SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
USTAD DANI DAN GUSTI ALLAH MAHA PROSES


__ADS_3

"Baiklah Wilda, ambillah uang ini. Sekarang daftarlah di 3 tempat Les private yang kemarin lusa aku tunjukkan," ujar Panji,


"Belilah buku juga tas dan peralatan belajar lainnya.


Mumpung ini masih sore, keburu tutup, dan besok kamu bisa mulai belajar."


"Baiklah Panji," ucap Wilda kemudian bergegas pergi,


"Terimakasih banyak yaa... Atas perhatian dan dukungannya."


"Sama Wilda, semangat yaa," kata Panji.


"Da daaa," ucap Wilda sambil melambaikan tangan kanannya.


Setelah Wilda pergi... Panji keluar kamar dan menemui Dewi tetangga kosnya,


"Mbak Dewi, di sekitar gang sini apa ada seorang ustadz yang bisa mengajar ngaji private? Mau di panggil ke kos - kossan?"


"Mas Panji ganteng, mau belajar ngaji ya Al qur'an yaa? Banyak sih di Jakarta ini ustadz ngajar private," jawab Dewi,


"Setauku di gang sebelah deh, ada ustadz Namanya Dani, orang Tanggerang. Kayaknya dia juga ngajar private di kos belakang ini.""


"Mbak Dewi mau, antar Panji ke rumah Ustadz Dani?" ujar Panji.


"Boleh, buat Mas Panji apa saja siap! Hahahaha.


Tak ganti celana dulu ya say, masak ke rumah ustadz pakar celana pendek, bisa gak konsentrasi entar ustadnya, hahaha," kata Dewi.


"Iya buruan," ujar Panji,


"Repot punya tetangga kos model gini, kayak gitarnya Bang Roma Irama."


"Ayoo ganteng," ajak Dewi.


Tak lama setelah sampai di depan pagar rumah ustadz Dani... Dewi uluk salam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab ustadz Dani,


"Silahkan masuk."


Setelah duduk di teras... Panji mengutarakan maksudnya, dan ustadz Dani pun menyanggupi ngaji private baca Al qur'an jam 4:30 sehabis solat Asar.


Setelah kembali di kos - kossan... Panji pun duduk di kursi meja belajar, sambil membaca kitab Fikih Fathul Qorib.


Waktu terus berlalu, tak terasa sudah jam 12 Malam Panji membaca kitab terjemah.


"Malam Mas Panji," sapa Eka tetangga kosnya.


"Malam juga Mbak Eka," jawab Panji,


"Silahkan masuk."


"Kok gak di tutup pintunya," ujar Eka.


"Ini lagi merokok Mbak, biar asapnya bisa keluar dan ada udara masuk," kata Panji.


"Ini Eka bawain kopi hitam Amerika dari Hotel Atlanta," ujar Eka kemudian menuangkan ke dalam gelas,


"Ini Mas Panji ganteng, silahkan di sruput, biar enak baca bukunya."


"Siaaap!!" jawab Panji kemudian menyeruput kopi,


"Hemm enak kali kopi nya."


"Kasur busanya baru yaa? Aduh, empuk sekali.


Eka tidur sini ya?"


"Tidur aja Mbak, bebas," ucap Panji sambil membaca.


"Aku tak mandi dulu Mas ganteng, biar seger lalu tidur tiduran sambil lihat Tv," ujar Eka.


"Iya Mbak,' sahut Panji.


Setelah selesai membaca kitab Fathul Qorib... Panji membaca kitab Bidayatul hidayah.



"Aduh, capaik sekali," gumam Panji kemudian membaca kitab sambil tengkurap memeluk bantal.


Setelah kurang lebih 2 jam membaca... Akhirnya Panji khatam juga.


"Sudah khatam," ujar ]anji sambil berdiri kemudian duduk bersandar di kursi teras sambil menikmati kepulan asap rokok marlboro.


Sambil mengingat - ingat petunjuk kitab... Panji berkata lirih,


"Nikmatilah sujud mu di tengah malam, jika tidak bisa... Belajar lah menikmati sujud mu dan lama - lama kamu akan bisa merasakan nikmatnya sujud"


Jadi... Yang penting itu solat dulu, masalah bisa melihat wujud Allah... Itu pasti, lama - lama akan terlihat dengan sendirinya.


Untuk mengapai tingkat yang lebih tinggi, setiap orang harus melewati tangga pertama yang paling bawah, kecuali orang yang di kehendaki"


Berarti... Aku harus mulai dasar dulu, mulai dari bawah dulu. Benar nasehat kitab ini.


"Untuk menciptakan beras... Allah tidak langsung menciptakan beras, tetapi Allah itu berproses.


Dari benih, menjadi pohon padi dan berbuah padi, lalu menjadi beras. Dan itu melalui proses panjang dan rumit.


Itu cara Allah Menciptakan Beras"


Allah saja Berproses, jadi aku juga harus berproses.


Berarti... Gusti Allah itu Maha Proses, apa - apa harus melalui proses.


Iya iya... Voblok sekali diriku, baru sadar aku.


Berarti... Apa yang di katakan Mbah Dirjo itu benar.


Aku harus Tirakat, Riyadho, Dzikir dan Suluk.


Aku harus bertafakur dan ngaji biar pintar dan mengerti.


Kayaknya... Besok harus beli kitab cara Tirakat, Riyadho dan Dzikir juga kitab cara Suluk."


"Lebih baik mandi, lalu belajar solat Malam," gumam Panji kemudian beranjak ke kamar mandi. Setelah mandi, memakai sarung dan kaos juga peci.


Panji mengelar sajadah kemudian takbir solat Isak.


Setelah itu panji solat hajat.


Sambil menghadap kiblat dan membaca Al Fatihah... Panji berkata dalam hati,


"Aduuh, Tv nya nyalah!


Hemmm, Eka mulus sekali pahanya Eka."


Setelah selesai solat Hajat... Panji mematikan Tv, dan menutupi paha Eka yang tertidur pulas dengan selimut.


Setelah bertakbir untuk melaksanakan solat Hajat yang ke dua... Salam solat Panji teringat sama Ruli temannya, Panji ingat juga sama Bela dan Irmala.


Setelah selesai solat... Panji duduk termenung sambil berkata,


"Ternyata sulit juga solat Malam itu!!

__ADS_1


Ingat paha mulus lah, teman lah, ingat Maya lah.


Aku harus bisa, gak boleh putus asa."


Tiba - tiba Panji mendengar bisikan dari dalam hatinya,


"Tenangkan jiwa mu


Heningkan pikiran mu


Tataplah apa yang ada di depan mu hingga tak terlihat oleh kedua mata mu."


Setelah mendengarkan nasehat hati nya... Panji kembali bertakbir melaksanakan aolat Hajat.


Sambil solat Panji berkata dalam hati,


"Walau aku tenangkan jiwa ku, ku Heningkan pikiran ku dan kutatap apa yang ada di depan ku... Tetap saja tidak bisa, pikiran ingat kemana mana, yang kulihat malah Eka tidur."


***


Setelah solat Subuh... Panji merebahkan badannya di atas sajadah dan tertidur.


Waktu terus berlalu, jam 12 Siang Panji bangun, lalu mandi dan membaca kitab Sunnah Fikih yang berjumlah 14 Jilid.


Tak terasah adzan Asar berkumandang.


Tak lama kemudian ada suara uluk salam,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Panji kemudian bergegas membuka pintu,


"Eee, ustadz Dani, silahkan masuk."


"Terimakasih Mas Panji," jawab ustadz Dani kemudian masuk dan duduk di atas karpet,


"Mari Mas Panji kita mulai ngajinya."


"Baiklah ustadz," jawab Panji kemudian mengambil Al qu'ran.


Setelah 1,5 jam belajar ngaji baca Al qur'an dan istirahat... Panji mengambil air minum di dalam kulkas lalu berkata,


"Silahkan di minum ustadz Dani."


"Iya Mas Panji, terimakasih," jawab ustadz Dani.


Sambil menikmati kepulan asap merokok... Ustadz Dani bertanya,


"Mas Panji tinggal sendirian di kos ini?"


"Iya ustadz, sendirian saja, tetapi... Kadang - kadang kalau Malam suka ada tetangga kos tidur sini. Kadang juga teman nginap di sini," ujar Panji.


"Banyak baget kitabnya Mas Panji," ujar ustadz Dani.


"Iya ustadz, saya belajar mendalami ilmu agama, makanya saya beli kitab dan ngaji baca Al qur'an sama ustadz Dani.


Anggap saja, saya belajar ngaji di pesantren, hehehe.


Ustadz asli Jakarta ya," kata Panji.


"Saya asli Tanggerang Mas Panji, di sini ngontrak," jawab ustadz Dani.


"Waktu saya kesana, kok ustadz sendirian saja, apa ustadz tinggal sendiri di kontrakan," tanya Panji.


"Dulu saya tinggal sama istri Mas Panji, berhubung istri saya pergi dari rumah... Dan kontrakan masih 5 tahun, yaa terpaksa saya tempati sendiri. Apalagi saya sudah terikat janji mengajar ngaji di perumahan," jawab ustadz Dani.


"Emang istri pak ustadz pulang kampung kok pergi dari rumah, atau ustadz bercerai," tanya Panji polos.


"Hemmm, gimana ya," ujar ustadz Dani,


"Istri saya pergi bersama lelaki lain Mas, istri saya tidak kuat hidup miskin, tidak kuat godaan harta duniawi, yaa akhirnya minta cerai dan pergi bersama lelaki yang lebih mapan hidupnya."


Panji Minta maaf ya ustadz, bertanya masalah pribadi."


"Gak apa - apa Mas Panji, itu bagian dari masa lalu, kini saya sudah melupakan semuanya," jawab ustadz Dani.


"Assalamualaikum," ucap Wilda, kemudian masuk dan menuju dapur.


"Waalaikumsalam Wilda," sahut Panji.


"Baiklah Mas Panji, saya mau balik dulu, soalnya habis Magrib saya mau ngajar ngaji di perumahan," ujar ustadz Dani kemudian pamit.


Setelah ustadz Dani pergi... Panji berkata,


"Wilda, ngapain kamu!!"


"Nyuci baju Mas," jawab Wilda.


"Habis ini kamu mandi yaa? Ikut aku yaa, beli kitab, kompor juga indomie," ujar Panji,


"Kalau Malam kepinggin ngopi biar enak bikin sendiri."


"Iya," jawab Wilda.


Tak seberapa lama... Panji dan Wilda menelusuri trotoar menuju toko buku. Setelah membeli beberapa kitab dan kompor juga peralatan dapur... Panji pun kembali ke kos - kossan bersama Wilda.


Melihat Wilda memasak indomie... Panji berkata,


"Wilda, apa kamu sudah masuk les private hari ini?"


"Sudah Mas, untuk menejemen Bisnis masuk jam 8 Pagi sampai jam 11 Siang, untuk bahasa inggris jam 12 sampai jam 02, les komputer jam 2:30 sampai jam 04 Sore," jawab Wilda.


"Apa ada kesulitan dalam belajar," tanya Panji.


"Hemmm, ya lumayan sulit sih, tetapi lama - lama juga bisa. Hanya saja... Wilda harus sering ke warnet untuk melatih membiasakan mencet komputer. Dan Wilda harus naik angkutan umum oper 2x, untuk ke tempat kursus Manejemen Bisnis."


"Oh gitu ya," ujar Panji,


"Besok saja beli komputer dan motor."


"Mahal Mas Panji komputer itu, sama mahalnya dengan motor," sahut Wilda.


"Gak apa - apa, aku masih punya uang banyak di tas ini," ucap Panji.


"Atau... Pinjam saja ke Aini, barangkali di perusahaan Papanya ada yang bekas pakai, coba aku telpon."


Setelah memencet tombol telpon... Panji berkata,


"Selamat Malam."


"Selamat Malam juga.


Dengan siapa ini," tanya kepala pengurus rumah keluarga Hong Shi.


"Dengan Panji.


Aini nya ada Bu?"


"Ada, tunggu sebentar, akan saya sambungkan dengan Nona Besar."


Tak lama setelah tersambung... Aini berkata,


"Malam Mas Panji... Senang sekali kamu menelfon ku.


Bagaimana kabar mu hari ini?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat dan baik - baik saja," jawab Panji,


"Aini, aku mau tanya... Di perusahaan Papa mu ada gak komputer bekas pakai yang masih bagus, kalau ada aku mau pinjam."


"Buat apa Mas kok pakai komputer bekas pakai," tanya Aini.


"Buat belajar," jawab Panji.


"Baiklah Mas Panji, malam ini akan saya suruh orang mengirim komputer ke tempat kos - kossan, sekalian biar di setel kabel datanya," ujar Aini,


"Sekalian aku titip uang buat Mas Panji, barangkali Mas Panji butuh utuk membeli apa gitu."


"Gak usah Aini, aku masih punya uang banyak," kata Panji.


"Sudahlah, uangnya nanti di terima saja," kata Aini,


"Jangan menolak."


"Baiklah baiklah," ujar Panji,


"Yaa udah kalau gitu, aku tutup dulu ya telponnya.


Ok da da..."


"Mas Panji... Wilda mau balik dulu ya? Mau istirahat sambil belajar, hemmm, besok kesini lagi."


"Baiklah, hati - hati di jalan," kata Panji.


"Nanti kalau komputernya sudah datang... Kamu bisa nginap sini sambil belajar," ujar Panji.


Setelah Wilda pergi... Panji membaca kitab kitab Sunnah Fikih di meja belajar. Panji juga mulai belajar menulis huruf arab.


Tak lama kemudian ada tamu yang mengantar satu set perangkat komputer baru, dan memasang kabel data.


Setelah selesai... Salah satu orang menyerahkan sebuah tas plastik kepada Panji.


Setelah menerima bingkisan berisi uang... Panji mengantung tas plastik itu di paku yang tertancap di sebelah Tv.


Malam semakin larut, namun Panji terus membaca kitab - kitab yang dibelinya satu - persatu.


Melihat pintu kamar Panji yang terbuka... Dewi yang baru pulang, langsung menuju kamar Panji,


"Selamat Malam Mas Panji ganteng...Belum tidur?


Lagi baca apaan sih serius banget?!!


Aku boleh masuk yaa?"


"Malam juga Mbak Dewi, masuk saja, jangan sungkan - sungkan," ujar Panji.


***


"Seger banget habis mandi air hangat.


Wau, kompor baru, ada kopi, teh, nutri sari, indomie," ujar Dewi dalam hati.


Begitu membuka kulkas... Dewi sangat terkejut dan berkata lirih,


"Astaga naga... Lengkap sekali isinya.


Mas Panji, aku bikinin kopi yaa sama indomie."


"Iya Mbak, bikin saja, kalau mau masak - masak saja," ujar Panji.


Sambil masak indomie, Dewi berkata dalam hati,


"Mas Panji ini siapa ya..? Kok banyak banget uangnya, bisa beli apa saja!


Jadi penasaran aku.


Tidak kerja tetapi banyak uang?


Tidak sekolah tetapi tiap hari, tiap malam baca buku?


Di ajak bercinta gratis tidak mau!! Tetapi berteman baik dengan pelacur?


Aneh Mas panji ini, hatinya kayak malaikat, baik sama siapa saja, dan suka menolong."


"Ini Mas indomie dan kopi buat mas Panji, kita makan bareng," ujar Dewi


Sambil makan... Dewi berkata,


"Mas Panji, ustadz Dani jadi ngajar tadi Asar?"


"Iya Mbak, tadi pak ustadz nya pulang jam 5 an kalau gak salah," jawab Panji.


"Masih muda yaa ustadz Dani itu, sudah ganteng pinter ngaji pula," kata Dewi.


"Ustadz Dani itu duda Mbak," kata Panji,


"Dia di tinggal istrinya minggat sama lelaki lain."


"Hemmm... Duda Merana berarti Pak ustadz itu, hahaha," ujar Dewi.


"Mbak Dewi naksir gak," tanya Panji iseng.


"Hahaha, kenal saja kagak, kok naksir?


Mana mau... Seorang ustadz punya istri kayak saya yang kerjanya sebagai pelacur!!


Seribu satu Mas Panji, ustadz yang mau nikah sama pelacur."


"Kadang... Seorang pelacur yang tobat Nasuha bisa memberi syafa'at daripada orang yang Alim.


Dan kadang seorang pelacur lebih mulia di hadapan Gusti Allah dari pada seorang ustadz yang ahli Agama," ujar Panji.


"Gitu ya Pak kyai, hahaha. Mas Panji kalau ngomong tiba - tiba seperti kyai saja," ujar Dewi.


"Hemmm, seandainya ustadz Dani mau nikah sama Mbak Dewi, apa mbak Dewi mau," goda Panji.


"Hemmm, mau ajah," jawab Dewi iseng asal ngomong,


"Jangan becanda ah. Dewi mau tidur sini aja nemenin Mas Panji sambil lihat Tv."


"Tudur saja Mbak, biasanya juga tidur sini sama Mbak Eka," ujar Panji.


Tak lama setelah Dewi tertidur di depan Tv yang menyalah... Panji pun bergegas wudhu, lalu menggelar sajadah untuk belajar solat sunnah Malam.


Setelah Takbir... Dan Ketika Panji membaca Al Fatihah... Kedua mata Panji melihat Tv yang masih menyalah dan melihat Dewi yang tertidur dengan mengenakan celana pendek.


Ketika Panji melaksanakan solat Hajat... Tiba - tiba Panji mendengar bisikan hatinya,


"Solatlah dengan pelan, tenangkan jiwa mu, kosong kan pikiran mu dan heningkan hatimu. Sebutlah nama Allah dan tataplah apa yang ada di depan mu hingga semua tak terlihat oleh kedua mata mu"


Setelah mendengarkan bisikan hatinya... Panji pun mengikuti perintah hatinya.


Ketika solat yang ke 11 rokaat... Panji mulai bisa merasakan nikmatnya solat, walau hanya sekedar.


Tv yang menyalah dan Dewi yang di lihatnya... Tiba - tiba berubah menjadi hilang dan berganti warna putih saja.


Semua yang di lihatnya menjadi putih.


Setelah selesai solat... Sambil duduk di atas sajadah, Panji berkata,


"Benar apa yang di katakan hatiku, semua yang aku lihat berubah menjadi warnah putih.

__ADS_1


Namun... Suara Tv itu tidak bisa hilang, aku masih mendengarkanya.


Bagaimana caranya bisa tidak mendengarkan suara Tv yaa?"


__ADS_2