SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
TIRAKAT LEVEL 2


__ADS_3

"Terimakasih Syeh," ujar Panji kemudian menuang air kopi di lepek, kemudian menyeruput nya lalu menyulut rokok,


"Aini... Ayo minum lah biar tambah cantik.


Syeh... Bukankah ini es kelapa..?"


"Stop Gus, jangan di teruskan," potong Syeh Hamdani,


"Oh iya...


Mulai sekarang... Gus Panji harus mejalani ritual lelaku tirakat gendeng level 2.


Gus Panji harus berjalan dari sini hingga ke kota Denpasar pulau Dewata Bali.


Gus Panji tidak boleh meminta apapun kepada siapa saja. Kalau di beri... Gus menerima atau tidak, itu gak apa - apa.


Masalah waktu itu terserah Gus Panji.


Mau sebulan atau setahun sampai Bali terserah.


Setelah dari pulau Bali... Gus Panji kembali ke Banten lagi, dan terakhir Gus harus berhenti di makam Mbah wali Jabat."


"Sekarang Syeh," seru Panji.


"Iya Gus," jawab Syeh Hamdani.


"Apa tidak bisa di tunda Syeh..? Aku kan lagi mau ke Jakarta bersama teman ku ini. Dan aku juga rindu sama Mama ku, besok rencananya mau pulang ke Surabaya," ujar Panji,


"Apa tidak bisa di tunda Syeh?"


"Kamu tinggal pilih," kata Syeh Hamdani,


"Mau sama Allah... Apa mau sama gadis cantik dan kaya raya..?


Apa mau sama Mama kamu..?


Kalau Gus mencintai Allah... Yaa tinggalkan dulu gadis cantik ini, dan redamlah rasa rindu mu pada Papa Mama mu.


Kalau kamu lebih memilih urusan duniawi dan memilih gadis cantik ini... Yaa pergilah, lupakan lah Allah.


Ingat..! Kesempatan tidak akan datang untuk ke dua kalinya.


Setiap perjuangan itu membutuhkan pengorbanan.


Demi yang di cintai... Kamu harus melakukan apa saja, sekalipun nyawa taruhannya.


Mancing ikan yang besar... Umpannya juga harus besar.


Untuk mendapatkan drajat yang tinggi dan luhur... Kamu harus kuat Riyadho dan Tirakatnya."


"Menurut saja sama Syeh Hamdani, jangan membantah," kata hati Panji.


"Baiklah Syeh, aku akan menurut perintah Syeh," ujar Panji setuju.


"Sekarang... Pergilah, ingat pesan ku, jangan meminta apapun kepada orang lain," pesan Syeh Hamdani.


"Baiklah Syeh," ujar Panji kemudian sungkem, tetapi dengan cepat Syeh Hamdani menarik telapak tangannya agar tidak di ciumnya,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ayoo sayang," ajak Panji kemudian mengandeng tangan Aini.


"Tumben Mas Panji ini mengandeng lengan ku... Tdak seperti biasanya," kata Aini dalam hati dengan keheranan.


"Mas... Tadi itu bicara apa sih? Kok kayak orang bisu," tanya Aini.


"Apa kamu tadi tidak mendengar kan pembicaraan ku dengan Syeh Hamdani," ujar Panji.


"Tidaaaak, bener aku tidak mendengarnya," kata Aini,


"Yang kulihat Mas Panji bicara, tetapi tidak ada suaranya."


"Oh gitu ya...


Kok Aneh... Jangan jangan?" ujar Panji.


"Mas... Kita makan dulu ya! Itu ada warung lesehan nasi uduk, sekalian kita ajak Pak Rudi dan Pak Bowo," ajak Aini,


"Pak Rudi..! Ayo kita makan malam dulu."


Setelah menikmati makan malam... Panji dan Aini berjalan menuju mobil yang di parkir. Setelah berada di samping mobil... Panji berkata,


"Aini... Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu."


"Katakan saja Mas."


"Aini... Aku minta maaf ya... Aku tidak ikut kembali ke Jakarta. Aku ada urusan, aku mau menjalani suatu Lelaku. Jaga diri baik baik ya... Yang semangat! Jadilah cewek yang mandiri dan belajar berfikir dewasa," ucap Panji,


"Sampaikan salam ku pada Wilda dan Devi."


Mendengar kata - kata Panji... Aini terdiam sambil mata nya berkaca - kaca,


"Iya Mas, gak apa - apa...


Tetapi katakan, hendak ke mana Mas Panji malam ini..?"


"Aku mau jalan kaki dari sini ke Surabaya, persis yang aku lakukan di depan Hotel Atlanta ketika malam hari," jawab Panji.


"Baiklah Mas, hati - hati di jalan," kata Aini sambil meneteskan air mata.


"Aini... Janganlah menangis," ujar Panji kemudian memeluk Aini erat - erat.


"Sudah ya... Aku mau pergi dulu," ujar Panji kemudian mengecup kening Aini.l,


"Selamat malam."


Setelah Panji berjalan agak jauh... Aini menangis bersandar mobil, sambil mengumam,


"Kamu memeluk ku juga mengecup keningku... Hanya untuk meringankan beban kesedihan ku.


Walau kau bukan kekasih ku...


Entah mengapa aku seperti kehilangan dirimu.


Mengapa kita harus berjumpa, kalau pada akhirnya kita berpisah.


Ternyata... Aku telah jatuh cinta kepada mu, tetapi terlambat untuk ku katakan kepada mu."


Setelah naik mobil... Aini berkata,


"Pak bowo..! Larikan mobilnya dengan kencang, aku ingin segera sampai Jakarta."

__ADS_1


"Baiklah Non," jawab Pak Bowo kemudian tancap gas.


Malam itu... Dengan celana pendek warna hitam dan kaos warna putih... Panji berjalan perlahan - lahan. Karena tidak hafal jalan... Akhirnya Panji bertanya kepada seseorang yang berada di warung kopi,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Pak arah ke Jakarta itu mana ya," tanya Panji.


"Arah Jakarta itu ke utara sana Dik, kalau lurus... Adik nanti bisa tembus ke kecamatan Cilegon," jawab penjual warung.


"Apa nanti bisa tembus ke arah kota Bandung," tanya Panji.


"Bisa Dik," kata penjual warung,


"Adik nanti lewat laut selatan, pantai pelabuhan Ratu, terus ke kota Sukabumi, kota Cianjur, lalu kota Bandung. Kalau jalan kaki jauuuh Dik."


"Iya terimakasih Pak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Malam itu Panji terus berjalan menelusuri jalan raya yang sepi dan agak gelap. Setelah berjalan cukup jauh... Panji berkata lirih,


"Hemmm, haus sekali...


Beli gak boleh, minta gak boleh!


Terpaksa aku harus mencari minum air kran wudhu di masjid atau di musolla.


Enaknya aku harus mencari botol kosong untuk bekal."


"Tiba - tiba... Ada mobil lewat membuang kantong plastik tak jauh dari Panji berjalan. Panji pun mengambil kantong plastik kemudian membukanya,


"Alhamdulillah... Ada sisa air aqua dan roti sisir separuh."


Setelah memakan sisa roti dan menengak sedikit air aqua... Sambil berjalan Panji tertawa sendiri lalu berkata,


"Siang minum es kelapa muda dan makan ikan bakar, sore makan nasi uduk ikan ayam, minum es jeruk.


Sekarang kok makan roti sisir sisa gigitan orang dan minum air aqua sisa.


Gusti Allah ini ngajak bercanda saja.


Hidup memang misteri, hidup ini ternyata goib. Tidak tau nanti makan apa, minum apa, dan ada di mana?


Lalu... Mengapa banyak orang belajar ilmu goib..? padahal hidup ini sudah goib, hahaha."


Setelah melihat pasar pinggir jalan... Panji berhenti di emper toko yang kotor penuh debu. Karena merasa lelah... Panji merebahkan badannya, tak lama kemudian tertidur.


***


Pagi yang cerah, hawa sejuk pedesaan yang sangat asri dan dingin membuat Panji meringkuk.


"Bagun..! Ayoo pindah sana, toko mau buka," seru pemilik toko.


Mendengar suara keras si pemilik toko... Panji kaget hingga membuka kedua matanya yang masih ngantuk, lalu bangun berdiri dan pergi meninggalkan toko. Panji pun melanjutkan perjalanan lagi ke arah Jagad Timur.


Adzan Dzuhur berkumandang, Panji pun masuk ke musolla pinggir jalan, lalu membuka kran wudhu, kemudian kedua tangannya menengadah untuk mengambil air lalu di minumnya. Setelah minum dan mengisi botol aqua dengan air untuk wudhu... Panji pergi melanjutkan perjalanan dengan perut yang lapar.


Tak lama setelah solat Dzuhur... Seorang pemuda yang melihat Panji minum air kran untuk wudhu, memacu motornya kemudian berhenti di depan Panji,


"Mas... Ini ada nasi dan teh manis, ini untuk Mas nya."


Setelah pemuda itu pergi... Panji duduk di bawah pohon pinggir jalan, lalu menikmati makan nasi bungkus dan sebungkus teh.


Setelah makan dan minum... Panji menyulut rokok, kemudian Panji menyebut nama Aryo Jagad, lalu menghentakkan kaki kananya 3x.


Tak lama kemudian,


"Assalamualaikum Tuan...


Apa yang harus aku kerjakan untuk Tuan," ujar Aryo Jagad.


"Aku hanya ingin bertanya sesuatu dari mu, mari kita ngobrol sambil jalan," ucap Panji.


"Baiklah Tuan," kata Aryo Jagad kemudian berjalan di samping Panji,


"Apa yang ingin Tuan tanyakan?"


"Aku ingin jalan kaki ke arah kota Bandung, tunjukkan arah jalannya," jawab Panji.


"Saya bisa mengantarkan Tuan ke kota Bandung dalam waktu 1 menit, Tuan tidak usah susah payah jalan kaki," ujar Aryo Jagad.


"Aryo Jahad... Aku bilang aku ingin jalan kaki, bukan terbang bersama mu," kata Panji.


"Baiklah Tuan," ujar Aryo Jagad,


"Tuan lurus saja ikuti jalan pesisir pantai, nanti Tuan akan sampai di pantai Karang Hawu atau pantai pelabuhan Ratu, itu sudah masuk kabupaten Sukabumi.


Setelah itu... Tuan akan melewati 70 jalan tikungan menuju kota Sukabumi.


Dari kota Sukabumi itu, tuan jalan lurus saja, nanti Tuan sampai di kota Cianjur


Kemudian Tuan jalan lurus mengikuti jalan raya nanti tuan akan sampai di kota Bandung."


"Berapa lama kalau jalan kaki," tanya Panji.


"Kalau jalannya santai bisa 5 sampai 7 harian sampai kota Bandung Tuan," jawab Aryo Jagad.


"Kalau begitu... Temani aku jalan kaki hingga pantai Karang Hawu atau pantai pelabuhan Ratu," ujar Panji.


"Baiklah Tuan, saya akan menemani Tuan," kata Aryo Jagad.


Melihat Panji berjalan sambil ngobrol dengan Jin... Orang - orang awam mengangab Lanji orang gila, karena Panji seakan - akan bicara sendiri, sedangkan Aryo Jagad raja jin itu tidak kelihatan.


Waktu terus berlalu, senja pun tiba. Panji berhenti istirahat duduk di bawah pohon tak jauh dari sebuah warung.


"Tuan... Mengapa Tuan tidak berhenti duduk istirahat di warung saja untuk minum kopi dan makan," tanya Aryo Jagad.


"Aku tidak boleh beli makanan atau minuman dan tidak boleh meminta apapun dari orang lain," ujar Panji,


"Termasuk meminta sesuatu dari mu Aryo Jagad."


Mendengar ucapan Panji... Aryo Jagad terdiam sambil tersenyum. Namun... Diam - diam tanpa sepengetahuan Panji... Aryo Jagad menghipnotis seorang pembeli agar mau membelikan Panji secangkir kopi dan sebungkus nasi.


Tak lama kemudian datang seseorang sambil membawah secangkir kopi dan nasi bungkus,


"Mas... Ini nasi bungkus dan secangkir kopi, ini untuk Mas nya."


"Terimakasih Pak," ujar Panji sambil menerima sebungkus nasi dan secangkir kopi.


Sambil menikmati makan... Panji bertanya,

__ADS_1


"Aryo Jagad... Apakah kamu mengenal pengusaha kaya raya di Jakarta?"


"Sebagai raja jin... Dengan mudah aku bisa mengetahui apa saja di dunia ini Tuan," ujar Aryo Jagad,


"Katakan saja."


"Apakah kamu mengenal pengusaha bernama Hong Shi," tanya Panji.


"Hong Shi itu pengusaha kontraktor asal Cina, dia juga mempunyai lebih dari 100 perusahaan di indonesia. Bahkan pabriknya ada di beberapa Negara di Asia," jawab Aryo Jagad,


"Hong Shi masuk dalam daftar 10 orang kaya di Indonesia.


Dia mempunyai 1 istri orang jawa berasal dari kota Bandung, dan mempunyai lebih 50 wanita simpanan di beberapa kota di Indonesia dan di Asia."


"Yang bener kamu..! Masak memiliki wanita simpanan lebih dari 50," tanya Panji terkejut.


"Benar Tuan, ini yang saya ketahui," ujar Aryo Jagad.


"Siapakah anak Pak Hong Shi itu..? Dan bagaimana ciri ' cirinya," tanya Panji,


"Kalau salah... Berarti kamu ngawur asal ngomong."


"Hong Shi hanya mempunyai seorang putri pewaris kerajaan bisnisnya. Dia bernama Aini Melisa Shi, dia berumur 17 tahun," jawab Aryo Jagad,


"Aini pernah mengalami kecelakaan hebat hingga membuat dia lumpuh beberapa bulan, dan yang mengobati nya adalah Tuan Panji sendiri. Dengan cara memberi buah mangga... Akhirnya Aini sembuh."


"Lalu... Mengapa Pak Hong Shi memiliki banyak wanita simpanan..? Apakah istrinya tau kalau Pak Hong Shi itu berselingkuh," tanya Panji.


"Pak Hong Shi adalah pengusaha yang memiliki uang Trilyunan. Dia ingin mempunyai anak laki - laki untuk mewarisi kerajaan bisnisnya," jawab Aryo Jagad,


"Jadi... Dia sering berhubungan badan dengan banyak wanita simpanan hanya untuk mendapatkan keturunan anak laki - laki.


Istrinya tau, makanya Mama nya Aini sering menghibur diri dengan bepergian keluar Negri."


"Makanya Aini sering bercerita kalau hidupnya tidak bahagia dan menderita walau bergelimang harta," ujar Panji,


"Apalagi yang Aryo Jagad ketahui tentang Aini..?"


"Aini adalah korban dari keserakahan kedua orang tuanya. Makanya dia hidup menderita," kata Aryo Jagad,


"Kebahagiaan Aini ketika dia bersama Tuan.


Aini jatuh cinta pada Tuan, tetapi di hati tuan Panji hanya ada seorang wanita yang tuan cintai sejak kecil."


"Siapa dia," tanya Panji mengetes.


"Dia adalah Maya putri bungsu dari pengusaha asal Surabaya," jawab Aryo Jagad.


"Kok kamu tau semuanya tentang diri ku," tanya Panji heran.


"Saya adalah Raja jin Tuan, aku mempunyai banyak kesaktian. Aku bisa melihat apa saja secara cepat," jawab Aryo Jagad.


"Iya, iya aku percaya, semuanya yang kamu katakan adalah benar," ujar Panji,


"Apakah kamu bisa membuat semua usaha Pak Hong Shi mengalami pailit, atau bangkrut?


Setelah itu... Usaha Pak Hong Shi normal kembali?"


"Bisa Tuan, dalam hitungan hari... Aku sanggup membuat bisnis Pak Hong Shi bangkrut, lalu normal kembali," kata Aryo Jagad,


"Apakah Tuan ingin aku membuat kerajaan bisnisnya Pak Hong bangkrut?"


"Iya... Aku ingin bisnis Pak Hong bangkrut," jawab Panji.


"Baiklah Tuan," ujar Aryo Jagad,


"T uan tunggu saja kabar beritanya."


"Mari Aryo Jagad, kita teruskan perjalanan ke pantai Karang Hawu kabupaten Sukabumi," ajak Panji.


"Baiklah Tuan."


Setelah beberapa lama jalan kaki... Akhirnya menjelang Subuh, Panji sampai di pesisir pantai Karang Hawu,


"Aryo Jagad... Kamu kembali lah ke Alas Blandong, rawatlah istri mu dulu. Aku mau istirahat."


"Baiklah Tuan, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sambil mendengarkan deburan ombak laut Karang Hawu... Panji merebahkan badan di bangku warung dekat pantai dan akhirnya tertidur.


***


Matahari telah meneranggi Bumi, siang pun mulai merambat, tetapi Panji masih tertidur sangat nyenyak sekali,


"Mas... Bangun, bangun Mas!


Warung mau buka!"


Mendengar suara pemilik warung... Panji pun bangun, lalu pergi melangkahkan kaki. Dengan rasa lapar... Panji terus berjalan menapakkan kakinya.


Senja pun datang, setelah adzan Isak... Panji sampai di pasar Cibadak. Sambil melihat ramainya pertokoan, Panji terus berjalan. Hingga panji istirahat di duduk di depan pertokoan yang tutup di terminal Bayangan.


Setelah menengak air dari botol aqua yang berisi air sumur, Panji menyulut rokok marlboro.


"Hemmm, rokok tinggal 4 batang, alamat gak merokok malam ini," ujar Panji lirih,


"Perut lapar sekali, seharian jalan kaki dalam keadaan lapar.


Sulit juga ternyata lelaku tirakat gendeng level 2 ini... Bagaimana sulitnya jika level 3?


Di dompet ku ada uang 1 juta, di ATM ada uang 120 juta, tetapi tidak berguna, tidak bisa beli apa - apa.


Apalah artinya uang kalau sedang melakukan tirakat gendeng."


Di saat enak - enak istirahat duduk bersandar di tembok pertokoan pinggir terminal Bayangan... Tiba - tiba ada beberapa preman terlibat perkelahian, hingga ada yang terjatuh di depan Panji.


Melihat seorang preman berambut panjang jatuh di depannya... Panji hanya diam melihat sambil menikmati kepulan asap rokok. Dengan cepat beberapa preman berlari sambil mengeluarkan golok dan menghujamkan ke tubuh preman yang terjatuh di depan Panji.


Mengetahui hal itu... Panji dengan cepat berdiri menghalangi 4 preman yang menghujamkan golok. Tak ayal, 4 golok milik preman tersebut menghantam tubuh dan kepala Panji.


Melihat Panji tidak terluka dan masih berdiri... Salah satu preman yang setengah mabuk itu kembali menyabetkan golok nya beberapa kali ke tubuh Panji. Namun Panji tetap diam berdiri sambil melindungi preman yang terjatuh.


Melihat Panji kebal senjata tajam... Ke empat preman itu lari tungang - langang, takut Panji balik menyerang dengan golok.


"Bangunlah," kata Panji,


"Sudah aman, mereka sudah pada pergi."


"Terimakasih Mas,


Terimakasih sekali telah menyelamatkan Nyawaku," kata preman yang terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2