
Setelah mengambil uang dari Bank Asia... Siang itu, Panji memarkirkan mobil milik Mila di depan rumah di pinggir jalan.
Tak lama kemudian, Altar Mila keluar dari dalam mobil.
"Selamat siang Pak," sapa Mila.
"Siang juga Mbak...
Apa ini Mbak Mila yang mau beli tanah..?"
"Iya Pak."
"Silahkan masuk, silahkan duduk. Saya akan ambil sertifikat dan surat jual beli di dalam. Orang Notaris sebentar lagi juga akan datang kok."
Setelah menandatangani surat jual beli, dengan di saksikan Notaris, dan membayar uang sebesar 600 juta, Panji dan Mila kemudian pergi.
Sambil mengemudi mobil, panji berkata,
"Mila... Besok pagi kamu pergi ke kantor Agraria, kamu balik nama surat sertifikat tanah yang barusan kamu beli, atas nama mu ya."
"Bukankah itu tanah milik Tuan, mengapa sertifikat nya harus atas nama saya, bukan atas nama Tuan..?"
"Aku membelikan untuk mu, jadi harus atas nama mu.
Takutnya... Kalau sewaktu - waktu aku mati, kamu yang menjadi hak kepemilikan tanah itu. Tidak menjadi hak milik keluarga ku."
"Ya Allah... Alhamdulillah.
Terimakasih Tuan, semoga Allah membalas amal kebaikan Tuan, Aamiin.
Tetapi mengapa Tuan membelikan tanah seluas itu..?"
"Aku ingin menjawab doa Bapak, Ibu mu.
Bapak mu berdoa ingin anak - anaknya menjadi orang yang baik dan sukses, hidup bahagia.
Makanya, kamu yang rajin solat.
Wayahe mendem yo mendem wayahe solat yo solat!
Oh iya...
Nanti, tanah yang bagian belakang, kamu bangun kos - kossan. Lumayan tanpa kerja keras, setiap bulan kamu bisa mendapatkan uang sewa.
Itu bisa di bangun kos - kosan 50 kamar kayak nya. Apalagi kalau di tingkat, bisa jadi 100 kamar.
Tanah yang terletak di depan, bisa kamu bikin rumah sederhana, tetapi yang mewah dalamnya.
Lalu... Sebelahnya bisa kamu buat beberapa toko dan kamu bisa menyewakan nya.
Lumayan bisa kamu bangun 20 sampai 30 toko ukuran sedang.
Nanti... Adik - adik mu bisa kuliah di kota Bandung sambil kerja dagang di salah satu ruko kamu."
"Baiklah Tuan, kalau ada uang, nanti akan saya bangun kos - kossan seperti saran Tuan."
"Setelah balik nama... Aku kasih uang untuk mendirikan bangunan.
Mila... Aku turun sini saja, mobilnya kamu bawah ya, kamu istirahat di apartemen boleh, mau kemana terserah kamu."
"Baiklah Tuan."
Setelah turun dari mobil, Panji berjalan di atas trotoar.
Setelah berjalan lumayan jauh di tengah keramain kota, Panji berhenti di depan sebuah toko Elektronik, dan membaca papan bertuliskan,
"Dibutuhkan lowongan pekerjaan sopir."
"Lebih baik aku coba melamar kerja jadi sopir, barangkali di terima," gumam Panji kemudian mendekati satpam penjaga toko yang besar.
"Selamat siang Pak..."
"Selamat siang juga, ada apa ya Mas..?"
"Mau melamar pekerjaan sopir, apa masih ada ya pak lowongan nya?"
"Oh iya iya, Mas langsung saja menemui meneger nya ya, lewat pintu samping itu Mas."
"Baiklah Pak, terimakasih," jawab Panji kemudian berjalan menuju kantor menajernya.
"Selamat siang Pak..."
"Selamat siang juga, silahkan masuk Mas...
Ada keperluan apa..?"
"Mau melamar pekerjaan sopir Pak."
"Oh gitu, Mas tulis biodata disini ya...
Jangan lupa foto copy ktp dan sim nya. Di sebelah ada toko foto copy."
Setelah fotocopy dan mengisi formulir biodata... Meneger berkata,
"Mulai besok senin... Mas Panji kerja masuk jam 9 dan pulang jam 3 sore. Sif dua, jam 3 sore hingga jam 10 malam.
Tugas Mas Panji mengantar kan pesanan barang Elektronik ke alamat rumah para pembeli.
Kalau barangnya ringan dan sedikit, Mas Panji sendirian. Kalau barangnya banyak dan berat, Mas Panji nanti di bantu 2 orang.
Bayaran bisa di ambil setiap hari, atau seminggu sekali juga bisa di ambil sebulan sekali."
"Baiklah Pak manajer, terimakasih banyak atas kebaikan nya."
"Sama - sama Mas Panji, semoga betah dan sukses."
Setelah keluar dari toko Elektronik, Panji naik ojek.
"Mau kemana Mas..?"
"Mau ke Hotel Hening."
"Baiklah, ongkosnya 700 mau gak?"
"Boleh."
Tak lama kemudian...
Panji turun dari motor ojek. Setelah membayar ongkos ojek, Panji berjalan menuju halaman Hotel.
Begitu sampai di depan pos keamanan... Salah satu penjaga melihat Panji yang berpakaian lusuh, lalu berkata,
"Permisi Mas, hendak kemana..?"
"Mau kerja Pak, di cafe Dodo."
"Oh iya iya, silahkan."
Begitu berada di depan pintu masuk, seorang perempuan cantik menyapa,
"Selamat sore Tuan...
Bisa di bantu..?"
"Mbak... Hotel ini kok rame sekali?"
"Iya Tuan, lagi ada acara seminar dan ada juga acara ulang tahun."
"Apa setiap hari Hotel Hening ini rame, banyak pengunjung yang menginap..?"
"Iya Tuan, Hotel Hening ini sangat rame sekali. Hotel ini salah satu hotel bintang 5 yang cukup rame di kota Bandung."
"Terimakasih ya Mbak, atas pelayanan nya," kata Panji kemudian pergi ke resepsionis hotel.
"Selamat sore Mbak..."
"Selamat sore Tuan. Ada yang bisa saya bantu..?"
"Saya ingin memesan kamar presidential suit."
Mendengar permintaan Panji... Resepsionis agak ragu, karena melihat penampilan Panji mengenakan sandal jepit, celana kumal warna biru dongker dan kaos putih lusuh bertuliskan,
"Istri 4 hamil semua."
"Maaf Tuan...
Kamar presidential suit perhari nya 400 ribu."
"Mahal sekali..!
Apa gak bisa kurang..?"
Barangkali 100 ribu."
"Tidak boleh Tuan, harga sewa kamar sudah di tentukan pihak hotel.
Kalau 100 ribu, juga ada, kalau Tuan mau."
"Apa fasilitasnya di kamar presidential suit di hotel ini..?"
"Kopi dan teh juga sarapan pagi Tuan.
Brankas untuk menyimpan dokumen dan surat penting berharga.
Ada kolam renang pribadi. Internet 24 jam, juga 2 Tv parabola.
3 kamar tidur dan 3 kamar mandi, ruang tamu beserta kamar mandi, ruang makan juga dapur, dan banyak lagi Tuan.
Bisa di huni 6 orang dan 4 anak - anak."
"Ada dapur buat masaknya...?
Apa lengkap peralatan dapurnya..?"
"Lengkap Tuan.
Hampir semua peralatan dapur mengunakan elektronik Tuan."
"Ya sudah kalau begitu, aku hanya tanya saja.
Terimakasih mau menjawab pertanyaan ku," ujar Panji lalu pergi ke cafe Dodo.
"Kurang ajar..!
Aku di kerjaain sama gembel itu.
Ngak ada kerjaan apa..?"
"Hehehe," teman resepsionis yang duduk di sebelah nya tertawa terpingkal - pingkal mendengar temannya di prank sama Panji.
"Selamat sore Tuan...
Tuan mau pesan apa..?"
"Pesan kopi india."
"Baiklah Tuan."
Sambi menunggu pesanan... Panji memencet no telpon Devi.
__ADS_1
Setelah tersambung,
"Devi, kamu di mana..?"
"Ada di cafe Hotel Hening Bandung Mas.
Ada apa..! Apa minta pijat?"
"Tau saja kamu itu."
"Ya tau lah, kan sudah hafal."
"Aku ada di cafe mu sekarang."
"Iya Mas, tunggu sebentar."
"Selamat sore Tuan Godfather," sapa Devi,
"Salim dulu cium tangan dulu."
"Tambah cantik saja kamu, tambah sexy."
"Hemmm,
Percuma cantik dan sexy, kalau kamu gak mau sama aku."
"Sudah punya pacar apa belum..?"
"Sudah, anaknya presiden pejabat kota Bandung."
"Auw!
Keren sekali pacar mu, anak pejabat."
"Keren apanya...
Dia biasa - biasa saja. Dia kaya juga karena warisan orang tuanya.
Bisanya cuma foya - foya menghambur - hamburkan uang orang tuanya.
Apalagi dia berteman dengan anak pejabat papan atas Negri ini.
Kebetulan aku ketemu kamu di sini, aku lagi menghadapi masalah serius nieh Mas."
"Ini Tuan, kopi nya."
"Sandy... Ambilkan 2 bungkus rokok marlboro untuk Tuan Panji."
"Baiklah Bos."
Setelah menyeruput kopi dan menyulut rokok, Panji berkata,
"Masalah apa, kok kelihatan serius sekali?"
"Beberapa bulan yang lalu... Hilmi anak pejabat nginap di hotel ini.
Pada sore hari, dia ngopi di cafe Dodo milik ku.
Kebetulan... Waktu bayar, aku yang melayani. Eeh, besoknya datang lagi dan naksir sama aku.
Anak buahnya mengancam ku, kalau berani menolak jalan - jalan dangan nya.
Akhirnya... Terpaksa aku mau di ajak jalan - jalan, karena aku takut usaha ku di bikin bangkrut dan dia akan menyakiti ku."
"Oh gitu masalahnya...
Nanti biar sekretaris Novi yang menyelesaikan masalah mu.
Kamu SMS no telponnya Hilmi."
"Baiklah Mas.
Nanti... Jam 7 ini dia kesini. Tadi, anak buah ku yang bilang."
Melihat meneger Gunawan berjalan, Panji menyapa,
"Menejer Gunawan..!"
"Selamat sore Tuan Panji
Ada yang bisa saya bantu untuk Tuan..?"
"Antar aku ke kamar ku.
Devi, ayoo ikut aku."
"Baiklah Tuan Godfather, mari ikuti saya," ucap Pak Gunawan,
"Oh iya... Sewaktu waktu Tuan ingin istirahat di hotel Hening, Tuan tinggal ambil kunci kamar di Resepsionis.
Tinggal Tuan sebutkan nama Tuan."
"Baiklah."
"Nona Resepsionis..."
"Iya Pak Manajer..."
"Tolong ambilkan kunci kamar Tuan Ahmad Panji Hening."
"Baiklah Pak.
Ini pak," ujar Mbak resepsionis sambil terkejut melihat wajah Panji.
Setelah Panji dan menejer Gunawan pergi... Mbak resepsionis itu berkata lirih,
"Ini Tuan, silahkan masuk, selamat beristirahat."
"Pak Gunawan...
Apa ada tempat kosong untuk membuka restoran khas Sunda..?x
"Ada Tuan, tetapi di sebelah Hotel di lantai bawah. Tetapi, itu lahan kosong bekas parkir motor karyawan."
"Apa kira - kira rame jika buka restoran khas masakan Sunda di Hotel ini..?"
"Pasti rame Tuan, karena... Karyawan hotel ini rata - rata orang srunda.
Jika di hotel ini ada restoran masakan khas Sunda... Maka pegawai hotel tidak akan makan siang di luar, asal harganya terjangkau.
Banyak juga tamu hotel yang menanyakan makanan khas Sunda.
Karena, restoran hotel hanya menyediakan masakan nasional dan internasional kelas atas saja."
"Baiklah, Pak Gunawan silahkan pulang.
Besok saja kita ngobrol lagi.
Oh iya... Aku ingin makan malam di kamar Jam 7 malam."
"Baiklah Tuan, akan segera saya suruh orang untuk mengantarkan nya.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah solat Magrib berjamaah dengan Devi... Panji renang di kolam renang pribadi.
Sambil berendam di air kolam renang, Devi berkata,
"Baru kali ini aku masuk kamar Hotel presidential suit. Sungguh sangat mewah sekali, ada kolam renang pribadi.
Ada dapurnya juga.
Ternyata enak juga jadi Bos kaya raya itu."
"Sama saja Devi.
Kaya dan miskin itu hakekatnya sama. Kaya ya ujian, miskin juga ujian.
Yang kaya belum tentu bahagia, dan yang miskin belum tentu menderita.
Enak gak Elenak, itu tergantung bagaimana cara kita mensyukuri nikmat pemberianNya.
Sawang pinawang.
Titik di gawe cukup yo cukup, akeh di gawe kurang yo kurang.
Kamu lihat aku hidup enak kan..? Punya Hotel, bisa tidur di kamar presidential suit dengan tarif 400 ribu. Renang kayak gini. Makan masakan hotel bintang 5.
Kelihatannya enak, tetapi... Hutang ku ini kalau gak salah 14 Trilyun."
"Gitu ya Mas...?
Aku punya hutang di bank saja 1 Milyar, bingung bayarnya. Apalagi 14 Trilyun."
"Jadi... Aku ini ibaratnya berjudi. Karena aku beli Hotel ini berspekulasi.
Kalau bisa melunasi hutang, yaa hotel ini menjadi milik ku. Kalau di sita bank, yaa nasib ku, apes. Hotel jadi milik bank.
Mumpung belum di sita Bank, aku nikmati saja saat ini. Lagian aku jarang banget ke hotel Hening.
Karena, bisnis dan kekayaan bukan tujuan hidup ku. Hanya alat bagiku."
"Lalu... Tujuan Mas Panji memiliki banyak usaha untuk apa..?"
"Untuk membantu sesama, untuk menyenangkan orang - orang kesusahan. Untuk amal sedekah ku. khususnya orang yang pantas di bantu.
Dengan banyak nya usaha... Aku bisa membantu mensejahterakan para karyawan.
Karyawan menerima uang bayaran, bisa menyekolahkan anak - anaknya. Bisa mengirim uang anaknya yang di pesantren. Bisa beli susu untuk anak bayi nya. Mereka bisa bahagia di meja makan dengan keluarga nya.
Dengan memiliki perkerjaan... Mereka punya penghasilan, lalu ibadah nya pun juga tenang."
"Begitu ya Mas...
Kalau begitu, akan aku contoh prinsip mu."
Ting Tung..!
Suara bel kamar berbunyi.
"Devi... Ada tamu, kamu buka pintu kamarnya."
"Baiklah Mas," jawab Devi kemudian pergi.
Selamat malam Nona...
Ini pesanan makan malam untuk Tuan Panji."
"Baiklah, bawa saja ke taman kolam renang ya."
"Baiklah Non."
Setelah pelayan pergi, Devi berkata,
"Mas... Nakan malam dulu.
Ini ada menu kesukaan mu, udang goreng saus dan rendang daging sapi muda, juga ikan salmon.x
__ADS_1
"Baiklah."
Setelah menikmati makan malam, Panji melaksanakan solat Isak berjamaah.
Selesai solat, Panji menyulut rokok kemudian merebahkan badan di tempat tidur.
"Devi... Biasa, pijitin kaki ku."
"Siap..!"
Sambil memijat kaki panji, Devi berkata,
"Mas... Aku punya sedikit masalah."
"Masalah apa..?"
"Ada anak pejabat suka sama aku, tetapi, aku gak suka sama dia.
Masalah nya, dia ngejar - ngejar aku terus.
Bahkan dia mengancam ku kalau aku menolak cinta nya."
"Siapa cowok itu..?"
"Dia bernama Hilmi, pengusaha kayu. Dia juga anak seorang pejabat berpengaruh di kota Bandung.
Yang jadi masalah, dia sudah punya istri dan punya 1 anak masih TK.
Dia si Hilmi juga mengancam ku."
"Mengancam bagaimana..?"
"Dia akan merusak wajah ku dengan menyiram air keras.
Makanya aku bingung, karena aku usaha cafe di Bandung, jadi terganggu, tidak nyaman."
"Gampang masalah itu."
"Gampang gimana..?"
"Kamu kan anggota organisasi The Bluss... Kamu juga bayar iuran keamanan.
Kamu telpon saja ketuanya, lalu minta perlindungan, kan beres.
Nanti, ketua organisasi The Bluss akan membantu mu."
"Aku tidak kenal sama ketua organisasi The Bluss yang baru. Katanya sulit di temui.
Kalau ketua yang lama, Non Lady, aku tau. Aku juga punya no telponnya."
"Kamu telpon saja Non Lady, tanya siapa ketua organisasi The Bluss yang baru, jangan lupa minta no telponnya," ujar Panji sambil tersenyum.
"Iya ya... Bener juga kata mu.
Sebentar aku telpon Lady dulu," ujar Devi kemudian memencet no telpon.
Setelah tersambung,
"Selamat Malam Lady...x
"Malam juga bos Devi...
Tumben, lama sekali gak telpon."
xIya Non, lagi sibuk.
Aku mau tanya... Siapa ketua organisasi The Bluss yang baru..?"
"Loh, belum tau kah..?"
"Lupa aku Non."
"Namanya Ahmad Panji Hening, panggilannya Godfather.
Kabar terakhir yang aku dengar, Godfather berada di kota Bandung.
Tetapi, sepertinya sulit untuk menemui Godfather.
Karena, dia kayak siluman."
"Hahahaha...!
Baiklah Non Lady, terimakasih informasi nya," ujar Devi kemudian menutup telponnya,
"Kurang ajar Godfather itu, aku kena prank.
Sempat - sempatnya ngerjain aku."
"Sudah telponnya..?
Siapa ketua organisasi The Bluss..?"
"Kurang ajar kamu Mas, mentang - mentang aku lupa, kamu kerjain aku.
Kamu lah ketuanya, baru ingat aku."
"Hahahahaha..!"
"Teruskan kalau tertawa..!
Senang ya dirimu..?"
"Hahahahaha," Panji tertawa terpingkal - pingkal.
"Baiklah baiklah, masalah mu ini, biar sekretaris Novi yang menanganinya.
Sebentar, aku telpon dulu orang nya. Dia juga nginap di hotel ini kok.
Setelah terhubung,
"Selamat malam Godfather..."
"Malam juga Novi.
Temui aku di presidential suit room, hotel Hening lantai paling atas. Kamar no 9.
Ajak sekalian Naga Barat."
"Baiklah Godfather."
Tak lama kemudian di kamar Panji.
"Sekretaris Novi... Kenalkan, ini Bos Devi.
Dia adalah anggota organisasi The Bluss kalangan atas. Dia juga rutin membayar iuran keamanan setiap bulannya," ujar Panji,
"Sekarang... Bos Devi terganggu usahanya di kota Bandung.
Jadi, tolong kamu selesai kan masalah Bos Devi."
Setelah mendengarkan cerita awal permasalahan, Devi memberi no telpon Hilmi.
"Baiklah Godfather," jawab sekretaris Novi.
Malam ini juga... Akan saya selesaikan masalah ini.
Kalau begitu, saya permisi dulu Godfather."
"Baiklah Novi.
Naga Barat... Usahakan, jangan sampai korban jiwa."
"Baiklah Godfather."
Setelah mendapatkan pesan informasi alamat rumah Hilmi, dari Direktur Youri... Sekretaris Novi dan Naga Barat beserta 10 anggota inti meluncur ke rumah pengusaha Hilmi, yang berada di perumahan Elit.
Tak lama kemudian, 3 mobil mewah parkir di depan rumah Hilmi.
Setelah keluar dari dalam mobil, Sekretaris Novi berkata,
"Kalian tetap di dalam mobil, biar aku sendiri yang menemui Tuan Hilmi."
"Baiklah sekretaris."
Dengan wajah cantik dan tubuh ****, Sekretaris Novi menyelipkan senjata api peredam suara di balik baju mewah nya.
"Selamat malam...
Apa Tuan Hilmi ada..?"
"Apakah Nona sudah membuat janji malam ini..?"
"Sudah Pak."
"Baiklah, akan aku tanyakan dulu.
Dengan siapa..?"
"Nona Devi," jawab Novi berbohong.
Tak lama kemudian,
"Silahkan masuk Non Devi, Tuan Hilmi menunggu di teras depan rumah."
"Baiklah Pak, terimakasih."
Setelah berada di teras rumah mewah, Tuan Hilmi terkejut, lalu berkata,
"Siapa kamu..!"
Mengaku sebagai Devi.
"Aku kesini untuk menyelesaikan masalah Nona Devi, karena, Nona Devi dalam perlindungan kami.
Jadi... Saya harap Tuan Hilmi untuk jangan menganggu Nona Devi, dengan mengancam akan menyiram air keras ke wajah Nona Devi.
Jika Tuan Hilmi masih menganggu Nona Devi... Jangan salahkan kami jika berbuat kejam kepada Tuan sekeluarga."
"Hahahahaha..!
Berani sekali kamu mengancam ku. Memangnya siapa kamu ha..!"
"Tuan tidak usah marah - marah.
Ingatlah, ancaman ku sangat serius.
Walau Tuan di lindungi banyak pengawal, dan Tuan anak seorang pejabat, tidak sulit bagiku untuk berbuat kejam kepada Tuan sekeluarga.
Malam ini pun, aku bisa saja membunuh mu.
Ingat baik - baik kata - kata ku.
Selamat malam."
"Kurang ajar..!
Berani sekali perempuan itu.
Siapa dia sebenarnya..? Ancaman nya tidak main - main," ujar Hilmi lirih.
__ADS_1