SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
MURID MBAH DIRJO DAN SEDEKAH PANJI


__ADS_3

Malam itu Maya duduk di kursi yang terletak di pojok ruangan.


Tak lama kemudian... Seorang laki - laki tua dan perempuan muda masuk ke dalam restoran.


Setelah memesan... Lelaki tua itu menikmati makan malam dengan mesrah di samping perempuan muda.


"Bukankah itu Papa ku..?


Benar apa yang di katakan Mbah Dirjo, Papa ku ternyata bersenang - senang dengan seorang pelacur," ujar Maya lirih.


Selesai makan... Maya membuntuti Papa nya hingga masuk kamar 209 bersama seorang perempuan muda yang cantik.


Tak lama kemudian.


"Benar apa yang Mbah katakan, Papa ku malam ini sedang bersenang - senang dengan seorang pelacur.


Tetapi... Percuma saja aku memberi tau Mama, karena aku sekarang bukan lagi bagian dari keluarga," ujar Maya.


"Biarkan saja Fatimah, nanti keluarga mu akan membutuhkan bantuan mu, semua keluarga mu kelak pasti mengemis - ngemis minta pertolongan kepada mu," kata Mbah Dirjo.


"Baiklah Mbah."


"Bagaimana..? Apa mau menjadi murid ku," tanya Mbah Dirjo.


"Baiklah Mbah, aku akan menepati janji ku," jawab Maya.


"Setiap jam 3 sore kamu ke rumah ku ya..? Rumah ku di ujung gang itu, sebrang jalan depan hotel Atlanta ini," ujar Mbah Dirjo.


"Baiklah tmbah, akan saya usahakan ke rumah Mbah Dirjo setiap sore," jawab Maya.


Sementara Di ogojampi Banyuwangi.


"Mbah Sanusi... Dzikir apa yang harus saya kerjakan," tanya Panji.


"Bacalah Dzikir syariat, dzikir syariat yaitu Laailahaillah.


Di ucapkan berulang - ulang dengan lisan sampai masuk ke dalam hati, hingga lisan atau mulut tidak berucap lagi," jawab Mbah Sanusi,


"Dzikir ini terdiri dari 12 huruf yang maknanya sama dengan 12 jam. Dzikir ini selalu di kumandangkan oleh malaikat bumi, yaitu malaikat Ahyar."


Setelah berbincang - bincang hingga jam 02 dini hari... Panji akhirnya pamit,


"Baiklah Mbah, semua wejangan Mbah Sanusi akan saya ingat, saya mohon pamit dulu."


"Baiklah Gus, bagian ku hanya bisa memberi wejangan seperti ini.


Kedepannya... Akan ada seorang Wali yang akan melanjutkan wejangan ku ini," kata Mbah Sanusi.


"Baiklah Mbah," setelah sungkem, Panji uluk salam,


"Assalamualaikum


Salam sejahtera."


"Waalaikumsalam Gus, salam sejahtera kembali."


Jam dua malam Panji melanjutkan perjalanan jalan kaki.


Sambil berjalan Panji melantunkan Dzikir Munajat Laailahaillah.


***


Sore Di Rumah Mbah Wali Dirjo,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Mbah Dirjo yang duduk di teras rumah nya,


"Itu ada sapu, kamu sapu halaman rumah dan halaman musholla."


"Baiklah Mbah," ujar Maya.


Sambil menyapu halaman... Maya berkata dalam hati,


"Setelah membaca kitab Tasawuf milik kak Panji... Aku baru mengerti sedikit - demi sedikit dunia kewalian.


Kemungkinan... Mbah Dirjo ini seorang Wali Majedub, wali gila. Mudah - mudahan wali beneran, kalau gak bener bisa celaka diri ku." 😅


Selesai menyapu halaman... Mbah wali Dirjo berkata,


"Sekarang kamu mandi di dalam dan makan.


Setelah itu kamu boleh kembali ke kos - kossan.


Nanti habis solat Isak, kamu baca wirid gulo legi kopi pahit 100x."


"Baiklah Mbah."


Sementara...


Pembangunan yayasan dan masjid di kerjakan oleh PT Indonesia Kontraktor milik Wilda yang di bawah naungan Jialing Grup.


Sore itu, awilda dan Lady juga Ririn wakil sekretaris duduk di sebuah warung depan proyek sambil ngobrol dan bercanda.


"Lady... Sapa nieh yang akan menjadi direktur yayasan ini kalau sudah selesai," tanya Wilda,


"Sebentar lagi kan selesai dan bisa di tempati dan di gunakan yayasan ini."


"Kurang tau ya kak, siapa.


Mungkin Godfather yang akan memilih direktur yayasan ini," ujar Lady,


"Coba aku telpon Godfather.


Setelah tersambung,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Lady, ada apa," sahut Panji.


"Godfather... Proyek yayasan hampir selesai, siapa yang akan menjabat sebagai direktur yayasan ini?"


"Aku punya teman baik, tetapi dia masih ngaji dan sekolah di pondok pesantren Meteor Garden desa Pelamun Serang Banten, Nama nya Irmala. Dia lah yang akan menjadi direktur yayasan itu," ujar Panji,


"Kamu suruh sekretaris untuk mengaturnya.


Aku juga punya tiga sahabat baik di pondok itu, namanya Salim, Ujang dan Subur. Ketiga sahabat ku inilah yang akan mengurus masjid dan mengajar ngaji di yayasan. Cukupi segala kebutuhannya biar mereka bekerja dengan sungguh - sungguh dan benar."


"Baiklah Godfather, biar Ririn wakil sekretaris yang mengaturnya.


Da da da."


Tak terasa Panji sudah berjalan seharian, setelah solat Isak di sebuah nusolla di kabupaten Situbondo... Panji merebahkan badan dalam keadaan lapar, tak lama kemudian Panji tertidur pulas di samping musolla.


Jam 10 malam... Seorang lelaki setengah tua membawah talam berisi nasi dan kue juga segelas air putih dan segelas kopi mendekati Panji,


"Mas... Mas... Bangun Mas."


Setelah membuka kedua mata, Panji berkata,


"Ada apa Pak?"


"Silahkan makan malam dulu, ini ada rejeki buat Mas nya. Barusan ada selamatan desa."


"Baiklah Pak, terimakasih," ujar Panji kemudian menikmati makan malam sambil setengah ngantuk.


Selesai makan, Panji menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok.


"Mas ini musafir ya... Jalan kaki.


Siapa mas namanya?"


"Iya park, saya lagi musafir jalan kaki


Nama saya Panji. Bapak siapa namanya."


Panggil saja pak Rokim


Mas Panji... Putri saya ini sakit sudah hampir setahun. Saya sudah berobat kemana - mana tetapi tidak ada hasilnya. Sudah ke dokter, ke dukun, ke kyai, tetapi tidak kunjung sembuh.

__ADS_1


Sampai kami jual tanah peninggalan Ayah saya.


Kasihan putri saya, tidak bisa sekolah. Seharusnya sudah kelas 3 SMA.


Barangkali Mas Panji bisa mengobati putri saya. Biasanya orang musafir seperti Mas Panji orangnya suka tirakat dan wirid, doanya ijabah.


Kalau tidak keberatan... Mas Panji ke rumah untuk melihat keadaan putri saya."


"Baiklah Pak Rokim," ujar Panji.


Setelah berjalan melewati beberapa gundukan bukit bebatuan... Sampailah di rumah Pak Rokim,


"Silahkan duduk mas Panji."


"Iya Pak.


Lumayan jauh ya rumah Pak Rokim ini... Agak terpencil. Hanya ada beberapa rumah saja di sini," ujar Panji.


"Iya Mas Panji, mau gimana lagi, ini rumah tinggalan orang tua, dan beberapa rumah tetangga, itu aja semua masih ada hubungan suadara. Yaa ada 4 rumah saja," kata Pak Rokim.


"Assalamualaikum," sapa Pak Kasmin saudara Pak Rokim,


"Ada tamu nieh."


"Waalaikumsalam," jawab Panji dan Pak Rokim.


"Ya bang, ada tamu. Silahkan duduk dulu, nunggu bikin kopi."


"Tamu siapa Dik?"


"Ini Mas Panji seorang musafir, tadi tidur di musollah depan, terus saya ajak ke rumah sini untuk melihat keadaan Latifah. Barangkali lantaran mas Panji, Latifah bisa sembuh."


"Oh begitu," ujar Pak Kasmin,


"Kenalkan Gus, saya Kasmin kakaknya Pak Rokim."


"Saya Panji Pak."


"Mudah - mudahan lantaran Gus Panji, Latifah keponakan saya bisa sembuh.


Sudah lebih setahun Latifah sakit aneh, dia hanya berbaring gak bisa berdiri dan tidak bisa bicara.


Kasihan bapak ibu nya, sawah dan kebun habis di jual untuk berobat putri sulungnya."


"Iya Pak Kasmin, saya jamin Latifah putri Pak Rokim akan sembuh," jawab Panji sambil menikmati sebatang rokok.


"Benar Gus..? Gus menjamin Latifah putri saya sembuh..?"


"Iya Pak Rokim, saya pastikan sembuh, asal Pak Rokim nurut sama saya."


"Baiklah Gus, saya akan turuti permintaan Gus Panji."


"Pak... Mengapa rumah bapak gak ada listriknya, kok pakai lampu tempel minyak tanah," ujar Panji,


"Sedangkan di kampung bawah semua rumah sudah ada listriknya."


"Silahkan Gus, di minum kopinya, mumpung panas. Ini ibu masih gorengkan pisang sama ubi jalar."


"Terimakasih Bu," jawab Panji kemudian menuang kopi.


"Kami tidak ada uang Gus buat pasang listrik.


Biaya pasang meteran listrik 250 ribu, mahal sekali. Kami bisa makan saja sudah Alhamdulillah."


"Oh gitu ya Pak.


Sekarang saya mau melihat keadaan putri Bapak," ujar Panji.


"Baiklah Gus, mari, Latifah ada di ruang tengah."


Setelah duduk di kursi kayu depan tempat tidur Latifah... Panji menerawang dengan seksama.


Sambil menerawang... Panji berkata lirih,


"Latifah ini terkena guna - guna dari dari 3 dukun asal Banyuwangi.


Urat tenggorok an di ikat dengan rambut, hingga pita suaranya tersumbat.


Jika tidak segera di tolong... Latifah ini akan mengalami lumpuh selamanya, dan bisu selamanya.


Latifah juga akan buta.


Pantas sekali beberapa kyai tabib tidak bisa mengobati penyakit Latifah, karena taruhannya adalah nyawa.


Latifah memang tidak di bunuh, tetapi di buat Kembang Bayang, di buat sakit agar harta keluarga nya habis, dan agar keluarga nya bingung.


Assalamualaikum Resi Dharmala..."


"Waalaikumsalam Gus...


Bacakan Bismillahirrohmanirrohim 7 kali tahan nafas pada segelas air. Niatkan lah untuk menyembuhkan penyakit orang yang ada di hadapan Gus, lalu minumkan setengah gelas pada orang yang sakit, sisanya usapkan pada tubuh luar nya.


Sudah aku katakan, Bismillahirrohmanirrohim itu adalah kunci apa saja.


Janganlah ragu."


"Baiklah Resi, terimakasih atas petunjuknya


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Gus."


Dengan penerangan lampu tempel... Latifah hanya bisa menatap Panji dengan berlinang air mata.


Setelah membaca Asmak kunci Bismillahirrohmanirrohim... Panji memasukkan air asmak satu sendok kecil ke mulut Latifah. Setelah menyuapi beberapa sendok air asmak ke dalam mulut Latifah hingga separuh gelas... Panji mengusapkan air ke kaki dan kedua tangan dan kepala.


Selang seperempat jam, Latifah mulai bisa berbicara walau terbata - bata, Latifah sudah mulai duduk walau bersandar.


Melihat keajaiban bahwa putrinya sembuh... Pak Rokim dan istri nya langsung sujud syukur dan berterimakasih sekali pada Panji.


Sambil menikmati secangkir kopi di teras rumah gubuk... Pak Rokim berkata,


"Gus... Putri saya sakit apa..?


Apa benar putri saya kena santet..?"


"Tidak Pak, putri Pak Rokim kena guna - guna," jawab Panji.


"Gus... aapa bedanya santet dengan guna - guna," tanya Pak Kasmin.


"Beda Pak, kalau santet itu sifatnya membunuh. Orang yang terkena santet... Langsung mati Pak. Kalau guna - guna itu tidak mati, dia akan sakit dulu, kalau gak tertolong dalam beberapa hari atau beberapa bulan, dia bisa mati."


"Lalu.... Kalau orang sakit di dalam perutnya ada paku, silet dan benda lainnya..? Apakah itu bukan santet..?"


"Bukan Pak, itu guna - guna.


Seperti Latifah ini terkena guna - guna model Kembang Bayang. Dia akan sakit tidak berdaya dan terbaring di tempat tidur bertahun - tahun. Tujuannya adalah untuk menyiksa batin keluarga nya, juga untuk menghabiskan hartanya."


"Lalu... Mengapa Latifah keponakan saya kok di guna - guna..?"


"Karena itu perbuatan Bapaknya," jawab Panji.


Mendengar kata - kata Panji... Beberapa keluarga yang duduk di teras sangat terkejut,


"Apa yang di perbuat oleh suami saya Gus..?"


"Suami ibu... Kira - kira setahun yang lalu, telah menipu orang Banyuwangi yang tinggal di kota Denpasar.


Dia seorang pengusaha baju.


Pengusaha itu marah, dan Latifah anak ibu yang jadi sasaran," ujar Panji,


"Dengan kekuatan uang... Pengusaha itu membayar 3 dukun untuk menguna - guna Latifah.


Coba tanya saja pada suami ibu sekarang."


Setelah di tanya... Pak Rokim mengakui perbuatan nya setahun yang lalu. Pak Rokim sengaja menjual barang antik palsu untuk menipu seorang pengusaha di kota Denpasar.


***

__ADS_1


Pagi jam 9.


Setelah solat Dhuha... Panji duduk di kursi terbuat dari bambu di ruang tamu.


Sambil menikmati secangkir kopi hitam dan sebatang rokok.


"Ibu... Tolong belikan daging, susu, buah - buahan dan roti untuk Latifah. Biar tubuhnya segera pulih dan sehat.


Ini bu uangnya," ujar Panji mengasihkan beberapa lembar uang,


"Tolong ibu masak sop iga sapi ya, buat saya."


"Iya Gus, terimakasih banyak."


"Pak Rokim, di depan rumah itu tanah siapa pak kok luas," tanya Panji.


"Itu tanah kami Gus, tinggal ini satu - satunya yang tersisa."


"Pak Rokim, bapak bangun musholla ya, di tanah depan rumah itu.


Kalau sudah jadi musollah nya... Bapak yang rajin ibadah, bekerja dengan jujur, dan jangan suka menipu orang lagi.


Pak Rokim dan keluarga juga saudara sekitar bisa jadikan tempat ibadah solat atau ngaji dll," ujar Panji.


"Tetapi Gus..?


Uang dari mana untuk membangun musolla," kata Pak Rokim.


"Uang dari saya Pak, nanti Bapak juga saya kasih uang buat modal usaha.


Bapak cocoknya usaha jual beli sapi, kambing, dan ayam. Bapak juga cocok jadi petani," jawab Panji.


"Iya Gus, terimakasih banyak.


Tetapi, kalau bertani bercocok tanam... Saya tidak punya sawah atau ladang.


Kemungkinan saya akan jadi buruh tani," ujar Pak Rokim.


"Pak Rokim tenang saja ya, nanti kita pikirkan bersama. Saya hanya minta satu saja, Pak Rokim sekeluarga yang rajin Slsolat, ibadah kepada Gusti Allah," kata Panji.


"Baiklah Gus, saya janji."


"Kalau Pak Rokim berbohong... Ingkar janji, Pak Rokim akan hidup sengsara, putri Bapak akan kembali sakit seperti semula," ujar Panji.


"Saya janji Gus, akan saya tepati, saya akan rajin solat dan ibadah kepada Allah."


"Bapak Rokim beri nama dan alamat pengusaha baju yang Pak Rokim tipu.


Setelah itu... Pak Rokim beli bahan untuk mendirikan musholla ya, cari tukang 3 dan 4 kuli, biar cepat selesai musollah nya.


Ini uang 25 juta, untuk belanja bahan dan bayar tukang," ujar Panji.


"Baiklah Gus, sekarang juga saya akan pergi menemui tukang dan belanja."


Setelah Pak Rokim dan istrinya pergi... Panji masuk ke ruang tengah untuk menemui Latifah,


"Latifah... Sudah kelihatan cantik sekarang, sudah terlihat segar.


gimana keadaan mu sekarang..?"


"Alhamdulillah sudah baikkan Gus, tinggal pemulihan saja. Mungkin 1 atau 2 minggu sudah sembuh total.


Terimakasih banyak ya Gus, telah meluangkan waktu untuk mengobati saya," ujar Latifah.


"Sama - sama Latifah, justru saya yang berterimakasih, karena dengan kejadian ini... Aku bisa beramal kebaikan," kata Panji,


"Oh iya, ini ada uang 50 juta untuk menebus sawah dan kebun yang di jual Ayah mu, biar Ayah ibu mu bisa bercocok tanam.


Ini 50 juta lagi, yang 25 juta untuk merenovasi rumah, biar rumah kamu bagus sama kayak rumah orang lainnya. Dan yang 20 juta untuk modal Ayah mu dagang hewan, yang 5 juta buat kamu untuk beli motor, biar kamu sekolah naik motor, sisanya bisa buat keperluan biaya sekolah."


Melihat Panji menaruh tumpukan uang di atas tempat tidur... Latifah sangat terkejut sekali.


"Latifah... Aku pamit dulu ya, aku mau melanjutkan perjalanan.


Ini no telpon ku, jika ada masalah penting, telpon saja.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati - hati di jalan ya Gus, terimakasih banyak."


"Oh iya, jangan lupa pasang listrik dan rajin solat 5 waktu


Salam sama Bapak ibu mu, aku pamit," kata Panji.


"Gus... Salim dulu," ujar Latifah.


Setelah salim dan mencium tangan Panji... Panji melangkahkan kaki menuju jalan raya.


Di Jakarta.


Jam 3 sore setelah solat Asar, Maya pergi ke rumah Mbah Wali Dirjo.


Tanpa di suruh, Maya langsung menyapu halaman rumah dan halaman musolla.


Sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah Mbah Dirjo. Seorang pemuda tampan bernama Hery turun lalu menemui Mbah Dirjo yang sedang ngopi di teras,


"Assalamualaikum Mbah..."


"Waalaikumsalam, silahkan duduk."


"Fatimah.. Buatkan kopi untuk tamu nya Mbah," perintah Mbah Dirjo.


"Iya Mbah," jawab Maya menghentikan menyapunya, lalu pergi ke dapur.


"Alhamdulillah Mbah, beberapa toko sangat ramai. Rencananya saya mau mendirikan Moll.


Bagaimana Mbah..? Apa kira - kira Moll yang akan saya dirikan bisa sukses," kata Hery.


"Bisa saja, apa yang tidak bisa bagi Allah," jawab Mbah Dirjo.


"Ini Mbah kopi nya," ujar Maya sambil meletakkan secangkir kopi di meja.


Setelah itu Maya melanjutkan menyapu halaman.


"Mbah... Siapa wanita itu, cantik sekali," ujar Hery.


"Dia Fatima- murid ku, ada apa kok tanya," kata Mbah Dirjo.


"Gak apa - apa Mbah," tanya saja. Dia cantik sekali Mbah."


"Apa kamu naksir..?"


"Hehehe, saya kan masih bujang Mbah, yaa kalau mau jadi istri ku yaa Alhamdulillah Mbah, apalagi muridnya Mbah Dirjo," ujar Hery.


"Kalau kamu berani yaa kamu coba saja ngomong sama Fatimah," kata Mbah Dirjo,


"Tetapi aku kasih tau, hati - hati kalau mendekati Fatimah."


"Hahahaha, Mbah ini bercanda saja. Saya kemari hanya mau mengantar bingkisan ini saja untuk Mbah Dirjo.


Kalau begitu saya permisi dulu ya mbah


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ketika hendak menyetater mobil... Heri bertanya kepada Maya yang sedang menyapu di sebelah mobil,


"Fatimah... Tinggal di mana..?"


"Tinggal di kos - kossan belakang Hotel Atlanta bang," jawab Maya.


"Besok aku main ke tempat kos mu ya," goda Hery.


"Boleh, silahkan," jawab Maya cuek,


"Tetapi saya sudah punya calon suami loh. Kalau mau berteman boleh, kalau naksir jangan."


"Kan baru calon suami belum jadi suami," ujar Hery.

__ADS_1


Selamat malam.... Ditunggu Vote nya ya kak... 😊🙏🙏🙏


__ADS_2