
Pagi Jam 02:30 Panji terbangun dan melihat Wilda tidur di sampingnya dengan mengenakan baju tidur tipis yang di sediakan pihak Hotel.
Setelah meletakkan tangan Wilda yang berada di dadanya... Panji kemudian mandi dengan air hangat, setelah itu mengambil sarung baru yang di belikan Wilda.
Sambil duduk di atas sajadah yang di sediakan pihak Hotel... Panji menghubungi Kyai Jabat,
"Assalamualaikum kyai."
"Waalaikumsalam salam Gus," jawab Kyai Jabat.
"Solat sunnah malam apa yang baik untuk saya kyai..? Dan wirid apa yang harus aku baca," tanya Panji.
"Solatlah Tobat 2 rokaat Gus, lalu dawamkan wirid istiqfar, minimal 1000x maksimal 5000x," ujar Kyai Jabat.
"Kyai... Mengapa harus solat Tobat dan mengapa harus medawamkan baca istiqfar," tanya Panji.
"Subhanallah, Al kuddus," ujar Kyai Jabat,
"Gusti Allah itu adalah Dzat yang Maha Suci, jika Gus Panji ingin menjadi kekasih Allah... Jiwa dan raga Gus Panji harus suci.
Untuk mensucikan jiwa dan raga... Pada tingkat awal, Gus Panji harus mendawamkan bacaan istiqfar hingga akhir hayat.
Nurullah itu juga suci, Nurullah adalah Warid.
Dan warid itu mau bersemayam di hati yang suci dan bersih.
Maka... Dawamkan istiqfar agar Allah mau bersemayam di dalam hatimu.
Mengapa harus mendawamkan wirid istiqfar hingga Akhir hayat...? Karena Wirid itu akan menghasilkan dan mendatangkan Warid di dalam hati Gus Panji.
Ketika Warid itu berada di dalam hati mu, maka Warid itu akan membersihkan segala kotoran yang ada di dalam jiwa raga mu."
"Baiklah kyai, akan saya laksanakan solat tobat dan istiqomah mendawamkan istiqfar," kata Panji,
"Terimakasih atas petunjuknya.
Assalamualaikum. Salam sejahtera untuk kyai."
"Waalaikumsalam Gus, salam sejahtera kembali."
Setelah melaksanakan solat Tobat... Panji membaca istiqfar hingga suara Adzan subuh terdengar.
"Wilda... Wilda," ujar Panji membangunkan Wilda.
"Iya Mas," sahut Wilda.
"Sudah adzan subuh, mari kita Solat berjamaah," ujar Panji sambil menarik lengan Wilda.
Setelah mandi dan wudhu, Panji dan Wilda melaksanakan solat Subuh berjamaah.
Pagi jam 09, setelah bangun tidur, mandi dan ganti baju... Panji dan Wilda keluar dari kamar hotel menuju tempat parkir.
"Pak Edi... Dari sini ke Candi Borobudur berapa lama," tanya Wilda.
"1 jam 15 menit Non," jawab Pak Edi.
"Kalau dari Borobudur ke pantai Parangtritis berapa lama," tanya Wilda.
"1 jam 30 menit Non," jawab Pak Edi sambil membungkukkan badan.
"Baiklah, kita. Ke Borobudur dulu ya Pak Edi, kemudian kita pergi ke pantai Parangtritis," ujar Wilda.
"Baiklah Non," kata Pak Edi kemudian menghidupkan mesin mobil.
Tak lama kemudian mobil melaju perlahan - lahan keluar hotel.
Melihat kedua mata Pak Edi merah... Dalam mobil, diam - diam Panji menerawang Pak Edi yang sedang mengemudi mobil.
Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata dalam hati,
"Ternyata anak Pak Edi ini sakit keras dan berada di rumah sakit.
Semalam Pak Edi kurang tidur karena bergantian menjaga anaknya.
Dia juga bingung masalah pembayaran biaya rumah sakit."
"Pak Edi," ujar Panji.
"Iya Tuan," jawab Pak Edi dengan rasa terkejut.
"Ke candi Borobudur nanti saja, sekarang kita ke rumah sakit RSUD ya," ujar Panji membuat Wilda terkejut.
"Emang Mas Panji sakit," tanya Wilda cemas.
"Kita mau menjenguk anaknya Pak Edi yang lagi sakit," ujar Panji.
"Darimana Mas Panji tau," tanya Wilda.
"Coba tanya sama Pak Edi," ujar Panji.
"Pak Edi... Apa benar putranya Pak Edi sedang di rumah sakit," tanya Wilda.
"Benar Non, anak saya kemarin sore kecelakaan sepulang sekolah, kata dokter harus di operasi agar kembali normal," jawab Pak Edi.
"Dari mana mas Panji ini tau..? Aneh!! Apa benar yang di katakan Pak Hong Shi, bawah Mas Panji ini anak sakti,"
kata Wilda dalam hati.
Setelah menjenguk putra Pak Edi... Panji membayar semua biaya rumah sakit sebesar 30 juta, dan memberi uang ke istri Pak Edi sebesar 5 juta untuk biaya perawatan di rumah.
Setelah itu mobil melaju ke arah candi Borobudur.
__ADS_1
Setelah puas jalan - jalan di lokasi candi Borobudur, setelah menikmati makan siang bersama... Mobil pun melaju ke arah pantai Parangtritis.
Senja mulai merona, sambil bergandengan tangan, Panji dan Wilda jalan - jalan di tepi pantai sambil melihat pemandangan dan deburan ombak.
"Wilda... Hari sudah senja, aku mau melanjutkan perjalanan ke Surabaya lalu ke pulau Bali," kata Panji lirih.
"Baiklah Mas, mari kita pergi," kata Wilda.
Tak lama kemudian mobil melaju perlahan - lahan.
"Pak Edi... Aku ingin sampai bandara 19:00, karena penerbangan jam 19:15, " ujar Wilda.
"Baiklah Non," kata Pak Edi kemudian melajukan mobil dengan kencang.
Tak lama kemudian mobil berhenti di jalan Malioboro, atas permintaan Panji.
"Wilda... Aku pergi dulu ya..! Jaga diri baik - baik," ujar Panji,
"Assalamualaikum."
Waalaikumsalam," kata Wilda,
"Mas... Ambillah kartu ATM ini, ini ATM khusus yang di miliki pengusaha."
"Baiklah, siapa tau berguna di jalan, dada," ucap Panji sambil melambaikan tangan.
Wilda tersenyum bahagia sambil melambaikan tangan, tak lama kemudian mobil pun bergerak perlahan - lahan dan hilang di ujung jalan.
Sambil berjalan menuju tangga pesawat... Wilda berkata lirih,
"Kau yang terindah dalam hidup ku...
Semoga kemesraan ini terus berlanjut hingga di ujung waktu.
***
Malam itu... Panji melangkahkan kaki menelusuri jalan ke arah Kabupaten Solo.
Tak teras adzan Subuh terdengar berkumandang.
Setelah melaksanakan solat Subuh... Panji merebahkan badannya di sudut teras musolla.
***
"Jam sepuluh lebih," gumam Panji sambil melihat jam Rolex di pergelangan tangan kirinya,
"Lebih baik aku melanjutkan perjalanan."
Waktu terus berlalu, senja mulai uluk salam dan malam pun menyuguhkan kegelapan.
Tak terasa setelah berjalan sekian lama... Panji telah memasuki kabupaten Solo.
Angin semilir membawah serbuk embun menerpa, membuat Panji kedinginan.
"Sungai apa itu lebar sekali..? Lebih baik aku istirahat sebentar di bawah pohon ini saja."
Setelah memakan sepotong roti pemberian Wilda... Panji menenggak air Aqua kemudian menyulut rokok,
"Sudah jam 02 dini hari, lebih baik aku meneruskan perjalanan untuk mencari masjid atau musolla."
"Tolong..! Tolong..!"
Ketika baru berjalan beberapa langkah... Panji mendengar teriakan gadis kecil perempuan hanyut di sungai dan berteriak minta tolong.
Melihat gadis kecil terhanyut di permukaan sungai... Tanpa pikir panjang Panji melompat ke sungai untuk menolong gadis itu.
Namun... Begitu kakinya menyentuh air sungai... Tiba - tiba Panji berdiri di atas tanah dan badannya tidak basah.
"Aneh..?
Tempat apa ini..? Apakah aku ini mimpi," ujar Panji
Lau tiba - tiba cincin akik Taji Kubro mengeluarkan cahaya berwarna merah... Kemudian cincin Taji Kubro mengeluarkan cahaya putih, dan cahaya putih itu membentuk lingkaran melindungi Panji. Hingga cahayanya meneranggi kegelapan di sekitar Panji.
Setelah membaca mantra Bismillah Hu Allah... Kedua mata Panji melihat beberapa pasukan jin berdiri di depannya.
"Ooh... Ternyata jika cincin Taji Kubro ini mengeluarkan cahaya merah, itu tandanya ada bahaya di sekitar ku, Kalau dia mengeluarkan cahaya putih, berarti cincin Taji Kubro ini melindungi ku.
Baru tau aku," gumam Panji lirih.
"Selamat datang di kerajaan Lawawu Tuan," ucap beberapa jin sambil membungkukkan badan.
Melihat beberapa jin menyambutnya dengan hormat... Panji merasa sedikit bingung, lalu berkata,
"Dimana aku ini..?
Dan mengapa kalian menyambut ku dengan hormat?"
"Tuan berada di alam jin sungai Berantas, masuk wilayah kekuasaan kerajaan Lawawu Gunung Lawu," ujar panglima perang,
"Tuan... Raja kami Gesang Madrid telah terkurung di dalam gua selama kurang lebih 200 tahun.
Menurut ramalan pendeta kerajaan... Yang bisa membebaskan Raja Gesang adalah seorang anak muda dari bangsa manusia, dan pemuda itu sedang melakukan perjalanan spiritual dari arah timur menuju ke arah barat.
Ciri - ciri itu ada pada diri Tuan. Makanya kami membawa Tuan kemari."
"Kalian kan jin sakti sakti, mengapa tidak kalian saja yang membebaskan raja kalian," ujar Panji.
"Kami dan para sahabat Raja sudah berulang - ulang kali berusaha membebaskan nya, namun kami tidak berhasil," kata Panglima Selo Karang.
"Baiklah, coba akan aku bebaskan, tetapi aku tidak janji sanggup membebaskan raja kalian," ujar Panji,
__ADS_1
"Tunjukkan dimana gua nya."
"Baiklah Tuan, mari ikut saya," kata Panglima Selo Karang.
Setelah berjalan beberapa saat,
"Ini Tuan Gua nya, Raja kami berada di dalam.
Setelah menyulut rokok... Panji duduk di atas lempengan batu, setelah melihat sekitar gua... Panji melihat masa lalu, apa yang sebenarnya terjadi.
Sambil menikmati kepulan asap rokok, Panji berkata lirih,
"Gua ini di segel oleh cahaya berwarna biru, dan cahaya itu berasal dari Rajah Asmak yang menempel di depan dinding gua. Akibat pengaruh cahaya Rajah Asmak... Semua kekuatan dan kesaktian Raja jin Gesang Madrid tidak berfungsi.
200 tahun yang lalu... Raja jin ini telah menganggu semedinya Kyai Jabat, dan ingin merebut keris milik kyai Jabat.
Lalu kyai Jabat marah dan bertarung dengan raja jin ini. Setelah kalah... Kyai Jabat melempar Raja jin ini ke dalam gua, lalu Kyai Jabat menyegelnya.
Ooh... Begitu ceritanya.
Ganteng juga Kyai Jabat waktu muda nya. Tetapi sayang, ganteng - ganteng punya istri satu.
Bikin penasaran saja, mengapa Kyai Jabat harus semedih di dalam sungai Brantas..?!
Coba aku terawang lagi ke alam masa lalu."
Setelah menerawang dengan seksama... Panji sangat terkejut sekali, lalu berkata,
"Ternyata Kyai Jabat adalah murid Mbah Suro atau Syeh Jalaluddin Mursid Torekot Al Banjari Nganjuk.
Untuk menyempurnakan kewaliannya... Kyai Jabat harus semedih selama 100 hari di dalam air laut atau air sungai.
Ketika Kyai Jabat sedang melakukan perjalan jalan kaki ke banten... Di saat melewati sungai Bengawan Solo, Kyai Jabat memutuskan untuk bersemedi di dalam sungai Brantas.
Begitu ceritanya....
Tetapi... Mengapa aku tidak bisa melihat wajah Mbah Wali Suro ya..? Dan tidak bisa menerawang siapa sebenarnya Mbah Suro!
Yang terlihat hanya bayang - bayang dan tau namanya saja."
"Panglima Selo Karang... Buatkan api unggun, hawanya dingin sekali," ucap Panji.
Dengan kesaktian nya sebagai bangsa jin... Tanpa menunggu lama api unggun pun menyalah,
"Tuan... Ini ada beberapa macam minuman juga makanan, silahkan Tuan cicipi."
"Terimakasih," ujar Panji kemudian mengambil secangkir kopi hitam.
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Panji menghubungi Kyai Jabat,
"Assalamualaikum Kyai Jabat."
"Waalaikumsalam Gus," jawab Kyai Jabat.
"Kyai... Bolehkah saya membebaskan Gesang Madrit, Raja jin Gunung Lawu yang kyai kurung di gua di alam jin sungai Brantas," tanya Panji.
"Subhanallah...!
Sampai lupa aku, boleh Gus," ujar Kyai Jabat,
"Bacalah Bismillahirrohmanirrohim tahan Nafas 41x lalu bacalah Alif Alif 7x, kemudian tiupkan di telapak tangan kanan, setelah itu usapkan telapak tangan itu pada pintu masuk gua."
"Baiklah kyai," kata Panji,
"Kyai... Kalau boleh tau, siapakah Mbah Wali Suro Nganjuk itu?"
Mendengar pertanyaan itu... Kyai Jabat diam sejenak, lalu berkata,
"Mbah Suro itu adalah guru Mursid ku Gus, Beliau adalah kakek leluhur mu.
Gus panji adalah keturunan ke 5 dari Mbah Wali Suro."
"Baiklah kyai, terimakasih atas ijin dan petunjuknya," kata Panji,
"Assalamualaikum
Salam sejahtera untuk kyai."
"Waalaikumsalam Gus."
"Ternyata Mbah Wali Suro adalah leluhur ku, dan aku adalah keturunan ke 5," gumam Panji,
"Lebih baik aku bebaskan Raja jin ini, kasihan telah di kurung lebih dari 200 tahun."
"Gesang Madrit..!
Aku Panji Hening, aku bisa membebaskan diri mu, lalu... Apa imbalannya untuk ku?"
"Baiklah Tuan," sambil membungkukkan badan Gesang Madrit berkata,
"Jika Tuan Panji bisa membebaskan saya, saya berjanji akan selalu setia kepada Tuan hingga anak keturunan Tuan.
Saya akan mematuhi semua perintah Tuan. Apapun yang tuan inginkan akan saya penuhi selama saya mampu."
Melihat akik Taji Kubro mengeluarkan cahaya Hijau... Panji berkata,
"Baiklah, aku pegang janji mu, kalau kamu ingkar janji... Akan aku ambil kedua bola mata mu, dan aku hancurkan kerajaan mu."
Mendengar ancaman Panji... Raja jin Gunung Lawu langsung membungkuk kan badan 90 drajat,
"Baiklah Tuan, aku tidak akan melanggar sumpah janji ku."
__ADS_1
"Baiklah, tunggulah sebentar," ujar Panji,
"Aku mau ngopi dulu."