SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
WEJANGAN MBAH WALI BADRUS AL FANI


__ADS_3

"Aryo Jagad... Mengapa aku sulit membedakan antara jin dan manusia," tanya Panji.


"Iya Tuan, itu biasanya di alami oleh orang yang pertama kali melihat jin," ujar Aryo Jagad,


"Karena Tuan sekarang melihat beberapa alam secara bersamaan.


Tuan melihat bangsa jin, juga melihat bangsa manusia. Tuan juga melihat alam sekitar, alam jin juga alam jagad raya ini.


Nanti... Lama - lama Tuan akan terbiasa dan bisa membedakan antara alam jin dan manusia."


"Oh,.begitu ya," kata Panji.


"Kalau bangsa jin itu kebanyakan, kalau berjalan itu lurus tuan, pantatnya tidak bergoyang - goyang ke kanan dan ke kiri. Kakinya tidak menempel di tanah," ujar Aryo Jagad,


"Kalau di lihat sekilas... Telapak kakinya itu seperti menempel di tanah, padahal tidak menempel. Jarak kaki dan tanah itu hanya sehelai rambut. Jadi sangat tipis sekali.


Terus... Jin sering terbang dan menghilang Tuan.


Jin kebanyakan tidak makan seperti manusia, tetapi ada yang makan seperti manusia."


"Hahahaha," tiba - tiba Panji tertawa melihat jin sedang di pelorot celananya sama temannya,


"Ternyata ada jin yang mbeling juga."


Mendengar dan melihat Panji tertawa sendiri... Orang - orang di sekitar warung juga tertawa menganggap Panji gila.


"Biarkan saja dia makan dan ngopi, pokoknya gak menganggu" kata salah satu pembeli.


"Aryo Jagad... Mari kita bertawasul ke makam Mbah Wali Badrus, setelah itu, kita istirahat sambil ngopi," ajak Panji.


"Baiklah Tuan."


Dengan mengenakan celana pendek dan Kaos oblong... Panji duduk di luar makam agak jauh dari keramai-an orang - orang yang ziarah.


Setelah bertawasul 1x, Panji kemudian menyulut rokok marlboro sambil melihat orang - orang yang ramai berziarah.


"Beruntung sekali orang islam yang mati mendapat doa setiap hari dari orang lain," ucap Panji lirih,


"Orang yang beruntung adalah orang yang setiap menit, setiap jam setiap hari mendapatkan hadiah Al fatiha dan doa.


Aryo Jagad... Lihatlah itu ada rombongan peziarah, apakah itu bangsa jin?"


"Iya Tuan, benar," jawab Aryo Jagad,


"Mereka adalah kelompok bangsa jin muslim. Banyak sekali bangsa jin yang juga ziarah perorangan. Tuan lihatlah dengan teliti."


"Iya benar... Banyak jin yang ziarah di makam Mbah Wali Badrus," ujar Panji,


"Berarti jin juga suka Tirakat dan Riyadhoh dan suka ziarah ke makam para wali."


Tiba - tiba dari makam keluar seorang berbaju putih dengan sarung warna hijau dengan songkok hitam berjalan mendekati Panji, lalu uluk salam,

__ADS_1


lAssalamualaikum Gus...


Ada tamu dari jauh rupanya," kemudian orang tua itu duduk di hadapan Panji.


"Waalaikumsalam...


Sipakah bapak ini," tanya Panji.


"Aku Kyai Badrus Al Fani, orang sekitar memanggil ku Mbah Fani."


Mengetahui itu Mbah Wali Badrus... Panji kemudian sungkem mencium tangan Mbah Wali Badrus,


"Maaf kyai... Saya tidak sopan berpakaian seperti ini."


"Tidak apa - apa Gus... Baju hanyalah alat pembungkus saja, yang penting adalah isinya," ujar Mbah Wali Badrus,


"Kadang... Manusia itu melihat luarnya atau bungkusnya saja tetapi tidak melihat isinya.


Itu salah satu tanda hati yang terhijab oleh nafsunya sendiri. Dia hanya bisa melihat luarnya saja tetapi tidak bisa melihat dalamnya.


Apa yang kamu katakan barusan adalah benar....


Orang yang beruntung sekali adalah orang yang setiap menit, setiap jam dan setiap hari mendapatkan hadiah kiriman Al fatihah dan doa.


Tetapi Gus tidak berfikir, bagaimana caranya agar kamu kelak kalau mati mendapatkan hadiah kiriman Al fatiha dan doa dari orang lain..?"


"Bagaimana caranya kyai," tanya Panji.


"Kedua... Gus harus sering bertawasul kepada orang lain dan mendoakan orang lain.


Ketiga... Gus harus sering ziarah ke makam para wali untuk mendapatkan berkah.


Ke empat... Gus harus bersolawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw.


Ke lima... Gus harus Tirakat, Riyadho dan Suluk untuk mendekatkan diri kepada Allah


Kalau Gus bisa memenuhi syarat ini... Gus kelak kalau meninggal dunia, banyak yang memberi hadiah Al fatiha dan mendoakan.


Seperti apa yang kamu pernah bilang,


Sopo nandur apik bakal cukul apik."


"Baiklah kyai... Terimakasih atas nasehat dan petunjuknya," kata Panji,


"Kyai... Apa dari maksud berdoa itu tanda orang yang tidak berterimakasih dan tidak bersyukur kepada Gusti Allah.


Kalau tidak berdoa itu sombong dan tidak membutuhkan Husti Allah, merasa cukup dan mampu?"


"Kalimat itu ada di dalam kitab Al Hikam Gus," jawab Mbah Wali Badrus,


"Maksudnya... Berdoalah untuk orang lain, dan jangan berdoa untuk dirimu sendiri.

__ADS_1


Sebab... Ketika kamu mendoakan orang lain... Kamu akan mendapatkan upah atau hadiah langsung dari Allah dan


hadiah itu lebih bagus dan banyak dari pada kamu berdoa untuk diri mu sendiri.


Kamu ini adalah hamba Allah, bukan ummat.


Sebagai hamba... Kamu harus tau diri, kamu harus mengabdi, harus taat dan harus siap kapan saja Allah memberi tugas kepada mu.


Sebagai hamba... Allah akan mefalitasi diri mu, Allah akan memberi segala untuk keperluan tugas mu.


Jadi... Kamu tidak perlu berdoa meminta hal - hal remeh, nanti kamu menjadi bahan tertawaan para penghuni langit."


"Kyai... Apa bedanya ummat dengan hamba," tanya Panji.


"Ummat itu sifatnya umum dan hamba sifatnya khusus," jawab Mbah Wali Badrus.


"Lalu... Bagaimana dengan orang yang berdoa seperti ini "Ya Allah hamba mohon ini dan itu"


Bagaimana itu kyai," tanya Panji.


"Itu adalah hanya pengakuan orang awam Gus," ujar Mbah Wali Badrus, "Padahal... Seorang hamba Allah itu tidak akan mengatakan dirinya hamba, karena dia sudah mengerti kalau dia adalah hamba, dan Allah juga sudah mengenal hamba - hambanya.


Hamba itu bisa di kategori orang - orang pilihan Allah."


"Kyai... Saya mohon pamit dulu, mau meneruskan perjalanan, saya mohon Barokah doa nya," ucap Panji.


"Baiklah Gus, semoga Allah memberi Ridho Agung kepada mu," kata Mbah wali Badrus,


"Pesan ku... Yang sunguh - sunguh."


"Baiklah kyai, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Tuan... Apakah Tuan tidak istirahat tidur dulu," tanya Aryo Jagad.


"Aku tidak ngantuk," ujar Panji,


"Kalau Aryo Jagad mau kembali pulang ke Alas Blandong... Pulang lah, kalau mau ikut aku jalan... Ya gak apa - apa."


"Saya akan ikut tuan hingga ke pesisir Batu Hiu dan pesisir laut Pangandaran," kata Aryo Jagad,


"Karena... Di kedua pantai itu sangat bahaya tuan. Itu sudah masuk wilayah laut pantai selatan."


"Bahaya apanya..? Aku tidak takut sama sekali," ujar Panji,


"Aryo Jagad tenang saja."


Malam itu Panji melanjutkan perjalanan ke kota Tasikmalaya. Sambil menikmati kepulan asap rokok... Panji berjalan sambil Nlngobrol dengan Aryo Jagad raja jin penguasa Alas Blandong.


***

__ADS_1


__ADS_2