
Tak lama kemudian Mobil rental pun meluncur di kegelapan jalan raya menuju kecamatan Kramatwatu.
Dalam perjalanan Panji berkata,
"Mang sopir... Tau gak daerah Pandeglang pasar induk?"
"Tau Mas Panji," jawab mang sopir
"Berapa lama kalau kita kesana dengan mobil ini," tanya Panji.
"Kurang lebih 1 jam Mas," ujar mang sopir.
"Paling gak sampai 1 jam man."
"Mang sopir mau gak nganterin aku kesana besok siang? Jam, jam 11-12 an," ujar Panji.
"Siap Mas Panji, mau," jawab mang sopir.
"Berapa Mang, gajian perbulan kalau jadi sopir di losmen?" tanya Panji iseng.
"Hemmm... Sebulan 9 ribu rupiah Mas. Pas - pasan buat makan anak istri, juga untuk biaya sekolah anak.
Tetapi Alhamdulillah, di syukuri saja Mas Panji," kata mang sopir.
"Berarti sehari 300 rupiah ya Mang?" tanya Panji.
"Iya Mas Panji, 300 rupiah. Kalau Mas Panji ini kerja nya apa? Kok saya lihat setiap hari makan di rumah makan losmen, jalan - jalan sama cewek - cewek cantik," kata mang sopir,
"Apa pengusaha?"
"Saya masih kecil Mang, masih umur 16 tahun lebih, jadi gak kerja," jawab Panji.
"Masih umur 16 tahun lebih, kok Mas Panji bisa punya pemikiran kayak orang dewasa ya," kata mang sopir.
"Perasaan ku... Aku berfikir biasa - biasa saja Mang, kayak anak - anak umumnya," ujar Panji,
"Gak ada yang aneh dengan diriku."
"Soalnya... Mas Panji sering membantu orang lagi kesusahan dan fakir miskin," kata mang sopir,
"Oh iya Mas Panji, saya terimakasih sekali, kemarin lusa di beri uang 100 ribu sama Mas Panji. Semua karyawan losmen mendapat uang 100 ribu. Seumur - umur... Baru kemarin saya punya uang 100 ribu, istri saya sangat senang sekali Mas, menerima uang itu. Sekarang uangnya masih utuh Mas Panji, di simpan istri buat kebutuhan lebaran besok."
"Iya Mang, kembali kasih," kata Panji,
"Uang itu memang untuk keperluan selama bulan Ramadhan dan untuk beli baju lebaran Mang."
"Ternyata... Uang sedikit bagi ku, ternyata terlalu banyak buat mereka yang fakir dan miskin," ujar Panji dalam hati,
"Dengan uang 100 ribu, mereka sangat senang dan bahagia sekali. Inikah rahasianya Mbah Wali Hasan berbagi tambahan rejeki kepada orang - orang kesusahan dan fakir miskin yang membutuhkan pertolongan. Aku harus banyak - banyak bersyukur kepada Gusti Allah atas tambahan rejeki yang di limpahkan kepada ku.
Terimakasih ya Gusti Allah, atas segalanya."
"Mas Panji, maaf kalau saya berkata lancang dan pribadi," ujar mang sopir,
"Mas panji tidak kerja kok banyak bisa banyak uangnya dari mana? Sedangkan saya juga para karyawan losmen bekerja keras hanya memperoleh 9 ribu perbulan. Untuk mendapatkan uang 9 ribu perbulan harus susah payah.
Jadi, menurutku, Mas Panji ini orang aneh, anak ajaib."
"Aku punya uang banyak itu di beri Mbah Wali Hasan Mang, juga di beri orang - orang kaya," jawab Panji polos,
"Uang di beri saja... Ya di buat makan dan main Mang, juga di berikan pada yang membutuhkan. Itupun kalau ada, kalau gak ada yaa diam, apa yang mau di berikan.
Rejeki itu sudah di tentukan oleh Gusti Allah, jadi Mang sopir gak usah heran jika ada orang kaya berduit, ada orang fakir miskin yang susah mencari uang."
"Berarti... Mas Panji punya kenalan orang dalam ya," ujar mang sopir.
"Maksudnya orang dalam gimana Mang," kata Panji.
"Orang dalam itu yaa Malaikat pembagi rejeki, hahahaha," ujar mang sopir.
"Hehehehe, gak kenal Mang, sama Malaikat pembagi rejeki," kata Panji tersenyum.
Tak lama kemudian, sampailah Panji di losmen.
***
"Assalamualaikum," ucap Panji sambil membuka pintu,kemudian masuk kamar,
"Hemmm... Enak sekali Ruli tidurnya. Jam setengah 3, waktunya saur. Ruli, kamu puasa apa tidak?"
"Eeh, si Bos, udah datang," gumam Ruli sambi membuka kedua matanya.
"Kamu puasa apa tidak," tanya Panji,
"Kalau puasa kamu makan saur sekarang."
"Kalau Bos puasa, Ruli ikut puasa," ujar Ruli.
"Ya sudah, ayoo makan saur di depan," ajak Panji sambil menjulurkan tangannya ke arah Ruli.
Selesai makan saur... Ruli dan Panji kembali ke kamar untuk istirahat. Setelah membuka cendela Panji duduk bersandar pada kursi sambil menikmati kepulan asap rokok. Ketika melihat meja kamar, Panji berkata lirih,
"Uang di meja tinggal 100 ribu, terpaksa besok harus ambil uang di ATM. di Bank uang ku tinggal 110 juta."
"Ruli, tadi di masjid itu ada beberapa pemuda juga orang tua lagi membaca Al qur'an. Di masjid itu ada acara apa ya," tanya Panji.
"Itu namanya Tadarus Mas," kata Ruli kemudian duduk di kursi,
"Setiap bulan Ramadhan, orang islam selalu menghatamkan Al qur'an bersama - sama di masjid.
Ada yang menghatamkan Al qur'an sendirian di rumah, hingga bulan Ramadhan habis. Nanti... Kalau tanggal ganjil 21,23,25 hinga 29, itu ada acara solat Sunnah Malam di masjid, solat sunnah malam berjamaah."
"Ternyata kamu tahu juga ya," ujar Panji.
"Ya taulah Mas, aku walau nakal begini... Dulunya juga pernah nyantri, pernah ngaji sama kyai di kampung, makanya aku ngerti. Sejak SD hingga SMP, setiap sore aku sekolah Diniyah di kampung ku," kata Ruli.
__ADS_1
"Berarti... Kamu pintar dong baca Al qur'an," tanya Panji.
"Pintar sih enggak, tetapi Insallah bisa dan lancar.
Membaca kitab kuning juga bisa! Sebab waktu sekolah Diniyah di kampung, di ajari Nahwu Sorof juga Alfiah, di ajari baca kitab kuning," kata Ruli,
"Hanya saja... Setelah salah pergaulan dan aku hamil di luar nikah, aku tidak pernah lagi ngaji."
"Hemmm, begitu ya," kata Panji,
"Kalau begitu... Kontrak Boking kamu aku sudahi ya? sampai sini saja. Sekarang kamu aku kontrak untuk mengajari aku belajar Al qur'an, bagaimana?"
"Iya, gak apa - apa Bos. Tetapi... Kalau untuk jadi ustadzah aku tidak pantes baget, tidak cocok dengan kelakuan ku.
Masak wanita penghibur jadi ustadzah? Hahahaha, kan gak lucu? Kamu itu Bos, ada - ada saja," kata Ruli tertawa.
"Aku tidak melihat kamu siapa dan bagaimana masa lalumu, tetapi aku melihat ilmu yang ada pada dirimu.
Siapa tau, dengan belajar kepada mu... Aku bisa membaca Al qur'an. Siapa tahu ilmu yang kamu ajarkan kepada ku, itu berkah dan bermanfaat. Karena, keberkahan itu ada pada setiap mahluk, walau mahluk itu hina penuh dosa," ujar Panji,
"Kadang... Orang alim yang berilmu, tidak memiliki keberkahan hidup dan tidak bermanfaat ilmunya.
Kadang... Orang awam yang memiliki sedikit ilmu, itu memiliki keberkahan hidup dan bermanfaat ilmunya."
"Hemmm, baiklah Mas, akan aku ajari kamu cara membaca Al qur'an," kata Ruli.
"Oh iya! Nanti siang jam 11 jam 12 san kamu ikut aku ya, ke Pandeglang," kata Panji.
"Baiklah Mas," jawab Ruli.
Adzan subuh berkumandang, Panji dan Ruli melaksanakan solat Subuh berjamaah. Setelah itu Panji merebahkan badannya di atas ranjang. Sementara, Ruli pulang menjenguk anaknya, karena siang harus ke luar kota.
Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 11 siang, Ruli pun datang dan memarkir motornya di halaman samping losmen.
"Selamat siang Non Ruli," sapa mang sopir.
"Selamat siang juga Pak," jawab Ruli.
"Tolong Non, sampaikan kepada Mas Panji, mobil sudah siap. Katanya, antara jam 11 jam 12 mau bepergian ke kabupaten Pandeglang," ujar mang sopir.
"Oh... Ternyata bawah mobil ke Pandeglang, tak kirain naik motor, baiklah Pak, akan saya sampaikan. Saya permisi dulu," kata Ruli.
"Assalamualaikum," ucap Ruli sambil masuk kamar,
"Hemmm... Tidur pakai sarung gak pake ****** *****, jadi kelihatan burungnya," gumam Ruli tertawa kemudian menarik selimut menutupi tubuh Panji.
"Mas, sudah jam 11, katanya mau luar kota, aku mau mandi dulu," kata Ruli.
"Hemmm, iya," jawab Panji sambil membuka kedua matanya, lalu duduk di samping ranjang.
"Buruan mandi Mas, di tunggu Mang sopir di depan," ujar Ruli sambil keluar kamar mandi.
Setelah mandi dan ganti kaos... Panji bergegas ke depan menuju mobil rental. Mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang menuju arah kabupaten Pandeglang.
Sambil mengingat - ingat alamat yang di beritahu Nyai Sa'adah... Panji dan Ruli berjalan ke sebuah gang kecil di belakang pasar.
Setelah mondar - mandir mencari rumah Syeh Hamdani alias Pak Samson dan bertanya kepada beberapa orang, Panji pun berhasil menemukan sebuah bangunan rumah sederhana, cat temboknya sudah pudar dan jelek.
"Assalamualaikum," ucap Panji.
"Waalaikumsalam salam," jawab Robiah putri Syeh Hamdani sambil melihat Rok mini yang di kenakan oleh Ruli.
"Subhanallah... Apakah ini tamu alim yang di katakan Ayah ku," kata Robiah dalam hati,
"Sebelum tidur Ayah tadi berpesan, akan ada tamu orang alim.
Tidak menampakkan ke aliman anak santri..? Justru terlihat seperti berandal. Tatapi... Aku di suruh Ayah menyambut dengan baik dan ramah."
"Apakah ini rumahnya Syeh Hamdani Al bantany," tanya Panji.
"Bukan Mas, ini rumahnya Pak Hamdani, bukan Syeh Hamdani," jawab Robiah,
"Mungkin Bapak salah alamat."
"Ya ini rumah Syeh Hamdani Gus," Panji mendengar suara hatinya.
"Tidak salah alamat Mbak," jawab Panji,
"Hati ku mengatakan ini rumah Syeh Hamdani."
"Tetapi... Ayah saya tidak pernah mengajar ngaji, bukan pula seorang kyai," ujar Robiah,
"Orang kampung memanggil Ayahku Pak Samson atau Pak Hamdani. Ayahku seorang penjual sayur mayur di pasar induk depan, bukan Syeh."
"Pak Hamdani sekarang ada di rumah apa masih jualan di pasar Mbak," tanya Ruli.
"Ayahku sedang istirahat tidur, beliau barusan pulang dari berjualan," kata Robiah.
"Baiklah, akan aku tunggu Pak Hamdani sampai bagun," kata Panji,
"Apakah kami boleh duduk di teras ini?"
"Boleh silahkan, silahkan. Coba saya bangunkan Ayah ku, barang kali berkenan menemui kalian," ujar Robiah kemudian masuk rumah.
***
"Ibu... Ada tamu mencari Ayah," ujar Robiah.
"Ayah mu baru saja tidur Nak. Kan kamu tau, kalau Ayah mu tidur tidak boleh ada yang membangunkannya," ujar ibunya Robiah.
"Robiah," panggil Syeh Hamdani dari kamar.
"Iya Ayah," jawab Robiah kemudian bergegas masuk kamar.
"Buatkan kopi 2 cangkir dan 1 gelas teh," perintah Syeh Hamdani ayahnya,
__ADS_1
"Ini rokok marlboro 2 bungkus, berikan pada tamu Ayah.
Persilahkan tamu Ayah untuk masuk ke ruang tamu."
"Iya Ayah," ujar Robiah heran, kemudian bergegas ke dapur membuat kopi.
Tak lama kemudian...
"Mas, Mbak, silahkan masuk, silahkan di minum kopinya, silahkan Mbak di minum teh nya," ujar Robiah.
"Iya Mbak terimakasih," kata Panji,
"Tetapi... Saya lagi puasa."
"Assalamualaikum Gus," ujar Syeh Hamdani sambil membungkukkan badan tanda sebagai penghormatan.
"Waalaikumsalam Syeh," jawab Panji kemudian mencium tangan Syeh Hamdani, namun... Dengan cepat Syeh Hamdani menarik tangannya karena tidak mau di cium.
Setelah duduk... Syeh Hamdani berkata dalam hati,
"Bagaimana ini..? Aku kedatangan Harimau yang sangat galak dari Jawa Timur!!! Aku sudah sembunyi menutup diri, tetapi Nyai Sa'adah telah membocorkan rahasia ku.
Walau Gus Panji masih anak - anak... Keberaniannya sangat luar biasa, kecerdasannya mulau meningkat. Dia Gus Panji ini juga di lindungi oleh Kyai Jabat juga Nyai Sa'adah. Dia Gus Panji adalah keturunan ke 4 dari Syeh Jalaluddin Akbar, yang secara sanad ilmu... Syeh Jalaluddin Akbar adalah guru mursid ku, guru besar."
"Silahkan di minum Gus kopinya," kata Syeh Hamdani kemudian menyeruput kopi, lalu menghisap rokok jie sam soe.
"Baiklah Syeh, saya percaya kepada mu," kata Panji kemudian menyeruput kopi lalu menyulut rokok.
"Apakah Syeh Hamdani ini..?"
"Jangan di teruskan Gus," sahut Syeh Hamdani,
"Apa yang kamu pikirkan di dalam hatimu itu benar.
Jadi... Saya mohon Gus jangan membahas soal isi hati Gus."
"Baiklah Syeh," ujar Panji,
"Saya kesini hanya minta barokah doa dari Syeh."
"Baiklah Gus," kata Syeh Hamdani kemudian ber doa,
"Allahumma solli wa salim wa barik ala sayyidina Muhammad wa ala aalihi wa shilobihi wa salim, Alhamdulillahirobil aalamin.
Ya Robbi... Limpakanlah dan curakanlah juga di tetapkanlah keberkahan juga karomah, syafa'at dan ilmu atas Ruhania wa Jasmania Gus Panji.
Dan semoga Engkau jadikan hidupnya sejahtera bahagia penuh berkah.
Dzat Sir Wujud
Allahumma solli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Alhamdulillahirobil aalamin."
"Aamiin... Aamiin... Aamiin," ucap Panji dan Ruli.
"Terimakasih Syeh atas doa nya. Kalau begitu, saya permisi dulu mau balik," ujar Panji.
"Tunggulah sebentar Gus," ucap Syeh Hamdani.
"Robiah, ambilkan daun satu kantong plastik di sebelah rumah."
"Iya Ayah," sahut Robiah kemudian memetik daun jambu.
Setelah penuh, Robiah bergegas ke ruang tamu,
"Ini daunnya Ayah."
"Gus, aku tidak punya hadiah apa - apa untuk mu, yang ada hanya daun jambu," ucap Syeh Hamdani,
"Terimalah hadiah ini."
"Buat apa Syeh daun jambu ini," tanya Panji penasaran.
"Bawa saja Gus, pasti banyak manfa'atnya," kata Syeh Hamdani,
"Oh iya, selama bulan Ramadhan ini... Gus tidak usah puasa ya?
Gadis cantik... Tasbih ini untuk mu, ambillah sebagai hadiah dariku. Istiqomalah membaca istiqfar. Semoga dirimu menjadi wanita idaman langit."
"Terimakasih Syeh," ujar Ruli.
"Baiklah Syeh, saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Panji sambil sungkem mencium tangan Syeh Hamdani, namun Syeh Hamdani dengan cepat menarik telapak tangannya.
"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Hamdani sambil membungkukkan badan.
Setelah Panji keluar dari rumah Syeh Hamdani... Robiah bertanya,
"Ayah, apakah itu tamu alim yang Ayah katakan?"
"Iya anak ku, mereka berdua adalah orang - orang alim," jawab Syeh Hamdani.
"Kalau mereka itu alim... Mengapa gadis itu berpakaian sangat tidak sopan, dan mereka tidak puasa," tanya Robiah.
"Robiah anak ku... Ketahuilah.
Intan Permata yang ada di dalam comberan, tidak akan ada yang tahu," kata Syeh Hamdani,
"Intan Permata di letakkan di dalam lumpur yang hitam dan bau sekalipun, dia tetap Intan Permata yang bernilai tinggi.
Seandainya para kyai dan orang awam tahu kalau ada Intan Permata di comberan... Mereka pasti berebut dan rela menceburkan dirinya ke comberan demi Intan Permata. Begitulah dengan mereka berdua, tamunya Ayah."
"Mang sopir, kita cari rumah makan ya," ujar Panji.
"Baiklah Mas Panji," jawab mang sopir.
__ADS_1