SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
GUS HANAN JADAB


__ADS_3

"Kak... Sarapan dulu, sudah jam 9 pagi," kata Maya sambil memegang pundak suaminya.


"Iya, sebentar," jawab Panji setelah itu bangun, lalu mandi air hangat.


Setelah sarapan Panji berkata,


"Maya... Ayo kakak antar periksa ke dokter kandungan."


"Baiklah Kak, aku ganti baju dulu."


Tak lama kemudian Panji menghidupkan mesin mobil BMW milik Maya istrinya.


"Kang Idris... Tolong carikan sopir untuk bu Nyai Maya ya, dan sopir untuk anak - anak yayasan," kata Panji,


"Kalau bisa orang kampung sini saja. Cari yang ahli menyetirnya."


"Iya Gus, ada banyak kalau sopir ahli di kampung sini."


"Baiklah, nanti sore setelah Kang Idris pulang kerja."


"Baiklah Gus," jawab kang Idris satpam.


Setelah memeriksa kandungan Maya, Panji melajukan mobil ke pusat perkotaan lalu berhenti di depan toko buku terbesar di kota Surabaya.


"Kakak mau beli buku," kata Maya kemudian turun dari mobil.


"Iya, buat perpustakaan di yayasan,* kata Panji sambil berjalan mengandeng lengan istrinya.


Setelah berada di dalam toko, Panji menemui manajer toko buku,


"Selamat siang Mas."


"Siang juga, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin beli buku buat perpustakaan. Saya ingin buku kitab Tafsir terjemah, kitab Hadis, kitab Fikih dan buku sejarah, kitab tasawuf.


Jangan lupa, buku cerita anak - anak."


"Kitab tafsir apa Mas..? Karena disini bermacam - macam kitab Tafsir. Ada 10 lebih kitab tafsir, kitab hadis dan juga kitab fikih. Dan bermacam - macam kitab tasawuf."


"Aku beli kitab tafsir yang ada di toko ini," sahut Panji.


"Wah itu sangat banyak sekali Mas. Kitab tafsir Jalalain itu saja sebanyak 30 buah buku yang tebal. Itu baru satu kitab Tafsir Jalalain. Belum kitab tafsir lainnya."


"Gak apa - apa Mas, saya beli semua kitab Tafsir terjemah yang ada di toko ini. Kalau bisa... Mas carikan buku agama sebanyak - banyaknya. 2 ribu buku pun akan saya beli.


Nanti Mas aku kasih komisi nya?"


"Baiklah Mas."


"Ini kartu nama istri ku ini, yayasan kasih ibu. Tolong kalau sudah siap, Mas kirim ke alamat ini ya?


Ini aku DP cek 10 juta dulu," kata patnji sambil menyodorkan selembar cek.


"Baiklah Mas, akan saya tulis tanda bukti pembayaran awal.


"Ini mtas, bon tanda bukti DP nya. Dalam beberapa hari kedepannya akan saya kirim ya Mas, karena saya harus mencari dan mengumpulkan semua buku pesanan Mas. Sebab ini jumlahnya ribuan buku."


"Baiklah Mas manajer, saya permisi dulu."


"Iya Mas, terimakasih atas kepercayaan nya."


Setiba di yayasan... Panji berjalan menemui Pak Hadi yang sedang mengawasi pembuatan pagar tembok untuk yayasan.


"Assalamualaikum Pak Hadi.."


"Waalaikumsalam Gus...


Kok lama gak kelihatan Gus?"


"Iya Pak Hadi, lagi kerja cari uang hehehehe," jawab Panji sambil tertawa.


"Ah, bisa saja Gus Panji ini. Emang kerja apaan? Gus kan uangnya datang sendiri..?"


"Belum selesai Pak Hadi bangun tembok pagarnya..?"


"Masih lama Gus. Tanah yayasan ini hampir satu hektar Gus. Saya tidak mengambil banyak - banyak tukang dan kuli. Biar santai kerjanya dan awet."


"Hahahaha, biar kerja terus ya Pak Hadi, biar gak bingung cari kerjaan di luar.


Yaa... Gak apa - apa Pak Hadi, santai saja, yang penting hasil kerjanya bagus dan kuat.


Pak Hadi... Saya ingin di bangunkan ruang untuk perpustakaan. Sekalian Pak Hadi buatkan rak untuk tempat buku. Dan meja juga kursi untuk tempat duduk membaca."


"Baiklah Gus, siap di laksanakan."


"Pak Hadi pakai kayu yang terbaik ya, dan yang kuat."


"Baiklah Gus.


Kalau begitu pakai kayu jati saja, tetapi mahal Gus."


"Mahal gak apa - apa Pak Hadi, yang penting kuat untuk di pakai puluhan tahun.


Uangnya minta sama Mbak sekretaris Rohma ya Pak."


"Baiklah Gus."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Ini ada cek sebesar 15 juta. Ini hadiah dari saya. 10 juta untuk Pak Hadi, yang 5 juta Pak Hadi bagikan pada para pekerja."


"Alhamdulillah, terimakasih Gus. Akhirnya saya bisa beli motor."


"Sekarang juga Pak Hadi cairkan di bank Asia.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Gus," jawab Pak Hadi sangat senang sekali,


"Baiklah Gus."


"Baru kali ini aku punya bos yang baik dan loyal sama anak buahnya. Kalau bos nya baik dan loyal, kalau mau mencuri bahan ya jadi sungkan. Mau kerja malas dan santai juga sungkan. Mau ambil keuntungan belanja bahan juga sungkan," kata Pak Hadi dalam hati.


*****


"Maya... Kakak mau jenguk Mbak Eka dulu ya, ke Bogor. Kakak mau mengobati Mbak Eka."


"Sekarang Kak..?"


"Iya, sekalian mau melihat - lihat keadaan PT Hening Group."


"Ganti baju dulu Kak, ganti celana. Jangan pakai celana pendek sama kaos gitu," sahut Maya.


"Gak apa - apa, baju dan celana Kakak banyak di apartemen Intan."


"Yaah, terserah Kakak lah. Jaga diri baik - baik. Ingat..! Istri mu hamil, jangan nakal - nakal."


"Iya...


Kakak pamit dulu, salim."


Setelah salim dan cium tangan, Panji uluk salam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Kak, jangan lama lama ya?"


*****


Di pondok Spombob.


Siang itu dua mobil BMW memasui halaman pondok pesantren Spombob.


Setelah memarkir mobil, Naga Barat bertanya pada beberapa santri keberadaan Gus Hanan.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam kang," jawab seorang santri senior.


"Mau tanya kang, Gus Hanan ada dimana ya?"


"Oh... Gus Hanan...


Dia biasanya tidur di makam Mbah Wali Kukun kang. Akang lewat sini saja, lewat pinggir jalan depan pesantren, pas di sebelah pesantren ada tanah kosong. Di belakang tanah kosong itulah makamnya.


Gus Hanan orangnya gak pakai baju dan sarung. Cuma pakai celana pendek saja."


"Baiklah, terimakasih ya,


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tak lama kemudian,


"Assalamualaikum," sapa Naga Barat yang berdiri di depan makam Mbah Wali Kukun.


"Waalaikumsalam," jawab Gus Hanan,


"Siapa kamu, menganggu orang tidur saja!"


"Aku Naga Barat Gus, dari Surabaya."


"Naga Barat..?

__ADS_1


Apanya Naga Selatan dan Naga Timur," tanya Gus Hanan bercanda.


"Naga Barat dan Naga Timur adalah saudara seperjuangan di organisasi Gus."


"Duduklah, aku gak kenal sama Naga - Nagaan.


Ada perlu apa mencari ku..?"


"Saya di suruh mengantar mobil BMW sama Tuan Godfather."


"Siapa Tuan Godfather itu?"


"Tuan Panji Gus. Nama panggilan nya Godfather."


"Ooh... Kak Panji itu panggilannya Godfather toh..! Kayak judul film mafia saja.


Baiklah Naga Barat, terimakasih telah mengantar mobil untuk ku.


Oh Iya Naga Barat..!


Apa pekerjaan godfather itu?"


"Godfather adalah ketua organisasi The Bluss, yang bergerak di bidang jasa keamanan dan pengawalan.x


"Mengamankan apa, dan mengawal siapa," tanya Gus Hanan.


"Mengamankan omset pengusaha, seperti menjaga rumah orang - orang kaya, pabrik, tambang, pertokoan dll.


Kalau mengawal itu mengawal para pengusaha ketika bepergian ke suatu tempat. Atau mengawal keluarga pengusaha kaya."


"Lalu... Posisi mu sebagai apa di organisasi The Bluss?"


"Saya manajer lapangan untuk wilayah Jawa Timur, Madura dan Kalimantan Gus."


"Luas sekali ya jaringan organisasi The Bluss," sahut Gus Hanan.


"Aku minta nomer telponnya boleh, barangkali aku membutuhkan bantuan mu."


"Boleh Gus," jawab Naga Barat kemudian memberi nomer telponnya.


"Ya sudah, kalian boleh pergi. Kalau kalian berada di kabupaten Nganjuk, silahkan mampir ke sini.'


"Baiklah Gus, kalau begitu saya permisi dulu," ujar Naga Barat kemudian uluk salam dan pergi.


*****


Sambil membawa kontak mobil BMW... Gus Hanan berjalan di halaman pondok pesantren Spombob.


Melihat mobil BMW warna hitam, Gus Hanan membuka pintu mobil lalu berkata,


"Mewah sekali mobil BMW ini. Tetapi ini mobil biasanya di pakai oleh para bos - bos. Kalau masih muda seperti ku, yang cocok itu mobil jimmy atau honda civid. Tetapi gak apalah, di ganti knalpot brong saja." 😅


Setelah menghidupkan mesin mobil BMW... Gus Hanan melajukan mobilnya ke arah kota, menuju bank Asia.


Setelah memarkir mobil... Gus Hanan berjalan menuju pintu masuk bank.


Melihat Gus Hanan yang hanya mengenakan celana levis pendek seperti orang gila, dua orang satpam berteriak,


"Berhenti, silahkan pergi dari sini!"


"Pak... Aku mau ambil uang di bank ini," sahut Gus Hanan.


"Maaf Mas, kalau mau ambil uang, harus berpakaian yang sopan."


"Kalian itu buta ya..!


Aku ini sudah berpakaian sopan, kok di bilang gak sopan..?"


Selesai membentak dua orang satpam... Tiba - tiba satpam bank itu melihat Gus Hanan berpakaian baju takwa putih. Juga mengenakan sarung hijau dan kepalanya di ikat sorban.


Sontak satpam langsung membungkukkan badan lalu salim dan mencium tangan Gus Hanan.


"Silahkan Gus, silahkan masuk. Mari saya antara ke dalam," ujar salah satu satpam.


Melihat kedua satpam itu membungkukkan badan, salim dan mencium tangannya... Gus Hanan keheranan.


Namun Gus Hanan menyembunyikan rasa keterkejutan nya, dan mengikuti seorang satpam ke ruangan manajer cabang.


Melihat seorang satpam yang berjalan bersama Gus Hanan yang gak pakai baju, para Costamer pengunjung bank yang antri keheranan.


"Pak satpam..!


Mengapa orang gila ini di bawah ke ruangan ku," bentak manajer bank Asia cabang Nganjuk,


"Bawah dia keluar, atau kamu aku pecat..!"


"Maaf pak manajer, beliau adalah seorang Gus. Bukan orang gila. Gus ini mau ambil uang."


"Diam kamu," bentak Pak Tarjo menajer,


Bawah keluar orang gila itu, Cepat..!"


Bruaaaak..!!!


Mendengar dan melihat Pak Tarjo menajer Bank marah - marah... Gus Hanan tiba - tiba melempar kursi plastik ke arah manajer Tarjo hingga mengenai wajahnya.


"Kamu akan menyesal berbuat kasar kepada ku," ujar Gus Hanan, lalu pergi keluar ruangan dan menuju parkiran mobil.


Begitu mobil BMW milik Gus Hanan meninggalkan bank... Tiba - tiba listrik di bank Asia padam.


Akibat listrik mati... Semua kegiatan transaksi bank Asia menjadi terhenti.


Setelah melaju agak jauh, Gus Hanan memarkirkan mobilnya di depan toko pinggir jalan untuk membeli rokok Danhil. Setelah membeli rokok, Ketika hendak masuk mobil, Gus Hanan melihat restoran mewah, lalu tgus Hanan berjalan kaki menuju restoran itu untuk makan siang.


Setiba di halaman parkir restoran... Dua orang satpam dan juru parkir berteriak,


"Hai, ayoo pergi dari sini..!


Ayoo pergi atau aku pukul pakai kayu!"


Mendengar teriakan satpam dan juru parkir, Gus Hanan tidak menghiraukan dan tetap berjalan ke pintu masuk restoran.


Dua orang satpam berlari mendekati gtus Hanan, dan berkata,


"Duduk sini saja ya..!


Saya ambilkan nasi."


"Pak satpam...! Suruh orang gila itu duduk di situ dulu. Jangan boleh masuk ke dalam, karena banyak pelanggan lagi makan siang."


"Baiklah Bos."


"Pak... Aku kesini ini mau makan siang dan minum es bir bintang," ujar Gus Hanan.


"dlDuduk di luar saja ya?


Masih di ambilkan nasi sama Bosnya."


"Ini Mas, makan siangnya," kata si Bos sambil menyodorkan sebungkus nasi dan sebotol air aqua,


"Silahkan pergi, di dalam banyak pelanggan lagi istirahat makan siang."


Setelah menerima nasi bungkus dan sebotol air aqua... Gus Hanan membuka nasi bungkus lalu melemparkan ke wajah si Bos pemilik restoran.


"Kamu buta ya mata mu..!


Aku kesini ini bukan ngemis. Aku kesini mau makan siang dan minum bir," bentak Gus Hanan kemudian membuka tutup air aqua, dan menyiramkan ke wajah si Bos.


Tanpa banyak bicara... Kedua satpam itu memukuli Gus Hanan hingga terjatuh.


"Kurang ajar..!


Di kasih makan malah dilempar ke wajah si Bos," kata kedua satpam.


Setelah berdiri, Gus Hanan berkata, "ingat kata - kata ku...!


Tangan kalian akan sakit. Restoran ini sebentar lagi akan bangkrut..!"


Setelah berkata, Gus Hanan berjalan pergi meninggalkan restoran menuju mobil nya.


Setelah Gus Hanan pergi, tiba - tiba beberapa pelayan restoran berlari mendekati si Bos dan berkata,


"Bos... Para pelanggan muntah - muntah semua. Mereka bilang masakan kita basi dan bau bangkai."


"Apa..!


Kan semua masakan baru di masak dan lezat," sahut Pak Dadang bos pemilik restoran kemudian bergegas ke meja para pelanggan.


Setelah mencium bau salah satu makanan di meja pelanggan, Bos Dadang langsung mual - mual pingin muntah juga. Lalu Pak Dadang bergegas menuju dapur dan langsung memeriksa semua masakan yang sudah matang dan baru di masak.


"Subhanallah...


Semua masakan yang baru di masak menjadi basi, nasi juga basi, ikan laut dan daging bau busuk," ujar Bos Dadang kemudian duduk di kursi dengan badan lemas dan kepala nya langsung pening.


"Jangan jangan... Pemuda gila itu wali..?


Bener apa yang di katakan pemuda gila itu. Bangkrut beneran aku ini," ujar bos Dadang tertunduk lesu.


***


Siang itu mobil BMW melaju mengelilingi kota Nganjuk. Setelah melihat bengkel knalpot, Gus Hanan memarkir mobilnya di depan bengkel knalpot dan modifikasi


"Assalamualaikum Bos," sapa Gus Hanan,

__ADS_1


"Selamat siang menjelang sore."


"Waalaikumsalam boooos," sapa Mas Joni pemilik bengkel kenalpot dan modifikasi mobil,


"Ada yang bisa saya bantu bos?"


"Aku mau knalpot mobil ini. di ubah menjadi knalpot brong yang nyaring suaranya."


"Siaap bos, mau di ganti knalpot apa di modifikasi saja..?"


"Di modifikasi saja ya.


Mas siapa namanya..?"


"Joni Bos."


"Habis berapa biayanya Mas Joni..?"


"50 ribu gimana bos?"


"Boleh boleh," sahut Gus Hanan.


"Silahkan duduk bos, saya pesankan kopi dulu ya."


"Siap," sahut Gus Hanan.


Setelah selesai melakukan modifikasi knalpot, Gus Hanan berkata,


"Mas Joni, aku minta di pasangkan salon mobil yang suaranya sangat kencang menggelegar!"


"Baiklah Bos.


Silahkan pilih salonnya. Mau yang harga berapa?"


"Pilihkan yang paling bagus ya?


Sekalian ganti ban nya. Pakai ban radial."


"Ban radial untuk depan yang bagus harganya 400 ribu bos. Yang belakang 600 ribu satu buah, plus palegnya."


"Baiklah, ganti saja."


"Siaap bos," Sahut Mas Joni kemudian memerintahkan anak buahnya.


Jam tiga sore, setelah selesai modifikasi, dan melakukan pembayaran, Gus Hanan meluncur ke kembali ke pondok pesantren Spombob.


Deru knalpot Blbrong terdengar sangat bising memekakkan telinga mamasuki halaman pesantren. Kyai Danwari yang sedang mengajar ngaji di masjid, terlihat kesal dan berkata lirih,


"Tamu kurang ajar, gak tau adab tatakrama. Masuk halaman pesantren, dekat masjid musik menggelegar gak di matikan. Knalpot brong bikin berisik.menganggu orang ngaji saja.


Lebih baik aku tegur biar mengerti tamu model begini..!"


Melihat Gus Hanan yang keluar dari mobil mewah... Kyai Danwari Pakdhe nya hanya diam saja tidak berani menegur keponakannya. Karena, kyai Danwari mengerti kalau Gus Hanan keponakan sedang jadab.


*****


Bank Asia cabang Nganjuk.


"Pak Tarjo... Semua kabel listrik dalam keadaan normal. Tidak ada konsleting kabel atau kabel yang terputus.


Tim kami sudah mengecek secara keseluruhan.


Kalau untuk genset diesel listik cadangan... Mesinnya rusak Pak. Jadi, harus membeli genset yang baru."


"Baiklah Pak, sekarang juga saya akan beli genset yang baru," ujar manajer Tarjo kemudian menelpon toko serba Ada.


Setelah di kirim dengan diesel genset yang baru... Tetap saja mesin genset tidak bisa menyalah. Dan listrik di Bank Asia tetap mati.


*****


Berita keanehan listrik mati tiba - tiba dan tidak mau menyala. Dan berita keanehan restoran Mojopahit yang tiba - tiba masakannya basi bau busuk, menjadi perbincangan beberapa orang di kota Nganjuk.


Sementara... Sedari siang, Panji sedang menikmati secangkir kopi di teras halaman belakang rumah Aini. Sesekali Panji melihat bayi kembar anak nya hasil hubungan dengan Aini istri pertamanya.


Aini yang sudah mulai sehat, duduk di kursi di samping ptanji sambil melihat kolam renang.


Setelah solat Magrib... Panji berkata kepada Aini.


"Aini... Aku pamit pergi dulu ya."


"Iya Mas. Apa mas gak menginap sini..?"


"Yaa nanti saja kalau urusan ku selesai."


Setelah salim, Aini memeluk erat - erat tubuh Panji mantan suaminya. Setelah itu melepaskan pelukannya.


"Hati - hati ya Mas."


"Iya Aini. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Biar diantar oleh sopir Mas. kemana Mas pergi..?"


"Baiklah Aini, terimakasih."


Setelah duduk di dalam mobil, pak sopir berkata,


"Tuan mau kemana..?"


"Mau ke kota Bogor Pak, ini alamatnya," kata Panji kemudian meyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam, jam 11 malam, mobil pun berhenti di depan rumah di perumahan Tirta Indah.


"Bapak boleh kembali ke Bandung ya? Ini uang buat bapak beli rokok dan makam malam," ujar Panji sambil menyodorkan uang 100 ribu.


"Iya Tuan.


Terimakasih banyak."


"Sama - sama Pak," jawab Panji kemudian berjalan mendekati pintu pagar, lalu memencet tombol bel rumah.


"Mencari siapa Mas," tanya seorang ibu paruh baya yang berdiri di depan pintu.


"Saya Panji Buk, mau menjenguk Non Eka."


"Oh iya iya, Nak Panji yang dulu menolong Eka waktu di Jakarta itu ya?"


"Iya Buk," jawab Panji.


"Silahkan masuk Nak Panji," kata si ibu sambil membukakan pintu gerbang,


"Silahkan masuk dan duduk.


Ibu tidak pernah melihat Nak Panji, hanya Non Eka dulu sering bercerita tentang kebaikan Nak Panji. Jadi... Ibu hanya tau nama kamu saja."


"Yaa inilah Buk wajah nya Panji, lumayan ganteng, hehehehe."


Melihat keadaan isi rumah Eka, Panji berkata dalam hati,


"Mengapa rumah ini tidak ada kursi sofa, tidak ada televisi dan tidak ada Ac nya. Padahal ini perumahan lumayan bagus.


Mobil juga tidak ada..?"


"Bagaimana keadaan Non Eka sekarang ini..?"


Sambil menangis Mama nya Eka bercerita,


"Non Eka mengalami patah tulang belakang Nak Panji. Dan gegarotak. Sekarang Non Eka cacat seumur hidup.


Padahal... Non Eka adalah tulang punggung keluarga. Papanya kerja seadanya. Adik - adiknnya masih sekolah semua.


Sejak Non Eka mengalami kecelakaan, ibu tidak punya tabungan. Barang - barang di rumah kami jual untuk makan dan biaya sekolah adik adiknya Non Eka. Bahkan televisi hiburan satu - satunya keluarga telah kami jual. Telpon rumah juga di putus karena tidak bisa bayar."


"Ibuk gak usah menangis ya?


Nanti Panji yang akan bantu Ibuk.


Sebentar ya Buk... Panji mau telpon dulu."


Setelah memencet tombol No Hp dan tersambung,


"Sekretaris Novi... Ada dimana kamu sekarang..?"


"Ada di Jakarta Tuan. Ada yang bisa saya bantu Tuan..?"


"Belikan gula dan kopi juga teh dan susu. Belikan makanan yang enak di restoran ya?


Nasi dan ikan di pisahin. Beli untuk 5 orang. itu saja dulu. Aku tunggu sekarang di Bogor. Alamatnya aku SMS habis ini."


"Baiklah Godfather, 1 jam lagi aku akan tiba di sana.


"Ibuk....Sebentar lagi kita akan makan malam bersama ya, ibu jangan bersedih hati."


"Iya Nak Panji. Terimakasih ya Nak Panji...


Semoga amal kebaikan Nak Panji di balas dengan kebaikan yang sempurna."


"Aamiin.


Buk... Panji ingin melihat Non Eka dulu."


"Baiklah Nak Panji, Nak Panji masuk saja di kamarnya itu. Ibu tidak tega melihatnya."

__ADS_1


"Baiklah Buk," kata Panji kemudian masuk ke kamar Eka.


__ADS_2