SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
RUH KULLU JASAD


__ADS_3

"Kamu siapa," tanya Panji.


"Aku Setro Aji, penjaga pesisir pantai selatan Pelabuhan Ratu."


"Owwh, bangsa jin ternyata. Kalau begitu, sampaikan salam ku pada Nyai Roro Kidul."


"Jaga ucapan mu," ujar Setro Ajie kemudian dengan cepat melesat memukul wajah Panji.


Namun... Tiba - tiba, cincin Taji Kubro yang melingkar di jari manis Panji mengeluarkan cahaya putih kemilau, dan cahaya itu menyambut serangan Setro Ajie.


Bruak...!


Tubuh Setro Ajie terlempar jatuh di tepi pantai.


Sambil berdiri kesakitan... Setro Ajie berkata,


"Siapa kamu sebenarnya wahai manusia..?"


"Panggil saja Godfather.


Bagaimana..? Apa masih mau di lanjutkan berkelahi dengan ku..?


Walau aku tidak sakti dan tidak ahli ilmu beladiri, setidaknya aku bisa memukul mu."


Kring..!


Hp Panji berdering,


"Tunggu sebentar, aku angkat telpon dulu.


Halo..?"


"Tumben bilang halo, biasanya salam kandang sayang.


Ini sebentar lagi aku sampai, Mas ke depan penginapan ya?"


"Iya," jawab Panji kemudian mematikan hp,


"Setro Ajie...


Besok saja ya, di lanjut berkelahinya. Aku mau solat malam dulu, sudah jam setengah satu malam.


Gara - gara kamu aku tidak tepat waktu solat malam."


"Baiklah, besok siang kita lanjutkan," kata Setro Ajie sambil menahan rasa sakit di pinggangnya.


*


Penginapan Srikandi.


Setelah sampai di halaman penginapan... Panji melihat Wilda duduk di teras,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Mas, dari mana saja sih, kok lama banget?"


"Habis dari pantai, latihan jurus ilmu Cakar Naga.


Ayo ke kamar," ujar Panji,


"Mamang... Pesan kamar sendiri ya."


"Baiklah Tuan Panji."


"Wilda, kamu istirahat tidur ya, kan kamu capaik.


Aku mau mandi dulu dan solat malam, sudah jam 1."


"Iya...


Mas, kita pindah saja ke Hotel Grand Inna. Di sana lebih enak dan lebih luas kamar nya, restoran nya juga enak dan lengkap.


Di sini kecil kamarnya."


"Gak boleh bilang begitu, di sana enak di sini gak enak. Enak gak enak itu tergantung bagaimana cara kita mensyukuri segalanya Nikmat-Nya.


Kamu itu sama dengan ingkar atas nikmat gusti Allah yang telah kamu rasakan.


Kita harus sangat bersyukur atas segala pemberian Gusti Allah, walaupun pemberian itu kandang tidak menyenangkan hati kita, kadang tidak cocok dengan akal kita, tetapi... Bagi Allah, setiap pemberian Nya, itu yang terbaik bagi kita."


"Iya... Baiklah Mas, tidak aku ulangi lagi.


Buruan solat malam, sudah jam 1 lebih.


Sayang dulu ya..?"


*


Setelah solat sunnah malam 51 rokaat, Panji menghatamkan Dzikir 70 ribu x.


Pada jam menjelang Subuh... Tiba - tiba, kamar Panji terang benderang, kemudian, sukma Syeh Abdul Jalil duduk di depan Panji,


"Assalamualaikum Gus..."


"Waalaikumsalam Syeh."


"Hari ini, sudah cukup kamu menghantamkan Dzikir Munajat.


Mulai besok... Kamu menghantam kan Dzikir Ismudzat 11 ribu x setiap habis solat 5 waktu.


Kerjakan ini selama 40 hari."


"Sendiko dawuh Syeh."


"Aku kasih tugas untuk mu, kamu harus berkerja sebagai sebagai kuli atau pelayan selama 100 hari.


Terserah kamu mau jadi kuli pasar, kuli bangunan, kuli pabrik, pelayan apa saja.


Selama 100 hari... Kamu makan minum dan apa saja, harus dari uang hasil kamu kerja menjadi kuli atau pelayan."


"Sendiko dawuh Syeh."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Syeh," jawab Panji.


Adzan Subuh terdengar mengema, Panji berdiri lalu mendekati Wilda yang tertidur pulas,


"Wilda... Bangun sayang, sudah Subuh.


Wilda..?


Kasihan, tidurnya nyenyak banget, dia kecapaian.


Baiklah, ruhnya saja aku ajak solat.


Bismillahirrohmanirrohim, Ruhania Wilda, bangunlah, mari solat Subuh berjamaah."


Tiba - tiba... Ruh Wilda keluar lalu berkata,


"Tunggu sebentar ya Gus, aku bersuci dulu."


"Baiklah," jawab Panji sambil melihat ruh istrinya, lalu berkata dalam hati,


"Ternyata wajah Ruh Wilda istri ku ini sangat cantik sekali dari pada aslinya.


Sayang... Tubuhnya tertutup cahaya, jadi... Aku gak bisa melihat kulit dan bentuk tubuhnya yang ****. Hanya wajahnya saja yang terlihat jelas."


"Mari Gus, kita solat," sapa Ruh Wilda.


Setelah solat... Ruh Wilda menyalami tangan Panji dan menciumnya.


"Kalau boleh tau... Nama mu Ruh siapa..?"


"Nama ku adalah Ruh Kullu Jasad Gus."


"Ada berapa Ruh di tubuh Wilda istri ku..?"


"Ada 7 Ruh."


"Sebutan siapa saja nama ke 7 ruh itu..?"

__ADS_1


"Ruh Kolbi


Ruh Sirri


Ruh Kullu Jasad


Ruh Khoffi


Ruh Akfa


Ruh ***** Natiha


Ruh Sukma."


"Apa tugas mu sebagai Ruh Kullu Jasad," tanya Panji.


"Tugasku mengatur kebutuhan makan dan minum jasad kasar ku bernama Wilda.


Agar wadah jasad kasar ku tidak sakit.


karena... Kalau wadah jasadku sakit, aku juga sakit."


"Jadi... Kalau wilda istri ku ingin makan nasi goreng dan es jeruk, itu kamu yang memilihkan menunya..?"


"Iya Gus, benar.


Karena aku lebih mengetahui kebutuhan vitamin yang di butuhkan oleh jasad kasarnya."


"Jadi... Kamu ikut merasakan nikmatnya rasa nasi goreng ya..?"


"Tidak Gus, yang merasakan nikmatnya nasi goreng itu adalah Ruh ***** Natikha.


Yang membuat lidah dan gigi Wilda bisa mengunyah dan merasa kan enak tidaknya adalah Ruh ***** Natikha.


Jika rasa itu tidak enak... Maka Ruh ***** itu tidak mau, dan Wilda pun tidak akan makan."


"Kalau aku sedang bercinta dengan Wilda... Berarti Ruh ***** Natikha itu yang merasakan Nikmatnya ya..?"


"Benar Gus,


Tetapi... Kalau orang yang tidak iman dan tidak berilmu... Bangsa jin pun juga ikut merasakan nikmatnya orang bersetubuh, apalagi berzina.


Bahkan makan minum pun bangsa jin itu ikut merasakan nikmatnya, kalau tidak pakai ilmu."


"Berarti Ruh ***** Natikha itu ya mau dibajak berbuat baik dan buruk ya..?"


"Iya Gus, ***** itu mempunyai 3 sifat.


***** Amarah, keangkara murkaan


***** Lawwamah penyesalan


***** Mutma'inah kebaikan."


"Begitu ya...


Lalu... Apa makannan mu?"


"Makanan ku adalah gondo atau bau - bauan.


Jika wilda makan sate... Bau sate itu lah yang membuatku kenyang."


"Apa makanan semua ruh itu sama kayak kamu..?"


"Tidak sama Gus, setiap Ruh berbeda makanannya.


Misal Ruh Sukma, makanannya adalah berfikir. Jika Wilda berfikir sesuatu... Maka Ruh sukma itu akan kenyang."


"Boleh aku merokok," tanya Panji kemudian mengambil rokok.


"Boleh Gus, itu Ruh nya Gus ingin merokok. Karena... Ruh nya Gus di telpon sama Ruh *****."


"Jangan bercanda kamu," ujar Panji kemudian menyulut rokok,


"Jangan bilang kalau Telpon pakai Hp satelit,


Ruh jasad, aku pingin merokok.


Gak lucu..?"


Sambi tersenyum ruh nya Wilda berkata,


"Bahasa telpon itukan istilah Gus, jangan tegang - tegang, sekali - kali bercanda."


"Terakhir nieh ya... Aku tanya.


Kalau Wilda berfikir baik, berarti Ruh Sukma itu makan makanan yang baik.


Tetapi... Seumpama, Wilda berpikir buruk atau jelek, maka Ruh Sukma makan makanan yang buruk dong..?"


"Iya Gus, benar.


Jika Wilda memikirkan hal yang buruk, maka sukma itu makan makanan yang buruk.


Dan itu akan berpengaruh pada kesehatan Ruh Sukma.


Akhirnya... Sukma itu gugat.


Ujung - ujungnya, raga Wilda yang sakit. Untung kalau yang sakit Raganya, kalau yang sakit itu sukmanya... Maka Wilda bisa setres atau gila."


"Baiklah, terimakasih atas ilmunya, lain waktu kita ngobrol lagi.


Oh iya... Kamu kok lebih cantik dari Wilda yang asli..?"


"Karena aku adalah cahaya dan aku adalah penduduk langit.


Kalau kamu ingin merasakan nikmatnya tubuh ku... Maka nikmatilah tubuh Wilda wadah jasadku, itu sama saja.


Karena aku adalah Wilda istri mu, dan Wilda adalah aku juga istri mu.


Mari tidur di sisi ku."


"Baiklah, aku juga capaik dan ngantuk."


***


Jam 12 siang... Panji dan Wilda juga si Mamang, menikmati sarapan di restoran Grand Hotel Inna Samudra.


Ketika menikmati sarapan... Panji merasakan aura hotel yang begitu aneh, aura kekuatan mistis bangsa jin.


Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata lirih,


"Ternyata aura itu berasal dari kamar hotel 308.


Kamar itu di peruntukan Nyai Roro Kidul, Jika dia ingin istirahat di hotel.


Ada - ada saja, ternyata jin juga suka tidur di hotel, Hahahaha.


Pantalesan Aryo Jagad pengikut ku tadi malam bilang mau jalan - jalan ke Hotel Hening."


"Wilda... Apa kamu pernah dengar, kalau di salah satu kamar hotel ini, ada kamar khusus untuk nyai Roro Kidul," tanya Panji.


"Iya Mas, itu bukan rahasia lagi, bahwa kamar 308 itu tidak di sewakan, karena itu kamar peristirahatan Nyai Roro Kidul."


Mamang...


Ambil barangnya Non Wilda ya, sekalian mobilnya bawah kemari.


Kita pindah nginap di hotel ini.


Sekalian Mamang bayar administrasi nya."


"Baiklah Tuan Panji.


*


Selesai sarapan... Wilda memesan kamar hotel, lalu pergi jalan - jalan ke pantai.


"Mas... Kita jalan - jalan ke pantai karang Hawu sana ya..? Di sana sangat indah pemandangannya,* ajak Wilda,


"Di sana juga teduh banyak pohon nya."

__ADS_1


"Iya...


Apa pantai Karang Hawu itu termasuk pantai Pelabuhan Ratu..?"


"Iya, masuk wilayah pantai pelabuhan Ratu, hanya saja... Orang - orang menyebutnya Karang Hawu, karena banyak batu karang nya".


Sambil menggandeng lengan Panji suaminya... Wilda berkata,


"Mas... Kemarin Aini menelfon ku, dan aku sempat bertemu di cafe. Dia bilang sudah bercerai dengan mu.


Kasihan Mas, Aini selalu menangis.


Dia masih mencintai mu. Apa kamu gak kasihan sama Aini..?


Bagaimana pun, kita bisa sukses, karena Non Aini."


"Kita sukses itu pada hakekatnya dari Allah, hanya saja, salah satu jalannya lewat Aini.


Bahkan... Sebelum kita sukses, aku sudah memiliki banyak uang.


Tanpa Aini pun aku bisa memiliki uang puluhan Milyar, bahkan puluhan Trilyun kalau aku mau.


Sejujurnya... Aku tidak mencintai Aini, karena Aini begitu mencintai ku... Aku kasihan juga, yaa akhirnya aku nikahi dia tanpa melamar dan tanpa izin kedua orang tuanya.


Aku pun sadar, bahwa pernikahan ku dengan Aini berdampak besar bagi keluarga besar Hong Shi.


Dan... Yang aku khawatirkan ternyata terbukti.


Mama nya Aini tidak menyukai ku, bahkan sering menghina ku.


Aku coba tuk bertahan walau aku sangat terhina di keluarga Aini.


Pak Hong Shi, walau dia menerima ku... Tetapi hatinya juga tidak menyukai ku.


Terlebih - lebih keluarganya yang di Bandung dan di Tangerang, mereka sangat membenci ku."


"Mengapa keluarga Aini membenci mu Mas..?


Pasti dia punya alasan."


"Keluarga Aini itu masuk daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia.


Orang tua Aini... Menginginkan punya menantu dari keluarga kaya juga, kalau bisa keluarga konglomerat.


Karena aku adalah orang miskin... Maka keluarga Aini tidak setuju dan membenci ku."


"Bukankah dulu kamu Mas, yang membantu ekonomi pak Hong Shi, hingga kerajaan bisnisnya sekarang bangkit lagi..?"


"Iya, itu kan bisnisnya Pak Hong Shi. Kalau bisnisnya Mama nya Aini... Lebih besar.


Lebih kaya istrinya dari pada pak Hong Shi.


Bayangin, dia punya 100 hotel di beberapa kota di negara Asia.


Walau Pak hong slShi bangkrut, kan masih ada istrinya.


Beda jauh dengan ku. Aku punya Hotel 5 saja... Dari hasil uang hutang di Bank."


"Tenang saja... Entar aku bantu bayar hutangnya.


Apa perlu aku lunasin sekarang juga..?"


"Gak perlu, aku masih mampu bayar hutang, kecuali terpaksa.


Sebenarnya... Aku tidak mau menceraikan Aini, karena... Perlahan - lahan aku pun mulai mencintai nya. Apalagi Aini hamil 2 bulan.


Karena Mamanya membenci ku, dan bersikeras agar aku menceraikan Aini... Dengan terpaksa aku tanda tangan perceraian dengan Aini.


Daripada Aini dan keluarga nya bertengkar terus masalah aku."


"Tadi malam... Waktu aku di perjalanan... Ruli menanyakan keberadaan mu.


Yaa... Aku jawab tidak tau saja, dari pada aku beritahu, nanti dia cemburu."


"Biarin saja, gak lama lagi aku dan Ruli juga akan bercerai.


Perceraian itu sudah tertulis di Lauh Mahfudz.


Ruli... Inginnya, aku selalu ada di sisinya. Sedangkan aku masih lelaku, aku harus bepergian kemana - mana dalam waktu yang lama.


Kalau mau jadi istri ku... Yaa beginilah aku apa adanya, dan siap hidup menderita.


yang penting aku sudah bertanggungjawab memberi nafkah."


"Sudahlah, jangan di bicarakan lagi. Kita pergi kebsana, ke desa Sukamiskin," ajak Panji kemudian merangkul Wilda sambil berjalan.


"Masalah cinta kok di bikin ribet, nikmati saja yang ada saat ini, seperti aku menikmati kecantikan mu, juga seperti kamu menikmati keberadaan ku.


Kata Gus Dur... Gitu saja kok repot."


Sambil berjalan mesrah... Panji bertanya,


"Apa kamu benar - benar mencintai ku..?"


"Iya lah, kalau gak mencintai mu... Mana mungkin jauh - jauh dari Bandung hanya untuk menemui mu disini Mas..!!!


Sejak remaja... Waktu aku hidup susah dan menderita, hidup di dunia hitam... Kamu lah orang yang menolong ku, kamu lah yang melindungi ku, kamu lah yang menyayangi ku siang malam.


Dulu... Waktu aku menangis sedih, kamulah yang mengusap air mataku.


Waktu aku tidur dalam kesedihan... Kamu selalu mendekapku hingga aku tertidur lelap.


Lama - lama... Aku jatuh hati dan mencintai mu diam - diam.


Setelah kamu menikahi ku...


Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meninggalkan mu."


Mendengar kata - kata Wilda... Panji menghentikan langkah kakinya, lalu memeluk erat - erat tubuh Wilda.


*


Setelah berada di pantai desa Sukamiskin... Panji melihat Pak Amin dan Pak Sabar sedang membetulkan mesin perahu.


"Assalamualaikum Pak Amin...


Pak Sabar."


"Waalaikumsalam Mas Panji," jawab Pak Amin dan Pak Sabar lalu menghentikan pekerjaan nya,


"Mas Panji... Kasihan Haji Asep Anwar."


"Kenapa Pak..?"


"Tadi pagi jam 10... Semua kapal kapal milik Pak haji tenggelam Mas, di hantam badai gelombang air laut.


Mobil hilang, mobil satunya terbakar bersama rumahnya, 15 kapal tenggelam.


Sekarang Pak Haji tinggal di rumah gubuk, milik saudara nya yang berada di pinggir pantai itu."


"Baguslah Pak, biar Pak Haji Asep merasakan bagaimana rasanya hidup menjadi orang fakir miskin."


"Mas Panji mau ikan bakar lagi..? Kalau mau, akan saya bakar kan di bawah pohon ini," kata Pak Amin.


dApa gak merepotkan Pak..?"


"Tidak Mas," jawab Pak Sabar,


"Kami malah senang, dan sebagai bentuk rasa terimakasih kami."


"Baiklah Pak, tetapi... Aku mau menemui Pak Haji Asep dulu ya?"


"Iya Mas Panji, Mas Panji jalan lurus saja di pantai, 100 meter itu ada rumah gubuk, di situ sekarang Pak Haji Asep tinggal."


"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu."


"Mas... Kok kenal sama para nelayan," tanya Wilda.


"Biasa... Namanya juga artis, di mana - mana banyak pengemarnya."


"Ah, bercanda saja kalau di tanya."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2