
"Mama... Panji mau pergi dulu, kalau Maya bangun, bilang saja Panji ke rumah Youri."
"Baiklah Nak," ujar Lia Mama nya Panji,
"Ingat...! Gak boleh main narkoba dan tidak boleh berkelahi lagi.
Kasihan sekali Maya, dia di keluarkan dari anggota keluarga nya hanya demi Panji anakku, biarlah Maya tinggal di rumah ini saja, aku bisa mengurus dan menyekolahkan nya, lagian Panji telah memberi uang yang sangat banyak sekali."
Di rumah kumuh...
Setelah melihat kondisi Youri yang hanya memar - memar saja... Panji sangat bersyukur,
"Youri... Apa kamu mengenal orang yang cerdas, pemberani dan bisa di percaya..?"
"Banyak Panji, untuk apa kamu mencari orang model gitu," ujar Youri kemudian menyulut rokok,
"Iwan kakak kelas kita itu kan cerdas dan pemberani, dia juga bisa di percaya.
Tetapi sayang... Dia pendiam.
Iwan jarang berbicara kepada siapa saja kalau tidak penting, jadi... Dia jarang memiliki teman."
"Di mana sekarang dia," tanya Panji.
"Kabar terakhir yang aku dengar dia putus sekolah, orang tuanya bercerai, dan sekarang dia harus susah payah bekerja untuk membantu ekonomi Mama nya juga adik adiknya," ujar Youri,
"Dia kerja sebagai pesuruh di sebuah Moll Plaza Nex."
"Baiklah kita temui dia sekarang, aku tau Iwan, tetapi tidak begitu dekat, hanya sekilas saja," seru Panji,
"Kita naik taxi saja."
"Baiklah kalau begitu."
Tak lama kemudian di Plaza Nex... Panji bertanya kepada salah satu kariyawan tentang keberadaan Iwan.
Setelah bertemu, mereka duduk di sebuah cafe yang terletak di depan Moll.
Sambil menikmati secangkir kopi juga snack, Iwan berkata,
"Youri... Ada apa kamu mencari ku, bukanlah ini Panji adik kelas yang nakal itu..?
"Hehehehe, ternyata masih baik ingatan mu, iya dia Panji, sekarang dia menjadi Godfather, Panutan Para Mafia hahahaha..!
Kejadian di jalan Bandara sungguh membuat ku takjub, seorang maling sepeda balap di hormati para gangster yang bersenjata api.
Sekali telpon..! Bantuan langsung datang.
Iwan..! Godfather ingin bertemu dengan mu."
"Ada apa Godfather mencari ku, apa mau kasih uang hahaha," kata Iwan,
"Kebetulan aku butuh uang untuk bayar kontrakan, dan biaya sekolah adik - adikku."
"Masalah uang itu gampang, sekarang apakah kamu mau bekerja untuk ku," ucap Panji kemudian menyulut sebatang rokok.
"Melihat penampilan mu saja kurang meyakinkan, apa kamu punya uang untuk membantu ekonomi ku..? Hahahaha," ujar Iwan,
"Penampilan mu sama julukan Godfather tidaklah cocok sama sekali."
"Iwan..! Jaga ucapan mu, kamu itu pendiam tetapi sekali ngomong selalu menyakitkan hati," sahut Youri,
"Makanya kamu tidak mempunyai teman."
"Diam kamu Youri, aku berbicara berdasarkan kenyataan dan bukti, bukan membual omong kosong," kata Iwan setengah membentak.
"Sudahlah, kita adalah teman, dan saling membutuhkan," ucap Panji,
"Iwan..!
Aku tanya sekali lagi, apakah kamu mau bekerja sebagai skretaris pribadi ku..?!
Aku butuh orang yang bisa aku percaya.
Kalau kamu mau... Aku akan mencukupi segala kebutuhan mu, apapun itu."
Mendengar kata - kata Panji yang serius... Iwan sangat terkejut, lalu berkata lirih,
"Aku mau bekerja untuk mu, tetapi aku mau bukti.
Beri dulu aku uang 2 juta untuk membayar sewa rumah dan bayar sekolah adik - adik ku."
"Baiklah, sekarang juga kamu keluar dari pekerjaan mu, dan sekarang ikut aku," ujar Panji,
"Akan aku beri uang bukan hanya 2 juta, tetapi ratusan juta."
"Baiklah," ujar Iwan setengah tidak percaya.
Tak lama kemudian sebuah taxi memasuki area parkir Bank Asia, salah satu bank besar milik keluarga Kevin.
Begitu Panji berada di pintu masuk, salah satu security membungkukkan badan,
"Silahkan Tuan... Langsung saja ke ruang Vip."
Melihat Panji masuk ruangan VIP... Anita jalan terburu - buru mendekati Panji,
"Mas Panji... Silahkan langsung ke ruangan Meneger Kevin."
"Baiklah Nita," ujar Panji kemudian berjalan mengikuti Anita.
Setelah duduk di sofa... Kevin berkata,
"Tuan... Ada yang bisa aku bantu?"
"Pak kevin, aku ingin membuat nomer rekening atas nama Iwan dan Youri," kata Panji.
"Baiklah, biar Anita yang membuat kan," ujar Pak Kevin.
"Tolong, isi kan saldo 200 Milyar ke rekening atas nama Iwan, dan 100 juta ke rekening Youri," kata Panji.
"Baiklah Tuan," ujar Kevin dengan perasaan terkejut.
Mendengar jumlah 200 Milyar... Iwan terbelalak kaget,
"Godfather...!
Untuk apa uang sebanyak itu..? Sebanyak itu tidak habis aku makan sampai 7 turunan.?!"
"100 juta adalah bayaran mu selama 1 tahun, kamu bisa mengunakan untuk membantu Mama dan adik - adik mu sekolah," ujar Panji,
"Sisanya... Di pake operasional, tetapi menunggu perintah ku.
Aku hanya ingin kamu jujur dan setia kepada ku, kalau kamu ingkar dan berbohong..!
__ADS_1
Resikonya sangat besar sekali, bukan hanya nyawa mu saja, tetapi nyawa Mama mu juga adik - adik mu."
"Baiklah Godfather, aku berjanji akan setia dan tidak akan ingkar janji," kata Iwan.
"Terimakasih Wan, kamu telah mau bekerja untuk ku," ujar Panji,
"Tolong rahasiakan identitas ku.
Besok... Kamu dan Youri pergi ke Jakarta, sewalah apartemen untuk tempat tinggal, belilah mobil dan motor, pakailah dana operasional.
ingat...! Jangan pernah membawa orang ke apartemen mu selain orang dekat."
"Baiklah Godfather," ujar Iwan.
"Tuan... Sudah selesai, ini ATM dan buku tabungannya," kata Kevin,
"Taun Panji... Apakah nama panggilan mu adalah Godfather..?"
"Itu Youri dan Iwan teman ku yang memberi nama panggilan baru," jawab Panji.
"Sebuah nama seperti judul Film Mafia Italia, sungguh film yang bagus untuk di tonton," ujar Pak Kevin,
"Baiklah Tuan, mulai saat ini aku akan memanggil Tuan dengan sebutan Godfather. Seluruh kariyawan ku akan aku perintahkan untuk memanggil Tuan dengan nama Godfather.
Terimakasih Tuan, telah mempercayai Bank Asia milik kami untuk mengelola uang Tuan. Semoga kedepannya... Kita selalu bekerjasama dengan baik."
"Baiklah Pak Kevin, aku mau pergi dulu, masih ada urusan," ujar Panji kemudian pergi.
"Baru naik taxi, kring..!" suara Hp Panji berdering,
"Waalaikumsalam Wilda."
"Mas... Jam 1 siang aku ada Meeting pemegang saham di perusahaan cabang Surabaya. Saat ini aku sudah berada di bandara," kata Wilda,
"Nanti biar aku suruh Pak Muladi menejer cabang untuk menjemput mu."
"Gak usah Wilda, biar nanti aku naik taxi saja."
"Baiklah, Assalamualaikum."
"Mas... Mau kemana ini," tanya sopir taxi.
"Ke Moll plaza Nex Pak," ujar Panji,
"Kalian beli baju celana dan jas juga sepatu, juga beli HP satellite.
Kalau kerja dengan ku... Harus yang rapi dan ganteng."
Setelah belanja perlengkapan pakaian... Iwan dan Youri duduk istirahat di cafe sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok.
Setelah bertukar no Hp, Panji berkata,
Iwan..! Tugas mu besok setelah kamu mendapatkan sewa apartemen, kamu sewa apartemen lagi untuk tempat tinggal Youri."
"Baiklah Godfather," kata Iwan.
"Youri... Aku butuh banyak informasi, kerjamu di Jakarta, hanya untuk mencari informasi yang aku butuhkan," ujar Panji,
"Pertama... Aku butuh informasi tentang jaringan organisasi KAISAR yang di pimpin oleh Bos Rudi.
Organisasi ini adalah organisasi Mafia lintas Negara."
"Baiklah Godfather," kata Iwan,
"Iwan..! Penuhi permintaan Youri. Sudah jam 02 siang, aku ada urusan. Kita saling kontak saja," ujar Panji lalu berjalan meninggalkan cafe."
Taxi berhenti di samping depan perusahaan cabang PT Hening. Setelah keluar dari dalam taxi... Panji berjalan menuju pintu gerbang,
"Selamat siang Pak..."
"Siang juga Mas, ada perlu apa," tanya satpam.
"Saya mau melamar pekerjaan Pak," ujar Panji.
"Maaf Mas, di sini tidak ada lowongan pekerjaan, kecuali Mas punya kenalan orang dalam," kata satpam cuek.
"Oh begitu ya Pak..!
Saya punya kenalan orang dalam di PT Hening ini," ujar Panji.
Melihat tampang Panji yang lusuh dengan sepasang sandal jepit... Beberapa satpam penjaga tertawa melihat Panji yang lucu.
"Mas pulang saja, tidur.
Masak sudah jam 2 lebih melamar pekerjaan.
Kamu kenal siapa di pt Hening ini," kata Satpam.
"Wilda," jawab Panji.
"Apa..? Wilda.!!
yang benar Mas. Apa Ibu Wilda direktur," kata satpam.
"Iya, Wilda direktur PT Hening," ujar Panji.
"Hahaha..! Bisa saja kamu kalau bercanda.
Mana kenal direktur Wilda yang cantik kenal sama orang model gini," kata satpam.
Sebuah mobil mewah melaju perlahan mendekati pintu keluar.
"Mas duduk sini dulu ada Bos mau keluar," ujar seorang satpam kemudian berjalan maju untuk membuka kan pintu utama.
Ketika Menejer Muladi melihat Panji duduk di sebelah pos satpam... Tiba - tiba berkata,
"Berhenti..!!"
Sang sopir langsung mengerem dan mobil berhenti pas di depan pos satpam.
"Bukankah itu Panji si pemuda sampah itu..?
Ngapain dia ada di sini," ujar Pak Mulyadi,
"Pak satpam..!
Pemuda itu ngapain di sini..?"
"Dia tadi datang untuk melamar pekerjaan Bos," jawab satpam.
__ADS_1
"Hahahaha...!
Kamu terima saja, kerja sehari, suruh dia bersih - bersih menyapu halaman depan pabrik hingga sore, setelah itu kasih dia uang 5 ribu," ujar Pak Mulyadi.
"Ini uangnya, habis ini aku kembali lagi," ujar Meneger Muladi dengan puas telah balas dendam dengan sikap Panji kemarin yang meminta rokok 3 bungkus.
"Baiklah Bos," kata satpam.
Setelah mobil keluar... Satpam muda itu mendekati Panji,
"Mas... Kamu di terima kerja di sini hanya sehari saja, sampai sore nanti."
"Apa..! Sehari..?
Emang ini perusahaan apaan," ujar Panji,
"Bukankah PT Hening ini perusahaan Elit, perusahaan besar, masak begini cara menerima kariyawan..?"
"Kalau Mas gak setuju, Mas boleh pergi, saya hanya menjalankan perintah Bos barusan," kata satpam.
"Baiklah, aku terima pekerjaan ini, tetapi ingat ya..!
Akan ada masalah pada kalian dan bos kalian semua," ujar Panji,
"Mana sapunya..?"
Sambil menyapu taman... Panji mengirim pesan singkat SMS ke Wilda.
Setelah Wilda membaca pesan itu... Wilda mendatangi Panji yang berada di taman depan.
Begitu berada di depan pos satpam... Sebuah mobil mewah melintas lalu berhenti.
Setelah keluar, Meneger Muladi berkata,
"Ibu Direktur ada masalah apa hingga ibu direktur datang ke pos satpam?"
"Aku hendak ke taman untuk menemui seseorang," ujar Wilda kemudian berjalan mendekati Panji yang sedang menyapu.
"Mas... Ngapain kamu menyapu taman, bukan kah di perusahaan ini ada pekerja kebersihan," ujar Wilda kemudian bersalaman mencium tangan Panji, lalu memeluk Panji.
Melihat Direktur Wilda mencium tangan Panji dan memeluk Panji... Meneger Muladi sangat terkejut hingga kakinya lemas dan pandangan nya kabur.
Begitu pun dengan para satpam sangat terkejut.
"Tanyakan pada para satpam, kenapa aku menyapu taman ini," ujar Panji.
Setelah berada di pos satpam, Wilda sangat marah kepada Meneger Muladi dan beberapa satpam.
"Maaf Direktur... Saya tidak tau kalau pemuda itu suami direktur, mohon jangan di pecat kami semua bu," ujar meneger Muladi memelas sambil membungkukkan badan.
"Baiklah, aku tidak memecat kalian, sebagai hukumannya... Gaji kalian di potong 50% selama 3 bulan.
Jika kalian mengulangi lagi... Saya pastikan kalian tidak akan kerja di perusahaan ini lagi, dan kalian akan kesulitan untuk bekerja di perusahaan mana pun," kata Wilda kemudian keluar perusahaan dengan menggunakan taxi.
Di restoran hotel Shangrila, sambil menikmati makan malam, Panji berkata,
"Kamu harus merombak cara menerima karyawan baru, dan aku ingin... Semua perusahaan cabang di bangun Musolla yang agak besar. Semua karyawan yang muslim... Harus di Wajibkan solat selama berada di perusahaan. Kalau tidak mau solat... Pecat saja, ganti karyawan yang mau mentaati aturan perusahaan.
Ini no telpon Iwan Sekretaris ku, kamu bisa menghubungi nya bila ada masalah penting."
"Baiklah Mas," ujar Wilda sambil menyelesaikan santap makan malam.
Selesai makan,
"Mas... Aku ingin mandi dan ganti baju, juga mau solat Isak dulu.
Ayo kita pergi, aku sudah sewa kamar di hotel Shangrila ini," ujar Wilda kemudian mengandeng lengan Panji.
Melihat Panji yang lusuh dengan sepasang sandal jepit, bergandengan tangan dengan Wilda yang cantik dan **** dengan busana kelas atas... Banyak pengunjung hotel menertawakan nya.
Setelah mandi dan solat... Di atas ranjang Wilda sedang bercanda sambil memijat kaki Panji, setelah itu Panji dan Wilda keluar hotel menuju Diskotik untuk mencari hiburan.
Begitu turun dari dalam taxi... Beberapa anggota gengster jaringan Narkoba melotot melihat Wilda yang memakai celana pendek dengan kaos hitam,
"Bos... Bukankah itu pemuda yang kemarin bersama Jefri Kaisar..?
Gara - gara pemuda itu... Anggota kita banyak yang luka parah di hajar oleh kelompok Jefri, bahkan sekarang anggota kita masih berada di rumah sakit."
"Ooh..! Pemuda itu yang di perbincangkan oleh bos besar juga para anggota...?
Dia masih anak - anak, tetapi berani sekali dia merusak rencana kita kemarin malam.
Berkat pemuda itu, Anton Naga Selatan tidak jadi mati, tapi entah di mana dia sekarang," kata si bos kecil.
"Bagaimana kalau kita hajar dia sekarang," ujar anak buahnya.
"Apa gak resiko menghajar pemuda itu..? Takutnya kalau kelompok KAISAR turun tangan," ujar bos kecil ketua geng,
"Sebenarnya aku juga dendam dengan pemuda itu, gara - gara dia... Adikku patah kaki kirinya di hajar kelompok Jefri."
"Bukankah kita di lindungi oleh orang kuat," ujar salah satu anggota geng.
"Baiklah, kita hajar dia di dalam saja, biar sulit menemukan identitas kita karena ruangan remang - remang," ujar bos geng kecil.
Malam itu... Panji sedang asik dugem bersama Wilda kekasih gelapnya.
Akibat pengaruh sebutir Ekstasi jenis inex A-1... Panji sangat asik dugem bersama Wilda.
Malam terus merambat, dentuman musik di sertai sorotan lampu berkelip membuat suasana diskotik semakin asik.
Di keremangan ruang diskotik... Tiba - tiba seorang pemuda mengeluarkan pisau, lalu dengan cepat menusuk perut Panji.
Dari samping tiba - tiba beberapa pemuda memukuli Panji hingga Panji sempoyongan dan jatuh tersungkur.
Melihat Panji roboh di pukuli... Wilda menjerit meminta pertolongan kepada keamanan, namun keamanan itu dengan cuek meninggalkan Wilda.
Tak selang lama... Beberapa pengunjung membantu Panji keluar ruangan lalu ke rumah sakit dengan mengunakan taxi.
Di dalam taxi... Wilda mengeluarkan Hp kemudian menghubungi Bos Rudi, setelah tersambung,
"Malam Pak Rudi..!
Aku butuh bantuan mu sekarang juga."
"Pagi, Direktur Wilda, tenangkan diri mu, ada masalah apa," sahut Pak Rudi.
"Panji di tusuk dan di pukuli oleh beberapa orang di dalam diskotik di Surabaya, sekarang aku lagi bersama nya menuju rumah sakit," ujar Wilda.
"Baiklah Direktur Wilda, akan segera aku urus," ujar Bos Rudi kemudian mematikan Hp.
"Halo... Jefri..!
Tuan Panji teman Direktur Wilda di tusuk dan di pukuli di dalam diskotik DR, kamu taukan apa yang harus kamu lakukan..!
__ADS_1
Anjing kalau mengigit harus di singkirkan," ujar Bos Rudi.
"Baiklah Bos, sekarang juga aku pergi mencari tau siapa pelakunya, sementara jadwal ke Jakarta aku tunda dulu," jawab Jefri.