SANTRI MBELING

SANTRI MBELING
SEMBUH 100%


__ADS_3

Klinik Cipanas.


Jam 12 malam... Panji mulai sadar dari pengaruh obat bius.


"Ada di mana aku..?" ujar Panji lirih sambil menatap langit - langit ruang kamar,


"Aduuuuuh..! Kepala ku kenapa..? Sakit rasanya.


Dimana Wilda istri ku dan di mana Mbak Eka..?"


"Mas Panji... Rupanya sudah sadar. Mas Panji tenang dulu ya," kata dokter kemudian mengambil jarum suntik lalu menyuntik lengan Panji.


"Dokter... Dimana aku sekarang," tanya Panji sambil menatap wajah dokter.


"Mas Panji sekarang berada di kilinik Cipanas puncak Cianjur. Mas Panji habis mengalami benturan hebat."


Mendengar keterangan dokter... Panji mengingat - ingat apa yang terjadi.


Setelah lama mengingat - ingat... Panji berkata lirih,


"Iya iya... Aku telah mengalami kecelakaan bersama Wilda dan mbak Eka. Dimana Wilda dan mbak Eka sekarang..?


Kok aku berada di klinik Cipanas puncak Cianjur..? Bukannya di rumah sakit Bandung..?


Aneh... Jauh banget!


Kecelakaan di kota Bandung, kok rawat inapnya di klinik Puncak Ciianjur?"



"Cobak aku terawang apa yang sebenarnya terjadi pada diriku," ujar Panji lirih kemudian memejamkan mata.


"Hemm..! Sakit sekali kepala ku untuk menerawang.


Aryo Jagad..! Kemarilah."


Tak lama kemudian,


"Assalamualaikum Gus..."


"Waalaikumsalam," jawab Panji pelan,


"Aryo Jagad... Kamu tau mengapa aku bisa terbaring di klinik Cipanas puncak Cianjur..?"


"Tau Gus," jawab Aryo Jagad sambil membungkukkan badan.


"Ceritakan pada ku."


"Baiklah Gus.


Gus Panji mengalami kecelakaan parah pada jam 04:15 menjelang subuh.


Gus terlempar dari dalam mobil, dan jatuh di taman. Kepala Gus terbentur batu hingga Gus Panji mengalami penyakit Amnesia.


Akibat Amnesia, Gus lupa segalanya dan Gus berjalan kaki selama kurang lebih 1 bulan. Ketika Gus berada di musholla di perbatasan Cianjur Bogor... Kyai Dimyati menemukan Gus, lalu di bawah ke rumahnya di pondok pesantren Shinobi di lereng kaki bukit Gunung Gede.


Tadi sore Gus berkelahi dengan Gus Sazuke putra pertama kyai Dimyati. Gus Sazuke telah memukul kepala Gus Panji sebanyak 2x.


Karena Gus Panji pingsan, maka di bawa ke sini sama Gus Sazuke.


Akibat pukulan kayu yang keras... Ingatan Gus Panji jadi sembuh seperti sekarang ini. Karena Gus Panji telah bisa memanggil ku."


"Mengapa kamu tidak membantu ku, tidak mengobati luka ku..?"


"Sebenarnya saya ingin menolong dan mengobati lukanya Gus, tetapi di larang oleh Syeh Abdul Jalil gurunya Gus.


Gus selalu dalam pengawasan Syeh Abdul Jalil."


"Sekarang, kamu obati luka memar di kepala ku."


"Baiklah Gus," awab Aryo Jagad kemudian tangannya di tempelkan di kepala Panji.


Tak seberapa lama,


"Sudah sembuh Gus luka memarnya. Jahitan di kulit kepala sudah tidak ada lagi. Gus tinggal membuka perban yang melilit di kepala."


"Baiklah, sekarang kamu pergilah."


"Baiklah Gus, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Panji kemudian duduk.


Di ruang Administrasi, Gus Sazuke membayar biaya pengobatan Panji.


Setelah menyelesaikan administrasi, Gus Sazuke menemui Panji yang sedang duduk sendirian.


"Panji... Kamu sudah sadar. kok duduk, tidak berbaring saja.


Apa kepala mu sudah enakan," tanya Sazuke.


"Kamu siapa..?"


"Aku Sazuke yang membawah mu ke sini.


Ini Tamara adikku."


"Aku kepingin pergi dari sini," kata Panji,


"Aku ingin pulang."


"Baiklah," kata Sazuke kemudian memeganggi lengan Panji.


Setelah berada di pondok pesantren Shinobi, Sazuke berkata,


"Panji kamu tidur di kamar ku saja sama aku, di gubuk samping rumah."


"Baiklah," kata Panji.


***


Jam 06 pagi... Setelah libur, Tamara berpamitan untuk kembali kuliah di kota Bogor.


Sementara...


Jam 12 siang, Mobil Pak Rahmad Ayah nya Panji baru memasuki halaman pondok pesantren Spombob milik Kakeknya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab kyai Danwari,


"Eeeh... Kamu Gus Rahmad dan Nyai Rita.


Ayoo silahkan masuk."


"Terimakasih Mas," kata Pak Rahmad kemudian masuk ruang keluarga dan duduk di atas karpet.


"Hanan... Siska, ayo salim sama Pak Dhe mu, juga Budhe mu sana."


"Baiklah Ma," ujar Siska dan Hanan.


"Ini Hanan yang mondok sambil sekolah di Surabaya itu ya?"

__ADS_1


"Iya Mas.


Aku kemari ingin menitipkan Hanan. Biar Hanan belajar ngaji dan sekolah di pondok sini saja."


"Loh, ada apa..?


Kan enak mondok di Surabaya, dekat kalau menjenguk," sahut kyai Danwari.


"Mondok di Surabaya tambah nakal Mas, sering tawuran," kata ibu Rita,


"Makanya aku pindah sini biar Pak Dhe dan saudara lainnya ada yang ngawasi."


"Oooh, begitu...


Biasa anak laki - laki berkelahi. Di pondok sini ada pelajaran jurus ilmu beladiri setiap malam jumat.


Gus Hanan biar ikut seni beladiri.


Gus Panji mana ini, kok gak ikut kesini..?"


"Panji ke Jakarta Mas. Panji juga jarang pulang. Dari kecil sukanya main saja.


Di suruh ngaji gak pernah mau."


"Dari kecil memang Panji itu mempunyai kelebihan. Lain dari anak - anak seumurannya.


Gus Hanan...


Di sebelah pondok ini, ada tanah warisan Kakek mu. Dan sekarang tanah itu milik Papa mu.


Dari pada kosong gak terurus... Besok kamu bersihkan, bisa kamu tanami singkong atau ubi atau pisang."


"Iya Pak Dhe," jawab Hanan,


"Apa aku boleh bangun gubuk untuk kamar istirahat di kebun itu."


"Boleh," sahut Pak Dhe Rahmat,


"Itu tanah bagian Papa mu


pondok pesantren ini juga tinggalan Kakek mu. Kamu juga berhak atas pesantren ini. Kalau kamu sudah pinter ngaji, kamu juga berhak ngulang ngaji di sini.


Ini pondok pesantren milik keluarga.


Siska gak sekalian sekolah di pesantren ini..?"


"Tidak Pak Dhe, saya sekolah di Surabaya saja," jawab Siska adik bungsu nya Panji,


"Nati setelah lulus SMP saya mau mondok dan sekolah di sini."


"Mas... Aku permisi mau pulang dulu. Karena besok Siska sekolah."


"Baiklah Gus, hati - hati di jalan," ujar kyai Danwari kemudian memeluk Pak Rahmad adik bungsunya.


"Hanan... Nanti di jalan Mama transfer uang makan mu.


Ini buat pegangan dulu.


Ingat..! Jangan boros - boros. Di pesantren bukan pindah makan dan tidur.


Ingat..! Jangan bikin malu Papa dan Mama mu."


"Iya Ma... Crewet banget sih Mama ini."


"Kamu itu di bilangin kok ngatain Mama cerewet. Lama - lama kamu kayak Panji kakak mu."


"Assalamualaikum."


***


Kota Jakarta.


““Selamat siang Nyonya,“ sapa El Jhon.


"Selamat siang juga Tuan El Jhon," jawab Maya kemudian menghentikan makan siangnya.


"Tuan Matrik ingin bertemu anda di King Hotel."


"Baiklah, tungguh sebentar," jawab Maya kemudian menyelesaikan makan siangnya.


*


King Hotel.


"Hotel ini mewah banget ya," kata Maya sambil berjalan di lobi hotel.


"Iya Nyonya, Hotel mewah ini milik Tuan putri Non Aini," sahut El Jhon.


"Selamat siang Nyonya," sapa Tuan Matrik.


"Siang juga Tuan Matrik. Ada apa Tuan memanggil ku..?"


"Nyonya... Mari ikuti saya," ujar Tuan Matrik kemudian naik lif ke lantai bawah.


Setelah berada di ruang rahasia... Tuan Matrik berkata,


"Ini ke empat orang yang telah menabrak mobil Non Eka.


Sony, sopir ini lah yang membunuh Nyonya Wilda dan yang membuat Tuan pranji hilang.


Orang saya telah bekerja selama 2 minggu untuk menangkap mereka."


Melihat Sony dan ke empat temannya duduk di kursi dengan tangan terikat, tiba - tiba Maya sangat emosional, tetapi Maya teringat akan pesan - pesan wejangan Mbah wtali Dirjo gurunya.


Begitu juga pesan terakhir kyai Jabat.


"Tuan Matrik....


Aku tidak ingin balas dendam pada mereka. Karena suamiku sedang menjalani takdirnya. Kejadian yang menimpah suamiku sudah di atur oleh Nya. Jadi... Ke 4 orang ini aku serahkan kepada mu.


Aku juga batalkan operasi pembunuhan di beberapa negara di Asia.


Aku permisi dulu, karena masih harus menghadiri acara Tahlil di rumah guru ku."


"Baiklah Nyonya, mari saya antar sampai halaman parkir."


Setelah Maya pergi, Tuan Matrik menelpon Tuan Cahyadi. Setelah tersambung,


"Selamat siang Tuan..."


"Bagaimana operasinya..?"


"Nyonya Maya berubah pikirkan Tuan. Nyonya Maya tidak mau balas dendam. Saat ini Nyonya Maya sedang menghadiri acara Tahlil selama 7 hari. Setelah itu, Nyonya Maya kembali ke Surabaya."


"Kalau begitu... Bikin lumpuh kedua kaki 4 orang itu, beri pil perusak pita suara, biar mereka tidak bisa bicara.


Lanjutkan operasi di Singapura dan Malaysia juga Hongkong," perintah kakek Cahyadi.


"Baiklah Tuan."


***

__ADS_1


Pondok pesantren Shinobi.


Siang itu... Panji sedang solat Dzuhur di teras samping masjid. Selesai solat Panji pelan - pelan melantunkan Dzikir Diatas Tirai di tujukan untuk semua santri pondok pesantren Shinobi, juga di tujukan untuk keluarga kyai Dimyati.


Sambil dzikir... Mata batin Panji melihat kejadian awal kecelakaan yang menimpah nya di kota Bandung.


Setelah mengetahui Wilda istrinya wafat... Panji meneteskan air matanya.


Panji juga melihat Maya istrinya sedang mencarinya. Panji juga mengetahui kalau Maya sedang mengikuti acara Tahlil di makam Mbah Dirjo.


***


Setelah dari masjid pondok, Panji kembali ke kamarnya lalu duduk di teras gubuk.


"Panji... Dari mana kamu," tanya Gus Sazuke kemudian duduk di sebelah Panji.


"Dari masjid di pesantren sambil lihat - lihat bangunan."


"Sambil menunggu kopi dan rokok... Sini aku obati luka mu," kata Gus Sazuke kemudian menerawang penyakit Panji.


Setelah menerawang beberapa saat... Gus Sazuke berkata dalam hati,


"Mengapa Panji tidak bisa di terawang ya..?


Aneh..!


Aku coba menerawang keadaan Gunung Gede bisa, menerawang Panji gak bisa."


"Karena penasaran... Gus Sazuke kemudian menyentuh punggung Panji dan hendak mengobati dengan cara menyentuh.


Begitu selesai membaca mantra... Tubuh Gus Sazuke mengeluarkan keringat dingin. Semua ilmu yang di milikinya seakan akan tidak berfungsi. Tak lama kemudian Gus Sazuke menarik telapak tangannya.


"Ini Gus kopi nya," ujar salah satu santri kemudian meletakkan dua cangkir kopi dan dua bungkus rokok marlboro.


"Terimakasih kang."


"Mengapa tangan mu gemetar," tanya Panji sambil melepaskan perban yang melilit kepalanya.


"Habis ngobati kamu kok gak bisa aku, malah jadi gemetar tanganku," jawab Sazuke.


"Kang Sazuke...


Ibarat berat badan mu 50 kilo, kamu mengangkat barang seberat 100 kilo. Ya tidak kuatlah."


"Maksudnya gimana Panji..?"


"Ibaratnya kamu memiliki ilmu seberat 50 kilo, kamu mengobati penyakit seberat 100 kilo. Ya tidak mampulah ilmu mu," kata Panji kemudian menyeruput kopi panas.


"Hahahaha..!" Gus Sazuke tertawa terbahak - bahak,


"Bagaimana kamu tau, sedangkan kamu sendiri saja tidak tau siapa diri mu sebenarnya."


"Aku tau siapa dirimu. Kamu adalah putra pertama dari kyai Dimyati yang di kenal seorang wali. Kamu juga berprofesi sebagai Tabib bukan..?


Nama mu sangat terkenal di wilayah kabupaten Jawa Barat, khususnya kabupaten Cianjur," ujar Panji kemudian menyulut rokok marlboro pemberian Sasuke.


Mendengar kata - kata Panji... Gus Sazuke terkejut, karena Panji bisa mengetahui sedikit tentang kehidupan pribadinya.


"Aku tau kamu tidak bisa menerawang ku. Dan aku tau kamu tidak bisa mengobati ku. Itu menandakan ilmu mu tidak mumpuni dan ilmu mu tidak berbobot di hadapan ku."


Gus Sazuke terdiam mendengar kata - kata Panji.


Setelah menyulut rokok... Gus Sazuke berkata,


"Bagaimana kamu bisa tau rahasia ku..?"


"Karena aku mempunyai bobot ilmu 100 kilo," jawab Panji,


"Sedangkan bobot ilmu mu hanya 50 kilo.


Jadi, sekali aku melihat mu, aku bisa mengetahui siapa diri mu yang sebenarnya."


"Kalau begitu... Apakah kamu bisa berbuat seperti diri ku," ujar Gus Sazuke kemudian mengambil teko kosong yang berada di pojok teras gubuk.


"Ini teko kosong, dan akan aku tuangkan susu kedalam gelas," ujar Sasuke kemudian menuangkan teko kosong ke gelas.


Tiba - tiba... Teko kosong itu mengeluarkan susu hangat,


"Apakah kamu bisa berbuat seperti ku..?"


"Sopo isok Gelar... Kudu isok Gulung. Iku sing diarani sembodoh. Ucapan dan kenyataan harus cocok," kata Panji kemudian jari jempolnya di arahkan ke bawah, lalu tiba - tiba keluar air susu seperti kran air. Tak lama kemudian dari ujung jempol Panji satunya keluar air kopi.


Melihat kekeramatan Panji... Gus Sazuke sangat kagum dan terkejut, namun rasa itu ditutupi dengan ke keangkuhan.


Kemudian Gus Sazuke mengambil beberapa daun, lalu di gesek - gesek di kedua telapak tangan nya, lalu berubah menjadi beberapa lembar uang 10 ribuan.


"Panji... Apakah kamu bisa merubah daun menjadi uang..?"


Melihat Gus Sazuke... Panji hanya tersenyum. Kemudian Panji mengesekkan kudua telapak tangannya. Tiba - tiba... Dari sela kedua telapak tangannya lembaran uang berjatuhan di atas papan kamar gubuk 100 ribuan.


Kemudian Gus Sazuke mengambil kerikil lalu di gengamnya. Kemudian meletakkan kerikil yang berubah menjadi emas di depan Panji.


Panji hanya tersenyum saja. Setelah membaca Bismillahirrohmanirrohim, Panji mengambil beberapa batu, lalu di lempar ke atas papan persis di depan Gus Sazuke.


Melihat beberapa batu menjadi intan dan berlian... Gus Sazuke berkata,


"Baiklah aku kalah.


Tetapi... Ini untuk terakhir kalinya.


Aku ingin berlomba lari dengan mu. Jika kamu sampai di puncak Gunung Gede terlebih dahulu, aku aku akan berguru kepada mu."


"Baiklah," kata Panji kemudian mengambil rokok marlboro lalu di masukkan kedalam sakunya.


"Mari kita mulai," kata Gus Sazuke kemudian membaca mantra.


Sementara...


Panji membaca hanya Bismillahirrohmanirrohim 1x, kemudian melangkah kan kakinya.


Sekali jangkah, Panji sudah berada di puncak Gunung Gede.


Sambil menunggu Gus Sazuke... Panji menyulut rokok yang di bawahnya tadi.


Setelah beberapa menit, Gus Sazuke sampai di puncak Gunung dan terkejut melihat Panji yang duduk sambil menikmati kepulan asap rokok.


"Baiklah Panji, aku akui aku kalah, dan aku akan berguru kepada mu. Aku mau melakukan apa saja untuk mu."


"Gus Sazuke...


Mengapa gusti Allah menakdirkan Abah mu membawa ku ke pondok pesantren Shinobi, dan bertemu dengan mu..? Padahal aku mengalami Amnesia..?


Karena Abah mu kyai Dimyati mengetahui, kalau akulah yang bisa menyadarkan mu.


Sebagai anak laki - laki satu satunya. Dan sebagai generasi penerus pondok pesantren Shinobi... Abah mu berharap kamu menjadi anak yang alim kitab dan bisa meneruskan perjuangan Abah mu sebagai penganti pemangku pondok pesantren.


Abah mu ingin kamu mengajar kitab di pesantren.


Karena... Abah mu tidak lama lagi akan wafat.


Keinginan Abah mu sebelum wafat... Abah mu ingin melihat mu mengajar kitab kuning kepada para santri, setahun dua tahun."

__ADS_1


__ADS_2