
Pagi itu Panji berjalan menelusuri pantai, akhirnya Panji melihat sebuah musholla kecil.
Setelah uluk salam dan berbincang - bincang dengan beberapa musafir, lalu Panji istirahat merebahkan badan di teras musholla.
*
Di kediaman Ibunda Panji.
Jam 9 pagi... Pesawat Garuda lending di Bandara Juanda.
Setelah turun dari pesawat, dengan menumpang taxi, Maya meluncur ke rumah Panji.
Setelah berada di halaman rumah ibu Rita,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, eeh Nak Maya, ayo masuk," ajak Mamanya Panji.
Setelah duduk, Maya berkata,
"Mama... Maya minta maaf atas perceraian Maya dengan Mas Panji.
Maya mengaku salah Ma... Maya menuruti emosi.
sekali lagi... Maya minta maaf sama Mama dan Papa."
"Maya... Mama selalu memaafkan kalian berdua.
Mama tidak menyalahkan mu Maya. Karena... Kalian menikah terlalu muda. Pikiran kalian belum dewasa.
Kalau kalian masih saling mencintai... Yaa menikah lagi saja. Kan mudah, gak usah di ambil pusing."
"Iya Ma."
"Kemana Panji..? Apa kamu sudah bertemu Panji?"
"Sudah Ma, tadi malam.
Kak Panji sedang berada di pesantren di kabupaten Lebak Banten. Dia sepertinya mau mendalami ilmu agama."
"Ya... Nanti kalau Panji pulang... Biar Mama bicara dengan Panji."
Setelah berbincang - bincang panjang lebar, Maya akhirnya pamit pulang.
*
Di kediaman Pak Dedik.
Taxi berhenti di perumahan Darmo Satelit, setelah turun dari taxi... Maya berdiri di depan pintu gerbang, dan melihat kedua orang tuanya duduk santai di teras,
"Selamat siang Pa... Ma..."
"Eehh Maya, masuk saja, pintunya tidak di kunci."
"Bagaimana Pa keadaannya..?"
"Sudah sehat Maya, tinggal pemulihan saja."
"Maya... Kamu dari mana, kok sendirian saja?"
"Dari rumah mertua ku Ma."
"Apa kamu jadi bercerai dengan Panji suami mu..?"
"Iya Ma, tetapi... Aku ingin rujuk kembali.
Maya masih sangat mencintai kak Panji Ma."
"Ngapain juga rujuk kembali sama Panji," sahut Papanya,
"Apa gak ada lelaki lain..?"
"Papa... Kenapa sih kok benci amat sama kak Panji.
Jangan - jangan... Papa bangkrut gara - gara membuat hati kak Panji marah ya..?
Apa Papa ingin bangkrut dan jatuh miskin lagi kaya kemarin..?
Kalau bukan kebaikan kak Panji... Tidak mungkin Papa tinggal d rumah ini lagi.
Gak kapok juga!"
Mendengar kata - kata Maya... Papanya jadi ciut dan takut.
"Maya peringatkan sekali lagi, jangan coba - coba Papa menghina kak Panji lagi.
Kalau kak Panji marah... Sekali telpon, bisa bangkrut Papa.
Banyak pengusaha - pengusaha besar pada hormat dan takut sama kak Panji, apalagi Papa yang pabriknya kecil.
Maya balik ke Jakarta dulu Ma, Pa."
"Apa kamu gak istirahat dulu di rumah sini..?"
"Tidak ama, Maya masih banyak urusan Ma.
Setelah ujian... Maya akan tinggal di Surabaya saja."
*
Jakarta.
Dua Mobil BMW memasuki halaman cafe Exiz.
Sekretaris Iwan keluar mobil dengan Josep dan Kim, dengan beberapa anggota inti The Bluss. Lalu berjalan masuk cafe menemui Mikel.
"Ada apa kamu menemui ku," tanya Mikel yang di kawal oleh anggota inti The Dragon.
"Aku membawa pesan dari Godfather ketua kami.
Kami ingin berdamai dengan keluarga Markus dan kelompok organisasi The Dragon."
"Baiklah, pesan perdamaian kami terima."
"Saya harap, kelompok mu jangan pernah mengusik semua bisnis yang di kendalikan oleh organisasi The Bluss.
Jika kalian masih mengusik... Maka aku tidak segan - segan untuk memusnahkan keluarga Markus hingga anak keturunan nya.
Aku juga tidak segan - segan membantai semua anggota The Dragon di wilayah seluruh Asia," ujar sekretaris Iwan.
"Baiklah, begitu juga dengan kelompok kalian, jangan mengusik keluarga Markus dan organisasi The Dragon," jawab Mikel.
Setelah berjabat tangan... Kelompok organisasi The Bluss dan kelompok organisasi The Dragon membubarkan diri.
Sementara... Direktur Linda yang mengelola perusahaan milik Panji sedang berada di perusahaan anak cabang PT Hening di Jogjakarta, dan hendak bepergian ke kota Mataram untuk membuka anak cabang baru.
Di bawah kepemimpinan Direktur Linda... PT Hening Elektronik mengalami perkembangan pesat.
***
Makam Kyai Jabat.
Sore jam 4, setelah keluar dari Bandara, Maya langsung menuju ke Desa Pelamun Serang Banten.
__ADS_1
Setelah mobil BMW parkir di bawah pohon, Maya berjalan menuju makam.
"Assalamualaikum Ya kyai Jabat," sapa Maya.
Setelah duduk di depan makam, Maya mengeluarkan tasbih kayu abadi lalu bertawasul.
Perlahan Maya melantunkan dzikir ismudzat yang di ajari Panji, sambil memutar tasbih kayu abadi pelan - pelan.
Senja mulai gelap, Adzan Magrib terdengar berkumandang, namun Maya tetap duduk tak bergeming di depan makam.
Sementara Panji yang sedang melaksanakan solat Magrib berjamaah di musholla Gua k
Kucing Probolinggo... Mendengar dentingan tasbih yang menggema.
Setelah solat... Panji melantunkan dzikir sambil menerawang asal usul dentingan suara yang menggema.
"Ternyata suara itu berasal dari benturan tasbih kayu abadi.
Tasbih itu adalah Mas kawin hadiah dari Nyai Sa'adah.
Ternyata... Maya sedang berada di makam Kyai Jabat.
Maya benar - benar telah menyesal dan tersiksa atas perbuatan nya sendiri," ujar Panji dalam hati.
Waktu terus berlalu, dan malam semakin pekat. Tak terasa sudah jam 12 malam.
Maya sudah 6 jam duduk menghadap makam sambil berdzikir.
Tiba - tiba... Makam terbelah dan mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Melihat kejadian aneh... Maya tidak takut dan tidak terkejut, karena Maya sering mengalami kejadian aneh ketika bersama Panji.
Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah duduk di depan Maya yang masih duduk sambil berdzikir.
"Bangunlah Nak," ujar Kyai Jabat,
"Aku dan Nyai Sa'adah telah memaafkan mu."
"Nyai... Pulang lah,"ujar Nyai Sa'adah kemudian jari telunjuk Nyai Sa'adah menyentuh kening Maya. Begitu ujung jari nyai Sa'adah menyentuh kening Maya... Seberkas cahaya masuk kedalam tubuh Maya.
"Pulanglah Nyai, jangan bersedih lagi. semoga cinta mu abadi bersama Gus panji.
Aku selalu merestui hubungan kalian," kata Nyai Sa'adah.
"Baiklah Nek."
Setelah sungkem mencium tangan Kyai Jabat dan Nyai Sa'adah...Maya pun uluk salam,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Nyai..."
Setelah melihat makam kyai Jabat tertutup kembali... Maya pun berjalan menuju mobil nya,
"Pak... Lama ya..?"
"Tidak apa - apa Nyonya."
"Sekarang kita kembali ke Jakarta ya Pak, kita cari rumah makan dulu."
"Baiklah Nyonya."
Sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok...Panji tersenyum melihat Maya yang pergi keluar dari makam Kyai Jabat,
"Hemmm... Sebesar apapun kesalahan mu...
Aku tetap memaafkan mu, asal jangan mendua."
****
Sambil menikmati kepulan asap rokok, Panji istirahat di bebatuan di tepi pantai.
Tiba - tiba Panji melihat sosok cahaya putih yang mendekati dirinya.
"Assalamualaikum Gus..."
Melihat ruh Syeh Abdul Jalil guru Mursyid nya... Panji berdiri lalu menjawab salam sambil membungkukkan badannya,
"Waalaikumsalam Syeh..."
"Gus... Mulai besok malam, kamu harus melakukan suluk khusus. Kamu lakukan solat 51 rokaat.
Pertama kamu mandi tobat jam 12 malam. Setelah itu... Kamu solat Tobat 4 rokaat 2x salam, solat hajat 4 rokaat 2x salam, solat Tahajjud 4 rokaat 2x salam, lalu solat takwa 4 rokaat 2x salam dan solat Tasbih.
Sisanya solat Mutlak dan di akhiri dengan solat witir 1 rokaat," perintah Syeh Abdul Jalil,
"Setelah solat... (hatamkan Dzikir Munajat 70, ribu kali, dan di tutup dengan doa Sapu Jagad.
Lakukanlah selama 100 hari."
"Baiklah Syeh."
"Kalau begitu... Aku pergi dulu. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Sambil menikmati kepulan asap rokok, Panji menghubungi Syeh Hamdani,
"Assalamualaikum Syeh..."
"Waalaikumsalam Gus..."
"Syeh... Apa maksudnya menghatamkan Dzikir Munajat 70 ribu kali itu.
Dan bagaimana caranya..?"
"Dzikir Munajat itu adalah Laailahaillah, yang artinya dzikir pengakuan seorang hamba atas Tuhannya.
sopo pengeran iku sopo aku iki.
"Siapa Tuhan ku siapa diriku"
Di dunia ini... Semua itu ada ukurannya dan hitungannya juga ada batasan nya.
Baik itu makan minum, umur dan lain lainnya.
Begitu juga dengan orang wirid atau Dzikir.
Khatamnya dzikir Munajat itu 70 ribu kali sekali duduk," ujar Syeh Hamdani,
"Setiap salik torekot... Itu wajib hukumnya melakukan ritual suluk khusus.
Salah satu suluk khusus itu adalah menghantam kan Dzikir Munajat 70 ribu kali dengan waktu yang di tentukan oleh guru Mursyid nya."
$Apakah setiap salik itu sanggup menghatamkan Dzikir 70 ribu..?
Jumlah yang banyak dengan waktu hanya 3 jamman," tanya Panji.
"Banyak salik yang tidak sanggup Gus, apalagi salik - salik yang baru.
Mereka bisa menghatamkan Dzikir itu jika di imami oleh guru Mursyid nya."
"Lalu... Bagaimana Syeh caranya agar aku bisa menghatamkan Dzikir 70 ribu dalam waktu 3 jam..?"
"Kalau untuk ukuran mu Gus... Itu mudah sekali. Kamu ajak anggota badan mu untuk melantunkan Dzikir Munajat.
__ADS_1
Baik itu bulu, rambut mata hidung, tangan dan kaki.
Jika seluruh anggota tubuh mu ikut melantunkan Dzikir... Maka kamu bisa mengkhatamkan dzikir dalam waktu yang singkat."
"Baiklah Syeh... Terimakasih atas petunjuk nya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ketika Panji hendak berdiri dan balik ke mushollah... 0anji melihat cahaya terang di arah utara Pulau Gili.
Setelah menerawang... Panji berkata lirih,
"Ternyata cahaya itu berasal dari masjid Tiban pinggiran kota Probolinggo.
Tempatnya sepi, airnya juga melimpah.
Lebih baik besok pagi aku pergi ke sana.
Di sana kayaknya enak kalau buat solat malam dan dzikir malam."
*
Pelabuhan kota.
jam 7 pagi... Panji menaiki perahu penyeberangan menuju pelabuhan kota.
Setelah sampai di pelabuhan, Panji menikmati sarapan nasi pecel dan secangkir kopi.
Tiba - tiba seorang setengah tua memarkirkan becak di depan warung, lalu bapak itu masuk warung dan memesan kopi.
"Bapak tukang becak ya," tanya Panji
"Iya Mas."
"Kalau Masjid Tiban itu jauh gak Pak dari sini..?"
"Lumayan jauh Mas kalau naik becak, kira - kira setengah jam-man lah.
Kalau naik ojek mungkin 10 menit sampai."
"Kalau Bank Asia jauh gak Pak..?"
"Bank Asia berada di kota Mas."
"Bapak mau ngantar saya ke Bank Asia lalu ke Masjid tiban..?"
"Mau Mas, tetapi lama loh ya?"
"Iya gak apa - apa Pak, sambil jalan - jalan biar tau kota Probolinggo.
Berapa Pak ongkosnya..?"
"10 ribu Mas nya mau..?x
"Iya Pak, gak apa - apa.
Bapak ngopi dulu ya... Setelah ngopi kita berangkat."
Setelah ngopi... Pak Solikin mengantarkan Panji ke Bank Asia.
Pak Solihin menunggu Panji di depan bank, sementara Panji masuk ke dalam Bank.
Melihat pakaian Panji yang lusuh dan kotor... Satpam Bank bertanya,
"Mas ada keperluan apa..?"
"Mau ambil uang Pak," jawab Panji.
"Kalau ambil uang di ATM saja Mas, di luar depan sana."
"Kartu ATM saya rusak Pak, saya sekalian ngurus ATM."
"Kalau begitu... Mas antri di sana ya?x
"Pak... Saya mau ke ruang bisnis saja, biar cepat tidak antri.x
"Hahahaha..! Mas ini bercanda saja.
Emang Mas mau ambil uang berapa..?"
"Ambil 100 ribu Pak."
"Kalau ambil 100 ribu ya antri di sana saja, ya..?
Ruang bisnis lagi sibuk Mas, gak melayani penarikan uang dalam jumlah kecil.
Itu khusus untuk para pebisnis."
"Bener nih Pak gak boleh ke ruang bisnis..?"
"Kamu di bilangin masih saja ngeyel, ayo pergi sana," bentak salah satu satpam.
Merasa kesel di bentak oleh seorang satpam... Panji mengambil kertas silp pengambilan uang, lalu menulis pengambilan uang 100 Milyar.
Setelah antri hampir 1 jam... Panji menyodorkan kertas slip pengambilan dan buku tabungan Bank Asia.
Begitu membaca nominal pengambilan uang sebesar 100 Milyar... Mbak Tealer itu langsung gagap dan sangat terkejut sekali.
Sambil menatap Panji seperti gelandangan... Tealer itu berkata,
"Mas... Mas... Ini beneran mau ambil uang 100 Milyar..?"
"Tulisannya berapa itu Mbak," tanya Panji.
"100 Milyar Mas."
"Lah kan tau jumlahnya 100 Milyar, kok masih tanya."
"Tetapi... Tetapi...
Baiklah baiklah Mas, saya akan bicara dulu sama meneger nya ya, karena, kami harus menyiapkan dulu uangnya."
"Baiklah Mbak, aku tunggu."
Dengan tergopoh-gopoh Mbak bagian teler menemui meneger cabang Probolinggo.
"Selamat pagi Pak meneger...
Ini ada pemuda mau menarik uang sebesar 100 Milyar, bagaimana ini..?x
"Apa..! Menarik uang chas 100 Milyar..?
Tidak bisa, di sini hanya ada uang cash 50 Milyar."
"Kalau tidak bisa... Nanti nasabah tidak percaya lagi sama Bank Asia Pak.
Ini masalah reputasi bank.
Sebaiknya bapak bicarakan dulu sama Pak Panji."
"Baiklah."
~ bersambung
__ADS_1