapa hijau 99 butir itu habis... Istri mu akan sembuh seperti sedia kala, dan kamu bisa tidur dengan nya," ujar Panji,


"Sekarang... Antarkan aku keluar dari alam jin ini."


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad,


"Tuan ingin pergi ke mana..? Saya bisa antar Tuan kemana saja."

__ADS_1


"Apa benar bisa mengantar aku kemana mana," tanya Panji,


"Mengantar ku ke Mekkah bisa engak?"


"Bisa Tuan, hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit sampai Kota Mekkah," jawab Aryo Jagad.


"Aku ingin pergi ke Jakarta, depan Hotel Atlanta saja, aku akan mengambil sesuatu di kos - kossan ku," ujar Panji.


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad,


"Hotel Atlanta itu ada di depan gang rumah Kyai Dirjo.


Peganglah tangan ku Tuan. Dalam waktu sekejab Tuan akan sampai di depan gang rumah Kyai Dirjo."


Begitu Panji memegang lengan Aryo Jagad... Tubuh Panji seperti terbang di lempar ke udara. Tak lama kemudian,


"Tuan... Sudah sampai di depan gang depan Hotel Atlanta."


"Terimakasih Aryo Jagad," ujar Panji,


"Jangan langsung pulang... Mampirlah ke rumahnya Mbah wali Dirjo. Masuklah agama islam seperti janjimu. Biar Mbah wali Dirjo yang menuntun mu.


Ingatlah janji mu, setelah itu ajak semua keluarga dan rakyat mu untuk memeluk agama islam. Ajak mereka sowan kepada Mbah wali Dirjo, belajar lah tata cara beribadah dengan benar.


Kalau kamu ingkar janji... Akan aku bakar istana mu."


"Baiklah Tuan, aku akan menepati semua janjiku, aku sekeluarga juga patuh dan setia kepada Tuan hingga anak cucu Tuan," kata Aryo Jagad


"Jika Tuan membutuhkan bantuan ku... Panggil lah diriku 1x lalu hentakkan kaki kanan Tuan 3x ke permukaan tanah, saya pasti datang kapan saja Tuan butuhkan."


"Baiklah Aryo Jagad, aku pergi dulu," ucap Panji.


"Silahkan Tuan."


Setelah Panji pergi menyeberang jalan... Aryo Jagad pergi menemui Mbah wali Dirjo, lalu memeluk agama islam dan menjadi murid Mbah wali Dirjo.


***


"Lebih baik aku mengambil dompet dulu, baru aku pergi ke Surabaya. Aku sangat rindu pada Mama," ujar Panji lirih,


"Pintu kamar kos - kossan terbuka, berarti Wilda belum berangkat les private.


Setelah berada di depan pintu kamar kos - kossan, Panji terkejut melihat Aini duduk membaca kitab terjemah.


"Aini," sapa Panji.


"Hai Panji... Apa kabar!!" sahut Aini kemudian bergegas mendekat, lalu memeluk erat tubuh Panji,


"Kemana saja... Sudah hampir 4 bulan menghilangkan."


"Dari bertapa," jawab Panji kemudian melepaskan pelukan Aini.


"Kamu tambah cantik saja," goda Panji,


"Emang kamu gak sekolah?"


"Ini hari minggu, sekolah ku libur. Wilda lagi menemui kepala sekolah SMA, dia mau ikut ujian langsung kelas 3, lewat jalur orang dalam."


"Ya sudah, aku tak mandi dulu dan ganti baju," kata Panji.


"Mas Panji... Ayoo kita main ke pantai Carita Anyer. Mumpung masih Pagi, hari minggu pasti rame di sana," ajak Aini.


"Boleh, tunggu sebentar, aku mandi dan ganti kaos dulu," kata Panji.


Setelah mandi dan mengenakan kaos, Panji dan Aini menuju Hotel Atlanta,


"Pak Rudi...


Pak Bowo... Ini uang untuk kalian berdua, ingat..! Jangan bilang sama Papa dan Mama kalau aku jalan sama Mas Panji."


"Baiklah Non, terimakasih."


"Pak Bowo... Sekarang kita jalan ke pantai Carita," perintah Aini.


"Baiklah Non," kata Pak Bowo kemudian menyalahkan mesin mobil . Tak lama kemudian mobil melaju ke arah kabupaten Banten.


"Pak Rudi... Pak Bowo..!


Setelah melihat foto ku dengan Panji yang ku panjang di meja belajar di kamar... Beberapa bulan ini Papa dan Mama marah - marah terus kepada ku," ujar Aini,


"Itu juga karena di sebab kan informasi Pak Rudi dan pengawal lainnya tentang hubungan pertemanan ku dengan Panji.


Mulai sekarang... Pak Rudi dan para pengawal jangan melaporkan kejadian yang sebenarnya, kalau di tanya bilang saja dari les atau dari rumah teman sekolah.


Aku tau Pak Rudi di perintahkan Papa dan Mama untuk mencari identitas nya Panji.


Aku tau Mama mau melenyapkan Panji, agar aku tidak berhubungan dengan Panji lagi.


Cumak... Aku diam saja. Kalau sampai terjadi apa - apa sama Panji... Aku akan keluar dari Klan keluarga Hong Shi!"


Mendengar kata - kata Aini... Pak Rudi sebagai ketua tim pengawal Aini sangat terkejut, karena Aini mengetahui rahasia yang di kerjakannya secara diam - diam,


"Baiklah Non, mulai saat ini aku akan melindungi privasi Non Aini.


Tetapi...


Resikonya kami semua akan di pecat jika kami ketahuan berbohong kepada Tuan besar.


Lalu... Bagaimana nasib keluarga kami Non?"


"Pak Rudi dan team tenang saja, aku akan menyiapkan semuanya jika Pak Rudi dan team kalau di pecat. Kebutuhan Pak Rudi sekeluarga dan para team... Nanti aku yang tanggung. Pak Rudi bisa kerja di perusahaan yang sedang aku rintis dengan Wilda," ujar Aini,


"Perusahaan itu milik ku sendiri, Non Wilda nanti yang mengurus perusahaan ku, dia adalah tangan kanan ku."


"Baiklah Non, trrimakasih atas kebaikannya," kata Pak Rudim

__ADS_1


"Membuat pengusaha bangkrut dan jatuh miskin itu gampang dan sangat mudah sekali! Kalau aku mau... Dalam hitungan hari itu bisa terjadi," kata Panji kemudian membuka cendela mobil.


Setelah menyulut rokok... Panji berkata lagi,


"Membuat orang miskin menjadi pengusaha kaya raya itu juga gampang sekali. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini!"


Mendengar kata - kata Panji... Aini jadi merinding. Begitupun dengan Pak Rudi dan Pak Bowo, diam dengan hati yang terkejut.


"Aku pastikan, semua usaha bisnis Pak Hong Shi akan mengalami kerugian besar, dan lambat laun akan bangkrut," ujar Panji,


Biar tidak seenaknya mau membunuh orang yang tidak bersalah seperti diriku.


Biar sadar, kalau harta kekayaan itu sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa - apa!


Sudah di tolong, kok mau melenyapkan orang yang menolong nya. Wis di tolong kok ape mentung ( sudah di tolong kok mau pentung)."


"Mas Panji beneran bisa membuat Papa Mama ku bangkrut di sektor semua usahanya," tanya Aini.


"Benar Aini, biar buat pelajaran untuk orang tua mu, agar tidak sewena - wena terhadap orang miskin," ujar Panji,


"Tetapi kamu gak usah khawatir, kamu tenang saja."


"Baiklah Mas, aku percaya sama kamu," kata Aini.


Setelah mobil memasuki kota Serang... Panji berkata,


"Hemmm, pantai Carita itu di mana ya? Kok arahnya ke kabupaten Banten."


"Pantai Carita itu adalah di Pandeglang Banten Mas... Sebentar lagi sampai kok," kata Aini.


Tak lama kemudian... Mobil memasuki halaman Hotel. Setelah mobil parkir, Aini dan Panji keluar.


"Pak Rudi... Istirahat saja di kamar Hotel, atau di warung pinggir pantai, aku akan jalan - jalan dulu," perintah Aini.


"Baiklah Non, kami di warung saja," kata Pak Rudi.


Sambil mengandeng tangan Panji... Aini berjalan - jalan ke pantai dengan perasaan yang bahagia.


Waktu terus berlalu, Sore pun tiba.


"Aini... Kita cari makan dulu ya... Sama minum es kelapa muda," ajak Panji.


"Baiklah Mas, aku juga haus," kata Aini kemudian berjalan mendekati warung pinggir pantai.


Setelah memesan es kelapa muda dan ikan bakar... Tak lama kemudian Lanji dan Aini menikmatinya.


Ketika makan hampir selesai... Tiba - tiba ada seorang pengemis perempuan muda dengan pakaian yang kotor, duduk di pasir tak jauh dari Panji.


Melihat pengemis itu... Panji memesan es kelapa muda, lalu memberikannya pada pengemis itu,


"Mbak... Minumlah, ini ada es kelapa muda, ini uang untuk beli makan."


"Terimakasih Mas, semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan kepada mu," kata pengemis


"Aamiin."


Setelah memberikan uang dan es kelapa muda... Panji kembali ke tempat duduknya. Begitu Panji mengenggok... Pengemis itu sudah tidak ada.


Karena penasaran... Panji begegas ke arah pantai melihat ke mana perginya pengemis perempuan itu.


"Kemana perginya pengemis cewek itu ya..? Baru di tinggal beberapa langkah saja, kok hilang.


Aneh," ujar Panji lirih,


"Aini... Apa kamu melihat pengemis cewek yang aku kasih es tadi?"


"Bukan cewek Mas... Tetapi pengemis itu pria tua," jawab Aini,


"Dia tadi berjalan ke arah pantai."


"Oh gitu ya," ujar Panji masih dalam ke heranan.


"Ayoo Mas, kita kembali ke Jakarta, mumpung masih sore," ajak Aini,


"Apa Mas Panji ingin nginap di Hotel sambil lihat pemandangan pantai?"


"Kita balik ke Jakarta saja ya... Soalnya, besok aku ingin pulang ke Surabaya," kata Panji.


"Baiklah Mas, nanti malam aku pesankan tiket pesawat," ujar Aini.


Tak lama kemudian, mobil pun melaju perlahan - lahan ke arah Jakarta.


"Pak Bowo... Kita nanti berhenti di depan pasar induk Pandeglang ya, aku mau mampir ke rumah teman," kata Panji.


"Baiklah Tuan."


Tak lama kemudian mobil Aini berhenti di depan pasar induk Pandeglang.


"Ayoo Aini, ikut aku," ajak Panji sambil menjulurkan tangan kanannya.


"Baiklah Mas, kata Aini kemudian menyambut uluran tangan Panji.


Setelah berjalan di sebuah gang... Panji masuk halaman rumah Syeh Hamdani, dan berhenti di depan pintu,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Syeh Hamdani, sambil membungkukkan badannya,


"Silahkan masuk Gus."


Ketika Panji sungkem hendak mencium tangan... Dengan cepat Syeh Hamdani menarik telapak tangannya.


"Silahkan duduk dulu," kata Syeh Hamdani kemudian masuk kedalam dan menyuruh menyiapkan minuman.


"Bukankah ini es kelapa muda yang aku berikan kepada pengemis cewek yang di pantai tadi..? Uang 10 ribu itu kan uang yang aku beri juga," ujar Panji dalam hati,

__ADS_1


"Apakah pengemis itu adalah syeh Hamdani..?"


__ADS_2