
Setelah naik angkutan umum... Panji turun di perempatan Kramatwatu. Panji pun melihat sebuah rumah makan persis seperti apa yang di katakan Nyai Sa'adah.
Setelah masuk Panji duduk di pojok ruangan, lalu memesan segelas jus apucat.
Sambil menunggu minum... Panji membaca tulisan di papan samping tembok rumah makan,
"Rumah makan dan Losmen Batu Hiu," kata Panji pelan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan menaruh jus apucat di meja sambil berkata,
"Silahkan Mas."
"Mas... Apakah di sebelah rumah makan ini Losmen?" tanya Panji.
"Iya Mas Losmen Batu Hiu, dan ini juga rumah makan milik Losmen Batu Hiu," ujar pelayan rumah makan.
"Berapa uang kalau nginap 24 jam?" tanya Panji.
"Kalau 24 jam 5 ribu mas, kalau semalam 3 ribu," jawab pelayanan,
"Ful Ac, Tv dan kulkas dan sarapan pagi."
"Mas bisa pesankan satu kamar? Kalau bisa di pojok ya," tanya Panji,
"Ini kartu pelajaran saya tapi SMP."
"Bisa Mas, tunggu sebentar ya," kata sang pelayan kemudian bergegas pergi.
Tak lama kemudian,
"Ini Mas kuncinya, kamar No 10 paling ujung."
"Terimakasih Mas, ini buat Masnya," kata Panji sambil memberi uang tips.
Kemudian Panji beranjak pergi menuju Losmen.
Setelah berada di dalam kamar, Panji merebahkan badannya untuk istirahat tudur.
Sementara... Di pondok pesantren Meteor Garden, teman karib Panji saling bertanya dan merasa kehilangan, begitupun dengan para santri senior.
Gosib berita Panji keluar pergi dari pondok pesantren sudah terdengar hingga ke pondok putri juga ke pondok Arrohman.
Setelah solat Magrib... Bela yang duduk menghadap lampu belajar, tak terasa meneteskan air mata. Bela pun tidak sekolah Diniyah lagi karena malu di gosibkan penyebab Panji pergi dari pesantren.
Sambil meneteskan air mata, Bela berkata lirih,
"Setelah kau pergi... Kini baru kusadari, dirimu sangat berarti untuk ku."
***
Setelah Isak jam 19:00 Panji terbagun dari tidur, setelah mandi Panji pergi ke sebuah toko baju untuk membeli beberapa setel pakaian dan sarung. Setelah itu Panji ke rumah makan Losmen.
Ketika menikmati makan malam... Tiba - tiba Panji di kejutkan dengan suara seorang laki - laki,
"Assalamualaikum kang Panji."
"Waalaikumsalam Pak Haji," ucap Panji,
"Monggo makan Pak Haji."
"Iya kang Panji, silahkan, ini juga sudah pesan," ucap Pak Haji,
"Aku duduk di depan mu yaa."
"Silahkan Pak Haji," kata Panji sambil mengunyah nasi.
"Kang Panji malam - malam kok berada di sini?!! Kok tidak di pondok pesantren," tanya Pak Haji heran.
__ADS_1
"Saya tadi siang berhenti mondok Pak Haji... Sekarang saya lagi menginap tidur di losmen Batu Hiu ini," ujar Panji.
"Mengapa kamu berhenti mondok kang?" tanya Pak Haji.
"Karena saya di tuduh pacaran Pak Kyai, dari pada Kyai nya malu, lebih baik aku berhenti mondok," ucap Panji santai,
"Pak Haji mau kemana?"
"Oh... Begitu," kata Pak Haji pelan,
"Saya mau ke Makam Syeh Hasan Al Marini Kang... Bisnis Pak Haji lagi mengalami masalah, sepertinya mau bangkrut, dan Pak Haji juga harus bayar hutang di Bank ratusan juta. Makanya Pak Haji mau riyadho untuk memohon petunjuk... Ini tadi mampir makan dulu."
"Iya Pak Haji," ucap Panji,
"Mengapa kok tidak minta tolong sama Kyai Nuruddin...?
Maksudnya minta barokah doa sang Kyai."
"Sudah kang, tapi tetap saja tidak ada perubahan sama sekali," ucap Pak Haji.
"Kalau tidak ada perubahan, berarti doa sang Kyai tidak ampuh Pak Haji. Kalau Ampuh... Pasti doa Pak Kyai itu di kabulkan, dan masalah Pak Haji cepat terselesaikan dengan cepat dan baik," ujar Panji,
"Kadang... Dengan selembar amplop berisi uang, tamu itu berharap doa dari seorang Kyai, tapi... Kalau doa seorang Kyai itu tidak ampuh... Tidak bisa menyelesaikan masalah tamunya, itu akan menjadi masalah hati."
Mendengarkan ucapan Panji... Pak Haji sangat terkejut dan diam, lalu berkata dalam hati,
"Kata - kata kang Panji ini sangat tajam sekali! Sebuah ucapan yang jujur apa adanya. Walau usianya remaja... Kang Panji ini sangat pintar sekali. Memang benar apa yang di ucapkan Panji, kadang sebuah kejujuran kadang menyakitkan."
"Kang Panji... Bukankah doa itu hanya sebuah usaha? Masalah di kabulkan atau tidak, itu urusan Allah, dan waktu kapan doa itu di kabulkan... Itu juga urusan Allah?!!" kata Pak Haji.
"Doa itu bukan usaha Pak Haji... Doa itu bagian dari ibadah Dan ibadah itu harus butuh kepastian bukan keyakinan? Jika doa kita yakin di kabulkan... Maka siap - sipalah kita kecewa sama Gusti Allah, jika pada kenyataannya doa kita tidak terkabulkan," kata Panji,
"Coba Pak Haji berfikir sejenak, jika saya yakin 5+5 itu \= 12, apakah keyakinan saya benar...? Salah kan keyakinan saya?
Begitu pun dengan orang berdoa yang di penuhi rasa keyakinan! Sebelum berdoa... Kita harus tau kepastiannya, doa kita di kabulkan apa tidak?
Memang semua itu Allah yang mengabulkan hajat manusia, tapi manusia harus sadar diri.
Gusti Allah itu Dzat yang Maha Memberi Tanpa di Minta."
"Bagaimana caranya tanpa berdoa meminta sama Allah, tapi segala macam hajat kita di kabulkan dan di wujudkan oleh Allah," tanya Pak Haji.
"Istiqomah Pak Haji... Ikhlas dalam ibadah bersyukur atas segala pemberian-Nya dan sabar menjalani segala ujian-Nya," jawab Panji,
"Jangan saat kita susah, kita butuh, kita bangkrut, lalu ingat sama Gusti Allah, lalu riyadho solat malam dan wirid."
"Iya kang, benar apa yang kamu katakan. Selama ini saya tidak istiqomah, kurang iklas dan tidak bersyukur, selalu kurang," ucap Pak Haji,
"Yang ada dalam hati dan pikiran saya hanya kerja dan uang! Gelar Haji hanya sebuah topeng saja. Kini... Di saat saya di ambang kebangkrutan... Saya baru ingat sama Allah, baru mau solat malam dan riyadho di makam wali.
Lalu... Bagaimana ini kang Panji solusinya...? Mobil saya ini pun BPKB nya sudah saya jaminkan di Bank! Sertifikat rumah juga saya pakai jaminan di Bank. Jika bulan depan tidak bisa bayar... Maka mobil dan rumah Pak Haji akan di sita."
"Solusinya besok ya Pak Haji... Sekarang saya tidak punya solusi apa - apa," jawab Panji kemudian berjalan ke kasir membayar makannya juga makannya Pak Haji.
"Pak Haji... Saya ijin mau masuk ke kamar dulu ya... Semua makanan sudah saya bayar. Assalamualaikum," ucap Panji lalu pergi.
"Terimakasih kang Panji... Waalaikumsalam," jawab Pak Haji kemudian berkata lirih,
"Dari mana kang Panji mempunyai banyak uang? Dia bisa tudur menginap di Losmen yang lumayan mahal, juga makan di rumah makan ini? Bahkan dia juga yang membayar makanan ku! Aneh...!"
***
Setelah ganti celana jean biru dan kaos bertuliskan "Kalah Duit Menang Wirid, Kalah Rupo Menang Dupo", jam 9 Malam Panji keluar losmen dengan sarung di sampirkan di leher. Setelah berdiri di depan halaman Losmen, Panji maik ojek yang mangkal di sekitar perempuan dekat Losmen.
Motor pun melaju ke arah kota Serang.
"Mau ke mana Kang," tanya tukang ojek perempatan.
__ADS_1
"Ke desa Pelamunan Kang, nanti ikuti arah dari ku," kata Panji.
Tak lama kemudian... Sampailah di depan gerbang makam Mbah Wali Jabat.
"Ini makam siapa Kang...? Kok remang - remang, menakutkan sekali," kata tukang ojek perempatan.
"Ini Kang ongkosnya," kata Panji,
"Siapa namanya Akang ini? Kalau mau... Saya jadikan langanan ya? Ngantar saya keluar pergi kemana - mana."
"Panggil saja kang Mumun. Iya Kang, mau - mau, siap 24 jam pokok nya. Kalau Akang siapa namanya?"
Panggil saja Kang Panji, aku nginap di losmen Batu Hiu kamar No 10 paling ujung."
"Siap Kang Panji! Alhamdulillah punya langganan baru," kata Kang Mumun,
"Kalau begitu saya balik dulu ya Kang... Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian masuk ke area makam. Setelah itu Panji duduk di pojok bersandar tiang kayu penyangga.
Setelah menyulut rokok... Panji berkata lirih,
"Mengapa ya Nenek Sa'adah menyuruh ku untuk tinggal di kecamatan Kramatwatu selama 100 hari?!!
Ada apa ya...? Oh iya... Kasihan Pak Haji Ayahnya Irmala, bisnisnya di ambang kebangkrutan. Tak bisa ku bayangkan, seandainya rumah mewah dan mobil mewahnya di sita pihak Bank? "Bisa tidur di pasar pakai bantal Gubis." Kasihan Irmala nya, gadis cantik dan pintar pasti berhenti mondoknya jika Ayahnya jatuh miskin."
"Assalamualaikum Gus," ucap Nyai Sa'adah tiba - tiba.
"Waalaikumsalam Nek... Bikin kaget saja Nenek ini."
Setelah sungkem mencium tangan Nyai Sa'adah... Panji bekata,
"Nek, bawah apa ini di talam?"
Sambil duduk lalu meletakkan talam di lantai, Nyai Sa'adah berkata,
"Ini ada kopi hitam Gus, juga air putih, sukun goreng dan pisang goreng kesukaan mu... Ayoo di makan sambil ngobrol sama Nenek."
"Oh iya Nek, mengapa Nenek menyuruh ku tinggal di sini selama 100 hari," tanya Panji.
"Kakek Jabat mau mengajari mu beberapa ilmu kapada mu Gus, katanya untuk kenang - kenangan," jawab Nyai Sa'adah,
"Jadi... Usahakan setiap malam jam 11 kamu berada di makam ini."
"Oh gitu ya Nek," kata Panji sambil makan pisang goreng hangat,
"Nek, ini amplop apa?"
"Ini uang untuk mu Gus, untuk bayar sewa kamar dan untuk kebutuhan sehari - hari," ucap Nyai Sa'adah.
"Terimakasih ya Nek uangnya... Tetapi Panji masih punya uang banyak di Bank. Uang ini untuk Nenek saja."
"Pakailah Gus uang ini, Nenek ingin memberi mu uang, mumpung kamu di sini," kata Nenek Sa'adah.
"Baiklah Nek, terimakasih kalau begitu. Nek, bagaimana caranya orang yang usahanya di ambang ke bangkrutan supaya tidak jadi bangkrut? Supaya bertambah sukses," tanya Panji.
"Kalau dia orang islam... Dia harus mengamalkan Sholawat Nariyah, dia harus istiqomah mendawamkan Sholawat Nariyah setelah solat 5 waktu," kata Nyai Sa'adah.
"Bagaimana caranya mengamalkan Sholawat Nariyah dan untuk apa harus membaca Sholawat Nariyah," tanya Panji.
"Fadilah Sholawat Nariyah itu amalan untuk mendatangkan uang atau harta kekayaan," kata Nyai Sa'adah,
"Caranya... Harus di amalkan, di baca setiap habis solat hajat di malam hari sebanyak 100x Dan setelah bakda solat 5 waktu, cukup di baca 11x Lalu di tambah wirid Hasbullah Wani'mal Wakil Ni'mamaula wani'man Nasir 11x. Untuk mengawalinya... Itu harus di baca selama 40 hari tanpa putus."
"Berarti... Orang yang baca Sholawat Nariyah itu tidak ikhlas ya Nek? Karena orang itu mengharapkan imbalan dari Gusti Allah, berupa harta kekayaan," kata Panji.
"Iya Gus, kamu benar... Banyak orang menyalah artikan dan menyalah gunakan amalan sholawat," ucap Nyai Sa'adah,
"Yang sebenarnya... Bacaan sholawat itu di hadiahkan secara tulus dan iklas kepada junjungan kita Baginda Besar Nabi Muhammad Saw."
__ADS_1
"Berarti orang yang membaca sholawat kalau ada pamrihnya... Di alam kubur dan alam akhirat kelak, dia tidak akan mendapatkan syafa'at dari kanjeng Nabi ya Nek? Karena... Syafa'at telah di berikan di masa hidupnya di alam dunia," ujar Panji.
"Iya Gus, benar sekali," kata Nyai Sa'adah.