
Setelah Panji naik bis, kang Nur sopir langsung kembali ke pondok pesantren Shinobi.
Pondok pesantren Spombob.
Setelah solat Magrib bukannya ikut ngaji kitab tafsir Jalalain yang di pimpin oleh kyai Danwari Pak dhe nya. Gus Hanan malah pergi ke makam Kakek leluhur nya.
Di area makam keluarga, dengan di terangi sinar lampu dop 5 wat, Hanan duduk di pojok area makam sambil menikmati rokok danhil.
"Itu makam Mbah Wali Kitri, sebelah nya Mbah Wali Suro. Ingat aku, dulu waktu SMP sering di ajak Papa dan Mama berziarah ke makam Mbah Wali Suro kemudian berziarah ke makam Mbah Wali Kitri dan kakek Abdullah.
Tetapi mengapa ya..?
Kok orang jarang berziarah ke makam Mbah Wali Cikrak. Malah yang sering orang berziarah ke makam Mbah Wali Suro sama Mbah Wali Kitri.
Padahal... Menurut silsillah, Mbah Wali Cikrak terus Mbah Wali Suro terus Mbah Wali Kitri dan seterusnya.
Papa ku anaknya Mbah Wali Abdullah.
Mbah Wali Abdullah anaknya Mbah Wali Kitri.
Mbah Wali Kitri anaknya Mbah wali Suro.
Mbah Wali suro anaknya Mbah Wali Cikrak.
Lalu... Mbah Wali Cikrak anaknya siapa..?
Masak anaknya Mbah Wali Sapu..?
Berarti... Aku ini, dan kak Panji juga Siska adikku, keturunan ke 5 dari Mbah Wali Suro.
Kalau dari Mbah Wali Cikrak keturunan ke 6.
Lalu... Siapa leluhur ku yang ke 7..? Kok makam nya tidak ada disini..?
Mengapa anak keturunan wali kok nakal dan goblok kaya aku ya..!
Kak Panji tambah bodoh, gak pernah ngaji di pesantren sama sekali, sukanya pacaran tawuran, jalan - jalan. masih mending aku ngaji di pesantren walau aku tidak suka hafalan.
Sebenarnya keturunan wali kayak aku kan, seharusnya punya ilmu kekeramatan atau kesaktian. Setidaknya alim bisa ngaji kitab kuning.
Aneh..!"
Lebih baik aku ziarah ke makam Mbah Wali Cikrak saja," ujar Hanan kemudian berjalan santai menuju makam.
Setelah duduk dan uluk salam, Hanan bertawasul kepada Ruh Mbah Wali Cikrak. Lalu Hanan membaca tahlil di tujukan kepada Mbah Wali Cikrak.
Setelah dzikir beberapa menit... Tiba - tiba makam Mbah Wali Cikrak terbelah menjadi dua, kemudian cahaya terang menyeruak dari dalam tanah kuburan.
"Ya Allah ya Allah ya Allah," ucap Hanan.
Melihat makam Mbah Wali Cikrak terbelah dan mengeluarkan cahaya... Hanan yang ketakutan langsung berteriak kaget menyebutkan nama Allah, dan langsung berdiri melarikan diri.
Sambil ngos - ngossan... Hanan terus berlari. Namun Hanan tetap lari di tempat depan makam.
karena kelelahan... Hanan pun duduk kelelahan sambil berkata,
"Mengapa aku lari di tempat ya? Masih di depan makam."
"Masih penakut saja mau jadi wali Allah. Kalau takut mati....Gak usah jadi wali," kata Mbah Wali Cikrak.
Melihat Kakek tua memakai baju jawa dan blangkon di kepalanya... Sambil ketakutan Hanan berkata,
"Siapa kamu..?"
"Aku Mbah Cikrak Kakek Leluhur mu, sini salim dan sungkem cium tangan!"
"Baiklah Mbah," jawab Hanan sambil ketakutan, kemudian mendekati lalu salim dan sungkem cium tangan.
"Gak usah takut, jadi lelaki itu yang pemberani seperti Gus Panji kakak mu.
Ya ini akibatnya kalau di manja sama Bapak ibu mu, jadi penakut. Tawuran berani sama Mbah nya sendiri takut!"
"Tak kira setan Mbah," kata Hanan.
"Setan setan... Ndasmu iku!
Ada apa kamu membangunkan ku?"
"Gak ada apa - apa Mbah, iseng saja."
"Jadi anak jangan kurang ajar ya! Katakan ada perlu apa memanggil ku..?"
"Galak bener nieh Mbah Cikrak," gumam Hanan,
"Aku mau tanya Mbah, siapa bapaknya Mbah Cikrak ini. Aku ingin ziarah dan kirim doa kepada Kakek generasi ke 7."
"Ada apa kamu mencari Kakek leluhur mu yang ke 7..?"
"Ya aneh saja Mbah. Di makam keluarga ini hanya ada makam 4 leluhur saja."
"Di pojok sana makam kakek ke 7 mu. Di bawah pohon belimbing.
Kalau kamu ingin alim kitab dan ingin punya ilmu kekeramatan, kamu bangun atap dan dinding makam Mbah Wali Kukun dengan indah dan teduh. Belikan kayu jati ukir - ukiran. Kasih lantai batu marmer. Kamu pasang Listrik.
Di sekitar makam kamu bikin sumur dan kamar mandi juga tempat wudhu."
__ADS_1
"Duit dari mana Mbah, aku ini.." gumam Hanan.
"Kamu kan punya uang 100 juta..! Kalau bisa habiskan buat bangun makam Kakek Leluhur mu Mbah wali Kukun. Kalau bisa... Semua makam di sini kamu bangun yang bagus dan teduh sama kayak makam Mbah Wali Kukun.
Biar para santri enak ziarah nya, dan tidak gelap kayak gini."
"Baiklah Mbah, kalau begitu aku mau ke pondok dulu," ujar Hanan kemudian salim dan mencium tangan Mbah Wali Cikrak.
Setelah berada di pondok... Hanan langsung mengikuti pengajian rutinan kitab Tafsir Jalalain.
Pondok pesantren Shinobi.
Jam 10 malam... Dua mobil BMW telah memasuki halaman pondok pesantren Shinobi.
Setelah terparkir, Tamara dan Maya juga sekretaris Mila keluar dari dalam mobil.
"Novi... Naga Barat, kalian tunggu di sini sebentar ya," kata Maya.
"Iya Nyonya."
"Mari masuk," kata Tamara, kemudian uluk salam,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab kyai Dimyati.
"Abah... Ini bu Nyai Maya, istrinya Gus Panji."
"Silahkan duduk Nyai. Maaf, sehabis solat Magrib tadi... Gus Panji pamit pergi untuk ziarah ke makam istri tuanya di Sukabumi.
Gus Panji naik bis kesana."
"Baiklah kyai, kalau begitu... Saya pamit dulu. Saya akan menyusul Gus Panji ke kabupaten Sukabumi.
Nyai Tamara, apa kamu ikut ke Sukabumi..?"
"Tidak Nyai Maya, besok pagi aku akan ke kota bogor, karena aku harus kuliah."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.
Assalamualaikum."
***
Ketika naik bis... Kepala Panji terasa pening dan sakit. Baru saja bersandar di kursi, seorang kondektur berkata,
"Mau Purwakarta bang..?"
"Iya Mas."
"Ini uangnya, kalau sudah sampai terminal, bangunin ya Mas, kepala ku pening sekali."
"Baiklah bang."
***
Makam Wilda.
Setelah menempuh perjalanan 1,5 jam, 2 Mobil BMW berhenti di sebelah pemakaman umum di sebuah desa di kecamatan cisaat Sukabumi.
Setelah memeriksa makam Wilda, Naga Barat berkata,
"Tuan Godfather tidak ada di makam Nyonya. Kalau melihat waktu, Godfather seharusnya sudah ada di makam ini."
Maya terdiam mendengar kata - kata Naga Barat sambil menatap jalan desa berharap melihat Panji suaminya.
Tak lama kemudian,
Tiba - tiba Maya muntah - muntah tanpa sebab.
"Nyonya Maya... Nyonya istirahat di mobil saja, habis ini saya antar ke klinik terdekat untuk periksa."
"Baik Mila," jawab Maya,
"Mari kita ke Jakarta."
"Baiklah Nyonya."
Tak seberapa lama... Dua mobil BMW berhenti di klinik pinggir jalan raya Cibadak.
"Mari Nyonya, saya antar periksa sebentar," ajak asisten Mila.
"Baiklah Mila, badan ku rasanya sakit semua, perut ku mual - mual."
"Permisi Dok, selamat malam," sapa Mila.
"Malam juga Nona, silahkan duduk. Kenapa nieh..?"
"Ini mual - mual Dok, juga muntah - muntah. Badannya capek semua."
"Coba saya periksa dulu. Silahkan Non berbaring sebentar di sini."
Setelah memeriksa kondisi Maya dengan teliti... Dokter berkata,
"Selamat ya Non, Nona telah hamil muda. Usia kandungan Nona sekitar 1,5 bulan.
__ADS_1
Jaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin, dan perbanyak istirahat ya Non."
"Alhamdulillah...
Baiklah Dok," jawab Maya.
Setelah melunasi administrasi, Maya langsung pergi ke jaktarta.
***
Kota Purwakarta.
Setelah menempuh perjalanan 3 jam, bis memasuki terminal Ciganea purrwakarta.
"Bang... Bangun, sudah sampai Purwakarta," ujar kernet bis.
Setelah membuka kedua matanya, Panji terun dari bis kemudian berjalan dan memasuki warung di ujung terminal.
"Kopi hitam Buk."
"Iya Mas."
Sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok... Panji heran mendengar orang - orang memakai bahasa daerah yang belum pernah di kenalnya.
"Buk... Ini daerah mana ya?"
"Ini terminal Ciganea Purwakarta Mas. Mas mau kemana..?"
"Mau ke Cianjur buk."
"Kalau mau ke Cianjur... Mas naik bis saja di depan sono no. Jurusan Cianjur - Sukabumi Jakarta 24 jam."
"Bukannya tadi aku bilang turun terminal Cianjur..? Kok bisa turun terminal Purwakarta ya..?
Aduuuh...!!!
Gara - gara kepala pening dan tertidur jadi kejauhan aku.
Bener kata kyai Dimyati, kepala ku belum sembuh sepenuhnya.
Lebih baik aku istirahat di losmen saja, untuk istirahat dan mengobati luka di kepala ku."
*
Pondok pesantren Spombob.
Jam 12 siang sepulang sekolah, Hanan pergi ke Bank Asia untuk mengambil uang sebesar 50 juta. Setelah itu Hanan kembali ke pondok pesantren Spombob.
Ketika berjalan menuju makam... Kyai Danwari Pak Dhe nya memanggil,
"Gus Hanan..."
"Iya Pak Dhe," jawab Hanan mendekat
"Mau kemana kamu Gus..?"
"Mau ke makam leluhur Pak Dhe."
"Makan dulu sama kakak mu Aisyah."
"Baiklah Pak Dhe," jawab Hanan kemudian masuk ke rumah kyai Danwari.
Sambil makan bersama Aisyah kakak sepupunya, Hanan berkata,
"Pak Dhe... Apa boleh aku akan bangun makam leluhur?"
"Kamu di suruh siapa bangun makam..?"
"Tadi malam aku di temui sama Mbah Wali Cikrak. Pesan mbah Wali Cikrak... Hanan di suruh membangun atap makam leluhur, supaya teduh. Hanan juga di suruh buat sumur dan kamar mandi juga tempat untuk wudhu."
Mendengar pengakuan Hanan... Kyai Danwari berkata dalam hati,
"Aku saja anak keturunan ke 4 dari Mbah Wali Cikrak belum pernah ditemui sama sekali, walaupun itu dalam mimpi. Ini Gus Hanan keturunan ke 5 kok bisa di temui. Jangan jangan... Gus Hanan ini titisan dari Mbah Wali Cikrak."
"Boleh Gus.
Tambah enak kalau makam leluhur ada ada pendoponya. Anak - anak santri bisa enak kalau ziarah dan hafalan di makam.
Emang kamu punya uang untuk membangun makam leluhur..?"
"Ada Pak Dhe, di kasih sama mbah Wali Cikrak," jawab Hanan asal jawab.
"Apa..!
Di kasih mbah Wali Cikrak..?
Yang benar kamu Gus kalau ngomong sama Pak Dhe."
"Ini uangnya Pak Dhe," kata Hanan sambil menunjukkan uang di kantong plastik,
"Tadi malam saya di kasih nya."
😊ðŸ¤ðŸ˜‚😅
Hanan Panji 11 12 😅
__ADS_1