
Setelah beberapa menit memijat kepada Panji, Panji berteriak kecil kesakitan. Setelah itu, kepala Panji terasa ringan.
"Sudah sembuh Gus, kepala mu," ucap Nyai Farah kemudian menutup botol kecil tempat minyak sambung.
"Alhamdulillah...
Terimakasih Nyai," kata Panji sambil membungkukkan badan.
"Ambillah minyak sambung ini untuk mu. Suatu saat... Banyak orang yang membutuhkan pertolongan mu lewat minyak ini.
Simpanlah baik - baik.
Aku sudah tua, dan tidak membutuhkan minyak ini lagi."
"Baiklah Nyai, terimakasih banyak."
"Sekarang... Ikutlah aku," kata Nyai Farah kemudian keluar rumah, lalu berjalan di atas air laut.
Melihat Nyai Farah berjalan di atas air laut, Panji segera membaca asmak Bismillahirrohmanirrohim, kemudian berjalan di atas air laut mengikuti Nyai Farah dari belakang.
Melihat Nyai Farah berjalan sangat cepat, Panji pun mengunakan ajian ilmu lipat bumi.
Sambil berjalan dan melihat jubah Nyai Farah yang bercahaya, Panji menerawang siapa sesungguhnya Nyai Farah.
Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata dalam hati,
"Ternyata Nyai Farah adalah seorang wali sufi asal kabupaten Indramayu.
Subhanallah...
Ternyata Nyai adalah salah satu murid Syeh Abu Satin yang bergelar kyai Sundul Langit Cirebon.
Nyai Farah adalah murid ke tujuh. Jadi... Aku harus memanggil bibi.
Ternyata Nyai Farah mempunyai ribuan santri perempuan dari bangsa jin. Nyai Farah juga hidup membujang hingga usianya tua.
Ya... Repot juga punya istri wali sufi itu, tidak bisa di ajak bercinta di atas ranjang. Siang malam pasti sibuk dengan Tuhannya. Kyai mana yang berani memperistri Nyai Farah..?
Seperti wali sufi Robiah Al Adawiyah."
Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, sampailah di pantai Bedegur kecamatan Malimping Lebak Banten.
"Gus, sudah sampai," ujar Nyai Farah kemudian menginjakkan kakinya di pasir.
"Bibi Farah...
Bukankah ini rumah Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi..?"
"Rupanya kamu sudah tau siapa diriku, hingga kamu memanggil ku Bibi.
Guru mu Syeh Abdul Jalil barusan wafat.
Segeralah solat jenazah di depan jasadnya. Sebentar lagi di Kebumikan di depan pengimaman masjid."
"Baiklah Bibi," jawab Panji sambil meneteskan air matanya, kemudian bergegas ke masjid.
Setelah solat jenazah... Jam 9 malam jasad Syeh Abdul Jalil di makam kan di pemakaman keluarga depan pengimaman masjid.
Suara dzikir para kyai, para tamu pelayat juga santri Torekot Al Jabbari terdengar menggema.
Setelah solat subuh berjamaah... Panji duduk di teras masjid sendirian.
"Gus..." panggil Nyai Farah.
"Iya Bibi."
"Aku pulang dulu ke Indramayu. Ada pesan dari Syeh Abu Satin kakek guru mu. Kamu di tunggu di kediamannya di desa pasir, pesisir pantai Kejawanan kecamatan Lawahwungkuk Cirebon."
"Baiklah Bibi Farah. Saya akan Tahlilan dulu di sini."
"Baiklah.
Assalamualaikum," ujar Nyai Farah kemudian berjalan ke arah pantai.
"Waalaikumsalam Bibi..."
*
Kota Surabaya.
Pagi itu...
Setelah mengantar Aini pulang dari rumah sakit, Maya pamit untuk terbang ke kota Surabaya.
Setelah berada di bandara Hasanuddin, Maya berkata,
"Altar Mila... Besok kamu ambil dokumen kepemilikan PT Java Kontraktor milik Tuan Panji. Kamu simpan di apartemen Intan ya."
"Baiklah Nyonya."
"Mulai saat ini... Kamu urus keuangan PT Hening Group. Kamu urus juga semua asetnya Tuan Panji. Kamu kan Assisten nya Tuan Panji."
"Baiklah Nyonya."
1 jam kemudian, pesawat Lending di bandara Juanda Surabaya, dan Maya langsung pulang menuju yayasan kasih ibu.
Sambil duduk di kursi depan piano nya, Maya berkata lirih,
Haduh... Sudah lebih dua bulan aku tidak masuk kuliah. Jadi kacau. Jadi malas kuliah."
Kring..!
Hp Maya berdering. Setelah tersambung,
"Iya Ma... Ada apa..?"
"Kamu jenguk Kakek mu di Banyuwangi, tadi malam Kakek mu telpon katanya kangen sama kamu."
"Iya Ma, siang ini aku akan pergi, aku mau istirahat sebentar."
"Baiklah."
Kring..!
Hp sekretaris Novi berdering. Setelah terhubung,
"Sekretaris Novi, siang ini aku akan bepergian ke kabupaten Banyuwangi ujung timur pulau jawa. Aku butuh pengawal dari organisasi The Bluss."
"Baiklah Nyonya, akan aku hubungi Anton si Naga Barat. Nyonya SMS saja alamatnya."
"Baiklah," kata Maya kemudian mengirim alamat via sms.
Setelah solat Dzhuhur... Dua mobil BMW anti peluru memasuki halaman yayasan kasih ibu.
Setelah keluar dari dalam mobil, Naga Barat duduk di teras sambil menunggu Maya keluar.
Melihat Maya membuka pintu, Naga Selatan membungkukkan badan sambil berkata,
"Selamat siang Nyonya...
__ADS_1
Kami siap mengantarkan Nyonya."
"Baiklah Mas Anton.
Sekretaris Rohma, aku mau ke kabupaten Banyuwangi. Kamu jaga anak - anak yayasan ya?"
"Iya bu Nyai."
Tak lama kemudian, dua mobil BMW meluncur ke ujung timur pulau jawa.
***
Pondok pesantren Spombob.
Sepulang sekolah, Hanan pergi ke Bank Asia untuk mengambil uang. Kemudian Hanan ke deler honda untuk membeli motor baru. Hanan juga beli baju, sarung sajadah juga sorban dan tasbih.
Setelah berada di pondok pesantren Spombob... Hanan langsung menuju makam leluhur untuk melihat para pekerja yang membangun atap makam.
"Assalamualaikum Gus Hanan," sapa Pak Toni.
"Waalaikumsalam Pak Toni."
"Bangunan di makam mbah wali Kukun sudah selesai Gus. Untuk makam yang berjejer, dua hari lagi akan selesai."
"Iya Pak Toni. Tolong Pak Toni buatkan sumur di pojok sana ya pak, sama kamar mandi dan pancuran untuk wudhu. Yang di sebelah kanan untuk laki - laki dan sebelah kiri perempuan."
"Jadi... Buat dua sumur ya Gus. Dua kamar mandi..?"
"Iya Pak Toni.
Sekalian Pak Toni pasangkan meteran listrik baru. Terus, pasang tiang besi untuk lampu di jalan menuju makam. Di makam kasih lampu yang terang ya Pak.
Kalau uangnya kurang, Pak Toni bilang saja."
"Baiklah Gus.
Ini masih ada sisa uang.
Tetapi... Untuk pasang listrik dan beli lampu juga pipa untuk tiangnya, uangnya kurang Gus."
"Baiklah Pak Toni, ini saya kasih uang lagi untuk kamar mandi dan pasang listrik."
***
Ujung Timur Pulau Jawa.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 7 jam, dua mobil BMW memasuki desa Siman kecamatan Purwoharjo kabupaten Banyuwangi. Tak lama kemudian, dua mobil BMW parkir di halaman rumah yang sederhana.
Melihat dua mobil mewah parkir di halaman rumahnya, Kakek Kirman dan Nyai Dasima berdiri di depan pintu dapur yang berada di samping rumah.
"Assalamualaikum Kakek, Nenek," sapa Maya dari halaman rumah.
"Waalaikumsalam...
Kamu Maya..?" sahut sang Nenek. Sama siapa kamu..?"
"Sendiri Nek," jawab Maya kemudian sungkem mencium tangan Kakek Neneknya.
"Naga Barat... Ayo masuk ke rumah, ajak orang - orang mu masuk," kata Maya.
"Baiklah Nyonya."
Tak lama kemudian,
"Naga Barat, ini teko kopi. Silahkan minum dulu," ujar Maya.
"Baiklah Nyonya, terimakasih."
Losmennya yang ada di dekat perempatan lampu merah tadi.
Biar enak istirahat nya.
Atau kamu istirahat tidur di hotel di desa Gerajagan di tepi pantai wisata. Dekat kok dari sini, paling 15 menittan."
"Baiklah Nyonya."
Setelah Naga Barat pergi... Saudara - saudara Maya yang tinggal di desa Siman mendengar Maya pulang kampung, keluarga besar Maya pada berkumpul di rumah Kakek kirman, orang paling sepuh di keluarga besar Maya.
Malam itu, Maya menikmati makan bersama keluarga besarnya sambil bercerita dan temu kangen.
Setelah menikmati makan malam, Maya pun istirahat karena kelelahan di jalan.
Jam 10 malam... Sambil menikmati kepulan Asap rokok Gudang Garam Merah, Kakek kirman yang sudah keriput duduk di teras berkata lirih,
"Kelihatannya, Maya cucu ku menyimpan kesedihan yang dalam di hatinya. Dari aura nya sudah kelihatan.
Mengapa dia kesini kok tidak bersama suaminya..? Padahal, katanya baru menikah beberapa bulan yang lalu.
Coba aku terawang."
Sebagai pelaku aliran kejawen, dari muda Mbah Kirman telah banyak melakukan spiritual ilmu olah kanuragan juga olah ilmu batin dari gurunya. Mbah Kirman Kakek Maya juga di segani oleh penduduk desa Siman karena ilmu kesaktiannya juga kebaikan nya"
Setelah menerawang dengan seksama, Mbah Kirman berkata lirih,
"Ternyata suami Maya bernama Panji. Dia sekarang berada di ujung kulon Timur pulau jawa. Di makam gurunya.
Panji suami Maya bukanlah pemuda sembarangan. Dia memiliki segudang ilmu kesaktian. Masih muda sudah luar biasa ilmunya.
Panji mempunyai banyak masalah yang rumit. Kelemahannya adalah seorang wanita cantik.
Saat ini... Kondisi Maya juga hamil. Lebih baik aku hubungi suaminya lewat ilmu telepati.
"Assalamualaikum Gus...
Sugeng Rahayu."
"Panji yang sedang menikmati kepulan asap rokok di tepi pantai mendengar uluk salam dari jalur goib.
"Waalaikumsalam...
Sugeng Rahayu ugi," jawab Panji.
"Siapakah Kakek ini..?"
"Aku Mbah Kirman, Kakek Maya istri mu Gus."
"Iya Kek, ada apa..?"
"Saat ini isteri mu sedang hamil muda. Dan sekarang lagi bersama ku di kabupaten Banyuwangi. Apa kamu gak kasihan pada Maya istri mu, bepergian jauh sedirian dalam keadaan hamil..?
Maya juga telah mencari mu dalam dua bulan ini."
"Baiklah Kek, sekarang juga aku ke rumah Kakek.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Setelah membaca mantra ilmu Lipat Bumi, Panji berjalan sangat cepat di atas permukaan air laut.
__ADS_1
Dalam 3 jangka, Panji sudah berada di Laut Selat Bali.
Ketika hendak menuju pantai Gerajagan... Panji bersuci mengambil air wudhu. Setelah itu Panji melaksanakan solat di atas permukaan air laut.
***
Setelah solat 6 rokaat, Panji duduk bersila kemudian melantunkan Dzikir Diatas Tirai di tujukan dan di hadiahkan pada ahli kubur dan Masyarakat sekabupaten Banyuwangi.
Sementara...
Dewi Sambi (bangsa jin) yang sedang istirahat di kerajaan bawah Laut Timur pulau jawa, sangat terganggu dengan suara yang menggema dan mengguncangkan istana kerajaan.
"Paman Tirto..!
Suara siapa ini hingga bisa menggunjangkan kerajaan bawah Laut Timur?" tanya Nyai Ratu Dewi Sambi geram.
"Ada seorang pemuda entah siapa. Dia sedang solat di atas permukaan air Laut wilayah kerajaan kita.
Maaf Nyai Dewi, ilmu paningal saya tidak mampu menembus ke goiban pemuda itu."
"Baiklah, kalau begitu akan aku temui pemuda itu,x ujar Nyai Dewi Sambi kemudian pergi dengan mengunakan kereta kencananya.
Dalam perjalanan...
Setelah menerawang Panji, Nyai Dewi Sambi berkata,
"Ternyata dia bernama Panji. Keturunan ke 5 dari Mbah Wali Suro Nganjuk.
Dia juga murid dari Syeh Abdul Jalil Lebak Banten.
Pantas saja di usia yang sangat muda memiliki kesaktian yang luar biasa.
Walau Panji belum mencapai drajat kewalian, kalau berurusan dengan Gus Panji, aku harus berfikir 3 kali.
Dia di lindungi oleh beberapa wali wali khos Tanah Sunda.
Hemmm... Rupanya dia pernah bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Bahkan pernah menjalin hubungan Asmara dengan Nyai Ratu Dewi Anjani penguasa kerajaan bawah Laut Barat.
Walau hubungan itu telah lama vakum, kemungkinan juga akan tersambung lagi."
"Assalamualaikum.
Rahayu..."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian menutup dzikir nya dengan doa.
"Siapa kamu..?"
"Aku Nyai Dewi Sambi. Ratu penguasa kerajaan bawah Laut Timur."
"Ada keperluan apa kamu menemui ku," tanya Panji kemudian menyulut rokok marlboro.
"Kalau Gus tidak keberatan... Mampirlah ke istana ku untuk makan malam dan minum secangkir kopi.
Bukankah Gus Panji sudah 4 hari tidak makan..?"
"Baiklah.
Aku mau singgah di istana mu, syaratnya, kamu salim dan cium tangan ku," ujar Panji.
Mendengar kata - kata Panji yang merendah kan dirinya sebagai seorang Ratu jin... Dewi Sambi tersinggung dan sangat marah sekali.
"Kurang ajar!" ujar Dewi Sambi kemudian melesat sambil mengangkat tongkat menyerang Panji yang lagi duduk sambil merokok.
Tiba - tiba cahaya putih keluar dari dalam tubuh Panji lalu membentuk lingkaran perlindungan.
Bruuuuak..!
Tubuh Nyai Dewi Sambi terbanting tak jauh di depan Panji duduk.
Sambil memeganggi punggung nya, Dewi Sambi berusaha untuk berdiri.
Melihat Dewi Sambi kesulitan berdiri, Panji buru - buru berdiri membantu Dewi Sambi.
"Ulurkan tangan mu," kata Panji sambil menjulurkan tangannya.
Melihat kebaikan Panji... Dewi Sambi mengulurkan tangannya. Kemudian berdiri dengan bantuan Panji.
"Mengapa kamu menyerang ku..?"
"Karena kamu telah merendahkan ku," jawab Nyai Dewi sambil memeganggi tulang punggung nya.
"Aku tidak mau tunduk pada seorang wanita cantik , apalagi sama bangsa jin seperti mu. Jadi... Aku suruh kamu untuk salim dan mencium tangan ku.
Aku tau, kedatangan mu yang sebenarnya adalah untuk mengusir ku dari Laut Selat Bali ini.
Jika kamu tidak mau tunduk salim dan mencium tangan ku... Ya tidak apa - apa. Aku tidak memaksa mu. Kalau begitu, aku pergi dulu," kata Panji kemudian melangkah kan kaki.
"Tunggu Gus..!
Baiklah, aku menyerah kalah. Asal jangan usik lagi wilayah kerajaan ku."
Sambil membalikkan badan... Panji menjulurkan tangan kanannya. Kemudian Dewi Sambi salim dan mencium tangan Panji sebagai tanda tunduk.
"Sebenarnya... Aku tidak pernah mengusik kerajaan mu juga alam jin lainnya. Justru kamu lah yang mengusik ku ketika aku berdzikir.
Mari ke istana mu, tadi kamu menawari secangkir kopi."
"Baiklah Gus," kata Dewi Sambi sambil memeganggi punggung nya, lalu naik kereta kencana.
***
Kerjaan bawah Laut pantai Timur.
Sesampainya di istana Laut Timur, sambil duduk di pendopo agung Panji berkata,
"Bukalah baju mu, aku obati luka mu."
"Jangan kurang ajar kamu Gus," sahut Dewi Sambi. Disini aku punya tabib dan dan danyang ahli pijat."
"Baiklah, terserah kamu. Jangan mencari ku kalau kamu tidak sembuh."
Beberapa dayang sibuk menyiapkan makan malam dan secangkir kopi.
"Silahkan makan Gus," kata Dewi Sambi.
"Baiklah."
Setelah menikmati makan malam dan minum secangkir kopi... Panji menyulut rokok marlboro.
"Sudah jam 12 malam. Aku ingin menemui istri ku di desa Siman.
Salim dulu cium tangan," ujar Panji sambil menjulurkan tangannya.
"Baiklah," jawab Dewi Sambi kemudian salim dan mencium tangan Panji.
"Paman Tirto..!
Antarkan Gus Panji ke Desa Siman."
__ADS_1
"Baiklah Nyai Dewi."
"Silahkan Gus, naik kereta kencana."