
"Sudah sampai rumahnya Mbah Kirman Gus, itu Mbah kirman sedang duduk sendirian di teras."
"Baiklah Paman Tirto. Terimakasih banyak."
"Kalau begitu... Saya permisi dulu Gus.
Rahayu..."
"Rahayu ugi Paman," jawab Panji kemudian berjalan ke teras.
"Assalamualaikum Mbah," salam Panji kemudian sungkem.
"Waalaikumsalam Gus, duduklah dulu. Biar Nenek mu buatkan kopi.
Maya masih tertidur lelap. Dia pasti kecape'an," kata Mbah Kirman kemudian masuk ke dalam sebentar.
"Iya Kek."
"Gus... Kapan datang?" sapa Nenek Dasima kemudian meletakkan secangkir kopi di meja teras.
"Barusan Nek," kata Panji kemudian sungkem.
"Sebentar ya Gus...
Nenek goreng kan pisang dan tape."
"Iya Nek."
"Silahkan Gus, di minum kopinya."
"Iya Mbah," jawab Panji kemudian menyeruput kopi panas pelan - pelan.
"Mbah...
Apa Papa Mamanya Maya sering berkunjung kesini," tanya Panji.
"Yaa kalau kesini setahun sekali Gus. Setiap libur lebaran. Akhir - akhir ini... Sudah tiga tahun gak pernah pulang kesini.
Mereka sangat sibuk sekali, hingga Mbah ini orang tuanya jarang di jenguk.
Paling - paling... Transfer uang saja."
"Kok Maya ada disini Mbah..?"
"Iya, Mbah yang nyuruh.
Kemarin Mbah telpon ke Mama nya Maya. Mbah bilang kangen sama Maya.
Biasanya... Kalau Maya cucu Mbah ini sedang sedih, sedang ada masalah, biasanya ke sini sampai beberapa hari. Maya biasanya curhat sama Mbah nya."
"Gitu ya Mbah...
Mbah... Mamanya Maya itu kok beragama kristen. Sedangkan Mbah sebagai Ayah-nya kok beragama islam..?"
"Ya... Dulu, waktu menikah dengan Didik suaminya, Mama nya Maya pindah agama mengikuti suaminya.
Mbah itu ya gak apa - apa. Toh semua agama itu baik."
"Emang kenal di mana Mbah, Pak Didik dengan mama nya Maya..?"
"Kenal di pulau Bali Gus. Dulu Mama nya Maya waktu masih muda bekerja sebagai penyanyi di cafe. Terus kenal sama Didik pengusaha kaleng asal Surabaya."
"Ini Gus, pisang goreng sama tape goreng. Nenek tidur dulu ya, sudah ngantuk rasanya.
Kalau Mbah Kirman ini jarang tidur Gus..."
"Iya Nek."
"Mbah...
Kok bisa memiliki ilmu penerawangan, belajar di mana Mbah?"
"Dulu masih bujang Mbah belajar sama seorang kyai Gus. Juga belajar sama guru kejawen.
Gus...
Kalau gak keberatan, boleh gak, kamu aku nikahkan lagi sama Maya disini. Dengan adat Banyuwangi.
Mbah ingin pernikahan yang meriah, mengundang saudara dan teman - temannya Mbah. Mbah juga ingin mengundang hiburan Tayub Gandrung kesenian Banyuwangi."
"Boleh Mbah.
Saya akan undang teman - teman saya ya Mbah..? Gak banyak - banyak, paling 1000 orang."
"Banyak sekali itu Gus, 1000 orang," sahut Mbah Kirman.
"Pernikahan nya tiga hari lagi ya Mbah, karena saya sedang berduka. Guru saya wafat. Tiga hari lagi selesai tahlilan nya."
"Baiklah Gus, mulai besok Mbah akan persiapan kan semuanya."
"Apa Mbah punya uang..?"
"Ada sedikit Gus, uang tabungan Mbah di Bank Asia."
"Simpan saja uangnya si Mbah. Pakai uang saya saja. Biar Maya besok mengambil uang di bank Asia."
"Baiklah Gus."
Waktu terus berlalu. Adzan Subuh terdengar berkumandang dari masjid desa Siman.
Mendengar adzan Subuh... Maya membuka kedua matanya hendak menunaikan solat. Ketika hendak wudhu, Maya berkata lirih,
"Pintu rumah kok kebuka ya..?
Kakek ngobrol sama siapa..?
Coba aku lihat."
Setelah berada di pintu melihat Panji suaminya...
"Kak..!" sahut Maya kemudian memeluk Panji erat - erat sambil meneteskan air mata.
"Sudahlah, jangan menangis. Mari solat srubuh dulu, setelah itu kita tidur."
"Baiklah kak."
"Mbah, saya solat dulu ya?"
"Iya Gus, silahkan."
***
Pantai Gerajagan.
Jam 12 siang.
"Kak... Bangun, sudah dzuhur," kata Maya sambil menepuk pelan pundak Panji suaminya.
"Iya sebentar.
Tak lama kemudian Panji bangun lalu mandi kemudian solat duhur bersama Maya.
Setelah solat Maya berkata,
"Kak... Ayo kita jalan - jalan ke pantai."
"Pantai mana..?"
"Pantai Gerajagan. Dekat sini. Paling naik angkutan umum seperempat jam."
"Baiklah," jawab Panji kemudian masuk kamar sambil menunggu Maya mengenakan kaos.
"Kak... Ini topi mu, ini Hp mu, ini dompet dan cincin mu," ujar Maya kemudian meletakkan di atas tempat tidur.
"Melihat cincin Taji Kubro pemberian Syeh Hasan Salak... Panji tersenyum pahit, lalu berkata dalam hati.
"Gara - gara lupa memakai cincin ini, kepala ku jadi luka parah akibat kecelakaan. Dan Wilda tewas dalam peristiwa itu. Lebih baik aku pakai lagi saja."
"Kak...
Maya cantik gak pakai kaos dan celana levis pendek ini..? Pantas gak?"
"Iya... Cantik dan pantas sekali," jawab Panji sambil tersenyum.
"Ngapain Kakak kok tersenyum. Kelihatannya senyum mu gak enak di lihat."
"Gak apa - apa, kepinggin tersenyum saja.
Masak Bu Nyai pakai celana pendek dan kaos gitu?"
"Hehehehe.
Kan masih muda Kak, entar kalau dah tua, aku pakai jubah dan hijab."
"Gak takut dosa," goda Panji.
"Gak takut. Dengan Dzikir dan istigfar dosa akan tertimpa pahala.
Kamu itu repot Kak, kalau pakai jubah pakai jilbab di bilang kayak Bu Nyai, kayak orang tua. Masih muda kok pakai baju gitu. Gak model.
__ADS_1
Kalau pakai celana pendek dan kaos di bilang Bu Nyai kok pakai celana pendek dan kaos doang?"
"Ya sudah, mari kita berangkat."
Kring..!
Hp Anton si Naga Barat berdering. Setelah melihat Nama Godfather di layar Hp nya, Naga Selatan terkejut lalu menekan tombol ok,
"Selamat siang Godfather..."
"Siang juga.
Kamu dimana..?"
"Ada di Hotel Surya desa Gerajagan. Di pesisir pantai wisata."
"Baiklah, aku sedang perjalanan ke sana, ini masih di dalam angkutan umum.
Kamu tunggu di depan hotel ya?"
"Baiklah Godfather, kata Naga Barat kemudian mematikan teleponnya,
"Aneh..?
Bukankah Godfather telah hilang kurang lebih 2 bulan..!
Kok tiba - tiba telpon mau menyusul ku disini.
Aneh Godfather ini..!
Ya... Dengar - dengar dari sekretaris irwan dulu... Godfather jarang muncul karena mendalami ilmu kesaktian. Memang... Selama aku kenal Godfather, dia memang aneh orang nya.
Jarang bicara, sering menghilang dan tiba - tiba muncul."
Setelah turun dari angkutan umum, Panji berjalan bersama Maya menuju hotel Surya di pantai Gerajagan.
"Selamat siang Godfather," sapa Naga Barat dan 5 anggota inti sambil membungkukkan bandan.
"Selamat siang juga," kata Panji,
"Mari kita cari makan siang dan minum air kelapa muda di warung tepi pantai."
"Baiklah Godfather," jawab Naga Barat kemudian berjalan mengikuti Godfather.
Setelah berada di warung gubuk pinggir pantai, Panji dan Maya juga anggota organisasi duduk di kursi di bawah pohon yang rindang.
"Kakak mau pesan makan apa," tanya Maya.
"Pesan gurami bakar sama es kelapa muda."
"Naga Barat, pesan sendiri ya?"
"Baiklah Nyonya."
Sambil menikmati makan siang di tepi pantai, Panji berkata,
"Maya... Semalam Kakek mu bilang, ingin menikahkan kita di sini. Kakek bilang ingin pernikahan kita yang meriah, di hadiri tetangga juga teman - temannya.
Kakek juga bilang akan mendatangkan kesenian Tayub Gandrung Banyuwangi."
"Mau nya Kakek," sahut Maya,
"Kakek dasarnya senang joged Tayuban Gandrung sambil minum bir.
Ya... Emang banyak si temen Kakek di kesenian Gandrung."
"Kapan Kak katanya Kakek..?"
"Aku bilang si tiga hari lagi. Karena aku harus menghadiri acara tahlil di Lebak Banten."
"Tiga hari lagi, berarti hari sabtu.
Makanya... Tadi pagi kok banyak tamu, temannya Kakek."
"Naga Barat...
Selesai makan siang, ambilkan uang 100 juta di bank Asia ya," kata Maya, "Ini aku tuliskan cek nya.
Ini sudah jam 2 siang, sebentar lagi bank Asia tutup."
"Baiklah Nyonya."
Waktu terus berlalu, senja pun datang dan langit mulai teduh.
Sambil berjalan bergandengan, Panji dan Maya menelusuri tepi pantai.
"Kak...
"Iya Maya," jawab Panji sambil meraba kalung di lehernya,
"Tetapi...
Sekarang sudah tidak ada di leher ku. Entah kemana kalung itu hilang.
Itu hadiah pemberian dari Wilda dua hari sebelum Wilda tewas dalam kecelakaan itu."
"Kalung itu aku serahkan ke Altar Mila asisten mu.
Gandul kunci platinum itu adalah sebuah kunci loker Bank Centraal Hongkong.
Isinya loker itu adalah dokumen kepemilikan PT Java Kontraktor juga PT Jaya Abadi pabrik pengolahan kayu di Samarinda Kalimantan.
Di dalam loker itu ada 4 emas batangan dan uang tunai 100 juta serta surat saham PT Tambang Emas juga PT Tambang Batu Bara.
Semua itu atas nama Kakak."
Mendengar penuturan Maya istrinya, Panji agak terkejut.
"Iya iya...
Aku baru ingat. Ketika Wilda mengasih hadiah kalung itu... Wilda berkata jangan sampai hilang dan di berikan orang lain. Karena harga kalung itu Trilyunan.
Pantas saja dia bilang begitu.
Sejak kapan PT Java Kontraktor kepemilikan nya menjadi atas nama ku..?"
"Kata sekretaris Leni... Setelah di pelajari, sejak pertama mendirikan PT Java Kontraktor itu Wilda mengatas namakan Kakak.
Hanya saja... Waktu itu PT Java kontraktor belum jaya. Ketika PT Java kontraktor itu sudah menjadi perusahaan papan atas, Wilda menyerahkan kepada Kakak.
Dalam lembaran buku diary Wilda yang tersimpan di loker bank central Hongkong, Wilda menulis sebuah kata,
"PT Java kontraktor untuk orang yang sangat aku cintai. Terimakasih atas segala cinta dan kasih sayangnya juga pengertian-nya
Atas nama cinta, ku persembahkan untuk mu. PT Java kontraktor ini adalah bagian dari bentuk rasa syukur dan terimakasih ku atas kebahagian keluarga ku."
Itulah Kak, kata - kata yang Wilda tulis di buku Diary."
"Maya... Sudah hampir Magrib. Aku tinggal sebentar ya, aku mau menghadiri acara Tahlil di makam guru ku," ujar Panji.
"Baiklah Kak," kata Maya kemudian memeluk erat - erat tubuh Panji suaminya.
"Ya sudah, aku pergi dulu, Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Kak, hati - hati ya," sahut Maya sambil menyaksikan Panji suaminya berjalan kaki di atas permukaan air laut menuju arah barat.
Anton si Naga Barat terheran - heran sambil bengong ketika tak sengaja melihat Godfather berjalan di atas permukaan air laut.
"Naga Barat..." sapa Maya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iya iya Nyonya."
"Melihat apa kok bengong begitu..?"
"Itu Nyonya, Godfather suami Non Maya berjalan di atas permukaan air laut."
"Itu sudah biasa. Aku juga pernah di ajak jalan - jalan di permukaan air Laut," jawab Maya,
"Sekarang... Antar aku ke rumah Kakek ku."
"Baiklah Nyonya."
Adzan Magrib terdengar berkumandang. Panji sudah berada dalam masjid sedang mengambil air wudhu.
Selesai mengambil air wudhu, Panji ganti sarung kemudian duduk di teras masjid sambil menunggu komat tanda di mulai solat.
"Assalamualaikum Gus..."
Melihat Syeh Hamdani, Panji langsung berdiri,
"Waalaikumsalam Syeh..."
Ketika salim dan hendak mencium tangan Syeh Hamdani... Syeh Hamdani dengan cepat menarik tangannya.
"Gus... Untuk solat Magrib ini, Gus yang menjadi imam nya."
"Tidak Syeh, saya tidak pantas. Di masjid ini banyak kyai sepuh, banyak santri Kakak kelas saya. Apalagi ada Syeh disini."
Komat tanda solat sudah di kumandangkan.
__ADS_1
Seorang kyai sepuh mendekati Syeh Hamdani dan berkata,
"Syeh... Mari, silahkan di imami."
"Kyai... Yang lebih pantas mengimami adalah Gus Ahmad Panji ini. Dia adalah murid pamungkas Syeh Abdul Jalil."
Melihat Panji yang masih sangat muda, kyai sepuh itu kurang yakin dengan kemampuan Panji.
Karena sungkan dengan Syeh Hamdani, kyai sepuh itu berkata,
"Silahkan Gus Panji."
Karena di paksa... Akhirnya Panji maju menjadi imam.
Sambil berdiri di pengimaman, Panji berkata dalam hati,
"Ya Syeh Abdul Jalil Al Qurtubi, saya mohon ridho nya untuk menjadi imam masjid saat ini."
Kemudian Panji membaca,
"Ilahi anta maksudi wa ridhoka matlubi a'tini mahabbataka wa makrifataka."
Setelah membaca nita solat Magrib, Panji bertakbir.
Begitu takbir... Ruh Syeh Abdul Jalil masuk kedalam jasad Panji.
Selesai solat, Panji langsung memimpin tahlilan untuk Syeh Abdul Jalil.
Selesai baca tahlil untuk Syeh Abdul Jalil... Panji mendekati Syeh Hamdani dan berkata,
"Syeh... Saya permisi dulu mau tahlilan ke makam Mbah Wali Dirjo."
"Baiklah Gus.
Salam kepada Mbah Wali Dirjo ya?"
"Iya Syeh. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Syeh Hamdani.
Setelah berada di tepi pantai, Panji membaca mantra ajian ilmu lipat bumi.
Dalam satu jangka, Panji sudah berada gang depan hotel Atlanta.
Setelah berjalan beberapa saat, Panji sudah berada di depan makam, kemudian membaca tahlil untuk Mbah Wali Dirjo.
Tak lama kemudian Panji keluar makam lalu berjalan menuju gang.
Begitu setelah membaca mantra ilmu lipat bumi, sekali jangka Panji sudah ada di kuburan umum di kabupaten Sukabumi.
Setelah duduk di samping makam Wilda... Panji membaca tahlil untuk arwah Wilda.
Selesai baca tahlil, tiba - tiba ruh Wilda ada di samping Panji.
"Assalamualaikum Mas..."
"Waalaikumsalam Wilda," jawab Panji kemudian memeluk ruh Wilda sambil meneteskan air mata.
"Wilda... Maafkan aku suami mu ya!! Sebab aku kamu pergi dari alam kubur."
"Sudahlah Mas, semua sudah di tentukan oleh Allah. Sudah menjadi takdir jalan hidup ku.
Jangan pernah merasa bersalah. Tatap masa depan yang lebih cerah.
Walau jasad ku telah di kubur, aku (ruh), selalu ada untuk mu. Aku akan menunggu mu di alam selanjutnya.
Di sini aku sangat senang dan bahagia kok."
"Iya Wilda."
"Jika Mas Panji rindu kepada ku... Mas panggil saja aku. Aku akan datang untuk mu."
Waktu telah berlalu. Asik ngobrol, Tak teras sudah jam 12 malam.
"Wilda... Aku pergi dulu ya, ini sudah jam 12 malam.
Insallah akan aku ajak kamu ke Cirebon minggu depan."
"Baiklah Mas."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Mas, hati - hati, jaga diri baik - baik."
Setelah berdiri, Panji membaca ajian ilmu lipat bumi.
Sekali jangka, Panji sudah berada di permukaan air Laut selat Bali.
Setelah berada di laut selat Bali... Panji mengambil air wudhu, lalu melaksanakan solat sunnah malam. Setelah itu, Panji melantunkan Dzikir Diatas Tirai di tujukan dan di hadiahkan kepada seluruh bangsa jin dan tumbuh - tumbuhan juga binatang di alam jagad ini.
Setelah dua jam berlalu, Panji mengakhiri dzikir nya dengan doa.
Tiba - tiba ada kereta kencana berhenti tak jauh dari Panji duduk.
"Rahayu Gus," sapa Paman Tirto dari bangsa jin.
"Rahayu ugi Paman....
Ada apa paman mencari ku," tanya Panji.
"Nyai Ratu Dewi Sambi sedang sakit keras Gus. Sejak Gus tinggal pergi semalam, Nyai Ratu Dewi tergolek di tempat tidur, tidak bisa bangun."
Sudah di obati oleh Tabib kerjaan tetapi tidak sembuh. Sudah diobati oleh tabib lainnya juga tidak sembuh.
Kata seorang tabib dari Mataram... Hanya yang membuat luka Nyai Dewi itulah yang bisa menyembuhkan nya.
Saya mohon... Gus berkenan pergi ke kerajaan bawah laut timur untuk mengobati Nyai Dewi.
Ini atas perintah Nyai Ratu Dewi."
"Baiklah Paman," jawab Panji kemudian naik kereta kencana.
Setelah berada di istana kerajaan bawah laut timur, Paman Tirto mengajak Panji menuju sebuah kamar mewah.
"Gus... Ini kamar Nyai Ratu Dewi. Mari, silahkan masuk," ajak Paman Tirto.
Setelah berada di dalam kamar, Panji melihat Ratu Dewi sambil yang tergolek sakit tak berdaya.
"Kalian keluar lah semua," kata Panji kepada danyang.
Setelah para danyang keluar, Panji mendekati Dewi Sambi, lalu menyingkap bajunya.
"Mau apa kamu..!
Jangan kurang ajar ya!" teriak Dewi Sambi.
Namun... Panji diam dan tetap menyingkap bajunya Dewi Sambi.
Karena Dewi Sambi tidak bisa bergerak... Dewi Sambi hanya bisa pasrah.
Setelah membuat tubuh Dewi Sambi tengkurap, Panji mengeluarkan botol minyak sambung. Setelah membuka tutup botol, Panji mengoleskan minyak ke punggung Dewi Sambi, kemudian pelan - pelan mengurutnya.
Selesai mengurut punggung, Panji menyingkap rok Dewi Sambi hingga ke paha, lalu pelan - pelan mengurut kedua kaki Dewi Sambi dengan minyak sambung.
Selesai mengurut, Panji berkata,
"Duduk lah sekarang."
Seketika Dewi Sambi duduk dan langsung membetulkan bajunya yang tersingkap.
Setelah membetulkan baju dan rok nya... Dewi Sambi baru sadar kalau dirinya sudah sembuh, lalu berkata,
"Kurang ajar kamu itu Gus. Mengobati ku dengan cara menyingkap baju dan rok ku.
Dasar cabul.
Apa tidak ada cara lain apa..!"
"Kan sudah aku bilang tadi kemarin malam, buka baju mu, akan aku urut.
Kamu nya malah marah - marah.
Kalau ingin sembuh ya aku urut punggung dan kaki mu.
Gak terimakasih malah marah - marah.
Aku tidak akan memperkosa mu, aku juga punya istri yang cantik.
Mau sembuh apa tidak..?"
"Iya iya, aku minta maaf.
Ya mau sembuh lah."
"Sinikan tangan mu, biar aku urut. Kalau tidak aku urut, kamu akan lumpuh selama nya."
"Baiklah, kata Dewi Sambi kemudian menjulurkan tangannya.
Sambil mengurut tangan Dewi sambi... Panji meneteskan air matanya.
__ADS_1