SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
SEMBUH 50%


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Tamara berkata,


"Abah... Gus Panji itu kan sakit Amnesia sementara, kita bawah saja ke rumah sakit."


"Penyakit Amnesia itu belum di temukan obat.


Abah sudah menelpon santri - santri Abah yang menjadi dokter.


Kalau dokter bisa mengobati... Dari kemarin - kemarin sudah Abah bawa ke rumah sakit.


Makanya... Gus Panji Abah pijat kan ke tukang pijit ahli urat.


"Kang Nur...


Berhenti di tukang potong rambut itu," kata Tamara


"Baiklah Nyai."


"Siapa yang mau potong rambut," tanya Abah.


"Gus Panji Abah, rambutnya biar rapi.


Kakak Sazuke kemarin motong rambut Gus Panji ngamur, asal saja!


Kan kasihan..?"


Setelah parkir,


"Gus Panji, bangun," ujar Tamara.


Sambil memeganggi kepalanya, Panji berkata,


"Baiklah Tamara."


Mendengar Panji berbicara... Kyai Dimyati dan Tamara terkejut.


"Abah..!!


Gus ptanji bisa bicara dan mengenal nama ku," teriak Tamara,


"Betul kata Mbah Suep tadi,


Gus Panji sembuh 50%."


"Gus... Ayoo potong rambut nya, biar rapi," kata Tamara sambil menarik tangan Panji.


"Baiklah," jawab Panji kemudian masuk dan duduk di kursi tukang potong.


Setelah potong rambut, Panji berjalan keluar dan berdiri di halaman luar, sambil melihat pemandangan lereng Gunung Gede.


"Subhanallah...


Bagus sekali pemandangan lereng gunung itu," ujar Panji lirih.


"Gus Panji tau, gunung apa itu," tanya Tamara.


"Gak tau gunung apa itu."


"Itu Gunung Gede.


Kamu tau siapa aku..?"


"Kamu Tamara."


"Kalau ini siapa..?"


"Itu Abah."


"Kalau yang rambut panjang ini siapa?"


"Kang Nur."


"Kalau kamu siapa namanya?"


"Panji."


"Di mana rumah mu?"


"Gak tau."


"Siapa nama ibuk bapak mu?'


"Gak tau," jawab Panji.


"Haduuuh..!


Mari kita pulang," ajak Tamara.


Tanpa di suruh... Panji masuk ke mobil dan duduk di depan setir mobil.


"Gus Panji bisa mengemudikan mobil," tanya Tamara.


"Bisa," jawab Panji kemudian menghidupkan mesin mobil.


Dengan rasa khawatir, Tamara menatap wajah Abah nya.


"Naiklah," kata kyai Dimyati yang sudah mengetahui kehidupan masa lalu Panji.


"Baiklah Abah."


"Abah... Panji minta rokok," kata Panji sambil mengemudikan mobil.


"Hahahaha..!"


Tamara tertawa terbahak - bahak mendengar permintaan Panji.


"Ini Gus, lirih" ujar kyai Dimyati menjulur kan rokok Danhil.


"Terimakasih Abah," kata Panji sambil mengambil rokok sebatang kemudian menyulutnya.


"Baru kali ini ada orang yang berani minta rokok ke Abah, hahahaha..!


Kakak sazuke saja tidak berani minta," ujar Tamara.


Dengan santai, Panji membelokkan mobilnya ke halaman warung bakso.


"Gus Panji...


Rumahnya lurus, masih agak jauh," sahut Tamara.


"Aku lapar, pingin makan bakso."


"Hahahaha..!


Tamara tertawa terpingkal pingkal,


"Wah wah..! Bisa bangkrut Abah kalau caranya begini."


"Biarkan saja, habis di pijat Mbah Suep, otak Gus Panji mulai bekerja.


Gus Panji masih mengingat - ingat kehidupan masa lalunya.


Gus Panji sering makan di pinggir jalan dan rumah makan mewah," ujar Abah.


Setelah turun dari mobil... Tukang bakso langsung menyapa,


"Assalamualaikum Pak kyai..."


"Waalaikumsalam kang."


"Silahkan masuk Pak Kyai, silahkan duduk."


"Terimakasih kang.


Tumben sepi."


"Barusan pelanggan pada bubar kyai."


"Kang... Aku minta bakso dan minum es jeruk ya," kata Panji.


Setelah tersajikan, Panji makan dengan lahap sekali.


"Abah... Silahkan nambah," kata Panji sambil makan.


"Repot kalau kumpul sama orang Amnesia ini," kata Tamara tersenyum.


"Abah... Aku minta uang nya, buat beli rokok di warung sebelah."


"Ini Gus."


Selesai makan bakso... Panji kembali menyetir mobil hingga sampai di pondok pesantren Shinobi.


Setelah turun dari mobil, Panji duduk di teras rumah kyai sambil menikmati kepulan asap rokok marlboro.


"Maya...


Buatkan kopi ya? Jangan pahit - pahit," kata Panji.


"Nama ku Tamara bukan Maya."


Sambil melihat wajah Tamara... Panji tersenyum.


"Siapa Maya itu..?"


"Dia teman sekolah ku."


"Mbak..!


Buatkan kopi ya, untuk Gus Panji.


"Baiklah Nyai."


"Tamara..."


"Iya Umik..."


"Ini jam nya Gus Panji dan kalungnya.


Kemarin kakak mu memandikan Gus Panji kayaknya di lepasin, dan ketinggalan di kamar mandi dapur."


"Iya Mik," jawab Tamara kemudian mengambil jam dan kalung, lalu kembali duduk di samping Panji.


"Bagus bener jam Rolex ini, berbalut mas putih dan berlian," ujar Tamara sambil melihat jam Rolex,


"Asli..!

__ADS_1


Harga pasaran jam Rolex model gini, kemungkinan kisaran 20 sampai 30 juta.


Hebat sekali Gus Panji ini, bisa beli jam Rolex model gini.


Paling... Dulu banyak uang nya.


Jam ku saja harganya cuma 10 ribu rupiah.


Ini kalung bagus banget..!


Talinya juga sangat bagus. Kelihatannya, terbuat dari serat pilihan.


Gandul kunci nya juga bagus. Kunci berbahan Titanium.


Pasti sangat mahal.


Auuuw..! Ada tulisannya BCH 1925 Indonesia.


Apa yaa..? Maksud tulisan ini.


Bikin penasaran saja.


Coba aku tanya sama temen kuliahku besok.


Lebih baik aku simpan saja kalungnya.


Siapa tau aku dapat petunjuk tentang siapa Gus Panji sebenarnya.


***


Kota Surabaya.


Dua polisi mengetuk rumah Mama Rita Mama nya Panji.


"Iya Pak, selamat sore."


"Apa benar ini rumah Hanan bin Rahmad..?"


"Iya Pak, benar. Saya Mama nya. Ada apa ya Pak..?"


"Maaf Buk, saya dari kepolisian kota, ingin mengabarkan, bahwa putra ibu bernama Hanan telah kami tahan.


Karena, putra ibuk telah terlibat dalam penganiayaan bersama teman - teman sekolah nya.


Karena putra ibu seorang pelajar dan di bawah umur... Maka sifat nya tahanan sementara.


Hanan putra ibu bisa bebas, asal bapak dan ibu harus hadir di kantor polisi."


"Baiklah Pak, sore ini saya dan suami akan ke kantor polisi."


"Kalau begitu kami permisi dulu.


Selamat sore."


"Selamat sore juga Pak."


"Anak gak tau di untung..!" gumam Mama Rita,


"Dulu Panji, sekarang Hanan adik nya.


Lagian ngapain... Tinggal di pondok pesantren pake tawuran itu!"


"Ada apa Ma..?"


"Hanan, Anak mu di tangkap polisi. Dia terlibat tawuran dan penganiayaan."


"Bagus tuh Ma, nama nya juga laki - laki...


Hitung - hitung latihan."


"Diam..!!!


Kamu itu Pa, dari dulu gak pernah mau tau urusan anak.


Sekarang ganti baju, kita ke kantor polisi."


"Iya bawel."


*


Setelah menjemput Hanan dan sudah ada di rumah... Mama Rita berkata,


"Kok bisa bisanya... Kamu tinggal di pesantren kok tawuran!


Apa itu yang di ajarkan kyai mu..?"


"Mereka Ma yang salah. Aku dan teman - teman pulang sekolah mampir ke warung beli es. Tiba - tiba ada anak kampung mabuk, mukul teman ku.


Karena dia berdua... Yaa akhirnya aku tawur lah Ma. Kami keroyok hingga mereka KO," ujar Hanan.


"Kan Mama sudah bilang... Ngaji yang bener yang pinter. Sekolah yang baik,


jangan pernah ikut - ikutan teman - teman mu tawuran.


Sekarang... Kan kasihan kyai mu, nama pondok nya jadi buruk di masyarakat, gara - gara ulah mu.


Terpaksa Mama dan apapa besok menghadap kyai mu.


Mama mau minta maaf.


Mama masukkan pesantren biar jadi anak baik - baik, malah tawuran.


Apa kamu mau niru Panji kakak mu itu ha..!


Bikin pusing orang tua saja!


Kamu ini sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi ujian.


Kamu pindah saja ke pesantren nya Pak Dhe mu, di kabupaten Nganjuk.


Nanti Papa mu yang ngantar.


Punya anak lelaki dua, sama saja nakal nya.


Mau jadi apa kamu besok..!"


"Sudah lah Ma, biar Hanan istirahat dulu.


Besok kita antar ke Nganjuk, biar Pak Dhe nya yang mendidik nya ngaji."


***


Makam Kyai Jabat.


Kring..!


Hp Panji berdering. Sambil memejamkan mata, Maya mengangkat Hp.


setelah terhubung.


"Panji, dimana kamu..?"


"Mama..?"


"Eeh, kamu Maya. Suami mu di mana, kok kamu yang angkat hp nya?"


"Kak Panji lagi keluar Ma, Hp nya ketinggalan," jawab Maya berbohong.


"Nanti kalau sudah datang, Panji suruh pulang sebentar ya Maya."


"Kami berada di Jakarta Ma, lagi ada urusan."


"Oh iya iya...


Kalau begitu nanti Panji suami mu suruh telpon Mama ya, Mama pingin curhat masalah Hanan."


"Iya Ma," jawab Maya kemudian menutup telponnya.


"Gawat..!


Bagaimana kalau Mama Rita tau kak Panji hilang.


Aduuuuuh...!


Sudah jam 5 sore, lebih baik aku mandi lalu ikut tahlilan di makam Mbah Dirjo."


***


Pondok pesantren Shinobi.


Sehabis solat maghrib... Panji sedang asik menikmati kopi dan kepulan asap rokok di teras rumah sandirian.


Tiba - tiba...


Gus Sazuke dengan mengenakan celana pendek dan topi, berjalan ke garasi mobil.


"Siapa itu ya..? Yang berjalan di garasi mobil," gumam Panji lirih,


"Jangan jangan... Dia maling mobil.


Lebih baik aku pukul saja biar kapok maling nya," kata Panji sambil berjalan mengendap - endap.


Begitu melihat Sazuke naik mobil hendak menyalahkan mesin...


Praaak..! Praaak!


"Pergi..!" bentak Panji,


"Sore sore mau maling mobil."


"Aduh aduh..!


Kurang ajar kamu Panji..!


Sakit goblok.


Ini aku, Sazuke."


"Gak perduli kamu Sazuke Suzuki atau Sakura, Sakina," bentak Panji.


"Pergi atau aku pukul lagi kamu mu," ujar Panji sambil ancang - ancang.


"Kurang ajar, dasar gila," kata Gus Sazuke kemudian menonjok Panji.


Terkena tonjokkan... Panji ganti membalas menonjok Sazuke.

__ADS_1


Panji dan Sazuke berkelahi hingga bergeser ke pohon pisang di belakang garasi yang tak bertembok.


Gus Sazuke yang terdesak... Mengambil kayu yang di jemur untuk kayu bakar.


Praaak! Praaak!


Dengan cepat Gus Sazuke memukulkan ujung kayu bakar di atas kepalanya Panji sebanyak 2x dengan agak keras.


Tanpa ampun... Panji langsung roboh sambil memeganggi kepalanya, kemudian pingsan.


Melihat banyak darah mancur dari kepala dan menetes di baju... Dengan cepat Gus Sazuke mengotong Panji masuk ke dalam mobil, dan meletakkan di jok tengah.


Setelah itu, Sazuke menyalakan mesin mobil lalu dengan cepat melajukan mobilnya ke klinik terdekat.


"Haduuuuh..!


Ada - ada saja Gus Panji ini, jadi kacau acara ku malam ini.


Rencana ke cafe jadi ke klinik. Untung Abah dan Umik tidak tau, kalau sampai tau... Bisa marah besar nieh."


Setelah memarkir mobilnya... Sazuke buru - buru turun dari mobil.


"Pak satpam, cepat bantu aku membawa pasien ke dalam UGD. Orang ini habis jatuh dari lantai 10 kayaknya."


Sambil membawa Hospital Bet tempat tidur pasien... Pak satpam mengangkat Panji yang masih pingsan.


Dengan cepat Pak satpam mendorong Hospital Bet, lalu di bawah masuk kamar UGD.


Setelah keluar ruang UGD, Pak satpam kembali ke pintu utama.


Beberapa saat setelah merawat Panji...


Seorang dokter berkata,


"Mas Sazuke... Silahkan masuk."


"Baiklah dokter.


Bagaimana keadaan saudara saya Dok..?"


"Saudara anda mengalami dua luka lumayan parah, dan kedua luka sobek di kepalanya harus di jahit."


"Kira - kira kena apa Dok kok bisa kepalanya luka parah..?"


"Sepertinya tertimpa benda keras Mas, bisa jadi akibat pukulan benda keras."


"Apa bisa di bawah pulang sekarang?"


"Saudara anda harus rawat inap 3 sampai 4 hari, dan


Menunggu lukanya kering juga menunggu hasil rosngsen.


Karena... Di khawatirkan akan ada luka dalam di bagian urat otak, yang bisa menimbulkan Amnesia."


"Baiklah dokter.


Tetapi... Apakah dia tidur sekarang?"


"Iya tmas, karena efek dari obat bius.


Habis ini akan di pindahkan ke kamar umum."


"Baiklah Dok, terimakasih atas penjelasan nya.


Saya permisi dulu kalau begitu."


Sazuke pun pergi meninggal kan klinik untuk mengambil uang di ATM.


***


Kota Serang Banten.


Selesai tahlil di musholla almarhum Mbah Dirjo... Para tamu dan para santri menikmati hidangan.


Sementara Maya duduk termenung di samping makam Mbah Dirjo.


Sambil meneteskan air mata, Maya berkata lirih,


"Kadang... Harapan tak seindah kenyataan.


Robby...


Berilah setapak jalan untuk menuju istana cinta Mu, agar aku tak tersesat di jalan Mu."


Setelah menghapus air matanya... Maya melangkah menuju mobilnya yang terparkir di Hotel Atlanta.


Ketika berjalan menuju hotel, Maya teringat akan makam Kyai Jabat.


"Bukankah dulu, aku pernah di perintahkan suami ku untuk ke makam Kyai Jabat gurunya..?


Mengapa aku baru ingat kalau kyai Jabat itu gurunya suamiku.


Aku juga pernah ke pondok Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi di Banten.


Lebih baik, malam ini aku ke makam Kyai Jabat, mumpung jam 7 malam."


Setelah berada di Hotel Atlanta,


"Nona Altar Mila... Kemana sopirnya?"


"Lagi ngopi di warung gerobak depan hotel Nyonya."


"Kamu panggil ya."


xBaiklah Nyonya," jawab asisten Altar Mila kemudian beranjak.


Tak lama kemudian.


"Iya Nyonya..."


"Mang... Kita ke Serang Banten sekarang."


"Baiklah Nyonya," jawab Mang sopir kemudian masuk mobil.


Dalam perjalanan... Suasana di dalam mobil sangat hening.


"Mang... Berhenti di restoran ya.


Kita makan malam dulu.x


"Baiklah Nyonya," jawab Mang sopir, tak lama kemudian menepikan mobilnya di sebuah halaman parkir restoran mewah.


Selesai makan malam... Mang sopir kembali melajukan mobil BMW milik organisasi.


"Mang sopir... Buka sedikit cendelanya," ujar Maya kemudian menyulut rokok sampurna mild,


"Ini rokok jie sam sue kesukaan Mang sopir. Merokok saja Mang, jangan sungkan - sungkan ya..?


Biar gak ngantuk."


"Baiklah Nyonya, Terimakasih."


"Mila gak merokok..?"


"Tidak Nyonya."


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam... Jam 10 malam mobil BMW pun memasuki halaman parkir makam Kyai Jabat.


"Mila... Mang sopir, kalian tunggu di sini ya.


Aku akan ke makam dulu.


Di jok belakang ada camilan dan juga minuman."


"Baiklah Nyonya."


"Assalamualaikum yaa Kyai Jabat," sapa Maya yang berdiri di pintu masuk makam.


Setelah duduk di depan makam kyai Jabat yang remang - remang... Maya bertawasul, setelah itu maya berdzikir.


Setelah berdzikir kurang lebih satu jam, tiba - tiba makam terbelah menjadi dua. Cahaya terang menyeruak dari dalam makam.


Seorang tua bersorban putih berjalan mendekati Maya, lalu berdiri di depan Maya yang lagi duduk.


"Anakku...


Berdirilah," ujar kyai Jabat kemudian memeluk kyai Maya yang berdiri.


"Anakku...


Pulang lah ke Surabaya, banyak orang yang yang membutuhkan cinta dan kasih sayang mu.


Disanalah tempat kebahagiaan mu.


Suami mu kini masih mejalani proses takdirnya.


Jika selesai... Suami mu pasti menemui mu."


"Baiklah kyai.


Maya mohon barokah doa dan ridhonya.*


"Doa dan ridho ku selalu bersama kalian.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab Maya kemudian melihat makam menjadi remang - remang kembali.


Tak lama kemudian,


"Mang sopir, mari kita kembali ke Jakarta."


"Baiklah Nyonya," jawab Mamang kemudian melajukan mobil BMW.


"Mang... Kamu kan, dulu sopirnya Nona Wilda."


"Iya Nyonya."


"Besok kamu aku tugaskan untuk menjadi sopir Nona Leni sekretaris Jialing Group."


"Baiklah Nyonya."


"Tolong Mang, kamu putarkan lagu just for you, ini kasetnya."


Sambil mendengar musik, Maya meneteskan air matanya mengenang cerita cintanya dengan Panji suami.

__ADS_1


__ADS_2