SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
ILMU PECAH RAGA DAN TAMU JIN


__ADS_3

Tiba - tiba seorang penyanyi wanita mendekati Panji, lalu menariknya untuk di ajak menari.


Melihat Godfather joget Tari Tayub Gandrung... Semua anggota organisasi The Blus tersenyum. Bahkan patner bisnisnya juga tertawa.


Baru kali inilah, dalam beberapa tahun, Godfather menampakkan dirinya di hadapan semua anggota organisasi The Blus.


Biasanya sangat sulit untuk bertemu dengan Godfather.


Banyak anggota organisasi The Bluss pertama kali melihat wajah Godfather dan tidak menyangka kalau ketua organisasi The Blus masih sangat muda.


Setelah duduk kembali, Desi sekretaris PT Hening Group dan Leni sekretaris Jialing Group menyapa.


"Selamat sore Godfather..."


"Eeh Desi, Leni, selamat sore juga."


"Selamat ya Mas... Semoga kamu bahagia bersama istri."


"Aamiin...


Silahkan duduk, itu Maya istri ku."


"Baiklah Mas, aku kesana dulu ya."


"Ok."


"Selamat sore Godfather," sapa sekretaris Novi dan Nasir wakil sekretaris.


"Hai Novi... Ayo duduk sini sama aku.


Nasir, duduk sini," kata Panji,


"Mana Direktur Youri, kok gak kelihatan?"


"Masih di perjalanan sama calon istrinya."


Adzan Magrib terdengar menggema. Sond sistem berhenti untuk menghormati ibadah solat Magrib.


Tanpa pamitan... Panji pergi ke samping rumah untuk melaksanakan solat Magrib.


Begitu pun Maya juga mengikuti suaminya solat.


Beberapa tamu undangan juga melaksanakan solat di musholla terdekat.


Selesai solat... Panji menemui tamu tamunya lagi.


Mendekati solat Isak... Banyak tamu undangan pamit untuk pulang. Hanya beberapa petinggi organisasi yang masih tertinggal.


Setelah meja di bersihkan, para tamu Mbah Kirman mulai berdatangan.


Panji pun memilih duduk di meja pojok dengan beberapa petinggi organisasi.


"Selamat malam Godfather," sapa Direktur Youri.


"Malam juga Youri," jawab Panji.


"Kamu kok malam sih Your kesininya," sahut Maya.


"Eeh Maya, selamat ya...


Semoga suami mu tidak nikah lagi. Hahahaha..!"


"Hahahaha," Maya tertawa terbahak - bahak,


"Istri satu saja bingung gak ngatasi, apalagi nambah."


"Duduk sini Mbak sama aku sini," kata Maya.


"Aduh... Youri, pinter bener kamu cari istri," kata Maya.


"Hahahaha, itu yang ngajari, tu orangnya, Godfather."


"Mbak asli dari mana," tanya Maya.


"Dari kabupaten Ponorogo Non."


"Kapan acara pernikahan nya?"


"Insallah dua bulan lagi Non," jawab calon istrinya direktur Youri.


"Nikah di Surabaya apa di kabupaten Ponorogo..?"


"Rencananya di kabupaten Ponorogo dulu, terus rame - reme lagi di kota Surabaya."


"Nanti undang kesenian Reok dan Jaran Kepang ya," sahut Panji.


Hahahaha!


Mendengar celetukan Godfather, petinggi organisasi terbahak - bahak.


"Gak rame - rame Bos," sahut Youri, "Cuma undang kesenian wayang kulit semalam suntuk."


"Ayoo minum lagi," kata parnji sambil menuangkan bir ke dalam gelas.


"Perasaan... Aku baru duduk kamu sudah habis tiga botol," kata Youri, "Aku saja sebotol belum habis.


Tumben kamu minum bir bintang, biasanya yang keras."


"Pinggin saja," jawab Panji.


Tak lama kemudian, semua anggota organisasi The pamit untuk pulang.


Sementara...


Tamu Mbah Kirman kakeknya Maya terus berdatangan.


"Naga Barat... Apa di Kabupaten Banyuwangi ini ada anggota organisasi The Blus," tanya Panji.


"Ada Godfather.


Kurang lebih ada 100 orang anggota. Mereka sedang ikut mengamankan pesta dari siang tadi."


"Tolong beri tips uang yang cukup pada mereka," ujar Panji sambil mengeluarkan uang dari saku celananya,


"Ini uang bagikan pada mereka. Sekalian kamu bayar bir bintang yang di antar oleh pemilik mobil box itu.


Kalau kurang, kamu minta sama Nona Maya."


"Baiklah Godfather."


Panji duduk sendiri sambil menikmati bir bintang dan mendengarkan musik seni Gandrung Banyuwangi.

__ADS_1


"Mas... Gak solat Isak dulu..?


Mumpung jam sore 9," tanya Maya.


"Kamu solat dulu ya, Kakak masih nunggu tamu."


"Baiklah Kak," jawab Maya kemudian bergegas pergi ke kamar mandi untuk wudhu.


Begitu masuk kamar... Maya terperanjat kaget sekali melihat Panji suaminya sedang berdzikir duduk di atas sajadah,


"Ini suami ku, di depan sana yang lagi minum bir juga suami ku. Mana... Yang benar ini..?


Coba aku lihat yang di depan sana," ujar Maya kemudian bergegas berjalan ke depan.


"Kak..." panggil Maya yang sudah berdiri di samping suaminya.


Kemudian memegang pipi suaminya juga memegang tangan nya.


"Apa sayang..?


Katanya mau solat, kok malah meraba - raba pipi dan tangan suaminya," ujar Panji,


"Masak banyak tamu mau minta di temani tidur..?"


"Gak apa - apa, kepinggin pegang saja," kata Maya tersenyum, kemudian kembali wudhu kemudian masuk kamar lagi.


Melihat Panji suaminya duduk berdzikir... Maya memegang pundak Panji.


"Mau solat Isak..?


Ayoo aku imami," kata Panji kemudian berdiri lalu takbir.


Selesai solat isak... Maya salim dan mencium tangan suaminya.


Sabil mengikuti dzikir suaminya, Maya berkata dalam hati,


"Ini asli dan aku pegang juga seperti manusia. Yang di depan sana lagi minum bir juga asli, aku pegang juga sama kayak manusia. Wajah, suara sama.


Sama sama asli..?


Suami ku ini memang kadang kadang aneh. Dulu aku pernah di ajak jalan di atas permukaan air laut dan tidak basah atau tenggelam. Di Kabarkan hilang selama 2 bulan, tau - tau ada di rumah Kakek. Gak kerja tau tau punya uang trilyunan.


Kemarin lusa berangkat tahlilan ke Banten, berjalan lewat permukaan air laut.


Yang paling aneh nieh... Makan dari jam 12 siang sampai jam 9 malam,, sudah habis 20 piring lebih tidak kenyang - kenyang. Minum bir dari jam satu siang sampai jam 9 malam juga gak mabuk atau gak kekenyangan air..?"


Karena caprik dan ngantuk.. Maya merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya yang sedang berdzikir,


"Hemmmm enak wis duwe bojo 2."


***


"Naga Barat... Kamu istirahat di hotel saja. Ini sudah jam 10 malam. Ajak semua anak buah istirahat. Kan ada pak polisi yang menjaga," kata Panji.


"Baiklah Godfather," ujar Naga Barat kemudian bergegas pergi.


"Selamat malam Godfather," sapa Dewi Manajer PT Garment Raya.


"Selamat malam juga mbak Dewi," jawab Panji.


Setelah salim dan mencium tangan Godfather... Dewi langsung memeluk Panji sambil meneteskan air matanya.


"Duduklah.


Mari kita makan bersama sambil cerita."


"Baiklah Godfather."


"Mbak Dewi... Ini ada stik daging sapi ada udang goreng laut jawa dan ikan laut bakar," ujar Panji sambil mengambil nasi dan ikan.


Kamu kok malam kesininya, sama siapa..?"


"Iya, sengaja malam hari kesini. Sama pengawal organisasi The Bluss.


Alhamdulillah...


Kamu telah kembali. Kabarnya kamu di culik dan di bunuh oleh gengster."


"Sudahlah, lupakan peristiwa itu. Yang penting aku sudah kembali. Dan kapan saja bisa jalan - jalan sama kamu."


Hehehehe.


Iya Godfather. Aku juga kangen tidur bareng, bertiga sama kamu kayak di kos - kossan bersama Eka dulu.


Tetapi...


Sekarang Eka cacat. Tulang punggung nya patah. Kepala nya gegarotak.


Dia sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur di rumah nya di kabupaten Bogor."


Mendengar kata - kata Dewi... Panji meletakkan piringnya dan tidak berselera makan.


Kemudian Panji menuangkan bir kedalam gelas lalu meminum nya.


"Godfather... Apa kamu tidak berkenan menjenguk Eka..?


Kasihan bapak ibunya juga adik - adik nya yang masih sekolah. Karena Eka lah yang selama ini menghidupi keluarga nya juga membiayai sekolah adik - adiknya."


Setelah menghisap rokok marlboro, Panji berkata lirih,


"Iya Dewi. Dalam waktu dekat ini aku akan menjenguk nya.


Kapan dia pulang dari rumah sakit Singapura?"


"Sudah ada seminggu ini Godfather."


"Kamu jangan bersedih ya, Eka pasti sembuh total seperti dulu," kata Panji.


"Selamat malam Godfather," sapa Asisten Matrik dan Asisten El jhon.


"Selamat malam juga," jawab Panji,


"Silahkan duduk.


Kalau boleh tau... Siapakah Tuan - Tuan ini..?"


"Saya Asisten Matrik dan ini Tuan El ajhon.


Kami diutus kemari oleh Tuan Cahyadi untuk mewakili keluarga besar Cahyadi.


Tuan Cahyadi meminta maaf karena tidak bisa hadir di acara pernikahan Tuan Godfather.

__ADS_1


Ini ada hadiah untuk Tuan Godfather," kata Tuan Matrik kemudian meletakkan bingkisan di meja di hadapan Panji.


"Iya Tuan Matrik.


Sampaikan salam terimakasih untuk Tuan Cahyadi."


Setelah menuangkan bir ke dalam gelas... Panji berkata,


"Silahkan minum Tuan."


"Baiklah Godfather, terimakasih."


"Insallah... Dalam waktu dekat, aku akan menjenguk Aini juga anak - anak ku di Bandung."


"Iya Godfather.


Nanti akan saya sampaikan pada Tuan Cahyadi."


"Selamat malam Godfather," sapa Asisten rjeje.


"Malam juga Jeje. Kok sendirian," tanya Panji.


"Saya bersama Tuan Matrik dan Tuan El jhon. Saya terlambat karena memarkirkan mobil."


"Hemmm, jadi kalian bertiga nieh?"


"Berempat sama sopir Tuan."


Setelah menikmati beberapa botol bir bintang... Tuan Matrik pamit kembali ke king Hotel kuta Bali.


"Dewi... Kamu ke hotel bareng asisten Jeje dan Tuan Matrik ya, ini sudah hampir jam 12 malam."


"Baiklah Godfather, kalau gitu aku balik dulu," kata Dewi kemudian memeluk Panji,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Panji.


Setelah mengantar Dewi hingga ke mobil... Panji kembali duduk pojok sambil menikmati kepulan asap rokok dan melihat penari Gandrung.


Ketika enak - enak menikmati kepulan asap rokok... Panji melihat pancaran cahaya alam gaib.


Tak lama kemudian, 4 kereta kencana turun dari atas udara dan mendarat di tanah tak jauh dari tempat hajat.


4 wanita cantik berjalan mendekati panji yang asik minum bir bintang sendirian.


"Rahayu Gus," sapa ke empat wanita cantik.


"Rahayu ugi," jawab Panji,


"Silahkan duduk Nyai Roro Nyai Dewi Sambi dan Nyai Anjani.


Ini siapa kok tidak kenal aku..?"


"Ini Nyai Dewi Sekar, Ratu penguasa kerajaan Laut barat," sahut Nyai Roro,


"Cantik ya Gus..?"


"Hahahaha.


Biasa saja Nyai ini kalau bercanda."


"Kan kamu suka sama wanita cantik.


Mana istri mu..?"


"Dia lagi tidur Nyai, mungkin kelelahan, dari siang nemuin tamu. Hamil muda pula."


"Dengar - dengar kamu punya minyak sambung ya," tanya Nyai Roro.


"Benar Nyai. Kok Nyai tau..?"


"Dewi Sambi yang bercerita."


"Apa Nyai Roro terluka dalam dan mau aku urut," tanya Panji bercanda.


"Hahahaha."


Dewi Anjani terbahak - bahak mendengar kata - kata Panji.


"Diam kamu Anjani."


"Mulai kurang ajar Gus ini kalau di ajak ngobrol," sahut Nyai Roro,


"Enak saja kamu yang urut."


"Lalu mengapa Nyai menanyakan minyak sambung..?"


"Gak apa - apa, aku heran saja.


Kamu masih muda kok bisa memiliki minyak sambung itu," kata Nyai Roro.



"Itu di kasih sama Nyai Farah Indramayu.


"Dulu... Aku pernah bertarung dengan Raja jin dari Laut Merah.


Walau aku menang, aku mengalami luka dalam yang cukup parah.


Tadi nya aku gak kenal sama Nyai Farah.


Ketika aku dalam perjalanan pulang, aku berjumpa dengan Nyai Farah yang sedang solat malam di atas air Laut pelabuhan Ratu.


Dalam pertemuan itulah aku di obati oleh Nyai Farah.


Seluruh tubuh ku di olesi minyak sambung itu, dan diurut pelan - pelan.


Anehnya, dalam hitungan menit, aku sembuh total.


Sejak itulah aku kenal baik sama Nyai Farah.


Aku bertanya tentang minyak sambung kepada mu, karena aku heran saja.


Kok bisa minyak sambung itu ada di tangan mu..?"


"Yaaa... Rejeki Anak soleh," jawab Panji.


"Kamu itu Gus, kalau di ajak ngobrol gak pernah serius. Kalau kamu bukan keturunan Mbah Wali Suro... Sudah aku banting dari dulu!"


"Emang piring di banting," sahut Panji.

__ADS_1


__ADS_2