
Motor pun meluncur ke arah kota Serang. Setelah memasuki perbatasan desa... Panji membelokkan motornya ke jalan desa, lalu sampailah di halaman rumah gubuk yang sangat sederhana.
"Assalamualaikum," ucap Panji.
"Waalaikumsalam Gus" jawab Kakek Jabat,
"Silahkan masuk Gus, ajak teman wanita mu."
"Iya Kek," kata Panji kemudian sungkem mencium tangan Kakek Jabat, namun Kakek Jabat dengan cepat menarik telapak tangannya.
"Nenek mana Kek,?" tanya Panji.
"Nenek lagi masak Gus, katanya mau ada tamu yang datang. Eeh... Ternyata tamunya Gus Panji dan gadis cantik," kata Kakek Jabat,
"Ayoo duduk dulu."
"Gus, ayo makan dulu, Nenek sudah selesai masaknya," ujar Nyai Sa'adah dari balik pintu,
"Ayoo duduk di kursi meja makan, Nenek buatkan kopi."
"Baiklah Nek," kata Panji kemudian mengandeng lengan Ruli, lalu masuk ke dapur.
"Ini Gus, kopi kesukaan mu, ini Nyai, aku buatkan teh manis untuk mu," ujar Nyai Sa'adah kemudian duduk di samping Kakek Jabat suaminya.
"Kakek... Nenek, kenalkan, ini Ruli teman baikku, dia yang merawatku selama tinggal di losmen," kata Panji.
"Salam kenal Kakek, Nenek," ucap Ruli.
"Salam kenal kembali Nyai," jawab Kakek Jabat,
"Salam sejahtera dan bahagia Nyai. Dengan keberkahan Gus Panji... Semoga kamu menjadi wanita yang alim dan solekhah."
"Aamiin," ucap Nyai Sa'adah.
Sambil menikmati makan siang... Diam - diam Ruli mengamati suasana rumah Nyai Sa'adah, lalu berkata dalam hati,
"Rumah gubuk ini baunya wangi sekali!! Sejuk seperti ada Ac nya. Aneh..!
Makanan yang di sajikan ini... Tidaklah mungkin masakan Nyai Sa'adah, karena di dapur tidak ada peralatan masak yang cukup. Rasa masakannya juga sangat lezat sekali, seperti masakan di hotel atau rumah makan.
Dari mana Nyai Sa'adah ini dapat uang untuk belanja menu yang sangat mahal sekali?!! Ada udang windhu, ikan gurami saos tiram, ada daging sapi bakar dan banyak lagi. Hemmm, gak masuk akal!"
"Kakek... Nenek, bolehkah Panji bertanya sesuatu," ujar Panji.
Boleh Gus, tanya saja," kata Kakek Jabat.
"Kemarin Panji sowan ke rumah Syeh Hamdani di Pandeglang. Waktu panji puasa... Sama Syeh Hamdani di suguhkan secangkir kopi dan 2 bungkus rokok, lalu Syeh Hamdani menyuruh ku minum kopi dan rokok-an, padahal aku puasa Ramadhan loh Kek? Dan... Syeh Hamdani yang katanya wali, dia juga minum kopi dan merokok.
Lalu, saat kami pamit pulang... Syeh Hamdani berpesan begini,
Gus... Selama bulan Ramadhan, Gus tidak usah puasa.
Alasannya... Panji tidak mampu menjalani puasa, tidak memenuhi syarat untuk berpuasa. Itu maksudnya bagaimana Kek? Kalau di bilang waliyullah? Sepertinya jauh dari kriteria seorang wali."
"Syeh Hamdani Al bantany adalah seorang wali yang mempunyai tugas berat Gus, sebagai paku buminya Jawa Barat," jawab Kakek Jabat,
"Syeh Hamdani lah bertugas menanggulangi atau menolak semua bencana yang akan terjadi di wilayah Jawa Barat.
Syeh Hamdani selalu menyembunyikan identitas dirinya. Kadang menjadi pengemis, kadang menjadi orang gila, dan kadang menjadi pedangang keliling atau gelandangan di kota - kota.
Bahkan, Istri dan anaknya, saudara juga para tetangganya tidak ada yang mengenal siapa Syeh Hamdani yang sebenarnya. Meraka hanya mengenal Hamdani si penjual sayur mayur di pasar atau Pak Samson saja.
Di saat identitas nya Gus ketahui... Dan Gus bertamu ke rumahnya... Maka Syeh Hamdani menjadi bingung.
Dan sebagai penghormatannya kepada Gus Panji... Maka Syeh Hamdani menanggung puasa mu selama bulan Ramadhan ini."
"Jadi... Puasa ku itu di tanggung oleh Syeh Hamdani, ya Kek?" tanya Panji,
"Syeh Hamdani yang berpuasa untuk ku?"
"Iya Gus, benar," ucap Nyai Sa'adah,
"Bahkan... Syeh Hamdani juga menanggung puasanya Nyai Ruli ini. Jadi, Gus Panji dan Nyai Ruli tidak usah puasa."
"Makanya... Untuk pelajaran kaweruhan..! Jangan sampai Gus menilai dan mengatakan buruk pada orang yang tidak puasa," ujar Kakek Jabat,
"Jangan pernah meremehkan orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan.
Karena... Hidup ini adalah Rahasia-Nya. Lebih baik diam dalam cinta dan kasih sayang-Nya."
"Baiklah Kek, semua akan Panji jadikan pelajaran," kata Panji.
"Enak sekali ya Kek? Bisa dekat dengan waliyullah itu," ujar Ruli.
"Iya Nyai," kata Kakek Jabat,
"Dekat dengan seorang wali itu bisa membuat kita hidup sejahtera, bahagia dan penuh berkah. Karena... Kita selalu mendapatkan limpahan doa dan ridhonya."
"Nyai Ruli... Usahakan sebisanya, Nyai solat 5 waktu dan mendawamkan wirid istiqfar," ujar Nyai Sa'adah,
"Tidak usah wirid banyak - banyak, yang penting istiqomah dalam beristiqfar."
"Iya Nek," jawab Ruli.
"Kakek... Nenek, insallah besok atau lusa, Panji akan pergi ke Surabaya. Jadi Panji pamit lebih awal. Panji minta doa restu, minta barokah doa," ujar Panji.
__ADS_1
"Iya Gus, Kakek dan Nenek selalu mendoakan mu," kata Kakek Jabat.
Mendengar Panji akan pergi dengan tiba - tiba... Ruli sangat terkejut dan merasa sedih kehilangan teman baiknya.
"Setelah dari sini... Gus Panji singgah lah di makam dulu ya, main seperti biasanya," kata Nyai Sa'adah.
"Baiklah Nek," kata Panji.
"Nyai Ruli... Ikutlah dengan ku ke kamar sebentar," ajak Nyai Sa'adah kemudian berjalan masuk kamar di ikuti Ruli.
"Nenek punya baju baru, aku beli untuk cucuku, tetapi cucuku belum juga datang kemari," ujar Nyai Sa'adah,
"Pakailah untuk mu, biar kamu bertambah cantik dan anggun. Nanti Nenek beli lagi buat cucu Nenek."
"Baiklah Nek," kata Ruli kemudian melepas kaosnya, kemudian memakai baju baru pemberian Nyai Sa'adah,
"Bajunya bagus banget Nek..! Kainnya juga bagus, kwalitas pilihan!"
"Mari kita keluar," ajak Nyai Sa'adah.
"Wauo! Tambah cantik aja nieh pake baju muslimah, dengan jilbab biru muda," sanjung Panji.
Setelah solat Asar... Panji pun pamit,
"Kakek... Nenek, Panji mau pamit sebentar, mau jalan - jalan ke kota Serang. Nanti, habis Isyak Panji main ke makam. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Nyai Sa'adah.
Ketika motor keluar dari halaman rumah Nyai Sa'adah... Ruli menengok ke belakang.
Betapa terkejutnya Ruli melihat rumah itu berubah menjadi rerumbunan pohon bambu, namun Ruli diam saja tidak bercerita pada Panji.
Selama di bonceng Panji... Ruli diam dan berkata dalam hatinya,
"Benar dugaan ku, ternyata Kakek Jabat dan Nyai Sa'adah itu bukan manusia. Setelah aku keluar dari halaman rumahnya... Rumah itu menghilang berubah menjadi rerumbunan pohon bambu. Tadi aku mau berteriak, tetapi tidak mampu, mau bilang kepada Mas Panji, mulut ku terasa terkunci.
Tetapi mengapa aku tidak takut sedikit pun ya? Padahal, aku ini sebenarnya radak - radak penakut dari kecil.
Lalu... Siapakah sebenarnya Mas Panji ini..? Umur 16 tahun sudah bisa berhubungan dengan mahluk halus.
Yang bikin aneh dari Mas Panji ini... Dia tidak pernah sedih atau susah. Dia juga dengan mudah memperoleh uang yang sangat banyak sekali. Dia juga tidak pernah cerita habis dari mana, sama siapa kalau pulang tengah malam.
Ya sudahlah! Lambat laun pasti juga aku tau. Yang penting Mas Panji orang nya baik."
Setelah berada di kota Serang... Panji membeli tas dan jaket. Setelah itu, Panji dan Ruli menikmati es cream di sebuah cafe.
"Ruli, besok kamu pergi ke Bank BCA dan BRI," ujar Panji,
"kKmu bikin nomer rekening, lalu kamu pesan pasang telpon untuk rumah baru mu, agar kamu mudah dalam komunikasi untuk berbisnis. Setelah itu... Kamu cari informasi tempat kursus Manejemen Bisnis, kamu harus belajar dan menguasai ilmu perdagangan. Yang terakhir... Kamu harus cari suami yang baik, hahahah."
"Baiklah Mas," kata Ruli lirih,
"Ayoo kita balik ke Losmen, ini sudah Malam, kita mampir dulu ke makam," ujar Panji kemudian berdiri.
***
Jam 19:30, motor melaju dengan kecepatan sedang, tak lama kemudian sampailah di gapura makam Mbah Wali Jabat. Setelah memarkir motornya, Panji turun, lalu melangkahkan kaki.
"Mas, tungguh," ujar Ruli lalu mengandeng lengan Panji, "Pelan - pelan jalannya Mas, Ruli agak takut."
"Ngapain juga takut, kan sama aku," kata Panji.
"Makamnya agak gelap tau!!" kata Ruli.
"Duduk sini," kata Panji kemudian duduk bersandar kayu penyangga makam,
"Duduknya agak mepet ya..? Khawatir di culik setan nanti hahaha."
"Ah!! Kamu ini Mas, nakut - nakuti saja," gumam Ruli,
"Mas... Itu ada orang menuju ke sini."
"Itu Nenek Sa'adah, paling ngantar kopi dan camilan," kata Panji.
"Assalamualaikum Gus, Nyai," ucap Nyai Sa'adah
"Waalaikumsalam Nek," jawab Ruli dan Panji.
"Bawa apa'an Nek di talam itu," tanya Panji.
"Biasa Gus, kopi kesukaan mu," kata Nyai Sa'adah,
"Gus... Nenek tinggal dulu ya? Di atas talam ini ada uang saku buat di perjalanan kamu ke Surabaya. Apabila Kakek Jabat juga Nenek punya kesalahan... Nenek minta maaf yang sebesar - besarnya."
"Iya Nek, Panji juga minta maaf sama Nenek," jawab Panji.
"Nyai Ruli... Aku beri hadiah cincin Junjung Drajat untuk mu, pakailah di jari manis mu. Pesanku... Jangan sampai hilang," ujar Nyai Sa'adah.
"Terimakasih Nek," kata Ruli sambi menerima cincin Junjung Drajat, kemudian memasukkan nya di jari manis sebelah kiri."
"Assalamualaikum," salam pamit Nyai Sa'adah.
"Waalaikumsalam Nek," jawab Panji dan Ruli.
Setelah Nyai Sa'adah pergi... Panji menikmati secangkir kopi hitam, dan Ruli juga menikmati segelas teh manis hangat.
__ADS_1
Setelah menyulut rokok, Panji berkata,
"Ruli... Usahakan seminggu sekali kamu sowan ke sini ya? Di makamnya Mbah Wali Jabat. Kamu ke sini siang hari atau sore hari saja. Kamu harus belajar Riyadhoh lewat jalur makam wali."
"Iya Mas," jawab Ruli,
"Mas... Ayo kembali ke Losmen, Ruli ingin istirahat."
"Baiklah," kata Panji kemudian beranjak.
Setelah mesin menyalah, motor melaju di tengah gelap nya malam. Tak lama kemudian sampailah Panji di halaman parkir Losmen.
Setelah masuk kamar... Panji langsung merebahkan bandanya di atas ranjang,
"Haduu...h capaik sekali."
Setelah mandi dan memakai baju tidur... Ruli melihat Panji tertelungkup, lalu duduk di samping ranjang.
"Capaik ya Mas? Aku pijitin biar enakan badannya."
Sambil menikmati pijitan Ruli... Panji berkata,
"Ruli... Kamu gak pulang untuk menjenguk anak kamu?
Mumpung masih jam 8 loh, nanti keburu malam."
"Iya Mas," jawab Ruli sambil memijit kaki Panji,
"Tetapi... Aku malas naik motornya, capaik lagi badanku."
"Kalau capaik ngapain pakai acara mijitin kaki ku," kata Panji,
"Tidur sini saja di samping ku."
"Baiklah," kata Ruli kemudian merebahkan badannya di samping Panji, sambil tangannya memeluk dada Panji.
Walau Panji tidur di peluk oleh Ruli... Hati Panji terus berbunyi, "Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah, Duh Gusti Allah." Tak lama kemudian... Ruli tertidur lelap karena kecapaian.
Setelah mengangkat tangan Ruli pelan - pelan dan memberi guling, serta menutupi tubuh Ruli dengan selimut... Panji bagun, lalu membuka cendela kemudian duduk bersandar di kursi.
Setelah menyulut rokok marlboro, Panji berkata lirih,
"Entah mengapa aku ingin pergi dari kabupaten Banten ini? Padahal Nenek Sa'adah menyuruh ku tinggal 100 hari di sini?
Tetapi Nenek Sa'adah juga tidak melarang ku pergi? Malah justru di kasih uang buat saku di perjalanan? Lebih baik aku pergi sekarang saja, numpang masih ada bis."
Setelah mengenakan jaket dan memasukkan uang ke dalam tas, Panji meninggalkan pesan tertulis lalu di letakkan di atas meja.
Ketika hendak keluar kamar... Panji melihat Ruli yang tertidur lelap, lalu menghentikan langkah kakinya.
Setelah mencium kening Ruli tanda pamit... Panji bergegas keluar kamar menuju jalan raya menunggu bis.
Tak seberapa lama, Panji pergi dengan bis patas Arimbi tujuan Jakarta.
Adzan Subuh terdengar berkumandang, Ruli mengeliat lalu melihat jam, lalu berkata lirih,
"Di mana Mas Panji kok tidak ada?!!
Apa dia lagi di depan?!
Cendelanya terbuka, lebih baik aku tutup saja."
Ketika hendak menutup cendela... Ruli melihat secarik kertas lalu membacanya,
"Salam sayang Ruli sahabatku.
Aku pamit pergi dulu ya...
Jaga diri baik - baik
Ingat - ingatlah semua pesan ku.
Jika Tuhan masih memberi umur panjang dan memperkenankan... Aku akan main ke Banten lagi.
Semangat!
Jangan menangis ya...
Oh iya! Uang di meja itu untuk mu.
#NB; Jangan tinggalkan solat dan berdoa.
"Ahmad Panji Hening"
Setelah membaca pesan Panji... Ruli bersandar di kursi sambil menatap langit langit kamar.
Sambil meneteskan air mata... Ruli berkata lirih,
"Tanpa mu apa artinya?
Akan ku eja nama mu yang tertera di dinding hatiku
Agar aku bisa mengingat mu di setiap waktu.
Walau kau bukan kekasih ku
__ADS_1
Tetapi kau yang terindah dalam hidup ku.
Hadir mu... Membuat cerita indah dalam kesedihan ku.