
Sambil menikmati makan, Maya berkata,
"Kak... Ini namanya makanan apa? Kok enak banget..!"
"Yang kamu makan itu Nasi Bukhari khas kota Mekkah. Dan
di piring ini daging onta.
Minuman yang aku pesan untuk mu adalah, ini air zam - zam dan susu kambing.
Ini ada hidangan penutup namanya kue Al Ma'mul."
"Kakak pesan minum apa itu..?"
"Ini kopi arab dan segelas air zam - zam."
"Apa Kakak sering kesini kok hafal bener jalan dan makanan di kota ini..?"
"Sudah setahunan, setiap malam jumat kakak berkunjung ke kota Mekkah."
"Gitu ya..."
Setelah selesai makan, Panji dan Maya kembali pulang ke kota Surabaya.
*****
Jam 9 pagi Hp Panji berdering.
"Halo," sapa Maya,
"Siapa..?"
"Saya Anita Nyonya, manajer Bank Asia.
Tuan Panji nya ada..?"
"Sebentar ya Mbak...
Kak... Kak, bangun. Ada telpon dari bank Asia. Ini Hp nya."
"Iya," kata Panji sambil memejamkan mata.
"Mas... Aku Anita."
"Tumben kamu nelpon aku..?"
"Iya Mas, ada urusan penting," kata Anita,
"Sekarang Mas lagi dimana..?"
"Lagi di rumah tidur sama istri."
"Mas, bank Asia cabang Nganjuk, itu listriknya mati sudah beberapa hari, dan pihak bank mengalami kerugian besar kalau listrik gak bisa nyala."
"Terus... Apa hubungannya dengan aku..?"
"Dengerin baik - baik ya Mas...
Setelah aku lihat CCTV bank, dan aku dengar cerita dari pegawai,
ada seorang pemuda mengendarai mobil BMW warna hitam plat L. Dia ke bank mau mengambil uang.
Karena pemuda itu gak pakai baju, hanya mengenakan celana pendek, maka di usir sama Pak Tarjo manajer cabang Nganjuk.
Karena ucapan Pak Tarjo kasar, maka pemuda itu melempar kursi plastik ke wajah Pak Tarjo. Habis melempar kursi, pemuda itu pergi meninggalkan bank. Tidak lama kemudian listrik di Bank Asia cabang Nganjuk mati hingga saat ini.
Konon... Kata kedua satpam yang mengantar ke ruang manajer, pemuda itu memakai sarung baju takwa dan sorban di ikat di kepala.
Tetapi banyak orang melihat nya gak pakai baju.
Mungkin pemuda itu seorang wali dan kemarahan nya jadi penyebab listrik di bank Asia mati.
Sudah di cek dan di betulin sama pegawai PLN tetap saja gak mau nyala. Sudah di ganti kabel baru dan pasang ulang, tetap saja gak bisa nyalah listrik nya.
Genset mesin diesel juga mati.
Lah, plat no mobil BMW itu aku cek di kepolisian... Itu atas nama mu Mas. Ahmad Panji Hening Surabaya.
Barangkali Mas kenal sama pemuda itu..?"
"Dia bernama Ahmad Hanan Al Banjari. Nama panggilan nya Gus Hanan. Dia santri pondok pesantren Spombob desa Gumuk kecamatan Tanjunganom kabupaten Nganjuk," sahut Panji.
"Baiklah Mas, aku dan manajer Tarjo akan menemui Gus Hanan sekarang, untuk minta maaf."
"Jangan lupa, bawakan Gus Hanan bir bintang kaleng dan rokok danhil juga kacang garuda," kata Panji berbohong sambil tersenyum.
"Masak santri suka minum bir Mas..?"
"Dia kan santri setengah gila... Gak pernah pakai baju."
"Iya baiklah.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian tertawa terbahak - bahak.
"Ngapain sih Mas tertawa kenceng sekali..! Kelihatan senang gitu..?"
"Gak apa - apa. Gus Hanan ituloh sekarang jadab, siang malam tidur di makam Mbah Wali Kukun."
"Jadab bagaiman maksudnya," tanya Maya penasaran.
"Jadab itu ya gila, proses spiritual tanpa guru. Dia langsung berguru kepada Kakek leluhur nya yang sudah mati. Yaa... Akhirnya majedup seperti orang gila. Tetapi dia keramat."
"Apa bisa sembuh kayak Hanan itu..?"
"Ya bisalah.
Ini Hari apa..?"
"Hari Minggu Mas."
"Mama dan Papa katanya mau jenguk Hanan di pesantren.
*****
Pondok pesantren Spombob.
Jam 9 pagi, Gus Hanan duduk di bawah pohon mangga sambil melihat Pak Toni dan 10 pekerja lainnya membangun rumah baru.
Mobil Pak Rahmad memasuki halaman pondok pesantren Spombob. Setelah parkir, Pak Rahmad dan ibu Rita juga Siska bertamu ke rumah Kyai Danwari.
"Assalamualaikum Mas," sapa Pak Rahmad.
"Waalaikumsalam," sahut kyai Danwari kemudian memeluk Pak Rahmad,
"Ayoo masuk sini..."
Setelah duduk di ruang keluarga, sambil menikmati hidangan, ibu Rita berkata,
"Bagaimana kabarnya nya Hanan Mas..?"
"Hanan anak mu sekarang mengalami majedub. Gus Hanan semenjak tinggal di pesantren ini, dia siang malam tidur di makam Mbah Wali Kukun.
Dia tidak sekolah tidak mau ngaji sama sekali. Bahkan dia jarang terlihat solat di masjid."
"Kok bisa gitu Mas, Hanan itu..?"
"Mbah Wali Kukun telah menitis kepada Gus Hanan. Makanya Gus Hanan menjadi aneh."
"Kata Panji, Hanan kurus kering badannya, habis dari rumah sakit di antar Panji," kata ibu Rita Mamanya Panji.
"Gus Panji itu ngawur saja. Kapan ke rumah sakitnya..?
Panji tidak pernah kesini kok. Gus Hanan sehat. Badannya segar. Hanya saja Gus Hanan tidak pernah pakai baju dan sarung. Setiap hari Gus Hanan hanya mengenakan celana pendek levis, itu saja. Rambutnya mulai gondrong."
"Panji itu memang anak kurang ajar sekali. Di telpon dia bilang Hanan kurus kering. Mama nya suruh menjenguk ke pesantren, suruh bawah susu, roti dan buah - buahan.
Sekarang Hanan ada di mana Mas..?"
__ADS_1
"Gus Hanan sekarang sedang bagun rumah di sebelah pesantren ini."
"Rumah siapa," tanya Mama Rita.
"Gak tau rumah untuk siapa. Yang jelas Gus Hanan membangun rumah di tanah warisan milik Papa nya.
Katanya Aisya sepupunya, dia bagun pesantren."
"Untuk pesantren... Kan sudah ada pondok pesantren disini, milik keluarga."
"Coba nanti kamu tanya sama Gus Hanan. Kamu kan Mama nya, Gus Hanan pasti takut kalau sama Mama nya," kata kyai Danwari.
"Mas...
Dapat duit dari mana Hanan itu sebanyak itu, untuk bangun rumah."
"Gus Hanan pernah bilang ke saya, katanya dikasih uang sama Mbah Wali Cikrak.
Gus Hanan sekarang punya motor Honda baru. Mobil BMW yang kenalpot nya brong, bikin kuping panas."
"Siska... Dari mana kamu sama kak Aisyah," tanya Mama Rita.
"Dari Kak Hanan."
"Dimana kakak Hanan sekarang..?"
"Dia ada di pinggir jalan Ma, lagi bangun rumah baru. Katanya rumah itu untukku."
"Emang Kak Hanan gak tau kalau Mama kesini..?"
"Tau, Kakak bilang nanti dia kemari. Kak Hanan masih lihat orang bekerja..?
Mas, aku ke sana dulu ya, mau menemui Hanan sama lihat bangunan rumah."
"Iya Dik, silahkan."
"Siska... Antar Mama ke tempat kakak mu."
"Baiklah Ma," jawab Siska adiknya Panji kemudian berjalan keluar.
Melihat Mama nya di pinggir jalan, Gus Hanan beranjak mendekat,
"Assalamualaikum Ma..."
"Waalaikumsalam," jawab Mama Rita sambil melihat penampakan Hanan anak ke duanya yang aneh.
"Kenapa kamu gak pakai baju sama sarung..?"
"Panas Ma, enakkan pakai celana pendek."
"Ini Mama bawa kan makanana kesenangan mu, kare ayam," kata Mama Rita sambil menyodorkan tas kantong plastik.
"Makasih Ma."
"Kamu bangun rumah itu untuk siapa..?"
"Untuk Siska. Dan untuk keluarga kita kalau lagi berkunjung ke pesantren. Biar gak nginap di rumah saudara."
"Dapat uang dari mana kamu..?"
"Di kasih sama Mbah Wali Kukun. Banyak sekali pertanyaan Mama ini..?"
"Kamu itu lama - lama kayak Panji Kakak mu. Gak pernah beres kalau di ajak ngomong sama orang tua.
Mengapa kamu kok bangun rumah di sini untuk Siska..?
Gak di Surabaya saja atau Sidoarjo.
Apa Siska adik mu itu mau tinggal di kota Nganjuk kalau sudah keluarga?"
"Calon suaminya Siska itu orang Nganjuk Ma. Dia sekarang masih SMA kelas 1. Dia juga mesantren disini. Dia anak seorang kyai di daerah kecamatan Kertosono Nganjuk.
4 tahun lagi... Siska akan menikah dengan pemuda itu. Makanya aku siapkan rumah disini."
"Jangan sok tau kamu. Jangan suka ngarang cerita kayak Panji kakaknya mu," sahut Mama Rita.
"Ah Mama itu di bilangin gak percaya.
Dulu sebenarnya Kakek tidak setuju kan, Papa menikah dengan Mama..?
Akhirnya Mama dan Papa kawin lari di Surabaya...?"
Mendengar kata h kata Hanan... Mama Rita sangat terkejut sekali. Karena Hanan anak keduanya mengetahui rahasia masa lalunya yang di simpan rapat - rapat.
"Diam kamu, sok tau kehidupan masa lalu Mama dan Papa."
"Hahaha..!
Mama malu untuk mengakui di depan anak - anaknya.
Setelah Mama menikah dan melahirkan Kak Panji... Kakek baru merestui pernikahan Papa dan Mama.
Betul apa enggak Ma..?
Hanan juga tau kalau dulu Papa punya wanita simpanan. Ada 2 wanita simpanan Papa loh Ma. Tetapi sekarang Papa sudah tobat dan menjadi orang tua yang alim. Papa sekarang suka baca wirid."
"Sudah sudah, jangan bicara lagi," sahut Mama Rita yang jengkel dan malu kepada Hanan.
"Makanya, yang aku katakan kalau calon suaminya Siska orang Nganjuk itu benar adanya."
"Kakak mu apa pernah ke sini menjenguk mu..?"
"Sering Ma, seminggu yang lalu Kak Panji dari sini."
"Ya sudah kalau begitu. Mama kira dia gak pernah kemari."
"Kak Panji itu anak Mama yang paling alim loh Ma, dia baik hati, gak rugi Papa dan Mama punya anak seperti Kak Panji."
"Alim apanya..?
Kakak mu Panji tidak bisa ngaji. Baca Al qur'an saja tidak becus. Baca kitab kuning juga tidak bisa. Gitu kok di bilang alim..!
Sukanya mainin perempuan saja. Sama persis kayak Papa mu..!
Makanya Mama kirim kamu ke pesantren itu, supaya kamu pinter, jadi orang alim. Bisa baca kitab kuning. Nyatanya kamu sama saja kayak Panji Kakak mu.
Kakak mu Panji juga gak jelas kerja apaan sekarang. Jarang pulang. Tiba - tiba dia punya banyak uang."
"Ah, Mama ini cerewet sekali," sahut Hanan.
Kring..!
Hp Hanan berdering. Setelah terhubung.
"Ma... Kak Panji telpon."
"Sini Mama yang ngobrol. Kamu mesantren punya Hp, kayak pembisnis saja!
Panji..?"
"Iya Ma... Ada apa sih teriak - teriak kayak orang kesurupan..?"
"Kamu bilang adik mu kurus kering, bilang kerasukan jin makam. Bikin Mama bingung saja."
"Sekarang jin nya sudah pergi kali Ma. Kalau Hanan ngomong nya enak dan benar... Berarti dia sembuh. Kalau ngomongnya ngelantur gak jelas, berarti dia belum sembuh Ma. Coba Mama tampar sekali saja, siapa tau jin nya keluar dari tubuh Hanan, lalu sembuh.
Kan Mama ahli wirid sholawat fatih."
"Iya adik mu dari tadi ngomongnya ngelantur. Besok kamu jenguk ya, carikan obat doa ke kyai siapa gitu. Kasihan dia."
"Iya Ma, besok akan Panji jenguk bersama Maya.
Ya sudah ya Ma...
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam salam.
Ini Hp mu."
"Kak Panji bilang apa Ma...?"
__ADS_1
"Dia bilang kamu masih kerasukan jin makam. Besok Kakak mu kesini. Katanya mau minta sarat dan doa dari seorang kyai, untuk kesembuhan mu."
"Ah, Mama percaya sama Kak Panji. Dia itu ngibul Ma, ngarang cerita ngawur.
Mama ini percaya saja sama hasutan Kak Panji.
Plaaak..!
"Diam kamu. Buruan makan siang. Habis ini Mama pulang ke Surabaya."
"Aduuuh..!
kenapa Mama menampar ku. Sakit Ma. Iya habis ini aku makan siang.
Mama dan Papa buruan pulang deh."
"Iya Mama pamit pulang dulu. Kamu jaga diri baik - baik. Pakai baju dan sarung. ngaji dan sekolah yang bener."
"Iya," kata Gus Hana kemudian salim cium tangan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Ma."
"Kak... Minta uang nya," kata Siska.
"Emang kamu gak di kasih uang buat jajan sama Mama..?"
"Di kasih cuma buat saku sekolah saja."
"Ini," kata Gus Hanan sambil menyodorkan uang puluhan lembar,
"Jangan nakal - nakal loh ya..!
Jangan main ke diskotik."
"Iya Kak, paling joged bentar. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
Kurang ajar Kak Panji itu. Mama di suruh menampar ku."
*****
Siang itu... Gus Hanan pergi menuju makam Mbah Wali Kukun. Setelah membuka kantong plastik, Gus Hanan menikmati makan siang sendirian di teras makam.
Ketika enak - enak makan nasi kare ayam, Gus Hanan melihat wanita cantik mengenakan rok mini dan seorang lelaki kira - kira berumur 30 tahun, berjalan mendekati nya.
"Assalamualaikum Gus..."
"Waalaikumsalam," jawab Gus Hanan sambil melihat paha Anita. 🧐
"Mulus sekali paha mu," kata Gus Hanan sambil makan,
"Kayak paha Ayam potong.
Mencari siapa kalian..?"
"Mencari Gus Hanan," jawab Pak Tarjo.
"Aku Gus Hanan.
Ada apa mencari ku..?"
"Saya mau minta maaf Gus, atas kejadian di bank Asia beberapa hari yang lalu. Saya mohon maaf karena saya mengusir Gus waktu ambil uang di bank.
Sejak Gus meninggalkan bank... Lstrik di Bank Asia padam hingga sekarang."
"Kalau listrik Bank pinggin nyala lagi... Kamu sapu area makam ini hingga bersih. Itu sapunya di dekat kamar mandi. Setelah itu, kamu nimba, kamu isi kamar mandi hingga penuh."
"Baiklah Gus," jawab Pak Tarjo dengan rasa khawatir kalau di pecat oleh pihak Bank.
"Kamu Ayam potong, bawa apa itu..?" tanya Gus Hanan yang menyelesaikan makan siangnya.
"Bawa bir bintang kaleng Gus, sama rokok danhil dan kacang cap garuda," kata Anita.
"Siapa yang menyuruh mu bawah bir..? Emangnya makam wali ini cafe ya..!"
"Yang menyuruh Mas Panji Gus."
"Taruh sini bir nya, biar aku minum."
"Duduklah sini," kata Gus Hanan kemudian membuka bir bintang dan meminumnya.
Setelah menyulut rokok, Gus Hanan berkata,
"Karena kamu selingkuhan nya Kak Panji, aku saran kan... Batalkan pertunangan mu dengan calon suami mu."
Dengan rasa penasaran, dan agak takut, Anita bertanya,
"Mengapa Gus, kok pertunangan saya dan calon suami saya harus di batalkan..?"
"Kalau kamu ingin hidup sejahtera, senang dan bahagia... Kamu batalkan dan kamu lupakan calon suami mu sekarang.
Kalau kamu ingin hidup susah, menderita dan sengsara, ya lanjutkan kamu menikah dengan calon suami pilihan mu."
Mendengar saran Gus Hanan, Anita menjadi bingung dan ngeri.
"Gus... Calon suami ku itu anaknya pengusaha kaya, dan calon penerus generasi bisnis keluarganya. Kok bisa gak sejahtera dan bahagia..?"
"Ya menikah saja kalau menurut mu baik."
"Kalau misal, saya batalkan, aku harus mencari calon suami lagi. Apa Gus ada saran, bagaimana cara mendapatkan suami yang bisa membahagiakan saya..?"
"Kalau kamu ingin tau jawabannya, kamu pel dulu makam Mbah Wali Kukun ini sampai bersih. Dinding kayu jatinya kamu lap hingga bersih."
"Baiklah Gus," jawab Anita penasaran.
"Yang ikhlas ya ngepelnya..."
"Iya Gus."
Setelah satu jam mengepel lantai marmer dan membersihkan dinding makam yang terbuat dari kayu jati, Anita duduk kembali.
"Sudah Gus."
Di pojok pertigaan lampu merah tempat kamu kerja, itu ada seorang pemuda berambut gondrong. Kamu tau gak pemuda itu..?
Setiap hari dia disitu dari pagi hingga Magrib."
"Tau Gus, dia tukang becak," jawab Anita. Karena setiap hari saya pulang lewat pertigaan lampu merah itu.
"Yaah itu calon suami mu dunia akhirat. Dia yang bisa membahagiakan hidup mu juga keluarga mu."
Mendengar jawaban Gus Hanan, Anita jadi bingung tak mengerti dan penasaran.
"Gus... Pemuda itu saya lihat hampir setiap hari mabuk Gus. Suka minum minuman keras di pertigaan. Tampangnya juga sangar kayak preman."
"Emang tampang mu cantik..?
Tampang mu saja kayak Ayam Horen, " Sahut gus Hanan.
Terserah kamu, nikah sama siapa. Tetapi itulah jawaban ku."
Kring..!
Hp Anita berdering. Setelah terhubung,
"Selamat siang bu manager."
"Siang juga Pak."
"Listrik di bank sudah nyalah barusan."
"Baiklah, terimakasih info nya," jawab Anita kemudian mematikan teleponnya.
"Sudah selesai semua Gus," kata Pak Tarjo.
"Sekarang pulanglah kalian."
"Baiklah Gus, terimakasih sekali. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."