SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
DEWI ANJANI DAN MASA DEPAN GUS HANAN


__ADS_3

"Mengapa kamu menangis Gus..?" tanya Dewi Sambi.


"Aku ingat Wilda istri ku. Dia baru saja wafat dalam kecelakaan bersama ku.


Dulu... Waktu dia capek, aku sering memijit tangannya.


Jadi, saat aku mengurut tangan mu ini, aku jadi teringat dia."


'Ini minyak apa Gus, kok hangat rasanya ketika di oleskan," tanya Dewi Sambi untuk mengalihkan perhatian Panji pada Wilda istrinya.


"Ini minyak sambung, hadiah pemberian Nyai Farah Indramayu.


Minyak ini fungsi nya untuk menyambungkan urat yang putus dan tulang yang patah atau bengkok.


Minyak ini juga untuk menyembuhkan penyakit dalam."


"Nyai Farah yang tinggal di pesisir pantai Glayem Indramayu itu..?"


"Kok kamu tau..?"


"Hampir semua bangsa jin yang tinggal di pesisir Laut jawa, pasti mengenal Nyai Farah. Beliau di kenal sebagai Wlwali sufi wanita. Beliau juga memiliki ribuan santri dari bangsa jin.


Sayangnya...


Nyai Farah tidak punya anak keturunan.Karena Nyai Farah tidak mau bersuami.


"Sudah, urutnya.


Buatkan aku kopi hitam dan aku ingin makan malam," kata Panji.


"Baiklah Gus, sebentar ya, akan aku suruh danyang menyiapkan nya."


Sambil makan malam... Panji berkata,


Nyai Dewi, hari sabtu aku akan merayakan pernikahan di desa Siman. Kamu kan Ratu penguasa laut timur pulau jawa... Jadi, aku minta kamu jaga acara pernikahan ku dari orang - orang jahil.


Karena, daerah timur pulau jawa ini terkenal dengan dukun - dukun santet teluh dan sihir.


Apalagi sekarang waktunya musim hujan."


"Baiklah Gus."


"Tolong usahakan wilayah pulau Bali dan sekabupaten Banyuwangi tidak hujan."


"Baiklah Gus."


"Aku juga ingin sapi dan beras juga ikan laut yang cukup untuk makan para tamu undangan."


"Baiklah Gus.


Besok pagi akan aku suruh Paman Tirto untuk mengantar sapi juga beras dan ikan yang laut, terutama udang."


Selesai makan, Panji menyeruput kopi kemudian menyulut rokok marlboro.


"Nyai... Aku mau balik dulu ke desa Siman, ini hampir menjelang subuh.


Salim dulu," ujar Panji kemudian menjulurkan tangannya.


Setelah salim mencium tangan Panji, Nyai Dewi berkata,


"Gus, kalau ada waktu... Mainlah kesini lagi ya?"


"Baiklah Dewi, asal aku di pijitin dan di temani tudur," jawab Panji sambil tersenyum.


"Iyaaa..."


"Assalamualaikum


Rahayu."


"Rahayu ugi," jawab Nyai Dewi.


Setelah berada di halaman rumah, Panji melihat Mbah Kirman yang duduk sendirian sambil menikmati kepulan asap rokok.


"Assalamualaikum Mbah..."


"Waalaikumsalam...


Eh, Gus Panji. Sudah selesai tahlilan nya."


"Sudah Mbah, tadi mampir ke rumah teman, cari sapi dan beras Mbah," jawab Panji kemudian sungkem dan duduk.


"Cari sapi buat apa Gus..?"


"Buat disembelih Mbah, untuk makan makan para tamu hajatan besok hari sabtu."


"Oh iya iya.


Rencananya... Mbah nanti pagi mau ke pasar hewan mau beli sapi. Ya sudah kalau Gus Panji sudah beli sapi."


"Nanti pagi sapi nya di kirim ras Mbah."


"Iya Gus."


Adzan subuh terdengar menggema, Panji pamit untuk solat subuh.


Setelah berada di kamar, Panji langsung mencium Maya istrinya.


"Bagun...


Sudah subuh."


"Ah... Kakak ini.


Iya iya, Maya bangun."


*****


Jam 9 pagi, dua mobil truk mengangkut sapi dan satu truk lagi membawa karung beras dan ikan.


"Permisi Mbah, saya mau mengantar pesanan Gus Panji," kata Paman Tirto yang merubah wujudnya menjadi manusia.


"Iya Mas, sapi silahkan di ikat di bawah pohon itu," kata Mbah Kirman.


Setelah menurunkan sapi dan beras juga ikan, Paman Tirto pamit pergi.


"Maya..."


"Iya Kakek, ada apa..?"


"Suami mu beli sapi kok banyak sekali, 20 ekor. Beras 100 sak 100 kilo an. Dan ikan laut 100 box."


"Suami ku orangnya suka bersedekah Kek. Potong saja sapinya 10 ekor Kek. Yang 10 ekor simpan di kebun belakang rumah.


Ikannya di es dulu saja, besok di masak buat makan para tamu."


"Baiklah kalau begitu."


***


Pondok pesantren Spombob.


Pembangunan makam sudah selesai. Makam yang tadinya tidak ada atap dan dindingnya, kini terlihat sangat indah dan bagus di pandang mata.


Di siang hari... Beberapa santri dengan nyaman duduk di atas lantai batu marmer makam, sambil menghafalkan Alfiah juga belajar membaca kitab. Ada juga yang tahlil mendoakan leluhur pendiri pondok pesantren Spombob.


***


Ujung Timur Pulau Jawa.


"Kak... Gak bangun, sudah jam 11 lebih. Sebentar lagi solat jumat," kata Maya.


"Iya sebentar.


Temani Kakak tidur sebentar sini," kata Panji sambil menarik tangan Maya.


"Heeee..! Sempat - sempatnya ngajak bercinta. banyak orang di rumah saat ini. Banyak tetangga dan saudara lagi sibuk masak dan buat kue, buat hajatan besok.


Ayoo bagun mandi lalu solat jum'at. Keburu telat nanti.x


"Iya iya," jawab Panji kemudian bangun.


Setelah solat jumat, Panji menikmati makan siang bersama Maya.


"Kak... Kakak kok beli sapi banyak banget, 20 ekor. beras 100 sak yang 100 kiloan dan ikan laut 100 box."


"Itu semua Kakak di kasih sama teman, gak beli.


Kalau ada sisa hajatan ya... Kakek suruh sembelih saja sapi itu, dagingnya di bagikan ke warga desa.


Bereskan. Gitu saja kok repot."


"Di meja makan Ini kok ada kerang kepiting juga udang..?


Apa kamu dari pasar..?"

__ADS_1


"Ini yang di kasih temen Kakak tadi, jawab Panji.


Setelah makan, sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok, Panji memencet no telpon sekretaris Novi.


Setelah tersambung,


"Selamat siang Godfather... Alhamdulillah Godfather sudah kembali."


"Novi... Aku undang semua petinggi organisasi The Bluss dan anggota inti, untuk datang ke pesta pernikahan ku, di kabupaten Banyuwangi jawa timur.


Aku juga undang rekan bisnis organisasi dan semua pejabat PT Hening Group.


Acaranya besok sabtu siang hingga malam.


Alamatnya habis ini aku SMS."


"Baiklah Godfather, segera saya hubungi semua petinggi organisasi dan relasi bisnis," kata sekretaris Novi kemudian menutup telponnya.


Jawab barat.


Setelah mendapat undangan mendadak... Lim shauw Direktur Net Plaza sore itu langsung terbang ke Denpasar Bali.


Begitu juga dengan Leni, Bela dan Desi juga Altra Mila, malam itu terbang ke Denpasar Bali.


Begitu juga dengan relasi bisnis organisasi dan relasi bisnis PT Hening Group. Juga PT Java


*


Pondok pesantren Spombob.


Sehabis solat Isak berjama'ah... Hanan tidak ikut ngaji rutinan kitab Tafsir Jalalain, dan langsung pergi ke makam mbah wali Kukun.


Setiba di makam mbah wali Kukun, Hanan duduk di atas lantai marmer, kemudian uluk salam, lalu melantunkan dzikir munajat.


Sebagai anak keturunan Mbah Wali Suro generasi ke 5 dan juga keturunan Mbah Wali Kukun generasi ke 7, tidak sulit bagi Hanan untuk menjumpai Kakek leluhur nya.


Ketika berdzikir belum ada 100x, tiba - tiba pintu makam terbuka. Lalu keluar seorang memakai kain sarung dan baju putih bersongkok hitam.


Melihat hal goib dan aneh... Hanan sudah tidak takut lagi sejak berjumpa dengan Mbah Wali Cikrak.


"Lee... Cicit ku..!


Ada apa kamu membangunkan ku," tanya Mbah Wali Kukun yang berdiri di hadapan Hanan.



"Mbah ini siapa," tanya Gus Hanan.


"Aku Mbah Kukun, Kakek leluhur mu ke 7."


Mendengar nama Mbah Kukun... Gus Hanan kemudian mendekat lalu salim dan sungkem.


"Ada perlu apa kamu membangunkan ku..?"


"Saya kepingin bisa baca kitab kuning dengan lancar Mbah," jawab Gus Hanan,


"Saya juga kepingin hafal Alfiah juga Nahwu sorof."


"Bukalah mulut mu."


Setelah membuka mulut... Tiba - tiba Mbah Wali Kukun meludahi mulut Gus Hanan.


"Telan ludahnya," kata Mbah Wali Kukun, setelah itu masuk ke dalam makam dan pintu menutup dengan sendirinya.


Setelah Mbah Wali Kukun menghilang... Gus Hanan duduk di teras makam kemudian menyulut rokok danhil.


Sementara...


Sesudah acara tahlil yang terakhir, Panji pamit pergi kepada Syeh Hamdani.


Begitu baru berjalan di atas permukaan air laut, Panji berkata lirih,


"Mengapa aku kok ingin ke makam Mbah Wali Suro ya..?


Terakhir aku ke sana ketika waktu SMA kelas satu, bersama Papa dan Mama juga Hanan adikku.


Oh iya... Bagaimana kabar Hanan adikku, lama sekali aku tidak pernah bertemu, dan lama sekali aku tidak pernah ribut dengan Hanan adikku.


Coba aku lihat, apa dia masih tinggal di pesantren di Surabaya..?"


Setelah menerawang dengan seksama... Panji berkata lirih,


"Ternyata Hanan berada di makam Mbah Wali Kukun Nganjuk. Dia sekarang berada di pondok pesantren Spombob. Lebih baik aku ke sana. Tetapi... Aku akan beli Hp dulu untuk Hanan, mumpung jam 8 sore, Moll masih buka.


Tak lama kemudian,


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...


Loh Kak Panji," seru Hanan kemudian salim mencium tangan Kakak nya.


"Tumben kamu salim dan mencium tangan ku," kata Panji tersenyum.


"Yaa kan akak Panji saudara paling tua..!


Aku pun juga sudah mulai besar dan mulai bisa berfikir agak dewasa, hahahaha!"


"Dewasa..?


Emang kamu sudah punya pacar berapa, bilang dewasa!"


"Baru punya pacar satu akak. Tiyas teman mondokku, adik kelas. Anak seorang kyai di Mojokerto."


"Kalau cantik, ajak kawin lari saja anak kyai itu hahahaha!"


"Mulai mulai...


Ngajak bercanda.


Kakak bawah apa itu di kantong plastik, kok besar sekali," tanya Hanan.


"Ini aku bawakan hadiah untuk mu, Hp baru dan nomer nya sekalian.


Ini aku tadi beli bir dingin 10 kaleng sama kacang dan air aqua dingin, juga rokok danhil kesenangan mu."


"Asiiiik..!


Lama sekali aku gak minum bir bintang kaleng," sahut Hanan kemudian membuka bir kaleng.


***


Sambil menikmati minuman dingin bir kaleng dan kepulan asap rokok, Panji berkata,


"Kok bangunan atap makam dan dinding ukiran kayu jati ini terlihat baru..?


Lantai marmernya juga baru..? Dingin lantai marmer ini."


"Iya Kak, semua juga baru di bangun, dapat 2 harian lah," sahut Hanan.


"Siapa yang bagun makam ini..? Kalau Pak Dhe Danwari tidak mungkinlah, kan Pak Dhe orang nya agak pelit perhitungan sama uang," kata Panji.


"Aku yang bangun semua ini."


"Emang kamu duit dari mana kok bisa bangun sebagus ini..?


Banyak biayanya loh pembangunan makam ini."


"Di kasih Kak Maya uang. Beberapa minggu yang lalu, aku telpon Kakak, mau minta uang. Tetapi yang angkat telpon Kak Maya. Ya sudah aku bilang minta uang.


Eeh... Di transfer 100 juta.


Alhamdulillah...


Tadinya mau aku buat beli mobil, ternyata aku di temui Mbah Wali Cikrak, di suruh bangun makam ini."


"Kamu buat apa mobil..? Tinggal di pesantren kok mau beli mobil


Apa kamu masih senang ikut balapan liar..?"


"Ya buat keluar ke kota, barang kali aku mau belanja apa gitu."


"Terus...


Kalau kamu punya mobil mau di parkir dimana..?"


"Kak...


Di sebelah makam ini, ada tanah milik Papa, tanah warisan dari Kakek.


Itu tanahnya Papa. Yaa... Cukup luas lah. Kalau buat mendirikan 10 rumah cukup kak, malah ada sisa tanah."


"Berarti luas dong tanah warisan itu?"


"Iya luas Kak, tetapi ya gitu, masih rimbun. Banyak pohon kelapa nya."

__ADS_1


Sambil menikmati kepulan asap rokok, diam - diam Panji menerawang masa depan Hanan adikku yang terlihat agak aneh.


Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata dalam hati,


"Ternyata Hanan ini calon seorang kyai Ahli kitab. Dia mendapat titisan dari Mbah Wali Kukun.


Kelak... Dia akan mempunyai banyak santri. Tetapi... Prosesnya ribet. Hanan akan mengalami Majedub. Bisa - bisa dia akan menjadi kyai aneh besok."


"Hanan...


Besok kamu cari orang ya?


Untuk membersihkan ilalang yang rumbut di kebun tanah nya Papa. Pohon kelapa di tebang semua saja," ujar panji.


"Mau di bikin apa Kak..?"


"Kamu nurut saja sama aku.


Kamu bangun rumah untuk tempat tinggal. Terus kamu bangun pendopo dan kamu bangun 10 kamar untuk laki - laki, dan 10 kamar untuk perempuan."


"Emang buat apa 10 kamar untuk laki - laki dan 10 kamar untuk perempuan, " tanya Hanan heran.


"Diam kamu.!! Kan sudah aku bilang nurut saja sama aku."


"Iya iya... Bawel banget! Kaya Mama."


"Kamu bagun rumah di tengah luas tanah itu. Kemudian kamu bangun pendopo yang besar di depan rumah.


Ingat... Bangun yang kuat dan kokoh."


"Baiklah," sahut Hanan,


"Uangnya mana...?"


"Besok aku transfer 300 juta dulu. Kalau kamu ingin mobil gak usah beli. Biar lusa aku suruh orang antar mobil BMW ke sini.x


"Beneran Kakak lusa kirim mobil BMW..?"


"Iya."


"Banyak sekali uang Kak Panji, Emang kerja apaan kamu Kak..?"


"Kerja jadi dukun pijat."


"Hahahaha..!"


"Sudah jam 12 malam.


Kakak mau pulang dulu, Kak Maya sedang menunggu ku pulang."


"Baiklah Kak, salam untuk kak Maya."


Setelah salim dan cium tangan... Panji melangkah pergi.


"Kak..!


Jalannya salah, itu ke arah kebun orang," sahut Hanan kemudian bergegas mengejar Panji Kakak nya.


"Aneh..!


Kak Panji sudah hilang. Punya ilmu apa dia..?"


****


Sambil menikmati kepulan asap rokok... Di bawah sinar bulan purnama, Panji berjalan santai di permukaan air laut Puger kabupaten Jember, menuju ke arah pantai Gerajagan Banyuwangi.


Tiba - tiba air laut terbelah dan sebuah kereta kencana mendekati Panji.


Melihat kereta kencana berhenti di depannya, Panji pun menghentikan langkah kakinya.


"Assalamualaikum Gus...


Rahayu,x sapa Dewi Anjani Ratu pengusaha kerajaan bawah Laut Barat (bangsa jin).


"Waalaikumsalam Nyai Dewi Anjani


Rahayu ugi."


Tanpa banyak bicara, tiba - tiba Dewi Anjani memeluk erat - erat tubuh Panji, tak lama kemudian melepaskan pelukannya.


"Kudu tak dadekno mbok Nom ae," gumam Panji lirih.


"Hehehehe..!"


"Lama gak ketemu, tambah tua tambah cantik dan **** saja dirimu.


Kok tau kamu aku disini. Emang dari mana kamu..?"


"Dari dulu kan juga cantik, masak gak sadar..?


Dari menjenguk Dewi Sambi, kabarnya dia sakit. Ternyata sudah sembuh.


Aku sengaja menunggu mu lewat.


Kata Dewi Sambi... Beberapa hari ini kamu sering berjalan lewat Laut Timur."


"Iya, benar. Karena aku harus menghadiri acara tahlil di makam Syeh Abdul Jalil guru ku."


"Kata Dewi Sambi, nanti siang kamu merayakan pesta pernikahan di desa Siman kecamatan Purwoharjo Banyuwangi..?"


"Iya benar.


Sebenarnya aku sudah menikah, tetapi, pihak keluarga Banyuwangi ingin merayakan saja.


Jadi, tidak ada acara pernikahan. Acara pesta saja.


Kamu hadir ya..?


Jangan lupa kadonya..!"


"Hahahaha..!


Mau kado apa, hayo..?"


"Kado tidur dengan mu sajalah."


"Hemmm, boleh boleh Hahahaha!"


Kamu itu Gus, mau enaknya saja. Setiap wanita cantik di ajak tidur bareng.


Iya, aku akan hadir malam hari saja.


Hemmm... Apa kamu gak ngundang Nyai Roro Kidul..?"


"Malu ngudang Nyai Roro. Kalau kamu mampir ya sampaikan salam undangan ku, tetapi aku gak memaksa hadir."


"Sama Nyai Roro sungkan, tetapi sama aku dan Dewi Sambi gak sungkan. Malah main tabrak saja!


Baiklah, nanti aku akan mampir di istana kerajaan Laut Selatan."


"Kamu gak mau antar aku ke desa Siman Banyuwangi," kata Panji.


"Baiklah baiklah aku antar kamu. Aku juga masih kangen sama kamu.


Ayoo naik ke kereta kencana."


Tak lama kemudian, kereta kencana melesat ke arah pesisir pantai Gerajagan Banyuwangi.


Dalam hitungan menit, kereta kencana pun berhenti di halaman rumah Mbah Kirman.


Setelah turun dari kereta kencana... Dewi Anjani salim dan mencium tangan Panji, kemudian pergi melesat.


"Masih jam 01 dini hari," kata Panji sambil melihat jam Rolex di pergelangan tangan kirinya lalu berjalan masuk rumah.


Ketika membuka pintu kamar, Panji melihat Maya sedang wirid duduk di atas sajadah.


"Mau terus wirid tan, apa mau tidur sama suami," teriak Panji pelan sambil merebahkan badannya di tempat tidur.


"Tidur sama suami," sahut Maya kemudian menghentikan wiridnya.


"Ah Kakak ini ganggu orang wirid saja."


"Masih muda kok wirid lama - lama, apalagi baru menikah.


Nanti kalau sudah agak tua, baru wirid yang lama."


"Hahahaha..!


Kalau sudah tua, gak di ganggu gitu, gak di pakai..?"


"Kakak sudah makan malam," tanya Maya.


"Belum."


"Aku siapkan makan malam. Di dapur banyak orang masak."

__ADS_1


__ADS_2