
Setelah melakukan ijab kobul di depan penghulu... Panji dan Maya resmi menjadi suami istri sah di catatan sipil dan memiliki hukum negara yang kuat.
Setelah ijab kobul, Panji menikmati makan bersama keluarga.
Kring..!
Hp Panji berdering.
"Selamat pagi Godfather," sapa Jessy si Naga Timur
"Selamat pagi juga Jessy."
"Tuan terbang ke pulau Bali jam berapa..?"
"Jam 12 siang ini."
"Baiklah Godfather, aku akan menyusul di bandara."
"Baiklah Jessy," ujar Panji kemudian menutup telponnya.
"Mau kemana kamu, kok terbang jam 12 siang," tanya mama nya Panji.
"Mau ke pulau Bali Ma."
"Apa gak bisa di tunda besok pagi..? Nanti malam kan ada tasyakuran di rumah."
"Papa sama Mama saja ya, yang menyambut para tetangga."
"Baiklah,
Hati - hati, jaga Maya istri mu. Jangan sering di tinggal sendirian."
"Iya Ma.
Kalau begitu... Panji dan Maya pamit dulu ya Ma, Pa."
Setelah pamit... Panji naik taxi menuju bandara Juanda.
*
Bangkok ibukota Thailand.
Di teras belakang rumah, Sekretaris Iwan menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok.
"Sekretaris iwan... Saat ini, posisi Jack Hall berada di kamar Hotel Dimai.
Menurut informan... Jam 4 sore, kelompok The Dragon akan mengadakan transaksi narkoba di sebuah gudang kontainer di pelabuhan Khlong Toei di sungai Chao Phraya," ujar Tony.
"Bagaimana situasi di sekitar gudang di pelabuhan itu..?"
"Jam 4 sore hingga jam 6, suasana agak sepi.
Pada jam 6 hingga jam 10 malam, pelabuhan itu ramai lagi."
"Dengan kelompok mana The Dragon bertransaksi," tanya sekretaris Iwan.
"Dengan kelompok Han.
Kemungkinan... Jumlah mereka berdua sekitar 40 orang."
"Baiklah,
sekarang sudah jam 3, mari kita sergap Jack Hall sebelum mereka berada di gudang pelabuhan."
Dua mobil meluncur ke arah pelabuhan Khlong Toei.
Di dalam mobil, sekretaris Iwan berkata,
"Paman Domba...
Paman habisi Jack Hall dari jarak jauh saja.
Mangsa kita hanyalah Jack Hall.
Jika mereka menyerang kita, terpaksa kita habisi mereka sekalian!
Kim, dan kamu Tony, bersembunyi lah di luar gudang, jika rencana A gagal... Maka kamu dan anggota inti harus menghabisi mereka.
Lim..! Kamu bersama ku di dalam mobil pinggir jalan."
Setelah mobil di parkir agak jauh dari gudang kontainer, anggota The Bluss keluar mencari posisi.
Tak lama kemudian, jam 4 sore... Ada 4 mobil memasuki sebuah gudang tua.
Lalu di susul 4 mobil lagi memasuki gudang.
Beberapa mafia keluar dari dalam mobil sambil membawa 6 koper.
Ketika Jack Hall dan utusan kelompok Han sedang berbincang - bincang... Paman Domba yang notabene sebagai pembunuh bayaran mematik senapan laras panjangnya, Slup slup slup!
3 peluru melesat dengan cepat, ah, ah, ah, bruuk!
Jack Hall roboh bersimbah darah dengan 3 peluru menembus jantung dan dada nya.
Melihat Jack Hall ketua organisasi The Dragon wilayah Thailand roboh tertembak... Kelompok The Dragon langsung menyerang kelompok Han.
Dor dor dor!
Suara letusan senjata terdengar nyaring berkali - kali.
Kelompok The Dragon mengira yang membunuh Jack Hall adalah kelompok Han.
Paman Domba yang bersembunyi di atas kontainer... Berkali - kali melepaskan tembakan jarak jauh.
Begitu pun kim dan Tony juga anggota inti lainnya menyerang kedua kubu dari belakang.
Tak lama kemudian, tidak terdengar suara sama sekali.
Kim berjalan ke dalam gudang tua, begitu melihat kelompok mafia yang masih hidup... Kim langsung menembak nya.
"Mari kita pergi," ujar kim sambil membawa 4 koper berisi uang.
Setelah anggota The Bluss masuk mobil, sopir langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan pelabuhan.
Begitu mobil keluar pelabuhan... Beberapa mobil polisi langsung menutup area keluar masuk pelabuhan.
"Lim..! Apa mobil ini aman," tanya sekretaris Iwan sambil melepas rambut palsu.
"Aman sekretaris.
Mobil ini memakai plat palsu."
"Cari tempat dan ganti dengan plat aslinya."
*
Sesampainya di rumah kontrakan... Sekretaris Iwan sangat kesal,
"Kan aku sudah bilang, kita hanya menghabisi Jack Hall. Mengapa kalian mengambil koper berisi uang ini..!
Dengan uang di koper ini... Kita bisa di lacak.
Bagaimana dengan uang ini selanjutnya..?"
"Tenanglah sekretaris, biar aku yang urus uang ini," ujar Lim Shaw,
"Aku punya kenalan orang yang bisa mencuci uang ini.
Silahkan sekertaris terbang ke Singapura, nanti malam aku menyusul."
*Nama Lengkap:
Lim shauw
Nama panggilan:
Lim
Alamat:
Jakarta
Status:
Mahasiswi semester 2 di universitas di Singapura
Peran:
Wakil Asisten
Catatan:
©Keturunan Singapura - Indonesia.
Ayah Singapura, ibu Jakarta indonesia
©Pernah bergabung dengan kelompok geng di wilayah Singapura
©Pernah di rehabilitasi akibat kecanduan narkoba
©Ayahnya mati di bunuh oleh kelompok organisasi The Dragon Singapura
©Teman baik Jeje asisten Panji
***
"Pantai Kuta Bali"
Tak terasa sudah dua hari Panji menemani Maya istrinya liburan di Bali.
Siang itu... Panji dan Maya bergandeng tangan berjalan menelusuri tepi pantai.
"Kakak... Terimakasih ya, atas hadiahnya," ujar Maya.
__ADS_1
"Sama - sama Maya, tetapi... Kakak minta maaf bila hadiah - hadiah itu kurang menyenangkan hatimu," ujar Panji.
"Tidak kak, hadiah pemberian kakak terlalu mewah."
"Aku berharap... Kamu yang sabar untuk saat ini, mungkin, aku akan sering bepergian agak lama," ujar Panji.
"Iya kak," jawab Maya,
"Jadi istri seorang ketua organisasi besar seperti kakak memang harus sabar."
Di saat jalan jalan di tepi Panti Kuta... Panji melihat pancaran Nur yang sangat terang di langit.
Setelah menerawang dengan seksama, Panji berkata lirih,
"Ternyata di pulau Bali ini ada 7 makam waliyullah.
Sebelum balik ke Jakarta... Aku ziarah dulu ke makam 7 wali itu."
"Maya... Ayo kita kembali ke hotel," ajak Panji.
"Baiklah kak."
Hotel kuta Beat.
Setelah mandi dan ganti baju... Panji dan Maya menikmati makan siang bersama.
Selesai makan, Panji memanggil Jessy yang duduk agak jauh.
"Iya Godfather, ada yang bisa aku bantu..?"
"Jessy... Apakah di pulau Bali ini ada makam wali..?"
"Godfather, Apa itu makam wali," tanya Jessy yang beragama Hindu.
"Makam islam, atau makam keramat, yang sering di ziarahi orang."
"Oh itu, ada Godfather.
Di pulau Bali ini ada 7 makam yang menjadi daya tarik wisata.
Apakah Godfather ingin pergi mengunjungi 7 makam keramat itu..?"
"Iya Jessy, siapkan mobil, aku dan istri ku ingin berkunjung."
"Baiklah Godfather."
"Selamat siang Godfather," sapa Jeje asisten,
"Pesawat pribadi sudah berada di Hanggar bandara. Godfather bisa mengunakan sewaktu - waktu."
"Jeje kebetulan kamu disini.
Kamu ikut aku."
"Baiklah Godfather."
Setelah berziarah ke 7 makam wali... Malam itu Panji dan Maya terbang ke Jakarta.
*
Perumahan Villa Abadi.
Jam 8 malam... Dua mobil BMW memasuki halaman parkir rumah kediaman Maya yang baru.
setelah turun dari mobil, Maya berjalan di samping Panji.
"Kakak... Ini rumah siapa besar sekali?"
"Ini rumah mu yang baru, dua tahun yang lalu, aku beli atas nama kamu."
"Silahkan Tuan Godfather... Ini kopinya," ujar seorang pelayan.
"Terimakasih Bibi," jawab Panji kemudian duduk di teras sambil istirahat.
"Kakak... Rumah ini terlalu besar untuk ku."
"Maya... Mulai saat ini, kamu adalah Executive muda Jakarta. Di perumahan Villa Abadi ini... Penghuninya adalah konglomerat semua.
Di rumah ini... Kamu di temani 4 pelayan, dua sopir pribadi juga penjaga rumah."
"Gitu ya," ujar Maya kemudian berdiri melihat - lihat bagunan rumah di temani Fitri asisten rumah tangga.
Kring..!
Hp Panji berdering.
"Aini," ujar Panji sambil melihat nama yang muncul di layar hp,
"Iya sayang..."
"Mas, lagi di mana sekarang..?"
"Ada di Jakarta, barusan datang."
"Habis ini Mas pulang ke rumah ya..? Aku kangen sekali sama kamu.
Mumpung malam tahun baru, aku juga ingin jalan - jalan."
"Baiklah,
"Aduh... Repot juga punya istri banyak ini."
"Maya... Kamu istirahat di rumah ya, aku mau keluar dulu ada perlu," kata Panji.
"Baiklah Kak," jawab Maya kemudian salim mencium tangan Panji suaminya.
*
Kediaman keluarga Hong Shi.
Tak lama kemudian... Mobil BMW berhenti agak jauh dari rumah Aini,
"Jeje... Kamu pulang saja ya, istirahat."
"Baiklah Godfather," ujar Jeje kemudian pergi meninggalkan Panji sendirian.
Setelah berada di depan pintu gerbang, seorang penjaga rumah berkata,
"Dengan siapa dan mencari siapa..?"
"Aku panji, mau mencari non Aini Pak."
"Apakah sudah buat janji..?"
"Sudah Pak," jawab Panji.
"Baiklah, Mas tunggu sebentar ya."
"Siapa Sep," tanya penjaga rumah yang agak tua.
"Tamu, katanya ingin ketemu sama Nona Aini."
"Siapa namanya..?"
"Panji."
"Cepetan buka in pintunya..!
Dia itu suaminya non Aini," ujar penjaga rumah senior buru - buru keluar pos dan lari tergopoh - gopoh.
Setelah membuka pintu gerbang... Pak Rahmat membungkukkan badan sambil berkata,
"Tuan... Maafkan kami yang teledor.
silahkan masuk Tuan."
Melihat 3 penjaga rumah membungkukkan badan, Panji berkata,
"Sudah, gak apa - apa.
Apakah kalian ini keamanan dari organisasi The Bluss..?"
"Iya Tuan, benar."
"Kalau boleh tau... Siapa nama ketua organisasi The Bluss itu..?"
"Lady Tuan, tetapi... Beberapa hari yang lalu, kabarnya Nona Lady di ganti oleh ketua yang baru bernama Godfather."
"Apa kalian tau wajah Godfather ketua kalian..?"
"Tidak Tuan, karena kami adalah anggota bawah."
"Tutup pintunya, Duduklah kalian."
"Baiklah Tuan," ujar Asep kemudian menutup pintu gerbang.
Sambil duduk di kursi depan pos, Panji menyulut rokok marlboro,
"Berapa lama kalian bergabung dengan organisasi The Bluss..?"
"Setahun Tuan, ini teman ku baru 8 bulan."
"Lumayan lama ya..?
Senang apa gak bergabung dengan organisasi The Bluss," tanya Panji.
"Alhamdulillah senang Tuan. Kami dulu pengangguran, setelah bergabung dengan organisasi The Bluss... Sama sekretaris Dafa di kasih kerjaan menjaga rumah keluarga Hong shi.
Kami juga sering mendapatkan santunan Tuan. Bahkan... Sebulan yang lalu, kami di beri rumah dengan cara bayar cicil tiap bulan seperti kredit sepeda motor."
"Ya Alhamdulillah, jangan lupa solat ya...? Banyak - banyak bersyukur.
Apa kalian belum pernah ketemu Godfather ketua kalian..?"
"Belum pernah Tuan. Kabarnya... Godfather sulit di temui dan sangat sibuk sekali."
"Mudah - mudahan kalian bisa berjumpa sama Godfather.
__ADS_1
kalau begitu... Aku permisi masuk ke rumah dulu," ujar Panji kemudian melangkah
"Terimakasih Tuan...
Aduuuuuh... Untung Tuan Panji orangnya baik, kalau tidak... Bisa di pecat kita."
Dengan santai Panji masuk ke rumah.
Setelah berada di ruang keluarga,
"Selamat malam Pa, Ma."
"Ngapain juga sampah ini pulang ke mari," ujar Mamanya Aini.
Begitu Panji salaman dengan Pak Hong shi... Mamanya Aini beranjak pergi.
"Assalamualaikum," sapa pranji di pintu kamar.
"Waalaikumsalam Mas," jawab Aini kemudian bergegas salim dan mencium tangan Panji suaminya,
"Ayoo Mas, kita makan malam dulu."
"Kita makan di luar saja ya," ajak Panji,
"Sekalian kita jalan - jalan melihat suasana malam tahun baru."
"Baiklah Mas, aku mau ganti baju dulu."
Tak lama kemudian,
"Papa... Aku mau jalan - jalan dulu sama Mas Panji.
Mama..."
"Pergi sana, Mama muak lihat suami mu."
"Mama gak boleh gitu, bagaimana pun Mas Panji adalah menantu mama," ujar Maya.
"Menantu dari mana..?
Nikah saja siri tanpa izin Mama, kalau suami mu itu orang bener... Dia kan bisa melamar baik - baik, bilang sama Papa sama Mama."
"Aku Ma, yang ngajak nikah siri," sahut Aini.
"Terserah, kamu dan suami mu sama saja.
Gak menghormati orang tua."
"Terus maunya Mama gimana..?"
"Kamu cerai dan cari suami baik - baik."
"Baiklah, kalau begitu Mama carikan suami yang cocok untuk ku."
Mendengar perdebatan antara Aini istrinya dengan Mamanya... Panji merasa bersalah.
"Mas... Tungguh, apa gak bawah mobil," tanya Aini.
"Kita naik taxi saja," ujar Panji kemudian menelpon untuk memesan taxi.
Tak lama kemudian, taxi pun meluncur perlahan - lahan.
"Kemana Pak," tanya sopir taxi.
"Ke Hotel Atalanta," jawab Panji.
"Baiklah, Pak."
"Mas... Tumben ngajak ke hotel, gak kayak biasanya.
Apa Mas ingin bersenang - senang dengan ku di hotel," tanya Aini tersenyum.
"Iya."
Taxi pun memasuki halaman parkir hotel. Setelah membayar sopir taxi, Panji mengandeng tangan Aini menuju lestoran yang terletak di samping depan hotel.
"Selamat malam Tuan,x sapa pelayan restoran,
"Silahkan pesan, ini buku daftar menu nya."
"Aku pesan kopi saja, ya," ujar Panji.
"Mas... Makan dulu nanti ngopinya.
Pak... Lesan sop iga 2 dan udang goreng.
Air putih dan es jeruk 2," ujar Aini.
"Kopinya dulu ya Pak," sahut Panji.
"Baiklah Tuan."
Setelah kopi hitam tersajikan... Panji menyulut rokok lalu berkata,
"Aini... Aku harap kamu jangan berdebat dengan Mama mu hanya masalah aku.
Apa yang di katakan Mama mu itu benar. Bahwa aku bukanlah orang yang baik.
Aku memang salah, menikahi mu tanpa izin atau melamar kepada orang tua mu."
"Iya Mas," jawab Aini,
"Mama ku memang memandang orang itu dari harta dan kekayaan saja.
Sebenarnya... Aku sangat benci kepada kedua orang tuaku, dari kecil aku di asuh oleh pembantu. Sekarang sudah besar... Mereka mengatur ku.
Sebab Mas Panji mengajari ku berbuat baik... Makanya aku berusaha menjadi anak yang baik, dan patuh."
"Permisi Tuan," ujar dua pelayan kemudian meletakkan beberapa piring dan mangkuk di atas meja.
Sambil menikmati makan malam, Aini berkata,
"Mama ku ingin aku cerai dengan Mas Panji, dan menikah dengan lelaki pilihan Mama ku sendiri."
"Iya aku dengar sendiri Mama mu berkata begitu," sahut Panji.
"Lalu... Bagaimana menurut Mas sendiri..?"
"Semua keputusan ada di kamu, terserah kamu Aini.
Kamu mau hidup bersama ku menjadi istri ku, atau kamu menikah dengan lelaki pilihan Mama mu," ujar Panji,
"Kalau kamu menjadi istri ku... Kamu harus sabar, karena aku juga mempunyai 2 istri lagi selain mu.
Kemungkinan... Kita jarang bertemu."
"Iya Mas," ujar Aini,
"Aku tau kalau Mas sudah mempunyai istri.
Semua memang salah ku, yang tergesah - gesah dalam mengambil keputusan."
"Keluarga adalah hal yang penting dalam hidup, apalagi orang tua.
Jadi... Kamu tidak boleh membenci atau meninggal kan orang tua mu.
Lebih baik kehilangan suami dari pada kehilangan kedua orang tua."
"Gitu ya Mas..."
"Tanpa peran orang tua... Mungkin kamu tidak bisa hidup mewah seperti ini, kita tidak akan pernah ada," kata Panji.
"Iya Mas, sudah gak usah di bahas, kalau Mas Panji memang yang terbaik untuk ku... Maka Tuhan akan meridhoi hubungan kita, kalau Mas Panji tidak baik untuk ku... Tuhan pasti memisahkan kita.
Sekarang... Kita jalani hidup apa adanya, kita syukuri segala pemberian Nya.
Masalah besok ya besok lah, yang penting sekarang."
Ketika enak - enak makan menikmati makan malam... Panji melihat Pak Dedik Papanya Maya dengan seorang wanita cantik.
"Lihat siapa Mas," tanya Ain
"Lihat orang itu, sepertinya aku kenal," jawab Panji berbohong.
Aini menengok lalu berkata,
"Aku tau orang itu, walau gak kenal."
"Siapa dia," tanya Panji pura - pura.
"Aku gak kenal si Mas, cuma tau saja.
Dia pengusaha asal Surabaya, dia juga baru setahun mendirikan perusahaan Garmen di Jakarta. Sepertinya... Dia juga sedang mendirikan perusahaan lagi, tetapi masih tahap pembangunan."
"Kok kamu tau..?"
"Kan sebulan sekali ada perkumpulan pengusaha Indonesia. Dari pertemuan itulah aku mengetahui sekilas biodatanya di majalah bisnis.
Dia pengusaha menengah, belum bisa di katakan pengusaha besar.
Sepertinya... Wilda mengetahui persis siapa dia, karena... Wilda pernah ngobrol waktu ada pertemuan itu.
Ada apa Mas kok pingin tau tentang orang itu..?"
"Aku ingin orang itu bangkrut jatuh miskin," jawab Panji.
"Gampang itu Mas, suruh saja Wilda, dia jagonya kalau Lobi dan Negosiasi. Wilda juga punya banyak kenalan pengusaha papan atas."
"Baiklah," jawab Panji.
Pak Dedik yang mengetahui Panji dengan wanita lain... Akhirnya mendekati Panji, lalu berkata,
"Dasar bajingan, bukannya sama Maya malah sama wanita lain.
Begini caranya kamu mencari uang..? Merayu wanita dari keluarga kaya..!
Malam ini juga... Akan aku bunuh kamu!"
__ADS_1
"Diam..!!!" bentak Aini.
#Aku mau istirahat dulu. ☺🙏