SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
PENYESALAN MAYA


__ADS_3

Losmen Batu Hiu Banten.


"Selamat malam Nyonya Ruli," sapa asisten Jeje sambil membungkukkan badan.


"Selamat malam juga, bapak siapa..? Dan ada keperluan apa mencari saya," tanya Ruli.


"Saya Jeje, asisten Tuan Godfather.


Tuan Godfather suami Nyonya, telah membeli Hotel Atlanta bintang 5 atas Nama Nyonya.


Jadi... Saya ingin mengajak Nyonya Ruli untuk ke Jakarta malam ini, karena... Jam 10 malam, Nyonya Ruli harus melakukan tanda tangan surat perjanjian jual beli."


"Apa..! Membeli Hotel," ujar Ruli terkejut,


"Ngurus toko agen beras sama Losmen saja sibuk sekali, apalagi mengelola hotel..?"


"Tuan godfather berpesan... Losmen dan hotel biar di urus oleh meneger saja, toko di pasar biar ibu yang mengelola."


"Baiklah, Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."


Kring..!


Hp asisten Jeje berdering, setelah tersambung,


"Selamat malam Godfather."


"Kamu dimana sekarang," tanya Panji.


"Saya lagi di Losmen Batu Hiu Tuan, lagi menjemput Nyonya Ruli untuk tamda tangan surat jual beli hotel di Jakarta.


Jam 10 malam Nyonya Ruli harus ada di restoran hotel Atlanta."


"Baiklah, suruh Nyonya Ruli tinggal di Jakarta.


Oh iya, nanti jam 11 malam temui aku di kos - kossan," ujar Panji kemudian menutup telponnya.


*


Rumah sakit Elisabeth Surabaya.


"Mama..." sapa Maya kemudian mencium pipi Mamanya, lalu mencium pipi Papanya,


"Bagaimana keadaan Papa..?"


"Papa mu baik - baik saja Maya, hanya kena serangan jantung ringan.


Tadi setelah kamu tranfer... Mama langsung membayar biaya operasi besok pagi.


Mama dan Papa minta Maaf ya Maya..? Mama dan Papa terlalu keras kepada mu."


"Sudahlah Ma... Lupakan saja, semua salah Maya.


Papa...


Apa benar yang membuat semua bisnis Papa hancur itu Mas Panji suami ku..?"


"Iya Maya, Panji telah melakukan konspirasi dengan pengusaha lain, untuk merebut perusahaan Papa.


Tidak aku sangka, ternyata Panji suami mu pemuda yang sangat berpengaruh, dan kaya raya. Pengusaha besar juga presiden Direktur Jialing Group saja hormat, bahkan meneger bank Asia pun juga takut sama suami mu."


Mendengar kata - kata Papanya... Maya tidak terkejut, selain banyak uang... Suaminya juga ketua organisasi The Bluss yang mempunyai anak buah para Mafia.


"Aku besok bercerai sama Panji suami ku Pa..! 0apa tenang saja ya... Jangan mikir aneh - aneh," kata Maya


"Maya pastikan perusahaan Papa akan kembali.


Setelah sembuh... Maya akan bayar semua hutang Papa."


"Apa kamu punya uang 200 Milyar Maya..?


Hutang papa mu sebesar 200 Milyar."


"Punya Ma, besok aku akan pergi ke Bank Asia, aku kenal dengan wakil menegernya."


*


Siang di Surabaya.


Setelah menjalani operasi jantung... Pak Dedik kesehatan nya sudah kembali setabil.


Tiba & tiba,


"Selamat siang Bu...


Selamat siang Pak Dedik."


"Ada apa pak Jeje kemari..?"


"Hutang Pak Dedik sebesar 200 Milyar sudah kami lunasi. Semua mobil dan rumah milik Pak Dedik sudah di kembalikan oleh pihak bank. Pak Dedik hanya perlu datang ke Bank Asia untuk tanda tangan saja," ujar asisten Jeje,


"Kedua...


Pembangunan perusahaan milik Pak Dedik di Jakarta, kembali di lanjutkan oleh PT Java Kontraktor


Ketiga...


Saya titip dokumen ini untuk Nyonya Maya.


Ini adalah surat kepemilikan aset milik Nyonya Maya.


Selamat siang," ujar Jeje kemudian pergi meninggal kamar rumah sakit.


Kring..!


Hp Panji berdering, setelah terhubung,


"Panji..!


Di mana kamu..!"


"Mama... Ada apa sih teriak - teriak.


Panji ada di Jakarta."


"Barusan Maya istri mu kemari, dia mengantarkan surat cerai dari pengadilan agama.


Kamu itu bagaimana sih, baru saja menikah sudah cerai, bikin malu Mama saja.


Ada masalah apa dengan Maya..!x


"Maya minta jalan - jalan ke kutub utara Ma... Gak aku turuti.


Eh... Dia marah - marah, lalu ingin menceraikan aku.


Coba Mama pikir, ke Kutub Utara itu naik apa..?


Lagian di Kutub Utara tidak ada warung, tidak ada pasar."


"Yang benar kamu kalau bicara..?"


"Iya Ma," ujar Panji berbohong.


"Ya sudah, kamu segera pulang temui Mama, Mama ingin ngobrol sama kamu."


"Iya Ma,


Assalamualaikum," ujar Panji kemudian menutup telponnya.


*


Bank Asia.


"Selamat siang mbak Anita..."


"Selamat siang juga...


Apa ini Non Maya istrinya Tuan Panji..?"


"Iya Mbak, tetapi sudah cerai.

__ADS_1


Aku kesini mau melunasi hutang Pak Dedik Direktur PT Garment Jkt."


"Semua hutang direktur Pak Dedik sudah di lunasi oleh Tuan Panji tadi pagi jam 9 Non. Tuan Panji juga menitipkan uang sebesar 200 Milyar untuk Pak Dedik, katanya sebagai ganti rugi PT Garment yang di ambil alih oleh Tuan Panji."


"Apakah Tuan Panji tadi pagi ke sini..? "


"Tidak Non Maya, asistennya yang kemari."


"Baiklah mbak Anita, saya permisi dulu.


Kemungkinan besok Pak Dedik akan kemari," ujar Maya kemudian berjalan meninggal bank.


"Mengapa Panji membayar semua hutang Papa ya..? Juga mengapa Panji juga memberi kompensasi uang perusahaan yang telah di ambil alih sama Panji..?


Apa Panji berharap aku tidak menceraikan nya," ujar Maya lirih dalam hati.


*


Rumah sakit Elisabeth.


“Mama...


Papa...


Barusan aku dari bank Asia, pihak bank mengatakan... Semua hutang Papa sudah lunas, dan ada uang kompensasi PT Garment untuk Papa sebesar 200 Milyar."


"Apa..! Kompensasi 200 Milyar..!x


"Iya, Papa bisa mengambil kapan saja."


"Maya... Ini ada titipan tas untuk mu, dari Panji suami mu," kata Mama Maya.


"Apa Ma isinya..?"


"Kata asistennya... Berkas Dokumen kepemilikan aset."


"Apa..!" sahut Maya kemudian membuka tas.


Setelah melihat dan membacanya... Maya meneteskan air mata.


Mengapa kamu menangis Nak," tanya Mama Maya,


"Berkas apa di tas itu..?"


"Gak apa - apa Ma.


Ini sertifikat rumah mewah di jakarta dan di 7 Negara Asia. Juga Mobil BMW dan pesawat pribadi atas nama ku Ma...


Semua ini hadiah dari Panji."


Setelah meletakkan tas yang berisi berkas penting... Maya keluar ruangan, lalu duduk di teras kamar sambil menangis.


"Ternyata Mas Panji orang yang sangat baik sekali," ujar Maya pelan,


"Dia telah menyiapkan segalanya untuk membahagiakan ku, hanya saja aku tidak tau.


Aku terlalu emosi hingga aku lupa kewajiban ku sebagai seorang istri.


Lebih baik aku temui Mas Panji, aku harus minta maaf sebelum terlambat."


"Papa...


Mama...


Maya ke Jakarta dulu ya."


"Apa sekarang juga kamu ke Jakarta..?"


"Iya Ma, ada urusan penting sekali sama Mas Panji."


"Baiklah Maya, hati - hati ya."


***


Jakarta.


Mumpung siang," kata Panji.


"Iya Mas, aku tak ganti baju dulu.


Lama ya Mas perginya..?"


"Iya Wilda, kemungkinan lama."


"Kesepian lagi dong Wilda, gak ada teman tidurnya? He he he."


"Yaa telpon saja kalau kangen, kamu bisa menemui ku sewaktu - waktu."


Tak lama kemudian... Panji dan Wilda meluncur ke arah ujung kulon pulau jawa.


Sambil tiduran di paha Panji suaminya... Wilda berkata,


"Kita ini mau jalan + jalan ke pantai kah Mas..?"


"Kita mau ke pondok pesantren Al Jabbary di pantai Bagedur, desa Mantan kecamatan Malimping Lebak Banteng."


"Apa Mas Panji mau Tirakat jadi orang gila kayak dulu lagi..?"


"Gak tau ya, apa kata Kyainya saja."


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam, sampailah Panji di desa Mantan di tepi pantai Bagedur.


"Pak Adi... Berhenti di sini saja. Pak Adi ngopi sekalian atau makan juga di warung."


"Baiklah Tuan."


Setelah turun dari mobil mewah, Panji dan Wilda berjalan di sebuah warung bambu di tepi pantai.


"Buk... Kopi hitam 1 ya, sama es coca - cola," ujar Wilda.


"Baiklah Non."


"Buk... Di mana rumah kyai Abdul jalil ya," tanya Panji.


"Itu Tuan, yang ada masjid nya, persis di tepi pantai itu.


Di samping masjid rumahnya.


Ini Tuan kopinya, ini es coca - colanya."


*


Setelah membayar minuman... Panji dan Wilda berjalan menuju masjid.


Dengan setelan rok mini dan kaos strit, juga rambut sebahu yang terurai, kehadiran Wilda di depan pintu gerbang pesantren menjadi perhatian beberapa para santri.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab Gus Hudi salah satu santri yang berasal dari kabupaten Malang.


"Apakah Syeh Abdul Jalil ada," tanya Panji.


"Ada kang.


Tetapi... Biasanya habis solat Magrib Syeh Abdul Jalil menemui tamu."


"Baiklah kang, akan saya Tunggu," ujar Panji,


"Wilda... Kamu kembali saja ke Jakarta."


"Baiklah Mas,* ujar Wilda kemudian salim dan mencium tangan Panji suaminya.


"Nanti... Kamu mampir ke hotel Atlanta, temuilah Ruli, ajaklah Ruli mendaftar kan sekolah, agar bulan depan bisa ikut ujian dan bisa kuliah," pesan, Panji,


"Oh iya... Suruh Ruli untuk les privat ilmu bisnis perhotelan.


Suruh dia tinggal menetap di Jakarta untuk sementara.


Kalau Ruli mau... Bisa tinggal di kos - kossan."

__ADS_1


"Baiklah Mas, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Wilda."


"Masih jam setengah lima," ujar Panji kemudian masuk ke masjid. Setelah bersuci, Panji melaksanakan solat Asar.


Setelah solat... Panji melantunkan Dzikir ismudzat pelan - pelan sambil menerawang keadaan sekitar pesantren Al jabbar.


Sambil menerawang Panji berkata dalam hati,


"Ternyata Syeh Abdul Jalil tidak ada di pesantren.


Salik Syeh Abdul jalil sudah genap 40 orang, berarti... Aku tidak akan di terima menjadi muridnya.


Benar apa yang di katakan oleh kyai Jabat.


Ternyata...


Di pondok pesantren Al jabbar ini hanya ada 40 kamar yang terbuat dari bilik bambu. Setiap kamar di huni oleh 1 santri.


Rata - rata... Murid Syeh Abdul Jalil yang belajar di pesantren ini sudah 5-6 tahunan.


Masjid sepi suasana pesantren sepi, seperti tidak ada santrinya, ternyata mereka sedang melakukan istiqomah Tafakur di dalam kamar dari bakda solat Asar hingga jam 5 sore.


Pantesan sepi."


Adzan tanpa Mik terdengar di dalam area pesantren. Semua santri berjumlah 40 orang itu sedang berdiri di dalam masjid.


Setelah adzan dan melaksanakan solat kobliyah Magrib... Syeh Abdul Jalil keluar dari dalam rumah, lalu berjalan memasuki masjid.


Setelah terdengar komat, Syeh Abdul Jalil mengimami solat.


Panji yang masih duduk bersila di pojok masjid... Berkata lirih,


"Itu bukan Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi asli, tetapi itu sukma nya Syeh Abdul Jalil.x


Setelah solat Magrib... Para santri melantunkan istiqfar, setelah itu, para santri membubarkan diri.


"Kang... Silahkan makan dulu," ujar Gus Hudi.


"Baiklah kang," jawab Panji, kemudian berjalan mengikuti Gus Hudi.


"Ini kamar gubuk ku kang, silahkan makan.


Siapa nama kamu..?"


"Nama ku Panji, kamu siapa namanya?"


"Panggil saja Hudi."


"Saya makan dulu ya kang," ujar Panji kemudian makan nasi putih sambel trasi ikan gurami.


Sambil menikmati makan malam... Panji menerawang siapa hudi sebenarnya,


"Hemmm ternyata dia seorang anak kyai besar di kota Malang jawa Timur. Dia baru 5 tahun ngaji Torekot Al Jabbari ini.


Gus Hudi ini juga cucu dari seorang Wali. Hanya saja... Gus Hudi ini belum menjadi santri Khusussiyah."


Selesai makan, Panji menikmati secangkir kopi sambil ngobrol dengan Gus Hudi.


"Kang Panji... Tadi syeh bilang, belum bisa menemui tamu, jadi, kang Panji harus bersabar ya...x


"Iya Gus.


...Kira - kira apa aku bisa di terima menjadi muridnya Syeh Abdul Jalil..?"...


"Tidak bisa kang, karena Syeh Abdul Jalil hanya bisa menerima murid 40 orang saja.


Banyak orang datang kesini ingin menjadi muridnya Syeh, tetapi Syeh menolaknya.


Kecuali... Ada santri yang berhenti mesantren... Syeh akan menerimanya.x


"Begitu ya.x


*


Jakarta.


Setelah turun dari pesawat... Maya berjalan ke ruang tunggu,


"Selamat malam Nyonya," sapa sopirnya.


"Selamat malam juga Pak.


"Pak...Langsung ke hotel Atlanta ya," ujar Maya kemudian naik mobil BMW.


Sementara...


Wilda baru sampai di hotel Atlanta dan baru duduk di restoran hotel sambil menunggu kedatangan Ruli.


Melihat perempuan cantik yang Anggun, Wilda pun berdiri,


"Apa anda yang bernama Nyonya Ruli..?"


"Iya benar, saya Ruli. anda Nona Wilda..?"


"Iya," jawab Wilda kemudian bersalaman.


Setelah duduk...


Wilda dan Ruli ngobrol santai sambil tertawa bahagia.


"Sebentar, aku telpon Aini istri pertama Mas Panji ya..? Kita ajak ngerumpi di sini, biar tambah seru," ujar Wilda kemudian menghubungi Aini.


Mobil Maya mamasuki halaman parkir Hotel, setelah turun dari mobil... Maya langsung berjalan menuju depan hotel.


Melihat Mbah Dirjo sedang duduk di atas trotoar bersandar pohon, Maya mendekat.


"Assalamualaikum Mbah," sapa Maya kemudian sungkem mencium tangan Mbah Dirjo gurunya.


"Ada apa menangis..?"


"Gak apa - apa Mbah, sedih saja."


"Kamu pilih mana..?


Orang Tua mu..?


Anak - anak mu..?


Atau suami mu,x tanya Mbah wali Dirjo.


Mendengar pertanyaan Mbah wali Dirjo... Maya bingung untuk menjawabnya,


"Pilihan yang sulit Mbah, karena ketiga - tiganya adalah sama - sama penting."


"Sulit tetapi kamu harus memilihnya salah satu."


"Saya memilih orang tua Mbah.


Karena... Orang tua yang melahirkan saya dan mendidik saya juga menjaga saya hingga besar.


Surga pun di bawah telapak kaki ibu."


"Kalau kamu pilih orang tua mu... Ya terimalah dengan ikhlas hidup mu seperti saat ini.


ikutlah orang tua mu dan tinggalkan suami mu," ujar Mbah Dirjo,


"Ingatlah..!


Surga di bawah telapak kaki ibu itu, hanya berlaku untuk anak - anak yang belum baliq. Itupun ibu yang baik dan benar.


Karena... Sebelum baliq itu, dosa anak - anak di tanggung oleh orang tua, baik buruknya anak itu apa kata ibu yang mengasuh nya.


surga itu di bawah telapak kaki ibu itu maksudnya... Kebaikan seorang ibu kepada anaknya.x


"Lau... Aku harus pilih yang mana Mbah..?


~ bersambung, rokok e Entek

__ADS_1


__ADS_2