SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
MANDI PENGUCAP DAN BALAS DENDAM GUS GUGUN


__ADS_3

Setelah duduk di trotoar di bawah pohon... Aini berkata,


"Mas... Emang tiap Malam duduk di sini?"


"Iya. Dari jam 9 Malam sampai subuh," jawab Panji.


"Pak Rudi mengawal yang ganteng.... Tolong Pak Rudi belikan kopi dan coca - cola juga rokok marlboro 2 bungkus," ujar Aini,


"Setelah itu... Pak Rudi duduk di warung pojok saja ya! Aku mau duduk di sini sama teman ku."


"Baiklah Non," kata pengawal kemudian pergi ke warung Pak Win.


"Apa..! Nanti lebaran juga duduk di sini," kata Aini heran.


"Iya," jawab Panji,


"Katanya kamu mau ke Bandung, ke rumah Nenek mu?"


"Iya Mas, Mama ku bilang besok katanya," jawab Aini.


Ketika enak - enak ngobrol... Ada dua satpam mendatangi Panji,


"Assalamualaikum...


Mas... Teman ku Pak Herman, setelah membentak - mbentak Mas lusa waktu di halaman depan hotel... Sekarang sedang okname, rawat inap di rumah sakit. Dia sakit radang tenggorokan.


Atas nama teman rekan kerja... Saya mohon dia di maafkan. Barangkali dengan maaf dari Mas nya... Teman kami bisa sembuh, karena... Besok lebaran dan teman kami sakitnya semakin parah, untuk bicara saja tidak bisa.


Mas kemarin lusa yang menyumpahi teman kami bisu."


Mendengar ucapan salah satu satpam... Panji diam sejenak sambil menghisap rokok, lalu berkata,


"Oh... Dia tidak bisa bicara ya?


Ternyata ucapan ku mandi (manjur) juga, jadi kenyataan."


"Iya Mas, benar," kata salah satu satpam,


"Mohon di maafkan Mas, kasihan istri dan anaknya."


Mendengar pembicaraan satpam dan Panji... Aini berkata dalam hati,


"Auww, ternyata Panji itu hebat juga ya, sakti!


Hanya di katain bisu... Jadi gak bisa ngomong beneran.


Apa Mas Panji duduk di sini sedang menjalani spiritual?"


"Mas Panji, tolong di obati, agar Pak Herman sembuh dan bisa bicara lagi, kasihan istri dan anaknya," ujar Aini.


"Iya Aini, tetapi... Aku sedang berfikir, bagaimana cara mengobatinya," kata Panji,


"Aku kan bukan dukun, atau tabib."


"Ini Mas kopinya dan cola - colanya juga rokoknya," ujar Pak Win sambil meletakkan gelas di trotoar,


"Loh! Tak kira Mbah Dirjo, kok ganti orang di bawah pohon ini," kemudian Pak Win kembali ke warung gerobak.


Melihat ada botol coca - cola... Panji mengambilnya kemudian membuka tutup botol.


Sambil memegang botol coca - cola... Panji bertawasul,


"Dengan keberkahan Nenek Sa'adah dan Mbah wali Dirjo... Semoga Pak Herman sembuh dan bisa bicara, Al Fatihah."


Setelah membaca Al Fatihah... Panji memberikan kepada salah satu satpam sambil berkata,


"Suruh Pak Herman menghabiskan minuman ini, besok pagi pasti sembuh."


"Iya Mas, terimakasih," ujar satpam kemudian ke warung untuk menganti minuman Aini dan membelikan rokok untuk Panji.


***


"Orang itu kalau sakit... Kasihan banget, apalagi punya istri dan anak, dan hidup nya pas - passan atau miskin.


sangat menderita dan tersiksa batinnya," ujar Aini pelan,


"Karena... Dia tidak bisa bekerja dan memikirkan bagaimana dapat menafkahi anak istrinya."


Mendengar perkataan Aini... Panji jadi menyesal dan merasa berdosa sekali, karena telah menyumpahi agar orang sakit.


"Iya Aini, benar apa yang kamu katakan barusan.


Aku memang salah telah menyumpahi orang lain agar sakit," kata Panji,


"Aku kurang sabar menghadapi ujian dari Gusti Allah.


Ternyata... Apa yang aku katakan telah di wujudkan oleh Gusti Allah.


Dalam bahasa jawa itu... Mandi Pangucap."


"Iya Mas Panji.


"Aku bisa berkata begini... Karena aku sudah pernah merasakan sakit parah," ujar Aini,


"Dulu... Aku menyetir mobil sendiri, karena aku ugal - ugalan... Aku mengalami kecelakaan parah, hingga kedua kaki ku lumpuh. Sudah berobat kemana - mana, hingga ke Singapura, Jerman dan America, aku tidak sembuh.


Dalam 9 bulan aku sakir... Aku sangat terhina dan sangat menderita. Aku tak berarti apa - apa, hingga aku ingin mati saja.


Duduk di kursi roda 9 bulan, membuatku sangat tersiksa.


Harta bergelimang, uang ratusan milyar, tidak ada artinya, karena harta dan uang keluarga ku tidak bisa menyembuhkan penyakit ku.


Papa, Mama ku sangat sedih sekali dan bingung setiap melihat ku duduk di kursi roda."


Sambil meneteskan air mata... Aini meneruskan ceritanya,


"Pada suatu malam... Papaku pulang dan memberi ku buah mangga dan berkata,


"Makanlah buah mangga ini, ini obat dari anak sakti penunggu makam keramat di daerah Serang Banten."

__ADS_1


Sebenarnya aku tidak percaya dengan Mistik, atau pengobatan Alternatif, karena Papa ku ingin aku sembuh... Papa ku berusaha siang malam sering mendatangi dukun, juga kyai untuk minta obat buat kesembuhan ku.


Buah mangga itu terpaksa aku makan agar Papa ku tidak kecewa, walau aku sering mendapatkan obat dari dukun dan kyai, tetapi tidak sembuh.


Setelah aku makan habis buah mangga itu... Perut ku sakit dan aku diare berat. Berkali - kali aku pergi ke kamar mandi.


Seluruh tubuh ku terasa sakit semua. Tubuh ku seperti di remas - remas, begitu juga dengan perut ku sangat sakit sekali, seperti di tusuk jarum.


Ketika aku duduk di closed duduk... Aku terjatuh, dengan tidak sadar... Aku berdiri.


Melihat kaki ku bisa berdiri... Aku coba untuk berjalan, begitu aku bisa berjalan... Aku langsung menanggis, karena aku senang, aku bisa berjalan dan tidak lumpuh lagi.


Itulah masa - masa aku sakit dan sangat tersiksa sekali juga putus asa.


Tetapi... Selama sakit, Papa, Mama ku selalu ada di rumah menemaniku. Setelah aku sembuh, Papa. Mama ku jarang pulang, mereka sibuk dengan bisnisnya."


Mendengar cerita Aini... Panji sangat terkejut dan diam.


"Bukankah itu mangga pemberian ku..?


Penjaga makam itu mungkin aku," kata Panji dalam hati,


"Berarti Aini ini putri tunggal Pak Hong shi."


"Siapakah anak sakti penjaga makam itu..? Jadi penasaran aku," tanya Panji.


"Papa ku bilang namanya Ahmad Panji Hening, nama nya kayak nama mu yaa Mas," jawab Aini,


"Aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepada Ahmad Panji Hening.


Habis lebaran nanti... Aku akan ke makam kramat di Serang Banten untuk menemui Ahmad Panji Hening.


Aku ingin mengucapkan terimakasih."


"Iya nama nya sama kayak nama ku," ujar Panji pura - pura tidak tau,


"Iya, kamu harus ke penjaga makam kramat itu, kamu harus mengucapkan terimakasih.


Jangan lupa, kasih Ahmad Panji Hening hadiah yang layak."


"Iya Mas Panji, jawab Aini,


"Sejak aku sembuh... Aku akhirnya sering membaca buku bab ilmu klinik juga membaca buku bab Mistik dan buku biografi orang - orang waskito di pulau jawa juga Novel Suluk Agung Spiderman Al - Jawawi. Makanya aku gak heran, jika Mas Panji mendalami ilmu spiritual."


"Jadi... Kamu mau berteman dengan ku, gara - gara namaku sama dengan penjaga makam ya," tanya Panji.


"Yang jelas... Seperti ada ikatan batin yang sangat kuat, yang mendorong ku ingin berteman dengan mu, juga saat aku menemui mu," ujar Aini,


"Oh iya... Papa, Mama ku tau kalau aku berteman dengan mu. Pengawal ku yang laporan ke Papa."


"Apa kata Papa mu," tanya Panji,


"Oh iya, siapa nama Papa mu?"


"Papa ku namanya Hong Shi," jawab Aini,


"Papa ku bilang di telfon, gak boleh berteman dengan orang sembarangan. Gak boleh main di kos - kossan mu.


"Aini... Ini sudah malam, apa kamu gak pulang istirahat," ujar Panji.


"Nanti saja Mas, aku ingin duduk bersama mu, di sini, duduk di pinggir jalan bersama mu," kata Aini,


"Aku sangat bahagia dan senang."


Di saat ngobrol enak - enak... Tiba - tiba ada mobil mewah berhenti di depan Panji dan Aini.


Setelah membunyikan klakson... Gis Gugun keluar dari dalam mobil lalu mendekati Panji,


"Heee! Panji idiot!!


Mengapa kamu memecahkan kaca mobil ku tadi?


Kata murid Mbah Dirjo... Kamu kos di belakang Hotel ini ya? Kamu pura - pura gila apa gila beneran?"


Mendengar kata - kata Gus Gugun yang tidak sopan... Panji diam saja.


Lalu... Panji mengambil batu di bawah pohon dan dengan cepat melemparkan batu itu hingga mengenai kaca depan.


Praaaak!


Suara kaca pecah mengagetkan beberapa orang yang sedang ngopi di warung gerobak milik Pak Win. Dengan cepat para pengawal Aini lari mendekati Aini untuk melindunginya.


Mengetahui kaca depan mobil nya pecah di lempar batu Panji... Dengan hati yang marah dan emosi, Gus Gugun memukuli kepala Panji bertubi - tubi.


Ketika wajah Panji di pukuli Gus Gugun... Tiba - tiba cincin batu akik Taji Kubro mengeluarkan cahaya merah melingkar melindungi tubuh Panji.


Setelah puas memukuli Panji... Gus Gugun berdiri sambil di peganggi beberapa orang yang sedang ngopi.


Tiba - tiba Panji mengambil batu lagi, dan di lemparkan ke kaca samping.


Praaak!


suara kaca samping mobil pecah, Panji pun tersenyum senang.


Melihat kaca mobil mewahnya pecah lagi... Gus Gugun bertambah marah, berusaha memukuli Panji lagi.


'Stooop, berhenti!!" Bentak Aini,


"Jangan main pukul ya Mas... Makanya jadi orang yang sopan dan jangan sombong.


Datang - datang marah - marah gak jelas."


"Diam kamu perempuan jalang," ujar Gus Gugun,


"Jangan ikut campur urusan ku."


"Berani kamu menyebut ku perempuan jalang..!


Pak Rudi..! Pukul orang itu 10x, pukul mulut nya," kata Aini marah.

__ADS_1


"Siap Non," ujar Pak Rudi pengawal Aini.


Setelah ampun - ampun di pukuli sama dua pengawal Aini... Aini berkata,


"Enak ya? Lebaran di rumah sakit!


Hitung berapa kerugian kerusakan mobil rongsokan mu dan bilang berapa uang yang aku bayar untuk biaya pengobatan!


Pak Rudi..! Parkirkan mobil rongsokan ini ke Hotel, besok bawah ke bengkel keluarga. Dan bawa orang ini ke rumah sakit sekarang juga, kasih pengobatan kelas 1."


"Siap Non, kami akan laksanakan," jawab pengawal Aini.


Setelah gus Gugun di bawa kerumah sakit... Aini berkata,


"Jadi orang sok kaya, seenaknya kalau ngomong."


Sambil melihat wajah Panji... Aini berkata,


"Wajah mu kok gak bengkak atau berdarah Mas?


Aneh! Padahal kamu di pukuli berkali - kali.


Gak sakit Mas?"


"Gak sakit Aini, pukulannya seperti gigitan nyamuk," kata Panji sambil tersenyum.


"Emang kamu kenal sama orang tadi," tanya Aini.


"Tidak, dia tamunya Mbah Dirjo," jawab Panji.


"Mengapa kamu melempar kaca mobilnya hingga pecah," tanya Aini.


"Kepinggin melempar saja," jawab Panji.


***


Malam semakin larut, Aini dan para pengawalnya telah pulang.


Sementara... Panji duduk sendiri bersandar pohon.


Ketika enak - enak menikmati kepulan asap rokok... Panji berkata lirih,


"Bukankah itu orang tampan dan aneh kemarin malam?


Dia mendekati ku lagi.


Siapa sebenarnya orang aneh ini?"


Setelah duduk tak jauh dari Panji... Orang aneh itu berkata,


"Orang yang berdoa itu... Sebenarnya orang yang tidak tau berterimakasih kepada Allah, orang yang tidak bersyukur atas segala pemberian Allah.


Allah itu Dzat yang Maha Memberi Tanpa di Minta.


Seorang bayi dalam kandungan ibunya... Itu sudah di jamin rejekinya.


Dia... Waktu dalam kandungan ibunya hingga dia lahir, tidak pernah berdoa minta apapun kepada Allah, tetapi Allah memberikan rejeki yang tiada putus.


Seorang bayi hingga dia bisa merangkak dan berjalan tertatih - tatih... Di hatinya tidak ada keraguan apa apaun, tidak ada rasa takut dan khawatir sedikit pun.


Tetapi... Begitu bayi itu sudah tumbuh dewasa... Dia mulai Su'udzon kepada Allah, berprasangka buruk kepada Allah, dia meragukan sifat Welas Asih Allah, dan dia khawatir Allah tidak memberi rahmat berupa rejeki oleh Allah.


Oleh sebab itu... Dia berdoa meminta rejeki, meminta pertolongan, meminta apa saja kepada Allah.


Dalam doanya... Orang itu tidak sadar, telah memerintah Allah, telah memaksa Allah untuk mengabulkan segala permitaannya yang di bungkus dengan doa - doanya.


Panji diam tertegun mendengarkan ucapan orang Aneh tersebut.


Setelah menyulut rokok... Orang aneh itu melanjutkan kata - katanya,


"Allah itu adalah Raja di Alam Jagad ini.


Allah itu adalah Dzat yang Maha Kuasa di dalam Jagad Raya ini.


Sedangkan manusia adalah bagian kecil dari makhluk ciptaan-Nya.


Manusia adalah mahluk yang lemah tiada berkuasa di alam Jagad ini.


Apakah pantas kita menyuruh Allah dan memaksa Allah untuk mengabulkan segala permintaan kita yang di bungkus dengan doa...?


Sedangkan segala doa permintaan manusia itu hanya untuk menuruti kesenangan nafsunya..?


Janganlah pernah menjadi Tuhan dan jangan pernah menjadikan Tuhan sebagai pembantu yang bisa di suruh kapan saja.


Diam-lah dalam cinta Tuhan.


Iklas dan bersyukur atas segala takdir kepastian-Nya yang telah di tetapkan atas diri kita."


Setelah selesai berkata... Orang aneh itu pergi tanpa pamit.


"Orang yang berdoa itu hakekatnya orang yang tidak tau berterimakasih dan tidak bersyukur atas segala pemberian Gusti Allah," kata Panji lirih,


"Tetapi mengapa kanjeng Nabi dan para ulama itu berdoa..?


Aaaneh!!! Membingungkan sekali!


Belum tanya sudah pergi?"


Deru suara mobil mewah berhenti tak jauh dari Panji duduk.


Seorang lelaki muda keluar dari mobil mendekati Panji, lalu berkata,


"Pak... Ini ada bingkisan untuk Lebaran, mohon di terima.


Dan ini ada nasi bungkus juga kue untuk santap saur."


"Terimakasih Pak," ujar Panji lirih sambil menerima bingkisan.


Waktu terus berlalu, adzan Subuh pun terdengar berkumandang, dan Panji pun bergegas kembali ke tempat kos - kossan.

__ADS_1


Sesampai di kamar kos... Panji menyalahkan Ac kemudian mandi dan solat Subuh, setelah itu Panji merebahkan badannya di atas kasur busa.


__ADS_2