
Tak lama kemudian motor kang Mumun parkir di sebuah warung pinggir jalan. Setelah menikmati makan malam... Panji dan kang Mumun meluncur ke desa Pelamun.
Tak lama kemudian motor berhenti di gapura gerbang makam. Setelah Panji turun dari motor, Kang Mumun langsung pulang.
Di saat Panji berjalan mendekati makam... Panji melihat mobil sedan mewah terpakir di bawah pohon sawo, Panji pun melihat orang yang duduk di belakang kemudi, namun Panji tetap melangkah ke arah makam.
"Selamat malam kang Panji..."
"Selamat malam Pak Hong," jawab Panji agak terkejut tiba - tiba di sapa,
"Sudah lama pak di makam ini?"
"Kira - kira 1 jamman lah kang," jawab Pak Hong Shi.
"Sendirian saja," tanya Panji.
"Sama sopir kang," jawab Pak Hong,
"Oh iya kang, kami sekeluarga mengucapkan berjuta - juta terima kasih kepada kang Panji. Putri saya tadi pagi sembuh dan bisa berjalan kembali, setelah makan buah mangga pemberian kang Panji. Sebab lantaran kang Panji... Kami sekeluarga sangat bahagia karena putri tunggal kami sembuh."
"Bukan saya Pak yang mengobati, yang mengobati itu adalah Nenek Sa'adah, saya hanya membacakan doa," ucap Panji,
"Nenek Sa'adah itu... Nenek segala tahu."
"Kang Panji... Ini ada hadiah untuk kang Panji, sebagai bentuk rasa terimakasih saya sekeluarga," kata Pak Hong Shi sambil meletakkan amplop coklat yang tebal.
"Terimakasih Pak Hong... Bawa kembali saja uang ini. Saya sudah punya uang banyak di Bank dan di kamar saya," ujar Panji.
Mendengar ucapan Panji... Pak Hong Shi heran, lalu berkata dalam hati,
"Baru kali ini ada orang yang menolak pemberian uang dari ku, padahal... Uang ini sangat besar jumlahnya, 10 juta? Coba aku rayu lagi, barangkali mau."
Baiklah kang Panji, kalau begitu, kang Panji ingin apa? Katakan saja jangan malu - malu," rayu Pak Hong,
"Apa kang Panji ingin motor? Mobil, apa rumah..?
Katakan saja kang!!"
Mendengar penawaran dari Pak Hong... Panji berkata,
"Pak... Aku barusan membeli rumah untuk anak yatim di jalan raya Kramatwatu. Pak Hong kan pengembang, sering bangun perumahan... Panji minta, Pak Hong merenovasi rumah itu dan membangunkan toko" sederhana untuk anak yatim itu. Bagaimana pak Hong?!!!
"Hahahaha," Pak Hong tertawa senang, lalu berkata,
"Baiklah kang Panji, besok pagi pasti sudah ada orang saya yang akan merenovasi rumah itu dan membangun toko sederhana. Dalam waktu 2 minggu... Semua sudah beres, bisa di tempati."
"Kok sangat cepat Pak Hong, 2 minggu selesai," tanya Panji heran.
"Di wilayah kota Serang ini ada kantor cabang kontraktor milik saya kang... Saya tinggal telpon dan besok langsung di kerjakan. Kalau kerja lembur dengan puluhan tukang pasti akan selesai dalam waktu 2 minggu, itu paling lama.
Paling cepat 1 minggu kang, di kerjakan siang malam.
Grup pengembang saya mempunyai alat canggih dan insinyur hebat - hebat. Jadi... Tidak ada yang sulit dalam perkerjaan kami," ujar Pak Hong,
"Apalagi kalau hanya merenovasi rumah dan membangun toko sederhana. Saya minta nomer telepon rumah dan alamat kang Panji, untuk menghubungi kang Panji sewaktu - waktu."
"Baiklah Pak," ujar Panji kemudian memberi nomer telpon dan alamat losmen.
"Kang Panji... Saya permisi dulu, mau balik ke Jakarta, karena, besok saya ke kota Semarang," kata Pak Hong,
"Hadiah ini biar untuk kang Panji saja. Selamat Malam."
"Selamat Malam Pak Hong," jawab Panji.
***
Setelah duduk bersandar di tiang kayu penyangga makam, Panji meletakkan amplop tebal berwarna coklat, kemudian Panji menyulut rokok marlboro.
"Assalamualaikum Gus," dari agak jauh Nyai Sa'adah uluk salam.
"Waalaikumsalam Nek," jawab Panji,
"Kok tumben Nek, uluk salamnya dari jauh..? Kagak kayak biasanya bikin kaget Panji."
"Biar kamu gak kaget Gus," jawab Nyai Sa'adah kemudian duduk di depan Panji, sambil meletakkan talam.
"Nek... Ini ada amplop berisi uang dari Pak Hong Shi, orang Cina dari Jakarta. Ini uang hadiah sebagai rasa terima kasih atas kesembuhan putri tunggalnya," kata Panji kemudian menyodorkan amplop cokelat.
__ADS_1
"Kan Gus, yang mendoakan putrinya Pak Hong, jadi Gus lah yang mengobatinya, Nenek hanya menyuruh mu membaca Al fatiha saja. Jadi... Uang ini adalah hak mu," kata Nyai Sa'adah.
"Nek... Apakah Nenek mengetahui orang bernama Mbah Wali Hasan Salak," tanya Panji,
"Makamnya ada di desa Cicuruk."
"Mbah Wali Hasan Salak itu adalah murid dari Mbah Wali Jabat ini Gus," kata Nenek Sa'adah sambil menunjuk makam,
"Dia... Mbah Wali Hasan Salak mempunyai tugas membagi rejeki di wilayah kabupaten Serang Banten.
Dia sering memberi uang pada orang yang susah juga fakir miskin."
"Bukannya membagi rejeki ke mahluk itu tugas Malaikat Mikail Nek," ujar Panji heran,
"kata pak Kyai."
"Benar Gus, yang membagi rejeki itu tugasnya Malaikat Mikail. Mbah Wali Hasan itu mempunyai hubungan dekat dan mempunyai hubungan yang baik dengan Malaikat Mikail. Hingga... Mbah Wali Hasan itu di perbantukan untuk memberi tambahan rejeki kepada fakir miskin dan orang - orang yang mengalami kesusahan."
"Apakah berbeda Nek? Rejeki sama tambahan rejeki?" tanya Panji.
"Beda Gus," jawab Nyai Sa'adah,
"Ada rejeki ada tambahan rejeki.
Rejeki itu pasti ada 24 jam, di berikan selama 24 jam.
Rejeki itu ada takarannya, pemberian rejeki itu ada waktu dan tempatnya.
Rejeki itu selalu baik dan tidak pernah salah kepada orang yang menerimanya. Tidak ada rejeki dari Allah itu buruk.
Kalau tambahan rejeki itu sewaktu - waktu, kapan saja datangnya.
Jumlah takarannya tidak pasti, kadang banyak kandang sedikit.
Tambahan rejeki itu bisa salah alamat, ke orang lain.
Dan tambahan rejeki itu bisa buruk atau rejeki haram dan bisa rejeki baik atau halal.
Makanya... Kalau berdoa jangan minta rejeki kepada Allah, karena rejeki itu sudah di berikan selama 24 jam, dan tidak pernah salah alamat. Semua mahluk pasti di beri rejeki, karena itu adalah pertanggung jawaban Gusti Allah kepada mahluk-Nya.
Orang yang berdoa meminta rejeki... Sebenarnya dia merasa menjadi Tuhan. Dia minta, agar Allah memenuhi segala kebutuhannya. Dia menyuruh Allah itu melayani segala kebutuhannya.
Doa seperti itu sama dengan mengatur Allah, menyuruh Allah. Allah di anggap sebagai pembantunya.
Orang seperti ini tidak sadar menganggap dirinya Tuhan dan Tuhan di anggap pelanyannya.
Padahal... Gusti Allah adalah Dzat yang Maha Memberi Tanpa di Minta."
"Sek sek Nek, sebentar, sebentar tunggu Nek, saya mau nyruput kopi dulu dan merokok, biar gak bingung dengan wejangan Nenek," kata Panji sambil tersenyum.
"Lalu... Bagaimana caranya kalau berdoa minta rejeki itu," tanya Panji penasaran.
"Berdoalah memohon tambahan rejeki," jawab Nyai Sa'adah,
"Kalau memohon itu terserah Allah, mau memberi atau tidak.
Kalau meminta... Itu adalah pemaksaan kepada Allah, agar Allah mengabulkan permintaan nya."
"Apa bentuk wujud dari tambahan rejeki itu Nek," tanya Panji.
Bentuk wujud dari tambahan rejeki itu bisa berupa apa saja, tetapi sumber rejeki itu berasal dari amal kebaikan mu," jawab Nyai Sa'adah.
"Jadi... Mbah Wali Hasan itu Ruh nya berubah menjadi manusia, lalu beliau membantu orang - orang susah dan fakir miskin ya Nek? Dia sering memberi uang kepada orang - orang susah ya Nek," ujar Panji.
"Iya Gus, benar," kata Nyai Sa'adah,
"Makanya... Mbah Wali Hasan Salak memberi mu uang banyak, agar kamu bisa berbagi kepada orang - orang fakir miskin dan orang - orang yang susah."
"Bagaimana Nenek bisa tah, kalau Mbah Wali Hasan memberi Panji banyak uang?" tanya Panji tambah heran.
"Apa yang Nenek tidak tahu di dunia ini..? Kan Nenek punya ilmu Rekso Jagad??!" canda Nyai Sa'adah.
"Ilmu Rekso Jagad itu ilmu yang bagaimana Nek," tanya Panji.
"Ilmu Rekso Jagad itu adalah ilmu untuk mengetahui apa saja ada di alam jagad ini," jawab Nyai Sa'adah,
"Baik yang goib maupun di alam nyata."
__ADS_1
"Nek, bolehkah Panji belajar ilmu Rekso Jagad dari Nenek."
"Boleh Gus, untuk Gus Panji... Apa saja Nenek berikan.
Tetapi... Syaratnya Gus Panji harus berumur 17 tahun.
Setahun lagi, Gus Panji balik ke sini dan Nenek ajarkan," ujar Nyai Sa'adah.
"Baiklah Nek. Nek, kang Mumun sudah datang, Panji pamit dulu ya Nek."
Setelah sungkem mencium tangan Nyai Sa'adah... Panji uluk salam,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam salam Gus," jawab Nyai Sa'adah.
Motor pun meluncur dan hilang di kegelapan malam.
Tak lama kemudian, sampailah di depan losmen dan kang Mumun pun langsung pamit pulang.
Sambil berjalan menuju kamar, Panji berkata,
"Motor Ruli masih di parkiran, berarti dia ada di kamar."
"Pintu tidak di kunci? Assalamualaikum," ucap Panji sambil masuk kamar kemudian menutup pintu.
"Hemmm... Nyenyak sekali tidurnya. Tidur tidak pakai baju, apa gak dingin kena Ac," gumam Panji lalu menarik selimut menutupi tubuh Ruli yang setengah telanjang.
"Rupanya Ruli habis solat," gumam Panji kemudian membuka cendela lalu duduk di kursi. Setelah menyulut rokok, Panji tersenyum melihat sajadah dan ruko masih berserakan di pojok ruangan,
"Kelihatannya... Ruli habis Solat malam, karena capaik dia langsung tidur."
***
Sambil menikmati kepulan asap rokok, bersandar pada bahu kursi Panji mengummam sendiri,
"Tak kusangka, ternyata Mbah Wali Hasan Salak yang sudah mati bisa hidup berwujud manusia. Beliau juga bertugas membagi tambahan rejeki pada orang - orang yang di timpah kesedihan, juga membagi tambahan rejeki pada kaum fakir miskin. Berarti... Uang 150 juta yang di berikan kepada itu, untuk fakir miskin dan orang - orang yang susah hidupnya. Seandainya Nenek Sa'adah tidak memberi tau ku, mungkin aku tidak tau. Ternyata banyak rahasia Gusti Allah yang tidak di ketahui oleh manusia.
Ternyata banyak yang harus aku pelajari, agar aku bisa mengerti dan bisa menyingkap tabir rahasia Gusti Allah.
Benar kata Mbah Wali Hasan Salak, ilmu itu ada di dalam diri kita sendiri, hanya saja... Tinggal kitanya mampu atau tidak menyingkapnya dan mengetahuinya.
Aku tak menyangka bakal begini perjalanan hidup ku... Ngaji di pesantren, bertemu sang kyai, bertemu Nenek Sa'adah.
Kenal dan berteman dengan Ruli juga Bela dan orang - orang sekitar. Aku juga tak menyangka sering di kasih uang banyak sama orang.
Adzan Subuh terdengar mengema dari masjid sebrang jalan, Panji pun beranjak mandi. Mendengar suara air dari kamar mandi... Ruli pun terbangun lalu duduk di samping ranjang.
"Sudah bangun," ujar Panji yang keluar dari mandi.
"Mau solat ya Mas?!!" tanya Ruli.
"Iya, mau ikut berjamaah solat Subuh?" ujar Panji.
"Iya Mas, ikut. Tunggu sebentar ya? Tak mandi dulu," kata Ruli kemudian bergegas mandi.
Setelah Solat subuh berjamaah, Panji berkata dalam hati,
"Badanku capaik sekali, mataku sangat ngantuk.
Tetapi mengapa hatiku ngajak sarapan dan jalan - jalan di pasar..? Baiklah, aku turuti saja kemauan hati ku."
"Ruli, kamu mau pulang jenguk anak kamu, apa mau ikut aku jalan - jalan ke pasar sambil cari sarapan?!!" tanya Panji.
"Ikut Mas, nanti aja pulangnya agak siangan," jawab Ruli,
"Kebetulan kalau ke pasar, aku mau sedikit belanja, tadi ibu ku bilang pesan daging ayam, katanya mau selamatan untuk menyambut bulan Romadhon. Kalau orang jawa bilang Megenggan."
"Oh iya? Nanti sore mulai tarawih ya," ujar Panji kemudian melangkah keluar kamar dan di susul Ruli.
"Iya nanti sore mulai Tarawih," kata Ruli sambil mengandeng lengan Panji,
"Emang Mas Panji mau ikut Tarawih?"
"Boleh, biar tau rasanya solat Tarawih," jawab Panji,
"Itu ada warung nasi pecel khas jawa, lama aku tidak makan nasi pecel. Ayoo kita ke warung itu saja."
__ADS_1