
"Mas... Mau kemana pagi - pagi sudah rapi, gak kayak biasanya," ctanya Maya sambil menikmati sarapan.
"Mau kerja cari uang Maya," jawab Panji.
"Selamat pagi Tuan," sapa asisten rumah tangga,
"Tuan Jeje sedang menunggu di depan."
"Suruh menunggu sebentar."
"Baiklah Tuan."
"Maya... Aku pergi dulu ya," pamit Panji.
"Baiklah Mas," jawab Maya kemudian salim dan mencium tangan suaminya,
"Hati - hati di jalan Mas, jangan lupa makan siang ya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambil menatap kepergian Panji suaminya... Maya berkata lirih,
"Dua malam suamiku tidak pulang, pulang - pulang bajunya bau farfum seorang wanita.
Pasti suamiku pergi bersama wanita simpanan nya.
Apakah aku sanggup bertahan dengan keadaan ini..?"
*
Pt Garment Jkt.
Jam 9 pagi, Mobil BMW memasuki halaman parkir khusus mobil Direktur.
Setelah keluar dari Mobil... Dengan setelan celana jean warna biru dongker yang sobek di lutut dan kaos putih... Panji dan Jeje asistenya berjalan menuju ke ruang Direktur.
Sementara...
Di ruang tunggu sudah ada meneger Kevin dan Pak Dedik yang menunggu kedatangan direktur yang baru.
"Selamat pagi Pak Dedik, selamat Pagi Pak kevin," sapa Jeje.
"Selamat pagi juga, pak Jeje," jawab menejer Kevin.
Melihat Panji yang berjalan dengan asisten Jeje... Pak Dedik mertuanya sangat terkejut, lalu berkata,
"Pak Jeje... Mengapa Bapak datang bersama bajingan ini..?"
"Apa maksud Pak Dedik dengan kata Bajingan..?" tanya Jeje,
"Ini adalah Tuan Panji Direktur sekaligus pemegang saham terbesar di PT Garment.
Jaga ucapan Pak Dedik..!
Walau masih sangat muda dan berpenampilan sederhana layaknya anak muda...
Tuan Panji adalah pengusaha besar."
Mendengar kata - kata asisten Jeje... Pak Dedik langsung lemas dan gemetar kakinya, kepalanya terasa berat dan banyak pertanyaan.
"Selamat siang Tuan Panji," sapa meneger Kevin kemudian bersalaman.
"Pagi juga Pak Kevin, bagaimana kabarnya...?"
"Alhamdulillah Tuan, baik - baik saja."
"Pak Dedik... Silahkan duduk," ujar Panji.
"Tuan Panji... Pt Garment memiliki hutang yang harus di bayar, karena ini sudah jatuh tempo," kata Pak Kevin.
"Siapa yang menandatangani perjanjian hutang piutang itu," tanya Panji.
"Direktur Dedik Tuan."
"Tagihlah sama Pak Dedik, aku tidak punya urusan sama hutang piutang itu," jawab Panji.
"Baiklah, karena hutang ini sangat besar jumlah... Maka kami akan menyita semua aset perusahaan ini Tuan."
"Menejer Kevin... Perusahaan ini 60% adalah milik ku, jika kamu menyita nya... Maka dalam waktu 2 hari, Bank Asia milik keluarga mu akan aku bikin bangkrut."
"Tuan Panji... Janganlah mengancam ku, aku bekerja sesuai aturan perbankan," kata Pak Kevin.
"Tuan Kevin... Saya harap Tuan berhati - hati ketika berhadapan dengan Tuan Panji," sahut Jeje,
"Tuan Panji bisa menghancurkan bisnis keluarga anda hanya dengan sekali telpon.
Jadi... Berhati - hatilah dalam berbicara."
"Selamat pagi Tuan Godfather," sapa Wilda dan Sherly sambil membungkukkan badan.
"Selamat pagi Wilda," sapa Panji, "Duduk sini, disamping ku."
"Pak Kevin... Masalah hutang piutang bapak urus dengan Pak Dedik selaku pemilik saham 40%.
Kalau saham 40% milik Pak Dedik di lepas... Aku mau membelinya sebagai pembayaran hutang."
"Baiklah Tuan Panji, kalau tetap tidak mencukupi untuk melunasi hutang... Maka kami akan menyita rumah dan kendaraan pribadi Pak Dedik."
"Sita saja Pak Kevin, aku tidak ada urusan sama orang miskin dan sombong," ujar Panji menyindir mertuanya,
"Jeje... Kamu urus masalah ini, aku mau ke ruang Direktur sama Wilda."
"Baiklah Tuan."
*
Ruang Direktur PT Garment.
Sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok... Panji berkata,
"Ini siapa..?"
"Ini Sherly Mas, orang kepercayaan ku," jawab Wilda.
"Sherly... Kamu kelola perusahaan ini ya? Aku sangat sibuk sekali," kata Panji.
"Baiklah Tuan, tetapi... Harus mendapat persetujuan presiden Direktur Wilda," ujar Sherly,
"Karena... Saya lagi bekerja untuk Nona Wilda."
"Aku setujui," sahut Wilda,
"Oh iya Mas, uang keuntungan saham selama 2 tahun di pertambangan sudah aku masukkan ke rekening asisten Jeje 3 Trilyun dan ke rekening Mas Panji 3 Trilyun.
Katanya... Mas mau beli Hotel Atlanta ya?"
"Terimakasih Wilda.
Iya benar, siang ini Jeje akan melakukan pertemuan dengan pemilik hotel Atlanta," ujar Panji,
"Sherly... Kelola PT Garment dengan baik ya... Kalau bisa, kamu buka cabang di kota - kota besar.
Nanti akan di bantu oleh Jeje asisten ku.
Sekarang... Aku mau pergi dulu, karena bisnis bukanlah ahli ku."
"Baiklah Tuan Panji."
"Wilda... Ayoo kita pergi senang - senang," ajak Panji.
"Baiklah Mas," jawab Wilda kemudian berdiri lalu berjalan mengandeng lengan Panji.
*
Karena tidak mampu melunasi hutang piutang yang sudah jatuh tempo dengan genap... Pihak Bank Asia akhirnya menyita beberapa rumah milik Pak Dedik, pihak Bank juga menyita beberapa mobil dan beberapa surat berharga.
Setelah semua rumah, mobil dan hartanya di sita bank... Pak Dedik mengalami serangan jantung dan di rawat di rumah sakit di kota Surabaya.
Untuk sementara... Keluarga Pak Dedik menempati rumah kontrakan yang kecil dan kumuh.
__ADS_1
*
Sehari kemudian.
Rumah sakit Elisabeth.
Ibu Mariam mamanya Maya sedang duduk di samping Pak Dedik yang sedang terbaring.
"Ma.... Maafkan Papa ya..?
Semua ini karnea salah Papa.
Ternyata... Lanji menantu kita adalah seorang pengusaha besar dan kaya raya.
Semua perusahaan kita telah di bikin bangkrut oleh Panji."
"Iya Pa,"
Sambil meneteskan air mata, ibu Mariyam berkata,
"Bagaimana mungkin, menantu gelandangan itu seorang pengusaha kaya raya..? Mustahil..!
Kehidupan nya saja seperti orang miskin."
"Selamat sore ibu Mariyam," sapa dokter,
"Ibu harus menyiapkan uang sebesar 100 juta untuk biaya operasi Tuan Dedik besok pagi.
Jika sudah ada uangnya... Silahkan datang ke ruang administrasi."
"Baiklah dokter," jawab ibu Mariyam lalu terdiam,
"Dari mana kita dapat uang sebanyak itu Pa..?
Untuk makan saja susah."
"Coba mama telpon Maya.
Maya pernah memberi kartu namanya kepada Papa.
Sebagai istri pengusaha kaya... Maya pasti punya uang.
Pinjamlah pada Maya anak kita.
Kartu namanya ada di dalam dompet."
Setelah mengambil kartu nama Maya di dompet... Ibu Mariyam terdiam sambil memandang kartu nama yang di pegangnya.
"Bagaimana aku harus berbicara dengan Maya, sedangkan aku sebagai orang tuanya tidak mengakui dia sebagai anak," ujar ibu Mariyam.l,
Tetapi... Aku butuh uang untuk biaya operasi Papanya."
Dengan terpaksa dan rasa malu... Ibu Mariyam memencet no telpon Maya, setelah tersambung,
"Maya....
Ini Mama Nak."
"Mama... Ada apa kok menangis..?
Mama sakit..?"
"Papa mu terkena serangan jantung Maya, kalau Maya punya uang... Mama mau pinjam 100 juta untuk biaya operasi besok."
Mendengar amamanya pinjam uang 100 juta yang notabene sedikit bagi keluarga Maya... Maya merasa heran, lalu berkata,
"Mama jangan bercanda kenapa sih..! Kan 100 juta itu uang yang sedikit bagi Papa.
Kok terdengar aneh sih Ma..?"
"Papa mu bangkrut Maya, 3 perusahaan Papa mu di sita bank, semua rumah, mobil dan surat berharga juga di sita bank."
"Kok bisa bangkrut Ma..?"
"Semua ini ulah Panji suami mu."
"Ulah panji suamiku..?
Baiklah Ma, aku transfer sekarang juga 300 juta.
Kring..!
Hp Panji berdering, setelah tersambung,
"Mas..! Kamu di mana..?"
"Ini perjalanan pulang, ada apa Maya kok kayak gelisah," ujar Panji.
"Gak apa - apa tmas, aku tunggu ya!"
"Iya, sebentar lagi juga sampai."
*
"Rumah Kediaman Maya"
““Assalamualaikum,“ sapa Panji.
"Waalaikumsalam," cjawab Maya yang duduk di teras rumah.
"Ada apa kok terlihat kesal," tanya Panji.
"Mas..! Apa benar kamu yang membuat perusahaan Papa ku bangkrut..?"
"Papa mu bangkrut itu karena perbuatan Papa mu sendiri. Bukan aku yang membuat Papa mu bangkrut
Aku hanya membeli sahamnya saja."
"Mengapa kamu kuasai saham milik perusahaan Papa ku..?
Kan Mas seharusnya membantu Papa, bukannya malah menguasai saham perusahaan Papa ku.
Kalau Mas menguasai saham Papa ku... Berarti Mas itu menghancurkan bisnis Papa!
Kalau perusahaan Papa tidak kamu ganggu, Papa masih sanggup membayar hutang & hutang nya di bank," ujar Maya,
"Janganlah mentang - mentang kamu kaya banyak uang, lalu kamu berbuat seenaknya menindas orang lain.
Masak Mas tega menyakiti Papa ku yang juga mertua Mas sendiri..!
Kalau Mas menyakiti ku...
Aku terima dan selama ini aku diam dan berusaha berbuat baik kepada mu.
Tetapi...
Kalau Mas menyakiti keluarga ku, terutama Papa Mama ku...
Aku jelas tidak terima.
Walau aku telah di keluarkan dari anggota keluarga... Bagaimana pun mereka adalah orang tua ku, mereka keluarga ku!"
Sambil menikmati kepulan asap rokok... Panji dengan santai mendengarkan Maya istrinya yang marah - marah.
"Sekarang... Semua rumah mobil di sita sama pihak bank, dan Papa masuk rumah sakit akibat serangan jantung," ujar Maya.
"Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa - apa sama Papa mu," kata Panji.
"Tenang gimana..!
Mama sampai telpon nangis - nangis pinjam uang buat operasi.
Sore ini juga... Aku ke Surabaya!"
"Baiklah, aku temani kamu ke Surabaya."
"Gak usah, aku bisa ke Surabaya sendirian, sekalian aku mengurus surat cerai kita, aku sudah sakit hati sama kamu," ujar Maya kemudian berdiri lalu masuk ke kamar mengemasi pakaian, lalu pergi meninggal Panji suaminya tanpa pamit.
Melihat kepergian Maya dengan hati penuh amarah... Panji hanya tersenyum dan tidak terkejut sama sekali, lalu Panji mengeluarkan hp dan menghubungi Wilda.
Kring..!
__ADS_1
Hp Wilda berdering. Setelah tersambung,
"Iya Mas..."
"Jemput aku ya, di rumah Villa Abadi," ujar panji.
"Iya Mas.
Hemmm, gak kasihan sama Maya, kok baru pulang di tinggal lagi."
"Maya menceraikan aku, sekarang dia pergi pulang ke Surabaya."
"Baiklah Mas, tunggu 30 menit, kebetulan aku lagi berada di kantor pusat PT Java Kontraktor."
Tak lama kemudian... Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pintu gerbang.
"Selamat sore Nona Wilda," ujar salah satu penjaga rumah sambil membungkukkan bandan.
"Sore juga Pak..m
Godfather nya ada Pak..?"
"Itu sedang menuju kemari Non."
"Pak... Saya pergi dulu ya..?
Jangan lupa solat," ujar Panji.
"Baiklah Tuan Godfather."
Mobil melaju perlahan - lahan keluar perumahan.
"Kemana Mas," tanya Wilda,
"Ke rumah Mbah Dirjo sebentar."
"Baiklah.
Pak sopir... Jalan ke arah hotel Atlanta ya."
"Baiklah Bu."
"Mengapa Maya menceraikan mu Mas..? Bukannya kamu dan Maya berpacaran sejak kelas 1 SMP..?
Naru menikah kok bercerai," tanya Wilda.
"Mungkin...Jodoh ku dengan Maya hanya dua bulan saja.
Dan... Mungkin ini jalan yang terbaik dari Allah untuk ku dan untuk Maya.
Untuk apa terlalu di pikirkan, malah membuat hati susah dan menderita. Lebih baik ikhlas menerima takdir keputusan Allah atas perceraian ini. Hidup di buat senang saja biar bahagia.
Kan masih banyak wanita cantik untuk di jadikan istri."
"Begitu ya...
Enak banget jawabannya, enteng dan simpel."
"Di cerai Maya... Ya cari istri lagi.
Kamu mau gak jadi istri ku," ujar Panji.
Mendengar pertanyaan Panji... Wilda sangat terkejut. Karena kata - kata inilah yang dua tahun di nanti oleh Wilda.
"Ya mau lah Mas, kan dari sejak remaja Mas Panji yang mengurus ku, hingga sekarang pun Mas masih saja menjaga ku.
Apa yang Mas Panji katakan ya aku turuti," jawab Wilda.
Setelah mobil mewah parkir di halaman hotel Atlanta... Wilda turun lalu berkata,
"Pak Adi... Bapak pulang saja ya..?
Besok pagi jam 7 bapak ke hotel sini lagi.
Ini uang, ajak istri dan anak - anaknya makan di restoran atau di lesehan ya Pak, ayo di terimah."
"Terimakasih bu Wilda. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Baiklah Pak Adi.
Pakai saja mobil ini sama keluarga ya?"
"Iya bu Wilda."
*
Rumah Mbah Wali Dirjo.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Gus, silahkan masuk.
Siapa lagi yang kamu bawah ini..?"
"Calon istri baru Mbah," jawab Panji kemudian duduk di atas tikar.
"Maya kemana..?"
"Murid Mbah Dirjo tadi marah - marah, dan menceraikan aku.
Sebagai guru waskito... Sepertinya Mbah Dirjo gagal deh mendidik Maya, hahaha."
"Ngawur saja kamu, kalau sudah menjadi seorang istri... Ya tanggungan suaminya, berarti kamu yang gagal mendidik Maya istri mu. Hahahaha."
"Ini Mbah kopi nya," ujar salah satu santri sambil meletakkan beberapa gelas di atas karpet,
"Ayo Gus di minum kopinya, Nyai... Silahkan."
Setelah menyeruput kopi... Mbah wali Dirjo berkata,
"Sebentar lagi Maya akan mencari mu, dia akan sadar dan menyesali kesalahannya.
Karena... Orang yang paling di cintai adalah kamu Gus.
Seandainya Maya menikah dengan lelaki lain... Di hatinya hanya ada kamu Gus."
"Mengapa begitu Mbah..?"
"Itulah karma dari sebuah ketulusan cinta."
"Berarti... Suaminya Maya kelak, bisa memiliki raganya tetapi tidak pernah memiliki hati dan cinta nya.
Kasihan sekali... Seperti menikah dengan patung."
"Ya... Itulah kehidupan Gus. Cinta sejati itu tulus menerima apa adanya walau tersakiti.
Setia dalam penderitaan, tetap mengabdi walau di tinggal mati. Rela atas segala perbuatan pasangannya," ujar Mbah Dirjo,
"Seperti cinta nya seorang hamba kepada Tuhan nya.
Walau tidak pernah bertemu dan melihat Tuhan nya...
Hamba itu tetap setia dalam sujudnya, rela meninggalkan laranganya dan mematuhi segala perintahnya.
Sabar dalam penderitaan ketika mendapat ujian dan cobaan yang berat. Bahkan rela sakit dan mati untuk mempertahankan cintanya kepada Tuhannya."
Mendengar kata - kata Mbah Wali Dirjo... Wilda merinding bulu kudunya.
"Orang yang pintar agama... Kebanyakan dia akan protes atas takdir keputusan Tuhan.
Orang yang bodoh... Kebanyakan, dia akan ikhlas, diam berserah diri kepada Tuhan atas takdir yang menimpahnya," ujar Mbah Dirjo.
"Mbah... Aku ingin nikah siri sama Wilda ini, besok kalau ada waktu yang tepat... Aku ingin menikahinya secara Resmi di KUA," pinta Panji,
"Aku ingin Mbah Dirjo yang menikahkan malam ini."
"Istri satu saja tidak kamu urus, kok mau nambah lagi," ujar Mbah Dirjo,
"Tetapi...
Baiklah, akan aku nikahkan."
__ADS_1
Setelah menikah dengan Wilda... Panji pamit lalu menuju ke kos - kossan di belakang Hotel Atlanta.
Sesampainya di kos - kossan... Wilda melihat ada banyak persediaan makanan di dalam kulkas, lalu Wilda menanak nasi dan masak untuk makan malam.