SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PERUBAHAN NET PLAZA


__ADS_3

"Di kediaman Direktur Net Plaza.


Jam 7 malam... Setelah memarkir mobilnya, Naga Barat berjalan menuju rumah mewah. Naga Barat dan 3 anggota inti langsung melompat pagar, lalu menuju pintu utama.


Begitu melihat 4 orang tak di kenal... Pak Direktur berteriak,


"Siapa kalian dan mau apa!"


Tanpa banyak bicara... Naga Barat melempar dokumen di atas meja, lalu berkata,


"Ini adalah bukti kejahatan anda. Anda telah melakukan korupsi sebesar 25 Milyar."


Mendengar kata - kata Naga Barat... Kaki pak Direktur gemetar dan badannya lemas.


"Malam ini... Tuan Godfather, pemilik Net Plaza memerintahkan aku untuk mengambil uang itu," ujar Naga Barat.


"Maaf Tuan... Kami tidak punya uang sebanyak itu."


"Jangan membuang buang waktu ku, atau istri dan anak mu akan aku kirim ke alam kubur," ujar Naga Barat sambil meletakkan senjata api di atas meja.


Melihat senja api diatas meja... Istri Direktur gemetaran sambil mendekap anaknya.


"Ibuk..! Suami ibu telah mencuri uang perusahaan, suami ibu juga berselingkuh dengan sekretaris nya.


Jadi... Secara tidak langsung ibu juga merasakan akibatnya, karena ibu dan anak ibu menikmati hasil uang haram itu.


Kalau ibu dan suami ibu tidak mengembalikan uang itu... Aku akan mengirim kalian ke penjara.


Bos kami banyak uang, dan bisa menyuap hakim untuk menghukum kalian 20 tahun penjara," ujar Naga Barat menakut - nakuti.


"Pilih mana..? Membusuk di penjara, atau mengembalikan uang perusahaan?"


"Baik baiklah Tuan, akan kami kembali kan, tetapi jangan laporkan ke polisi. Ambillah rumah ini, dan mobil kami."


"Baiklah.


Tetapi rumah ini dan mobil mobil mu paling berharga 2,3 milyar."


Setelah mengambil dokumen di lemari... Anggota inti menemukan beberapa dokumen kepemilikan tanah dan lahan usaha.


"Naga Barat... Ini ada dokumen kepemilikan beberapa tanah di kota Bandung. Dan ada dokumen usaha," kata anggota inti.


"Ambillah surat jual beli dan matrai di mobil," ujar Naga Barat.


"Pak Direktur..! Tolong tandatangani surat jual beli di atas matrai.


Setelah ini... Anda pergi dari rumah ini," ujar! Naga Barat,


"Ingat..! Kalian hanya boleh membawah baju saja."


"Baik baiklah Tuan."


Setelah tanda tangan di beberapa lembar kertas... Pak Direktur berjalan keluar rumah nya.


"Ini uang buat bayar kos dan makan untuk anak dan istri mu selama sebulan," ujar Naga Barat sambil memberikan uang,


"Inilah hukuman bagi koruptor. Tidak tau trimakasih, sudah di kasih pekerjaan dengan bayaran tinggi, masih saja mencuri.


Pergi sana... Bajingan!


Untung saja aku yang di perintahkan, kalau Jhosep yang di suruh... Bisa patah kedua tangan mu."


"Mari kita pergi ke rumah meneger keuangan," ujar Naga Barat


Sementara, kamu berdua jaga rumah ini ya."


"Baiklah Naga Barat."


***


Rumah sakit Harapan.


"Desi... Kenalkan, ini Novi," kata Panji.


"Salam kenal, aku Desi."


"Novi Ernas."


"Bagaimana keadaan Mama dan kakak mu," tanya Panji.


"Besok Mas di operasi.


Apa Mas benar - benar punya uang," ujar Desi.


"Ada Desi, nanti Nona Lim yang mengurus semuanya," kata Panji.


"Mas Panji... Terimakasih ya, kamu baik sekali.


Entah bagaimana nasib Mama dan Kakak ku kalau tidak ada kamu."


"Kamu besok kuliah saja, biar Nona Novi dan Nona Lim yang menjaga keluarga mu.


Sepulang kuliah... Kamu bisa ke rumah sakit."


"Baiklah Mas."


"Nona Lim mana..?"


"Ada di kantin Mas, katanya makan malam."


"Baiklah, aku akan kesana.


Sekretaris Novi... Kamu temani Desi ya."


"Baiklah Godfather."


Ketika berjalan menuju kantin... Dari arah berlawanan, Panji melihat seorang gadis cantik berwajah lembab dan memegangi pipinya.


"Bela..?"


"Mas Panji..?"


"Kenapa kamu..?


Kenapa pipi mu..?"


"Gak apa - apa Mas."


"Jangan bilang gak apa - apa...


Ayo aku antara kamu berobat."


"Ini barusan saja aku dari dokter.


Besok juga sembuh, hanya memar saja."


"Kalau begitu... Temani aku makan malam, ke kantin."


"Baiklah."


Setelah berada di kantin... Panji berkata,


"Kita duduk di situ ya, itu ada Lim asisten ku."


"Godfather pesan apa," tanya Lim.


"Nasi goreng 2 sama es jeruk 2 dan kopi."


"Baiklah."


"Kamu ceritakan, kenapa kamu kok bisa lembab pipi mu," tanya Panji.


"Tadi... Sehabis dari Net Plaza pas ketemu kamu, Gren marah - marah terus.


Habis solat Magrib, aku putusin. Eh... Dia marah - marah, aku di tampar 2x."


"Sakit ya..? Kena tampar," tanya Panji sambil tersenyum


"Ya sakitlah Mas, keras lagi. Sampai berdarah mulut ku.


Kamu itu melihat ku sakit, masih saja bercanda."


"Ini Mas, pesanan nya."


"Bela... Ayo makan sambil ngobrol," ujar Panji,


"Apa kamu gak ingin balas dendam..? Menampar balik Gren 50x tamparan?"

__ADS_1


"Pingin sih Mas, tetapi takut.


Apalagi dia anak orang kaya, pasti bisa berbuat apa saja dengan uangnya."


"Anak mana Gren itu..?"


"Anak Karawang. Dia kos di jalan Dago samping gedung Telkomsel."


"Apa dia mahasiswa..?"


"Iya, semester 2. Dia kakak kelas ku."


"Kamu kuliah di mana..?"


"Di universitas Nanas."


"Berarti... Baru kenal dong sama Gren."


"Iya, pacaran juga baru seminggu. Sebenarnya aku kurang suka sih, tetapi dianya yang ngejar - ngejar terus. Ya sudahlah, aku coba pacaran sama dia.


Eeeh... Ternyata dia cemburuan. Ya aku putusin saja.


Takutnya, dia ngejar - ngejar aku lagi dan datang ke kos - kossan."


Selesai makan, Panji menyeruput kopi lalu menyulut rokok,


"Lim... Kenalin, ini Nona Bela, teman masa remaja ku."


"Saya Lim Shauw."


"Bela Herari."


"Lim... Besok kamu ke kantor Net Plaza.


Posisi Direktur kosong. Bagaimana kalau kamu yang menjadi direktur nya," ujar Panji.


Mendengar tawaran Panji, Lim sangat terkejut sekali, lalu berkata,


"Apakah Net Plaza itu milik Godfather..?"


"Iya milik ku.


Kalau kamu mau... Kamu kelola Net aplaza itu.


Direktur lama telah aku pecat, karena dia korupsi mengelapkan uang perusahaan."


"Lalu... Siapa yang mengurus keperluan Godfather yang sewaktu - waktu itu..?"


"Itu gampang.


Oh iya... Pak Edi jadikan sekretaris saja. Dia orang yang jujur. lalu


ada pegawai office boy bernama Didin. Dia mahasiswa jurusan Administrasi. Angkat dia menjadi meneger keuangan. Pokoknya kamu atur yang baiklah," ujar Panji,


"Lalu... Kesejahteraan karyawan tolong di perhatikan ya.


karena kerja itu bukan hanya mencari uang saja, tetapi juga harus memanusiakan manusia."


"Baiklah Godfather."


"Belilah rumah di Bandung untuk kamu istirahat, biar kerja mu enak.


Sekarang kamu istirahat lah, sudah ada sekretaris Novi yang mengurus keluarga Desi."


"Baiklah Godfather, terimakasih atas kepercayaan nya.


Oh iya... Desi curhat sama saya, katanya, dia akan berhenti kuliah, karena, kakak yang membiayai kuliahnya sedang sakit."


"Berilah dia pekerjaan di Net Plaza setengah hari, biar Desi bisa membayar kuliah nya.


Dia mahasiswi jurusan programer komputer.


Beri pekerjaan sesuaikan dengan bidangnya"


"Baiklah Godfather.


selamat malam..."


"Malam juga."


"Mas, kamu jadi Bos ya sekarang," tanya Bela.


"Oh... Iya iya,


Baru sadar aku, hehehe.


Kan kamu yang bikin keluarga ku kaya," ucap Bela.


"Bagaimana bisnis mu, juga bisnis Ayah mu?"


"Alhamdulillah, Ayah ku sekarang gak bisnis Mas, di rumah sama ibu.


Setelah beli tanah di dekat pondok, Ayah dan ibu buka warung nasi dan kopi, melayani anak - anak pesantren.


Mereka sekarang rukun lagi, dan rajin ibadah. kalau waktu bapak ku bisnis, bertengkar terus sama ibuk.


Kalau aku... Masih buka toko baju dan buka restoran kecil di kota Serang.


Sekarang aku serahkan sama adik laki - laki ku, karena aku kuliah di kota Bandung."


"Apa kamu gak ingin buka restoran di kota Bandung, sambil kuliah..?"


"Modal nya gak ada Mas, aku bisa kuliah ini saja, uang hasil nabung 2 tahun.


Uang tabungan ku ini gak tau cukup atau tidak untuk 2 tahun kedepan."


"Kamu kerja ikut aku saja, nanti uang bayaran nya untuk mendirikan usaha restoran."


"Kerja apa Mas, kok kelihatan nya banyak banget bayaran nya..?"


"Kerja membersihkan kos - kossan ku, mencuci bajuku, masak dan mijitin aku."


"Hahahaha..!


Gak lupa mijitnya. Nanti lama - lama, di suruh nemenin tidur."


"Sudah malam, kamu pulang dan istirahat."


"Baiklah Mas."


"Berani pulang sendiri malam - malam..?"


"Berani lah, kan dekat sini."


"Aku antar ke depan, naik taxi saja, aku yang bayar."


Tak lama kemudian... Setelah memeluk Panji, Bela pergi dengan taxi nya.


Kring..!


Hp Panji berdering. Setelah tersambung,


"Godfather sekretaris Net Plaza ini ingin bertemu Tuan. Dia ingin minta pengampunan."


"Bawa saja ke rumah sakit Harapan," jawab Panji kemudian menutup telponnya.


***


"Selamat malam Godfather," sapa Naga Barat.


"Malam juga Dani."


"Ini Nona Altar Mila, sekretaris Net Plaza. Dia ingin bertemu Godfather untuk memohon pengampunan.


Apartemen nya yang baru di beli 6 bulan yang lalu, dan 2 mobilnya sudah saya sita.


Berikut ATM yang berisi uang 1 Milyar lebih.


Kemungkinan... Nilainya kurang lebih 3 Milyar.


Begitu juga dengan rumah direktur dan 2 mobilnya, serta surat sertifikat beberapa tanah dan ATM berisi 2 Milyar sudah saya sita."


Melihat Panji pegawai office boy... Altar Mila sangat terkejut sekali, kalau pemilik Net Plaza adalah Panji.


Sambil menundukkan kepalanya, Altar berkata,


"Tuan Panji... Maafkan saya, saya memang bersalah. Dan saya tidak melakukan penggelapan uang perusahaan."

__ADS_1


"Tidak mengelapkan uang, tetapi Direktur Net Plaza mengatakan kamu terlibat dan merasakan uang hasil korupsi," sahut Naga Barat.


"Naga Barat... Kamu istirahat lah, kembali lah ke hotel.


Besok, ada pekerjaan lagi untuk mu," perintah Panji.


"Baiklah Godfather."


"Jangan lupa... Transfer semua uang sekretaris ini dan uang direktur ke nomer rekening ku, di Bank Asia."


"Baiklah Godfather, selamat malam."


"Sekretaris... Siapa nama mu," tanya Panji.


"Altar Mila Tuan."


"Berapa lama kamu kerja menjadi sekretaris di Net Plaza..?"


"Baru setahun Tuan."


"Berapa umur mu..?"


"22 tahun."


"Asli mana kamu..?"


"Asli Lembang Bandung Tuan."


"Mengapa kamu korupsi di perusahaan ku..?"


"Awalnya... Saya ingin membiayai adik - adikku sekolah Tuan. Dan saya ingin menyenangkan kedua orang tua saya.


Sekali lagi... Saya minta maaf. Dan saya jangan di laporkan ke polisi Tuan.


Saya siap melakukan apa saja asal jangan di laporkan polisi, saya tidak ingin di penjara, dan saya tidak ingin keluarga saya tau, kalau saya telah terlibat dan ikut menikmati hasil korupsi uang perusahaan."


"Benar kamu ingin melakukan apa saja untuk ku..?"


"Benar Tuan."


"Baiklah, mulai besok... Kamu kerja untuk ku, menjadi Asisten ku.


Kamu harus menurut atas semua perintahku."


"Baiklah Tuan."


"Panggil saja aku Godfather ya.


Sekarang kamu pulanglah. Jangan lupa, besok siang, temui aku di cafe London Net Plaza jam 12 siang.


Naiklah taxi, ini ambillah buat ongkos."


"Baiklah Godfather, terimakasih."


"Novi... Mari ikut aku.


Desi... Aku tinggal istirahat dulu ya, kan sudah ada saudara mu yang menemaninya."


"Baiklah Mas, hati - hati ya."


"Iya Desi," cjawab Panji kemudian pergi bersama Novi.


Sambil menatap Panji pergi... Desi berkata lirih,


"Siapa sebenarnya Mas Panji ini, gayanya seperti mahasiswa miskin, tetapi dia banyak duitnya. Setiap orang sering membungkukkan badan sambil berkata, selamat malam Godfather...


Aneh..!


Jadi penasaran aku."


"Kita kemana Godfather," tanya Novi sambil menyetir mobilnya.


"Kita ke Apartemen Intan, ini Alamat nya."


"Baiklah, aku tau apartemen itu.


Apartemen intan adalah salah satu Apartemen yang terkenal mewah di kota Bandung."


Setelah masuk kamar apartemen... Panji mandi, setelah itu merebahkan badannya di tempat tidur.


Sementara... Novi tidur di kamar sebelah.


Jam 8 pagi, setelah mandi, Panji bergegas pergi naik taxi menuju kampus.


Setelah selesai kuliah jam 12 siang, Panji hendak pergi ke Net Plaza. Namun... Ketika berada di pintu gerbang kampus hendak naik angkutan umum, Leni berteriak,


"Mas Panji..!"



"Hai Leni."


"Kemana saja kok beberapa hari gak kelihatan di kos - kossan..?"


"Biasa... Lagi sibuk kerja cari uang.


Kamu mau kemana..?"


"Yaa mau balik lah, ke kos - kossan.


Apa, Mas Panji mau ngajakin aku jalan - jalan sambil makan siang lagi..?"


"Boleh kalau kamu mau, biar aku ada temannya."


"Asiiik..!


Mau jalan jalan kemana..?"


"Ke Cafe London saja ya, kebetulan aku mau bertemu seseorang."


"Asiiiik..! Baiklah Mas."


"Heee..! Ketemu kaleng bekas ini lagi, gak kapok kapok juga ya," ujar Rusdy tiba - tiba berada di samping Leni.


Ternyata kamu kuliah di sini juga ya?


Duit dari mana lu bisa masuk universitas keong ini..?"


"Dia kan cowok matre," sela teman Rusdy,


"Kuliah pakai celana pendek, kaos kumal sandal jepit. Bikin malu anak kampus sini saja.


Naik angkot lagi."


"Diam kalian, jangan suka membuly mahasiwa baru," bentak Leni.


"Ayooo Leni, kita pergi. Jangan di hiraukan ikan Lele ini," sahut Panji kemudian menarik lengan Leni.


"Hahahaha..!


Mendengar Panji menyebut ikan Lele... Leni tak bisa menahan tawa.


"Berhenti," bentak Rusdy,


"Berani beraninya kamu bilang kami ikan Lele.


Dasar sampah tak berguna..!"


Tiba - tiba... Rusdy langsung menampar kepala Panji.


Begitu juga dengan ke 4 temannya ikut membuly Panji dengan menampar dan mendorong Panji hingga terjatuh.


"Berhenti..!!!" teriak Leni,


"Dasar kalian anak orang - orang kaya tak berguna."


"Mari Mas, kita pergi," ajak Leni lalu menarik tangan Panji, untuk berdiri.


Ketika hendak menyeberang jalan... Panji berkata,


"Kalian sudah dua kali ini menyakiti ku.


Pertama aku maaf kan, tetapi... Yang kedua kalinya, aku tidak akan memaafkan kalian."


"Kalian membuly orang yang salah," kata Panji kemudian menyeberang jalan.


"Hahahaha..!

__ADS_1


Dasar pecundang, sampah tak berguna," seru Russy.


__ADS_2