
Tak lama kemudian, Pak Rudi bersama team ahli tiba di depan kamar kos Panji,
Tok tok tok..!
"Selamat Pagi..."
"Hemm, siapa lagi sih, ganggu orang tidur aja!" gumam Panji kemudian bangun dan membuka pintu.
"Selamat Pagi...
Apa ini dengan Tuan Panji," tanya Pak Rudi.
"Iya benar, ada apa yaa Pak," kata Panji.
"Mohon maaf Tuan Panji, menganggu... Kenalkan saya Pak Rudi dari PT Mega Kontraktor, kami harus segera merenovasi kamar Tuan Panji, dan harus selesai paling lambat jam 6 Sore. Jadi... Perkenankan team kami untuk segera bekerja," ujar Pak Rudi.
"Apa gak salah alamat Pak?!!" kata Panji dengan mata yang agak sayub, karena ngantuk.
"Tidak Tuan Panji, saya mohon segera Tuan Panji izinkan. Kalau tidak... Kami semua akan di pecat," kata Pak Rudi.
"Baiklah, baiklah," ujar Panji kemudian mengambil tas Eiger dan beberapa stel baju, lalu keluar kamar,
"Silahkan Pak kalau mau di renovasi, aku akan numpang tidur di kamar sebelah."
"Tuan Panji... Kami telah menyediakan kamar untuk Tuan, di Hotel Atlanta," ujar Pak Rudi,
"Semua tagihan sudah atas nama kami."
"Pak Rudi, sewa kamar Hotel batalkan saja yaa? Uangnya kasihkan ke saya saja, ngantuk jalan ke Hotel.
Aku mau tidur di kamar kos tetangga ku saja," ujar Panji.
"Baiklah Tuan, ini uang chas nya, setelah ini akan saya batalkan," kata pak Rudi menyodorkan uang.
Tok tok tok..!
"Mbak Dewi..! Mbak Dewi," panggil Panji.
"Iya sebentar," sahut Dewi kemudian membuka pintu.
"Aku mau numpang tidur Mbak Dewi, ngantuk sekali," kata Panji.
"Iya Mas Panji dengan senang hati, mari masuk," ajak Dewi.
"Kok banyak orang di depan kamar mu," tanya Dewi kemudian menutup pintu kamar.
"Iya mau di renovasi katanya," ujar Panji kemudian merebahkan badan di ranjang milik Dewi.
Begitu kepalanya menyentuh bantal... Panji langsung tertidur.
Melihat Panji tidur... Dewi pun yang masih ngantuk langsung merebahkan badannya di samping Panji.
Pak Rudi yang lagi galau... Sambil berdiri menghisap rokok berkata lirih,
"Repot juga kalau menghadapi Tuan putri Aini, hingga aku sendiri yang harus turun kelapangan untuk mengawasi pekerja. Pekerjaan ini telah menyalahi prosedur aturan perusahaan. Bagaimana kalau Bos Hong Shi sampai tau..? Aduuuuh, bisa kacau. Gak apa - apalah, dari pada aku di pecat. Siapa sih Ahmad Panji Hening itu..? Merepotkan sekali."
Banyaknya pekerja di kamar Panji membuat perhatian semua penghuni kos - kossan.
Waktu terus berlalu, beberapa pekerja ahli telah menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, hingga jam 5 Sore sudah selesai semua.
Tok tok tok..!
Mendengar suara pintu di ketuk... Dewi bergegas membuka,
"Selamat Sore Mbak," ucap Pak Rudi.
"Sore juga," jawab Dewi.
"Tuan Panji apa masih tidur," tanya Pak Rudi.
"Mas Panji sedang ngopi, sebentar yaa Pak," ujar Dewi kemudian memanggil Panji.
"Iya Pak Rudi," ujar Panji di balik pintu.
"Kamar kos Tuan Panji sudah selesai di kerjakan, saya mohon pamit dulu," ujar Pak Rudi,
"Bila ada yang kurang... Mohon hubungi saya saja, ini kartu nama saya.
Selamat Sore."
"Sore juga Pak," jawab Panji.
"Mbak Dewi... Panji pamit balik ke kamar dulu ya, ini ada uang di kasih Pak Rudi tadi, Mbak Dewi 50 rb, Mbak Eka 50 dan saya 50, ok Mbak," ujar Panji.
"Haaa! Banyak bangeeet 50 ribu," teriak Dewi kemudian mencium Panji,
"Terimakasih yaaa Mas Panji... Baik sekali diri mu."
Melihat kamar kosnya yang baru selesai di renovasi... Panji sangat terkejut,
"Siapa yang merenovasi kamar kos ku ini, jadi sangat bagus sekali. Lebih baik mandi, setelah itu, aku ingin jalan - jalan ke toko buku," gumam Panji.
Setelah mandi dan ganti baju... Panji melangkah keluar kamar.
Ketika sedang menelusuri trotoar... Panji berpapasan dengan Devi.
"Mas Panji, mau kemana!!" seru Devi kemudian menghentikan langkah kakinya.
"Hai Devi, kebetulan ketemu kamu di sini. Kamu gak kerja..? Katanya masuk malam?!!" kata Panji.
"Tadi Pagi aku mau ke tempat kos mu, ternyata ada teman datang minta tukar sif, jadi aku masuk Pagi tadi," kata Devi,
"Ini aku lagi mau menuju tempat kos kamu, malah ketemu di jalan."
"Ini mau cari buku, kebetulan ketemu kamu, ayoo ikut aku," ajak Panji kemudian berjalan,
"Devi tau gak toko buku yang lengkap?"
"Tau, sebelah Statistik Mall, gedeh baget gallery nya," jawab Devi,
"Mas Panji... Tadi Wilda curhat sama aku."
"Apa yang dia bilang," tanya Panji.
"Dia bilang... Kangen sama kamu," ujar Devi,
"Wilda juga menyesal atas sikapnya kepada mu.
Yaaa, aku bilang, kamu semalam nongkrong ngopi di cafe SAS sama aku. Aku juga bilang kamu kos di belakang Hotel Atlanta. Wilda juga bilang... Merasa kehilangan teman yang baik. Dan dia juga bilang berterimakasih telah di bayar 100 rb."
"Gitu ya," ujar Panji,
"Hemmm, sejujurnya, aku ingin mengentas Wilda dari dunia malam. Sebagai teman... Aku ingin membantu kesulitan nya. Tetapi, Wilda nya yang gak mau, dia terlalu sombong. Wilda mau berteman dengan ku hanya karena uang ku. Padahal... Aku ini fakir miskin, kan aku gak kerja."
"Gak kerja, tetapi kamu banyak duitnya," sahut Devi,
"Panji... Boleh yaa, aku mengandeng lengan mu?"
__ADS_1
"Booleeeh,
Alhamdulillah... Di gandeng cewek cantik," canda Panji,
"Kemarin lusa... Maksudku Wilda aku suruh les bahasa inggris dan komputer, agar dia pintar. Dan aku ingin Wilda kursus ilmu menejemen bisnis.
Eee, malah marah - marah, aku di bilang ngatur hidupnya.
Padahal maksud ku baik. Kalau Wilda sudah menguasai ilmu bahasa inggris, ilmu komputer dan menejemen bisnis... Dia kan muda mencari pekerjaan yang baik, dengan gaji yang lumayan, seperti yang di inginkan nya.
Malah ngomel - gomel. Yaaa, lebih baik menghindar dari pada di kira ngatur hidupnya."
"Ayo Mas nyebrang, itu galeri toko bukunya," kata Devi kemudian menyebrang.
***
Setelah berada di dalam gallery buku... Panji menuju rak buku, khusus buku islami,
"Mas... Aku ambil ini, kitab Hadis Bukhari 9 jilid, kitab Fathul korib, Tafsir Kontowi, Tafsir Jalalain, kitab ihya' ulumuddin, kitab Tasawuf, kitab Filsafat, kitab Fikih lengkap 14 jilid, Azbabun Nuzul, sejarah Nabi - Nabi, kitab insanul kamil dan Al qur'an. Oh iya, itu sekalian novel Suluk Agung Spiderman Al- Jawawi, penasaran aku mau baca."
Melihat Panji membeli kurang lebih 100 buku... Devi tertegun dan heran, sambil berkata,
"Mas Panji banyak amat beli bukunya, buat apa? Dan kapan dia bisa baca segitu banyaknya?
Di balik rambut gondrong dan penampilan keren... Ternyata Mas Panji senang mempelajari ilmu agama.
Tetapi... Dia gak pernah puasa Ramadhan, gak pernah aku lihat dia solat, dan kemarin malam minggu ke Diskotik sama aku. Aneh!!! Bukannya alim tambah berbuat dosa.
Tetapi, biarlah, itu urusan Panji."
"Devi, ayo kita balik ke kos - kossan sebentar, untuk menaruh kitab yang aku beli," ajak Panji.
"Baiklah Mas," kata Devi kemudian mengikuti Panji ke kasir untuk membayar buku yang telah di pilihnya, lalu memanggil taxi.
Tak lama kemudian,
"Pak berhenti di depan gang saja yaa? Karena mobil gak bisa masuk," ujar Panji,
"Tolong Bapak bantu bawah buku ini ke kamar kos saya."
"Baiklah Mas," kata sopir taxi kemudian membawa buku ke kamar kos. Setelah membayar sopir taxi dan memberi tips, Panji dan Devi keluar ke cafe SAS untuk makan Malam.
"Devi, capek yaa? Angkat buku tadi, hehehe," kata Panji,
"Enaknya makan apa yaa Malam ini?"
"Makan ikan gurami bakar Mas, pake sambel terasi, sama udang goreng kriuk special," ujar Devi,
"Minum nya teh jepang dan kopi hitam vietnam
gimana? Tetapi... Mahal bageeet?"
"Boleh, kayaknya enak deh," kata Panji tanda setuju.
Setelah pesan dan di sajikan... Panji dan Devi menikmatinya dengan santai sambil ngobrol.
"Mas Panji, gimana tadi ceritanya masalah Wilda," ujar Devi.
"Aku gak ada masalah sama Wilda," kata Panji,
"Tetapi... Yaaa itu tadi, aku gak bisa bantu Wilda lagi, karena aku takut di kira ngatur hidup dia. Aku juga masih menganggap Wilda adalah temen. Yaa, kamu ajak ajah dia main ke tempat kos ku, gak usah sungkan - sungkan, kita kan semua teman."
"Siaaap, kapan - kapan, Wilda aku ajak main ke tempat kos mu," kata Devi,
"Oh iya Mas... Mbok yaaa aku di kursuskan bahasa inggris dan komputer? Di kursuskan belajar nyetir mobil, di kursuskan menejemen bisnis..? Agar aku bisa buka usaha cafe kecil - kecilan, hahahaha. Bercanda Mas."
"Gak apa - apa, kursus saja sampai kamu pintar, nanti aku yang bayarin semuanya," kata Panji sambil makan,
"Benar nieh Mas Panji? Gak bohong," ujar Devi.
"Iya bener lah, apa untungnya aku membohongi kamu," kata Panji,
"Oh iya! Mengapa kelas 1 SMA kamu berhenti sekolah dan kerja di Jakarta!!"
"Aku anak pertama dari 4 bersaudara, karena ayah ku kerja serabutan dan penghasilan tidak cukup untuk membiayai ku, juga adik - adikku... Terpaksa aku ikut teman ke Jakarta mencari kerja, untuk membantu beban orang tua ku," jawab Devi,
"Setelah kerja di Jakarta... Ceritanya lain Mas, hahahaha.
Tambah hancur hidup ku, terjerumus pergaulan bebas.
Kalau begitu... Aku akan menurut sama Mas Panji."
"Langkah pertama... Devi harus berhenti kerja," kata Panji tersenyum.
"Yang benar Mas? Kalau gak kerja... Makan dan kebutuhan sehari hari dari mana," ujar Devi,
"Ini Jakarta Mas panjiiiii! Serbah Mahal!! Apa - apa beli, kencing aja bayar loh Mas, hahaha."
"Devi... Jangan khawatir dengan masalah makan dan kebutuhan sehari - harimu," kata Panji,
"Semuanya akan di tanggung oleh Gusti Allah.
Kalau kamu khawatir... Itu sama dengan kamu curiga. Su'udzon berperasangka buruk kepada Gusti Allah.
Orang yang khawatir itu... Sebenarnya dia telah menghina Gusti Allah."
"Gitu yaaa Pak Kyai," ucap Devi tersenyum,
"Lalu... Langkah selanjutnya?"
"Kamu kerja ikut aku," kata Panji.
"Kerja apaan Mas," tanya Devi penasaran.
"Kerja bersih - bersih kamar kos ku... Cuci baju dan menyediakan makan dan minum untuk ku," jawab Panji,
"Kalau aku capek... Kamu pijitin aku. Mau gaak?"
"Kayaknya... Mesrah baget kerjanya!!
Boleh, mau ajah," kata Devi,
"Terus... Langkah selanjutnya?"
"Besok kamu beli motor baru untuk tranportasi, biar kamu gak ribet naik ojek atau angkutan umum," kata Panji.
"Motor itu mahal Mas Panji... 3,5 juta sampai 4,5 juta harganya," ucap Devi terkejut,
"Yang bener saja Mas..?"
"Jangan mikirin uang! Pokoknya kamu nurut sama aku saja itu sudah cukup," kata Panji.
"Baiklah," kata Devi.
"Devi, udah jam 11 Malam, aku mau balik ke kos - kossan," kata Panji,
"Kamu mau balik ke tempat kos mu apa mau ikut ke tempat kos ku..?"
__ADS_1
"Aku balik ke tempat kos ku ajah dulu, besok pagi ajah aku ke kos - kossan mu," kata Devi kemudian beranjak pergi.
***
Malam itu... Panji berjalan menelusuri trotoar, setelah berada di depan gang buntu... Panji melihat Mbah Dirjo yang tidur - tiduran merebahkan badannya diatas trotoar depan Hotel Atlanta.
"Lebih baik aku dekati saja Mbah Dirjo itu," kata Panji kemudian melangkah.
"Assalamualaikum Mbah... Selamat Malam," sapa Panji mengoda.
"Waalaikumsalam," jawab Mbah Dirjo,
"Kamu lagi kamu lagi..!
Sana cepetan belikan aku makan! Sama teh botol dan kopi! Sekalian rokok nya."
"Galak amat Mbah, pakai bentak - bentak segala," kata Panji, kemudian pergi memesan nasi dan rokok.
"Sudah aku pesanin Mbah... Tunggu sebentar," kata Panji kemudian duduk di samping Mbah Dirjo.
"Kamu pijitin kaki ku, capek sekali kakiku," perintah Mbah Wali Dirjo.
"Baiklah Mbah," kata Panji kemudian pelan - pelan memijat kaki Mbah Dirjo.
"Ini Mbah nasinya sama kopinya," ujar Pak Win sambil meletakkan pesanan Panji di atas trotoar.
"Mbah... Makan dulu," ujar Panji.
"Bentar, pijitin dulu," kata Mbah Wali Dirjo kemudian menyulut rokok,
"Ini uang yang kamu beri kemarin, aku kembalikan."
"Mengapa Mbah Dirjo mengembalikan uang pemberian ku," tanya Panji,
"Uang ini banyak loh Mbah jumlahnya."
"Uang nya tidak ke pakai, lalu buat apa uang itu ada di saku bajuku... Jadi aku kembalikan saja pada mu," ujar mbah Wali Dirjo,
"Mancing ikan besar... Umpannya harus besar juga."
"Itu maksudnya gimana Mbah," tanya Panji sambil memijit.
"Kalau kamu ingin menjadi wali... Ingin bisa melihat wujud Gusti Allah dengan kedua mata bathin dan mata dhohir...
Kamu harus kuat tirakatnya, harus kuat riyadhoh nya, harus kuat suluk dan dzikir nya," jawab Mbah Wali Dirjo.
Mendengar ucapan Mbah Wali Dirjo... Panji berkata dalam hati,
"Kok Mbah Dirjo ini bisa tau yaa? Kalau aku ingin bisa melihat wujud Tuhan yang aku sembah..? Apa hanya kebetulan saja?"
"Hemmm, Tirakat itu artinya apa Mbah," tanya Panji.
"Tirakat itu melatih diri untuk membentuk jiwa yang kuat dan untuk membuka hijab yang menutupi jiwa, hati dan akal," kata Mbah Wali Dirjo.
"Lalu... Caranya tirakat itu bagaimana Mbah," ujar Panji.
"Tirakat itu bisa puasa selama 40 hari atau 100 hari. Tidak tidur setiap malam itu juga tirakat. Makan satu dua macam itu juga tirakat. Seperti... Kamu biasanya makan nasi, lalu kamu tidak makan nasi, tetapi makan ubi, itu juga tirakat. Orang jawa bilang ngrowot. Dan banyak lain cara orang tirakat," kata Mbah Wali Dirjo.
"Tirakat yang paling berat itu tirakat apa Mbah," tanya Panji.
"Tirakat jadi orang ikhlas, sabar, qona'ah, jujur dan welas asih dan istiqomah," jawab Mbah Wali Dirjo.
"Kalau riyadho itu apa Mbah artinya," ujar Panji.
"Riyadho itu mendekatkan diri kepada Allah dengan istiqomah," kata Mbah Dirjo,
"Seperti solat sunnah, wirid, dan ngaji."
"Kalau suluk itu apa Mbah," tanya Panji.
Suluk itu ada 2 Panji...
1 Suluk Umum
2 Suluk khusus
Suluk Umum itu membaguskan diri memeranggi hawa nafsu
Atau... Menjalankan perintah Allah menjahui larangannya Allah," jawab Mbah Wali Dirjo,
"Kalau Suluk khusus itu... Kamu harus mengerjakan spiritual khusus yang di ajarkan oleh seorang guru Mursid."
"Kalau dzikir itu yang bagaimana," ujar Panji.
"Kalau dzikir itu artinya ingat, bisa ingat sama pacar, bisa ingat kenangan masa lalu, bisa ingat hutang, bisa ingat apa saja," kata Mbah Wali Dirjo.
"Berarti ada dzikir uang, ada dzikir hutang, ada dzikir pacar," ujar Panji,
"Masak dzikir kayak gitu Mbah!!"
Dzikir artinya ingat.
Jadi... Kalau dzikir nya santri atau salik... Itu Dzikirullah, ingat kepada Allah.
Tetapi... Yaa suka - suka kamu lah, mau dzikir apa saja terserah!
Aku mau makan dulu," kata Mbah Wali Dirjo kemudian duduk lalu menikmati makan nasi bungkus.
"Mbah... Aku gak ingin menjadi Wali, aku hanya ingin bisa melihat wujud rupa kanjeng Nabi Muhammad saw, dan ingin melihat wujud Rupa Gusti Allah, itu saja, gak muluk - muluk permintaan ku," ujar Panji.
Plaak!
"Aduuh! Aduuh," teriak Panji kesakitan kepalanya di gampar Mbah Wali Dirjo,
"Sakit Mbah... Main gampar saja!
Sudah aku kasih makan dan minum, udah aku belikan rokok, kok aku malah di gampar."
"Goblok! Kamu itu," bentak Mbah Wali Dirjo sambil makan,
"Baca itu kitab yang kamu beli tadi, baca semua sampai selesai, baja juga Suluk Agung Spiderman, biar kamu pintar!
Bilang gak muluk - muluk... Permintaan mu itu justru terlalu muluk!
Ngaji Al qur'an saja gak bisa, kok ingin melihat wujud Gusti Allah."
"Kalau kamu tidak ikhlas membelikan aku makan dan minuman juga rokok... Ini aku kembalikan semua uang mu 100x lipat," kata Mbah Wali Dirjo kemudian berdiri mengambil beberapa lembar daun, lalu di lemparkan ke atas trotoar di depan Panji.
Begitu daun itu di jatuh ke atas trotoar... Daun - daun itu menjadi lembaran uang yang sangat banyak.
Setelah itu... Mbah Wali Dirjo pergi menyebrang jalan sambil membawah karung plastik, lalu menghilang setelah masuk gang.
Setelah memungguti uang... Panji pun melangkah kan kaki menuju kos - kossan.
Sambil berjalan Panji berkata,
"Jancok! Mbah Dirjo itu, Papa Mama ku saja gak pernah mengampar ku. Dia bukan siapa - siapa malah mengampar ku!
__ADS_1
Dasar orang tua gila!
Walau seandainya Mbah Dirjo itu wali beneran... Aku tidak takut dan tidak suka."