SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PANJI BERTEMU MBAH WALI HASAN SALAK


__ADS_3

"Ini Pak, nasi padang ikan rendang daging sapi dan telor bulat plus peyek udang," ucap Ruli sambil menyodorkan kantong plastik.


"Terimakasih Non... Terimakasih Tuan," ujar si pengemis sambil menundukkan kepala tanda rasa terimakasih.


"Silahkan di makan Pak," ujar Panji kemudian memanggil tukang rokok keliling yang kebetulan lewat.


Setelah membeli sebungkus rokok jie sam sue, Panji memberikan pada si pengemis.


"Kramatwatu, Cilegon, Anyer, mangga nu bade naik ti antosan," teriak kernet metro mini.


"Ayoo Mas, kita naik metro mini ini, nanti keburu malam," ajak Ruli kemudian mengangkat barang belanjaannya.


"Baiklah," kata Panji kemudian berdiri.


"Tuan... Jangan naik bus ini!!!" ujar pengemis tiba - tiba sambil mengunyah makanan,


"Naiklah angkutan umum lainnya saja."


Mendengar ucapan si pengemis yang melarang naik bis metro mini... Hati Panji menyuruh untuk mematuhi perintah si pengemis, lalu Panji duduk kembali.


"Ayoooo Mas, keburu malam," ajak Ruli.


"Naik angkutan umum Bemo saja Ruli," ucap Panji.


"Aaah, kamu itu aneh deh," seru Ruli kesal kemudian duduk di samping Panji,


"Angkutan umum Bemo agak lama Mas kalau sudah jam malam begini."


"Bawel...!! Patuhi perintah ku," ujar Panji kemudian mengelus rambut Ruli yang terlihat lusuh,


"Kita tunggu pengemis ini selesai makan, baru kita pergi, ok."


"Iya, iya," jawab Ruli yang kesal.


Sambil menikmati nasi bungkus ala nasi padang... Pengemis itu berkata dalam hati,


"Pemuda ini bernama Gus Panji... Dia adalah cicit keturunan Mbah Wali Suro Nganjuk. Sekarang dia dalam didikan Mbah Wali Jabat guruku. Jadi... Dia adalah anak keturunan dari sanat guru mursid ku, secara tidak langsung.


Walau dia masih remaja... Dalam tubuhnya sudah ada Nur Warid yang tertanam sejak Gus Panji masih dalam kandungan. Hemmm... Ternyata dia sudah di baiat langsung oleh Mbah Wali Jabat. Makanya aurah Nur Muhammadnya memancar sangat terang. Nur itulah yang membuat Gus Panji remaja memiliki pikiran yang dewasa.


Segala perbuatannya selalu di awasi oleh Leluhurnya.


Segala perbuatannya, tidaklah lumrah seperti anak - anak remaja lainnya. Dia bisa di bilang setengah Majedub.


Seekor Harimau akan menjalani hidup sebagai Harimau.


Tapi... Gus Panji ini tidak sadar kalau Kyai Jabat yang di panggil Kakek dan Nyai Sa'adah yang di panggil Nenek itu adalah perwujudan Mbah Wali jabat dan Istrinya. Gus Panji tidak tau kalau Nyai Sa'adah dan Kakek Jabat itu bangsa arwah yang hidup di alam ruhaniah."



"Alhamdulillah, sudah selesai makannya. Oh iya Tuan, kalau ada waktu... Mainlah ke rumahku, di desa Cicuruk. Tanya saja nama ku Mbah Hasan Salak, nanti pasti di beri tau keberadaan rumah saya."


"Iya Kek, Insallah saya akan main kesana besok siang," ujar Panji asal nyeplos.


"Kakek permisi dulu ya... Trimakasih telah di beri makan dan minum juga rokok," ucap Kakek pengemis kemudian mengambil amplop coklat yang tebal,


"Tuan... Terimalah hadiah kecil ini dari Kakek, maaf hadiah ini tidak seberapa nilainya, tapi... Kakek mohon terimalah.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Kek," jawab Panji sambil menerima hadiah sebuah amplop warna coklat.


"Mas, taxi... ?!! Mau kemana mas," tanya sopir taxi gelap.


"Mau ke Kramatwatu Pak," jawab Panji kemudian berdiri.


"Berapa ongkos Pak, ke Kramatwatu, losmen Batu Hiu," tanya Ruli.


"10 ribu Non," jawab sopir.


"Mahal amat! Biasanya juga dua ribu paling mahal," ujar Ruli,


"Mentang - mentang bos ku bukan orang sini di tarik mahal? Bus saja dari Serang ke Jakarta seribu perak."


"5 ribu aja deh Non, kalau mau, ini juga sudah jam 8 malam," ucap supir.


"Sudah, biarkan saja 5 ribu, Ayoo masuk," kata Panji kemudian bergegas masuk taxi.


Tak lama kemudian taxi meluncur dengan kecepatan sedang. Ketika hendak sampai di Losmen... Taxi merambat perlahan - lahan karena ada kecelakaan.


Setelah dekat... Panji melihat bus metro mini yang hendak di ditumpanginya tadi mengalami kecelakaan parah, banyak polisi dan mobil ambulan.


"Alhamdulillah... Gak jadi naik bis metro mini tadi Maaas," kata Ruli kemudian memeluk Panji,


"Untung kamu minta naik angkutan lainnya. Bagaimana seandainya tadi kita naik? Bisa mati terjepit kita, kalau mati, bagaimana dengan nasib ibu dan anakku!!!"


"Yang melarang bukan aku, tapi pengemis itu," jawab Panji.


Setelah taxi berhenti di Losmen, Panji dan Ruli beranjak masuk kamar.


"Capaiknya," ujar Ruli kemudian menyalahkan Ac lalu duduk bersandar di kursi.


Sementara, Panji langsung mandi.


***


"Ruli, kamu gak pulang jenguk anakmu," tanya Panji sambil merebahkan badannya.


"Iya Mas, habis ini aku pulang sebentar," kata Ruli kemudian berdiri lalu pamit pergi,


"Oh iya, kuncinya saya titipin satpam ya."


Ketika Ruli membuka pintu kamar losmen... Ruli terkejut dengan keberadaan Bela yang berdiri di luar pintu,


"Hemmm... Mau cari siapa Mbak?"


"Cari kang Panji," jawab Bela sambil melihat penampilan Ruli yang sexi dengan pakean ketat juga rok mini.


"Bos... Ada tamunya di depan pintu," kata Ruli lalu mempersilahkan Bela masuk, kemudian pergi berlalu.


"Assalamualaikum," ucap Bela yang sudah masuk kamar.


"Waalaikumsalam," jawab Panji,


"Eeh, kamu Bela, silahkan duduk, sori ya... Aku rebahan di ranjang, kaki ku rasanya capaik sekali."

__ADS_1


"Sini aku pijitin kaki mu, kamu tengkurap," kata Bela kemudian menaruh tas di samping bawah meja.


"Kamu kok malam - malam main ke sini," tanya Panji sambil menikmati pijitan Bela.


"Lagi galau kang, pusing aku di rumah," ucap Bela,


"Tadi habis bertengkar sama kakak laki - laki ku, gara - gara Mobil. Ayah baru pulang ke rumah langsung bertengkar sama ibu, sekarang ayah pergi lagi.


Aku menginap sini ya kang? Boleh aku tidur sini?"


"Boleh," ujar Panji,


"Kamu tidur sini setiap hari juga boleh, ada teman ngobrolnya lagi."


"Siapa teman ngobrolnya," tanya Bela.


"Itu Ruli, yang barusan keluar kamar ketemu kamu," kata Panji.


"Siapa dia kang," tanya Bela penasaran.


"Dia teman ku, sama kaya kamu," jawab Panji,


"Oh iya, tadi aku di beri hadiah sebuah amplop coklat sama Mbah Hasan seorang pengemis, coba Bela buka apa isinya, amplop nya ada di atas meja."


Setelah membuka amplop cokelat yang tebal, Bela diam sesaat lalu berkata,


"Isinya uang kang Panji."


"Uang?!!" ujar Panji sambil membalikkan badannya,


"Masak seorang pengemis ngasih uang ke aku? Tak kira jimat atau apa? Coba hitung berapa jumlahnya."


"Ini ada lebel tulisan dari Bank BCA 50 juta," kata Bela kemudian menaruh amplop di atas meja.


Tok tok tok! suara pintu kamar terketuk.


"Eeh, kang Mumun," ujar Bela setelah membuka pintu kamar,


"Silahkan masuk kang."


"Iya Non," kata kang Mumun kemudian masuk kamar.


"Silahkan duduk dulu kang Mumun, panji ganti kaos dulu ya? Kang Mumun, tau gak desa Cicuruk?"


"Tau Bos, desa Cicuruk itu dari sini 20 menittan, tapi desanya agak pelosok," kata kang Mumun,


"Apa gak besok siang saja Bos? Soalnya, jalannya bebatuan belum di aspal dan agak gelap bos di sana.


Emang mau ke rumah siapa Bos?"


"Mau ke rumah Mbah Hasan kang. Hatiku ingin sekali kesana sekarang juga," kata Panji,


"Tapi... Sudah ada di rumah apa belum ya? Mbah Hasan itu?"


"Siap Bos, kang Mumun antar."


"Bela... Aku pergi dulu ya? Kamu istirahat tidur saja," kata Panji,


"Kalau lapar makan saja di rumah makan Losmen."


"Assalamualaikum," ucap Panji


"Waalaikumsalam," jawab Bela kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, sampailah Panji dan kang Mumun di gapura desa Cicuruk.


Kang Mumun menghentikan sepeda motornya di sebuah warung kopi,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab orang yang lagi ngopi.


"Pak mau tanya... Rumah Mbah Hasan Salak itu di sebelah mana ya," kata kang Mumun.


"Rumahnya ada di ujung desa Pak, yang ada musollahnya," jawab salah satu orang yang ngopi.


"Terimakasih Pak, Assalamualaikum."


Setelah berada di musollah pinggir jalan... Kang Mumun melihat seorang laki - laki parubaya yang duduk sendiri di teras rumah.


"Assalamualaikum," ucap kang Mumun sambil jalan mendekat.


"Waalaikumsalam kang," ucap Bapak parubaya.


"Mau tanya Pak... Apa benar ini rumah Mbah Hasan Salak," tanya Kang Mumun.


"Iya benar, Bapak mau mencari siapa?"


"Mau ketemu sama Mbah Hasan Salak Pak," sahut Panji.


Mendengar ucapan Panji... Bapak setengah tua itu tersenyum.


"Oh...! Mau ke makam Mbah Hasan Salak," gumam Bapak setengah tua itu lalu menunjuk sebuah rumah gubuk,


"Itu makamnya Mbah Wali Hasan Salak, di sebarang jalan desa, yang ada orang lagi ziarah."



"Bukankah Mbah Hasan Salak itu masih hidup?" tanya Panji.


Saya ini Cicitnya kang... Anak keturunan ke 4 dari Mbah Hasan Salak. Mbah Hasan Salak sudah wafat kira - kira 200 tahun yang lalu."


"Oh iya kang, terimakasih," ujar Panji,


" Kalau begitu saya ke makamnya saja, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab cicitnya Mbah Wali Hasan Salak.


"Kang Mumun... Itu ada warung kopi, kang Mumun ikut saya ke makam apa ngopi sambil nunggu saya," tanya Panji.


"Saya ngopi saja Bos, sambil nunggu bos selesai ziarah," kata kang Mumun kemudian berjalan ke arah warung kopi.


Ketika berada di area makam, Panji melihat ada beberapa orang yang sedang membaca Al qur'an juga ada yang wirid di depan makam, lalu Panji uluk salam,


"Assalamualaikum Mbah Wali Hasan..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam Gus," jawab Mbah wali Hasan melalui alam ruhaniah.


Mendengar salamnya di jawab... Panji pun duduk di pojok yang tak jauh dari makam.


Tanpa tawasul, Panji membaca wirid yang di kasih sama kakek jabat,


"Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah."


Tak lama kemudian, ada cahaya meneranggi makam, lalu Panji melihat Mbah Hasan Salak berjalan mendekatinya.


"Assalamualaikum Guus," ucap Mbah Wali Hasan sambil membungkukkan badannya.


"Waalaikumsalam Mbah," jawab Panji kemudian sungkem mencium tangan Mbah Wali Hasan, namum... Mbah Wali Hasan dengan cepat menarik tanganya karena malu dan tidak pantas tangannya di cium oleh Cicit Mbah guru mursidnya.


"Alhamdulillah... Kedatangan tamu terhormat dari jauh," ucap Mbah Wali Hasan takdim.


Tak lama kemudian datang seorang pemuda membawa sebuah talam berisikan teko kecil dan gelas, kemudian menaruh talam di samping Mbah Wali Hasan.


Setelah menuangkan kopi ke dalam gelas, Mbah Wali Hasan berkata,


"Silahkan di minum Gus, silahkan merokok. Sebentar lagi... Orang - orang yang tirakat di makam ini semua akan tidur pulas."


Setelah menyulut rokok, Panji berkata,


"Mbah... Mengapa Mbah Hasan ini yang sudah wafat 200 tahun yang lalu, kok bisa hidup di alam dunia sebagai pengemis? Bertemu saya di kota Serang dan bisa makan seperti orang yang masih hidup?"


"Pada hakekatnya orang beriman ketika mati, dia, Ruh-nya tetap hidup Gus. Hanya jasad kasarnya yang akan rusak terkubur. Yang mana jasad terbuat dari 4 unsur, api tanah air dan udara, maka jasad itu kembali pada asalnya," jawab Mbah Wali Hasan,


"Jika semasa hidupnya orang itu berbuat kebaikan, dia beriman kepada Allah dan dia berilmu... Maka Ruh itu akan kembali pulang ke asal usulnya, yaitu Alam Ruhaniah."


"Asal usul Ruh itu dari mana Mbah," tanya Panji.


"Sebenarnya manusia itu bukanlah penduduk Bumi, tapi penduduk Langit di Alam Ruhania, juga bisa di sebut surga. Setelah terusir dari dari Alam surga... Maka manusia bertempat tinggal di Bumi. Ketika manusia mati... Ruhnya akan kembali ke alam asalnya yaitu Alam Ruhania atau juga bisa di sebut Alam Surga," jawab Mbah Wali Hasan,


"Agar bisa kembali ke Alam Ruhania... Manusia harus berbuat kebaikan, harus beriman dan berilmu. Kalau tidak... Ruh manusia itu akan tergantung di antara langit dan bumi, dia tidak akan bisa kembali ke asalnya hingga akhir jaman."


"Kalau jasad Mbah Hasan telah hancur lebur kembali ke 4 unsur, mengapa Mbah Hasan bisa hidup kembali di alam Nyata ini,"tanya Panji.


"Kalau manusia yang berbuat kebaikan, beriman dan berilmu... Kalau dia sudah mati, Ruh-nya di beri kekuasaan oleh Allah.


Dengan ilmunya... Ruh itu bisa merubah apa saja, dan juga bisa berubah menjadi manusia lalu berkelana.


Ruh itu bisa membantu mahluk lainnya, membantu kesusahan umat yang di timpah kesedihan," kata Mbah Wali Hasan.


"Di manakah letak ilmu itu Mbah," tanya Panji.


"Ilmu itu ada di sekitarmu Gus," jawab Mbah Wali Hasan, "Tak jauh darimu. Di mana kamu berada... Ilmu itu ada di situ, sangat dekat sekali dengan dirimu. Tinggal kita manusianya saja, mampu tidak dia mengambilnya, mampu tidak dia menangkapnya.


Ilmu itu bukan hanya di pondok pesantren saja, bukan hanya ada di makam para wali, bukan hanya ada di diri para ulama atau kyai.


Tapi... Ilmu itu tersebar di alam jagat raya ini, karna, ilmu itu menyatu dengan api, tanah, udara dan air."


"Kalau menyatu dengan udara, api, tanah dan air... Berarti ilmu itu juga berada di dalam diri manusia, menyatu dengan jasad kita Mbah," ujar Panji,


"Karena, manusia tercipta dari 4 unsur itu."


"Benar Gus," jawab Mbah Wali Hasan.


Waktu terus berlalu, malam semakin pekat, tak terasa Panji duduk di makam hingga tengah malam, tak terasa banyak sekali wejangan yang di terima Panji.


"Gus... Apa yang kamu inginkan dari ku," tanya Mbah Wali Hasan.


"Saya hanya minta di doakan saja Mbah, doakan saya mempunyai ilmu yang barokah dan manfaat," kata Panji.


"Baiklah Gus," kata Mbah Wali Hasan kemudian berdoa dan di amini oleh Panji.


Setelah berdoa, Mbah Wali Hasan berkata,


"Pakailah cincin ini, suatu saat... Vincin ini akan berguna untuk mu Gus dan terimalah uang ini sebagai hadiah untuk mu."


"Terimakasih Mbah," ucap Panji kemudian menerima cincin batu akik kecil berwarna merah dan menerima segebok uang yang terbungkus kertas putih.


"Mbah... Panji mau pamit dulu, balik ke Losmen,"


Ketika Panji sungkem mencium tangan Mbah Wali Hasan... Dengan cepat Mbah Wali Hasan menarik tangannya.


"Gus... Mendekatlah," kata Mbah Wali Hasan kemudian memeluk tubuh Panji, tak lama kemudian Mbah Wali Hasan melepaskan pelukannya.


"Assalamualaikum Mbah," ujar Panji


"Waalaikumsalam Gus," jawab Mbah Wali Hasan sambil membungkukkan badannya.


Begitu panji memakai sandalnya di depan pelataran makam... Panji mendengar orang - orang ziarah kembali membaca Al qur'an. Makam pun remang - remang.


Setelah di depan warung kopi, Panji mengajak kang Mumun untuk balik ke Losmen.


Motorpun meluncur dengan kecepatan sedang.


Setelah kurang lebih 30 menit, sampailah di halaman Losmen.


"Kang parkir dulu motornya," kata Panji sambil turun dari motor,


"Kita makan dulu, lapar aku, belum makan malam.


Silahkan kang Mumun pesan dulu, aku mau bangunin Bela, sekalian makan bareng."


"Siap Bos," jawab kang Mumun.


"Assalamualaikum," ucap Panji sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam salam," jawab Bela.


Begitu masuk ke dalam kamar, Panji berkata,


"Jam 3 Pagi kok belum istirahat tidur, kan nanti jam 7 Pagi kamu sekolah."


"Gak bisa tidur kang, jadi aku pakai untuk solat malam dan wirid," jawab Bela.


"Ayo berdiri," kata Panji sambil menjulurkan telapak tangannya.


"Temani aku makan."


"Baiklah kang," ucap Bela sambil berpegangan telapak tangan Panji, kemudian berdiri lalu memeluk Panji erat - erat.


"Sudah jangan bersedih," ucap Panji sambil menepuk bahu Bela,

__ADS_1


"Ayoo kita ke depan."


__ADS_2