
Setelah beberapa menit, sampai lah Panji di depan gang, lalu menghentikan langkahnya.
"Jadi kepingin tau kayak apa sih depan Hotel Atlanta itu?" gumam Panji kemudian melangkah menuju depan Hotel.
Ketika melihat bentuk Hotel... Panji di kejutkan oleh suara seorang laki - laki yang duduk di bawah pohon pinggir jalan,
"Mas... Miinta rokok nya!"
"Ini Pak, silahkan," ujar Panji menyodorkan rokok marlboro.
"Ada rokok jie sam sue tidak!!" ujar seorang laki - laki.
Karena teringat wejangan Nyai Sa'adah, bahwa wali itu kadang bisa menjadi pengemis, orang gila dan gelandangan... Akhirnya Panji berkata,
"Sebentar yaa Pak, aku belikan di warung gerobak pojok depan hotel itu yaa."
"Kalau ke warung gerobak, sekalian belikan nasi bungkus dan teh botol Mas," seru seorang laki - laki.
"Iya Pak," jawab Panji kemudian berlalu.
*
"Pak, beli rokok jie sam soe 1 bungkus dan nasi bungkus juga teh botol," ujar Panji,
"Pak... Bapak tau gak gelandangan yang duduk di bawah pohon kamboja depan hotel itu?"
Sambil melihat... Pak Win pemilik kedai gerobak berkata,
"Oooh, Itu Mbah Dirjo Mas. Dia bukan gelandangan, tetapi pencari barang rongsokan, seperti botol bekas juga plastik di pinggir jalan dan tempat - tempat sampah.
Mbah Dirjo suka istirahat duduk di bawah pohon kamboja kalau malam hari."
"Mbah Dirjo, rumahnya mana Pak?" tanya Panji penasaran.
"Itu sebrang jalan, Ada gang Melati depan hotel, rumahnya mentok paling ujung, yang ada musolla nya," kata Pak Win pemilik warung gerobak,
Tetapi yaa itu... Mbah Dirjo itu radak - radak."
"Radak - radak gimana maksudnya Pak," tanya Panji.
"Kurang 1 % Mas, Mbah Dirjo itu kurang sempurna akalnya, kalau orang - orang sini mengatakan agak gila," jawab Pak Win,
"Mas ini membelikan Mbah Dirjo yaa?"
"Iya Pak," jawab Panji.
"Ya gitu Mas, Mbah Dirjo suka bentak - bentak orang lewat, kadang membentak tamu Hotel, hanya untuk minta makan dan rokok," ujar Pak Win.
"Oh gitu yaa Pak, ini uangnya, terimakasih yaa Pak," kata Panji kemudian pergi.
"Mbah... Ini masi campur ikan daging rendang dan rempela hati sapi, ini teh botol dan air Aqua, dan ini rokok jie sam sue 1 bungkus plus koreknya," kata Panji,
"Yang ini air Aqua dan teh botol dingin punyaku."
Tanpa berterimakasih... Mbah Wali Dirjo menerima bingkisan lalu menaruhnya di atas trotoar.
"Ayoo Mas, makan bareng aku," ajak Mbah Dirjo sambil membuka karet nasi bungkus.
"Terimakasih Mbah, aku sudah makan barusan," kata Panji menolak ajakan Mbah Wali Dirjo.
Sambil makan nasi bungkus, dengan duduk bersilah di atas trotoar pinggir jalan... Mbah Wali Dirjo menerawang Panji, lalu berkata dalam hati,
"Dengan kecerdasannya... Dan bekal wejangan Nyai Sa'adah juga Kyai Jabat... Gus Panji ini bisa mengetahui siapa diriku sebenarnya.
Sudah berpuluh - puluh tahun aku menyembunyikan identitas diriku... Baru Gus Panji lah orang yang bisa mengetahui jatidiri ku.
Tetapi... Gus Panji ini belum mengetahui siapa diriku 100%.
Anak Harimau berkeliaran di Jakarta, bisa - bisa kacau Jakarta ini. Kalau kacau... Aku sendiri yang repot.
Anak - anak selalu nakal dan suka membuat iseng karena ketidak tauhannya, persis kayak Spiderman Al-jawwi!
Gus Panji ini keturunan ke 4 dari Mbah Wali Suro yang bergelar Ayeh Jalaluddin Akbar! Guru besar Mursid Torekot Al Fattah.
Dari tanda di Ruh nya... Gus Panji ini pernah bertemu dengan 4 wali besar di wilayah Banten. Walau Gus Panji bukan murid ke 4 wali tersebut... Tetapi Gus Panji sangat di sayangi juga di lindungi doa mereka.
Cincin Taji Kubro di jari kirinya adalah cincin untuk keselamatan, untuk melindungi dirinya dari serangan kekuatan jahat bangsa jin dan manusia. Sebuah cincin yang sangat langkah dan luar biasa kekuatannya. Hanya orang - orang tertentu yang memakai cincin Taji Kubro itu.
Walau Gus Panji masih anak - anak... Dia sudah memiliki kekeramatan yang luar biasa. Walau tidak kerja... Dia bisa memiliki uang banyak tanpa susah payah, dia bisa hidup mewah.
Gus Panji sering mendapatkan bisikan petunjuk dari Nur Warid ( Laduni ) yang ada di dalam hatinya atau guru sejati.
Gus Panji tidak puasa dan jarang solat, karena sudah ada yang menanggungnya. Mulia sekali Gus Panji ini, puasa dan solat sudah ada yang menanggung.
Repot kalau ketemu wali kecil model gini!"
Setelah selesai makan... Mbah Wali Dirjo melempar bungkusnya di tepi jalan, kemudian minum teh botol, lalu menyulut rokok.
"Siapa nama mu," tanya Mbah Wali Dirjo.
"Panji Mbah. Mbah siapa nama nya."
"Aku Dirjo.
Kamu tinggal di mana."
"Kos di gang buntu Mbah, belakang Hotel ini," kata Panji sambil menunjuk Hotel Atlanta.
"Enak kamu kos di situ, bertetangga dengan para pelacur kelas atas," ucap Mbah Wali Dirjo,
"Kamu bisa sewa mereka untuk tidur bareng, hahaha.
Kamu bisa bayar mereka untuk bercinta di kamar kos hahaha. Kan kos - kossan di gang buntu itu bebas, yang penting ada uang. Kan kamu banyak uangnya!!
Di belakang kamar kos mu, banyak juga orang susah."
"Kok tau Mbah kalau aku banyak uang!!!" tanya Panji.
"Lah ini buktinya, kamu beliin aku nasi daging dan rokok juga teh Bbtol," ujar Mbah Wali Dirjo,
"Biasanya... Kebanyakan orang mengasih sesuatu yang jelek, yang murah dan sedikit. Kalau kamu kan memberi ku sesuatu yang baik dan pantas."
"Mbah Dirjo rumahnya di mana," tanya Panji.
"Itu ada gang Melati, mentok paling ujung," kata Mbah Wali Dirjo,
"Kalau kamu main ke rumah ku, makan minum di rumahku dan mau mandi di rumah ku... Aku jamin kamu ahli surga, dan hidup mulia dunia akhirat."
"Hahaha, Mbah ini lucu," ujar Panji tertawa,
"Mbah saja belum tentu menjamin diri sendiri masuk surga, kok menjamin ku masuk surga? Apa Mbah Dirjo di surga punya kenalan orang dalam? Hahaha. Mbah saja hidup susah di jalan, kok memastikan hidup ku mulia?"
"Diam kamu! Keras banget ketawanya," bentak Mbah Wali Dirjo,
"Sudah gak ada kopinya... Ketawa keras!
Sana kamu belikan aku kopi hitam yang pahit."
__ADS_1
"Baiklah Mbah, senang juga ngobrol sama si Mbah ini, bisa buat hiburan," ujar Panji kemudian melangkah memesan 2 gelas kopi di warung gerobak Pak Win.
Tak lama kemudian,
"Ini Mas kopi nya," ujar Pak Win sambil menaruh gelas di atas trotoar,
"Ini rokoknya."
"Terimakasih Pak," kata Panji.
"Mbah... Malam ini Mbah Dirjo aku mulyakan dengan segelas kopi, ini aku belikan rokok lagi," kata Panji sambil menyodorkan secangkir kopi.
"Kamu..! Baru belikan aku kopi saja sudah bilang memulyakan," ujar Mbah Dali Dirjo meledek,
"Aku minta uangnya!!!"
"Ini Mbah tak kasih uang," kata Panji kemudian menyodorkan selembar uang 5 ribu.
"Buat apaaaa! Uang 5 ribu," kata Mbah Wali Dirjo,
"Aku mau semua uang yang ada di dompet dan saku baju mu."
"Baiklah," kata Panji kemudian mengambil semua uang dari dompet dan saku bajunya,
"Ini Mbah, kurang lebih 500 ribu itu."
"Lah, kalau banyak aku mau," ujar Mbah Wali Dirjo kemudian berdiri dan pergi meninggal kan Panji sendirian.
"Repot ketemu orang setengah gila itu, kopi belum di minum sudah di tinggal pergi, rokoknya juga gak di bawah, gak pamit lagi," gumam Panji,
"Lebih baik aku balik ke tempat kos, istirahat."
***
Malam jam 2 Dini hari... Dengan langkah gontai Panji melangkahkan kaki menuju kos - kossan.
Ketika hendak sampai di depan pintu... Ada wanita cantik menyapanya,
"Malam Mas..."
"Malam juga Mbak," jawab Panji lalu berhenti di depan pintu.
"Mas penghuni baru kamar pojok ya?" tanya wanita cantik.
"Iya Mbak benar," jawab Panji.
"Tadi sore aku mulai tempati."
"Kalau boleh tau... Siapa nama nya Mas ini?" tanya wanita cantik,
"Duduk di teras dulu Mas, biar enak ngobrol nya.
Sama tetangga kos biar saling kenal dan akrab.
Siapa tau kita saling membutuhkan pertolongan."
"Baiklah Mbak," kata Panji kemudian duduk bersandar di kursi yang ada di teras kos.
"Kenalkan nama ku Dewi," sambil menjulurkan tangannya.
"Aku Panji."
"Masih remaja kok sudah kos Mas ini? Apaaa sekolah sambil kos," ucap Dewi.
"Iya Mbak, Baru umur 17 kurang," ujar Panji,
Mbak Dewi sekolah apa kerja apa kuliah?"
"Auww, gitu ya!!" ujar Dewi,
"Aku kerja Mas Panji."
"Kerja di mana Mbak Dewi ini," tanya Panji.
"Aku kerja sebagai wanita penghibur, bisa di bilang Pelacur lah, hehehe," ujar Dewi.
"Emang umur berapa mbak Dewi ini," kata Panji.
"Baru 19 tahun Mas Panji, tua an aku 2 tahun sama Mas Panji," kata Dewi.
"Malam ini... Mbak Dewi kok gak kerja," ujar Panji.
"Kerja Mas panji... Dewi di kamar kos sambil tunguh panggilan telepon saja.
Kan kerja sama dengan pihak Hotel Atlanta depan ini.
Kalau ada tamu yang membutuhkan jasa ku, resepsionis hotel pasti telpon. Yaa aku meluncur, kan dekat sini beberapa langkah."
"Oooh gitu ya Mbak," ujar Panji kemudian mengeluarkan rokok marlboro lalu menyulutnya.
"Barangkali Mas Panji butuh jasa ku, ya gak apa - apa," ujar Dewi,
"Barangkali pinggin teman tidur atau mau di pijit juga gak apa - apa.
Kalau sama tetangga kos, diskon 50% hahaha, kalau orangnya ganteng kayak Mas Panji... Full Servis pokok nya."
"Hai Dewi, kayaknya seneng banget lu," sahut Eka tetangga kos sebelah lagi pas keluar kamar,
"Sampai kedenger ketawanya dari dalam kamar."
"Eka..! Sini deh, ada berondong cakep, tetangga baru kita kamar keramat," ujar Dewi.
Mendengar dan melihat tetangga barunya sesama penghuni kos... Panji hanya tersenyum saja.
"Mas Panji... Kenalin, ini Eka Paramita Primadona kos - kossan Gang Buntu," kata Dewi,
"Dia paling cantik paling sexi.
Dia orang sunda dari kota Bandung.
Barangkali mas panji pinggin boking Mbak Eka juga bisa hahaha, sama diskonnya 50% hahaha."
"Ganteng amat..! Imut - imut. Kenalin aku Eka."
"Aku Panji."
"Mas Panji sendirian aja ngekos nya," tanya Eka.
"Iya Mbak Eka," jawab Panji.
"Kalau gitu... Malam ini aku tidur di kamar Mas Panji yaa? Hahaha," ujar Eka,
"Dewi..! Kamu jangan ikut - ikutan."
"Hahahaha, kalau ada Brondong aja lu semangat," ujar Dewi,
"Bagaimana kalau kita tidur bertiga, hahahah."
__ADS_1
"Mbak Dewi, kok dari tadi sore aku dengar kamar kos ku ini di bilang kamar keramat sih, bahkan mbak Dewi tadi, barusan juga bilang kamar keramat.
Itu maksudnya gimana ya," tanya Panji.
Mendengar pertanyaan Panji... Dewi dan Eka diam sejenak, lalu berkata,
"Katanya sih, katanya... Gosibnya begini,
di kamar pojok ini... Dulunya ada orang bunuh diri dengan cara gantung diri. Sejak itulah kamar pojok itu angker.
Orang yang kos, tinggal di kamar pojok ini, sering mendengar suara lelaki menangis, kadang melihat ada orang duduk di dalam kamar, kadang ada suara orang mandi.
Kadang penghuni kamar pojok mimpi seram.
Bahkan ada yang kesurupan dan ada yang sakit tiba - tiba."
"Ooh, gitu ya," kata Panji,
"Jadi penasaran ini, pinggin ketemu hantunya."
"Kalau udah ketemu hantunya... Mau Ngapain Mas Panji," tanya Eka.
"Ya mau di ajak ngopi lah, hahaha," ujar Panji.
"Ha!! Kamu, tak kira mau ngapain," sahut Eka.
Mbak Dewi kan tetangga pas bersebelahan dengan kamar kramat, apa gak takut..? Apa gak di ganggu," tanya Panji.
"Gak pernah Mas Panji, mungkin setannya gak gak punya uang buat boking aku, hahahaha," ujar Dewi tertawa.
"Mulai, mulai... Kalau bercanda asal nyeplos," sahut Eka.
"Udah dulu ya Mbak Eka, Mbak Dewi... Aku mau istirahat tidur," ucap Panji.
"Eeeh, tunggu Mas Panji," ujar Dewi,
"Aku pinggin lihat ruangan kamar kramat."
Setelah masuk ke dalam kamar Panji... Dewi berkata,
"Serem banget nieh kamarnya, lampu kurang terang, cat temboknya agak kusam.
Mas Panji gak takut sendirian?"
"Gak Mbak Dewi," kata Panji.
"Kasihan kamu gak ada bantal guling, gak ada kasur atau tikarnya," ujar Eka,
"Dewi... Pinjamin Mas ganteng ini bantal dan selimut."
"Hemm, gak usah Mbak, besok pagi biar aku beli sendiri," ujar Panji.
"Baiklah Mas Panji, aku permisi dulu yaaa, besok kita ngobrol lagi sambil ngopi," ujar Dewi dan Eka kemudian keluar kamar.
Tak lama setelah Dewi dan Eka keluar kamar... Panji merebahkan badan di atas lantai keramik, berbantal tumpukkan baju.
Ketika baru saja memejamkan mata... Panji mendengar suara orang mandi di sebelah dapur. Namun Panji diam saja.
Setelah suara orang mandi hilang... Panji mendengar suara orang mengaduk gelas dan bau kopi. Tak lama kemudian Panji kaget mendengar suara panci terjatuh.
Karena tidurnya terganggu... Panji akhirnya bagun lalu berjalan menuju dapur dan melihat asal suara tersebut.
"Tidak ada siapa - siapa," gumam Panji,
"Heee, setan! Jangan berisik yaaa, aku mau istirahat tidur.
Kalau tidak mau diam... Tak usir kamu dari kamar ini."
Tak lama kemudian, Panji tertidur lelap.
Matahari telah meneranggi kota jakarta.
Setelah bertanya... Pagi jam 06: 30, dengan di kawal dua orang lelaki, Aini mengetuk pintu kamar Panji,
Tok tok tok, "Mas panji..?"
"Masuk ajah Ruli," ujar Panji sambil tengkurap dan memejamkan kedua matanya, tidur kembali.
Mendengar Panji menyuruh masuk... Akhirnya Aini pun masuk ke kamar,
"Hemmm, masih tidur dia Mas Panji.
Kamar kos ini sangat kumuh, kotor dan pengab sekali.
Cendela tidak bisa di buka, kipas tidak ada.
Kasur bantal guling tidak ada.
Orang kos sebelah bilang... Panji baru semalam tinggal di sini. Lebih baik, aku sekolah dulu. Sepulang sekolah aku kesini lagi."
Setelah menutup pintu kamar, Aini pun berjalan menuju mobil yang di parkir di area Hotel. Setelah berada di area parkir Hotel... Aini terus berjalan menuju Resepsionis Hotel lalu berkata,
"Pagi Mbak."
"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu," jawab petugas Resepsionis.
"Aku mau pinjam telpon," kata Aini.
"Oh iya Non, silahkan, ini telponnya," kata Resepsionis sambi mengangkat kotak telpon.
Setelah menekan tombol angka telpon, Aini berkata,
"Tolong sambungkan ke pak Rudi, Direktur Pt Mega kontraktor wilayah Jakarta.
"Dengan siapa ini?" jawab penerima telpon.
"Aku Aini putri Pak Hong shi, pemilik P.t Mega kontraktor."
"Baiklah Tuan putri," kata penerima telpon.
"Selamat pagi Tuan Putri... Ada yang bisa saya bantu," ujar Pak Rudi.
"Pak Rudi... Tolong rapikan dan di perbaiki kamar kos paling ujung di Gang Buntu belakang Hotel Atlanta.
Atas Nama Ahmad Panji Hening.
Ganti plafonya, cat ulang warna putih, perbaiki cendela dan di plitur ulang.
Pasang listrik atas nama pak Panji, pasang Ac, pasang shower air panas dingin, dan pasang Air PDAM.
Ingat..! Nanti Sore jam 6, semuanya harus selesai.
Kalau tidak selesai jam 6 Sore... Aku pastikan Pak Rudi besok tidak akan kerja lagi menjabat Direktur."
"Iya Tuan putri siap - siap," jawab Pak Rudi agak ketakutan kalau jabatannya di copot.
"Oh iya, sekalian ukur ruang kamar lalu belikan karpet tebal yang berbulu dan Gorden," setelah menutup telpon, Aini pun pergi ke sekolah.
__ADS_1