
Kring..!
Hp Mila berdering.
Setelah tersambung,
"Mila... Kamu pergi ke rumah sakit Harapan.
Kamu bayar administrasi atas nama Desi. Habis ini aku SMS alamat kamarnya. Carikan mobil rental, dan beri uang ke Desi sebesar 1 juta."
"Baiklah Godfather."
*
"Mas Panji... Jam 10 kirim ke alamat ini ya? Tetapi, Mas Panji sendirian. Hanya mengirim 2 kompor dan tabung 70 kilo 1 buah."
"Baiklah Pak."
Tak lama kemudian,
Setelah menanyakan alamat pelanggan, sampailah Panji di depan ruang mewah.
Setelah memencet bel, seorang pembantu yang berwajah manis membukakan pintu,
"Silahkan masuk Mas."
"Iya Mbak," jawab Panji kemudian memasuk kan mobil.
Setelah itu memarkirkan mobil di halaman rumah.
"Bawa ke dapur ya Kang."
"Iya Mbak," jawab Panji kemudian mengangkat kompor ke dapur.
Ketika berada di dapur... Panji merasakan aura jahat yang ada di rumah mewah ini.
Ketika mengambil tabung gas di mobil, sambil berjalan Panji menerawang keadaan rumah.
Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata lirih,
"Ternyata rumah ini di huni oleh jin ifrit yang sangat jahat. Jin ini adalah utusan dari seorang dukun teluh.
Dua putri pemilik rumah ini sedang sakit akibat guna - guna."
Setelah meletakkan tabung gas, Panji berjalan ke depan hendak kembali ke toko Elektronik 77.
Tiba - tiba seorang ibu muda yang cantik memanggil,
"Mas... Ini uang tips buat beli rokok."
"Terimakasih Buk."
"Iya Mas, sama - sama.
Apa ibuk ini pemilik rumah ini..?"
"Benar Mas. Kenapa Mas..?"
"Buk, bolehkah saya bertanya sesuatu..?"
"Boleh, boleh. Silahkan."
"Apakah ibu berasal dari pulau Sumatra..?
Apakah ibu berasal dari kecamatan Kisaran Medan..?"
"Iya Mas, benar. Kok mas nya tau," kata ibu muda keheranan.
"Apakah anak ibu sekarang menderita sakit lumpuh, dan maaf, akalnya kurang normal..?"
"Loh..! Kok Mas nya tau semua..?"
"Iya Buk, saya tau karena ada aura jahat di rumah ibuk yang mewah ini," kata Panji.
"Maksudnya aura jahat bagaimana Mas..? Saya tidak faham."
"Ibu boleh percaya boleh tidak.
Saya hanya menyampaikan saja, karena saya kasihan kepada anak ibu dan juga kasihan kepada ibuk dan suami ibuk.
Anak ibuk, terkena guna - guna seorang dukun dari pedalaman Sumatera."
"Mas ini siapa namanya..?"
"Saya Panji Buk."
"Saya ibu Kulsum. Mas Panji silahkan duduk dulu. Ibu ingin ngobrol sejenak sama Mas Panji."
"Maaf Buk... Saya lagi kerja. Nanti kalau telat kembali, saya di marahi bos."
"Kalau begitu, nanti jam pulang kerja, ibuk dan suami akan berkunjung ke rumah Mas Panji ya..?
Ibuk penasaran dan ingin ngobrol sama Mas Panji."
"Baiklah Buk, saya tinggal di Apartemen Intan lantai 7 no 99.
Saya pulang kerja jam 4 sore Buk."
"Iya Mas Panji, saya tau. Itu Apartemen mewah penghuni para pengusaha."
"Kalau begitu... Saya pamit dulu, selamat siang."
"Selamat siang juga Mas."
Net Plaza.
Siang itu... Devi mengawasi pekerja yang sedang mengecat ulang dinding dan mendekorasi cafe baru.
Sementara... Bela yang tadinya ingin santai di apartemen, tiba - tiba ingin membeli meja kursi untuk restoran
Jam setengah 5 sore, Panji masuk ke Apartemen nya, dan mendapati Mila asistennya sedang membaca Al qur'an,
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Mila kemudian menghentikan bacaan nya.
"Teruskan baca qur'annya, aku mau mandi kok."
"Sudah Tuan, sudah dari tadi juga bacanya.
Aku buatkan kopi ya?"
"Boleh, silahkan."
Setelah mandi,
"Ini Tuan, kopi nya."
"Aku solat dulu ya?"
Ting tung..!
Setelah membuka pintu, Ibuk Kulsum dan suaminya berkata,
"Selamat sore...
Mas Panji nya ada..?"
"Ada Buk, silahkan masuk."
"Baiklah terimakasih."
"Silahkan duduk di ruang balkon, barangkali Bapak mau merokok.
Sebentar ya? Saya buatkan kopi.
Tuan Panji masih solat."
Sambil menunggu, Ibuk Kulsum berkata,
"Ini orang pekerjaannya ngantar barang toko Elektronik 77, tetapi, tempat tinggalnya di Apartemen mewah. Kursi ini saja harganya sekitar 20 juta. Barang - barangnya bagus dan pilihan yang istimewa.
Aneh..!"
"Selamat sore Ibu Kulsum, Bapak Kulsum," sapa Panji.
"Sore juga Mas Panji, kenalkan ini suami saya, Hermansyah. Panggil saja Herman."
"Saya Panji Pak Herman."
"Iya Mas, tadi istri saya sudah cerita."
"Ini Tuan kopinya."
"Mari Pak, di minum kopinya. Ibuk, silahkan teh nya."
"Begini Mas Panji...
Bagaimana Mas Panji bisa menyimpulkan kalau anak saya kena guna - guna dari pedalaman Sumatra," tanya pak Herman.
Setelah menyulut rokok... Panji berkata,
"Begini Pak Herman, kesimpulan saya itu berdasarkan apa yang saya lihat dan yang saya rasakan.
Di rumah Pak Herman, ada jin bernama ifrit.
Jin ifrit ini, adalah kiriman seorang dukun dari pedalaman Sumatera.
Guna - guna ini, bernama Buhul Cacing Abin.
Kerja guna guna Buhul Cacing Abin ini, jin ifrit ini masuk ke dalam tubuh, kemudian, jin ifrit ini merubah wujudnya menjadi cacing.
Lalu, pelan - pelan cacing jin ini merusak urat saraf di otak, hingga orang itu akan menjadi lupa ingatan, atau Abnormal, atau gila.
Kemudian... Cacing jin itu merusak urat saraf pada kaki, hingga akhirnya orang itu lumpuh, lalu, beberapa tahun kemudian, setelah tersiksa dan menderita, orang itu akan mati."
"Lalu... Mengapa dukun itu berbuat jahat pada kami Mas," kata ibu Kulsum,
"Hingga dia menguna - guna anak - anak saya?"
"Benar Ibu pinggin tau..?
Gak menyesal setelah aku beri tau..?"
"Bener Mas, gak, gak menyesal saya."
"Baiklah.
Awalnya... Dulu sewaktu Ibuk masih sekolah SMA, Ibuk mempunyai seorang kekasih, seorang lelaki miskin dan pendiam.
Tidak aku sebut namanya. Dia anak seorang buruh di perkebunan kelapa sawit.
Ibu kulsum menjalin hubungan asmara dengan lelaki itu selama 3 tahun, dari kelas 1 hingga kelas 3.
Apa benar Buk..?"
Dengan sangat terkejut sekali... Ibuk Kulsum menganggukkan kepadanya, dan berkata,
"Benar Mas."
"Ketika Ibu hendak berangkat kuliah ke Bandung, Ibuk telah memberikan harapan yang indah, dengan sebuah janji manis.
__ADS_1
Janji hidup bersama dalam suka dan duka.
Tahukah Ibuk..?
Akibat dari janji palsu itu,
Kekasih Ibuk dengan setia menunggu kedatangan Ibuk pulang ke kampung halaman. Dengan harapan berjumpa dengan Ibuk, orang yang di cintai nya. Harapan masa depan yang indah dan bahagia, yaitu melamar Ibu agar bisa hidup bersama dalam suka duka.
Tetapi... Kenyataannya, Ibuk ingkar janji, dan menikah dengan Pak Herman.
Ibu hidup mewah dan bahagia. Tetapi, mantan kekasih ibu hidup menderita akibat janji palsu.
Sampai saat ini... Kekasih Ibu masih membujang, hidup sendiri dan masih menunggu kedatangan Ibuk orang yang di cintainya.
Mengapa mantan kekasih ibu melakukan semua itu..? Karena dia juga berjanji akan setia menunggu ke dagangan Ibuk.
Bagaimana Buk..?
Apa benar yang aku katakan..?"
Sambil meneteskan air mata... Ibuk Kulsum terbata - bata berkata lirih,
"Benar Mas Panji..."
"Mendengar kabar kalau ibuk sudah menikah dan ingkar janji... Mantan Kekasih Ibuk itu sangat marah hingga menaruh dendam.
Lalu... Dia pergi ke pedalaman Sumatera untuk menemui seorang dukun sakti, untuk melakukan balas dendam atas sakit hatinya.
Tujuannya... Dia ingin Ibuk merasakan penderitaan seperti yang dialaminya.
Dia ingin menyiksa Ibuk dengan cara meyakiti anak - anak Ibuk, hingga Ibu dan Pak herman bingung dan menderita."
"Lalu... Bagaimana solusinya agar kedua putri saya sembuh mas Panji," tanya Pak Herman,
"Kami sudah berobat ke dokter, ke dukun, dan kyai. Tetapi putri kami tak kunjung sembuh."
"Bisa sembuh Pak herman, tetapi sangat sulit sekali."
"Tolonglah kami Mas Panji, berapapun akan kami bayar," jawab Pak Herman,
"100 Milyar pun akan saya bayar!"
"Hahahaha,"
Panji tertawa pelan,
"Pak Herman... Tidak semua kebahagiaan itu bisa di beli dengan uang.
Anda tau kenapa aku kerja menjadi tukang antar barang..?
Padahal saya memiliki kekayaan 30 Trilyun..?
Karena saya mencari kebahagiaan hidup. Dengan kerja sebagai kuli, saya bisa hidup bahagia dan bermanfaat."
Mendengar kekayaan Panji... Pak Herman dan Ibuk Kulsum tercengang kaget.
"Saran ku.... Ibuk dan Pak herman pergi ke Sumatera untuk menemui mantan kekasih ibuk.
Lalu... Ibuk minta maaf, dan beri kompensasi uang.
Setelah itu, saya mau mengobati 2 putri Ibuk."
"Baiklah kalau begitu.
Tetapi... Bagaimana kalau tidak di maafkan..?"
"Percayalah pada ku, kalian pasti di maafkan," ujar Panji,
"Mila..."
"Iya Tuan."
"Ambilkan gula dan kertas."
"Baiklah Tuan."
"Ini Tuan."
Setelah membungkus gula dengan kertas, Panji berkata,
"Kantongilah gula ini saat menemui mantan kekasih Ibu."
"Baiklah Mas Panji," jawab Ibuk Kulsum kemudian menerima bungkusan gula,
"Kalau begitu... Saya permisi dulu Mas."
"Baiklah Pak, Buk.
Kalau bisa... Besok atau sekarang terbang ke Medan saja."
"Baiklah Mas Panji.
Selamat malam..."
"Malam juga Pak."
"Mila... Mari solat Isak berjamaah," ajak Panji,
"Habis ini... Kita jalan - jalan."
"Baiklah Tuan."
*
Selesia solat, Panji berboncengan naik motor jalan - jalan sambil cari makan malam.
Tak lama kemudian.
Sambil makan malam... Panji berkata,
Jadi... Aku mau ke Jakarta sebentar, kamu temani ya. Besok kamu beli tiket pesawatnya."
"Baiklah Godfather."
***
Kota Jakarta.
Jam 1 siang, pesawat lending di Bandara Soekarno Hatta.
Setelah berada di pintu keluar, sekretaris Iwan menyapa,
"Selamat siang Godfather. Silahkan ikut kami."
Setelah naik mobil, Panji berkata,
"Langsung saja ke Hotel Atlanta."
"Baiklah Godfather."
Tak lama kemudian, mobil memasuki area parkir hotel Atlanta.
"Sekretaris iwan... Antarakan Nona Mila menginap di hotel Hening.
Istirahat saja di kamar ku ya,
Atau ajak jalan - jalan dulu."
"Baiklah Godfather."
Dengan santai Panji berjalan memasuki hotel, kemudian memasuki restoran.
"Selamat siang Tuan...
Tuan mau pesan apa," tanya seorang pelayan.
"Secangkir kopi saja."
"Baiklah Tuan."
Sambil menunggu pesanan, Panji menghubungi Ruli istrinya. Setelah tersambung,
"Ruli...
Dimana kamu?"
"Ada di kantor hotel. Ada apa mas mencari ku..?"
"Aku di restoran hotel Atlanta."
"Baiklah, aku kesana."
Setelah bersalaman... Ruli duduk dengan wajah masam, lalu berkata,
"Ada apa mencari ku..?
Kalau butuh saja mencari ku."
Mendengar Ruli istrinya marah... Panji hanya diam saja sambil menikmati sebatang rokok.
Tak lama kemudian, Panji berkata,
"Mengapa kamu marah - marah, apa kamu sudah tidak suka dengan ku..?"
"Sebagai istri, aku ini juga butuh di dampingi oleh suami setiap hari.
Bukannya di tinggal pergi terus. Kamu enak, dimana - mana ada istri, ngecas sana ngecas sini.
Aku juga butuh nafkah batin, butuh kasih sayang seorang suami."
"Baiklah, aku akui aku salah kepada mu.
Besok akan aku urus surat perceraian kita. Dan semoga kamu mendapatkan lelaki yang bisa mendampingi mu setiap hari, setiap saat.
Aku doakan semoga kamu bahagia bersama lelaki pilihan mu.
Semua yang pernah aku berikan kepada mu, itu menjadi hak milik mu. Kelola lah dengan baik.
Assalamualaikum," kata Panji kemudian pergi meninggalkan Ruli sendirian.
Sambil memandang Panji pergi... Ruli diam seribu basa, tanpa penyesalan.
Setelah menyebrang jalan... Panji berjalan menuju rumah mbah Wali Dirjo.
Sesampai di halaman rumah,
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam,
Waduh..!! Gawat, ada tamu wali Rojo. Teriak - teriak di halaman.
Masuk Gus..."
Setelah bersalaman... Panji berkata,
"Mbah... Gimana kabarnya."
"Alhamdulillah... Baik Gus.
Kamu gimana kabarnya..?"
__ADS_1
"Banyak hutang Mbah."
"Hahahaha..!
Sukurin."
"Din... Tolong buatkan kopi untuk gus ini," kata Mbah Dirjo kepada santrinya.
"Aku tidak ingin minum kopi Mbah, barusan ngopi aku."
"Mau minum apa..?"
"Minum Bir binatang pake Es batu."
"Hahahaha..!"
Mendengar permintaan Panji.. Mbah Dirjo tertawa terbahak - bahak,
"Ambillah teko baru di dalam lemari itu, sama gelas sekalian."
"Baiklah Mbah," jawab Panji kemudian mengambil teko baru yang kosong, beserta gelas, lalu Panji meletakkan teko diatas meja.
"Ayoo kamu tuangkan tekonya," perintah Mbah Wali Dirjo.
"Baiklah Mbah.
Bismillahirrohmanirrohim," ucap Panji sambil menuangkan teko ke gelas.
Dengan ajaib... Dari ujung corong teko mengeluarkan air Bir Binatang.
"Ayoo kamu minum, rasakan."
Setelah meminumnya... Panji merasakan rasa bir bintang asli.
"Mbah... Teko kosong ini kok bisa mengeluarkan air bir bintang," tanya Panji.
"Karena di tubuh mu telah terpasang aplikasi kunci ayat Bismillahirrohmanirrohim.
Apa yang kamu inginkan... Bisa terwujud."
"Sudah tau Mbah.
Aku kesini, ingin minta ilmu Kantong Bolong.
Mbah Dirjo kan wali Allah, pasti Mbah Dirjo bisa."
"Tidak semua wali itu bisa melakukan apa saja. Karena dalam dunia wali, itu ada aturan langit Gus.
Setiap wali itu mempunyai tugas sendiri - sendiri menurut makom nya."
"Sudah tau Mbah, gak usah di teruskan ceramah nya, gak penting, " sahut Panji,
"Orang cerama itu 99% bohong dan munafik. Yang penting adalah prakteknya.
Mbah Dirjo mau gak memberi ku ilmu kantong bolong..?"
"Hahahaha..!
Kamu itu kayak Mbah rsuro kakek buyut mu saja.
Pergilah ke kecamatan Jampang Surade desa Cikemas. Disitu ada makam Kyai Panci.
Kalau kamu ingin ilmu kantong Bolong, pergilah kesana.
Karena, Kyai Panci adalah wali bagian ilmu kekeramatan."
"Baiklah Mbah, kalau begitu aku pergi dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Repot kalau di datangi tamu wali Rojo ini.
Serba salah dan kalah," ujar Mbah Wali Dirjo.
*
Musim hujan tiba.
Mendung tertata rapi, kilat menyambar - nyambar di sebagian kota Jakarta.
Sambil berjalan... Panji menghubungi Linda mantan ketua organisasi The Bluss, yang juga direktur PT Hening Elektronik.
Setelah tersambung,
"Linda... Kamu dimana?"
"Eeeeh, Godfather.
Ini di pabrik, mau pulang kok hujan."
"Jemput aku di depan depan hotel Atlanta seberang jalan."
"Baiklah Mas."
Hujan turun dengan deras. Panji berteduh di depan toko.
Tak lama kemudian... Sebuah mobil BMW milik Linda berhenti di depan toko untuk menjemput Panji.
Setelah Panji naik mobil, Linda memeluk Panji erat - erat, kemudian melepaskan,
"Godfather... Gimana kabarnya, lama gak ketemu?"
"Kabarnya kurang baik Linda."
"Kurang baik gimana..?"
"Istri 4 tinggal satu.
Hutang 14 trilyun."
"Hahahaha..!
Ya cari lagi lah Mas, kan banyak teman wanita cantik dirimu."
"Wanita cantik banyak, tetapi aku tidak mencintainya."
"Apa sekarang mau nikah sama aku..? Biar tambah lagi isteri nya," kata Linda.
"Hahahahaha!
Gak ah, jadi wanita simpanan ku saja."
"Hemmm, mau enaknya Mas!
Apa kamu hutang itu buat beli hotel ya?"
"Iya."
"Gini saja, nanti aku hubungi Sherly direktur PT Garment dan Kaila direktur Hotel Hening.
Nanti akan aku adakan pertemuan untuk membahas hutang kamu di Bank.
Dengan bantuan keuangan dari PT Hening Elektronik dan PT Garment, dalam waktu 1 sampai 2 tahun, hutang kamu akan lunas."
"Baiklah, kamu atur saja."
Mobil memasuki halaman rumah mewah di perumahan Elit,
"Sudah sampai rumah ku Mas, ayo turun."
Sambil menggandeng lengan Panji... Linda memasuki rumah nya yang mewah.
Setelah mandi dan solat Magrib berjamaah, Panji menikmati secangkir kopi di teras rumah.
"Nona...
Makan malam nya sudah siap," kata seorang pelayan
"Baiklah Mbak.
Mas... Kita makan malam dulu."
"Baiklah."
Sambil makan malam... Panji berkata,
"Bagaimana kondisi keuangan PT Hening Elektronik..?"
"Selama aku menjabat Direktur, Alhamdulillah, omsetnya bertambah terus.
Sebulan yang lalu aku sudah transfer ke Rekening mu, di Bank indonesia Bisnis, sebesar 2 Trilyun."
"Iya, aku mendapat SMS dari bank BIB.
Apa kamu sering ketemu sama Sherly..?"
"Iya ketemu pas ada kumpulan pengusaha muda di kamar dagang.
Terakhir ketemu dua bulan yang lalu.
Dia bilang akan buka cabang anak perusahaan di kota Solo dan kota Bandung.
Dia juga bilang akan buka galery di beberapa kota - kota besar di Negara Asia, juga Indonesia."
"Kelihatannya... Pt Garment milik mu itu maju pesat dalam setahun ini.
Pintar kamu pilih direktur. Sudah cantik, sexy juga pintar.
Dan bisa diajak tulidur bareng hahahaha!"
"Hemmmm,
Mas... Kenapa kok kamu ceraikan Ruli?"
"Sebenarnya aku gak mau menceraikan nya. Dia nya saja yang ingin bercerai.
Karena Ruli takut untuk berkata,
jadi, aku yang menceraikan nya.
Alasannya... Dia ingin aku selalu berada samping nya setiap hari.
Dia tidak bahagia.
Itu karena ada orang ketiga."
"Manusia kalau sudah kaya raya, banyak uang, pola pikirnya pasti berbeda," sahut Linda,
'Dari gaya hidup dan keangkuhan hati pasti menyertainya.
Aku yakin, pada suatu saat, dia akan mencari mu, butuh bantuan mu."
"Sudah lah, lupakan saja.
Hidup ini sudah ada yang mengatur. Kita hanya tinggal menjalani saja.
Kata Gus Dur... Gitu aja kok repot.
Yang bersyukur itulah yang bahagia dan sejahtera."
__ADS_1