
"Dari mana kyai mengetahui nama ku," tanya Panji.
"Dari kyai Jabat Gus, beliau juga berpesan agar Gus ganti baju baru dan sarapan di sini.
"Baiklah, aku mau ganti baju kalau itu perintah Kyai Jabat," kata Panji kemudian mengikuti langkah kyai Abdul Hadi.
Setelah mandi, Panji mengenakan kaos hitam dan celana kolor kain hitam juga sandal baru berwarna hitam. Setelah itu, Panji menikmati makan siang bersama kyai Abdul Hadi.
Sambil makan... Kyai Abdul Hadi berkata,
"Habis ini Gus mau jalan kemana?"
"Mau ke pulau Bali kyai," jawab Panji.
"Gus... Berikanlah nasehat untuk ku walau hanya sepatah kata atau dua kata," ucap Kyai Abdul Hadi
"Kyai pilih mana," ujar Panji,
"Orang tua..?
Istri..?
Atau anak..?"
"Pertanyaan yang sulit di jawab Gus," kata Kyai Abdul Hadi,
"Kalau boleh... Pilih semua."
"Kyai harus memilih salah satu," ujar Panji.
"Saya memilih orang tua, sebab ridho orang tua adalah ridho Allah," jawab Kyai Abdul Hadi.
"Apa benar Ridho orang tua itu Ridhonya Allah," ujar Panji.
"Menurut yang saya yakini dan berdasarkan kitab... Bener gus, Ridho orang tua itu Ridhonya Allah," jawab Kyai Abdul Hadi,
"Bahkan surga itu di bawah telapak kaki ibu."
"Jika ada orang tua menjual anak gadisnya kepada lelaki hidung belang, apakah Ridho orang tua itu adalah Ridho Allah," ujar Panji,
"Apakah jika ada orang tua yang suka berbuat maksiat, dan suka berbuat dosa, apakah ridho orang tua itu Ridhonya Allah?"
Mendengar pertanyaan Panji... Kyai itu diam.
"Apakah jika seorang ibu suka berzina... Apakah masih berlaku, surga itu di bawah telapak kaki ibu," ujar Panji menambahi,
"Kalau seorang ibu itu sangat jahat, hingga membunuh bayinya sendiri, apakah surga itu di bawah telapak kaki ibu?"
"Lalu... Aku harus memilih yang mana Gus, di antara tiga pilihan itu," tanya Kyai Abdul Hadi.
"Kyai harus memilih istri. Bukan orang tua atau anak," jawab Panji,
"Kalau orang tua itu sudah ada imam nya sendiri, memiliki surga sendiri dan mempunyai jalan hidup sendiri.
Kalau anak... Kelak kalau dewasa dan sudah menikah... Mereka juga punya imam dan surga sendiri, mereka memiliki jalan hidup sendiri.
Kalau istri kyai... Adalah makmum, dan kyai adalah imam nya. Surga kyai ada di dalam diri istri, surga istri kyai ada di dalam diri kyai.
jalan hidup... Kyai dan istri lah yang memilih dan menentukan.
Yang memulyakan kyai saat ini adalah istri kyai, yang mengurus kyai, yang merawat kyai adalah istri.
Orang tua dan anak hanyalah titipan, sedangkan istri adalah amanah.
Jadi... Surga seorang suami ada di dalam ridho sang istri dan ridho sang istri ada di dalam suami."
Setelah ngobrol kurang lebih 1 jam, Panji mohon pamit,
"Kyai... Aku mohon pamit dulu, mau meneruskan perjalanan. Terimakasih atas segalanya."
"Baiklah Gus, bawalah tas ini, untuk bekal di jalan," ucap Kyai Abdul Hadi.
"Baiklah kyai, aku pamit dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambil menenteng tas rangsel pemberian sang kyai... Panji keluar dari rumah Kyai Abdul Hadi. Waktu terus berlalu, Panji telah melewati kota Garut dan terus berjalan menuju kabupaten Tasikmalaya.
Pengalaman beberapa hari di jalan dan bekal pengalaman di depan Hotel Atlanta... Membuat Panji bertambah dewasa dalam menyikapi keadaan lelaku Tirakat Gendeng.
Senja mulai tiba. Pada suatu perjalanan... Panji melihat seorang ibu yang mengendong anaknya di halaman rumah gubuk sambil meneteskan air mata.
"Mengapa ibu muda itu menanggis sambil mengendong anaknya," kata Panji dalam hati,
"Jadi teringat mama ku.
Dulu... Sewaktu masih miskin... Mama mengendong adik ku di halaman rumah setiap sore. Kadang Mama meneteskan air mata. Lebih baik aku hampiri saja.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab ibu muda.
"Bu... Boleh saya istirahat sebentar di halaman rumah ibu," ujar Panji.
lBoleh Mas silahkan," kata ibu muda kemudian menghapus air matanya,
"Duduk di teras sini saja Mas. Maaf rumahnya kotor."
"Iya Bu, gak apa - apa," kata Panji kemudian duduk di kursi yang terbuat dari bambu.
"Sebentar ya Mas... Saya mau ke dalam dulu," kata ibu muda.
Setelah ibu itu masuk ke dalam... Panji membuka tas rangsel yang terasa berat,
"Hemmm, ternyata isinya nasi dua bungkus dan rendang daging sapi, satu kantong plastik besar dan sendok.
Ada sarung baru, perlengkapan mandi dan roti. Emangnya mau kemping apa..? Kok lengkap sekali?
Ini ada Amplop, 1,2,3... Ada 1 juta, buat apa uang ini, di belikan juga gak bisa. Rokok nya saja aku ambil, ada 4 bungkus surya 16."
"Mas... Silahkan di minum air putihnya. Maaf seadanya," kata ibu muda.
"Iya bu... Suaminya kemana Bu," tanya Panji basa - basi.
"Ada di kamar, Suami saya sedang sakit sudah hampir 1 bulan Mas, jadi gak bisa keluar," ujar ibu muda.
__ADS_1
"Sakit apa Bu, suaminya," tanya Panji,
"Oh iya, ibu namanya siapa?"
"Ema Mas, suami saya sakit tidak bisa jalan Mas, waktu kerja dia terjatuh lalu dapat seminggu gak bisa jalan," jawab ibu muda.
"Apa sudah berobat ke dokter..? Atau pijat," tanya Panji.
"Ke Puskesmas saja, tetapi gak ada hasilnya. Pijat juga pernah 2x tetapi tetap gak sembuh," jawab Bu Ema,
"Mau ke rumah sakit juga gak punya uang Mas."
"Suami ibu Ema kerja apa," tanya Panji.
"Kerja kuli bangunan Mas," jawab Bu Ema.
"Bu... Ini ada rendang daging sapi dan nasi juga roti. Ibu kasih makan dulu suami ibu ya... Ambillah untuk ibu, saya tadi di beri kyai," ujar Panji.
"Alhamdulillah... Trimakasih banyak Mas," ucap ibu Ema dengan kedua matanya berkaca - kaca,
"Saya barusan bingung, sehari tidak masak, tidak ada yang di masak, uang juga tidak punya Mas. Saya dan suami seharian belum makan. Alhamdulillah... Trimakasih ya Mas."
"Ibu makan dulu ya... Suaminya di suapin," ujar Panji.
"Iya Mas, sebentar ya saya tinggal ke dalam dulu," kata Bu Ema.
Setelah menyebut nama Aryo Jagad dan mengehentakkan kaki kanan ke tanah 3x, terdengar suara uluk salam,
"Assalamualaikum Tuan."
"Waalaikumsalam Aryo Jagad," jawab Panji,
"Duduklah."
"Apa yang perlu saya kerjakan untuk Tuan," tanya Aryo Jagad.
"Aryo Jagad... Di dalam rumah gubuk ini, ada orang sakit lumpuh," ujar Panji, "Apakah kamu bisa menyembuhkan nya?"
"Itu sangat muda sekali Tuan. Sebentar," kata Aryo Jagad,
"Orang itu sakit akibat uratnya terjepit, jadi dia mengalami bengkak akibat aliran darah putih tidak berfungsi, alias tersumbat. Jalan satu - satunya harus di operasi Tuan."
"Apa gak ada jalan lain selain di operasi," tanya Panji,
"Kamu kan jin sakti, apa gak bisa di sembuhkan dengan kesaktian mu?"
"Bisa Tuan, itu sangat mudah sekali," ujar Aryo Jagad,
"Tuan elus - elus saja kakinya... Saya akan mengobati nya dari belakang Tuan. Saya jamin dalam hitungan menit, orang itu bisa berdiri dan jalan kembali.
Kalau saya yang mengobati... Nanti orang itu akan ketakutan."
"Baiklah, kita tunggu orangnya selesai makan," kata Panji.
"Tuan... Mengapa Tuan selalu bersusah paya menolong banyak orang yang kesusahan," tanya Aryo Jagad.
"Aryo Jagad... Dari kecil, Mama ku mendidik ku agar selalu berbuat baik, dan selalu tolong - menolong pada sesama," ujar Panji,
"Apalagi terhadap orang yang susah.
Jadi... Aku dari kecil sudah terbiasa menolong orang yang susah.
Sopo nandur apik bakal cukul apik
Sopo nandur elek bakal cukul Elek.
( Siapa menamam kabaikan akan menuai kebaikan, Siapa yang menanam keburukan akan berbuah keburukan)
"Kalau ada orang nandur apik tetapi cukulnya jelek itu bagaimana Tuan," tanya Aryo Jagad.
"Berarti orang itu salah menanamnya, tidak di siram air dan tidak di kasih pupuk," jawab Panji,
"Bu... Ema."
"Iya Mas, silahkan masuk saja," jawab Bu Ema.
"Bu Ema... Bolehkah saya mengobati suami ibu," ujar Panji.
"Boleh Mas, silahkan," kata Bu Ema.
Setelah memijit - mijit pelan kaki suami ibu Ema... Tak lama kemudian suami ibu Ema bisa duduk dan bisa berdiri.
"Alhamdulillah... Sudah bisa berdiri, tinggal pemulihan saja Pak," ujar Panji,
"Makan minum yang banyak ya Pak, biar tenaganya pulih kembali. Di dalam tas itu ada uang, pakai saja untuk kebutuhan sehari - hari. Kalau begitu saya mau pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Bu Ema dan suaminya yang masih merasa heran.
Adzan Isak berkumandang, Panji terus melangkah kan kakinya perlahan - lahan. Sementara Aryo Jagad mengikuti Panji di belakangnya.
"Kok kamu gak pulang Aryo," tanya Panji.
"Kan Tuan tidak menyuruh ku pulang ke Alas Blandong... Jadi saya mengikuti Tuan," jawab Aryo Jagad.
Dengan rambut panjang memakai celana hitam dan kaos hitam... Di sepanjang jalan Panji menjadi perhatian banyak orang. Karena merasa risih dan jadi pusat perhatian... Akhirnya Panji melepas celananya, lalu membuangnya di semak - semak.
"Aryo Jagad... Jalan di samping ku sini," perintah Panji.
"Baiklah Tuan."
"Aryo Jagad... Kamu kan Raja jin yang sakti, dan mempunyai jutaan pengikut yang juga sakti - sakti," ujar Panji,
"Kalau boleh tau... Mengapa kamu Tunduk dan patuh kepada ku..?
Aku panggil kapan saja kamu datang.
Mengapa kamu patuh dan setia kepada ku..? Padahal kamu bisa saja ingkar janji kepada ku. Aku juga tidak sakti, kapan saja kamu dengan muda membunuh ku."
"Maaf Tuan... Saya berhutang budi kepada Tuan. Tanpa pertolongan Tuan Panji... Mungkin saya akan terikat dan masih menjalani hukum ribuan tahun," kata Aryo Jagad,
"Saya akan mengalami siksaan yang sangat pedih sekali. Begitu juga dengan istri ku akan mati. Jadi... Sebagai balas budiku, aku akan setia dan patuh terhadap Tuan.
Seperti kata Tuan tadi...
Siapa yang menanam kebaikan, dia akan menuai hasilnya, yaitu kebaikan juga.
__ADS_1
Jadi... Saya tunduk dan patuh juga setia adalah dari hasil kebaikan Tuan sendiri.
Walau Tuan Panji tidak sakti, dan tidak mempunyai ilmu kanuragan... Tuan Panji di lindungi oleh doa beberapa para kyai khos. Tuan Panji juga dalam pengawasan beberapa kyai khos.
Jadi... Secara tidak langsung,Tuan Panji lebih sakti dari pada saya."
"Dari mana kamu tau kalau aku di lindungi doa beberapa kyai khos," tanya Panji heran.
"Kan saya ini bangsa jin Tuan, jadi saya bisa mengetahui apa saja dengan cepat," jawab Aryo Jagad.
"Oh iya... Bagaimana dengan Keadaan bisnis Pak Hong Shi," tanya Panji.
"Beberapa perusahaan di Negara Asia mulai tutup Tuan. Harga saham nya anjlok. Dan Blbeberapa usahanya di wilayah Indonesia mulai goyah, karena kredit macet juga gejolak harga saham," ujar Aryo Jagad,
"Saat ini masih dalam proses pailit alias gulung tikar. Pengaruh kekuasaan nya perlahan - lahan pudar."
"Bagaimana dengan bisnis usaha yang di rintis oleh Aini dan Wilda," tanya Panji.
"Kemungkinan dalam waktu dekat Non Wilda akan menjadi jutawan Tuan, sepertinya Non Wilda sukses dalam bermain Falas dan saham," ujar Aryo Jagad,
"Dalam waktu setahun dua tahun... Wilda akan memiliki usaha sendiri."
"Hahaha, ternyata jin tau juga ya Falas dan saham," ujar Panji tertawa.
"Ya taulah Tuan, bangsa jin itu sering di libatkan sesuatu hal yang buruk dan hal yang baik," kata Aryo Jagad,
"Jika jin itu berteman atau menjadi budak dukun - dukun jahat... Maka jin itu akan berbuat jahat, atas perintah sang dukun.
Jika jin itu berteman dengan orang baik, seperti kyai, atau menjadi perewangan seorang kyai... Maka jin itu akan berbuat kebaikan atas petunjuk dari seorang kyai.
Ada banyak Jin yang terlibat bisnis, seperti di kantor saham, di kantor pemerintahan, di perusahaan dan pedagang kaki lima.
Jadi... Walau bangsa jin itu tidak sekolah, tetapi mengetahui kehidupan manusia, mengetahui apa yang di kerjakan manusia. Karena... Pembisnis itu menganggab jin itu jalan pintas, untuk membantu kerja untuk mencari kekayaan, lewat bantuan dukun atau Kyai Mbeling.
Kayak saya ini... Saya belajar membaca Al qur'an dalam hitungan menit, langsung lancar, bahkan saya bisa hafal Al qur'an dalam hitungan jam. Karena jin itu dari lahir sudah memiliki kesaktian di atas rata - rata manusia. Hanya saja... Kadar kesaktian nya berbeda - beda.
Bahkan ada kyai dari bangsa jin, ada ulama dan wali dari bangsa jin."
"Oh gitu ya," ujar Panji lirih.
"Tuan... Ini sudah tengah malam, kita sudah berada di kabupaten Tasikmalaya," kata Aryo Jagad,
"Apakah Tuan tidak ingin istirahat dulu..? Di depan sana ada sebuah makam seorang wali bernama kyai Badrus Al Fani.
Banyak orang yang berziarah setiap hari, bahkan kalau malam hari gini... Banyak orang yang Tirakat dan Riyadho di makam Mbah wali Badrus."
"Apa kamu pernah ziarah ke makam Mbah wali Badrus," tanya Panji.
"Tidak pernah Tuan, karena saya dulu tidak mempunyai agama, kalau sekarang saya beragama islam dan mau ziarah ke makam wali," ujar Aryo Jagad,
"Tetapi... Aku mempunyai teman baik di wilayah dekat makam itu, jadi... Aku tau keberadaan makam Mbah wali Badrus."
"Aryo Jagad... Mengapa aku bisa melihat mu, tetapi tidak bisa melihat bangsa jin lainnya," tanya Panji,
"Kan Aneh!! Hanya kamulah jin yang bisa aku lihat."
"Karena saya sengaja menampakkan diri kepada Tuan, jadi tuan bisa melihat saya," jawab Aryo Jagad.
"Apa kamu bisa mengajari ku suatu ilmu, agar aku bisa melihat bangsa jin lainnya," tanya Panji.
"Bisa Tuan, itu sangat mudah sekali," ujar Aryo Jagad,
"Silahkan Tuan duduk di bawah pohon ini, saya akan menulis Azimat di telapak tangan kanan dan kiri Tuan."
"Baiklah Aryo Jagad," kata Panji.
Setelah menulis Azimat di telapak tangan kanan dan kiri Panji dengan ujung jarinya... Aryo JAGAD berkata,
"Sudah Tuan, jika Tuan ingin melihat bangsa jin lainnya di mana saja, Tuan usapkan telapak kanan di kedua mata Tuan. Jika Tuan tidak ingin melihat bangsa jin, maka tutuplah dengan cara mengusap kedua mata dengan telapak tangan kiri Tuan.
"Jadi... Telapak tangan kanan untuk membuka atau melihat, telapak kiri untuk menutup, gitu ya," tanya Panji.
"Iya Tuan, benar," ujar Aryo Jagad,
"Silahkan Tuan mencobanya."
"Baiklah, kata Panji kemudian mengusap kedua matanya dengan telapak tangan kanannya.
Sambil terkejut Panji berkata,
"Subhanallah...
Ternyata banyak sekali bangsa jin di sekitar sini. Mari Aryo JAGAD, kita istirahat di makam Mbah wali Badrus."
"Baiklah Tuan, sebentar lagi juga sampai," kata Aryo Jagad.
Setelah melewati perempatan... Panji berjalan menuju area makam. Setelah berada di area makam, Panji duduk istirahat di teras samping warung kopi.
Dengan rambut gondrong dan celana pendek serta kaos oblong... Panji menjadi perhatian beberapa orang ziarah dan beberapa Musafir.
Tak lama kemudian... Pemilik warung datang dengan membawa secangkir kopi dan sepiring nasi soto ayam juga sebotol air aqua,
"Mas... Ini pesanannya."
"Iya Pak trimakasih," jawab Panji,
"Aryo Jagad... Siapa yang membelikan semua ini?"
"Saya Tuan, kan tuan tidak boleh meminta apapun dari orang lain, dan membeli apapun. Jadi... Ini kemauan saya Tuan, saya yang membelikan lewat orang lain," ujar Aryo Jagad.
"Iya ya... Aku barusan minta ilmu kepada mu," kata Panji lirih.
"Aduh... Bagaimana ini, coba aku tanya kepada Syeh Hamdani.
Assalamualaikum Syeh."
"Waalaikumsalam Gus," jawab Syeh Hamdani,
"Yang di maksud itu meminta dan membeli makan dan minuman atau perbekalan apapun di jalan."
"Baiklah Syeh, terimakasih atas petunjuknya," kata Panji, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah mendapat petunjuk tanpa bertanya... Panji senang karena tidak melanggar aturan Tirakat Gendeng level 2.
__ADS_1
Sambil menikmati makan malam... Panji melihat banyak bangsa jin di sekitar area makam. Sambil makan Panji berkata dalam hati,
"Sulit sekali membedakan bangsa jin dan manusia, karena aku baru kali ini melihat bangsa manusia dan bangsa jin secara bersama'an."